Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Laboratorium Lapang Ilmu dan Teknologi Tumbuhan Pakan dan Pastura, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, sehingga faktor-faktor yang mempengaruhi tanaman, seperti intensitas cahaya matahari, suhu lingkungan, kelembaban, dan angin yang diterima oleh tanaman relatif sama. Suhu dan kelembaban rata-rata selama penelitian pada pagi hari masing-masing adalah 25,50C dan 91,9%, sedangkan pada siang hari adalah 39,30C dan 50,6%. Suhu dan kelembaban di rumah kaca selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Suhu dan Kelembaban Selama Penelitian Berlangsung
Waktu Pukul Suhu (0C) Kelembaban (%) Kisaran Rataan Kisaran Rataan Pagi 06.15-08.00 20-33 25,5 75-100 91,9 Siang 10.22-13.00 36-42 39,3 43-58 50,6
Kondisi ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Sarief (1985) bahwa kisaran maksimum pertumbuhan tanaman adalah antara 150C dan 400C yang pada umumnya, temperatur terbaik untuk pertumbuhan tanaman, juga terbaik untuk pertumbuhan organisme tanah.
Selama masa adaptasi, dilakukan beberapa kali penyulaman, yaitu ketika tanaman berumur dua dan tiga minggu setelah tanam. Setelah semua tanaman dapat beradaptasi, tanaman di-trimming, kemudian dilakukan pengukuran tinggi vertikal tanaman dan jumlah anakan setiap minggu. Panen pertama dilakukan 30 hari setelah
trimming, sedangkan panen kedua dilakukan 30 hari setelah panen pertama. Pada
panen kedua, selain tajuk, dipanen pula akarnya. Daun menguning pada periode tanam II karena unsur hara pada media tanam semakin berkurang.
Selama penelitian berlangsung, terdapat beberapa tanaman yang terserang kutu daun. Kutu daun ini mengelompok pada bagian bawah permukaan daun dan batang. Serangan kutu daun dapat diatasi dengan pemberian insektisida (CANON) pada konsentrasi 0,2 ml/l air.
Rekapitulasi Hasil Analisis Ragam
Rekapitulasi hasil analisis ragam untuk setiap peubah pertambahan tinggi vertikal, jumlah anakan, berat kering tajuk, berat kering akar, persentase infeksi akar, dan jumlah spora pada media tanam latosol dan tailing emas Pongkor disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Rekapitulasi Hasil Sidik Ragam pada Tanah Latosol dan Tailing Emas Pongkor Parameter PTV JA BKT BKA IA JS (cm/minggu) (g) (g) (%) Tanah Latosol Periode tanam/ tn tn tn - - - Panen I Periode tanam/ tn tn * tn tn * Panen II
Tailing Emas Pongkor
Periode tanam/ tn tn * - - - Panen I
Periode tanam/ * tn * tn * * Panen II
Keterangan: * = nyata (P<0,05); tn = tidak nyata; PTV = pertambahan tinggi vertikal; JA = jumlah anakan; BKT = berat kering tajuk; BKA = berat kering akar; IA = infeksi akar; JS = jumlah spora
Pertumbuhan dan Produksi Panicum maximum Jacq. var. Trichoglume pada Tanah Latosol
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian mikroorganisme dan asam humat pada media tanam latosol nyata mempengaruhi (P<0,05) jumlah spora dan berat kering tajuk panen II, tetapi tidak mempengaruhi (P>0,05) pertambahan tinggi vertikal periode tanam I dan II, jumlah anakan periode tanam I dan II, berat kering tajuk panen I, berat kering akar, dan persentase infeksi akar pada Panicum
maximum Jacq. var. Trichoglume. Hasil pengukuran Panicum maximum Jacq. var. Trichoglume pada tanah latosol disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Hasil Pengukuran Panicum maximum Jacq. var. Trichoglume pada Tanah Latosol Perlakuan Peubah PTV I PTV II JA I JA II BKT I BKT II BKA IA JS (cm/minggu) (cm/minggu) (g) (g) (g) (%) Ctrl 16,34 14,88 5,0 6,0 6,48 8,10ab 5,08 23,6 56,2b M 13,82 13,30 6,0 7,0 7,88 9,28a 6,62 23,6 50,4b MA 17,02 15,03 6,8 6,0 6,84 9,60a 4,90 31,6 177,8a MP 17,60 13,17 4,4 4,4 7,34 7,50abc 4,70 25,6 143,4ab MH 18,56 13,13 5,6 4,6 6,54 6,56bc 2,78 10,8 55,4b MPA 17,34 13,48 5,0 2,0 6,44 5,48c 3,80 17,0 60,8b MPAH 16,84 11,95 6,4 8,4 6,54 8,30ab 5,24 18,0 58,8b
Keterangan: Superskrip yang berbeda pada kolom yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05); Ctrl = kontrol; M = CMA; MA = CMA + Azospirillum sp.; MP = CMA + BPF; MH = CMA + asam humat; MPA = CMA + BPF + Azospirillum sp.; MPAH = CMA + BPF + Azospirillum sp. + asam humat; PTV I = pertambahan tinggi vertikal periode tanam I; PTV II = pertambahan tinggi vertikal periode tanam II; JA I = jumlah anakan periode tanam I; JA II = jumlah anakan periode tanam II; BKT I = berat kering tajuk panen I; BKT II = berat kering tajuk panen II; BKA = berat kering akar; IA = infeksi akar; JS = jumlah spora
Pertambahan Tinggi Vertikal
Pertambahan tinggi vertikal merupakan salah satu cara pengukuran untuk mengetahui pertumbuhan suatu tanaman pada fase vegetatif. Pemberian mikroorganisme dan asam humat pada media tanam latosol tidak mempengaruhi pertambahan tinggi vertikal periode tanam I dan II.
Tinggi vertikal tanaman periode tanam I dan II mengalami peningkatan setiap minggu, namun pertambahan tinggi vertikal menurun ketika menjelang usia panen. Grafik tinggi vertikal rumput periode tanam I dan II disajikan pada Gambar 1 dan 2.
0 20 40 60 80 100 120 140 1 2 3 4 5 Minggu ke-Ti n gg i V er ti k al (c m ) M M A M P M H M PA M PAH Ctrl
Gambar 1. Tinggi Vetikal Panicum maximum Jacq. var. Trichoglume Periode Tanam I pada Tanah Latosol
0 20 40 60 80 100 120 140 1 2 3 4 5 6 Minggu ke-Ti n ggi V er ti k al (c m) M MA MP MH MPA MPAH Ctrl
Gambar 2. Tinggi Vetikal Panicum maximum Jacq. var. Trichoglume Periode Tanam II pada Tanah Latosol
Jumlah Anakan
Jumlah anakan merupakan salah satu bagian yang menunjukkan pertumbuhan dan perkembangbiakan tanaman pada fase vegetatif. Pemberian mikroorganisme dan asam humat pada media tanam latosol tidak nyata mempengaruhi jumlah anakan pada periode tanam I dan II.
Berat Kering Tajuk
Berat kering tajuk digunakan untuk mengukur pertambahan massa kering suatu tanaman. Pemberian mikroorganisme dan asam humat pada media tanam latosol nyata (P<0,05) mempengaruhi berat kering tajuk panen II, tetapi tidak mempengaruhi berat kering tajuk panen I.
Hasil uji lanjut Duncan dari berat kering tajuk panen II menunjukkan bahwa MA dan M tidak berbeda nyata dengan MPAH, Ctrl, dan MP, tetapi berbeda nyata dengan MH dan MPA. Grafik berat kering tajuk panen I dan II dapat dilihat pada Gambar 3. ab ab c bc abc a a 0 2 4 6 8 10 12 M MA MP MH MPA MPAH Ctrl Perlakuan B era t Ke rin g T aj u k ( g) Panen I Panen II
Gambar 3. Berat Kering Tajuk Panicum maximum Jacq. var. Trichoglume pada Tanah Latosol
Berat Kering Akar
Pemberian mikroorganisme dan asam humat pada media tanam latosol tidak berpengaruh terhadap berat kering akar.
Infeksi Akar
Pesentase infeksi akar digunakan untuk mengetahui seberapa besar akar yang terinfeksi oleh CMA. Pemberian mikroorganisme dan asam humat pada media tanam latosol tidak mempengaruhi persentase akar yang terinfeksi oleh CMA.
Jumlah Spora
Jumlah spora merupakan parameter untuk mengetahui perkembangan sporolisasi CMA, baik yang diinokulasikan maupun yang terbawa secara alami pada media tanam. Pemberian mikroorganisme dan asam humat pada media tanam latosol nyata (P<0,05) mempengaruhi jumlah spora yang terbentuk.
Jumlah spora yang terbentuk pada media tanam latosol dapat dilihat bahwa perlakuan MA tidak berbeda nyata dengan MP, tetapi berbeda nyata (P<0,05) dengan MPA, MPAH, Ctrl, MH, dan M. Grafik jumlah spora dapat dilihat pada Gambar 4.
b a ab b b b b 0 50 100 150 200 M MA MP MH MPA MPAH Ctrl Perlakuan Ju ml ah S p or a
Gambar 4. Jumlah Spora Panicum maximum Jacq. var. Trichoglume pada Tanah Latosol
Pertumbuhan dan Produksi Panicum maximum Jacq. var. Trichoglume pada Tailing Emas Pongkor
Pemberian mikroorganisme dan asam humat pada media tanam tailing nyata (P<0,05) mempengaruhi pertambahan tinggi vertikal periode tanam II, berat kering tajuk panen I dan II, persentase infeksi akar, dan jumlah spora, tetapi tidak nyata mempengaruhi pertambahan tinggi vertikal periode tanam I, jumlah anakan periode tanam I dan II, dan berat kering akar Panicum maximum Jacq. var. Trichoglume.
Hasil pengukuran Panicum maximum Jacq. var. Trichoglume pada tailing emas Pongkor dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Hasil Pengukuran Panicum maximum Jacq. var. Trichoglume pada
Tailing Emas Pongkor
Perlakuan Peubah PTV I PTV II JA I JA II BKT I BKT II BKA IA JS (cm/minggu) (cm/minggu) (g) (g) (g) (%) Ctrl 5,760 6,65a 0,2 0,40 0,220b 1,65bc 2,060 9,4b 0,2b M 3,180 4,15ab 0,8 1,00 0,420b 1,74bc 1,740 10,6b 0,2b MA 5,325 3,20b 0,5 0,75 0,475b 1,38c 1,460 8,2b 2,0a MP 4,800 2,97b 0,0 0,25 0,325b 1,45c 1,125 7,6b 0,2b MH 7,920 4,82ab 0,6 0,60 0,700ab 2,96ab 1,880 10,8b 0,6b MPA 7,940 5,68ab 0,2 0,40 1,040a 3,24a 2,220 19,4ab 0,6b MPAH 9,660 5,08ab 0,2 1,40 1,040a 3,26a 2,240 30,2a 1,2ab
Keterangan: Superskrip yang berbeda pada kolom yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05); Ctrl = kontrol; M = CMA; MA = CMA + Azospirillum sp.; MP = CMA + BPF; MH = CMA + asam humat; MPA = CMA + BPF + Azospirillum sp.; MPAH = CMA + BPF + Azospirillum sp. + asam humat; PTV I = pertambahan tinggi vertikal periode tanam I; PTV II = pertambahan tinggi vertikal periode tanam II; JA I = jumlah anakan periode tanam I; JA II = jumlah anakan periode tanam II; BKT I = berat kering tajuk panen I; BKT II = berat kering tajuk panen II; BKA = berat kering akar; IA = infeksi akar; JS = jumlah spora
Pertambahan Tinggi Vertikal
Pemberian mikroorganisme dan asam humat nyata (P<0,05) mempengaruhi pertambahan tinggi vertikal tanaman periode tanam II yang ditanam di media tailing, tetapi tidak nyata mempengaruhi pertambahan tinggi vertikal periode tanam I. Hasil uji lanjut Duncan dari pertambahan tinggi vertikal periode tanam II menunjukkan bahwa perlakuan Ctrl berbeda nyata (P<0,05) dengan MA dan MP dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan lainnya.
Tinggi vertikal tanaman pada periode tanam I dan II mengalami peningkatan setiap minggu. Grafik pertambahan tinggi vertikal rumput periode tanam I dan II masing-masing disajikan pada Gambar 5 dan 6.
0 10 20 30 40 50 60 70 80 1 2 3 4 5 Minggu ke-ti nggi V er ti kal M MA MP MH MPA MPAH Ctrl
Gambar 5. Tinggi Vertikal Panicum maximum Jacq. var. Trichoglume Periode Tanam I pada Tailing Emas Pongkor
0 10 20 30 40 50 60 1 2 3 4 5 6 Minggu ke-Ti ng gi V er ti ka l M MA MP MH MPA MPAH Ctrl
Gambar 6. Tinggi Vertikal Panicum maximum Jacq. var. Trichoglume Periode Tanam II pada Tailing Emas Pongkor
Jumlah Anakan
Pemberian mikroorganisme dan asam humat pada media tailing tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan yang dihasilkan oleh tanaman, baik pada periode tanam I maupun II.
Berat Kering Tajuk
Pemberian mikroorganisme dan asam humat pada media tanam tailing nyata (P<0,05) mempengaruhi berat kering tajuk panen I dan II. Berat kering tajuk panen I dapat dilihat bahwa MPA dan MPAH tidak berbeda nyata dengan MH, namun berbeda nyata dengan MA, M, MP, dan Ctrl. Hasil uji lanjut Duncan pada berat kering tajuk panen II menunjukkan bahwa MPAH dan MPA tidak berbeda nyata dengan MH, tetapi berbeda nyata (P<0,05) dengan M, Ctrl, MP dan MA. Grafik berat kering tajuk rumput panen I dan II disajikan pada Gambar 7.
b a a ab b b b bc a a ab c c bc 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 M MA MP MH MPA MPAH Ctrl Perlakuan B er at K er in g Taju k (g) Panen I Panen II
Gambar 7. Berat Kering Tajuk Panicum maximum Jacq. var. Trichoglume pada Tailing Emas Pongkor
Berat Kering Akar
Pemberian mikroorganisme dan asam humat pada media tanam tailing tidak berpengaruh terhadap berat kering akar panen I dan II.
Infeksi Akar
Penghitungan akar yang terinfeksi dilakukan untuk mengetahui berapa persen akar yang terinfeksi oleh cendawan mikoriza arbuskula (CMA). Pemberian mikroorganisme dan asam humat pada media tanam tailing Pongkor nyata (P<0,05) mempengaruhi persentase infeksi akar.
Persentase infeksi akar menunjukkan bahwa perlakuan MPAH berbeda nyata dengan perlakuan lainnya, kecuali MPA. Grafik infeksi akar disajikan pada Gambar 8. b a ab b b b b 0 5 10 15 20 25 30 35 M MA MP MH MPA MPAH Ctrl Perlakuan In fe k s i A kar ( % )
Gambar 8. Persentase Infeksi Akar Panicum maximum Jacq. var.
Jumlah Spora
Pemberian mikroorganisme dan asam humat pada media tanam tailing Pongkor nyata (P<0,05) mempengaruhi jumlah spora. Penambahan MA tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan MPAH, tetapi berbeda nyata (P<0,05) dengan perlakuan lainnya. Grafik jumlah spora disajikan pada Gambar 9.
b ab b b b a b 0 0.5 1 1.5 2 2.5 M MA MP MH MPA MPAH Ctrl Perlakuan Ju m lah S p o ra
Gambar 9. Jumlah Spora Panicum maximum Jacq. var. Trichoglume pada Tailing Emas Pongkor
Pembahasan
Pengaruh Pemberian Mikroorganisme dan Asam Humat terhadap Rumput Panicum maximum Jacq. var. Trichoglume pada Media Tanah Latosol
Tanah latosol Darmaga berdasarkan analisis yang dilakukan oleh Maryani (1999) memiliki pH masam (5,4), KTK, kejenuhan basa, C organik, N total, ketersediaan Ca, Mg, dan K yang rendah serta kejenuhan Al dan P tersedia yang sangat rendah, sementara ketersediaan Na dan Fe dalam jumlah yang sedang. Tanah latosol Darmaga memiliki tekstur pasir 21,65%, debu 14,24%, dan liat 64,11%.
Kemampuan pertukaran kation yang rendah pada tanah latosol disebabkan oleh kurangnya bahan organik tanah dan sifat liat hidrat oksida (Buckman dan Brady, 1982; Soepardi, 1983). Kandungan mineral-mineral terlarut dalam jumlah yang rendah. Nitrogen, fosfor, dan kalium yang merupakan mineral primer terkandung di dalam tanah latosol Darmaga dalam jumlah yang sangat rendah. Pemberian pupuk NPK sebagai pupuk dasar yang diberikan di awal penanaman meningkatkan ketersediaan unsur hara primer, yaitu N, P, dan K, sehingga kekurangan unsur-unsur hara tersebut pada fase awal pertumbuhan dapat diatasi.
Penambahan CMA saja (M); kombinasi CMA dan Azospirillum sp. (MA); CMA dan BPF (MP); CMA, BPF, Azospirillum sp., dan asam humat (MPAH) maupun tanpa penambahan (Ctrl) pada media tanam latosol memberikan pengaruh yang tidak berbeda dalam menghasilkan berat kering tajuk panen II. Berat kering tajuk merupakan faktor produksi tanaman hijauan makanan ternak. Produksi
Panicum maximum Jacq. var. Trichoglume terbaik ditunjukkan oleh produksi berat
kering tajuk yang paling tinggi, yaitu dengan penambahan kombinasi CMA dan
Azospirillum sp. (MA) sebesar 9,6 gram.
Rataan jumlah spora paling banyak juga ditemukan pada media tanam latosol yang diberi penambahan CMA dan Azospirillum sp. (MA), yaitu 177,8 spora per 50 gram berat kering angin media tanam. Jumlah spora merupakan parameter untuk mengetahui perkembangan sporolisasi CMA, baik yang diinokulasikan maupun yang terbawa secara alami pada media tanam. Hasil penghitungan jumlah spora menunjukkan bahwa pertumbuhan CMA terbaik pada perlakuan MA.
Penambahan kombinasi CMA dan Azospirillum sp. (MA) dapat menghasilkan produksi Panicum maximum Jacq. var. Trichoglume terbaik karena didukung oleh pertumbuhan mikroorganisme tanah, terutama CMA dan Azospirillum. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Dian (2003), bahwa berat kering tajuk rumput Setaria
splendida Stapf. dapat ditingkatkan dengan penambahan CMA bersama-sama dengan Azospirillum sp. pada tanah podzolik merah kuning (PMK). Peningkatan terjadi
karena dengan adanya CMA, penyediaan dan penyerapan unsur hara terutama P menjadi lebih baik. Selain itu, adanya peningkatan N tersedia dan fitohormon yang dihasilkan oleh Azospirillum sp., sehingga perkembangan akar dan tajuk tanaman menjadi lebih baik. Fosfor pada tanah ber-pH rendah diserap paling banyak dalam bentuk H2PO42-. Tanaman juga menyerap P dalam bentuk fosfat organik (fosfolipid, asam nukleat dan phytin), namun jumlahnya sangat sedikit (Hanafiah, 2005).
Hasil penelitian Karti (2003) menunjukkan bahwa pemberian isolat bakteri
Azospirillum sp. pada tanah PMK dapat meningkatkan produksi, kadar N tajuk dan
akar serta serapan N total rumput Setaria splendida. Hasil yang berbeda ditunjukkan oleh Chloris gayana. Pemberian isolat bakteri Azospirillum sp. pada tanah PMK hanya mempengaruhi peningkatan kadar N tajuk dan akar, tetapi tidak terhadap produksi dan pertumbuhan serta serapan N total Chloris gayana.
Azospirillum merupakan bakteri tanah yang berperan dalam proses fiksasi
nitrogen, yaitu mengubah gas nitrogen (N2) di udara menjadi nitrat (NO3-) dan amonium (NH4+) sehingga ketersediaan N di dalam tanah meningkat (Rao, 1994). Nitrogen di dalam tanaman berperan sebagai penyusun semua protein (asam-asam amino dan enzim) dan klorofil, dalam koenzim dan asam-asam nukleat, serta hormon tumbuh seperti sitokinin dan auksin dan bahan-bahan yang menyalurkan energi seperti klorofil, ADP, dan ATP. Tanaman tidak dapat melakukan metabolismenya jika kekurangan N untuk membentuk bahan-bahan vital tersebut. Fotosintesis menghasilkan karbohidrat dari CO2 dan H2O, namun proses tersebut tidak dapat berlangsung untuk menghasilkan protein, asam nukleat, dan sebagainya bila N tidak tersedia (Hanafiah, 2005). Bakteri ini juga menghasilkan zat tumbuh seperti IAA, kinetin, dan giberelin (Rao, 1994).
Menurut Karti (2003), isolat bakteri Azospirillum sp. PM2 merupakan isolat yang terbaik dilihat dari segi produksi dan kualitas Setaria splendida dan Chloris
gayana. Isolat PM2 menghasilkan IAA sebesar 6,4 ppm yang merupakan hormon
pertumbuhan yang dapat memacu pertumbuhan akar. Inokulasi Azospirillum mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi padi sawah (Gunarto et al., 2002).
Cendawan mikoriza arbuskula (CMA) yang bersimbiosis dengan akar tanaman inang akan membentuk mikoriza. Mikoriza mampu meningkatkan penyerapan fosfat, air, dan zat hara lainnya dan meningkatkan penyerapan ion yang biasanya berdifusi secara lambat menuju akar atau yang dibutuhkan dalam jumlah banyak, terutama fosfat, NH4+, K+, dan NO3-. Hal ini dimungkinkan karena mikoriza memiliki jaringan hifa eksternal yang luas dan diameter yang lebih kecil dari bulu-bulu akar, sehingga mampu memperluas bidang penyerapan air dan garam-garam mineral di dalam tanah (Salisbury dan Ross, 1995). Hal ini didukung oleh hasil penelitian Abdullah, et al. (2005), bahwa pemanfaatan CMA pada tebu lahan kering memberi dampak positif terhadap pertumbuhan dan produksi tebu, dimana dengan penggunaan CMA sistem perakaran tebu akan lebih baik, dibandingkan dengan tebu yang tidak menggunakan CMA. Inokulasi campuran empat jenis CMA (mycofer), yaitu Glomus manihotis., Glomus etunicatum, Gigaspora margarita, dan
Acaulospora tuberculata mampu meningkatkan pertumbuhan pada bibit panili
Produksi berat kering tajuk dan berat kering akar Setaria splendida dan
Chloris gayana yang ditanam di tanah PMK paling baik pada tanaman yang
ditambah kultur campuran CMA (Gigaspora margarita, Glomus manihotis, Glomus
etinucatum, Acaulospora sp.) atau mycofer dibandingkan dengan kultur tunggal
(Gigaspora margarita, Glomus manihotis, Glomus etinucatum) dan kontrol. Perlakuan kultur campuran (mycofer) mempunyai nilai serapan P yang lebih tinggi pada Setaria splendida dan Chloris gayana. Adanya inokulasi CMA mampu memacu pertumbuhan dan produksi serta serapan P tanaman pada tanah yang kahat unsur hara, terutama P. Peningkatan tersebut disebabkan oleh adanya peningkatan kemampuan tanaman yang terinfeksi CMA untuk menyerap unsur-unsur hara (Karti, 2003).
Pengaruh Pemberian Mikroorganisme dan Asam Humat terhadap Rumput Panicum maximum Jacq. var. Trichoglume pada Media Tailing Emas Pongkor
Tailing merupakan residu yang berasal dari sisa pengolahan bijih setelah target mineral utama dipisahkan. Tailing emas Pongkor menurut Setyaningsih (2007)
memiliki pH netral (7,1), Pb dan Cu terlarut yang tinggi serta kejenuhan basa dan Ca terlarut yang sangat tinggi. Ketersediaan Na dalam keadaan sedang, sedangkan kandungan P, K, Fe, dan Zn terlarut rendah dan nilai KTK, C organik, N total, dan Mg yang sangat rendah. Tailing emas Pongkor memiliki tekstur pasir 53,35%, debu 41,22%, dan liat 5,43%.
Tailing emas Pongkor miskin unsur-unsur hara makro dan mikro, namun
unsur Ca dan Cu terlarut di dalam tailing adalah tinggi. Menurut Hanafiah (2005), Ca dan Cu tersedia di tanah dalam bentuk kation, yaitu dalam bentuk Ca2+ dan Cu2+. Keberadaan kedua kation tersebut dalam jumlah yang tinggi dapat berikatan dengan anion-anion yang berada di dalam tanah. Fosfor yang merupakan salah satu unsur hara makro diserap tanaman dalam bentuk anion, yaitu dalam bentuk H2PO2- dan HPO42-. Tingginya jumlah Ca dan Cu di dalam tanah dapat memfiksasi P menyebabkan P mengendap, sehingga ketersediaannya menurun.
Selain itu, terdapat unsur toksik yang merupakan salah satu masalah di dalam
tailing karena keberadaannya yang tinggi, yaitu logam Pb. Tailing mengandung Pb
total yang tinggi, yaitu 172 ppm (Setyaningsih, 2007). Dengan demikian tailing memiliki kelarutan Pb yang tinggi sehingga hal tersebut dapat bersifat toksik bagi
tanaman. Seperti halnya Ca dan Cu, tingginya Pb terlarut di dalam tanah dapat memfiksasi P dan menyebabkan P mengendap. Kendala pada tailing tersebut dapat diatasi dengan melakukan perbaikan-perbaikan terhadap sifat fisik, kimia maupun sifat biologi tanah melalui penambahan mikroorganisme dan asam humat.
Pertumbuhan dan produktivitas terbaik Panicum maximum Jacq. var.
Trichoglume pada media tailing ditunjukkan oleh perlakuan kombinasi cendawan
mikoriza arbuskula, bakteri pelarut fosfat, Azospirillum sp., dan asam humat (MPAH). Hal tersebut dikarenakan unsur-unsur yang dibutuhkan untuk menunjang pertumbuhan dan produktivitas Panicum maximum Jacq. var. Trichoglume dalam keadaan tersedia.
Unsur N yang merupakan salah satu unsur hara makro tanah yang dibutuhkan oleh tanaman dikandung tailing dalam jumlah yang rendah. Nitrogen diserap oleh tanaman dalam bentuk NO3- dan NH4+. Nitrogen di dalam tanaman berperan sebagai penyusun semua protein (asam-asam amino dan enzim) dan klorofil, dalam koenzim dan asam-asam nukleat, serta hormon tumbuh seperti sitokinin dan auksin, dan bahan-bahan yang menyalurkan energi seperti klorofil, ADP, dan ATP. Tanaman tidak dapat melakukan metabolismenya jika kekurangan N untuk membentuk bahan-bahan vital tersebut. Fotosintesis menghasilkan karbohidrat dari CO2 dan H2O, namun proses tersebut tidak dapat berlangsung untuk menghasilkan protein, asam nukleat, dan sebagainya bila N tidak tersedia (Hanafiah, 2005).
Kekurangan unsur N di dalam tailing emas Pongkor dapat diatasi dengan penambahan Azospirillum sp. ke dalam media tanam. Azospirillum sp. merupakan bakteri tanah yang berperan dalam proses fiksasi nitrogen, yaitu mengubah gas nitrogen (N2) di udara menjadi nitrat (NO3-) dan amonium (NH4+) sehingga ketersediaan N di dalam tanah meningkat. Selain itu, bakteri ini juga menghasilkan zat tumbuh seperti IAA, kinetin, dan giberelin (Rao, 1994).
Hasil penelilitian Karti (2003) menunjukkan bahwa pemberian isolat bakteri
Azospirillum sp. pada tanah podzolik merah kuning (PMK) dapat meningkatkan
produksi, kadar N tajuk dan akar serta serapan N total rumput Setaria splendida. Hasil yang berbeda ditunjukkan oleh Chloris gayana yang merupakan tanaman yang peka terhadap Al tinggi. Pemberian isolat bakteri Azospirillum sp. pada tanah PMK hanya mempengaruhi peningkatan kadar N tajuk dan akar, tetapi tidak terhadap
produksi dan pertumbuhan serta serapan N total Chloris gayana. Inokulasi
Azospirillum mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi padi sawah (Gunarto et al., 2002).
Fosfor di tanah dengan pH di atas 7 akan lebih banyak diserap tanaman dalam bentuk fosfat anorganik (HPO4- dan PO43-). Tanaman juga menyerap P dalam bentuk fosfat organik hasil dekomposisi bahan organik, seperti fosfolipid, asam nukleat dan phytin, namun jumlahnya sangat sedikit. Unsur P rata-rata menyusun 0,2% bagian tanaman, antara lain berfungsi: (1) sebagai komponen beberapa enzim