F. Kondisi Sosial Ekonomi
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hubungan Kemitraan antara HPHTI PT. Toba Pulp Lestari, Tbk dengan Usaha Kecil Menengah Industri Pemanenan Hutan (UKM-IPH)
PT. Toba Pulp Lestari, Tbk. (PT. TPL, Tbk.) merupakan perubahan nama dari PT. Inti Indorayon Utama (IUU), berdasarkan surat dari Departemen Kehakiman No. C.06519 HT.04.TH.2001 tanggal 23 Agustus 2001. Pada mulanya PT. IIU memproduksi pulp dengan rayon, tetapi sebahagian masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi pabrik merasa tidak mendapat dampak positif dari pembangunan PT. IIU, mereka mengeluhkan polusi udara yang dikeluarkan pabrik. Keluhan sebagian masyarakat tersebut ditanggapi pemerintah dengan menghentikan kegiatan pabrik. Pada pertengahan tahun 1998, PT. IIU ditutup dengan tetap melakukan pemeriksaan terhadap limbah yang diisukan menjadi penyebab ditutupnya industri tersebut. Dari hasil pemeriksaan dan evaluasi yang dilakukan oleh pemerintah diduga bahwa pengolahan rayon menjadi penyebab terjadinya perselisihan tersebut dan pengelolaan hutan yang belum menerapkan prinsip pengelolaan hutan lestari (sustainable forest management).
Sesuai dengan hasil keputusan pemerintah lewat sidang kabinet pada tanggal 10 Mei 2002 dan 16 Mei Mei 2002, perusahaan tesebut beroperasi kembali dengan tanpa memproduksi serat rayon (hanya memproduksi pulp). Selanjutnya PT. TPL, Tbk. dengan melakukan upaya-upaya perbaikan kinerja dengan menerapkan paradigma baru yaitu (1) menerapkan teknologi pulp yang ramah lingkungan, (2) menerapkan manajemen pemanfaatan sumberdaya hutan yang lestari, (3) memberdayakan sosial ekonomi dan budaya masyarakat sekitar yaitu dengan mengalokasikan Rp. 1000 dari setiap m3 kayu yang diproduksi dalam satu tahun untuk mengembangkan dan membangun masyarakat di sekitar hutan dengan program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) dan merekrut putra daerah untuk bekerja bersama dengan PT. TPL, Tbk.
Sejalan dengan butir-butir paradigma baru PT. TPL, Tbk. seluruh kegiatan pemanenan dan penanaman kembali serta perawatan hutan tanaman dilakukan dengan sistem mitra kerja yang diberikan kepada putra dareah setempat. Adapun
daftar mitra usaha yang ikut serta dalam pola kemitraan yang dilaksanakan oleh pihak PT. TPL, Tbk. dapat dilihat pada Lampiran 5.
Adapun kegiatan pemanenan hutan tanaman terdiri dari: 1. Menebang, memotong, dan menumpuk kayu
2. Menarik tumpukan kayu dengan alat mekanis skidder
3. Memuat kayu ke dalam truk angkutan 4. Pengangkutan kayu ke pabrik
Sebagai gambaran kasar jika seluruh kegiatan berjalan penuh dengan target produksi kayu 1.080.000 m3 per tahun, maka penggunaan tenaga kerja dan nilai uang yang akan dikeluarkan perusahaan dalam bidang pemanenan kayu adalah sebagai berikut:
a) Menebang, memotong dan menumpuk kayu
Untuk memanen 1.080.000 m3 kayu hutan tanaman setiap tahun, maka rata-rata produksi tebangan per bulan adalah 90.000 m3. Jika jumlah hari kerja efektif per bulan rata-rata 22 hari dan kemampuan setiap regu tebang (6 hari)
dengan menggunakan 1 chainsaw per regu mencapai 15 m3/hari dan tarif Rp 20.300 per m3 maka akan diperlukan per bulan kira-kira 273 chainsaw atau
273 regu tebang, dengan demikian diperlukan 1.638 orang pekerja. Nilai yang akan dikeluarkan perusahaan terhadap masyarakat pekerja untuk aktifitas ini adalah Rp 1.827.000.000 per bulan.
b) Menarik tumpukan kayu dengan alat mekanis skidder
Setiap tumpukan kayu mempunyai panjang sortimen 2,2 m dengan ukuran tinggi tumpukan 1 meter dan panjang 2 meter (kira-kira satu tumpukan 2,64 m3). Tumpukan ini akan ditarik dengan menggunakan alat skidder berkemampuan 200 m3 per hari dengan tarif Rp 16.000 per m3 dan dioperasikan oleh 2 operator dan 4 helper dengan hari kerja rata-rata per bulan 25 hari. Dengan demikian setiap bulan aktifitas ini akan menggunakan tenaga kerja sebanyak 108 orang dan nilai yang akan dikeluarkan perusahaan Rp 1.440.000.000 per bulan.
c) Memuat kayu ke dalam truk angkutan
Jika pekerjaan memuat kayu ke dalam truk dilakukan secara manual, maka setiap regu memuat diperlukan 6 orang dengan kemampuan 50 m3 per hari per regu. Tarif aktifitas memuat kayu ke dalam truk Rp 7.500 per m3. Jika rata-rata
hari kerja efektif per bulan 22 hari, maka setiap bulan akan menyerap tenaga kerja sebanyak 492 orang dengan nilai Rp 675.000.000 per bulan.
d) Pengangkutan kayu ke pabrik
Jika menggunakan truk double exel dalam pengangkutan kayu, maka beban muatan yang diperkenankan sesuai kelas jalan maksimum 20 ton. Dengan kapasitas truk seperti ini dan hari kerja rata-rata 25 hari, maka diperlukan truk yang sampai ke pabrik rata-rata 180 truk per hari. Mengingat jarak tempuh angkutan bervariasi dan tidak mungkin 1 trip setiap satu hari, maka kebutuhan truk bisa mencapai 1,5 kali lebih banyak yaitu 270 truk yang selalu siap beroperasi. Jumlah ini juga tergantung jenis truk yang tersedia karena jika menggunakan truk dengan muatan yang rendah, maka diperlukan jumlah truk yang lebih banyak.
Rata-rata tarif angkutan kayu dari seluruh lokasi tebangan yang ada ke pabrik Porsea adalah 38.000 per m3, dengan demikian nilai yang akan dikeluarkan perusahaan untuk biaya angkutan kayu mencapai Rp 3.420.000.000 per bulan dengan penggunaan tenaga kerja sebagai driver kurang lebih 270 orang.
Jika dijumlahkan seluruh kegiatan pemanenan Hutan Tanaman saja yang dikerjakan oleh Mitra Usaha Lokal PT. TPL, Tbk. akan menyerap tenaga kerja langsung rata-rata sebanyak 2.508 orang, dengan nilai uang yang dibayar perusahaan Rp 7.362.000.000 setiap bulan.
Berikut adalah gambar sebaran tenaga kerja yang bermitra dengan PT. TPL, Tbk. di Kabupaten Toba Samosir dan sebaran kegiatan kerja mitra di PT. TPL, Tbk.
11%
89%
Tenaga kerja PT. TPL, Tbk
Jumlah penduduk Kab. Toba Samosir
Gambar 1 . Jumlah tenaga kerja yang bermitra dengan PT. TPL, Tbk di Kabupaten Toba Samosir
65% 4% 20% 11% Felling&Stacing Skidding Loading Transportation
Gambar 2. Sebaran kegiatan kerja mitra di PT. TPL, Tbk.
Selain bermitra dalam kegiatan pemanenan hutan, PT. TPL, Tbk. juga bekerjasama dalam bidang pemasok bahan baku/ penanaman. Adapun kegiatan dari reforestation (penanaman hutan ) adalah:
1. Persiapan sebelum penanaman yaitu slashing, spraying dan persiapan lahan 2. Penanaman, pemupukan dan penyulaman
3. Perawatan yang terdiri dari pemupukan lanjutan, weeding dan spraying
4. Perlindungan dan pengamanan hutan tanaman
5. Assesment dan meansuration
Selain dari kegiatan tersebut di atas, PT. TPL, Tbk. juga mengikutsertakan masyarakat plasma hutan tanaman pola PIR (Perusahaan Inti Rakyat). PT. PIR adalah perusahaan yang terpisah dengan PT. TPL, Tbk. Pada tanggal 19 Juli 1989 melalui SK Menhut No. 360/Kpts-II/89, PT. TPL, Tbk. ditunjuk sebagai perusahaan inti dalam pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI) dengan pola PIR di Sumatera Utara, maka dibentuklah PT. PIR Inti Indorayon Utama sesuai dengan nama perusahaan inti saat itu. Selama pembangunan HTI Pola PIR, peserta PIR disamping selalu mengawasi pekerjaannya pada tanamannya juga dapat sekaligus sebagai pekerja pada lahannya dengan mendapat upah sesuai jenis pekerjaannya. Hal ini berarti memberi keuntungan ganda bagi peserta plasma PIR selama menunggu masa panen. Sehingga saat ini hampir 90% kegiatan yang ada di PT.TPL, Tbk. dilaksanakan dengan bermitra dengan masyarakat.
Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak PT. TPL, Tbk. oleh Firman Purba selaku planning manager PT. TPL, Tbk. menyatakan bahwa pembangunan
kemitraan merupakan realisasi program PHBM dengan mempertimbangkan beberapa hal yaitu:
1. Mengantisipasi kembali terjadi konflik sosial akibat kurangnya pemberdayaan masyarakat lokal
2. Adanya pembagian keuntungan, dimana masyarakat turut memperoleh keuntungan dalam pengelolaan hutan
3. Terbukanya kesempatan kerja bagi pihak perusahaan dalam pengembangan ekonomi masyarakat sekitar hutan
4. Perampingan srtuktur organisasi bidang pemanenan khususnya dan perusahaan pada umumnya
5. Membangun jiwa bisnis masyarakat lokal sehingga diharapkan dapat mengembangkan ekonomi daerah.
Pola kemitraaan mulai dibangun di PT. TPL, Tbk. pada tahun 2002 sejak pabrik resmi dioperasikan kembali. Adapun proses untuk mensosialisasikan kemitraaan ini dimulai dengan mengundang beberapa instansi setempat yaitu Kepala Daerah, Kepala Dinas Instansi Pemerintahan dalam hal ini Dinas Kehutanan dan Kepala Dinas Perindustrian untuk membicarakan program paradigma baru PT. TPL, Tbk. khususnya dalam hal pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. Tahap berikutnya adalah dengan mengundang para tokoh masyarakat beserta masyarakat sekitar. Adapun tujuan undangan tersebut adalah untuk mengajak bekerjasama atau bermitra dengan PT. TPL, Tbk di bidang pemanenan hutan maupun reforestation.
Pada awalnya, masyarakat kurang percaya penuh pada pihak perusahaan, hal ini terlihat dari jumlah mitra pemanenan mula-mula di Sektor Hutan Habinsaran hanya 15 kontraktor, sedangkan saat ini (Juni 2005) mitra penebangan meningkat menjadi 27 kontraktor (naik 80%). Hal ini menunjukkan bahwa persepsi masyarakat tentang PT. TPL, Tbk. sudah baik.
Namun apabila dibandingkan, jumlah kontraktor pemanenan pada Juni 2004 yang mencapai 34 kontraktor, maka jumlah kontraktor pada Juni 2005 di sektor Habinsaran mengalami penurunan sebesar 20,58%. Hal ini terjadi sejak diberlakukannya sistem pembayaran yang baru yaitu pembayaran setelah ditimbang di pabrik (pembayaran 100%).
Sesuai dengan hasil wawancara, sebagian mitra atau kontraktor mengeluh dengan diberlakukannya sistem pembayaran baru tersebut, hal ini dikarenakan, mitra harus menunggu pembayaran 100% setelah kayu diangkut ke pabrik terlebih dahulu, sedangkan pada kenyataannya kayu dibiarkan menumpuk lama di TPn sebelum akhirnya diangkut (maksimal 6 bulan). Hal ini juga merugikan pihak mitra apabila kayu lama diangkut ke pabrik maka kayu semakin menyusut dan beratnya berkurang sehingga hasil yang mereka terima akan berkurang pula. Lamanya kayu diangkut dari TPn dikarenakan infrastruktur jalan yang kurang baik, sehingga kayu terhambat dibawa keluar.
Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak perusahaan yang diwakili oleh Maju Butar-Butar selaku Kepala Bidang Kemitraan (GAL) di sektor hutan Habinsaran dan Lesdinar Hasibuan selaku Kepala Bidang Kemitraan (GAL) di sektor hutan Tele, kendala-kendala yang dihadapi perusahaan tidak berbeda antara kedua sektor hutan tersebut, yaitu antara lain:
1. Kurangnya syarat-syarat administrasi pihak mitra dalam pengajuan kontrak kerja
2. Ketidaktepatan waktu mitra perusahaan (kontraktor) dalam proses pengamprahan (pengecekan hasil produksi)
Sedangkan kendala-kendala yang dialami mitra berdasarkan hasil wawancara adalah sebagai berikut:
1. Kayu lama diangkut ke pabrik menyebabkan berat kayu semakin menyusut. 2. Infrastruktur jalan yang tidak mendukung
3. Terlambatnya pembayaran yang dilakuakan oleh pihak perusahaan, sehingga banyak kontraktor yang mengalami kesulitan untuk membayar karyawan dan membiayai biaya operasional pada lokasi kerja berikutnya.