Indonesia memiliki beberapa satuan divisi TNI-AD, antara lain: 1. Pussenkav yang terletak di Bandung sebagai Pusat Kesenjataan Kavaleri, 2. Pusdikkav yang terletak di Padalarang sebagai Lemdik (Lembaga Pendidikan) yang mencetak prajurit-prajurit kavaleri, 3. Denkavkud yang terletak di Parongpong, Bandung Barat sebagai satuan tempur berkuda, juga sebagai sekolah berkuda atau yang lebih dikenal dengan pendidikan untuk kuda (Remonte) dan 4. Satuan setingkat Batalyon yaitu Detasemen dan Kompi yang tersebar diseluruh pelosok di Indonesia, sebagai satuan tempur berkendaraan tank maupun panser yang bertugas mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) (Nilareswati, 2009).
Detaseman Kavaleri Berkuda (Denkavkud) berada di Jalan Kolonel Masturi, Desa Karyawangi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Letak Denkavkud sekitar 15 km dari pusat Kota Bandung dengan ketinggian antara 1.200 s/d 1.400 mdpl. Suhu udara pada siang hari berkisar antara 23-27 oC dan pada malam hari berkisar antara 17-20 oC (Kurniawan, 2004). Denkavkud memiliki lahan seluas kurang lebih 100 ha, yang diantaranya diperuntukkan sebagai kantor, asrama dan rumah dinas, kandang kuda, lapangan berkuda, lahan pertanian dan pastura untuk kebutuhan pakan kuda. Selain itu juga terdapat beberapa fasilitas penunjang seperti manisi (lapangan indoor) baik sebagai tempat melatih kuda maupun untuk melatih siswa-siswa menunggang kuda, walk trot area, cross country area dan makam kuda.
Populasi kuda di Denkavkud dibagi ke dalam dua tempat yaitu Kompi Kavaleri (Kikav) dan Kompi Peternakan (Kinak). Kuda yang termasuk ke dalam Kikav adalah kuda yang telah lulus remonte dasar untuk kemudian dijadikan sebagai kuda tunggang. Namun, untuk menjaga performans, semua kuda jantan Kikav dikebiri dan kuda betina tidak diperbolehkan bunting. Pengeberian kuda jantan memiliki berbagai tujuan, diantaranya untuk meminimalisasi adanya proses perkawinan liar di luar program yang telah dibuat, untuk memudahkan pelatih dalam mendidik kuda saat remonte dan untuk menghindari kekhawatiran kuda lari dari lintasan ketika melihat kuda betina estrus. Begitupun dengan kuda betina, tidak
22 diperbolehkan kawin karena jika bunting kuda tersebut tidak dapat digunakan secara optimal sebagai kuda tunggang.
Upaya pembibitan dipusatkan di Kinak dan pengawinan kuda hanya boleh dilakukan oleh karyawan Kinak. Setiap hari Selasa, Rabu dan Kamis karyawan Kinak melakukan deteksi estrus dan mengawinkan kuda yang sedang estrus dengan pejantan berdasarkan warna bulu. Deteksi estrus sangat penting dilakukan pada kuda, agar perkawinan yang akan dilaksanakan dapat terjadi dengan sempurna. Pendeteksian kuda estrus ini menggunakan kuda jantan yang berfungsi sebagai
teaser dengan sistem teasing pen. Deteksi estrus dilakukan pada pagi hari sebelum kuda betina yang ada dalam kandang dilepaskan di padang penggembalaan atau pastura. Menurut Meadows et al. (2003), teasing sudah banyak dilakukan oleh hampir setiap peternakan. Beberapa faktor penting dalam pendeteksian estrus, diantaranya manajemen, ternak teaser, sistem teasing, sistem penilaian teasing dan beberapa hal lain. Pengawinan berdasarkan warna bulu bertujuan agar anak yang dihasilkan memiliki warna yang polos sebagai syarat menjadi kuda kavaleri.
Teknik pengawinan kuda yang dilakukan di Kinak adalah kawin alam. Menurut Morel (2008), kawin alam merupakan sistem pengawinan yang sangat baik dengan laju kebuntingan tinggi. Kuda pejantan (stud) yang dimiliki Denkavkud saat ini adalah, G. Boliohutu (Kuda G1 Australia), G. Fujiyama (Asal Kazakhtan) dan Sir Tristan (Asal Australia), sedangkan kuda induk berasal dari kuda tunggang yang sudah tidak sesuai untuk dijadikan kuda tunggang lagi ataupun kuda yang tidak pernah lulus remonte. Syarat menjadi kuda induk adalah tidak memiliki cacat fisik, tidak memiliki penyakit yang menurun, memiliki warna yang polos tidak bercorak, dan memiliki umur yang cukup yaitu lebih dari tiga tahun. Masing-masing kuda pejantan yang terdapat di Denkavkud disajikan pada Gambar 2.
Pakan yang diberikan pada kuda di Denkavkud adalah hijauan dan konsentrat. Hijauan yang digunakan adalah African star grass (Cynodon nlemfluensis) (Gambar 3) dan konsentrat berbentuk pellet dengan merk dagang Vital dan Haras (Gambar 4). Konsentrat Haras digunakan untuk pakan kuda Australia (Thoroughbred), sedangkan konsentrat Vital digunakan untuk kuda lainnya (selain kuda Australia). Frekuensi pemberian pakan sebanyak tiga kali dalam sehari yaitu pada pagi, sore, dan malam hari. Pakan tambahan juga diberikan, seperti pada kuda
23 pejantan setiap setelah kawin diberi telur ayam mentah sebanyak 500 g. Jumlah dan jenis pakan yang diberikan pada kuda di Denkavkud disajikan dalam Tabel 5 dan 6.
Gambar 2. Profil Kuda Pejantan di Denkavkud
Tabel 5. Jumlah dan Jenis Pakan Kuda Australia (Thoroughbred) di Denkvakud
Jenis Kuda Konsentrat* (kg) Rumput (kg) Tambahan** (kg)
Pejantan 4 25 1,7
Induk (Bunting & Laktasi) 4 25 1,7
Remaja/anak 4 8 1,7
Keterangan: *Konsentrat merk dagang Haras **Dedak gandum
a. G. Fujiyama
24 Tabel 6. Jumlah dan Jenis Pakan Kuda di Denkvakud
Jenis Kuda Konsentrat* (kg) Rumput (kg) Tambahan
Pejantan 4 25 Telur 500 gr
Sedang remonte 4 30 Pastura
Kavaleri 3,5 25 Pastura
Induk (siap kawin, bunting, laktasi)
3,5 25 Pastura
Remaja/anak 3,5 8 Pastura
Keterangan: *Konsentrat merk dagang Vital
Gambar 3. Pakan Hijauan Kuda
Gambar 4. Pakan Konsentrat Kuda
a. African Star Grass b. Pastura
25 Kuda di Denkavkud terdiri atas kuda tunggang militer dan kuda peternakan. Kuda tunggang adalah kuda yang telah lulus pendidikan tahap remonte dasar sehingga kuda tersebut relatif sudah jinak dan mudah diatur, sedangkan kuda peternakan meliputi kuda yang belum lulus remonte, anak kuda, induk kuda, dewasa betina kuda dan pejantan. Kuda dewasa betina merupakan sebutan untuk kuda yang berumur lebih dari tiga tahun, namun tidak pernah lulus remonte, memiliki cacat atau sifat yang tidak baik sehingga tidak cocok dijadikan sebagai induk. Selain itu, kuda tersebut tidak dimasukkan ke dalam kandang afkir karena umurnya yang masih tergolong muda. Kuda yang masuk kandang afkir adalah kuda tua yang sudah tidak produktif, biasanya berumur lebih dari 20 tahun.
Remonte adalah program pelatihan kuda yang menitikberatkan pada pendayagunaan kuda agar dapat ditunggang dan memiliki kemampuan militer dengan baik. Penyelenggaraan pembinaan dan pendidikan kuda militer di Denkavkud dilakukan dalam dua tahap yaitu remonte dasar (agar memiliki kemampuan tunggang) selama enam bulan (Gambar 5), kemudian remonte lanjutan (agar memiliki kemampuan militer) selama tiga bulan (Gambar 6). Syarat kuda mengikuti
remonte diantaranya memiliki fisik yang baik, sempurna dan tidak cacat, memiliki warna bulu yang polos, umur minimal tiga tahun dan tinggi badan minimal 140 cm.
Materi pendidikan dalam remonte dasar meliputi pengenalan dan pemasangan alat remonte, longeing, pembebanan punggung kuda, pengenalan air, bunyi-bunyian (ledakan), sinar (kilat cahaya), api dan asap, serta melintasi rintangan dasar (kavaleti). Materi yang dipelajari saat remonte lanjutan adalah melintasi rintangan (rintangan buatan dari bambu, api, dan alam), pengenalan keramaian (siang dan malam hari), pelatihan baris-berbaris, penanganan huru-hara, tiarap kuda, ketahanan, renang, dan pembiasaan gerakan taktik kavaleri (Nilareswati, 2009).
26 Gambar 6. Teknik Pelatihan Kuda Remonte Lanjutan
Kuda Kavaleri Denkavkud
Detasemen Kavaleri Berkuda Pussenkav TNI AD berawal sejak adanya kuda hasil rampasan selama perang kemerdekaan pada akhir Desember 1949 dan awal tahun 1950 di pulau Jawa. Sebanyak 20 ekor kuda diperoleh dari Eks KNIL yang ahli merawat serta mendidik kuda. Komandan Pusat Kavaleri, Letkol Kav K.G.P.H. Soerjo Soejarso mengusulkan kepada KSAD sebagai langkah pertama untuk membentuk satu Eskadron Kavaleri Berkuda yang didalamnya termasuk Remonte
Kuda, disamping Pasukan Kavaleri Mekanis yang telah ada sebagai bagian dari kesenjataan Kavaleri Angkatan Darat. Pimpinan AD kemudian mengeluarkan instruksi KSAD No.18/KSAD/Instr/1953 tanggal 18 Maret 1953 tentang satuan Eskadron Kavaleri Berkuda dan ditetapkan sebagai hari jadi Detasemen Kavaleri Berkuda (Denkavkud) (Pusat Kesenjataan Kavaleri, 2010).
Kuda yang berukuran tinggi serta berkualitas baik sangat dibutuhkan untuk keperluan olahraga berkuda dan militer, sehingga diusahakan pemuliaan kembali dari kuda yang ada. Pada tahun 1957, Pusat Kavaleri AD mengadakan pembelian kuda baru dari Australia sebanyak 178 ekor untuk menambah jumlah kuda, yang dipimpin oleh Kapten Kav Karepoan (Pusat Kesenjataan Kavaleri, 2010). Pada tahun 1958 dan tahun-tahun berikutnya, kuda unggul didatangkan dari Australia, Eropa, dan Pakistan untuk kemudian disilangkan dengan kuda lokal atas upaya pimpinan Angkatan Darat serta pemerintah (Soehardjono, 1990).
Menurut Soehardjono (1990), antara tahun 1955-1970 pemerintah telah mendatangkan kuda jantan dan betina asal Australia yang kemudian dibagi-bagikan kepada TNI AD dan pemerintah daerah Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Utara dan
27 Sumatera Barat. Kuda milik Pussenkav AD dan Angkutan AD, yang dikenal diantaranya Dark Chevallier, Jarada, Satria, Prabu Hario, Farouk, Tiger dan
Kantong. Namun, kebanyakan kuda keturunannya tidak berhasil sebagai kuda pacu, tetapi lebih cenderung sebagai kuda tunggang. Kemungkinan pejantan tersebut bukan dari darah 100% pacu, melainkan halfbred (50% kuda pacu).
Kemudian pada tahun 1967 dilakukan pembelian kuda baru dari Pakistan sebanyak 80 ekor, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Kav Pandu Subono (Pusat Kesenjataan Kavaleri, 2010). Menurut Soehardjono (1990), pada tahun 1983 Panglima Angkatan Darat telah menghadiahkan dua ekor kuda pejantan jenis luar negeri (tunggang), berasal dari Peternakan Kuda Pusat Kesenjataan Kavaleri TNI AD di Parongpong, Bandung ke berbagai daerah dengan harapan agar dihasilkan jenis baru yang berkualitas baik. Pejantan Kantong ditempatkan di Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam dan Kabilah Boy ditempatkan di Kabupaten Solok.
Saat ini, kebanyakan kuda yang berada di Denkavkud merupakan hasil persilangan antara kuda lokal Priangan dengan pejantan yang didatangkan dari luar negeri. Pejantan tersebut sengaja didatangkan dari Australia, Kazakstan dan Arab. Pada saat pemerintahan Presiden Soeharto, tepatnya tanggal 16 Oktober 1996 didatangkan dua ekor pejantan dari Kazakstan, namun yang masih hidup hingga saat ini hanya satu ekor yang bernama G. Fujiyama. Kemudian pada tanggal 27 November 2008 pemerintah mendatangkan kuda Thoroughbred dari Australia sebanyak delapan ekor yaitu dua ekor pejantan (Monaco dan Sir Tristan), tiga ekor induk, satu induk bunting dan dua anak kuda. Namun, saat ini sudah dua ekor kuda yang mati, satu ekor pejantan (Monaco) dan satu ekor induk.
Selain digunakan sebagai kuda militer, Kavaleri AD juga menggunakan kuda untuk mengikuti berbagai perlombaan olahraga pacuan kuda, seperti pada tahun 2005 mengikuti kejuaraan Trengganu Endurance RAID CII 120 km Seri I dan II di Malaysia. Sejak tahun 2005 hingga saat ini kuda Kavaleri TNI-AD masih mengikuti kejuaraan berkuda Asia Pasifik Eventing di Australia. Pada tahun 2006 juga mengikuti ASIAN GAMES di Doha Qatar dalam cabang olahraga berkuda (Pusat Kesenjataan Kavaleri, 2010) dan saat PORDA (Pekan Olahraga Daerah) Jawa Barat 2010, cabang pertandingan olahraga berkuda diselenggarakan di Denkavkud, Parongpong, Bandung.
28 Inbreeding Kuda Denkavkud
Inbreeding adalah persilangan antarternak yang memiliki hubungan keluarga yang lebih dekat jika dibanding dengan rataan hubungan kekerabatan kelompok tempat ternak tersebut berada (Noor, 2008). Kedua individu yang dikawinkan secara
inbreeding tersebut akan mempunyai moyang bersama pada beberapa generasi ke atas, sehingga informasi mengenai silsilah keturunannya sangat diperlukan. Sistem pencatatan silsilah di Denkavkud sudah sangat baik. Identitas asal keturunan ditulis dengan rinci dalam Buku Register Kuda (BRK) sampai delapan generasi. Menurut Cervantes et al. (2007), nilai koefisien inbreeding bergantung pada kualitas informasi silsilah khususnya pada generasi awal yang terdaftar.
Koefisien Inbreeding
Pengukuran derajat inbreeding biasanya menggunakan indikator nilai koefisien inbreeding yang dapat dihitung dengan dua cara, yakni ditilik dari sudut individu dan dari sudut populasi (Elrod dan Stansfield, 2002). Perhitungan nilai koefisien inbreeding ini dihitung dengan metode analisis silsilah yaitu dengan menelusuri leluhur dari induk dan pejantan. Jika tidak memiliki moyang bersama, individu tersebut bukanlah hasil perkawinan sedarah, sehingga nilai Fx = 0. Namun, jika memiliki moyang bersama, ditelusuri semua silsilah dari mulai orangtua individu tersebut, lalu menuju moyang bersama dan kembali lagi ke orangtua yang lain dari individu tersebut (Allendorf dan Luikart, 2008).
Data silsilah yang terdapat dalam BRK sudah berupa diagram alokade (Gambar 7). Data silsilah tersebut kemudian dianalisis untuk mencari moyang bersama dan selanjutnya dibuat diagram panah (Gambar 8). Pembuatan diagram panah harus dilakukan dengan penuh ketelitian. Nama suatu individu hanya boleh disebutkan satu kali (tidak boleh diulang) dan untuk memudahkan analisis, diperbolehkan untuk menggunakan inisial dari nama individu tersebut. Nama yang digunakan dalam perhitungan ini menggunakan insial huruf pertama kuda tersebut. Jika diagram panah sudah berhasil dibuat, selanjutnya pembuatan diagram alur berdasarkan jalur lintasan yang terdiri dari moyang bersama dari tetua yang inbred. Kontribusi dari masing-masing alur dihitung dengan rumus untuk mendapatkan nilai koefisien inbreeding (Tabel 7, 8 dan 9). Berikut adalah contoh perhitungan dari B. Raflesia.
29 Gambar 7. Bentuk Alokade Silsilah B. Raflesia
P. 90-08 B. Anggrek Jragem 149 cm P. 75-21 G. Ciremai Jragem 154 cm P. 79-03 B.Lembana Jragem 134 cm P.07-09 B. Raflesia Jragem 134 cm P.93-30 G.Boliohutu Hitam 155 cm Revelrex 279/KTO/ LN/1985 P.84-14 B. Lasiah Dawuk 150 cm A. 175 108 M. 62-79 P. 67-04 P.70-15 Domingus Dawuk P.79-09 Dirgahayu Hitam A.55-01 Chevaliere Hitam P.59 -04 Napas A.55-01 Chevaliere P.60-06 Hitam A.54-20 Hitam A.139 Merah A.175 Farouk A.177 Merah P. 61-01 G. Kantong A. 55-01 Chevalier P. 61-05 Merah P. 73-09 Hitam A. 55-01 A. 125
30 Gambar 8. Diagram Panah B. Raflesia
Tabel 7. Diagram Alur B. Raflesia
Tabel 8. Diagram Alur B. Lasiah
Tabel 9. Diagram Alur B. Anggrek
Berdasarkan hasil analisis, Jika terdapat tetuanya yang dinyatakan inbred, maka ditambahkan sebagai data sampel, sehingga jumlah sampel dari Kinak menjadi 55 ekor kuda dan jumlah sampel dari Kikav menjadi 24 ekor kuda. Nilai koefisien
inbreeding masing-masing individu di Kinak dan Kikav berdasarkan hasil perhitungan seperti di atas disajikan pada Tabel 10 dan 11.
Lintasan n Kontribusi R B – L – Di – Che – Ci – A R 6 (½)6 = 0,016 R B – L – Di – Che – Lm – A R 6 (½)6 = 0,016 R B – L – Do – K – Che – Ci – A R 7 (½)7 = 0,008 R B – L – Do – K – Che – Lm – A R 7 (½)7 = 0,008 R B – L – Do – P.61 – F – P.60 – Lm – A R 8 (½)8 = 0,004 Fx 0,051 Lintasan n Kontribusi L Do – K – Che– Di L 4 (½)4 = 0,062 L Di – P.73 – Li – Che– K – Do L 6 (½)6 = 0,016 Fx 0,078 Lintasan n Kontribusi A Ci – Che – Lm A 3 (½)3 = 0,125 Fx 0,063 Ci L Do K Che Di A B R P.60 Lm F P.61
31 Tabel 10. Nilai Koefisien Inbreeding Kuda di Kinak
Jenis
Kelamin Nama Kuda
Koefisien
Inbreeding
Jenis
Kelamin Nama Kuda
Koefisien
Inbreeding
Jantan G. Dirgahayu 0,125 Betina B. Kasmaran 0,036
Jantan G. Kinibalu 0,250 Betina B. Kemuning 0,047
Jantan G. Manglayang 0,063 Betina B. Kesumba 0,035
Jantan G. Nakula 0,125 Betina B. Kreklili 0,063
Jantan G. Panataran 0,125 Betina B. Lasiah 0,078
Jantan G. Rinjani 0,250 Betina B. Lavender 0,063
Jantan G. Sibuatan 0,020 Betina B. Magiwi 0,125
Jantan G. Tulis 0,078 Betina B. Mayuba 0,050
Betina B. Anggrek 0,125 Betina B. Merak 0,125
Betina B. Bakung 0,016 Betina B. Montana 0,035
Betina B. Caktus 0,047 Betina B. Oer 0,250
Betina B. Calas 0,250 Betina B. Oxytropus 0,049
Betina B. Saluyu 0,031 Betina B. Pegi 0,250
Betina B. Doni 0,063 Betina B. Pertela 0,250
Betina B. Edelwis 0,023 Betina B. Petunia 0,031
Betina B. Gelenye 0,016 Betina B. Raflesia 0,051
Betina B. Gladiola 0,047 Betina B. Seleksek 0,063
Betina B. Gulmas 0,023 Betina B. Sunia 0,125
Betina B. Hebras 0,036 Betina B. Vista Soyka 0,031
Betina B. Kantil 0,141 Betina B. Wulan 0,125
Betina B. Karmila 0,125 Betina B. Yoga 0,250
Betina B. Karuk 0,125 Betina B. Prilili 0,063
Betina B. Radeana 0,031 Betina B. Calas 0,250
Rataan 0,099
Keterangan: G = Gunung (jantan) dan B = Bunga (betina)
Berdasarkan data yang diperoleh, nilai koefisien inbreeding di Kikav (0,091) sedikit lebih kecil daripada di Kinak (0,099). Hal ini menunjukkan bahwa kuda di Kikav memiliki kualitas yang lebih unggul baik secara fenotipik maupun genetik. Bukti nyata bahwa kuda di Kikav memiliki kualitas yang lebih baik diantaranya mampu lolos remonte, dan nilai koefisien inbreedingnya relatif lebih kecil.
32 Tabel 11. Nilai Koefisien Inbreeding Kuda di Kompi Kavaleri Kikav
Jenis
Kelamin Nama Kuda
Koefisien
Inbreeding
Jenis
Kelamin Nama Kuda
Koefisien
Inbreeding
Jantan G. Kandaka 0,036 Betina B. Rampai 0,055
Jantan G. Merbabu 0,045 Betina B. Rinduy 0,156
Jantan G. Paniki 0,041 Betina B. Rosmeri 0,027
Betina B. Aster 0,063 Betina B. Seruni 0,063
Betina B. Badaus 0,016 Betina B. Sikas 0,125
Betina B. Clincing 0,281 Betina B. Simles 0,044
Betina B. Kenikir 0,031 Betina B. Suji 0,063
Betina B. Mega 0,250 Betina B. Tongkeng 0,094
Betina B. Minari 0,063 Betina B. Viera 0,041
Betina B. Nirwana 0,184 Betina P.62-03 0,250
Betina B. Perdu 0,066 Betina P.63-03 0,250
Rataan 0,091
Keterangan: G = Gunung (jantan) dan B = Bunga (betina)
Nilai koefisien inbreeding pada kedua Kompi Kikav dan Kinak tersebut termasuk kategori sedang. Hal ini disebabkan keterbatasan jumlah pejantan dalam populasi sehingga pergerakan dari setiap individu terbatas. Kuda tersebut hanya dikawinkan dengan individu disekitarnya. Perkawinan dari populasinya tidak secara acak bahkan ada kemungkinan masih memiliki hubungan keluarga. Hal ini sesuai dengan pendapat Wiener (1994) yang menyatakan bahwa dalam populasi yang terbatas, inbreeding tidak dapat dihindari secara penuh tetapi hanya dapat dikurangi. Kesempatan dua ternak memiliki moyang bersama akan lebih banyak didalam populasi yang kecil daripada populasi yang besar. Inbreeding mampu meningkat tajam ketika jumlah beberapa generasi tetua terbatas, khususnya karena jumlah jantan yang digunakan sebagai pejantan sangat sedikit.
Menurut Wiener (1994), efek inbreeding baru akan mempengaruhi performa ternak setiap kenaikan 1% koefisien inbreeding. Bahkan pada sapi perah Holstein, setiap peningkatan 1% koefisien inbreeding akan mengakibatkan penurunan 29,6 kg produksi susu, 1,08 kg lemak susu dan 0,97 kg protein (Wiggans et al., 1995) dan pada domba Thalli menyebabkan penurunan 0,051 kg bobot lahir dan 0,048 kg pada bobot 60 hari (Hussain et al., 2006). Selain mempengaruhi aspek produktivitas,
33
inbreeding mempengaruhi aspek reproduksi ternak seperti yang dijelaskan Smith et al. (1998) bahwa pada sapi Holstein, umur beranak pertama meningkat 0,4 hari, selang beranak meningkat 0,3 hari dan lama umur produktif menurun 13,1 hari setiap kenaikan 1% koefisien inbreeding.
Rataan nilai koefisien inbreeding di Denkavkud secara umum adalah sebesar 0,083±0,081 dengan nilai koefisien inbreeding tertinggi mencapai 0,281 (Kuda B. Clincing di Kikav), sedangkan nilai terendah 0,016 (Kuda B. Bakung dan B. Gelenye di Kinak serta Kuda B. Badaus di Kikav). Hampir semua kuda memiliki derajat
inbreeding, diantaranya sebanyak 86,08% dari total semua sampel, sedangkan jumlah individu yang tidak inbred jumlahnya sangat sedikit, hanya 16,36% untuk populasi kuda di Kinak dan 8,33% untuk populasi kuda di Kikav.
Cervantes et al. (2007) menyajikan nilai koefisien inbreeding berdasarkan selang angka tertentu. Selang nilai tersebut adalah F = 0, nilai F antara 0%-6,25%, nilai F antara 6,25%-12,5%, dan nilai F lebih dari 12,5%. Berdasarkan selang nilai tersebut dapat diasumsikan bahwa nilai F = 0 termasuk kategori non inbred, nilai F antara 0%-6,25% termasuk kategori rendah, nilai F antara 6,25%-12,5% termasuk kategori sedang dan nilai F lebih dari 12,5% termasuk kategori tinggi. Oleh karena itu, kebanyakan individu kuda di Kinak memiliki koefisien inbreeding kategori tinggi dan rendah, yaitu masing-masing sebanyak 34,55%, sedangkan di Kikav mayoritas masuk dalam kategori rendah dengan nilai berkisar antara 0%-6,25% yaitu sebanyak 41,67%. Tabel 12 menyajikan jumlah dan persentase kuda di Kinak dan Kikav berdasarkan selang kategori dan Tabel 13 menyajikan nama-nama kuda yang bukan inbred.
Tabel 12. Kategori Nilai Koefisien Inbreeding di Denkavkud
Kategori Kinak Kikav
N (ekor) (%) N (ekor) (%) F = 0 9 16,36 2 8,33 0 < F < 6,25% 19 34,55 10 41,67 6,25% < F < 12,5% 8 14,55 6 25,00 F > 12,5% 19 34,55 6 25,00 Jumlah 55 100,00 24 100,00
34 Tabel 13. Kuda yang Bukan Inbred di Kinak dan Kikav
Jenis Kelamin Nama Kuda Tempat
Jantan G. Kumitir Kinak
Jantan G. Redoura Kikav
Jantan G. Leissier Kinak
Jantan G. Brockman Kinak
Betina B. Alfina Kinak
Betina B. Antirium Kinak
Betina B. Arumdalu Kinak
Betina B. Dewa Kinak
Betina B. Lesliy Kinak
Betina B. Sridana Kinak
Betina B. Suplir Kikav
Keterangan: G = Gunung (jantan) dan B = Bunga (betina)
Menurut Miglior et al. (1992), ketika nilai koefisien inbreeding lebih besar daripada 12,5%, tekanan inbreeding akan meningkat tajam dari yang diduga dan akan tepat jika pengawinannya secara disengaja, yaitu dikawinkan dengan ternak luar biasa yang memiliki nilai pemuliaan tinggi. Kuda yang memiliki tingkat inbreeding
tinggi merupakan individu-individu kuda keturunan dari pejantan G. Boliohutu, seekor kuda hitam berumur 17 tahun yang merupakan keturunan dari kuda Australia (Revel Rex) dengan betina lokal Parongpong (B. Lasiah). Setiap keturunan G. Boliohutu berpeluang besar memiliki derajat inbreeding karena induk dari kuda tersebut merupakan inbred dengan koefisien sebesar 0,078 (Kuda B. Lasiah), sedangkan kuda yang tidak inbred merupakan keturunan pejantan asal luar negeri seperti G. Fujiyama (Asal Kazakhtan). Setiap keturunan Sir Tristan juga tidak ditemukan yang inbred karena dari silsilah tetuanya tidak ada yang pernah kawin sekerabat. Namun, karena Sir Tristan merupakan kuda baru, jumlah keturunannya masih sangat sedikit dan masih berumur pra sapih.
35
Laju Inbreeding
Suatu populasi yang kecil dapat menyebabkan inbreeding terjadi secara bebas dan sulit dihindari. Peningkatan inbreeding dalam populasi dapat diduga secara kasar berdasarkan jumlah pejantan yang digunakan dan jumlah betina yang dijadikan induk. Berdasarkan hasil perhitungan (Tabel 14), laju inbreeding di Kinak dan Kikav masing-masing sebesar 2,89% dan 0,34%. Jumlah pejantan yang dihitung di Kinak adalah sebanyak lima ekor, diantaranya G. Boliohutu, G. Fujiyama, Sir Tristan dan dua ekor colt yang sedang disiapkan sebagai pejantan yaitu G. Brockman dan G. Leissier. Kedua kuda tersebut merupakan keturunan dari Sir Tristan dengan kuda betina Thoroughbred asal Australia dan belum digunakan sebagai pejantan karena masih berumur dua tahun. Laju inbreeding Kikav hanya dihitung berdasarkan jumlah betina karena tidak ada pejantan.
Tabel 14. Nilai Laju Inbreeding per Generasi
Jenis Kelamin / Laju Inbreeding
Tempat Jumlah
(ekor) Kinak (ekor) Kikav (ekor)
Pejantan dan
Calon Pejantan 5 * 5
Betina 32 37 69
Laju Inbreeding (%) 2,89 0,34
Keterangan: *Tidak ada pejantan
Laju inbreeding di Kinak lebih besar daripada di Kikav (Tabel 14). Tingginya nilai koefisien dan laju inbreeding di Kinak disebabkan beberapa faktor, diantaranya jumlah pejantan yang digunakan relatif sedikit (5 ekor), efektivitas ukuran populasi yang kurang proporsional dan penggunaan recording yang belum optimal. Menurut Toelihere (1993), jumlah kuda betina yang dapat dilayani seekor pejantan dengan inseminasi buatan adalah sebanyak enam ekor per ejakulat. Volume semen kuda per ejakulat sekitar 30-250 ml dengan rataan 70 ml dan total sperma per ejakulat rata-rata 8,4 milyar. Terkait penggunaan recording yang belum optimal, setiap perkawinan belum mengacu kepada catatan silsilah yang terdapat pada Buku Registrasi Kuda (BRK). Menurut Sevinga et al. (2004), dengan laju inbreeding yang rendah, resiko kehilangan variasi genetik dalam populasi berkurang dan diharapkan efek dari tekanan inbreeding pun dapat lebih baik.
36 Demi pelestarian sumberdaya genetik dan upaya peningkatan produktivitas, akan lebih baik jika kemudian dilakukan penambahan jumlah pejantan ataupun melakukan pergiliran pejantan setiap dua tahun sekali dengan peternakan kuda lain, serta penggunaan pejantan bangsa murni. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sevinga
et al. (2004), bahwa salah satu kebijakan dalam pembibitan diantaranya melakukan penekanan penggunaan pejantan sehingga menghasilkan keturunan dengan koefisien
inbreeding yang relatif rendah. Upaya penurunan kecenderungan inbreeding perlu