• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi lingkungan stasiun percobaan Balitnak, Desa Banjarwaru, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor antara lain memiliki suhu udara 22-28 °C dengan rataan curah hujan tahunan mencapai 3.500-4.000 mm. Kelinci merupakan hewan yang mempunyai potensi sebagai penghasil daging yang baik, kelinci juga mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi pada bagian kulit dan rambut. Kelinci Rex merupakan kelinci yang memiliki rambut halus tidak mengkilap dan memiliki panjang rambut yang seragam yang kemudian disilangkan dengan kelinci Satin yang mempunyai rambut yang kurang halus namun mengkilap dan panjang rambut yang tidak seragam. Hasil yang didapatkan setelah menyilangkan keduanya disebut dengan kelinci Reza yaitu kelinci yang memiliki rambut yang halus kilap dengan panjang rambut yang seragam (Prasetiyo, 1999).

Kelinci Reza memiliki pertumbuhan bobot badan medium dan persentase karkas yang cukup tinggi, meskipun bobot potongnya rendah. Kelinci Reza memiliki rambut halus mengkilap dan panjang rambut yang seragam sehingga meningkatkan nilai ekonominya atau harga jual yang tinggi, namun bobot badan yang medium berpengaruh terhadap luasan fur nya. Oleh karena itu, kelinci Reza kemudian disilangkan dengan bangsa kelinci yang memiliki pertumbuhan bobot badan yang tinggi sehingga akan meningkatkan produksi daging.

Kelinci Flemish Giant merupakan kelinci yang memiliki bobot badan yang tinggi sehingga baik bila disilangkan dengan kelinci Reza, diharapkan hasil persilangan menghasilkan keturunan-keturunan yang memiliki bobot badan yang tinggi serta rambut halus kilap dengan panjang rambut yang seragam. Persilangan antara kelinci Flemish Giant dan Kelinci Reza akan menghasilkan turunan pertama yang dikenal dengan istilah FZ1. Kelinci FZ1 diharapkan menghasilkan turunan dengan persentase sebesar 50% kelinci Flemish Giant dan 50% kelinci Reza.Kelinci FZ1 (jantan atau betina) kemudian disilangkan dengan kelinci Reza (jantan atau betina). Keturunan dari hasil persilangan keduanya menghasilkan kelinci FZ2, yang diharapkan menghasilkan turunan dengan persentase sebesar 25% kelinci Flemish Giant dan 75% kelinci Reza. Kelinci FZ2 disilangkan dengan kelinci FZ1 untuk

mendapatkan keturunan yang dikenal dengan istilah FZ3. Kelinci FZ3 diharapkan memiliki bobot badan yang tinggi serta fur halus kilap dengan panjang rambut seragam.

Pertumbuhan kelinci FZ3 Populasi Dasar dan Populasi Terseleksi

Kelinci FZ3 yang telah diperoleh dikawinkan dengan sesamanya (intersemating) untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Seleksi tersebut bertujuan memperoleh kelinci yang memiliki bobot badan yang lebih tinggi dan seragam. Perbedaan bobot badan mingguan antara kelinci FZ3 populasi dasar dengan populasi terseleksi pada sifat yang sama disebabkan karena adanya faktor genetik yang diturunkan oleh induk ke anak, dan dipengaruhi oleh suhu lingkungan, bobot lahir anak, dan pakan. Bobot lahir anak ditentukan oleh pertumbuhan foetus sebelum lahir atau pertumbuhan selama dikandungan induknya. Pertumbuhan sebelum lahir dipengaruhi oleh mutu genetik ternak, umur serta bobot badan induk yang melahirkan. Anak yang dilahirkan dari induk yang besar pada umumnya akan menghasilkan anak dengan bobot badan yang tinggi, dan dipengaruhi makanan induk selama kebuntingan, didukung dengan pernyataan Smith dan Maongkoewidjojo (1988), menyatakan bahwa ternak juga dipengaruhi oleh beberapa faktor selama dalam proses pertumbuhan antara lain faktor genetik, pemberian pakan, suhu, kemampuan beradaptasi, dan lingkungan.

Pertambahan bobot badan pada umur dewasa dipengaruhi pertumbuhan jaringan lemak yang secara tidak langsung merupakan dampak dari pemberian pakan. Menurut Wiradarya et al. (2005), pertumbuhan kelinci terdiri atas lima fase, yaitu fase pertama umur 0 – 40 hari (periodelahir-sapih), fase kedua umur 40 – 100 hari (saat disapih), fase ketiga umur 100 – 140 hari (periode remaja), fase keempat umur 140 – 200 hari (saat kelinci mencapai keseimbangan hormonal) dan fase kelima umur lebih dari 200 hari (saat kelinci mencapai dewasa tubuh). Pertumbuhan kelinci FZ3 populasi dasar dan populasi terseleksi terlihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Rataan Bobot Badan Kelinci FZ-3 Populasi Dasar dan Populasi Terseleksi BB Populasi Dasar (PO) Populasi Terseleksi (GO) (minggu) X ± Sd KK X ± Sd KK 0 53,00 ± 10,66a 20,12 57,35 ± 11,21a 19,55 1 132,63± 95,05a 71,67 129,64 ± 35,83a 27,64 2 210,53 ± 51,99a 24,69 224,32 ± 57,38a 25,58 3 292,01 ± 75,60a 25,89 313,28 ± 76,62b 24,46 4 439,71 ± 107,32a 24,41 469,57 ± 105,69b 22,51 5 601,43 ± 133,07a 22,13 639,65 ± 133,27b 20,84 6 752,94 ± 171,47A 22,77 819,49 ± 168,71B 20,59 7 891,27 ± 222,12A 24,92 974,81 ± 219,54B 22,52 8 1.065,88 ± 263,33A 24,71 1.197,53 ± 236,94B 19,79 9 1.191,92 ± 279,57A 23,46 1.330,96 ± 236,94B 17,47 10 1.325,21 ± 317,31A 23,94 1.515,38 ± 256,32B 16,92 11 1.416,79 ± 360,74A 25,46 1.600,13 ± 313,76B 19,61 12 1.553,28 ± 378,64A 24,38 1.718,00 ± 345,64B 20,12 13 1.664,43 ± 349,36a 20,99 1.788,00 ± 322,97b 18,06 14 1.815,87 ± 380,94a 20,98 1.956,42 ± 343,41b 17,55 15 1.940,74 ± 388,99A 20,04 2.096,80 ± 333,88B 15,92 16 2.080,26 ± 427,62a 20,56 2.209,94 ± 386,40a 17,49 17 2.222,25 ± 404,16a 18,19 2.372,70 ± 363,74b 15,33 18 2.309,54 ± 377,80a 16,36 2.421,02 ± 317,72a 13,12 19 2.432,32 ± 353,64a 14,54 2.521,33 ± 318,73a 12,64 20 2.562,27 ± 369,35a 14,42 2.628,41 ± 354,73a 13,50 Keterangan : sd = deviasi standar; KK = koefisien keragaman; huruf kecil yang sama pada baris

yang sama tidak berbeda (p>0,05), huruf kecil yang berbeda pada baris yang sama berbeda nyata (p<0,05), huruf besar pada baris yang sama berbeda sangat nyata (P<0,01).

Kelinci FZ3 yang telah mengalami seleksi yaitu yang memiliki bobot lahir tinggi, maka diharapkan laju pertumbuhan lebih cepat dibandingkan dengan kelinci FZ3 yang belum mengalami seleksi disebabkan karena adanya faktor genetik. Gen-gen yang baik akan diwariskan kepada anaknya sehingga didapatkan kelinci dengan laju pertumbuhan yang lebih baik. Seleksi juga akan meningkatkan rataan bobot sapih dan menurunkan keragamannya. Penurunan koefisien keragaman terjadi dari minggu ke-0 hingga minggu ke-20. Salah satu contoh adalah minggu ke-10 koefisien keragaman turun yaitu 23,94 menjadi 16,92. Secara umum frekuensi dapat meningkatkan frekuensi gen-gen yang diinginkan dan menurunkan frekuensi gen-gen yang tidak diinginkan (Noor, 2000). Pada minggu pertama didapatkan hasil bahwa kelinci FZ3 yang telah diseleksi memiliki nilai rataan bobot badan yang lebih rendah yaitu 129,639 g dibandingkan dengan kelinci FZ3 yang belum diseleksi yang memiliki rataan bobot badan mingguan sebesar 132,632 g, hal ini disebabkan karena persaingan anak dalam memperoleh susu induk. Nilai rataan bobot badan kelinci FZ3

yang belum terseleksi bertambah antara 79-130 g/ekor setiap minggunya. Nilai rataan bobot badan kelinci FZ3 yang telah mengalami seleksi bertambah antara 72-107 g/ekor setiap minggu. Szendro et al. (1996) menyatakan bahwa kelinci dengan litter size rendah atau bobot lahir tinggi dapat mengakibatkan bobot sapih yang tinggi. Perbedaan pertambahan bobot badan yang tinggi selain dipengaruhi oleh faktor genetik, disebabkan juga oleh faktor suhu dan kelembaban. Kelinci FZ3 yang telah terseleksi memiliki daya adaptasi yang lebih tinggi sehingga pada saat suhu tinggi tidak terlalu menurunkan nafsu makannya.

Pada minggu ketiga hingga kelima terdapat perbedaan nyata (P<0,05) antara kelinci FZ3 pada populasi dasar (Po) dan populasi terseleksi (Go), perbedaan yang sudah mulai terlihat disebabkan beberapa faktor diantaranya adalah bobot lahir anak dan kemampuan induk menyusui anaknya. Brahmantiyo (2008), menyatakan bahwa pertumbuhan anak setelah lahir sampai dengan disapih sangat dipengaruhi oleh produksi susu induk, persaingan anak dalam memperoleh susu induk dan kemampuan anak dalam mengkonsumsi pakan setelah berumur tiga minggu. Rao et

al. (1977), menyatakan bahwa laju pertumbuhan kelinci muda lebih kurang dua kali

lipat bobotnya setiap minggu hingga mencapai 0,45 kg pada umur 3 minggu. Laju pertumbuhan pada anak kelinci meningkat cepat pada bulan pertama sejak kelahiran dan akan terus bertambah sampai disapih. Perbedaan laju pertumbuhan pada umur 6-12 minggu antara Po dengan Go dikarenakan penyapihan kelinci mulai dilakukan ketika berumur 6 minggu sehingga kelinci sudah mulai makan ransum. Kelinci muda yang baru mulai makan ransum bentuk padat dan masih menyusu, laju pertumbuhannya adalah 10-20 g/hari, dapat mencapai 30-50 g/hari antara umur tiga minggu sampai dengan delapan minggu. Seleksi dapat meningkatkan rataan bobot badan populasi. Hal tersebut dapat dilihat dari rataan bobot lahir kelinci FZ3 terseleksi yang ditimbang setiap minggunya. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan Martojo (1992), bahwa seleksi dapat meningkatkan nilai tengah rataan bobot badan populasi dan meningkatnya rataan fenotipik dalam suatu sifat ke arah yang lebih baik. Cheeke et al. (1987) melaporkan bahwa pertambahan bobot badan untuk kelinci yang hidup di daerah tropis dapat mencapai 10-20 g per ekor per hari.

suatu ternak tidak hanya ditentukan oleh keragaman genetik saja melainkan juga dipengaruhi oleh lingkungannya. Lingkungan berperan penting dalam menentukan produktivitas suatu ternak. Pengaruh lingkungan tersebut antara lain adanya penyakit yang menyerang ternak, pakan dan manajemen pemeliharaan. Ternak yang mempunyai genetik yang baik akan berproduksi baik jika hidup dalam lingkungan yang baik. Sebaliknya, walaupun ternak tersebut memiliki genetik yang baik, namun hidup pada lingkungan yang tidak baik akan berpengaruh juga terhadap produktivitasnya. Perkembangan jaringan otot dan lemak juga bervariasi berdasarkan umur kelinci. Sebelum mencapai masa pubertas jaringan otot tumbuh lebih awal, stabil dan cenderung menurun seiring meningkatnya umur, diikuti oleh meningkatnya pertumbuhan jaringan lemak Suhu lingkungan di Balai Penelitian Ternak, Ciawi berkisar antara 22 °C hingga 28 °C (Brahmantiyo, 2008).

Heritabilitas

Seleksi pada kelinci FZ3 dilakukan untuk membentuk populasi dasar (PO) dan populasi turunan hasil seleksi. Anak terseleksi berasal dari ternak yang memiliki

litter size minimal enam ekor anak per kelahiran. Pengamatan dilakukan pada

kelinci FZ3 antara lain berdasarkan data identitas pejantan, induk, litter size lahir,

litter size sapih, bobot lahir (BB0), sampai bobot badan 20 minggu (BB20). Pada

penelitian ini dilakukan pendugaan nilai heritabilitas dilakukan menggunakan metode analisis ragam pola tersarang sesuai petunjuk Becker (1984) dengan bantuan perangkat lunak Statistical Analytical System (SAS, 1985). Pendugaan nilai heritabilitas digunakan sebagai sumber informasi nilai pemuliaan ternak kelinci FZ3 yang dipelihara di Balai Penelitian Ternak. Heritabilitas adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan bagian dari keragaman total suatu sifat yang diakibatkan oleh pengaruh genetik. pengetahuan tentang besarnya heritabilitas penting dalam mengembangkan seleksi dan rencana perkawinan untuk memperbaiki ternak (Warwick et al., 1995). Heritabilitas merupakan rasio yang menunjukkan persentase keunggulan tetua yang rata-rata diwariskan kepada anaknya dan berhubungan dengan proporsi keragaman fenotipik yang dikontrol oleh gen. Nilai heritabilitas suatu sifat berkisar antara 0 sampai dengan 1.

Pengaruh genetik maupun lingkungan menyebabkan timbulnya keragaman pada pengamatan dalam berbagai sifat kuantitatif. Nilai heritabilitas untuk sifat-sifat

kuantitatif dapat digunakan untuk menduga nilai pemuliaan, menyusun rancangan pemuliaan maupun menduga kemajuan seleksi (Martojo, 1992). Dugaan nilai heritabilitas kelinci FZ3 dapat dilihat pada Tabel 3. Nilai heritabilitas pada minggu ke 10 dan 12 adalah sebesar 0,43 dan 0,55.

Tabel 3. Nilai Heritabilitas Bobot Badan Kelinci FZ3

Rumpun n Umur Heritabilitas

(minggu) h2 + SE FZ3 273 BB0 1,87±0,17 257 BB1 1,88±0,17 247 BB2 1,85±0,17 227 BB3 1,71±0,17 211 BB4 1,69±0,17 210 BB5 1,77±0,18 193 BB6 1,68±0,19 165 BB7 1,64±0,20 140 BB8 1,44±0,20 127 BB9 1,34±0,21 123 BB10 0,43±0,12 105 BB11 1,49±0,24 100 BB12 0,55±0,15 91 BB13 1,67±0,27 93 BB14 1,58±0,26 90 BB15 1,57±0,26 82 BB16 1,56±0,28 79 BB17 1,64±0,29 78 BB18 1,51±0,28 75 BB19 1,32±0,27 81 BB20 1,44±0,27

Dugaan nilai heritabilitas yang didapatkan sampai kelinci mengalami penyapihan (minggu ke 0-6) berturut-turut sebesar 1,87±0,17; 1,88±0,17; 1,85±0,17; 1,71±0,17; 1,69±0,17; 1,77±0,18, 1,68±0,19. Dugaan nilai heritabilitas setiap minggu termasuk ke dalam kategori tinggi. Martojo (1992), membagi nilai heritabilitas menjadi 3 bagian yaitu: 1) heritabilitas rendah berkisar antara 0-0,2; 2) heritabilitas sedang berkisar antara 0,2-0,4; 3) heritabilitas tinggi, lebih dari 0,4. Dugaan nilai heritabilitas yang lebih dari satu disebabkan nilai komponen ragam induk di dalam pejantan yang lebih besar dari 1,00. Komponen ragam ini lebih dari 1,00 karena nilai kuadrat tengah antar induk dalam pejantan yang lebih besar dari kuadrat tengah antar anak. Perbedaan nilai heritabilitas ini diduga jumlah ternak

tersebut besar (Martojo, 1992). Perbedaan ini sesuai dengan pendapat Khalil et al. (1986), bahwa adanya perbedaan nilai dugaan heritabilitas disebabkan (a) metode analisa yang digunakan untuk menduga, (b) ekspresi genetik setiap bangsa di dalam populasi yang berbeda, (c) jumlah data yang digunakan, dan (d) faktor koreksi untuk sifat non genetik yang dibuat pada setiap data. Sistem manajemen yang intensif dalam pemeliharaan turut mempengaruhi besarnya nilai heritabilitas yang dihasilkan. Bahwa ternak yang memiliki genetik tinggi harus dipelihara dalam lingkungan yang baik pula agar menampilkan produksi secara maksimal.

Warwick et al. (1995), menyatakan bahwa nilai heritabilitas yang tinggi menunjukkan bahwa pengaruh utamanya adalah genetik. Faktor lain yang mempengaruhi nilai heritabilitas adalah tempat dan waktu. Nilai heritabilitas untuk sifat yang sama pada jenis, bangsa, dan galur ternak dapat menunjukkan nilai yang berbeda. Perbedaan ini timbul karena ada pengaruh komponen lingkungan. Ketidakseragaman lingkungan yang dialami individu dalam populasi dapat timbul karena kondisi kandang, iklim, dan manajemen yang berbeda. Nilai heritabilitas yang dikatagorikan sedang sampai tinggi dapat memberikan petunjuk, bahwa seleksi yang dilakukan akan lebih efektif dan efisien dalam meningkatkan perbaikan mutu genetik.

Pada program perkawinan silang diikuti oleh proses seleksi ini sangat diperlukan untuk mengevaluasi respon seleksi yang diperoleh dari perkawinan silang kelinci. Evaluasi performa kelinci dapat dilakukan dengan menggunakan salah satu dari pendekatan berikut: (1) evaluasi berdasarkan parameter perkawinan silang secara periodik dengan mempertimbangkan parameter berikut ini (hubungan langsung dengan induk dan heterosis, efek rekombinan) dilakukan di Perancis, Spanyol, Mesir, Arab Saudi, Brazil dan lain-lain; (2) evaluasi respon seleksi genetik pada perbedaan tingkatan yang dilaksanakan dengan membandingkan galur murni dengan persilangan terlihat dari performa yang dihasilkan (Tudela et al., 2003). Costa et al. (2004), menyatakan bahwa hasil penelitian di Spanyol dapat disimpulkan sebagai berikut (a) seluruh respon seleksi yang muncul dari bobot lahir persilangan kelinci lebih tinggi jika dibandingkan dengan galur murni, (b) indeks konversi pakan persilangan meningkat.

Berdasarkan nilai diferensial seleksinya, maka dapat diperhitungkan nilai respon seleksi pada kelinci FZ3 ditampilkan pada Tabel 4. Respon seleksi kelinci FZ3 menunjukkan nilai respon seleksi yang positif, terlihat dari nilai terendah sebesar 8,13 g dan tertinggi 273,18 g maka dapat dikatakan seleksi cukup efektif dilakukan pada kelinci FZ3.

Tabel 4. Diferensial Seleksi, Nilai Dugaan Heritabilitas dan Dugaan Respon Seleksi Sifat Bobot Sapih pada Kelinci FZ3

Minggu Populasi Populasi Diferensial Heritabilitas Respon seleksi Peningkatan (%) awal terseleksi seleksi h2 + SE

0 53,00 57,35 4,35 1,87±0,17 8,13 15,34 1 132,63 129,64 -2,99 1,88±0,17 -5,62 -4,24 2 210,54 224,32 13,78 1,85±0,17 25,49 12,11 3 292,01 313,28 21,27 1,71±0,17 36,37 12,46 4 439,72 469,57 29,85 1,69±0,17 50,45 11,47 5 601,43 639,65 38,22 1,77±0,18 67,65 11,25 6 752,94 819,49 66,55 1,68±0,19 111,80 14,85 7 891,27 974,81 83,54 1,64±0,20 137,01 15,37 8 1.065,88 1.197,53 131,65 1,44±0,20 189,58 17,79 9 1.191,92 1.330,96 139,04 1,34±0,21 186,31 15,63 10 1.325,21 1.515,38 190,17 0,43±0,12 81,77 6,17 11 1.416,79 1.600,13 183,34 1,49±0,24 273,18 19,28 12 1.553,28 1.718,00 164,72 0,55±0,15 90,60 5,83 13 1.664,43 1.788,00 123,57 1,67±0,27 206,36 12,40 14 1.815,87 1.956,42 140,55 1,58±0,26 222,07 12,23 15 1.940,74 2.096,80 156,06 1,57±0,26 245,01 12,63 16 2.080,26 2.209,94 129,68 1,56±0,28 202,30 9,73 17 2.222,25 2.372,70 150,45 1,64±0,29 246,74 11,10 18 2.309,54 2.421,02 111,48 1,51±0,28 168,33 7,29 19 2.432,32 2.521,33 89,01 1,32±0,27 117,49 4,83 20 2.562,27 2.628,41 66,14 1,44±0,27 95,24 3,72

Nilai respon seleksi cukup tinggi karena dapat memberikan dugaan peningkatan genetik sebesar 3,72% sampai 19,28%. Pada minggu ke satu diperoleh nilai respon seleksi -5,62 g dan peningkatan genetik sebesar -4,24%, hal ini disebabkan karena rataan populasi terseleksi lebih rendah daripada rataan populasi sebelum terseleksi. Rataan pertambahan bobot badan harian terseleksi selama periode lepas sapih, memperlihatkan bahwa seleksi individu dapat berhasil dengan baik untuk meningkatkan pertambahan bobot badan harian karena pada sifat ini tidak terlalu berpengaruh dengan sifat umum yang timbul dari setiap individu pada bobot dan umur tertentu dan menghasilkan heritabilitas dengan nilai sedang atau tinggi

Larzul et al. (2005), menemukan bahwa bobot badan selama seleksi mengalami peningkatan yang signifikan, berbeda dengan karkas dan otot yang tidak terlalu mengalami perbedaan peningkatan yang signifikan diantara populasi terseleksi dengan populasi dasar. Menurut Gomez et al. (2000) di dalam penelitiannya respon seleksi dapat digunakan untuk menduga dari bobot lahir dan pertambahan bobot badan harian. Terjadi penambahan bobot badan harian sejak lahir hingga lepas sapih menunjukan hasil yang signifikan pada populasi kelinci yang mengalami seleksi. Kelinci umur 60 hari atau umur 8 minggu menunjukkan nilai positif dari pertambahan bobot badan.

Dokumen terkait