• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kemiskinan merupakan suatu permasalahan yang kompleks. Kemiskinan bukan hanya masalah yang terjadi di negara berkembang seperti Indonesia, tetapi kemiskinan merupakan masalah dunia. Kemiskinan hampir dihadapi oleh seluruh negara baik negara maju maupun negara berkembang. Berdasarkan laporan tahunan dari Bank Dunia, Indonesia berhasil menurunkan tingkat kemiskinan hingga setengahnya dari 24% pada tahun 1999 menjadi 12% pada tahun 2012. Walaupun demikian, Pemerintah Indonesia harus berhati-hati dalam melihat angka kemiskinan tersebut dan tidak terlebih dahulu merasa puas dan bangga, karena masih terdapat sebanyak 68 juta penduduk Indonesia yang hidup sedikit di atas garis kemiskinan, sehingga dengan sedikit guncangan akan membuat mereka kembali jatuh miskin. Selama periode penelitian tahun 2010-2013, tingkat kemiskinan Indonesia terus mengalami penurunan namun dengan laju yang semakin melambat, seperti yang dapat dilihat pada Gambar 8. Oleh karena itu, Pemerintah harus berusaha keras agar laju penurunan kemiskinan dapat dipercepat sehingga mampu mencapai Millenium Development Goals.

20 13.33 12.36 11.66 11.47 10.5 11 11.5 12 12.5 13 13.5 2010 2011 2012 2013

Persentase Penduduk Miskin

9.87 9.09 8.6 8.52 16.56 15.59 14.7 14.42 0 5 10 15 20 2010 2011 2012 2013

Persentase Penduduk Miskin di Perkotaan dan Pedesaan

Kota Desa Sumber: BPS (diolah)

Gambar 8 Persentase penduduk miskin di Indonesia, 2010-2013

Seperti di banyak negara berkembang, kemiskinan di Indonesia adalah fenomena pedesaan. Tingkat kemiskinan di desa selalu lebih tinggi dibandingkan di kota, meskipun garis kemiskinan di pedesaan selalu lebih rendah. Hal tersebut dikarenakan kegiatan ekonomi di pedesaan lebih didominasi oleh sektor pertanian, sehingga kemiskinan juga merupakan fenomena pertanian (TNP2K 2010). Pada Gambar 9 dapat dilihat bahwa laju penurunan kemiskinan di desa terjadi lebih cepat dibandingkan di kota. Dalam kurun waktu 2010-2013, persentase penduduk miskin di pedesaan berhasil diturunkan sebesar 2.14%, sedangkan di perkotaan penurunan tingkat kemiskinan hanya sebesar 1.35%. Jika kecenderungan ini terus terjadi, implikasinya adalah di masa mendatang problem kemiskinan perkotaan akan semakin dominan. Selain itu, penduduk miskin kota umumnya hidup di kantong-kantong kemiskinan kota, berdampingan dengan simbol-simbol kemajuan ekonomi seperti gedung bertingkat atau pusat industri (TNP2K 2010). Penduduk miskin kota juga biasanya tinggal di daerah-daerah kumuh (slum area) yang berada di pinggiran-pinggiran kota, apabila penanggulangan kemiskinan di perkotaan berjalan lambat, dikhawatirkan daerah-daerah kumuh akan semakin meluas dan memperparah keadaan.

Sumber: BPS (diolah)

21 Kondisi Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia

Salah satu indikator utama dalam mengukur keberhasilan pembangunan ekonomi suatu negara ialah laju pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi sasaran utama pembangunan di Indonesia. Perkembangan perekonomian Indonesia dalam kurun waktu sekitar lima puluh tahun terakhir sangat mengesankan. Selama kurun waktu dari tahun 1960 hingga 2010, pendapatan rata-rata Indonesia meningkat lebih dari lima kali lipat sehingga berhasil naik kelas dari negara berpendapatan rendah menjadi negara berpendapatan menengah (Priyarsono 2014). Walaupun tren pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2010 hingga tahun 2013 cenderung melambat, namun ekonomi Indonesia terus tumbuh kuat. Hingga tahun 2012 pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di atas 6%, tetapi pada tahun 2013 hanya mampu mencapai angka 5.73% saja, dapat dilihat pada Gambar 10. Selain itu, rata-rata pertumbuhan ekonomi tahun 2010-2013 merupakan rata-rata pertumbuhan tertinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Sumber: BPS (diolah)

Gambar 10 Laju pertumbuhan PDB Indonesia, 2010-2013

Perekonomian bisa dibagi menjadi dua kelompok, yaitu sektor tradable dan sektor non-tradable. Sektor tradable adalah sektor yang dapat menghasilkan devisa (baik dari jasa maupun barang) dan dapat meningkatkan standar hidup (living standard) masyarakat. Sektor ini terdiri dari sektor pertanian, pertambangan dan penggalian serta industri pengolahan (Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN- SETJEN DPR RI 2014). Sektor tradable pada umumnya menghadapi persaingan langsung di pasar dalam negeri dengan barang-barang impor maupun di pasar luar negeri dengan barang-barang dari seluruh dunia. Sedangkan sektor non-tradable yang terdiri dari sektor listrik, gas dan air bersih, bangunan, perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan, serta jasa-jasa pada umumnya tidak langsung menghadapi persaingan dengan luar negeri. Barang-barang yang tidak diperdagangkan (non-traded) tersebut mampu diproduksi sendiri oleh suatu negara (Krugman dan Obsfeld 2002).

6.22 6.49 6.26 5.73 5.2 5.4 5.6 5.8 6 6.2 6.4 6.6 2010 2011 2012 2013

22

Tabel 3 Laju pertumbuhan PDB atas dasar harga konstan 2000 menurut lapangan usaha 2010-2013 (%)

N No

Lapangan Usaha 2010 2011 2012 2013 1 Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan

Perikanan

3.01 3.37 4.20 3.44 2 Pertambangan dan Penggalian 3.86 1.60 1.58 1.41

3 Industri Pengolahan 4.74 6.14 5.74 5.56

4 Listrik, Gas dan Air Bersih 5.33 4.71 6.32 5.78

5 Bangunan 6.95 6.07 7.39 6.57

6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 8.69 9.24 8.16 5.89 7 Pengangkutan dan Komunikasi 13.41 10.70 9.98 9.80 8 Keuangan, Persewaan dan Jasa

Perusahaan

5.67 6.84 7.14 7.57

9 Jasa-Jasa 6.04 6.80 5.22 5.47

Sumber: BPS

Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi di Indonesia lebih ditopang oleh sektor non-tradable,

terutama sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran serta sektor Pengangkutan dan Komunikasi yang mencapai angka hampir 10%. Sedangkan sektor tradable yang terdiri dari sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan, Pertambangan dan Penggalian serta Industri Pengolahan terus mengalami laju pertumbuhan yang melambat, hanya berada pada kisaran angka 5%. Padahal sektor tradable

merupakan sektor yang lebih padat karya dibandingkan dengan sektor non-tradable. Data BPS mengenai penyerapan tenaga kerja pada tahun 2013 menunjukkan bahwa tenaga kerja lebih banyak diserap oleh sektor tradable

dibandingkan dengan sektor non-tradable, dapat dilihat pada Tabel 4 berikut ini. Tabel 4 Persentase tenaga kerja menurut pekerjaan utama tahun 2013

N

No Lapangan Pekerjaan Utama Tenaga Kerja (%)

1 Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan 34.36

2 Pertambangan dan Penggalian 1.28

3 Industri Pengolahan 13.43

4 Listrik, Gas dan Air Bersih 0.23

5 Bangunan 5.66

6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 21.42

7 Pengangkutan dan Komunikasi 4.55

8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 2.63

9 Jasa-Jasa Lainnya 16.44

23 Kondisi Ketimpangan Pendapatan di Indonesia

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi namun tidak diiringi dengan pemerataan distribusi pendapatan, menciptakan konsekuensi semakin parahnya kondisi ketimpangan pendapatan di Indonesia. Tingkat ketimpangan yang ditunjukkan dengan indeks Gini mencapai angka 0.413 pada tahun 2013, lihat Gambar 11. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kondisi ketimpangan di Indonesia telah memasuki ambang batas berbahaya. Selain itu, laju perubahan ketimpangan yang memburuk tersebut terjadi dalam kurun waktu yang sangat pendek. Kondisi ketimpangan di Indonesia yang semakin memburuk juga ditunjukkan dengan kue nasional yang dinikmati oleh kelompok 20% penduduk berpendapatan tinggi hampir setengahnya dari total pendapatan. Berdasarkan kondisi tersebut, trickle down effect yang diharapkan mampu tercipta saat pertumbuhan ekonomi yang tinggi nampaknya tidak berhasil diciptakan. Kondisi yang terjadi justru menunjukkan adanya trickle up effect sehingga semakin memperparah kondisi ketimpangan di Indonesia.

Sumber: BPS (diolah)

Gambar 11 Indeks Gini di Indonesia, 2010-2013

Keterkaitan Pertumbuhan Ekonomi, Ketimpangan Pendapatan dan Tingkat Kemiskinan di Indonesia

Pemilihan model terbaik dalam metode analisis data panel dilakukan dengan melakukan pengujian statistik melalui Chow test dan Hausman test. Chow test

digunakan untuk memilih model terbaik antara model Pooled Least Square (PLS) dengan Fixed Effect Model (FEM). Berdasarkan hasil pengujian Chow test, nilai probabilitasnya adalah 0.0000, artinya model terbaik yang dipilih antara PLS dan FEM adalah Fixed Effect Model karena nilai probabilitas dari Chi-Square kurang dari taraf nyata 5%. Pengujian selanjutnya adalah untuk memilih model terbaik antara Fixed Effect Model dengan Random Effect Model dengan menggunakan

Hausman Test. Berdasarkan hasil pengujian Hauman test, nilai probabilitas Chi-Square sebesar 0.0444, artinya model terbaik yang dipilih adalah Fixed Effect

0.38 0.41 0.41 0.413 0.36 0.37 0.38 0.39 0.4 0.41 0.42 2010 2011 2012 2013 Indeks Gini

24

Model karena nilai probabilitasnya kurang dari taraf nyata 5%. Untuk hasil pengujian Chow test dan Hausman test dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Uji model terbaik

Uji Model Terbaik Probabilitas Chi-Sq

Probabilitas Chow Test 0.0000*

Probabilitas Hausman Test 0.0444*

Keterangan: *signifikan pada taraf nyata 5%

Setelah mendapatkan model terbaik, langkah selanjutnya adalah melakukan uji asumsi klasik yaitu multikolinearitas, autokorelasi, dan heteroskedastisitas. Uji asumsi klasik yang pertama adalah multikolinearitas. Berdasarkan hasil pengujian terhadap multikolinearitas, dapat dilihat pada lampiran 1 bahwa tidak terjadi multikolinearitas karena semua nilai rij2 lebih kecil dari nilai R2. Uji asumsi selanjutnya adalah autokorelasi. Pada taraf nyata 5% dengan jumlah observasi (n) sebanyak 132 dan jumlah variabel bebas (k) = 3, maka selang DW statistik untuk dapat terima H0 adalah 1.7624 < DW < 2.2376. Dari pengujian yang dilakukan, diperoleh hasil DW sebesar 1.727967. Berdasarkan Tabel 2, Hal tersebut menunjukkan hasil yang tidak tentu karena nilai DW berada pada selang dL < DW < dU. Tetapi karena dalam mengestimasi model digunakan pembobotan dengan metode GLS (Generalised Least Square), yaitu dengan mentransformasi model sedemikian rupa sehingga memenuhi asumsi Gauss-Markov untuk mendapatkan komponen sisaan yang homogen (homoskedastisitas) dan tidak menunjukkan autokorelasi (Juanda 2009), maka masalah autokorelasi dalam model ini dapat diabaikan dan dianggap telah teratasi. Uji asumsi yang ketiga adalah heteroskedastisitas. Estimasi model dilakukan dengan memberi perlakuan cross section weight dan coefficient covariance white: cross section method, sehingga pelanggaran asumsi heteroskedastisitas dapat diabaikan.

Tabel 6 Hasil estimasi model dengan metode fixed effect model

Variabel terikat (Y) = Persentase penduduk miskin (POV)

No Variabel bebas Koefisien S.E. t-Statistik Probabilitas 1 Pertumbuhan ekonomi 0.170833 0.004522 37.78185 0.0000* 2 Ketimpangan pendapatan -4.773395 0.977533 -4.883105 0.0000* 3 Tingkat pengangguran 0.375041 0.038660 9.700898 0.0000* 4 C 5.079229 1.068075 4.755499 0.0000*

Uji Kesesuaian Model R2

Prob F-Stat

0.996775 0.000000* Keterangan: *signifikan pada taraf nyata 5%

25

17%

34% 49%

Distribusi Pendapatan Tahun 2013 lower middle upper

Pada tabel 6 dapat dilihat hasil estimasi model dengan menggunakan Fixed Effect Model. Dalam mengevaluasi model berdasarkan kriteria statistik dilakukan dengan melihat nilai koefisien determinasi (R2) dan probabilitas dari F-statistik. Berdasarkan hasil estimasi model yang didapat, nilai R2 model tersebut sebesar 0.9968 yang berarti 99.68% keragaman yang terdapat pada variabel terikat yaitu tingkat kemiskinan dapat dijelaskan oleh variabel bebasnya. Sedangkan sisanya sebesar 0.32% dijelaskan oleh variabel lain di luar model. Selain itu, evaluasi model diperkuat dengan nilai probabilitas F-statistik sebesar 0.0000 dan signifikan pada taraf nyata 5%, yang artinya variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel terikat. Untuk membuktikan secara statistik variabel bebas yang berpengaruh nyata terhadap tingkat kemiskinan dilakukan melalui Uji-t. Uji tersebut dilakukan dengan melihat probabilitas dari masing-masing variabel bebasnya. Nilai probabilitas yang kurang dari taraf nyata 5% menandakan bahwa variabel tersebut signifikan pada taraf nyatanya masing-masing dan memengaruhi variabel terikat. Berdasarkan hasil Uji-t pada model, semua variabel bebas signifikan pada taraf nyata 5%.

Berdasarkan hasil estimasi pada Tabel 6 diperoleh hasil bahwa pertumbuhan ekonomi memiliki pengaruh positif dan signifikan pada taraf nyata 5% terhadap persentase penduduk miskin. Pada model ini, kenaikan pertumbuhan ekonomi sebesar 1% akan meningkatkan persentase penduduk miskin sebesar 0.17%. Tanda positif pada koefisien pertumbuhan ekonomi tidak sesuai dengan hipotesis yang diajukan. Hal ini diduga karena pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati oleh penduduk golongan kaya dan hanya sedikit dinikmati oleh penduduk golongan miskin sehingga pertumbuhan ekonomi tidak efektif mengurangi persentase kemiskinan (Jhingan 2013). Dapat dilihat pada Gambar 12 bahwa pada tahun 2013, 20% penduduk golongan berpendapatan tinggi (upper) menikmati pendapatan hampir setengahnya dari kue pendapatan. Sedangkan sisanya dinikmati oleh 40% penduduk berpendapatan menengah (middle) dan 40% penduduk berpendapatan rendah (lower).

Sumber: BPS (diolah)

Gambar 12 Distribusi pendapatan berdasarkan kelompok masyarakat

(20% penduduk berpendapatan tertinggi, 40% penduduk berpendapatan menengah, dan 40% penduduk berpendapatan terendah)

26

Selain itu, pertumbuhan ekonomi di suatu daerah biasanya akan diikuti dengan peningkatan arus urbanisasi (Purnamasari 2013). Pertumbuhan ekonomi yang tinggi di suatu daerah menjadi daya tarik tersendiri bagi penduduk miskin terutama yang masih menganggur untuk berurbanisasi ke daerah tersebut dengan harapan memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang lebih baik. Namun kegiatan ekonomi daerah dengan pertumbuhan ekonomi tinggi tersebut tidak otomatis mampu menyerap penambahan jumlah angkatan kerja dari luar daerah. Jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia belum tentu mampu menyerap semua angkatan kerja baru dari luar daerah dan belum tentu lapangan pekerjaan yang tersedia sesuai dengan keahlian atau keterampilan mereka, sehingga yang terjadi di daerah dengan pertumbuhan ekonomi tinggi tersebut justru meningkatnya jumlah pengangguran.

Pada bahasan kondisi pertumbuhan ekonomi di Indonesia, diketahui bahwa pertumbuhan sektor tradable dalam beberapa tahun terakhir selalu lebih lambat dibanding sektor non-tradable. Padahal sektor tradable merupakan sektor yang padat karya yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Oleh karena itu penyerapan tenaga kerja menjadi lebih lambat karena lapangan pekerjaan yang tersedia kurang mencukupi.

Gambar 13 Hubungan pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan

Berdasarkan estimasi model pada Tabel 6 diperoleh hasil bahwa variabel tingkat pengangguran terbuka memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan tingkat pengangguran terbuka sebesar 1% akan meningkatkan tingkat kemiskinan sebesar 0.37%. Pada Gambar 13 dapat dilihat bahwa pertumbuhan ekonomi cenderung meningkatkan kemiskinan apabila tidak diiringi dengan penyediaan lapangan pekerjaan.

Hasil estimasi pada Tabel 6 menunjukkan bahwa ketimpangan pendapatan berpengaruh signifikan pada taraf nyata 5% terhadap tingkat kemiskinan. Ketimpangan pendapatan memiliki hubungan yang negatif dengan tingkat kemiskinan, artinya setiap peningkatan ketimpangan pendapatan sebesar 1% maka akan menurunkan tingkat kemiskinan sebesar 4.77%. Hal ini diduga karena pembangunan yang tidak inklusif, yaitu manfaat dan kesempatan yang tersedia dari pertumbuhan tidak terdistribusi secara merata pada seluruh penduduk. Rumah tangga yang paling miskin hanya mencatat peningkatan pendapatan riil yang jauh

Urbanisasi Keterbatasan Kesempatan Kerja Pertumbuhan Ekonomi Sektor Tradable dan Non-Tradable Kemiskinan Pengangguran

27 lebih sedikit dibandingkan dengan peningkatan pendapatan riil yang terjadi pada rumah tangga yang lebih beruntung (Bank Dunia 2014).

Sumber: Bank Dunia 2014

Gambar 14 Kurva insidensi pertumbuhan, 2003-2010

Pada Gambar 14 dapat dilihat bahwa antara tahun 2003 dan 2010, konsumsi per kapita untuk 40% rumah tangga yang paling miskin hanya tumbuh 1.3% per tahun, dan 40% tingkatan di atasnya tumbuh sebesar 3.5% per tahun, sedangkan pada 20% bagian puncak tumbuh 5.9% (Bank Dunia 2014). Selain itu, kebijakan fiskal di Indonesia mungkin memperburuk ketimpangan. Porsi yang cukup signifikan dari peningkatan penerimaan pemerintah disalurkan kepada belanja subsidi energi seperti subsidi BBM yang secara tidak proporsional menguntungkan rumah tangga kaya. Sekitar 84% dari seluruh manfaat konsumsi subsidi BBM dinikmati oleh rumah tangga tingkat menengah ke atas, dan hanya 16% dinikmati oleh menengah ke bawah (Bank Dunia 2014). Bantuan sosial yang seringkali tidak tepat sasaran seperti raskin, BLT, dan lainnya membuat kebijakan menjadi kurang efektif dalam mengentaskan kemiskinan dan bahkan memperparah kondisi ketimpangan.

Berdasarkan penelitian Purnamasari (2013), meningkatnya ketimpangan pendapatan merupakan hasil dari pertumbuhan ekonomi yang tidak dinikmati secara merata oleh kelompok masyarakat. Apabila bagian terbesar dari pertumbuhan ekonomi dinikmati oleh penduduk yang tidak miskin dan sisanya dinikmati oleh penduduk miskin, maka yang terjadi adalah ketimpangan pendapatan. Oleh karena itu dalam menanggulangi kemiskinan tidak hanya dibutuhkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi perlu diiringi dengan pemerataan distribusi pendapatan agar hasilnya lebih maksimal, seperti yang dapat dilihat pada Gambar 15.

28

Sumber: Priyarsono dan Hajiji 2010

Gambar 15 Kondisi ideal penurunan kemiskinan

Namun kondisi yang terjadi di Indonesia adalah pertumbuhan ekonomi yang tinggi namun diiringi dengan ketimpangan pendapatan yang tinggi juga, sehingga penurunan jumlah penduduk miskin kurang maksimal dari yang seharusnya bisa dicapai dengan kondisi ideal, dapat dilihat pada Gambar 16.

Sumber: Priyarsono dan Hajiji 2010

Gambar 16 Kondisi penurunan kemiskinan di Indonesia

Dokumen terkait