Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang (Kandang C), bagian Non-Ruminansia Satwa Harapan (Laboratorium NRSH), Departemen IPTP, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Laboratorium ini terdiri dari beberapa kandang yang sering digunakan untuk hewan percobaan, seperti tikus, mencit, dan cacing tanah.
Kebersihan kandang untuk penelitian dan hewan lain pada laboratorium ini sangat diperhatikan, dengan dilakukannya pembersihan kandang, penggantian baki plastik dan tempat air minum secara teratur. Pemberian makan dan minum bagi mencit dan tikus yang dipelihara didalam kandang ini dilakukan setiap hari. Mencit yang digunakan pada penelitian juga diberikan makan dan minum secara teratur setiap harinya. Pengukuran suhu dan kelembaban dilakukan setiap hari, dengan menggunakan termometer ruangan yang tergantung didalam kandang penelitian.
Tempat yang digunakan untuk penelitian ini adalah satu buah rak dengan tiga tingkat, dimana pada bagian kanan digunakan untuk mencit yang diberi ransum dengan berbagai taraf katuk mulai hari kebuntingan ke-14 dan bagian kiri diberikan mulai saat beranak. Bagian rak kanan dan kiri tersebut, kemudian dibagi menjadi tiga perlakuan taraf katuk dengan lima ulangan tiap perlakuannya. Kondisi kandang selama penelitian dapat dilihat pada Gambar 4.
Mencit Penelitian
Kondisi mencit pada tahap awal penelitian berada dalam keadaan baik. Mencit yang digunakan berjumlah 30 ekor jantan dan 30 ekor betina dengan rataan bobot badan awal 20,65±1,57 g/ekor. Jumlah anak yang dilahirkan berkisar antara satu sampai dengan 14 anak per kelahiran, tetapi setelah hari keempat banyak terjadi kematian disebabkan induk mencit mempunyai sifat kanibal. Selama periode penelitian, sering terlihat kompetisi yang terjadi antar anak mencit dalam memperoleh susu induknya, sehingga anak mencit yang tidak mampu bersaing akan semakin sedikit mendapatkan air susu.
Suhu dan Kelembaban
Keadaan suhu dan kelembaban lingkungan tempat pemeliharaan mencit harus diperhatikan, karena hal ini merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas mencit tersebut. Apabila kondisi lingkungan tidak sesuai, maka produktivitas yang dicapai tidak akan optimal (Malole dan Pramono, 1989).
Kondisi lingkungan selama penelitian tidak menunjukkan perubahan yang ekstrim pada suhu dan kelembaban. Suhu ruangan harian selama penelitian berkisar antara 25-31oC dengan kelembaban sekitar 50-57%. Rataan suhu dan kelembaban kandang pada pagi hari masing-masing 25,90oC dan 55,40%, siang hari 31oC dan 50,04% dan sore hari 27,68oC dan 54,58%. Keadaan suhu dan kelembaban tersebut sesuai menurut Malole dan Pramono (1989), yang menyatakan bahwa suhu ideal untuk pertumbuhan mencit berkisar antara 21-29oC dan kelembaban dalam kandang yang ideal adalah 30-70%. Mencit dapat beradaptasi pada suhu lingkungan yang lebih rendah maupun suhu yang lebih tinggi. Hasil yang didapat pada pencatatan suhu dan kelembaban, kisaran suhu yang terjadi didalam kandang ternyata melebihi batas ideal tetapi kelembaban masih berada didalam kisaran yang ideal bagi mencit. Kondisi suhu yang panas dinetralisir dengan penyiraman air dibawah kandang setiap hari, sehingga suhu yang tinggi tidak terlalu mempengaruhi keadaan mencit didalam kandang. Menurut Sudono (1981), daya adaptasi pertumbuhan mencit lebih baik pada suhu panas yang tetap, dibandingkan dengan suhu panas yang berfluktuasi.
Menurut Parakkasi (1999), kondisi suhu lingkungan yang melebihi batas ideal bagi mencit akan menurunkan tingkat konsumsi ransum, meningkatkan konsumsi air, menurunkan konversi ransum dan menurunkan produktivitas atau
pertumbuhan. Hal ini disebabkan mencit berusaha mempertahankan temperatur tubuh yang normal. Demikian juga dengan kelembaban pada lingkungan sekitar mencit berpengaruh terhadap pengaturan temperatur tubuh. Kondisi kelembaban yang rendah atau kering, maka hewan akan mengeluarkan panas dalam tubuhnya dengan cara berkeringat, menurunkan konsumsi ransum maupun melalui respirasi yang cepat guna mengurangi temperatur tubuh. Demikian sebaliknya, pada kelembaban yang tinggi membuat hewan akan meningkatkan konsumsi ransum guna meningkatkan temperatur tubuh.
Ransum Penelitian
Ransum merupakan faktor penting yang menentukan produktivitas ternak. Kira-kira 75% ditentukan oleh faktor lingkungan dengan ransum sebagai penentu terbesar, sedangkan sisanya dari perbedaan produksi ternak dikarenakan oleh keturunan (Herman, 2003). Ransum yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari ransum ayam broiler komersial dan daun katuk yang diperoleh dari kebun sayur di daerah Darmaga. Hasil analisis proksimat ransum yang digunakan pada penelitian ini disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Kandungan Nutrisi Ransum dengan Beberapa Taraf Tepung Katuk Tepung Katuk/ Ransum BK
(%) Abu LK PK SK ---Komposisi BK (%)--- Tepung Katuk 85,98 13,40 1,87 27,87 25,43 RAB+ 0% Katuk (R1) 91,72 22,47 4,27 25,62 4,34 RAB+ 5% Katuk (R2) 91,82 18,86 4,15 25,79 6,11 RAB+10% Katuk (R3) 92,06 18,32 4,09 25,94 7,01
Keterangan: RAB = Ransum Ayam Broiler, BK= bahan kering, LK= lemak kasar; PK= protein kasar; dan SK= serat kasar
Tabel 3 hasil analisa proksimat ransum penelitian, memperlihatkan ransum yang ditambahkan katuk dengan taraf berbeda mengakibatkan komposisi kandungan zat makanan didalam ransum menjadi berubah. Ransum yang ditambahkan dengan taraf katuk yang semakin tinggi akan mengakibatkan terjadinya perubahan komposisi dari beberapa kandungan zat-zat makanan penyusun ransum. Komposisi kandungan zat makanan yang mengalami penurunan akibat penambahan taraf katuk yang semakin tinggi adalah abu dan lemak kasar, sedangkan yang mengalami peningkatan adalah bahan kering, protein kasar dan serat kasar.
Bahan kering dalam ransum penelitian R1, R2 dan R3 masing-masing 91,72; 91,82 dan 92,06%. Semakin tinggi taraf katuk yang digunakan, semakin tinggi juga kandungan bahan kering yang dihasilkan. Tingginya kandungan bahan kering pada ransum penelitian dimungkinkan karena kandungan bahan kering dari bahan makanan yang digunakan dalam menyusun ransum juga tinggi, yang mana kandungan bahan kering ransum ayam broiler (R1) adalah 91,72% dan tepung katuk adalah 85,98%.
Kandungan abu dalam ransum penelitian R1, R2 dan R3 masing-masing 22,47; 18,86 dan 18,32% jauh melebihi kebutuhan yang direkomendasikan oleh Smith dan Mangkoewidjojo (1988) yaitu 4-5%. Tingginya kandungan abu pada ransum penelitian dimungkinkan karena kandungan abu dari bahan makanan yang digunakan dalam menyusun ransum juga tinggi, yang mana kandungan abu R1 (22,47%) dan tepung katuk (13,40%).
Menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1988), kebutuhan lemak kasar untuk mencit dewasa adalah 5%, sedangkan kandungan lemak kasar ransum penelitian R1 (4,27%); R2 (4,15%) dan R3 (4,09%). Kandungan lemak kasar yang semakin rendah pada ransum penelitian dimungkinkan karena kandungan tepung katuk yang mensubtitusi ransum lebih rendah yaitu 1,87%.
Kebutuhan protein kasar untuk mencit dewasa yang direkomendasikan oleh Smith dan Mangkoewidjojo (1988) adalah 20-25%, sedangkan kandungan protein kasar dari ransum penelitian R1, R2 dan R3 masing-masing 25,62; 25,79 dan 25,94% atau sesuai kebutuhan. Meningkatnya kandungan protein kasar dengan meningkatnya taraf katuk dalam ransum disebabkan kandungan protein kasar ransum R1 (25,62%) lebih rendah daripada tepung katuk ( 27,87%) yang mensubsitusinya.
Serat kasar berfungsi untuk membantu pengeluaran sisa ransum yang tidak tercerna dan mempercepat laju pergerakan makanan dalam saluran pencernaan. Kandungan serat kasar dari ransum penelitian R1, R2 dan R3 masing-masing 4,34; 6,11 dan 7,01% tidak terlalu jauh berbeda sebagaimana direkomendasikan oleh Smith dan Mangkoewidjojo (1988) yaitu 5%. Serat kasar yang semakin meningkat dalam ransum dengan adanya peningkatan pemberian taraf katuk, adalah disebabkan tingginya kandungan serat kasar tepung katuk yaitu 25,43%.
Konsumsi Ransum Induk
Konsumsi ransum merupakan jumlah ransum yang dikonsumsi oleh hewan dalam jangka waktu tertentu (Parakkasi, 1999). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa rataan konsumsi ransum harian adalah 9,47±1,13 g/ekor/hari dengan koefisien keragaman (11,93%) (Tabel 4). Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Smith dan Mangkoewidjojo (1988), bahwa seekor mencit dewasa memerlukan makanan 3-5 g, sedangkan pada mencit bunting dan laktasi dapat mengkonsumsi lebih banyak. Mencit yang digunakan pada penelitian adalah mencit yang akan beranak untuk pertama kali, sehingga ransum yang dikonsumsi lebih banyak, sebagaimana Syarief dan Sumoprastowo (1994), menyatakan bahwa ransum yang dikonsumsi induk akan digunakan untuk produksi air susu dan untuk pertumbuhan bobot badan induk itu sendiri. Tingginya konsumsi juga disebabkan ransum yang diberikan tersebut bukan hanya dikonsumsi oleh induk saja, tetapi juga oleh anaknya karena ransum diberikan dengan cara disebar diatas sekam. Konsumsi ransum selama penelitian selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Rataan Konsumsi Ransum Setelah Beranak Taraf Katuk
(%)
Waktu Pemberian
Rataan Bunting Hari ke-14 (H1) Saat Beranak (H2)
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa respon mencit terhadap ransum yang diberi tambahan katuk dengan taraf dan waktu pemberian yang berbeda serta interaksi antara keduanya berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap konsumsi ransum. Tabel 4 menunjukkan rataan konsumsi ransum dengan taraf katuk 0, 5 dan 10% dalam ransum masing-masing 10,54; 9,16 dan 8,71 g/ekor/hari. Uji Tukey menunjukkan bahwa R2 dan R3 tidak berbeda nyata tapi keduanya berbeda sangat nyata dengan R1. Penurunan konsumsi ransum dengan taraf katuk yang semakin meningkat dalam ransum disebabkan oleh perubahan citarasa ransum yang mempengaruhi palatabilitas mencit. Perubahan citarasa ransum disebabkan penambahan katuk dapat meningkatkan kandungan serat kasar dalam ransum. Kandungan serat kasar dari ransum penelitian R1, R2 dan R3 masing-masing 4,34; 6,11 dan 7,01% tidak terlalu jauh berbeda sebagaimana direkomendasikan menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1988) yaitu 5%. Akan tetapi, semakin tinggi serat kasar dalam ransum ternyata dapat menurunkan konsumsi akibat ransum menjadi bulky atau cita rasa ransum juga menurun. Serat kasar dalam ransum juga dapat menyebabkan ransum atau bahan makanan sulit untuk dicerna oleh tubuh sehingga penyerapan bahan makanan didalam saluran pencernaan semakin rendah dan pembuangan atau pengeluaran zat-zat nutrisi yang penting bagi tubuh semakin sedikit. Menurut Parakkasi (1999), tingkat konsumsi ransum dipengaruhi oleh hewannya sendiri, makanan yang diberikan dan lingkungan tempat hewan tersebut dipelihara.
Rataan konsumsi ransum dengan waktu pemberian mulai hari ke-14 kebuntingan (H1) adalah 9,92 g/ekor/hari berbeda sangat nyata (P<0,01) dengan pemberian saat beranak (H2) sebesar 9,02 g/ekor/hari. Perbedaan ini disebabkan kurangnya waktu adaptasi mencit pada ransum dengan berbagai taraf katuk yang diberikan pada H2 dibanding dengan H1 dan pada saat beranak kondisi induk mencit kritis sehingga dengan perubahan makanan baru mencit mengalami stres, akibatnya menurunkan jumlah ransum yang dikonsumsi.
Ransum yang diberi katuk dengan taraf 10% mulai saat beranak (R3H2) memiliki konsumsi ransum terendah (7,83 g/ekor/hari) dan berbeda sangat nyata (P<0,01) dengan perlakuan lainnya. Perlakuan R2H2 (8,67 g/ekor/hari) konsumsi ransumnya berbeda sangat nyata dengan perlakuan lainnya, sementara R2H1 (9,64
g/ekor/hari) dan R3H1 (9,58 g/ekor/hari) keduanya sangat nyata lebih rendah daripada R1H1 (10,52 g/ekor/hari) dan R1H2 (10,56 g/ekor/hari). Hal ini disebabkan kurangnya waktu adaptasi terhadap perubahan ransum baru. Parakkasi (1999), menyatakan bahwa beberapa bahan makanan yang belum pernah diperoleh sebelumnya, memerlukan waktu untuk adaptasi. Grafik rataan konsumsi ransum selama penelitian dapat dilihat pada Gambar 5.
6 8 10 12 14 4 8 12 16 20
Hari Ke- Setelah Beranak
K ons um s i R a ns um ( g /e k o r/ h a ri ) R1H1 R2H1 R3H1 R1H2 R2H2 R3H2
Gambar 5. Grafik Rataan Konsumsi Ransum Setelah Beranak
Grafik 5 memperlihatkan bahwa rataan konsumsi ransum dengan perlakuan R1H1 dan R1H2 atau tanpa tepung katuk lebih tinggi daripada R2H1, R3H1, R2H2 dan R3H2 atau ransum yang memperoleh tambahan tepung katuk. Semakin tinggi taraf katuk dalam ransum maka semakin menurunkan konsumsi ransum.
Berdasarkan Gambar 5 juga terlihat bahwa pada umumnya rataan konsumsi ransum mencit setiap dilakukan penimbangan menunjukkan terjadi peningkatan, hal ini dikarenakan kebutuhan ransum mencit akan semakin meningkat seiring bertambahnya umur mencit. Peningkatan konsumsi ransum ini disebabkan induk mencit tersebut membutuhkan zat makanan terutama energi yang semakin tinggi
tersebut adalah suhu dan kelembaban. Selama dilakukannya penelitian, rataan suhu disekitar kandang penelitian lebih tinggi daripada batas ideal untuk pemeliharaan mencit. Suhu yang terlalu panas dapat mengakibatkan konsumsi ransum pada hewan akan mengalami penurunan. Parakkasi (1999), menyatakan bahwa suhu yang tinggi akan menurunkan tingkat konsumsi hewan. Penurunan konsumsi ransum ini dikarenakan mencit berusaha menjaga atau mempertahankan temperatur tubuhnya dalam keadaan normal.
Produksi Air Susu Induk
Pengukuran produksi air susu induk (PASI) mencit dilakukan secara tidak langsung yaitu berdasarkan pertumbuhan anak mencit yang sedang menyusu. Pengukuran produksi air susu induk berdasarkan pertumbuhan kelompok anak mencit dilakukan pada hari keempat sesudah induk beranak. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa rataan PASI selama penelitian adalah 0,10±0,02 g/ekor/jam menyusui. Rataan produksi air susu induk selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Rataan Produksi Air Susu Induk Mencit Selama Menyusui Taraf Katuk
(%)
Waktu Pemberian
Rataan Bunting Hari ke-14 (H1) Saat Beranak (H2)
---g/ekor/jam--- 0 (R1) 0,09±0,00B 0,09±0,01B 0,09±0,01 5 (R2) 0,11±0,06C 0,08±0,03A 0,10±0,01 10 (R3) 0,13±0,02D 0,08±0,00A 0,10±0,03 Rataan 0,11±0,02A 0,08±0,01B 0,10±0,02
Keterangan : - Superskrip dengan huruf besar yang berbeda pada kolom atau baris yang sama masing-masing menunjukkan hasil yang sangat nyata (P<0,01)
Koefisien Keragaman (KK)= 22,22%
Hasil analisis menunjukkan bahwa taraf katuk dalam ransum tidak berpengaruh nyata terhadap PASI. Tabel 5 memperlihatkan R1 (0,09 g/ekor/jam) menghasilkan PASI sedikit lebih rendah daripada R2 dan R3 dengan nilai yang sama yaitu 0,10 g/ekor/jam. Katuk dalam ransum tidak berpengaruh terhadap PASI karena kandungan nutrisi dalam ransum sudah memenuhi kebutuhan mencit dan kandungan protein kasar dalam ransum R1, R2 dan R3 hampir sama masing-masing 25,62; 25,79 dan 25,94. Selain itu, disebabkan pengaruh genetik dan kondisi lingkungan
yang mendukung selama penelitian sehingga kandungan senyawa aktif tidak memberikan efek positif terhadap PASI.
Waktu pemberian ransum dengan berbagai taraf katuk sangat nyata (P<0,01) mempengaruhi PASI. Waktu pemberian katuk mulai hari ke-14 kebuntingan (H1) berbeda sangat nyata dengan pemberian saat beranak (H2) masing-masing 0,11 dan 0,08 g/ekor/jam. Hal ini disebabkan mencit yang bunting memperlihatkan pembesaran kelenjar susu terutama pada kebuntingan hari ke-14 (Malole dan Pramono, 1989), sehingga pemberian ransum dengan berbagai taraf katuk pada waktu H1 membantu dalam perkembangan kelenjar susu tersebut. Kurangnya waktu adaptasi mencit terhadap ransum yang diberikan pada H2, menyebabkan mencit mengalami stres dan menurunkan jumlah ransum yang dikonsumsi oleh mencit, sebagai akibatnya PASI pada pemberian H2 juga menurun.
Interaksi antara taraf dan waktu pemberian katuk dalam ransum sangat nyata (P<0,01) mempengaruhi PASI. Ransum yang ditambahkan tepung katuk mengalami peningkatan PASI yang sangat nyata lebih tinggi daripada perlakuan kontrol yang diberikan mulai hari ke-14 kebuntingan, dimana R2H1 (0,11 g/ekor/jam) dan R3H1 (0,13 g/ekor/jam), sementara perlakuan kontrol (R1H1) adalah 0,09 g/ekor/jam. Sebaliknya ransum yang ditambahkan daun katuk yang diberikan mulai saat beranak ternyata menyebabkan penurunan PASI yang sangat nyata dibanding kontrol (R1H2) yaitu 0,09 g/ekor/jam, dimana R2H3 dan R3H2 mempunyai nilai yang sama yaitu 0,08 g/ekor/jam.
Penurunan PASI pada mencit yang memperoleh ransum dengan berbagai taraf katuk yang diberikan mulai saat beranak (H2) disebabkan rendahnya jumlah ransum yang dikonsumsi oleh mencit. Semakin tinggi taraf katuk dalam ransum yang diberikan mulai saat beranak menyebabkan konsumsi berkurang (Tabel 4), sebagai akibatnya produksi air susu mencit menurun karena ketersediaan zat makanan untuk
hormon steroid. Hormon ini bekerja langsung pada sel-sel sekretoris kelenjar ambing dengan meningkatkan populasi dan aktivitas sintesisnya (Suprayogi, 2002). Sedangkan secara tidak langsung yaitu konsentrasi hormon steroid yang sudah meningkat dalam aliran darah, secara tidak langsung menstimulasi sel-sel kelenjar pituitari anterior dan posterior untuk melepaskan hormon prolaktin, hormon pertumbuhan dan oksitosin. Ketiga hormon ini secara langsung terlibat dalam sintesis air susu dikelenjar ambing dan pada saat yang bersamaan terjadi peningkatan ketersediaan nutrisi didalam darah yang menuju ke kelenjar ambing (Suprayogi, 2002). Berikut pada Gambar 6 disajikan grafik rataan produksi air susu selama penelitian. 0.00 0.04 0.08 0.12 0.16 4 8 12 16 20
Hari Ke- Menyusui
P A S I ( g /e k o r/j a m ) R1H1 R2H1 R3H1 R1H2 R2H2 R3H2
Gambar 6. Grafik Rataan Produksi Air Susu Induk Selama Menyusui Gambar 6 memperlihatkan rataan PASI dari induk mencit yang diberi ransum dengan berbagai taraf katuk mulai pada hari kebuntingan ke-14 lebih tinggi daripada pemberian saat beranak. Pada pemberian saat beranak, R3H2 lebih rendah daripada R2H2 dan R1H2, sebaliknya pada pemberian mulai hari ke-14 kebuntingan, R3H1 lebih tinggi daripada R2H1 dan R1H1. Hal ini disebabkan katuk dalam ransum yang diberikan mulai saat beranak waktu adaptasinya kurang terhadap perubahan makanan baru, sehingga menyebabkan konsumsi menurun (Gambar 5), sebagai akibatnya produksi air susu mencit juga menurun. Berdasarkan Gambar 6 juga terlihat produksi susu mencapai puncak laktasi pada hari ke-12 setelah partus. Keadaan ini didukung dengan pendapat Hanrahan dan Eisien (1970) diacu dalam Sudono (1981), yang
menyatakan bahwa mencit mencapai puncak laktasi pada hari ke-12 dan ke-13 sesudah beranak sedangkan Jara-Almonte dan White (1972), menyatakan bahwa laktasi mencit mencapai puncaknya pada hari ke-12 sesudah beranak.
Litter Size Lahir
Menurut Eisen dan Durrant (1980), litter size lahir adalah jumlah total anak yang dilahirkan oleh induk mencit baik hidup maupun mati. Litter size lahir yang dihasilkan dari penambahan 0, 5 dan 10% katuk dalam ransum yang diberikan mulai hari kebuntingan ke-14 dan saat beranak adalah 8,74±2,78 ekor (Tabel 7). Rataan litter size lahir ini masih dalam kisaran sesuai dengan pendapat Inglis (1980), bahwa litter size lahir mencit berkisar 8-11 ekor dan menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1988), berkisar 6-15 ekor per kelahiran. Hasil penelitian ini lebih rendah daripada hasil penelitian Jaenudin (2002), yang menunjukkan litter size lahir anak mencit sebesar 13,5 ekor dan hampir sama dengan hasil penelitian Rosa (2004), yaitu sebesar 8,99 ekor. Tingginya koefisien keragaman (31,81%) dari litter size lahir pada penelitian ini disebabkan respon mencit terhadap pemberian tepung katuk berbeda-beda. Perbedaan respon dipengaruhi oleh tingkat kesukaan mencit terhadap tepung katuk dan keadaan tubuh induk termasuk kesehatan. Rataan litter size lahir mencit penelitian dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Rataan Litter Size Lahir Mencit Penelitian Taraf Katuk
(%)
Waktu Pemberian
Rataan Bunting Hari ke-14 (H1) Saat Beranak (H2)
---ekor--- 0 (R1) 8,20±1,30 8,40±3,36 8,30±2,41 5 (R2) 8,40±3,21 9,00±3,46 8,70±3,16
masing adalah 8,30; 8,70 dan 9,20 ekor, atau semakin tinggi taraf katuk dalam ransum, semakin meningkat litter size lahir. Rataan litter size lahir dengan waktu pemberian katuk dalam ransum pada H1 dan H2 masing-masing 8,67 dan 8,80 ekor. Rataan litter size lahir tertinggi diperoleh pada mencit dengan perlakuan R3H1 (9,40 ekor), sedangkan terendah diperoleh pada mencit dengan perlakuan ransum tanpa penambahan katuk yaitu R1H1 (8,20 ekor).
Penambahan daun katuk dalam ransum mencit penelitian dilakukan mulai hari ke-14 kebuntingan dan saat beranak, dimana pada saat tersebut sudah terjadi ovulasi dan fetus sudah terbentuk, sehingga kandungan sterol dan senyawa-senyawa aktif dalam tanaman ini tidak memberikan efek positif terhadap litter size lahir. Tanaman yang mengandung sterol bersifat estrogenik. Tanaman estrogenik adalah tanaman yang dapat menggertak produksi estrogen tubuh sehingga terjadi peningkatan kadarnya dalam darah. Suprayogi (2002), juga melaporkan bahwa daun katuk mengandung tujuh senyawa aktif yang merupakan prekursor dalam pembentukan hormon seperti estrogen dan progesteron serta kelompok senyawa eicosanoid seperti prostaglandin. Dijelaskan lebih lanjut bahwa hormon estrogen sangat besar peranan dan pengaruhnya terhadap fungsi reproduksi betina. Partodihardjo (1982), menyatakan bahwa estrogen membantu memelihara kebuntingan dengan mengatur produksi progesteron dan menstimulasi proses penting dalam pendewasaan fetus dan mempertinggi sensitivitas serabut-serabut urat daging uterus terhadap rangsangan oxcytocin. Manan (2002), menyatakan estrogen juga berfungsi merangsang pelepasan ovum dari ovarium (ovulasi).
Bobot Lahir Anak Mencit
Bobot lahir adalah bobot badan suatu individu pada saat dilahirkan (Toelihere, 1979). Bobot lahir ditimbang per litter size lahir per induk kemudian dibagi dengan jumlah anak yang lahir dari induk tersebut. Bobot lahir yang dihasilkan dari penambahan 0, 5 dan 10% katuk dalam ransum dan diberikan mulai hari kebuntingan ke-14 dan saat beranak adalah sebesar 1,60±0,13 g/ekor (Tabel 7). Hasil ini lebih tinggi daripada hasil penelitian Rosa (2004), yang menunjukkan bobot lahir anak mencit sebesar 1,47 g/ekor, akan tetapi lebih rendah daripada hasil penelitian Jaenudin (2002), yaitu sebesar 1,67 g/ekor. Perbedaan dapat terjadi karena adanya perlakuan yang berbeda diantara penelitian tersebut.
Tabel 7. Rataan Bobot Lahir Anak Mencit Penelitian Taraf Katuk
(%)
Waktu Pemberian
Rataan Bunting Hari ke-14 (H1) Saat Beranak (H2)
---g/ekor--- 0 (R1) 1,59±0,07 1,62±0,20 1,61±0,14 5 (R2) 1,62±0,21 1,58±0,07 1,60±0,15 10 (R3) 1,64±0,14 1,56±0,13 1,60±0,10
Rataan 1,62±0,12 1,59±0,14 1,60±0,13
Keterangan : Koefisien Keragaman (KK)=8,13%
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa dengan taraf dan waktu pemberian katuk yang berbeda, maupun interaksi antara keduanya tidak berpengaruh nyata terhadap bobot lahir. Berdasarkan Tabel 7 diperoleh rataan bobot lahir anak mencit dengan ransum penelitian R1, R2 dan R3 masing-masing 1,61; 1,60 dan 1,60 g/ekor. Rataan bobot lahir dengan waktu pemberian katuk dalam ransum pada H1 dan H2 masing-masing 1,62 dan 1,59 g/ekor. Rataan bobot lahir tertinggi diperoleh pada mencit dengan perlakuan R3H1 dengan nilai 1,64 g/ekor, sedangkan terendah diperoleh pada mencit dengan perlakuan ransum tanpa penambahan katuk yaitu R3H2 (1,56 g/ekor).
Penambahan katuk dalam ransum induk tidak berpengaruh nyata terhadap bobot lahir. Hal ini disebabkan induk yang digunakan dalam penelitian ini masih dalam masa pertumbuhan. Selain itu, penambahan katuk yang tidak berpengaruh nyata terhadap bobot lahir anak mencit diduga karena komponen zat makanan yang digunakan sudah memenuhi kebutuhan mencit, sehingga senyawa aktif dan sterol yang terkandung dalam katuk tidak memberikan efek positif terhadap bobot lahir anak mencit. Masa kebuntingan merupakan masa pada saat induk membutuhkan
persaingan untuk mendapatkan makanan antara induk dengan fetus (Parakkasi, 1983).
Dziuk (1992), menyatakan bahwa bobot lahir anak mencit ditentukan oleh perkembangan embrio selama dalam kandungan. Perkembangan embrio dipengaruhi oleh keadaan uterus yang berfungsi untuk mempersiapkan lingkungan yang cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan embrio. Seluruh pengaturan proses ini dilakukan oleh hormon estrogen dan progesteron. Karena itulah bobot lahir anak mencit dari induk yang mengkonsumsi ransum dengan perlakuan R3H1 sebesar 1,64 g/ekor, lebih tinggi daripada perlakuan lainnya, walaupun secara analisis ragam tidak berbeda nyata. Bobot lahir ternyata mempunyai hubungan yang kuat dengan litter size lahir (Tabel 6). Semakin tinggi litter size lahir maka semakin rendah bobot lahir yang dihasilkan. Hal ini terlihat pada mencit penelitian, dimana litter size lahir yang tinggi pada R2H2 (9,00 ekor) ternyata menghasilkan bobot lahir yang rendah yaitu sebesar 1,58 g/ekor. Hal ini menunjukkan bahwa ada batasan kemampuan induk dalam menyediakan nutrisi yang diperlukan bagi perkembangan anak dalam uterus.
Litter Size Sapih
Menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1988), litter size sapih adalah jumlah