Pada penelitian ini, citra yang digunakan adalah citra radar dari satelit ALOS-PALSAR. Citra ini memiliki format data *.ceos. Agar lebih memudahkan dalam pengolahan citra lebih lanjut, maka dilakukan konversi format citra. Dimana, citra dengan format *.ceos dikonversi dengan menggunakan perangkat lunak ENVI 4.5 menjadi citra dengan format *.ers.
Citra dengan format *.ers selanjutnya diolah dengan menggunakan perangkat lunak ER Mapper sehingga didapatkan klasifikasi tumpahan minyak. Dari keempat citra format *.ceos, dapat dilihat terang gelapnya citra dan kekasaran permukaan citra. Adapun citra dengan format *.ceos dapat dilihat pada Gambar 4 di bawah ini.
(a) (b)
(c) (d)
Gambar 4. Citra ALOS-PALSAR format *.ceos, (a) polarisasi HH scene 6940, (b) polarisasi HH scene 6930, (c) polarisasi HV scene 6940,
(d) polarisasi HV scene 6930 HH HH HV HV 6930 6930 6940 6940
Penggabungan Citra ALOS-PALSAR
Identifikasi tumpahan minyak Montara di Laut Timor pada tahun 2009 dilakukan dengan memanfaatkan dua scene citra satelit ALOS-PALSAR 4.1 tanggal 2 September 2009 pukul 14:36:46 scene ID citra ALPSRP192186930 dan pukul 14:36:54 scene ID citra ALPSRP192186940.
Penggabungan dua scene citra ini dilakukan dengan tujuan agar memperoleh cakupan wilayah tumpahan minyak yang lebih luas. Dua scene citra ALOS-PALSAR yang telah digabungkan ini memiliki polarisasi HH dan HV. Setelah digabungkan maka dilakukan konversi digital number (DN) menjadi nilai hambur balik (backscatter) citra. Adapun hasil penggabungan dua scene citra seperti pada Gambar 5 di bawah ini.
Gambar 5. Citra ALOS-PALSAR Laut Timor, (a) scene ID citra
ALPSRP192186940, (b) scene ID citra ALPSRP192186930, (c) citra hasil gabungan.
Penggunaan Filter Low_freq dan Analisis Visual Citra
Penggunaan filter low_freq pada citra hasil gabungan dilakukan dengan tujuan agar memperjelas kekontrasan antara tumpahan minyak dan air laut serta memperlihatkan batas tepi tumpahan, sehingga mempermudah dalam pengelompokan jenis tumpahan minyak berdasarkan identifikasi pola dan karakteristik dari profil transek nilai hambur balik (backscatter value) tumpahan minyak. Penggunaan filter low_freq ini menghasilkan citra dengan frekuensi atau distribusi nilai-nilai piksel yang rendah, sementara frekuensi tinggi akan dihilangkan. Citra frekuensi rendah dan tinggi dapat dilihat pada Gambar 6.
(a) (b)
Gambar 6. Citra ALOS-PALSAR hasil filter low_freq, (a) frekuensi rendah, (b) frekuensi tinggi
Citra frekuensi rendah memiliki distribusi nilai-nilai intensitas piksel yaitu -34.18 s/d -11.82 dB, sedangkan citra frekuensi tinggi memiliki distribusi nilai-nilai intensitas piksel yaitu -16.00 s/d 13.15 dB. Penerapan filter low_freq
kemudian dilakukan pada polarisasi citra HH dan HV. Adapun citra polarisasi HH dan HV hasil filterlow_freq dapat dilihat pada Gambar 7.
(a) (b)
Gambar 7. Citra ALOS-PALSAR hasil filter low_freq, (a) polarisasi HH, (b) polarisasi HV
Dari hasil penggunaan filter low_freq terhadap polarisasi HH dan HV pada citra, polarisasi HH memperlihatkan dengan jelas terdapat tumpahan minyak pada perairan. Hasil tampilan citra ini kemudian diperjelas dengan memodifikasi kernel filter low_freq. Beberapa ukuran kernel filter kemudian diaplikasikan seperti ukuran kernel filter 3x3, 5x5, 9x9 dan 15x15 dan 33x33.
Selain untuk memperjelas tampilan objek secara visual, modifikasi ukuran
kernel filter ini bertujuan untuk generalisasi profil nilai hambur balik masing-masing area tumpahan minyak yang diamati dari profil garis transek nilai hambur balik. Gambar 8 berikut ini merupakan hasil pengolahan citra yang dihasilkan dari beberapa ukuran kernelfilter 3x3, 5x5, 9x9 dan 15x15 dan 33x33.
(a) (b)
(d) (e)
Gambar 8. Visualisasi hasil pengolahan dengan kernel filterlow_freq, (a) 3x3, (b) 5x5, (c) 9x9, (d) 15x15, (e) 33x33
Secara visual, hasil kelima kernel filter ini nampak seperti sama, tetapi dari kekasaran permukaannya citra terlihat berbeda. Masing-masing ukuran kernel
mengandung pola angka yang berbeda sehingga akan menghasilkan keluaran/hasil yang berbeda. Perbedaan ukuran kernel akan mempengaruhi nilai piksel. Pada penelitian ini, pengaruh terhadap nilai piksel dapat dilihat dari nilai hambur balik yang dihasilkan. Dari lima ukuran kernel filter yang digunakan, keseluruhan ukuran kernelfilter menghasilkan tampilan citra yang mampu membedakan antara tumpahan minyak dan perairan.
Dalam menentukan citra yang akan digunakan untuk identifikasi tumpahan minyak, perlu dilihat nilai hambur balik hasil dari masing-masing ukuran kernel filter. Untuk itu pada masing-masing ukuran kernelfilter dibuat garis transek yang dapat mewakili baik perairan maupun tumpahan minyak. Adapun garis transek dapat dilihat pada Gambar 9.
Dari transek yang dibuat akan menghasilkan profil nilai hambur balik seperti yang terlihat pada Gambar 10.
(a)
(b)
(c)
(e)
Gambar 10. Profil nilai hambur balik dari polarisasi HH dan HVdengan ukuran
kernelfilter low_freq, (a) 3x3, (b) 5x5, (c) 9x9, (d)15x15, (e) 33x33 Citra dengan ukuran kernel filter 33x33 menghasilkan grafik yang lebih baik dibandingkan dengan keempat ukuran kernel lainnya. Hal ini terlihat dari profil grafik yang lebih smooth/halus karena nilai noise telah dihilangkan. Dari grafik tansek dan visual citra yang dihasilkan, maka citra dengan ukuran kernel filter low_freq 33x33 dapat digunakan untuk pendeteksian kelompok tumpahan minyak.
Identifikasi Tumpahan Minyak
Tumpahan minyak dicirikan dengan nilai hambur balik (backscatter) yang rendah, sehingga pada citra akan terlihat seperti area gelap dibandingkan dengan perairan yang terlihat lebih cerah. Berdasarkan hasil analisis visual citra serta grafik transek, diketahui bahwa penampakan tumpahan minyak lebih jelas terlihat pada polarisasi HH hasil filter low_freq dengan ukuran kernel 33x33. Pendeteksian tumpahan minyak kemudian dilakukan dengan pengamatan terhadap parameter statistik citra. Pada citra kemudian dibuat 30 sample region yang mewakili area tumpahan minyak pada lokasi kajian, seperti pada Gambar 11.
(a) (b)
Gambar 11. Jenis sample region pada citra filterlow_freq dengan ukuran
kernel 33x33, (a) ukuran diameter berbeda, (b) ukuran diameter sama
Pada pendeteksian tumpahan minyak, dibuat 30 sample region dengan ukuran diameter berbeda dan 30 sample region dengan ukuran diameter sama. Dari setiap sample region kemudian dilakukan ekstraksi nilai hambur balik parameter statistik minimum, maksimum, rerata (mean) dan standar deviasi. Profil nilai hambur balik dari setiap parameter ini kemudian ditampilkan dalam grafik dan tabel. Kedua jenis sample region (diameter berbeda dan sama) dibuat untuk melihat pengaruh ukuran diameter terhadap nilai parameter statistik. Selain untuk identifikasi tumpahan minyak, sample region juga akan digunakan dalam pengklasifikasian tumpahan minyak dengan metode Oil Spread Index (OSI).
Grafik parameter statistik digunakan untuk membedakan objek tumpahan minyak berdasarkan karakteristik nilai statistik citra. Pendeteksian tumpahan minyak dilakukan dengan melihat pola grafik nilai hambur balik. Dilihat dari fluktuasi dan pola grafik keempat parameter statistik citra, grafik standar deviasi dan rata-rata (mean) yang ditampilkan menunjukkan adanya perbedaan nilai hambur balik. Pola grafik ini dapat mengindikasikan adanya perbedaan jenis tumpahan minyak. Agar memudahkan dalam analisis kisaran nilai hambur balik, maka sample region dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu: 1-10, 11-20, 21-30 sesuai dengan letaknya pada citra. Dari keempat grafik, grafik parameter statistik rata-rata memperlihatkan perbedaan nilai hambur balik dari setiap kelompok region yang ada. Adapun grafik parameter statistik rata-rata (mean) dapat dilihat pada Gambar 12
(a)
(b)
Gambar 12. Grafik parameter statistik rata-rata (mean), (a) sample region ukuran diameter berbeda, (b) sample region ukuran diameter sama
-36 -34 -32 -30 -28 -26 -24 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 B ac ksc att e ri n g (d B ) Region
Mean
HH HV -35.00 -30.00 -25.00 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 B ac ksc att e ri n g (d B ) RegionMean
HH HVPerbedaan nilai seperti yang diperlihatkan pada grafik mengindikasikan adanya jenis tumpahan minyak yang berbeda pada perairan. Kisaran nilai pada grafik parameter statistik rata-rata (mean) dari dua jenis sample region dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Kisaran nilai hambur balik parameter statistik rata-rata (dB) dua jenis
sample region
Jenis
Sample Region
Polarisasi
No. Sample Region
1-10 11-20 21-30 Diameter Berbeda HH -32.29 s/d -29.71 -32.29 s/d -31.88 -30.45 s/d -28.45 HV -31.30 s/d -30.45 -33.66 s/d -33.23 -32.44 s/d -30.46 Diameter Sama HH -32.28 s/d -29.74 -32.36 s/d -31.87 -30.80 s/d -28.87 HV -33.72 s/d -31.31 -33.72 s/d -33.30 -32.43 s/d -30.50 Kisaran nilai hambur balik pada Tabel 2 diperoleh dari sample region
dengan ukuran diameter berbeda dan diameter sama. Pada polarisasi HH, kisaran nilai hambur balik dari 30 sample region yang memiliki ukuran diameter sama memperlihatkan kisaran nilai yang mirip dengan kisaran nilai hambur balik dari 30 sample region yang memiliki ukuran diameter berbeda. Data ini hanya digunakan sebagai perbandingan nilai hambur balik antara sample region yang memiliki ukuran diameter berbeda dan sample region yang memiliki ukuran diameter sama. Perbedaan nilai hambur balik pada masing-masing kelompok
sample region menunjukkan adanya perbedaan jenis tumpahan minyak.
Tumpahan minyak diasumsikan menjadi tiga, yaitu: tumpahan minyak Berat, Sedang, dan Ringan. Tumpahan minyak yang berada di sekitar anjungan minyak diasumsikan sebagai minyak berat karena merupakan tumpahan minyak baru dan memiliki kerapatan (viskositas) yang tinggi. Semakin jauh sebaran tumpahan minyak dari anjungan maka akan membuat kerapatan minyak menjadi berkurang. Hal ini karena faktor seperti arus, gelombang, temperatur perairan, dan kecepatan angin di permukaan laut. Kerapatan minyak yang berkurang membuat minyak bercampur dengan perairan atau tersebar terpisah (Tsukihara, 1995). Berdasarkan letak dan besaran nilai hambur balik, maka sample region 1-10 digolongkan menjadi kelas minyak berat, sample region 11-20 menjadi kelas minyak sedang, dan sample region 21-30 menjadi kelas minyak ringan.
Penggolongan ini didasarkan pada objek yang tertutupi lapisan minyak akan memiliki nilai hambur balik yang lebih rendah dibandingkan lingkungan sekitar. Hal ini karena lapisan minyak yang menutupi permukaan objek (air laut) akan meredam pergerakan riak air berupa gelombang maupun arus akibat tekanan yang dimiliki oleh lapisan minyak tersebut lebih besar dibandingkan tekanan air dan juga menyebabkan sinyal gelombang mikro yang dihamburbalikkan menjadi lebih rendah akibat teredamnya sinyal tersebut (Brekke dan Solberg, 2005). Penggolongan kelas tumpahan minyak ini kemudian akan dijadikan acuan dalam penentuan klasifikasi tumpahan minyak.
Klasifikasi Tumpahan Minyak
Pengklasifikasian tumpahan minyak dilakukan dengan menggunakan citra ALOS-PALSAR hasil filter low_freq dengan ukuran kernel 33x33. Adapun bentuk klasifikasi yang digunakan pada penelitian ini adalah klasifikasi tidak terbimbing (unsupervised), karena tidak ada data pendukung seperti data pengamatan lapang (in situ). Pada citra ini kemudian dibuat garis transek untuk mendapatkan nilai selang hambur balik dari setiap jenis tumpahan minyak. Adapun polarisasi yang digunakan adalah polarisasi HH karena secara visual tampilan polarisasi HH lebih terang dan jelas membedakan antara tumpahan minyak dan perairan. Selain itu, nilai hambur balik polarisasi HH lebih besar dibandingkan dengan nilai hambur balik dari polarisasi HV, sehingga klaifikasi dengan polarisasi HV tidak memberikan manfaat untuk membedakan tipe-tipe tumpahan minyak. Gambar 13 memperlihatkan garis transek yang dibuat pada citra ALOS-PALSAR filter low_freq 33x33.
Gambar 13. Garis transek pada citra ALOS-PALSAR filter low_freq 33x33 Setiap titik disepanjang garis transek memiliki nilai hambur balik dari masing-masing piksel citra dimana nilai hambur balik ini mengindikasikan objek baik tumpahan minyak maupun air laut. Nilai hambur balik yang dihasilkan dianalisis dalam bentuk grafik untuk mendapatkan selang kelas dalam pengklasifikasian tumpahan minyak. Tumpahan minyak itu sendiri diklasifikasikan kedalam tiga kelas, yaitu: (1) Tumpahan minyak berat, (2) Tumpahan minyak sedang (3) Tumpahan Minyak ringan. Masing-masing kelas tumpahan minyak merepresentasikan viskositas (kerapatan) minyak. Viskositas didefenisikan sebagai suatu ukuran yang membatasi pergerakan suatu cairan terhadap gaya gravitasi (Chevron, 2013). Viskositas adalah bentuk pengukuran dari ketahanan fluida yang diubah baik dengan tekanan ataupun tegangan. Semakin rendah viskositas suatu fluida, maka semakin besar pergerakan fluida tersebut (sifat fluida semakin cair).
Berdasarkan hasil analisis grafik, diperoleh selang nilai hambur balik tiga kelas tumpahan minyak dan perairan (non tumpahan minyak). Tabel 3 berikut ini menunjukkan selang nilai hambur balik minyak dan perairan.
Tabel 3. Nilai selang hambur balik tumpahan minyak dan air laut Kelas Min (dB) Max (dB) m
Berat -34.00 -31.52 2.48 Sedang -31.52 -30.18 1.34 Ringan -30.18 -27.49 2.69 Air -27.49 -19.00 8.49
Nilai selang hambur balik pada penelitian ini tidak dapat dibandingkan dengan nilai selang hambur balik pada penelitian tumpahan minyak yang lain. Nilai hambur balik dari tumpahan minyak ataupun bukan tumpahan minyak yang teridentifikasi oleh pengamatan yang lain tidak dapat dijadikan acuan untuk pengamatan selanjutnya. Hal ini karena nilai hambur balik yang dihasilkan dari objek tumpahan minyak tidak selalu sama. Nilai hambur balik dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti jenis tumpahan minyak, metode pengolahan, ketebalan minyak, dan jenis data penginderaan jauh yang berasal dari satelit dengan polarisasi tertentu yang digunakan (Samad dan Mansor, 2011).
Nilai selang hambur balik yang diperoleh kemudian dikelompokkan dengan menggunakan formula klasifikasi dan ditampilkan secara visual sehingga dapat dilihat persebaran tumpahan minyak. Gambar 14 menunjukkan sebaran tumpahan minyak berdasarkan nilai selang hambur balik.
Berdasarkan tampilan visual klasifikasi tumpahan minyak, maka diperoleh luas tumpahan minyak untuk setiap kelas tumpahan minyak dan volume tumpahan minyak. Volume tumpahan minyak diperoleh dengan mengasumsikan ketebalan tumpahan minyak, yaitu: minyak berat = 2.54 mm, minyak sedang = 0.254 mm, dan minyak ringan = 0.0254 mm (Mark, 2010). Adapun luas dan volume tumpahan minyak ditunjukkan pada Tabel 4.
Tabel 4. Luas area dan volume tumpahan minyak
Klasifikasi Luas Area Tumpahan (Km2) Volume (L) Berat (Ton)
Berat 2231.506 5.67 x 109 4530
Sedang 2087.484 5.38 x 108 424
Ringan 2023.019 5.14 x 107 41.1
Dari Tabel 4, diketahui bahwa luas total sebaran tumpahan minyak adalah 6342.009 Km2 sebanyak 6.25 x 109 Liter.
Hasil klasifikasi tumpahan minyak ini kemudian dibandingkan dengan pendeteksian tumpahan minyak metode OSI (Oil Spread Index). Metode OSI menghasilkan indeks yang digunakan untuk menentukan jenis tumpahan yang ada di perairan dengan menggunakan formulasi Oil Spread Index. Indeks diperoleh dari perbandingan antara jumlah diameter sample region dengan banyaknya
sample region yang dibuat. Dimana, sample region yang digunakan adalah sample region yang memiliki ukuran diameter berbeda. Adapun sample region ini sebelumnya digunakan dalam pendeteksian tumpahan minyak. Indeks yang dihasilkan dihubungkan dengan tingkat kerapatan atau viskositas minyak. Kisaran nilai OSI untuk setiap tingkat ketebalan minyak di laut yang direpresentasikan dengan viskositas (kerapatan) seperti minyak berat, sedang, dan ringan dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Klasifikasi viskositas minyak terhadap OSI Klasifikasi Viskositas Minyak OSI
Berat 0.17 - 0.34
Sedang 0.67 - 0.96
Ringan 1.03 - 1.25
Pada penelitian ini, terdapat perbedaan kisaran nilai OSI dengan kisaran nilai OSI pada penelitian yang dilakukan sebelumnya dalam pendeteksian tumpahan minyak dengan menggunakan metode OSI. Hal ini dapat disebabkan oleh bentuk tumpahan minyak yang terekam dalam citra dan penerapan metode
filtering yang dilakukan. Menurut Alawadi (2009), analisis tumpahan minyak dengan metode OSI dibatasi hanya pada tumpahan minyak yang lebar yang berasal dari anjungan minyak lepas pantai. Penggunaan filter sobel (edge detection) akan dapat memperjelas tampilan tumpahan minyak sehingga tumpahan minyak yg terbentuk dapat memenuhi kriteria penerapan metode OSI.
Pendeteksian yang dilakukan menggunakan metode OSI menunjukkan bahwa tumpahan minyak yang berada disekitar anjungan digolongkan menjadi
tumpahan minyak berat, sedangkan minyak yang letaknya jauh dari anjungan digolongkan kedalam tumpahan minyak ringan. Sebaran nilai OSI setiap region tumpahan minyak yang ada di Laut Timor dapat dilihat pada Gambar 15.
Gambar 15. Profil nilai OSI dari sampleregion
Nilai OSI masing-masing region menunjukkan bahwa tumpahan minyak yang terdapat pada region 1-10 digolongkan menjadi tumpahan minyak berat, sedangkan tumpahan minyak pada region 11-20 digolongkan menjadi tumpahan minyak sedang dan tumpahan minyak pada region 21-30 digolongkan menjadi tumpahan minyak ringan. Adapun posisi region yang dimaksudkan dapat dilihat pada Gambar 16.
Gambar 16. Posisi region tumpahan minyak
Dari dua metode klasifikasi tumpahan minyak yang digunakan, terdapat perbedaan dalam penentuan kelas tumpahan minyak yaitu pada kelas tumpahan minyak sedang. Berdasarkan metode OSI, tumpahan minyak yang berada di sekitar sample region 11-20 merupakan tumpahan minyak sedang. Akan tetapi, berdasarkan nilai hambur baliknya, tumpahan minyak tersebut termasuk kedalam
kelas tumpahan minyak berat. Dalam klasifikasi tumpahan minyak metode OSI, pengklasifikasian dilakukan berdasarkan hubungan antara lebar diameter sample region dengan banyaknya sample region. Pada penerapan metode OSI, dibutuh beberapa data tambahan untuk dapat menghasilkan klasifikasi tumpahan minyak yang lebih akurat seperti data hasil pengamatan langsung di lapangan.
Akurasi suatu citra pengamatan didukung oleh data pengamatan secara in situ. Pada penelitian ini tidak dilakukan pengamatan secara in situ mengingat waktu dan lokasi tumpahan minyak serta biaya. Penelitian tumpahan minyak Montara di Laut Timor dengan menggunakan citra ALOS-PALSAR telah dilakukan sebelumnya pada tahun 2012 oleh Nisa Nisvia Marsya. Pada penelitian ini, pendeteksian tumpahan minyak dilakukan dengan pengamatan terhadap parameter statistik citra dengan menerapkan metode Oil Spread Index (OSI) sehingga dihasilkan selang nilai klasifikasi tumpahan minyak yang berbeda.
Pola Pergerakan Angin Di Laut Timor
Salah satu faktor penyebaran tumpahan minyak di laut adalah angin. Pergerakan angin dapat mempengaruhi penyebaran tumpahan minyak karena posisi dari tumpahan minyak yang berada di permukaan air. Untuk itu, dalam mendeteksi tumpahan minyak perlu dilihat arah pergerakan angin.
Pengamatan pola pergerakan angin dilakukan terhadap beberapa periode tertentu, seperti satu minggu sebelum tumpahan minyak terjadi (14 Agustus – 21 Agustus 2009), saat tumpahan minyak (21 Agustus 2009), dua minggu setelah tumpahan minyak (22 Agustus – 4 September 2009), saat perekaman (sesuai citra, 2 September 2009), dan saat kebocoran minyak teratasi (3 November 2009). Gambar 17 memperlihatkan arah pergerakan angin pada saat satu minggu sebelum tumpahan minyak terjadi.
Gambar 17. Pergerakan angin, (a) arah dan kecepatan angin di Laut Timor pada 14 Agustus – 21 Agustus 2009, (b) Wind rose pergerakan angin Satu minggu sebelum terjadinya tumpahan minyak, angin di Laut Timor bergerak dari arah timur menuju ke arah barat dengan kecepatan maksimal 7 m/s, sementara di daerah dekat dengan daratan Australia, angin bergerak dari arah
timur menuju ke selatan dengan kecepatan sekitar 3 m/s – 3.5 m/s. Selanjutnya dilakukan pengamatan terhadap pergerakan angin saat terjadi tumpahan minyak (21 Agustus 2009) seperti yang ditunjukkan pada Gambar 18 berikut.
Gambar 18. Pergerakan angin, (a) arah dan kecepatan angin di Laut Timor pada 21 Agustus 2009, (b) Windrose pergerakan angin
Pada saat terjadi tumpahan minyak, angin di Laut Timor bergerak dominan dari arah arah timur menuju ke barat dengan kecepatan antara 5 m/s – 7.4 m/s. Namun, pada lokasi tumpahan minyak, angin yang bergerak dari timur berbelok ke arah barat laut yang selanjutnya bergerak menuju ke arah barat. Angin ini bergerak dengan kecepatan antara 3 m/s – 4.5 m/s. Pengamatan terhadap pergerakan angin berikutnya adalah pergerakan angin dua minggu setelah terjadi tumpahan minyak, seperti yang diperlihatkan pada Gambar 19 berikut.
Gambar 19. Pergerakan angin, (a) arah dan kecepatan angin di Laut Timor pada 22 Agustus – 4 September 2009, (b) Windrose pergerakan angin
Dua minggu setelah terjadinya tumpahan minyak, pergerakan angin masih cenderung bergerak dari timur ke barat dengan kecepatan maksimum 6.9 m/s. Pada lokasi tumpahan minyak, angin bergerak dengan kecepatan 3 m/s – 4.5 m/s. Jika dilihat berdasarkan wind rose, maka pada masa ini terjadi lebih banyak arah pergerakan angin karena akan memasuki masa angin muson peralihan (September-November). Selanjutnya, dilakukan pengamatan pergerakan angin sesuai dengan waktu pemindaian citra (2 September 2009). Adapun pergerakan angin dapat dilihat pada Gambar 20.
(a) (b)
(c)
Gambar 20. Pergerakan angin, (a) arah dan kecepatan angin di Laut Timor pada 2 September 2009, (b) pergerakan angin pada citra, (c) Windrose
Pada tanggal 2 September 2009, angin bergerak dari arah tenggara menuju ke barat laut. Angin ini bergerak dengan kecepatan 3.5 m/s – 7 m/s. Terdapat banyak arah pergerakan angin lainnya seperti yang terlihat pada wind rose. Hal ini dapat disebabkan karena pada bulan September telah memasuki masa angin muson peralihan sehingga angin bergerak tidak beraturan. Angin ini bergerak dengan kecepatan yang relative rendah yaitu 1 m/s – 3 m/s. Pengamatan terhadap pergerakan angin yang terakhir dilakukan untuk angin pada tanggal 3 November 2009. Pada masa ini kebocoran minyak telah dapat teratasi. Adapun pergerakan angin pada tanggal 3 November 2009 dapat dilihat pada Gambar 21.
(a) (b)
Gambar 21. Pergerakan angin, (a) arah dan kecepatan angin di Laut Timor pada 3 November 2009, (b) Windrose pergerakan angin
Pergerakan angin pada tanggal 3 November 2009 cenderung bergerak dari arah timur menuju ke barat dengan kecepatan maksimum 6.9 m/s. Adapun pada lokasi tumpahan minyak angin bergerak dari arah tenggara menuju ke barat laut dan selanjutnya berbelok ke barat dengan kecepatan 4.5 m/s – 5.5 m/s.
Tumpahan minyak cenderung menyebar mengikuti arah pergerakan angin. Penyebaran tumpahan minyak yang semakin luas akan mengakibatkan semakin luasnya area laut yang tercemar. Hal ini menyebabkan semakin banyak pula biota laut yang terkena dampak dari pencemaran air laut oleh tumpahan minyak.
Pola Pergerakan Arus Di Laut Timor
Penyebaran tumpahan minyak di laut selain dipengaruhi oleh angin, juga dipengaruhi oleh arus permukaan. Faktor utama penyebaran tumpahan minyak di laut adalah angin dan arus (Fingas, 2010). Pola pergerakan arus yang diamati
adalah pergerakan arus saat perekaman citra, yaitu pada tanggal 2 September 2009. Gambar 22 memperlihatkan pola pergerakan arus pada saat perekaman citra.
Gambar 22. Pola pergerakan arus (arah dan kecepatan) pada saat perekaman citra
Arus pada lokasi tumpahan minyak bergerak dari arah tenggara menuju ke arah barat daya dengan kecepatan antara 0.2 – 0.3 m/s. Dilihat dari bentuk persebarannya, pergerakan tumpahan minyak lebih cenderung mengikuti pergerakan arus permukaan. Penyebaran tumpahan minyak cenderung lebih mengarah ke selatan, yaitu ke perairan Australia. Pada saat yang sama, angin bergerak dari arah tenggara menuju ke barat laut.