• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyelaman di lereng terumbu karang dilakukan pada empat sisi penyelaman dan satu sisi mewakili daerah laguna, dimana masing-masing sisi terdapat dua transek yang mewakili dua kedalaman yaitu dangkal diwakili pada kedalaman 3 meter dan dalam diwakili pada kedalaman 10 meter. Hasil pengamatan lapangan dikelompokkan berdasarkan 5 kategori utama life form terumbu karang yaitu karang hidup (hard coral yaitu Acropora dan nonacropora), fauna lain (soft coral,

other, sponge, gorgonians, dan zoanthids), alga (algae assemblage, halimeda,

macroalgae, turf algae), karang mati (dead coral with algae, dead coral), dan

abiotik (rubble, sand, dan silt). Berikut adalah peta stasiun penyelaman berdasarkan dua kedalaman (dangkal dan dalam) pada Gambar 9.

Gambar 9 Stasiun penyelaman Kedalaman dangkal

Persen penutupan substrat dasar pada kategori kedalaman dangkal yaitu dengan penutupan karang hidup paling tinggi di Timur Gugusan Pulau Pari dengan nilai 59.6%, sedangkan paling rendah di Selatan dengan nilai penutupan 19.2%. Terdapat abiotik dengan persen penutupan rata-rata pada semua sisi adalah sebesar 33.3%. Kategori persen penutupan yang mendominasi adalah karang hidup dengan nilai rata-rata 38.8%. Sisi Selatan pada kategori ini ditemukan penutupan karang mati dengan nilai tertinggi dari semua sisi dengan nilai sebesar 61.5% sedangkan untuk kategori abiotik persen penutupan tertinggi di sisi Timur sebesar 30.3%. Nilai penutupan fauna lain dan alga pada kategori dangkal tergolong rendah karena memiliki nilai penutupan rata-rata sebesar 6.4% dan 1.4%. Persentase tutupan kategori bentik di kedalaman dangkal disajikan pada Gambar 10 dan Lampiran 2.

19

Gambar 10 Persentase tutupan kategori bentik di kedalaman dangkal Perairan Dalam

Persen penutupan substrat dasar pada kategori perairan dalam yaitu dengan penutupan karang hidup paling tinggi di Utara Gugusan Pulau Pari dengan nilai 46.6%, sedangkan paling rendah pada laguna dengan nilai penutupan 21.4%. Persen penutupan abiotik tertinggi di sisi selatan sebersar 64.4% dan terndah di sisi laguna sebesar 10.8%. Selain itu juga terdapat alga dengan persen penutupan tertinggi di daerah laguna dengan nilai rata-rata penutupan sebesar 47.7%. Dapat diketahui bahwa dominasi alga di daerah laguna disebabkan oleh kondisi perairan di daerah relatif tenang. Pada kategori perairan dalam ini persen penutupan yang mendominasi adalah karang hidup dengan nilai rata-rata 35.3%. Terdapat juga fauna lain dengan persen penutupan kurang dari 2.8% untuk semua sisi. Tutupan karang mati paling tinggi terdapat pada sisi utara sebesar 31.2% dan terendah pada sisi selatan dengan nilai rata-rata sebesar 10.8%. Persentase tutupan kategori bentik di kedalaman dalam disajikan pada Gambar 11 dan Lampiran 3.

Gambar 11 Persentase tutupan kategori bentik di perairan dalam

Berdasarkan Nugraha et al. (2011) persen penutupan terumbu karang di perairan Pulau Pari, termasuk dalam kategori buruk hingga baik yang berada selang nilai persentase 70.82%-21.46%. Persentase tertinggi berada pada stasiun 4 (Tenggara) dengan persentase nilai sebesar 70.82%, sedangkan persen penutupan karang terendah terdapat pada stasiun 2 (Selatan) dengan persentase nilai sebesar 21.46 %. Pada penelitian ini dihasilkan persen penutupan terumbu karang termasuk pada kategori buruk hingga sedang dengan selang nilai persentase 19.2-59.6%. Hasil ini mengindikasikan bahwa kondisi ekosistem terumbu karang di Gugus Pulau Pari semakin memburuk dengan tutupan abiotik dan karang mati yang tinggi yang disebabkan beberapa aktivitas penduduk, pariwisata, dan penangkapan ikan yang kurang ramah lingkungan disekitar perairan Gugus Pulau Pari. Siregar et al.

20

(2013) pada pemetaan habitat dasar melaporkan bahwa persen penutupan substrat dasar pada kedalaman 3 m dan 10 m dari empat sisi penyelaman (Timur, Barat, Utara, dan Selatan) diperoleh bahwa penutupan HC (karang keras) pada kedalaman 3 m paling tinggi ditemukan pada bagian Timur gugusan Pulau Pari dengan nilai 60.6% dan paling rendah pada bagian Selatan dengan nilai 29.78%. Sama halnya yang dihasilkan pada penelitian ini menghasilkan persentase penutupan HC (karang keras) pada bagian Timur, akan tetapi terdapat perbedaan besaran persentase tutupan yang kecil, ini disebabkan karena perbedaan teknik pengambilan data karang yang menggunakan LIT (line intercept transect) dan lokasi pengambilan data.

Hasil Koreksi Atmosferik

Gambar 12 menunjukan perbedaan secara visual citra sebelum dan sesudah koreksi atmosferik. Citra sesudah koreksi atmosferik secara keseluruhan terlihat lebih jelas terutama wilayah daratan dan perairan dangkal. Penerapan koreksi atmosferik ini terbukti mampu meningkatkan interpretasi yang lebih kontras dibandingkan citra sebelum koreksi. Hasil koreksi atmosferik mampu mereduksi pengaruh atmosfer pada keseluruhan citra. Hasil koreksi atmosferik mampu meningkatkan akurasi pemetaan jika dibandingkan dengan citra tanpa koreksi, walaupun jika dilihat pada nilai reflektansi terdapat 2 kemungkinan anomali yaitu

underestimate dan overestimate yang disebabkan parameter aerosol yang kurang

sesuai dengan kondisi lapangan saat perekaman citra (Mahiny dan Turner 2007). Kajian lebih lanjut terhadap hasil koreksi atmosferik pada penelitian ini tidak dilakukan, sehingga citra yang digunakan untuk proses klasifikasi menggunakan metode OBIA dan piksel yaitu citra hasil koreksi atmosferik.

Gambar 12 Perbandingan visual citra sebelum (A) dan sesudah (B) koreksi atmosferik (Komposit 532)

A

21

Skema Klasifikasi Habitat Bentik

Karakteristik habitat bentik di wilayah gugus Pulau Pari diidentifikasi sebanyak 13 habitat yaitu karang, gorgonian, sponge, zoathin, makroalga, dead

coral alga, dead coral, pavement, pasir, rubble, dan lamun. Masing-masing habitat

memiliki nilai kehadiran yang berbeda-beda tergantung wilayah dan jumlah pengamatan di lapangan. Nilai kehadiran habitat berdasarkan lebih dari 4% penutupan sebanyak 7 habitat yaitu karang hidup, rubble, makroalga, dead coral

alga, pavement, pasir, dan lamun. Jumlah kehadiran yang lebih dari 4% dilakukan

analisis klaster untuk memperoleh kelas-kelas habitat bentik yang ditunjukkan pada dendrogram sebanyak 44 kelompok (Gambar 13). Analisis klaster menggunakan jarak Bray-curtis dengan ketidakmiripan sebesar 20%, hal ini menunjukkan bahwa setiap kelas habitat bentik yang dibangun memiliki kemiripan sebesar 80%. Dendrogram hasil analisis klaster disajikan pada Gambar 13 dan perhitungan secara statistik dari analisis klaster disajikan pada Lampiran 4.

Gambar 13 Dendrogram hasil analisis klaster (warna yang sama pada sumbu x menunjukkan kelas yang sama)

Green et al. (2000) menyatakan bahwa pengelompokan kurang dari 4% sebaiknya dihilangkan dan tidak digunakan untuk menetukan jumlah kelas habitat pada proses klasifikasi dan validasi. Pada penelitian ini dihasilkan 9 kelas habitat bentik dengan komposisi penyusun sebanyak 7 jenis penutupan dominan yang disajikan pada Gambar 14.

Gambar 14 Perlabelan setiap komposisi kelas habitat bentik berdasarkan dominasi persen penutupan

22

Perlabelan 9 kelas habitat bentik berdasarkan komposisi penyusun yang paling dominan pada setiap kelompok. Komposisi penyusun kelas ini dikelompokkan berdasarkan kelas centroid dari hasil analisis klaster. Kelas habitat diberi label berdasarkan komposisi penyusun paling dominan yaitu kelas karang hidup (KH), karang hidup + rubble (KHR), lamun jarang + pasir (LjP), lamun padat (Lp), pasir + rubble (PsR), pasir (Ps), pasir + lamun jarang (PsLj), pavement/ rock

(Pv), dan rubble (R). Hasil skema klasifikasi yang dikembangkan terdiri dari 3 level disajikan pada Gambar 15 dan foto identifikasi komponen habitat bentik disajikan pada Lampiran 5.

Perairan dangkal Daratan

Citra Worldview-2 (Gugus Pulau Pari)

Perairan dalam Perairan dalam Perairan dalam Daratan Daratan Reef slope Reef crest Outer

reef flat

Inner reef flat

Shallow

lagoon Deep lagoon

KH, R KHR KHRPV, LjPsR, PsR, Lp PsLjLp, LjPs, PsLj Ps PsLj, KH L E V E L 1 L E V E L 2 L E V E L 3

Gambar 15 Hasil skema klasifikasi 3 level

Pengembangan skema klasifikasi di wilayah lingkungan terumbu karang pada data penginderaan jauh satelit dapat dibangun secara terstruktur dengan menghubungkan dua aspek yaitu zona geomorfologi dan habitat bentik. Skema klasifikasi yang dikembangkan dijadikan batasan untuk mendefinisikan zona geomorfologi dan habitat bentik pada setiap kelas. Zona geomorfologi dapat ditentukan berdasarkan keberadaan bentangan wilayah yang menempati suatu ruang, bentuk, sebaran, kepadatan, dan kedalaman. Sedangkan, habitat bentik ditentukan berdasarkan persentase tutupan masing-masing komponen penyusun habitat (Andrefouet et al. 2003). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemetaan di wilayah lingkungan terumbu karang dengan kombinasi lebih dari satu informasi meliputi geomorfologi dan kelimpahan biotik (Green et al. 2000). Selanjutnya, pemetaan di wilayah terumbu karang dibagi menjadi 3 hingga 4 level yang terdiri dari reef, reef type, geomorphic, dan benthic community yang diterapkan dengan menggunakan metode OBIA (Phinn et al. 2011, Roelfsema et al. 2013).

Klasifikasi Berbasis Objek (OBIA)

Klasifikasi OBIA menghasilkan objek-objek pada proses segmentasi multiskala. Segmentasi multiskala menghasilkan objek dengan ukuran yang berbeda berdasarkan heterogenitas wilayah studi. Parameter skala sangat menentukan ukuran objek sehingga setiap level diterapkan dengan skala berbeda-beda. Wilayah yang heterogen pada satu citra akan menghasilkan objek yang lebih banyak dibandingkan wilayah yang homogen. Hasil segmentasi multiskala berkaitan dengan jumlah kelas pada setiap level dengan tingkat kedetilan yang

23

berbeda-beda. Level 1 berjumlah 3 kelas dan level 2 berjumlah 6 kelas dengan batasan wilayah hanya pada perairan dangkal saja, sehingga ukuran objek yang dibangun pada level 1 lebih besar dibandingkan level 2. Keseluruhan objek pada setiap level 1 dan 2 masing-masing menghasilkan 12.986 dan 28.425 objek. Gambaran hasil segmentasi multiskala disajikan pada Gambar 16.

Gambar 16 Hasil segmentasi multiskala Klasifikasi Level 1 (Reef level)

Klasifikasi pada level 1 menghasilkan 3 kelas yaitu daratan, perairan dangkal, dan perairan dalam. Hasil klasifikasi ini merupakan dasar atau batasan dalam proses klasifikasi level 2 yaitu zona geomorfologi. Kelas daratan di gugus Pulau Pari terdiri dari beberapa pulau yaitu Pulau Pari, Kongsi, Burung, Tengah, dan Tikus (Gambar 17).

24

Luas 3 kelas pada level 1 yaitu daratan 86.9 Ha, perairan dangkal 1159.4 Ha dan perairan dalam 1242.3 Ha. Perhitungan uji akurasi dihasilkan akurasi keseluruhan sebesar 97%. Akurasi PA dan UA setiap kelas dengan akurasi >95%. Hasil akurasi ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan kelas mampu dipetakan dengan sangat baik, tetapi masih terdapat kesalahan pada klasifikasi. Kesalahan terjadi pada kelas perairan dangkal menjadi daratan, hal ini disebabkan kondisi perairan yang terdapat terumbu karang yang muncul ke permukaan sehingga didefinisikan sebagai daratan. Kelas perairan dangkal menjadi batasan area kajian dan diproses menjadi segmen baru untuk klasifikasi pada level 2 (zona geomorfologi).

Klasifikasi Level 2 (Zona Geomorfologi)

Gugus Pulau Pari terdiri dari beberapa pulau dengan ekosistem terumbu karang yang terdapat laguna pada sisi Barat dan Tengah. Gugus ini berbentuk memanjang arah diagonal Barat Daya – Timur Laut (Asriningrum 2005). Hasil identifikasi zona geomorfologi secara visual di lapangan dan model kedalaman perairan diperoleh hasil klasifikasi sebanyak 6 kelas meliputi reef slope, reef crest,

inner reef flat, outer reef flat, shallow lagoon, dan deep lagoon. Berdasarkan model

estimasi kedalaman perairan maka diperoleh perbandingan antara kedalaman estimasi dari citra terhadap kedalaman sebenarnya dari hasil pemeruman sebesar R2 = 0.729. Hal ini mengindikasikan bahwa penerapan model yang digunakan dapat menggambarkan profil kedalaman secara keseluruhan di Gugus Pulau Pari sebesar 72.9%. Profil kedalaman ini sangat membantu mengidentifikasi batas setiap zona geomorfologi untuk proses klasifikasi. Pada sisi Barat Gugus Pulau Pari terdapat variasi yang lebih banyak dibandingkan di sisi Timur. Sisi Timur didominasi hamparan zona reef flat yang sangat luas. Sedangkan sisi Barat hingga di sekitar Pulau Tengah variasi zona sangat beragam, terdapat zona shallow lagoon dan deep lagoon.

Penelitian mengenai model kedalaman perairan dari citra resolusi tinggi telah banyak dilakukan. Madden (2011) memodifikasi prosedur model kedalaman perairan algoritma Stumpf dan Holderied (2003) meliputi: 1) masking citra; 2) konversi nilai digital menjadi top of atmosphere radiance (TOA); 3) koreksi hamburan rayleigh dan aerosol; 4) mengubah radiance menjadi water leaving

reflectance; 5) menghitung kedalaman relative; 6) menghitung kedalaman aktual.

Prosedur di atas dapat meningkatkan kemampuan deteksi kedalaman perairan dengan mencari regresi terbaik pada rasio saluran yang dipilih berdasarkan pemisahan tipe lokasi kajian dari citra Worldview-2. Siregar dan Selamat (2010) menerapkan algoritma Jupp pada pemetaan batimetri pada citra Quicbird di Gobah Karang lebar, tidak konsisten pada gobah Pulau Panggang dan memberikan nilai kedalaman overestimate. Gambaran profil kedalaman disajikan pada Gambar 18.

25

Transek 1 Transek 2 Transek 3

Inner Reef Flat Shallow Lagoon

Outer Reef Flat

Reef Crest

Reef Slope Deep Water

Keterangan :

Gambar 18 Profil kedalaman perairan di Gugus Pulau Pari

Klasifikasi kontekstual pada level 2 menghasilkan sebanyak 6 kelas zona geomorfologi reef slope, reef crest, inner reef flat, outer reef flat, shallow lagoon,

dan deep lagoon (Gambar 19). Hasil klasifikasi level 2 disajikan pada Gambar 19

dan foto identifikasi zona geomorfologi disajikan pada Lampiran 6.

Gambar 19 Hasil klasifikasi level 2

Hasil uji akurasi pada Tabel 4 menunjukkan akurasi keseluruhan/ OA sebesar 87%, sedangkan PA dan UA dihasilkan akurasi yang bervariasi antara 73%-100%. PA terendah pada kelas reef crest sebesar 73% menunjukkan bahwa pada kelas ini menjadi batas antara kelas outer reef flat dan reef slope. Sedangkan, UA tertinggi pada kelas zona deep lagoon sebesar 100% menunjukkan bahwa pada kelas ini sangat homogen sehingga dapat dikelaskan dengan sangat baik. Hasil uji akurasi pada kelas lainnya menunjukkan bahwa kelas tersebut mampu dipetakan dengan baik dengan akurasi >80%.

26

Tabel 4 Uji akurasi level 2

Hasil pemetaan zona geomorfologi di gugus Pulau Pari cukup bervariasi dan telah dipetakan dengan baik. Dari hasil klasifikasi zona geomorfologi diperoleh luas area masing-masing adalah : zona inner reef flat, 421.6 Ha (36%); zona outer reef flat, 232.4 Ha (20%); zona reef slope, 101.3 Ha (9%); zona reef crest, 58.6 Ha (5%); zona shallow lagoon, 208.4 Ha (18%); dan zona deep lagoon, 137.1 Ha (12%). Diketahui bahwa zona inner reef flat mendominasi di perairan dangkal gugus Pulau Pari dengan luasan terbesar, sedangkan luasan terendah pada zona reef crest. Masing-masing kelas zona geomorfologi memiliki karakteristik tersendiri yang dipengaruhi faktor fisik perairan tersebut seperti gelombang dan arus sehingga membentuk zona tertentu.

Beberapa penelitian telah menghasilkan akurasi pemetaan dengan jumlah kelas yang berbeda-beda tergantung pada komplekasitas wilayah studi. Pemetaan lingkungan terumbu karang berdasarkan zona geomorfologi menjadi salah satu aplikasi penginderaan jauh satelit yang paling sukses dengan akurasi yang tinggi, mulai dari citra Landsat hingga saat ini (Andrefouet et al. 2001). Akurasi pemetaan secara linear menurun dengan peningkatan kompleksitas (jumlah kelas klasifikasi), sebanyak 4-5 kelas dengan rata-rata akurasi pemetaan sebesar 77%, 7-8 kelas dengan rata-rata akurasi sebesar 71%, 9-11 kelas dengan rata-rata akurasi sebesar 65%, dan lebih dari 13 kelas dengan rata-rata akurasi pemetaan sebesar 53% (Andrefouet et al. 2003).

Terdapat asosiasi antara zona geomorfologi dan struktur komunitas habitat tertentu pada lingkungan terumbu karang (Andrefouet dan Guzman 2005). Asosiasi tersebut dinyatakan dengan menetapkan level 2 (kelas zona geomorfologi tertentu) menjadi batasan dalam proses segmentasi dan klasifikasi pada level 3 (kelas habitat bentik) menggunakan metode OBIA. Penelitian sebelumnya dengan metode OBIA untuk pemetaan 10 kelas zona geomorfologi menggunakan citra Landsat di Selat Torres menghasilkan akurasi keseluruhan sebesar 75% (Leon dan Woodroffe 2011). Metode klasifikasi berbasis piksel yaitu menentukan nilai batas indeks dasar dari hasil koreksi kolom air untuk masing-masing habitat (pasir, lamun, dan karang), sehingga gambaran spasial zona geomorfologi digunakan sebagai mask

dalam pemotongan nilai-nilai digital citra indeks dasar (Selamat et al. 2014). Klasifikasi Level 3 (Habitat Bentik)

Hasil optimasi pada level 3 menunjukkan akurasi tertinggi sebesar 75% pada percobaan skala 50. Terlihat pada gambar 16 dari percobaan parameter skala 5 sampai 50 cenderung meningkat dan optimum pada skala 50, selanjutnya akurasi menurun pada percobaan nilai skala 75 dan 95 (Gambar 20).

Lapang Citra Reef Slope 43 2 4 49 88% Reef Crest 2 29 4 35 83% Shallow Lagoon 14 1 15 93% Deep Lagoon 16 16 100%

Outer Reef Flat 9 2 1 39 2 53 74%

Inner Reef Flat 1 2 59 62 95%

Total 45 40 17 18 49 61 230

PA 96% 73% 82% 89% 80% 97% OA : 87%

Total UA

27

Gambar 20 Optimasi parameter skala (perubahan skala pada sumbu x dan hasil akurasi keseluruhan/ OA pada sumbu y)

Optimasi parameter skala pada metode OBIA menunjukkan bahwa pengujian terhadap skala sangat mempengaruhi hasil akurasi. Penelitian ini hanya dilakukan percobaan nilai skala pada algoritma MRS dan diklasifikasi menggunakan algoritma SVM. Studi yang lebih mendalam perlu dilakukan pengujian parameter dari metode SVM terhadap parameter segmentasi untuk memperoleh akurasi optimum. Blaschke (2010) menyatakan bahwa skala observasi optimum untuk objek citra tertentu tergantung 2 hal yaitu: 1) heterogenitas spasial bentang lahan itu sendiri; 2) frekuensi dan luasan spasial maupun temporal dari fenomena yang dikaji serta proses penyebabnya.

Segmentasi optimum pada level 3 menghasilkan 87267 segmen. Klasifikasi terhadap segmen dihasilkan 9 kelas habitat bentik yaitu kelas karang hidup (KH), karang hidup + rubble (KHR), lamun jarang + pasir (LjP), lamun padat (Lp), pasir

+ rubble (PsR), pasir (Ps), pasir + lamun jarang (PsLj), pavement/ rock (Pv), dan

rubble (R) (Gambar 21).

28

Dari Gambar 21 diperoleh luas area dari 9 kelas habitat bentik yaitu: kelas karang hidup, 148.4 Ha (13%); karang hidup + rubble, 52.5(5%); lamun jarang + pasir, 132.2 Ha (11%); lamun padat, 57.4 Ha (5%); pasir + rubble, 145 Ha (13%); pasir, 389 Ha (34%); pasir + lamun jarang, 96.3 Ha (8%); pavement/ rock, 60.5 Ha (5%); dan rubble, 78.1 Ha (7%). Peta klasifikasi habitat bentik pada gambar 17 terlihat bahwa habitat bentik terdistribusi di perairan dangkal gugus Pulau Pari. Distribusi kelas karang hidup (KH) dan pavement (Pv) mendominasi di zona geomorfologi kelas reef slope. Kelas rubble (R) mendominasi pada zona geomorfologi kelas reef crest. Sedangkan habitat bentik kelas pasir, lamun, dan campuran tersebar di zona geomorfologi kelas reef flat dan sekitar lagoon.

Tabel 5 menunjukkan hasil uji akurasi dengan matrik kesalahan diperoleh akurasi keseluruhan sebesar 75%. Untuk PA dan UA dihasilkan akurasi antara 44%-100% dan dapat dilihat bahwa beberapa kelas habitat bentik dapat dipetakan dengan baik. Kelas habitat bentik yang belum dapat dipetakan secara baik diperoleh akurasi yang rendah masing-masing yaitu kelas KHR (37%), LjPs (47%), dan R (48%). Faktor yang mempengaruhi rendahnya akurasi disebabkan kompleksitas habitat yang sangat tinggi di wilayah kajian. Faktor lainnya adalah disebabkan kesepadanan antar akurasi GPS dengan resolusi spasial citra.

Tabel 5 Uji akurasi level 3

Terdapat asosiasi yang erat antara zona geomorfologi dengan keberadaan habitat bentik tertentu, sehingga penelitian ini menerapkan klasifikasi multiskala

(reef level, geomorphic zone, dan habitat benthic). Phinn et al. (2011) melakukan

penelitian geomorfologi dan ekologi wilayah terumbu karang dalam 3 level yaitu

reef level, geomorphic zones, benthic community zones. Selanjutnya Roelfsema et

al. (2013) mengklasifikasi berdasarkan hubungan antar kelas secara hirarki menjadi 4 level yaitu reef, reef type, geomorphic, dan benthic community. Penggunaan metode OBIA ini sangat memungkinkan untuk diterapkan berdasarkan prinsip-prinsip ekologi dan zona geomorfologi yang dikombinasikan dengan pengamatan lapangan. Rohmann et al. (2005) melaporkan bahwa ekosistem terumbu karang tropis disusun oleh habitat-habitat dan zona-zona secara struktural. Habitat bentik yang ditemukan pada ekosistem terumbu karang terdiri dari sedimen-sedimen terhambur (pasir dan lumpur), vegetasi perairan dangkal (lamun dan alga makro), karang hermatipic dan asosiasi koloni habitat dasar keras (spur dan groove, gosong, kolonisasi gorgonian pada dasar yang keras dan rock) serta substrat keras yang terpencar di dasar (rubble). Sedangkan zona secara geomorfologi meliputi rataan terumbu (reef flat), puncak terumbu (reef crest), terumbu bagian depan (front reef) dan laguna (lagoon).

Lapang KH KHR LjPs Lp Ps PsLj PsR Pv R Total Citra 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KH 1 39 1 40 98% KHR 2 4 7 2 2 3 18 39% LjPs 3 1 7 3 1 3 15 47% Lp 4 2 24 2 28 86% Ps 5 1 50 4 1 56 89% PsLj 6 7 7 100% PsR 7 1 5 10 1 17 59% Pv 8 4 1 1 16 2 24 67% R 9 2 1 2 4 4 12 25 48% 45 15 11 34 52 16 15 19 23 230 87% 47% 64% 71% 96% 44% 67% 84% 52% 75% No Total PA UA

29

Pemetaan habitat bentik di gugus Pulau Pari telah banyak dilakukan dengan metode klasifikasi dan hasil akurasi yang berbeda-beda. Klasifikasi yang umum digunakan selama ini adalah metode klasifikasi berbasis piksel, sedangkan metode klasifikasi berbasis objek belum pernah dilakukan pada wilayah ini. Siregar et al.

(2013) memetaan habitat dasar dan estimasi ikan terumbu dengan citra Worldview-2 menggunakan metode klasifikasi berbasis piksel (MLC) dari 6 kelas habitat bentik menghasilkan akurasi keseluruhan sebesar 78%. Helmi et al. (2012) menganalisis respon dan nilai spektral terumbu karang pada citra ALOS-AVNIR di gugus Pulau Pari dengan transformasi HSI dan Lyzenga menggunakan metode klasifikasi

unsupervised dengan akurasi keseluruhan masing-masing sebesar 88.1% dan

77.3%. Selamat et al. (2014) melakukan pendekatan zona geomorfologi untuk meningkatkan akurasi tematik peta substrat dihasilkan dari metode koreksi kolom air di gobah Karang Lebar menunjukkan bahwa kombinasi ini cukup akurat untuk dijadikan dasar pada pembuatan peta substrat dasar di perairan gobah. Hasil akurasi peta zona geomorfologi dan substrat dasar di Gobah Karang Lebar masing-masing sebesar 82.1% dan 68.8%. Menurut Green et al. (2000) menyatakan bahwa akurasi pemetaan habitat bentik yang dapat digunakan adalah dengan akurasi keseluruhan sebesar >60%. Perbedaan akurasi pemetaan dari beberapa penelitian di gugus Pulau Pari disebabkan perbedaan metode klasifikasi, jumlah titik pengamatan lapangan, jumlah kelas habitat bentik dan citra yang digunakan. Hasil akurasi keseluruhan pada penelitian ini sebesar 75% dari 9 kelas habitat bentik dan peta hasil klasifikasi dapat digunakan.

Metode klasifikasi OBIA dapat menjadi pilihan saat ini untuk pemetaan zona geomorfologi dan habitat bentik. Keunggulan dari metode OBIA yaitu dapat menghubungkan antara aspek spektral dan spasial citra secara bersamaan sehingga menjadi kelas-kelas tertentu. Kelas-kelas yang diklasifikasi dengan menghubungan 2 aspek diatas diterapkan dengan hubungan antar objek. Phinn et al. (2011) melakukan pemetaan komunitas bentik menghasilkan akurasi keseluruhan yaitu 78% di wilayah Heron, 52% di wilayah Ngderack, dan 65% di wilayah Navakavu. Sedangkan, untuk pemetaan zona geomorfologi dihasilkan akurasi pemetaan >80%. Roelfsema et al. (2013) melaporkan hasil akurasi menggunakan metode OBIA pada pemetaan zona geomorfologi diperoleh akurasi keseluruhan antara 76-82% dan pemetaan habitat bentik diperoleh akurasi keseluruhan antara 52-75%. Zhang et al.

(2013) melakukan pemetaan habitat bentik dengan metode OBIA algoritma random

forest classifier (RF) pada citra AVIRIS (airborne visible/ infrared imaging

spectrometer) menghasilkan akurasi keseluruhan tertinggi yaitu 86.3% dari

keseluruhan percobaan. Wahiddin et al. (2015) melakukan pemetaan habitat bentik terumbu karang dari citra Landsat 8 OLI merekomendasikan metode OBIA menggunakan algoritma klasifikasi support vector machine dengan 7 kelas habitat menghasilkan akurasi keseluruhan sebesar 73%. Selaras dengan hasil penelitian ini yaitu diperoleh akurasi keseluruhan pada 6 kelas zona geomorfologi dan 9 kelas habitat bentik masing-masing sebesar 87% dan 75%.

Klasifikasi Berbasis Piksel

Klasifikasi citra berbasis piksel dihasilkan dari citra koreksi atmosferik (FLAASH). Penerapan metode klasifikasi berbasis piksel yang dihasilkan pada penelitian ini belum mampu meminimalkan kesalahan klasifikasi. Kesalahan

30

klasifikasi yang dihasilkan akan mempengaruhi luasan pada setiap kelas sehingga

Dokumen terkait