Perlakuan pakan nyata (p<0,05) mempengaruhi konsumsi bahan kering, bahan kering feses dan kecernaan bahan kering. Rataan konsumsi bahan kering, bahan kering feses dan kecernaan bahan kering dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Rataan Konsumsi Bahan Kering, Bahan Kering Feses dan Kecernaan Bahan Kering (KCBK) pada Kelinci Jantan Lokal
Konsumsi BK (g/e/h) BK Feses (g/e/h) KCBK(%) R1 85,98+9,96ab 29,46+6,85bc 65,88+5,20a R2 73,68+9,47a 16,00+6,25a 78,76+6,34b R3 88,47+5,77ab 21,82+7,33ab 74,97+9,77ab R4 98,19+10,75bc 20,74+5,03ab 78,88+4,76b R5 105,05+13,82c 34,31+7,44c 67,62+3,60a
Keterangan : Nilai dengan superskrip huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama berarti berbeda nyata (p<0,05).
(R1) Ransum Komplit mengandung 5% B. Kelapa + 30% R. Lapang
(R2) Ransum Komplit mengandung 5% B. Kelapa + 5% Lamtoro + 25% R. Lapang (R3) Ransum Komplit mengandung 5% B. Kelapa + 25% R. Lapang + 5% Daun Ubi
Jalar
(R4) Ransum Komplit mengandung 5% Bungkil Inti Sawit (BIS) + 5% Lamtoro + 25% R. Lapang
(R5) Ransum Komplit mengandung 5% BIS + 25% R. Lapang + 5% Daun Ubi Jalar.
Konsumsi bahan kering kelinci yang mendapat perlakuan R1, R2 dan R3 tidak berbeda nyata akan tetapi ketiga perlakuan tersebut nyata lebih rendah (p<0,05) dibandingkan konsumsi bahan kering kelinci yang mendapat perlakuan R5, sedangkan konsumsi bahan kering kelinci yang diberi perlakuan R5 tidak berbeda nyata dengan kelinci yang mendapat perlakuan R4. Hal ini menunjukkan bahwa ransum komplit yang mengandung BIS dengan kombinasi daun ubi jalar menghasilkan konsumsi bahan kering kelinci yang lebih baik dibandingkan dengan ransum komplit mengandung bungkil kelapa. Perbedaan konsumsi bahan kering ransum tersebut diduga karena adanya perbedaan palatabilitas dimana ransum komplit mengandung BIS lebih palatabel dibandingkan ransum komplit yang mengandung bungkil kelapa. Sesuai dengan pernyataan Sutardi (1980) bahwa faktor
Perlakuan n
yang mempengaruhi konsumsi pakan adalah palatabilitas, jumlah makanan yang tersedia dan kualitas atau komposisi kimia bahan makanan, selain itu juga didukung oleh pernyataan Pond et al. (1995) bahwa palatabilitas ransum dipengaruhi oleh bentuk, bau, rasa, tekstur serta aroma makanan yang diberikan. Tingginya konsumsi bahan kering kelinci yang mendapat perlakuan R5 juga disebabkan oleh kombinasi hijauan daun ubi jalar dalam formula ransum. Hal ini didukung oleh Sudaryanto et al. (1984) yang melaporkan bahwa daun ubi jalar paling banyak dikonsumsi pada kelinci jantan (379,50 g/ekor/hari) dan pada kelinci betina (389,85 g/ekor/hari). Namun hal ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Mulya (2010) yang menyatakan bahwa penggunaan bungkil kelapa di dalam ransum komplit untuk kelinci mampu menghasilkan konsumsi yang optimal dengan penambahan hijauan rumput lapang saja di dalam ransum. Adanya penambahan hijauan lain seperti daun lamtoro dan daun ubi jalar akan memberikan efek yang negative terhadap jumlah konsumsi ransum.
Hasil dari semua perlakuan terhadap konsumsi bahan kering dapat diartikan bahwa penggunaan BIS pada taraf 5% dalam ransum cukup palatabel. Konsumsi bahan kering kelinci dalam penelitian ini (5-6% bobot badan) sudah memenuhi standar yang direkomendasikan oleh NRC (1977) yaitu sebesar 5,4-6,2% dari bobot badan. Bahan kering feses kelinci yang mendapat perlakuan R5 nyata lebih tinggi dibandingkan kelinci yang mendapat perlakuan R2, R3 dan R4 namun tidak berbeda dibandingkan dengan bahan kering feses kelinci yang mendapat perlakuan R1. Hal ini diduga dipengaruhi oleh sifat fisik bahan pakan tersebut sehingga zat makanan (bahan kering) tidak tercerna dengan baik/rendah didalam tubuh dan terbuang melalui feses. Semakin sedikit bahan kering yang ditemukan pada feses mengindikasikan tingginya kecernaan bahan kering tersebut.
Kecernaan bahan kering kelinci yang mendapat perlakuan R2 dan R4 tidak berbeda nyata namun nyata lebih tinggi dibandingkan dengan kecernaan bahan kering kelinci yang mendapat perlakuan R1 dan R5, sedangkan kecernaan bahan kering kelinci yang mendapat perlakuan R3 menunjukkan tidak berbeda dengan perlakuan lainnya. Tingginya kecernaan bahan kering kelinci yang mendapat perlakuan R2 maupun R4 dikarenakan penggunaan lamtoro dalam formula ransum. Hal ini diduga karena lamtoro memiliki kualitas protein yang baik dengan kandungan
asam amino yang seimbang, sehingga kecernaan bahan kering kelinci tinggi. Menurut Mtenga (1994), selain mengandung zat inhibitir seperti mimosin dan tanin, lamtoro juga memiliki kandungan asam amino yang cukup tinggi sehingga dapat memenuhi kebutuhan kelinci. Penggunaan 5% lamtoro dalam ransum komplit dengan kombinasi bungkil kelapa maupun BIS dapat meningkatkan kecernaan bahan kering kelinci.
Rendahnya kecernaan bahan kering kelinci yang mendapat perlakauan R1 disebabkan oleh penggunaan rumput lapang sebagai satu-satunya hijauan dalam ransum komplit. Hal ini didukung oleh pernyataan Hidayat (2002) bahwa pemberian rumput lapang secara tunggal sebagai sumber hijauan belum dapat mencukupi kebutuhan ternak kelinci. Sedangkan rendahnya kecernaan bahan kering kelinci yang mendapat perlakuan R5 disebabkan oleh kombinasi BIS dan daun ubi jalar yang diduga memiliki kandungan ADF yang tinggi. Menurut Herawati (2005) kadar ADF yang terkandung didalam ransum biomassa ubi jalar cukup tinggi (31,13%). Sesuai pernyataan Khotijah (2006) bahwa kecernaan bahan kering dipengaruhi oleh kadar ADF, dimana fraksi tersebut merupakan komponen tanaman yang sulit dicerna oleh ternak.
Kecernaan bahan kering kelinci pada penelitian sebesar 65,88-78,88% yaitu lebih tinggi dibandingkan pernyataan Cheeke (1987), bahwa kecernaan bahan kering pada kelinci yang diberi ransum berbentuk pelet yaitu sebesar 47%. Sedangkan kelinci yang diberikan ransum komplit biomassa ubi jalar sebesar 66,03% yaitu lebih rendah dibandingkan ransum pada penelitian. Hal tersebut membuktikan bahwa ransum perlakuan memiliki kualitas pakan yang baik, karena tingkat kecernaan bahan kering tinggi.
Kecernaan Bahan Organik
Perlakuan pakan nyata (p<0,05) mempengaruhi konsumsi bahan organik, bahan organik feses dan kecernaan bahan organik. Rataan konsumsi bahan organik, bahan organik feses dan kecernaan bahan organik dapat dilihat pada Tabel 9. Konsumsi bahan organik kelinci menunjukkan pengaruh yang sama dengan konsumsi bahan kering kelinci. Konsumsi bahan organik kelinci yang mendapat perlakuan R5 nyata lebih tinggi dibandingkan dengan konsumsi bahan organik
kelinci yang mendapat perlakuan R1, R2 dan R3 namun tidak berbeda dengan konsumsi bahan organik kelinci yang mendapat perlakuan R4.
Bahan organik feses kelinci juga memberikan pengaruh yang sama dengan bahan kering feses kelinci. Bahan organik feses kelinci yang mendapat perlakuan R1 memberikan pengaruh yang sama dengan bahan organik kelinci yang mendapat perlakuan R3, R4 dan R5 namun nyata lebih tinggi dibandingkan bahan organik kelinci yang mendapat perlakuan R2. Sedangkan bahan organik kelinci yang mendapat perlakuan R2, R3 dan R4 menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda namun nyata lebih rendah dibandingkan bahan organik kelinci yang mendapat perlakuan R5.
Tabel 9. Rataan Konsumsi Bahan Organik, Bahan Organik Feses dan Kecernaan Bahan Organik pada Kelinci Jantan Lokal
Konsumsi BO (g/e/h)
BO Feses (g/e/h) KCBO (%)
R1 77,75+9ab 24,83+5,78bc 68,21+4,85a
R2 65,74+8,45a 13,46+5,25a 79,97+5,89b R3 79,15+5,16ab 18,59+6,24ab 76,17+9,30ab R4 88,27+9,66bc 17,18+4,17ab 80,53+4,39b
R5 95,30+12,54c 29,11+6,31c 69,72+3,37a
Keterangan : Nilai dengan superskrip huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama berarti berbeda nyata (p<0,05).
(R1) Ransum Komplit mengandung 5% B. Kelapa + 30% R. Lapang
(R2) Ransum Komplit mengandung 5% B. Kelapa + 5% Lamtoro + 25% R. Lapang (R3) Ransum Komplit mengandung 5% B. Kelapa + 25% R. Lapang + 5% Daun Ubi
Jalar
(R4) Ransum Komplit mengandung 5% Bungkil Inti Sawit (BIS) + 5% Lamtoro + 25% R. Lapang
(R5) Ransum Komplit mengandung 5% BIS + 25% R. Lapang + 5% Daun Ubi Jalar.
Kecernaan bahan organik memperlihatkan pengaruh yang sama dengan kecernaan bahan kering kelinci. Kecernaan bahan organik kelinci yang mendapat perlakuan R1 dan R5 nyata lebih rendah (p<0,05) dibandingkan kecernaan bahan organik kelinci yang mendapat perlakuan R2 dan R4, sedangkan kecernaan bahan organik yang mendapat perlakuan R3 tidak berbeda dengan perlakuan lainnya. Tingginya kecernaan bahan organik sejalan dengan tingginya kecernaan bahan kering. Hal ini sesuai dengan prinsip perhitungan bahan organik dari analisis
Perlakuan n
proksimat, dimana semakin tinggi persentase bahan kering maka akan diikuti oleh peningkatan persentase bahan organiknya (Tillman,et al. 1997).
Penggantian BIS oleh bungkil kelapa dalam formula ransum menghasilkan pengaruh yang sama terhadap kecernaan bahan organik, namun kombinasi hijauan yang digunakan akan memberikan pengaruh yang nyata berbeda (p<0,05). Perbedaan kecernaan bahan organik ini diduga karena adanya perbedaan kualitas serat kasar pada masing-masing bahan pakan yang digunakan. Kualitas hijauan seperti rumput lapang, lamtoro dan ubi jalar memiliki kualitas serat kasar (ADF) yang berbeda sehingga tingkat kecernaan bahan organik juga berbeda.
Kecernaan Protein
Perlakuan pakan memberikan pengaruh yang nyata (p<0,05) terhadap konsumsi protein kasar, protein kasar feses dan kecernaan protein kasar. Rataan konsumsi protein kasar, protein kasar feses dan kecernaan protein kasar kelinci dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Rataan Konsumsi Protein Kasar, Protein Kasar Feses dan Kecernaan Protein Kasar pada Kelinci Jantan Lokal
Konsumsi Protein Kasar (g/e/h)
Protein Kasar Feses (g/e/h) Kecernaan Protein Kasar (%) R1 15,56+1,80ab 5,21+1,21b 66,68+5,08a R2 14,33+1,84a 3,05+1,19a 79,16+6,22b R3 15,53+1,01ab 3,81+1,28ab 75,10+9,72ab R4 18,00+1,97b 3,79+0,92ab 78,94+4,74b R5 16,94+2,23ab 5,60+1,21b 67,23+3,64a
Keterangan : Nilai dengan superskrip huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama berarti berbeda nyata (p<0,05).
(R1) Ransum Komplit mengandung 5% B. Kelapa + 30% R. Lapang
(R2) Ransum Komplit mengandung 5% B. Kelapa + 5% Lamtoro + 25% R. Lapang (R3) Ransum Komplit mengandung 5% B. Kelapa + 25% R. Lapang + 5% Daun Ubi
Jalar
(R4) Ransum Komplit mengandung 5% Bungkil Inti Sawit (BIS) + 5% Lamtoro + 25% R. Lapang
(R5) Ransum Komplit mengandung 5% BIS + 25% R. Lapang + 5% Daun Ubi Jalar.
Konsumsi protein kasar kelinci yang mendapat perlakuan R4 nyata lebih tinggi dibandingkan dengan konsumsi protein kasar kelinci yang mendapat perlakuan
Perlakuan n
R2 namun konsumsi protein kasar kelinci yang mendapat perlakuan R4 maupun R2 tidak berbeda dengan perlakuan lainya. Perbedaan konsumsi protein kasar diduga karena adanya perbedaan kualitas protein ransum dimana pada R4 kualitas proteinnya lebih tinggi daripada R2. Sesuai dengan pernyataan Lang (1981) bahwa kualitas protein sangat penting untuk kelinci karena konsumsi akan meningkat jika dalam ransum mengandung protein yang berkualitas tinggi.
Tingginya konsumsi protein kasar kelinci yang mendapat perlakuan R4 disebabkan oleh penggunaan BIS dalam formula ransum akan tetapi tidak dipengaruhi oleh hijauan (lamtoro) yang digunakan . Hal ini mengindikasikan bahwa kualitas protein BIS lebih baik daripada kualitas protein bungkil kelapa, sesuai dengan pernyataan Kim et al., (2001) bahwa kandungan asam amino pada BIS lebih tinggi daripada asam amino yang terkandung dalam bungkil kelapa. Hal ini didukung juga oleh pernyataan Mulya (2010) yang melaporkan bahwa kelinci yang diberi ransum komplit mengandung BIS menghasilkan konsumsi dan PBB nyata lebih tinggi dibandingkan dengan kelinci yang diberi ransum komplit mengandung bungkil kelapa.
Rendahnya konsumsi protein kasar kelinci yang mendapat perlakuan R2 disebabkan oleh penggunaan bungkil kelapa yang memiliki kualitas protein yang rendah, sesuai dengan pernyataan (Herawati, 2005) bahwa bungkil kelapa memiliki kualitas yang bervariasi tergantung pada cara pengolahan dan mutu bahan baku. Selain itu, rendahnya konsumsi protein kasar kelinci yang mendapat perlakuan R2 dikarenakan konsumsi bahan kering dan konsumsi bahan organik yang juga rendah. Protein kasar merupakan salah satu bahan organik dalam ransum, selain itu konsumsi protein kasar sangat dipengaruhi oleh kadar protein ransum. Sesuai dengan pernyataan Okmal (1993), kadar protein kasar dalam ransum yang tinggi dan disertai konsumsi bahan kering yang tinggi menghasilkan konsumsi protein kasar yang tinggi pula dan sebaliknya.
Kecernaan protein kasar kelinci yang mendapat perlakuan R1 dan R5 nyata lebih rendah (P<0,05) dibandingkan dengan kelinci yang mendapat perlakuan R2 dan R4, sedangkan kecernaan protein kasar kelinci yang mendapat perlakuan R3 memberikan pengaruh yang tidak berbeda dengan perlakuan lainnya. Tingginya kecernaan protein kasar kelinci yang mendapat perlakuan R2 dan R4 diduga oleh
penggunaan lamtoro dalam formula ransum. Sesuai dengan pernyataan Sutardi (1980), kelompok leguminosa memiliki daya cerna yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis rerumputan karena kandungan NDF/ADF nya lebih rendah. Selain itu kecernaan protein kasar juga dipengaruhi oleh banyaknya konsumsi protein kasar.
Penggunaan BIS dan daun ubi jalar dalam formula ransum menurunkan kecernaan protein kasar. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas protein ransum R5 lebih rendah dibandingkan dengan kualitas protein R2 dan R4. Rendahnya kecernaan protein kasar kelinci yang diberi perlakuan R5 dapat dilihat dari nilai rataan protein fesesnya yang tinggi. Rendahnya protein feses kelinci yang diberi perlakuan R5 diduga karena BIS yang digunakan masih tercampur oleh cangkang yang sulit dicerna, sehingga banyak protein kasar dari bahan makanan tersebut yang ikut keluar melalui feses. Sedangkan rendahnya kecernaan protein kasar kelinci yang mendapat perlakuan R1 disebabkan oleh penggunaan rumput lapang sebagai satu-satunya hijauan dalam formula ransum.
Hal ini dapat disimpulkan bahwa perbedaan kecernaan protein kasar sangat dipengaruhi oleh komposisi bahan pakan yang digunakan dalam ransum tersebut. Sesuai dengan pernyataan Anggorodi (1994) yang menyatakan bahwa salah faktor yang mempengaruh daya cerna ransum adalah komposisi ransum tersebut. Kecernaan protein kasar kelinci pada penelitian sebesar 66,68-79,16% yaitu lebih besar dibandingkan kecernaan protein kelinci yang mendapat ransum komplit biomasaa ubi jalar yang dilaporkan oleh Khotijah (2006) yaitu sebesar 70,75%.
Kecernaan Serat Kasar
Perlakuan pakan memberikan pengaruh yang nyata (p<0,05) terhadap konsumsi serat kasar, serat kasar feses dan kecernaan serat kasar. Rataan konsumsi serat kasar, serat kasar feses dan kecernaan serat kasar dapat dilihat pada Tabel 11.
Konsumsi serat kasar kelinci yang mendapat perlakuan R5 nyata lebih tinggi dibandingkan dengan konsumsi serat kasar kelinci yang mendapat perlakuan R1, R2, R3 dan R4 sedangkan konsumsi serat kasar kelinci yang mendapat perlakuan R1, R2, R3 dan R4 tidak berbeda nyata. Serat kasar feses kelinci yang mendapat perlakuan R1 tidak berbeda nyata dengan kelinci yang mendapat perlakuan R3, R4 dan R5 namun nyata lebih tinggi (p<0,05) dibandingkan kelinci yang mendapat perlakuan R2. Serat kasar feses kelinci yang mendapat perlakuan R2, R3 dan R4 tidak berbeda
nyata akan tetapi nyata lebih rendah dibandingkan kelinci yang mendapat perlakuan R5.
Table 11. Rataan Konsumsi Serat Kasar, Serat Kasar Feses dan Kecernaan Serat Kasar pada Kelinci Jantan Lokal
Konsumsi Serat Kasar (g/e/h)
Serat Kasar Feses (g/e/h) Kecernaan Serat Kasar (%) R1 11,99+1,39a 10,73+2,5bc 15,87+9,30a R2 10,79+1,39a 5,64+2,2a 48,82+15,27c R3 12,78+0,83a 7,12+2,39ab 43,44+22,09bc R4 12,69+1,39a 7,54+1,83ab 40,59+13,38bc R5 15,08+1,98b 12,03+2,61c 20,90+8,8ab
Keterangan : Nilai dengan superskrip huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama berarti berbeda nyata (p<0,05).
(R1) Ransum Komplit mengandung 5% B. Kelapa + 30% R. Lapang
(R2) Ransum Komplit mengandung 5% B. Kelapa + 5% Lamtoro + 25% R. Lapang (R3) Ransum Komplit mengandung 5% B. Kelapa + 25% R. Lapang + 5% Daun Ubi
Jalar
(R4) Ransum Komplit mengandung 5% Bungkil Inti Sawit (BIS) + 5% Lamtoro + 25% R. Lapang
(R5) Ransum Komplit mengandung 5% BIS + 25% R. Lapang + 5% Daun Ubi Jalar.
Kecernaan serat kasar kelinci yang mendapat perlakuan R2 nyata lebih tinggi daripada kecernaan serat kasar kelinci yang mendapat perlakuan R1 dan R5 namun tidak berbeda dengan kecernaan serat kasar kelinci yang mendapat perlakuan R3 dan R4. Hal tersebut menunjukkan bahwa ransum komplit yang mengandung bungkil kelapa maupun BIS dengan kombinasi legum berupa lamtoro menghasilkan kecernaan serat kasar yang lebih tinggi dibandingkan ransum komplit mengandung bungkil kelapa dengan kombinasi hijauan hanya rumput lapang dan ransum komplit mengandung BIS dengan kombinasi daun ubi jalar. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sutardi (1980), kelompok leguminosa memiliki daya cerna yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis rerumputan karena kandungan NDF/ADF nya lebih rendah.
Kecernaan serat kasar kelinci yang mendapat perlakuan R1 nyata lebih rendah daripada kecernaan serat kasar kelinci yang mendapat perlakuan R3 dan R4 namun tidak berbeda dengan kecernaan serat kasar kelinci yang mendapat perlakuan R5. Rendahnya kecernaan serat kasar kelinci yang diberi perlakuan R1 disebabkan
Peubah Perlakuan
oleh sumbangan serat yang berasal dari rumput lapang sebagai satu-satunya hijauan dalam formula ransum tersebut. Hal ini diduga karena komponen serat (ADF) yang terdapat pada rumput lapang tinggi. Sesuai dengan pernyataan Cheeke (1987) faktor yang mempengaruhi kecernaan serat kasar salah satunya adalah perbedaan kadar ADF dalam ransum perlakuan. ADF yang tinggi dalam pakan dapat menyebabkan kelinci sulit untuk mencerna pakan sehingga kecernaannya rendah.
Kecernaan serat kasar dapat dilihat juga dari tinggi rendah konsumsi serat kasar kelinci. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa konsumsi serat kasar tinggi menghasilkan kecernaan serat kasar yang rendah dan sebaliknya. Hal ini didukung oleh pernyataan Khalil et al., (1986) bahwa kemampuan mikroba mencerna serat kasar tergantung pada jumlah serat kasar yang masuk. Semakin banyak jumlah serat kasar yang masuk, kemampuan mencerna semakin menurun dan sebaliknya. Kecernaan serat kasar kelinci pada penelitian sebesar 20,92 - 48,82 %. Hal ini terjadi karena kualitas serat kasar yang dimiliki tiap-tiap bahan pakan berbeda.