Penelitian ini dilakukan di Wilayah kerja KUTT Suka Makmur yaitu terletak di Desa Sumber Agung, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan. Topografi Desa Sumber Agung berupa dataran rendah dengan ketinggian dari permukaan laut 600 - 700 m dpl dengan suhu udara berkisar antara 22 - 34 oC. memiliki batas wilayah sebelah Utara Selat Madura, sebelah Timur Kabupaten Probolinggo, sebelah Selatan Wilayah kehutanan perkebunan Tengger, dan sebelah Barat yaitu Kodya Pasuruan. Wilayah kerja KUTT Suka Makmur memiliki luas wilayah sebesar 31 068 243 ha yang terbagi dalam masing-masing kecamatan yaitu Kecamatan Grati 5 770 000 ha, Kecamatan Nguling 4 660 449 ha, Kecamatan Lekok 4 918 876 ha, Kecamatan Rejoso 3 164 200 ha, dan Kecamatan Lumbang 12 554 18 ha dengan jumlah total peternak 2 869 orang (BPS Grati 2015). Wilayah Kerja KUTT Suka Makmur dapat dilihat pada Gambar 2.
Lokasi yang digunakan sebagai tempat perbandingan manajemen pemeliharaan ternak adalah Kecamatan Lekok dan Kecamatan Lumbang. Kecamatan Lekok berada di dataran rendah dengan ketinggian wilayah berkisar antara 6 - 91 m dpl dan Kecamatan Lumbang berada di wilayah dataran Tinggi dengan ketinggian berkisar antara 180 - 3000 m dpl. Temperatur lingkungan lokasi penelitian berkisar antara 22 - 27 oC dan kelembaban udara berkisar antara 68 - 100%.
Karakteristik Peternak Responden
Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa sebagian besar 80% peternak wilayah dataran rendah berumur antara 20 - 50 tahun dan di dataran tinggi 92.5% peternak berumur antara 20 - 50 tahun, hal ini menggambarkan bahwa baik di wilayah dataran rendah maupun dataran tinggi mayoritas peternak masih berada dalam kategori peternak produktif. Menurut Santoso et al. (1979) kelompok umur 30 - 60 tahun merupakan kisaran umur dimana seseorang mampu berfikir panjang dalam melakukan segala sesuatu termasuk menerima inovasi baru. Semakin banyak peternak usia produktif yang aktif dalam melakukan usaha peternakan sapi perah maka hal ini akan berpengaruh pada tingkat keberhasilan usaha tersebut. Sebaran peternak responden berdasarkan umur, pengalaman, dan tingkat pendidikan peternak wilayah kerja KUTT Suka Makmur disajikan dalam Tabel 1. Tabel 1 Sebaran peternak responden berdasarkan umur, pengalaman, dan tingkat
pendidikan wilayah dataran rendah dan dataran tinggi di KUTT Suka Makmur tahun 2015
No Kisaran
Dataran Rendah Dataran Tinggi
Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%) 1 Umur (Tahun) 20-30 4 10 8 20 31-40 14 35 16 40 41-50 14 35 13 32.5 51-60 8 20 3 7.5 2 Pengalaman (tahun) 1-10 1 2.5 12 30 11-20 18 45 12 30 21-30 20 50 16 40 > 31 1 2.5 0 0 3 Pendidikan (tahun) SD (1-6) 37 92.5 39 97.5 SMP (7-9) 2 5 1 2.5 SMA (10-12) 1 2.5 - -
Tingkat pengalaman beternak responden akan berpengaruh pada sistem manajemen dan keterampilan peternak dalam mengelola usahanya, karena pengalaman dapat mempengaruhi hasil produksi ternak. Faktor pengalaman sangat berperan dalam proses pengambilan keputusan karena semakin orang
berpengalaman, maka keputusan yang diambil akan semakin matang dan lebih hati-hati meskipun peternak mempunyai pendidikan formal yang relatif rendah. Tabel 1 menunjukkan bahwa 50% peternak di dataran rendah dan 40% peternak di dataran tinggi lebih dari 21 tahun berpengalaman di bidang peternakan sapi perah.
Tingkat pendidikan peternak responden merupakan faktor yang cukup berpengaruh dalam usaha peternakan sapi perah, karena seorang peternak sapi perah memerlukan pengetahuan yang luas serta kecakapan dalam mengelola peternakannya terutama dalam hal yang berkaitan dengan teknologi dan inovasi baru. Tabel 1 menunjukkan tingkat pendidikan dari tiap-tiap wilayah baik dataran rendah maupun dataran tinggi, mayoritas tingkat pendidikan peternaknya ialah lulusan SD. Pada umumnya, skala peternakan rakyat sudah mempunyai pengalaman yang cukup lama yaitu ilmu ataupun usaha peternakan sebagai warisan turun temurun dari keluarga. Jadi meskipun pendidikannya rendah namun mereka mampu mengembangkan teknologi lokal. Meskipun demikian pelatihan dan penyuluhan masih sangat dibutuhkan oleh para peternak untuk bisa mengadobsi teknologi yang lebih modern.
Suhu Lingkungan Ternak
Suhu dan kelembaban udara wilayah dataran rendah dan dataran tinggi dapat dilihat pada Tabel 2. Suhu udara dataran tinggi pada pagi, siang, dan sore hari selalu lebih rendah daripada suhu udara di dataran rendah. Akan tetapi kelembaban udara di kedua dataran tersebut mempunyai kisaran yang relatif sama.
Tabel 2 Kisaran suhu dan kelembaban udara pada dataran rendah dan dataran tinggi wilayah kerja KUTT Suka Makmur
Pagi Siang Sore
Suhu udara(oC): Dataran rendah 24-26 25-27 25-27 Dataran tinggi 21-22 23-24 22-23 Kelembaban udara(%): Dataran rendah 84-96 72-92 78-92 Dataran tinggi 84-96 88-93 89-92
Suhu udara sapi perah yang dipelihara di wilayah dataran rendah berkisar antara 24 - 27 oC dengan kelembaban 72% - 96%, sedangkan di dataran tinggi kedua nilai tersebut berkisar antara 21 - 24 oC dan 84% – 96%. Dari hasil ini terlihat bahwa sapi yang berada di wilayah dataran rendah dipelihara diluar suhu nyaman untuk sapi perah FH berproduksi, sedangkan sapi yang berada di dataran tinggi dipelihara dalam kondisi lingkungan yang nyaman. Dengan pemahamaan suhu udara yang nyaman bagi ternak sapi perah berkisar 15 - 21 oC (Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan 2009), maka menurut MCDowell (1972) ternak yang dipelihara di daerah dengan kondisi lingkungan yang nyaman (comfort zone), merupakan daerah yang paling sesuai untuk kehidupan ternak tersebut. Pada kondisi ini, metabolisme basal hanya terjadi pada mekanisme pangaturan panas secara sensible menggunakan energi yang paling sedikit. Sehingga perbedaan kondisi lingkungan ini mungkin menjadi salah satu penyebab
lebih banyaknya produksi susu dan ukuran tubuh sapi yang relatif besar di wilayah dataran tinggi dibandingkan dengan produksi susu dan ukuran tubuh sapi-sapi di dataran rendah.
Pendugaan Bobot Badan
Penampilan ternak yang dipelihara di wilayah dataran rendah dan dataran tinggi memiliki perbedaan dari segi bentuk tubuh. Ternak yang dipelihara di dataran rendah memiliki lingkar dada dengan rata-rata 120 - 190 cm. Perhitungan lingkar dada ini berkolerasi dengan bobot badan ternak, seperti yang dijelaskan oleh Diwyanto (1982) bahwa bentuk lingkar dada bisa mengestimasi bobot badan sapi. Perhitungan bobot badan didasarkan pada rumus Schoorl yaitu bobot badan (kg) = (lingkar dada (cm) + 22)2 / 100) maka didapat hasil bahwa sapi-sapi yang berada di wilayah dataran rendah ukuran tubuhnya lebih kecil dibanding sapi yang berada di wilayah dataran tinggi. Bobot badan sapi yang berada di wilayah dataran rendah berkisar antara 201.6 - 449.4 kg dengan lingkar dada antara 120 - 190 cm dan sapi yang berada di wilayah dataran tinggi memiliki bobot badan berkisar antara 338.5 - 497.2 kg dengan lingkar dada berkisar antara 162 - 201 cm. Lingkar dada dan bobot badan sapi di KUTT Suka Makmur dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Lingkar dada dan bobot badan sapi perah dewasa di KUTT Suka Makmur
Lokasi n (sapi) Lingkar dada (cm) Bobot badan (kg)*
Dataran rendah 348 120-190 201.6 - 449.4
Dataran tinggi 195 162-201 338.6 - 497.3
*pengukuran dengan menggunakan rumus Schoorl
Keadaan dimana penampilan sapi cenderung lebih kecil dapat dijelaskan bahwa sapi-sapi wilayah dataran rendah cenderung mempertahankan panas kondisi tubuh, karena pada kondisi lingkungan yang kurang nyaman bagi sapi perah, akan berdampak pada sapi berpotensi mengalami stres. Williamsom dan Payne (1993) menyatakan bahwa temperatur kritis pada sapi Friesian Holstein
adalah 21 - 27 oC. Meskipun demikian, kondisi kelembaban udara wilayah dataran rendah dan dataran tinggi tidak jauh berbeda. Menurut Soetarno (2003) kelembaban ideal bagi sapi perah yaitu berkisar antara 60 - 80%. Lebih lanjut, Gwatibaya et al. (2007) menyatakan bahwa kelembaban udara yang tinggi dengan sedikit pergerakan udara merupakan salah satu penyebab timbulnya stres panas pada sapi perah.
Hasil pengukuran dan pendugaan tersebut terlihat penampilan sapi yang dipelihara di wilayah dataran rendah lebih kecil daripada penampilan sapi yang dipelihara di dataran tinggi. Selain faktor suhu dan kelembaban, pakan yang diberikan juga mempengaruhi kondisi tubuh ternak. Sapi perah yang berada di wilayah dataran tinggi diberikan pakan hijauan berupa rumput gajah dan pakan konsentrat berupa SPL HIPRO sedangkan sapi perah wilayah dataran rendah mengkonsumsi pakan jerami padi dengan pakan konsentrat SPL 01. Rumput gajah yang di konsumsi ternak wilayah dataran tinggi memiliki nilai kandungan nutrisi berbeda dengan jerami padi yang diberikan ke ternak wilayah dataran rendah,
begitu juga dengan kandungan nutrisi konsentrat. Kandungan nutrisi pakan di kedua wilayah tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Kandungan nutrisi hijauan (rumput gajah dan jerami padi) dan konsentrat (SPL HIPRO dan SPL 01)
Komponen Rumput gajah* Jerami padi* SPL HIPRO* SPL 01** --- (%) ---
Air na na Maks. 14 Maks. 14
Bahan kering 21.0 86.0 88 86
Protein kasar 9.6 3.7 Na Min. 20 Min. 16
Lemak kasar 1.9 1.7 Maks. 7 Maks. 7
Serak kasar 32.7 35.9 na na
NDF na na Maks. 35 Maks. 35
TDN 52.4 39.0 Min. 7 Min. 7
Sumber: * :PT Nestle Kejayan Factory (2009) ** :PT Yellow Feed Kejayan (2014) Na : tidak ada data
Jumlah kepemilikan ternak sapi perah wilayah dataran rendah lebih banyak (p < 0.05) daripada jumlah kepemilikan ternak wilayah dataran tinggi. Selain jumlah kepemilikan ternak, jenis pakan yang diberikan juga berbeda. Pemberian pakan di dataran rendah menggunakan konsentrat SPL 01, dengan sumber hijauan jerami padi. Hal ini berbeda dengan pemberian pakan di dataran tinggi. Peternak wilayah dataran tinggi menggunakan konsentrat SPL HIPRO dengan hijauan rumput gajah. Perbedaan cara pemberian pakan diduga menyebabkan produksi susu per ekor per hari wilayah dataran tinggi lebih banyak daripada produksi susu per ekor per hari wilayah dataran rendah. Rataan jumlah kepemilikan ternak, jumlah pemberian pakan, konsentrat, dan produksi susu disajikan dalam Tabel 5. Tabel 5 Rataan jumlah ternak dan pemberian pakan (BK) sapi perah di dataran
rendah dan dataran tinggi wilayah kerja KUTT Suka Makmur
Variabel Dataran rendah Dataran tinggi
Jumlah ternak (ST) 8.9 4.9
Konsentrat (kg-1 ekor-1 hari-1) 3.4 2.6
Jerami padi (kg-1 ekor-1 hari-1) 4.8 -
Rumput gajah (kg-1 ekor-1 hari-1) - 9.4
Air minum
- Tidak ad-libitum
- Bercampur
dengan konsentrat
Ad-libitum
Produksi susu (L-1 ekor-1 hari-1) 6.1 11.1
Rata-rata ternak wilayah dataran rendah mengkonsumsi konsentrat dan hijauan jerami padi sebesar 3.4 kg-1 ekor-1 hari-1 dan 4.8 kg-1 ekor-1 hari-1. Sedangkan rata-rata ternak wilayah dataran tinggi mengkonsumsi konsentrat dan hijauan rumput gajah sebesar 2.6 kg-1 ekor-1 hari-1 dan 9.4 kg-1 ekor-1 hari-1. Kondisi ini berhubungan erat dengan jumlah satuan ternak (ST) yang dipelihara oleh peternak masing-masing wilayah. Rata-rata jumlah ST dataran rendah
sebanyak 8 ekor sedangkan jumlah ST dataran tinggi sebanyak 4 ekor ternak yang berproduksi.
Konsumsi hijauan wilayah dataran rendah cenderung lebih sedikit dibanding wilayah dataran tinggi. Sugeng (1998) menyatakan suhu udara yang tinggi sangat tidak menguntungkan bagi ternak, karena akan berpengaruh pada konsumsi pakan ternak, air minum dan tingkah laku. Ternak sapi perah yang berada di lingkungan bersuhu tinggi akan mengalami stres berat dan gagal dalam mengatur panas tubuh. Akibatnya ternak akan banyak minum air tetapi nafsu makan berkurang dan pakan yang dikonsumsi rendah. Hal ini sejalan dengan penelitian ini, sapi perah yang berada di wilayah dataran rendah mengkonsumsi hijauan sebanyak 4.8 kg-1 ekor-1 hari-1 sedangkan sapi perah wilayah dataran tinggi mengkonsumsi hijauan sebanyak 9.5 kg-1 ekor-1 hari-1.
Menurut Nugroho et al. (2010), perbedaan konsumsi hijauan dan konsentrat akibat pengaruh dari ketinggian tempat, sehingga berpengaruh pada produktivitas ternak yang menyebabkan ternak stres dan perubahan serangkaian proses metabolisme ternak karena asupan energi ternak yang seharusnya untuk berproduksi tetapi digunakan untuk mempertahankan keseimbangan metabolisme tubuhnya agar berjalan normal.
Ma’rifah (β01β) menyatakan, jumlah pemberian ransum per hari adalah sebanyak 3.5% BK dari bobot badan sapi, dan terbagi menjadi dua kali pemberian. Ransum tersebut dapat dipenuhi dengan pemberian hijauan segar (13% bobot badan) dan konsentrat (1.5% bobot badan). Menurut Sutardi (2003), sapi perah berbobot badan 300 - 500 kg dengan produksi susu 10 L dibutuhkan BK sebanyak 2.30% - 2.70% dari bobot hidup.
Perimbangan antara bahan kering hijauan dan konsentrat untuk mencapai produksi susu yang tinggi belum dapat diaplikasikan oleh peternak yang berskala peternakan rakyat. Kondisi ini didukung dengan harga konsentrat yang relatif mahal dibandingkan dengan harga penjualan susu oleh peternak. Harga susu yang diterima peternak yaitu Rp4 550.00 L-1 hari-1, tidak sebanding dengan biaya pembelian konsentrat yang dibeli seharga Rp5 000.00 kg-1 untuk konsentrat jenis SPL 01 dan Rp7 900.00 untuk konsentrat jenis HIPRO.
Cara pemberian konsentrat wilayah dataran rendah masih dicampur dengan ampas tahu, onggok dan air minum. Sumber air yang digunakan peternak dataran rendah adalah air sumur, namun air sumur terasa sedikit asin karena wilayah dataran rendah hampir mendekati wilayah pantai dan ada beberapa peternak yang membeli air, sehingga kebutuhan ternak terhadap konsumsi air masih belum terpenuhi. Padahal sapi FH yang ditempatkan dilingkungan yang bersuhu tinggi secara fisiologis akan mengalami cekaman panas dan hal ini akan berakibat pada meningkatnya konsumsi minum, peningkatan suhu tubuh, respirasi dan denyut jantung serta terjadinya peningkatan panas melalui penguapan. Menurut Santoso
et al. (2009) kebutuhan dasar seekor sapi perah terhadap air adalah lebih kurang 40 liter hari-1 terutama di daerah yang bersuhu tinggi.
Kondisi wilayah dataran tinggi yang berbeda dengan kondisi wilayah dataran rendah juga mampu mempengaruhi tingkat produksi susu yang dihasilkan yaitu 11 L-1 ekor-1 hari-1 di wilayah dataran tinggi dan 6 L-1 ekor-1 hari-1 wilayah dataran rendah. Menurut Siregar (1992) usaha untuk meningkatkan produksi susu dapat dilakukan dengan menambahkan pakan atau perbaikan sistem pemberian pakan tanpa penambahan biaya. Sapi perah hendaknya diberikan pakan yang
berkualitas tinggi sehingga dapat berproduksi sesuai dengan kemampuannya. Perbedaan jenis pakan yang diberikan pada ternak yang dipeliharan di wilayah dataran rendah dengan dataran tinggi mampu mempengaruhi produksi susu yang dihasilkan.
Lokasi penelitian yang berada di wilayah dataran rendah belumlah ideal untuk pemeliharaan sapi perah. Karena temperatur udaranya berkisar 24 - 27 oC dan kelembaban udaranya tinggi. Hal ini berakibat pada produksi susu yang dihasilkan. Menurut Rumetor (2003) pengaruh langsung dari temperatur dan kelembaban terhadap produksi susu disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan sistem tubuh untuk melepas kelebihan beban panas, pengurangan laju metabolik, dan menyusutnya konsumsi pakan.
Produktivitas susu sapi FH di wilayah dataran rendah dan dataran tinggi dapat digambarkan dari produksi susu yang bisa diamati dari data kualitas dan kuantitas susu per 10 hari yang dikeluarkan oleh koperasi. Data yang diperoleh yaitu rata-rata kuantitas susu per 20 hari (2 data yaitu 10 hari pertama ditambah 10 hari kedua) sekitar 1 156 812 L. Faktor yang paling dominan yang mempengaruhi produksi susu di lokasi penelitian adalah lingkungan, mengingat faktor lain, seperti bangsa sapi yang dipelihara sudah seragam, yaitu sapi yang berasal dari sapi FH, perkawinan sapi menggunakan inseminasi buatan (IB) kemudian pakan yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat juga sudah memenuhi standar yang dianjurkan oleh koperasi. Perbandingan produksi susu wilayah dataran rendah dan dataran tinggi disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6 Perbandingan produksi susu beberapa sapi FH yang dipelihara di wilayah dataran rendah dan dataran tinggi pada bulan Januari 2015
Jenis sapi Produksi susu (L) Rata-rata n = 40
Dataran rendah 244.5 L hari-1 Sapi 1 9.5 Sapi 2 5.1 Sapi 3 4.9 Sapi 4 3.8 Sapi 5 5.2 Dataran tinggi 454.6 L hari-1 Sapi 1 14.6 Sapi 2 15.3 Sapi 3 10.8 Sapi 4 17.2 Sapi 5 11.3
Pendugaan Fungsi Produksi Stochastic Frontier Cobb-Douglas
Produksi susu dipengaruhi oleh sistem manajemen pemeliharaan yang baik dari setiap usaha peternakan dua wilayah yang berbeda yaitu wilayah dataran rendah dan dataran tinggi. Penggunaan input-input dalam sistem pemeliharaan ternak ini meliputi umur sapi berahi pertama (X1), umur sapi beranak pertama (X2), selang waktu kawin setelah beranak (X3), calving interval (X4), jumlah pemberian hijauan (X5) jumlah pemberian konsentrat (X6), skor pemberian air minum (X7), saat pengeringan sapi setelah bunting (X8), kejadian mastitis (X9), total kepemilikan ternak peternak-1 (X10), dan jumlah tenaga kerja peternak-1
(X11). Analisis fungsi produksi dilakukan untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi produksi susu dilokasi penelitian yang menggambarkan hubungan produksi dengan input-inputnya, pada penelitian ini model fungsi produksi yang digunakan adalah fungsi produksi stochastic frontier Cobb-Douglas.
Analisis Ordinary Least Square (OLS) di uji terlebih dahulu untuk memberikan koreksi terhadap hasil ukuran jumlah kuadrat residual yang harus minimum. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan koefisien regresi linier dan analisis OLS digunakan untuk melihat apakah ada pelanggaran asumsi atau tidak yang menunjukkan adanya masalah multicolliniearity, autocorrelation, dan
heteroscedacity. Selain itu, metode OLS digunakan untuk menduga parameter teknologi dan input-input produksi. Selanjutnya pada tahap kedua, penelitian ini menggunakan model fungsi produksi metode Maximum Likelihood Estimation
(MLE). Metode MLE digunakan untuk menduga parameter secara keseluruhan baik dengan restricted maupun non-restricted. Metode MLE ini akan menunjukkan tingkat residual yang dicapai dalam model yang melihat efisiensi maupun inefisiensi dari persamaan model yang dipakai dan perbedaan tingkat signifikan yang lebih tinggi dibanding dengan metode OLS. Hasil estimasi pendugaan menggunakan metode OLS dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7 Hasil estimasi model fungsi produksi dataran rendah dan dataran tinggi menggunakan metode OLS
Variabel Dataran rendah Dataran tinggi
Koefisien VIF Koefisien VIF
Konstan ( 0) 1.713 0 -3.132 0
Umur sapi berahi pertama ( 1) 0.694 20.90 -1.578 590.259 Umur sapi beranak pertama ( 2) -0.450 19.93 2.961 592.650 Selang waktu kawin setelah
beranak ( 3)
0.107 3.171 -0.125 1.432
Calving interval( 4) -0.009 1.829 -0.087 1.510
Jumlah pemberian hijauan ( 5) 0.398 2.220 0.036 1.263
Jumlah pemberian konsentrat ( 6)
-0.102 1.351 -0.054 1.422
Skor pemberian air minum ( 7) - - 0.089 1.308
Saat pengeringan sapi setelah bunting ( 8)
0.080 1.770 0.771 1.345
Kejadian mastitis ( 9) -0.062 2.625 -0.146 1.595
Total kepemilikan ternak peternak-1( 10)
-0.287 2.151 -0.145 1.526
Jumlah tenaga kerja peternak-1 ( 11)
0.075 1.364 -0.077 1.404
R-Square 37.3% 32.8%
Hasil pendugaan fungsi produksi metode OLS wilayah dataran rendah dan dataran tinggi menghasilkan nilai determinasi (R2) masing-masing 0.37 dan 0.32 yang berarti bahwa hanya 37% dan 32% besarnya variasi produksi susu pada usaha peternakan wilayah dataran rendah dan dataran tinggi yang dapat dijelaskan oleh input-input yang dimasukkan ke dalam model. Hasil estimasi fungsi produksi
tidak memperoleh hasil yang maksimal. Pada penelitian ini, hasil yang diperoleh tidak bisa menduga efek efisiensi produksi. Meskipun demikian, model fungsi produksi susu sudah memenuhi syarat, artinya homoskedastis atau tidak terjadi multikolinieritas dengan nilai VIF<10.
Variance inflation factor (VIF) digunakan untuk mengetahui adanya hubungan yang kuat antara variabel bebas (multikolinieritas) pada model. Hasil yang menunjukkan bahwa baik di dataran rendah maupun dataran tinggi nilai VIF<10 mengindikasikan tidak adanya hubungan yang kuat antara variabel bebas di dalam model (multkolinearitas). Menurut Rosadi (2011) jika koefisien determinasi regresi utama pada suatu model lebih besar dari pada koefisien determinasi regresi semu antar variabel bebas maka tidak terdapat masalah multikolinearitas. Hasil analisis menggunakan metode OLS yang tidak menunjukkan multkolinearitas disajikan pada Gambar 3.
Gambar 3 Kurva metode OLS tidak menunjukkan multikolinearitas
Tahap kedua hasil analisis model fungsi produksi stochastic frontier dengan menggunakan metode MLE wilayah dataran rendah dan dataran tinggi dengan bantuan software FRONTIER 4.1 di jelaskan pada Tabel 8 dan Lampiran 1. Parameter dugaan fungsi produksi stochastic frontier menunjukkan nilai elastisitas produksi frontier dan input-input yang digunakan dalam model. Koefisien fungsi produksi merupakan pangkat fungsi Cobb-Douglas ialah elastisitas produksi masing-masing input yang digunakan. Jumlah koefisien fungsi produksi wilayah dataran rendah menunjukkan return to scale sedangkan wilayah dataran tinggi menunjukkan increasing to scale. Hasil ini menunjukkan bahwa
fungsi produksi Cobb-Douglas dengan metode MLE berada dalam kondisi return to scale wilayah dataran rendah dan increasing to scale wilayah dataran tinggi.
Metode MLE wilayah dataran rendah menunjukkan nilai sigma-squared(σ2
) sebesar 0.398 dan nyata pada taraf kepercayaan 90% terhadap produksi susu. Artinya variasi hasil diantara peternak disebabkan oleh inefisiensi teknis, sementara 10% disebabkan oleh efek-efek stochastic diluar model. Begitu juga dengan hasil yang diperoleh dari wilayah dataran tinggi, nilai sigma-squared (σ2
) sebesar 0.033 yang nyata pada taraf kepercayaan 1%. Nilai gamma ( ) pada wilayah dataran rendah dan dataran tinggi yang hampir mendekati 1 yaitu 0.885 wilayah dataran rendah dan 0.999 wilayah dataran tinggi mengindikasikan keberadaan inefisiensi teknis pada proses produksi dipengaruhi oleh perbedaan inefisiensi teknis sebesar 88.5% dan 99.9% dan hal ini menunjukkan bahwa error term hanya berasal dari akibat inefisiensi (µi) dan bukan dari noise (vi). Hasil estimasi fungsi produksi stochastic frontier metode MLE dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8 Hasil estimasi model fungsi produksi stochastic frontier pada usaha peternakan sapi perah rakyat di wilayah dataran rendah dan dataran tinggi dengan metode MLE
Variabel Dataran rendah Dataran tinggi
Koefisien t-rasio Koefisien t-rasio
Konstan ( 0) -0.983 -1.025 11.646 -4.327
Umur sapi berahi pertama ( 1) -1.181b -1.365 -4.814 -3.826 Umur sapi beranak pertama ( 2) 2.200b 1.718 8.411 3.927 Selang waktu kawin setelah
beranak ( 3)
-0.740b -1.569 -0.270 -0.612
Calving interval( 4) 0.430b 1.236 -0.135 -0.624 Jumlah pemberian hijauan ( 5) 0.108 0.508 0.082 0.060 Jumlah pemberian konsentrat
( 6)
0.161 0.180 0.177 0.314
Skor pemberian air minum ( 7) 0.916a 1.738 0.130 0.662 Saat pengeringan sapi setelah
bunting ( 8)
-0.469 -0.929 0.687a 1.958 Kejadian mastitis ( 9) -0.075 -0.479 -0.137a -1.535 Total kepemilikan ternak
peternak-1( 10)
-0.355 -2.396 -0.059 -0.589
Jumlah tenaga kerja peternak-1 ( 11) 0.064 0.454 -0.728 -0.779 Sigma-square (σ2 ) 0.398a 1.978 0.033c 7.331 Gamma ( ) 0.885 12.794 0.999 5.146 Log-likelihood MLE -6.616 12.529
LR test of one side error 73.866 7.088
Keterangan:
a) nyata pada α = 10%
b) nyata pada α = β0%
c) nyata pada α = 1%
Tabel 8 menunjukkan nilai LR galat satu sisi model stochastic frontier
Palm (1986) yaitu 14.853, artinya model fungsi produksi stochastic frontier yang didapat menunjukkan adanya keberaan inefisiensi teknis pada model. Sedangkan untuk wilayah dataran tinggi nilai LR galat satu sisinya sebesar 7.088 yang lebih kecil dari χ2
(21.232) pada tabel Kodde dan Palm (1986), mengindikasikan bahwa model yang didapat menunjukkan peternak wilayah dataran tinggi sudah efisiensi dalam melakukan efisiensi teknis beternak. Nilai MLE yang lebih besar dari nilai OLS pada wilayah dataran rendah (-6.616 > -43.550) dan di wilayah dataran tinggi (12.5293 > 8.984), mengindikasikan metode MLE lebih baik dan hampir sama dengan kondisi dilapangan dibandingkan dengan metode OLS.
Elastisitas fungsi produksi frontier wilayah dataran rendah pada variabel umur sapi berahi pertama dan umur sapi kawin setelah beranak memiliki nilai koefisien masing-masing sebesar -1.181 dan -0.740, yang berpengaruh nyata pada taraf α = 10%. Artinya setiap penambahan satu persen dalam kategori sapi berahi pertama dan sapi kawin setelah beranak maka akan menurunkan produksi susu sapi sebesar 1.181 dan 0.740 persen.
Idealnya sapi perah dara mulai dikawinkan pada umur 15 bulan, yaitu ketika