• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lokasi pengambilan sampel trips dilakukan pada tiga daerah yang berbeda. Lokasi pertama yang digunakan untuk pengambilan sampel trips pada ketinggian tempat yang tinggi yaitu Desa Cipendawa Kabupaten Cianjur. Pada daerah tersebut pengambilan sampel trips dilakukan pada dua petakan pertanaman cabai. Antara kedua petakan tersebut terdapat penghalang/barrier berupa petakan tanaman tomat. Petakan pertanaman cabai pertama memiliki ketinggian tempat 1200 m di atas permukaan laut. Petakan pertanaman cabai kedua memiliki ketinggian tempat 1207 m di atas permukaan laut. Kedua petakan berada pada 06o45’24 LS dan 107o02’40 BT. Tanaman cabai pada lahan pengamatan ini ditanam secara monokultur. Pada lokasi ini komoditas yang ditanam selain cabai merah keriting yaitu padi, caisin, terong, pepaya, pisang, ubi jalar dan jagung.

Lokasi kedua untuk pengamatan adalah tempat dengan ketinggian tempat sedang yaitu Desa Cibeureum Kabupaten Bogor dan Desa Cinangneng Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor. Desa Cibeureum memiliki ketinggian tempat 394 mdpl. Dengan letak lintang 06o36’53 LS dan 106o44’05 BT. Komoditas yang ditanam pada lokasi ini selain cabai hijau keriting adalah ubi jalar, oyong, dan kacang panjang. Desa Cinangneng memiliki ketinggian tempat 290 mdpl dengan letak lintang 06o36’10 LS dan 106o42’30 BT. Para petani di Desa Cinangneng ini juga menanam pisang, padi, dan jagung selain cabai merah keriting.

Lokasi ketiga yang digunakan untuk pengambilan sampel trips pada ketinggian rendah yaitu Desa Bojongnegara Kecamatan Ciledug Kabupaten Cirebon. Pada daerah tersebut dilakukan pengambilan sampel trips pada dua lokasi pertanaman cabai yang berbeda. Kedua petakan pertanaman cabai terpisah oleh jalan umum dan rumah-rumah penduduk. Lokasi pertama memiliki ketinggian tempat 21 m di atas permukaan laut dengan letak lintang 06o53’41 LS dan 108o45’39 BT. Lokasi kedua memiliki ketinggian tempat 27 m di atas permukaan laut dengan letak lintang 06o53’51 LS dan 108o45’26 BT. Komoditas yang ditanam selain cabai merah keriting yaitu padi dan jagung.

Identifikasi Thrips parvispinus

Hama Thrips parvispinus (Gambar 1) bersifat polifag dengan tanaman inang antara lain Crotalaria, Vigna, kopi, mentimun, ubi jalar, tembakau, akan tetapi tanaman inang utamanya adalah cabai (Kalshoven, 1981). Vos et al. (1991) menyatakan bahwa hama tersebut menjadi kendala utama dalam budidaya cabai di pulau Jawa, terutama ketika musim kemarau.

Gambar 1. Imago betina Thrips parvispinus

Tubuh Thrips parvispinus terdiri dari 3 bagian yaitu kepala, toraks, dan abdomen. Bagian toraksnya dibagi lagi menjadi protoraks, mesotoraks dan metatoraks. Bagian abdomen terdiri dari 11 ruas. Alat mulutnya terdiri atas satu mandibula sebelah kiri (mandibula kanan tereduksi) dan sepasang maksila yang berkembang dengan baik, labrum di depan dan labium di belakangnya. Warna tubuh coklat dengan kepala dan toraks lebih pucat daripada abdomen.

Antena terdiri atas 7 buah ruas (Gambar 2) dan pada ruas kedua dan ketiga terdapat organ sensori yang berbentuk kerucut bercabang seperti garpu.

15

Pada bagian kepala terdapat susunan mata majemuk berukuran besar dan memiliki oseli yang pigmennya berwarna merah (Gambar 3). Tidak memiliki seta oseli 1 dan seta oseli 2 lebih pendek daripada seta oseli 3. Seta oseli 3 terdapat di bagian pinggir bagian depan segitiga oseli. Pada bagian toraks terdapat 2 pasang seta posteroangular yang panjang dan 3 pasang seta posteromarginal.

Gambar 3. Kepala Thrips parvispinus

Metanotum memiliki pola retikulasi seperti kotak yang berukuran hampir sama (equiangular) (Gambar 4), tidak terdapat sensila kampaniform dan memiliki mesofurka dengan spinula. Abdomen terdiri dari 11 ruas dan pada tergit 8 tidak terdapat comb (deretan mikrotrikhia). Pada bagian sisi tergit 5 sampai 8 terdapat ctenidia dan pada tergit 8 ctenidia terletak di belakang spirakel.

Gambar 4. Metanotum Thrips parvispinus

Panjang sayap lebih dari setengah panjang abdomen dengan warna sayap gelap atau berbayang, dengan pangkal yang pucat. Pada venasi pertama dan kedua sayap depan terdapat sederet seta yang lengkap. Gambar 5 menunjukkan sayap Thrips parvispinus.

Gambar 5. Sayap Thrips parvispinus

Panjang tubuh Thrips parvispinus

Hasil pengukuran rata-rata panjang tubuh trips dari ketiga lokasi pengamatan berkisar antara 1,350 sampai dengan 1,408 mm sedangkan rentang sayap rata-rata berkisar dari 0,662 sampai dengan 0,714 mm (Tabel 1). Hasil pengamatan terhadap 180 sampel trips yang diperoleh dari tiga ketinggian tempat yang berbeda yaitu Desa Cipendawa-Cianjur, Desa Cibeureum-Bogor, Desa Cinangneng-Bogor dan Desa Bojongnegara-Cirebon, menunjukkan hasil bahwa panjang tubuh trips berkisar 1,050 sampai dengan 1,550 mm sedangkan ukuran rentang sayap berkisar dari 0,525 sampai dengan 0,775 mm (Lampiran 1 dan 2). Pracaya (2003), menyatakan bahwa Thrips parvispinus merupakan serangga yang berukuran kecil dan memiliki panjang tubuh 0,8 sampai dengan 0,9 mm.

Tabel 1 Rata-rata ukuran tubuh Thrips parvispinus pada berbagai ketinggian tempat

Lokasi Ketinggian tempat Rata-rata ukuran tubuh (mm) (mdpl) Panjang tubuh Rentang sayap Cipendawa-Cianjur 1 1200 (Tinggi) 1,408 a 0,714 a Cipendawa-Cianjur 2 1207 (Tinggi) Cibeureum-Bogor 394 (Sedang) 1,367 b 0,673 b Cinangneng-Bogor 290 (Sedang) Bojongnegara-Cirebon 1 21 (Rendah) 1,350 b 0,662 b Bojongnegara-Cirebon 2 27 (Rendah) a

Rata-rata pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak menunjukkan beda nyata (Uji Duncan, α = 0,05)

17

Hasil pengamatan dari total trips yang diperoleh yaitu sebanyak 180 ekor (Lampiran 1 dan 2), terlihat bahwa panjang tubuh memiliki kisaran yang lebih panjang dibandingkan data yang dinyatakan Pracaya (2003). Perbedaan tersebut dapat terjadi karena adanya faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan serangga. Serangga yang mempunyai sebaran geografi luas kerapkali memiliki perbedaan ukuran dan struktur tubuhnya sebagai akibat pengaruh habitatnya (Uvarov dalam Hidajat 1987). Data yang diperoleh Pracaya (2003) berasal dari Thrips parvispinus yang terdapat di Indonesia juga, namun tidak diketahui secara tepat lokasi pengamatannya.

Analisis statistika menunjukkan bahwa panjang tubuh trips dari Cianjur berbeda nyata dengan panjang tubuh trips dari Bogor dan Cirebon. Trips yang diperoleh dari kondisi tempat yang tinggi (Cianjur) memiliki ukuran tubuh yang lebih panjang yaitu 1,408 mm dibandingkan trips yang diperoleh dari tempat yang ketinggiannya sedang dan rendah (Bogor dan Cirebon) yang berukuran berturut-turut sebesar 1,367 dan 1,350 mm. Faktor yang mempengaruhi terjadinya perbedaan ukuran tubuh adalah suhu lingkungan. Semakin tinggi suatu tempat dari permukaan laut, suhu tempat tersebut semakin rendah (Prabaningrum 2005). Suhu udara merupakan salah satu unsur penting dan berpengaruh pada kehidupan serangga dalam berbagai segi, antara lain aktivitas serangga, penyebaran geografis di dunia maupun lokal dan perkembangbiakannya. Serangga termasuk binatang berdarah dingin (poikilotermal) maka suhu tubuhnya tidak tetap dan naik turun mengikuti suhu lingkungannya. Dengan demikian suhu lingkungan memiliki pengaruh yang besar bagi perkembangan serangga (Sunjaya, 1970). Pendapat lain menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi ukuran tubuh trips adalah keturunan, kualitas dan kuantitas makanan serta suhu lingkungan (Prabaningrum 2005). Trips pada daerah dengan ketinggian tempat tinggi memiliki tubuh lebih panjang dari daerah dengan ketinggian tempat sedang dan rendah karena suhu lingkungan pada daerah ini lebih rendah dari kedua daerah lainnya. Suhu rata-rata untuk daerah Cianjur sebesar 21 oC jauh lebih rendah dibandingkan suhu rata-rata kota Bogor yaitu sebesar 26 oC dan suhu kota Cirebon sebesar 28 oC.

Murai dan Toda (2002) melakukan penelitian di Jepang dan menyatakan bahwa variasi ukuran tubuh Thrips tabaci dipengaruhi oleh suhu lingkungan.

Suhu lingkungan saat perkembangan stadium nimfa akan mempengaruhi ukuran imago. Nimfa yang hidup pada lingkungan bersuhu rendah (15 oC) menghasilkan ukuran imago lebih panjang, sebaliknya ketika nimfa hidup di suhu tinggi (25 oC) maka imago yang muncul akan berukuran pendek. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa ukuran imago Thrips parvispinus dari Cianjur, Bogor, dan Cirebon ini memiliki ukuran tubuh yang semakin panjang pada kondisi tempat yang tinggi. Hal ini disebabkan perkembangan nimfa pada tempat yang tinggi ini memiliki suhu lingkungan yang rendah. Lokasi pertanaman cabai di kabupaten Cianjur terletak di dataran tinggi (1200 m dpl), suhu harian berkisar antara 18 sampai dengan 24 oC, dengan suhu rata-rata 21 oC. Suhu kota bogor yaitu sebesar 26 oC dan suhu kota Cirebon sebesar 28 oC.

Sunjaya (1970) menyatakan bahwa hubungan suhu dengan pengambilan makanan oleh serangga berbeda menurut taraf perkembangan serangga, tapi perbedaan tersebut tidak begitu nyata. Pada suhu rendah, aktivitas serangga kecil dan penggunaan panas energinya juga kecil. Makanan yang diambilnya sebagian besar disimpan dalam tubuh atau dipakai untuk pembentukan jaringan. Oleh karena itu, dalam kondisi lingkungan yang dingin, serangga kerapkali menghasilkan keturunan yang berbadan lebih besar.

Rentang sayap Thrips parvispinus pada ketinggian tempat yang tinggi juga berbeda nyata dengan rentang sayap pada ketinggian sedang dan rendah. Rentang sayap rata-rata pada Desa Cipendawa-Cianjur sebesar 0,714 mm, pada Desa Cibeureum dan Cinangneng-Bogor sebesar 0,673 mm dan pada Desa Bojongnegara-Cirebon sebesar 0,662 mm (Tabel 1). Pada ketinggian tempat yang sedang memberikan hasil yang tidak berbeda nyata dengan ketinggian tempat yang rendah yaitu sebesar 0,673 dan 0,662 mm (Tabel 1).

Warna tubuh Thrips parvispinus

Dari hasil penelitian tampak bahwa warna tubuh trips memiliki variasi warna yang cukup besar. Pada setiap lokasi pengamatan dengan ketinggian yang berbeda memiliki sebelas variasi warna untuk setiap anggota tubuh yang diamati (kepala, toraks, dan abdomen). Sebelas macam warna yang terdapat pada bagian kepala yaitu light yellowish brown (coklat terang kekuningan), pale brown (coklat

19

pucat), yellowish brown (coklat kekuningan), brown (coklat), light olive brown (coklat terang hijau zaitun), olive brown (hijau zaitun kecoklatan), grayish brown (coklat keabu-abuan), dark yellowish brown (coklat gelap kekuningan), dark grayish brown (coklat gelap keabu-abuan), dark brown (coklat gelap), dan very dark grayish brown (coklat sangat gelap keabu-abuan). Pada bagian toraks dari Thrips parvispinus juga terdapat sebelas macam warna yaitu light yellowish brown (coklat terang kekuningan), pale brown (coklat pucat), yellowish brown (coklat kekuningan), brown (coklat), light olive brown (coklat terang hijau zaitun), olive brown (hijau zaitun kecoklatan), grayish brown (coklat keabu-abuan), dark yellowish brown (coklat gelap kekuningan), brownish yellow (kuning kecoklatan), dark brown (coklat gelap), dan very dark grayish brown (coklat pekat gelap keabu-abuan). Begitu pula pada bagian abdomen terdapat sebelas macam warna yaitu light yellowish brown (coklat terang kekuningan), yellowish brown (coklat kekuningan), light olive brown (coklat terang hijau zaitun), olive brown (hijau zaitun kecoklatan), dark yellowish brown (coklat gelap kekuningan), dark grayish brown (coklat gelap keabu-abuan), dark reddish brown (coklat gelap kemerahan), dark brown (coklat gelap), very dark grayish brown (coklat sangat gelap keabu-abuan), very dark brown (coklat pekat gelap), dan black ( hitam). Urutan warna dan jumlah sampel untuk tiap-tiap warna tersebut tertera pada Lampiran 3, 4 dan 5.

Pada lokasi pengamatan dengan ketinggian tinggi yaitu Desa Cipendawa-Cianjur, warna dominan kepala yaitu dark brown (coklat gelap), warna toraks yaitu olive brown (hijau zaitun kecoklatan) dan dark brown (coklat gelap), warna abdomen adalah dark brown (coklat gelap). Pada tempat yang memiliki ketinggian sedang yaitu di Kabupaten Bogor, warna dominan pada kepala yaitu olive brown, warna toraks adalah olive brown, dan warna abdomen adalah dark brown (coklat gelap). Pada lokasi yang memiliki ketinggian tempat yang rendah yakni Desa Bojongnegara-Cirebon memiliki warna dominan yaitu kepala dan toraks berwarna olive brown (hijau zaitun kecoklatan), dan abdomen berwarna dark yellowish brown (coklat gelap kekuningan). Variasi warna kepala, toraks, dan abdomen tertera pada Tabel 2.

Tabel 2. Tampilan warna dominan bagian tubuh Thrips parvispinus pada berbagai ketinggian tempat dan analisis chi square (X2)

Lokasi

Ketinggian tempat

(mdpl) Warna dominan Kepala Toraks Abdomen

Cipendawa-Cianjur 1 1200 (Tinggi) Dark brown Olive brown Dark

Cipendawa-Cianjur 2 1207 (Tinggi) brown

Cibeureum-Bogor 394 (Sedang) Olive brown Olive brown Dark Cinangneng-Bogor 290 (Sedang) brown Bojongnegara-Cirebon 1 21 (Rendah) Olive brown Olive brown Dark Bojongnegara-Cirebon 2 27 (Rendah) yellowish

brown

X2 Hitung 60,694 61,064 93,329 X2 Tabel α0,05 12,592 12,592 12,592 α0,01 16,812 16,812 16,812

Berdasarkan pengujian chi square, dari setiap ketinggian yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata terhadap warna – warna yang dimiliki kepala, toraks, dan abdomen trips. Tubuh trips pada ketinggian tinggi berwarna lebih gelap dibandingkan warna tubuh trips pada ketinggian sedang dan rendah. Warna tubuh trips pada ketinggian tempat yang sedang kepala dan toraks berwarna hijau zaitun kecoklatan sedangkan abdomen berwarna coklat gelap. Trips yang terdapat pada ketinggian yang rendah memiliki warna yang lebih terang dibandingkan dua lokasi ketinggian lainnya. Faktor yang mempengaruhi perbedaan warna tersebut yaitu keturunan, cahaya matahari, dan suhu. Pernyataan ini diperkuat oleh Sunjaya, 1970 bahwa faktor pengendali perubahan warna tubuh serangga adalah intensitas cahaya. Gelap terangnya warna menentukan besar kecilnya kandungan pigmen warna pada tubuh serangga. Pigmen yang diperoleh akibat penyinaran tersebut akan diturunkan atau diwariskan (Sunjaya, 1970).

Pada pengujian chi square, untuk mendapatkan nilai X2 hitung warna-warna dari setiap anggota tubuh trips dikelompokkan menjadi warna-warna A, B, C, dan D (Lampiran 6). Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui bahwa setiap anggota tubuh trips dipengaruhi secara nyata oleh ketinggian lokasi pengambilan sampel yaitu dilihat dari nilai X2 hitung yang lebih besar daripada nilai X2 tabel . Warna kepala trips memiliki nilai X2 hitung sebesar 60,694 nilai tersebut lebih besar daripada nilai X2 tabel yaitu sebesar 12,592 pada taraf nyata 5% dan 16,812 pada taraf nyata 1%. Begitu pula untuk warna toraks dan abdomen yang memiliki nilai X2

21

hitung yang lebih besar daripada nilai X2 tabelnya. Dari Tabel 2 tersebut diketahui bahwa ketinggian tempat memiliki hubungan atau pengaruh terhadap warna tubuh serangga.

Intensitas cahaya dimuka bumi berhubungan erat dengan sudut pancar atau dengan ketinggian letak matahari. Matahari memiliki ketinggian yang berbeda menurut letak garis lintang geografis. Intensitas radiasi matahari semakin lemah pada garis lintang geografis (semakin ke utara atau ke selatan) yang semakin besar (Sunjaya, 1970). Larcher dalam Musawir 2005 menyatakan bahwa banyaknya gunung di daerah tropis mempengaruhi penerimaan intensitas radiasi matahari. Pada dataran tinggi, karena rendahnya derajat kekeruhan atau polusi udara, maka penerimaan intensitas radiasi matahari akan lebih besar dibandingkan dataran rendah. Pada penelitian ini ketiga ketinggian tempat memiliki letak lintang selatan yang sama yaitu 06o LS sehingga tidak bisa dibedakan perbedaan intensitas cahaya dari setiap tempat.

Murai dan Toda (2002) menyatakan bahwa suhu pada perkembangan pupa mempengaruhi warna tubuh imago. Pupa yang hidup pada suhu rendah (15 oC) menghasilkan imago berwarna gelap, sebaliknya pupa yang hidup pada suhu tinggi (25 oC) menghasilkan imago berwarna terang atau pucat. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa warna tubuh trips semakin gelap pada lokasi yang memiliki suhu paling rendah dengan ketinggian tempat tinggi yaitu Kabupaten Cianjur (Tabel 2). Perkembangan nimfa Thrips parvispinus dengan suhu lingkungannya rendah yaitu di Desa Cipendawa menyebabkan imago berwarna gelap.

Penetapan warna pada penelitian ini berdasarkan warna baku pada Munsell Color Charts yang umum digunakan dalam penetapan warna tanah. Hasil yang diperoleh mungkin berbeda apabila menggunakan standar warna baku lain. Mayr (1969) menyatakan bahwa pola warna merupakan salah satu diantara sejumlah ciri taksonomi yang mudah digunakan dalam identifikasi kelompok hewan tertentu, tetapi keragamannya tinggi dan kualitas warna sukar dijabarkan dengan susunan kata, sehingga memungkinkan terjadinya salah pengertian antara hasil penelitian dengan interpretasi pembaca.

Kesimpulan

Thrips parvispinus yang terdapat pada daerah dengan ketinggian tempat yang tinggi (1200 dan 1207 mdpl) memiliki ukuran tubuh yang lebih panjang dibandingkan trips yang terdapat pada tempat yang ketinggiannya sedang (394 dan 290 mdpl) dan rendah (21 dan 27 mdpl). Rentang sayap trips pada lokasi dengan ketinggian yang tinggi lebih panjang dibandingkan trips yang terdapat pada tempat yang ketinggian yang sedang dan rendah. Warna tubuh trips semakin gelap pada lokasi yang memiliki ketinggian tempat tinggi dan menjadi semakin terang pada ketinggian tempat yang rendah.

Saran

Perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai keragaman morfologi Thrips parvispinus pada berbagai ketinggian tempat (tinggi, sedang, dan rendah) di Indonesia pada beberapa tanaman inang.

23

Dokumen terkait