• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kecamatan Laguboti terdiri dari 22 Desa dan 1 Kelurahan, dimana Kecamatan Laguboti terletak pada ketinggian 905 - 1.500 meter dari permukaan laut dengan topografi dan kontur tanah yang beraneka ragam, yaitu datar, landai, miring dan terjal sehingga kelembaban udaranya cukup lembab. Luas wilayah mencapai 73,90 km2 atau 7.390 ha dan tersebar di 23 desa/kelurahan. Desa terluas di Kecamatan Laguboti adalah Desa Haunatas II dengan luas wilayah 13,02 km2 (mencapai 17,62 persen dari luas wilayah Kecamatan Laguboti) sedangkan Kelurahan Pasar Laguboti dengan luas wilayah 0,5 km2 merupakan wilayah terkecil (hanya mencapai 0,68 persen dari luas wilayah Kecamatan Laguboti). Rata-rata luas desa di Kecamatan Laguboti adalah 3,12 km2 (BPS Toba Samosir, 2018).

Wilayah Kecamatan Laguboti Kabupaten Toba Samosir memiliki ketinggian tempat + 905 – 1.500 m dari permukaan laut dan terletak antara 02º 13’ - 02º 23’ LU dan 98º 08’ - 99º 15’ BT. Kecamatan Laguboti memiliki rata-rata curah hujan yaitu 102,5 mm/tahun dan hari hujan 13,41 mm/tahun pada tahun 2016. Untuk lahan sawah di Kecamatan Laguboti dalah 20,13 km2 atau 2.013 ha (BPS Toba Samosir, 2018).

Hasil

FosfatTersedia Tanah

Dari hasil analisis Fosfat (P) tersedia tanah (Lampiran 1) diperoleh data kandungan P tersedia yang kemudian dikelompokkan berdasarkan kriteria Staf Pusat Penelitian Tanah (1983) dan BPP Medan (1982). Terdapat 3 kelompok

status hara P tersedia pada lahan sawah di Daerah Irigasi Aek Simare, yakni sedang, tinggi dan sangat tinggi.

Tabel 1. Hasil Analisis P Tersedia Sampel Tanah P Tersedia

(ppm) Kriteria

Hasil analisis contoh tanah pada Tabel 1, kandungan P tersedia terendah terdapat pada sampel tanah 8 yaitu sebesar 20,35 ppm dan kandungan P tersedia tertinggi terdapat pada contoh tanah 1 yaitu sebesar 200,66 ppm. Luas wilayah untuk status hara P tersedia ditampilkan pada Tabel 2 dan Gambar 3.

Tabel 2. Luas Wilayah P Tersedia Berdasarkan Kriteria Kriteria Nilai

19

3,99 ha (3,33%)

44,26 ha (36,88% )

71,75 ha (59,79%) Sedang

Tinggi Sangat Tinggi Dari hasil survei contoh tanah sawah dengan luas 120 ha dan hasil analisis P tersedia tanah ditunjukkan pada diagram berikut ini :

Gambar 3. Diagram Lingkaran Luas Lahan Menurut Kriteria P Tersedia

Gambar 4. Peta Sebaran P Tersedia Fosfat Total

Hasil analisis Fosfat (P) total tanah (Lampiran 2) pada daerah penelitian diperoleh data kandungan P total tanah yang kemudian di kelompokkan

berdasarkan kriteria Staf Pusat Penelitian Tanah (1983) dan BPP Medan (1982).

Terdapat 4 kriteria status hara P total pada lahan sawah di Daerah Irigasi Aek Simare, yakni rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi seperti ditunjukkan pada Tabel 3.

Tabel 3. Hasil Analisis P Total

Sampel Tanah Kadar

Luas wilayah untuk status hara P total disajikan pada Tabel 4 dan Gambar 5.

21

0,004 ha (0,003%)

67,37 ha (56,4%) 45,316 ha

(37,76%) 7,31 ha (6,097%)

Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi

Tabel 4. Luas Wilayah Sebaran P Total Berdasarkan Kriteria

Kriteria Nilai

(mg/100 gr) Luas (ha) Luas (%)

Rendah 10-20 0,004 0,003

Sedang 21-40 67,37 56,4

Tinggi 41-60 45,316 37,76

Sangat Tinggi >60 7,31 6,097

Total 120 100

Dari hasil survei contoh tanah sawah dengan luas 120 ha dan hasil analisis P total tanah ditunjukkan pada diagram berikut ini :

Gambar 5. Diagram Lingkaran Luas Lahan Menurut Kriteria P Total

Gambar 6. Peta Sebaran P Total

Pengelolaan Lahan

Dari hasil kuisioner (Lampiran 5) yang diberikan kepada petani diperoleh data pengelolaan lahan (pemupukan fosfor dan bahan organik) di daerah penelitian sebagai berikut :

Tabel 5. Tabel Data Pengelolaan Lahan

Keterangan Jumlah %

Pemupukan Fosfor Pupuk Tunggal Pupuk Majemuk mengaplikasikan pemupukan fosfor dengan pupuk tunggal di lahan sawah sebesar 65% dibandingkan dengan yang melakukan pemupukan fosfor dengan pupuk majemuk sebesar 35%, sedangkan sebagian besar petani mengumpulkan/membakar jerami sisa panen sebesar 55%, sedangkan yang membiarkan jerami sisa panen di lahan hanya sebesar 45%.

Pembahasan

Dari hasil survei contoh tanah dan analisa P tersedia, lahan sawah seluas 120 ha di daerah irigasi Aek Simare memiliki kandungan P tersedia dengan kriteria sedang sebesar 3,33%, kriteria tinggi sebesar 36,88% dan kriteria sangat tinggi sebesar 59,79% berdasarkan kriteria SPPT (1983) dan BPP Medan (1982), yaitu sekitar 42,94%. (Tabel 2).

Fosfat tersedia adalah unsur fosfat yang terdapat di dalam tanah dalam bentuk tersedia bagi tanaman serta dapat dimanfaatkan oleh tanaman untuk proses metabolisme. Bentuk P yang terdapat di dalam bahan induk tanah sebelum

23

tanaman. P tersedia dalam tanah dapat diartikan sebagai P tanah yang dapat diektraksi oleh air dan asam sitrat.

Menurut peta status hara P tersedia pada Gambar 3 di atas, maka kriteria tinggi dan sangat tinggi lebih dominan atau memiliki luasan yang lebih besar daripada kriteria sedang, berarti tanah pada lokasi penelitian tergolong memiliki kandungan P tersedia yang tinggi dan berpotensi tinggi dalam penyediaan unsur fosfat untuk kebutuhan tanaman, hal ini sesuai dengan pernyataan Sanchez (1993) bahwa tanah yang mengalami pelapukan lanjut biasanya memiliki daya tambat fosfat yang tinggi.

Ketersediaan fosfat dengan status sedang dapat terjadi disebabkan fosfat dalam tanah terdapat dalam bentuk yang tidak segera tersedia. Disamping itu adanya faktor pH, aerasi, temperatur, bahan organik dan unsur mikro yang dapat mempengaruhi ketersediaan fosfat. Untuk mengatasi hal diatas maka kita harus memperhatikan prinsip penyediaan fosfat dalam siklus P. Menurut Hanafiah (2005), prinsip penyediaan P bagi tanaman dalam siklus P terlihat bahwa kadar air P-larutan merupakan hasil keseimbangan antara suplai P dari pelapukan mineral-mineral P, pelarutan (solubilitas), P terfiksasi dan mineral-mineralisasi P-org dan kehilangan P berupa immobilisasi oleh tanaman, fiksasi dan pelindian P.

Selain itu penyediaan P dalam tanah dapat dilakukan dengan cara pengapuran untuk mengendalikan kelarutan Al dan Fe, pengikatan Al dengan penambahan pupuk P yang banyak dan khelat Al dengan penambahan bahan organik. Hal ini sesuai dengan pernyataan Nyakpa, dkk (1988).

Dari hasil survei contoh tanah dan analisa P total, lahan sawah irigasi dengan luas 120 ha di daerah irigasi Aek Simare memiliki kandungan P total

dengan kriteria sedang lebih tinggi dibandingkan kriteria lain berdasarkan kriteria PPT (1983) dan BPP Medan (1982), yaitu sekitar 45,316%. Salah satu faktor yang dapat mengakibatkan hal tersebut adalah karena petani yang melakukan pemupukan fosfor dengan pupuk majemuk sebanyak 35 %, sedangkan petani yang melakukan pemupukan fosfor dengan pupuk tunggal sebanyak 65% (Tabel 5). Pemupukan dengan sumber hara fosfor dapat meningkatkan P total dalam tanah dan status fosfor dengan kriteria sedang pada tanah sawah setidaknya harus dilakukan pemupukan dengan SP36 sebagai sumber fosfor dengan dosis rekomendasi 50 kg/ha. Hal ini sesuai dengan Departemen Pertanian (2007) yang menyatakan bahwa rekomendasi pemupukan P pada tanaman padi sawah spesifik Kecamatan Laguboti Kabupaten Toba Samosir adalah 50 kg/ha SP36.

Status hara P total sedang pada lahan sawah di daerah irigasi Aek Simare juga kemungkinan dapat disebabkan oleh adanya pembakaran jerami yang dilakukan oleh sebagian besar petani di lahan sawah. Hal ini disebabkan karena pembakaran jerami dapat mengakibatkan unsur P dalam jerami hilang hingga 34-59%, yang seharusnya unsur P tersebut dikembalikan ke tanah. Hal ini sesuai dengan literatur Husnain (2010) yang menyatakan bahwa persentase kandungan unsur hara yang hilang saat pembakaran jerami adalah 33-35% untuk Si, 36-47%

untuk K, 34-59% untuk P, 38-44% untuk Ca, 42-48% untuk Mg dan 55-61%

untuk Na.

Dari hasil wawancara dan diskusi dengan petani di lokasi penelitian, sistem pertanian yang digunakan yaitu konvensional. Dimulai dari pengolahan lahan sudah menggunakan mesin pertanian modern, penggunaan bibit hibrida (bersertifikat), pemupukan kimia dengan dosis tertentu, penggunaan herbisida dan

25

insektisida. Tetapi menurut pengamatan di lapangan dan hasil survei, belum adanya peningkatan hasil pertanian yang memadai sesuai dengan standar produksi pada umumnya. Hal ini diakibatkan oleh beberapa faktor antara lain pola penanaman yang tidak serentak, penggunaan benih hibrida (bersertifikat) dan tidak bersertifikat, aplikasi pemupukan yang tidak sesuai dengan dosis dan anjuran yang dapat mengakibatkan terjadinya penurunan dan berkurangnya produksi.

Pengaplikasian pupuk kimia yang tidak sesuai dosis dan anjuran, sesuai pengamatan dan hasil wawancara dengan petani menjadi salah satu faktor rendahnya produksi. Pemberian pupuk diaplikasikan sebanyak dua kali. Yaitu 3 MST (minggu setelah tanam) dan 6 MST (minggu setelah tanam). Pengaplikasian pupuk yang tidak sesuai dosis dan anjuran yaitu dengan mencampur beberapa jenis pupuk antara lain NPK, Urea, SS, ZA, SP36 untuk sekali pengaplikasian pada 3 MST. Begitu juga dengan pengaplikasian kedua yaitu 6 MST, dilakukan hal yang sama dengan 3 MST.

Dari hasil wawancara dan diskusi petani, dari total 20 petani yang lahannya diambil sampel hanya terdapat 13 petani yang mengaplikasikan pemberian pupuk SP36 untuk penambahan hara fosfat dengan dosis terendah 37,5 kg/ha dan dosis tertinggi 100 kg/ha yang menjadi salah satu faktor menurunnya produksi karena pemberian yang tidak sesuai dosis dan anjuran yang tepat. Hal ini sesuai dengan Departemen Pertanian (2007) yang menyatakan bahwa rekomendasi pemupukan P pada tanaman padi sawah spesifik Kecamatan Laguboti Kabupaten Toba Samosir adalah 50 kg/ha SP36. Sementara 7 petani

tidak melakukan penambahan pupuk SP36 sebagai tambahan hara fosfat untuk lahan sawah tersebut.

Penggunaan pupuk yang berlebihan juga dapat menurunkan kualitas tanah dan menurunkan produktivitas pada lahan sawah. Sesuai dengan pernyataan Nurfitriyani (2013), pupuk digunakan pada kegiatan usahatani untuk meningkatkan produktivitas padi yang dibudidayakan. Akan tetapi apabila penggunaan pupuk berlebihan, akan menimbulkan kerusakan dan kegersangan tanah. Kondisi ini membuat lahan jenuh sehingga tidak subur lagi. Penggunaan pupuk yang kurang dapat mengganggu pertumbuhan padi, tanaman padi tidak mendapat cukup nutrisi sehingga hasil produksinya rendah.

27

Dokumen terkait