• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kualitas Air Dan Lingkungan

Dalam dokumen LAPORAN TEKNIS / AKHIR TAHUN ANGGARAN 2011 (Halaman 28-46)

Gambar 3. Peta Lokasi Penelitian di Waduk Gaja Mungkur

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kualitas Air Dan Lingkungan

Kecerahan

Nilai kecerahan perairan Waduk Gajah Mungkur di semua stasiun pengamatan berkisar antara 30 – 111 cm dengan nilai rata rata 51 Cm, kecerahan menurun dari bulan Maret sampai bulan September. Pada bulan Maret kecerahan dari 30 – 111 cm, bulan Juni 32 - 80 cm, dan bulan September 30- 80 cm (Lampiran 1-4) ). Kecerahan tertinggi rata-rata terdapat di terdapat pada di stasiun karamba jaring apung (KJA), baik KJA PT A quafarm maupun KJA lainnya (masyarakat). Hal ini karena lokasi yang dipilih untuk KJA adalah lokasi yang mempunyai kedalaman tinggi dan mendekati tepi. Sedangkan pada stasiun pengamatan lainnya (tengah) kecerahan rendah karena dapat disebabkan kedalaman juga rendah, sehingga kecerahan dapat mencapai dasar, akan tetapi jika pada stasiun yang mempunyai kedalam tinggi dan mempunyai kecerahan rendah diduga karena adanya terdapat padatan tersuspensi dan padatan plankton.

Kecerahan stasiun-stasiun inlet dapat mencapai dasar jika sedang ti dak terjadi pengadukan perairan karena erosi. Pada pengamatan bulan Februari, dan kecerahan tertinggi di stasiun out let pada bulan Juli.. Menurut Novotny dan Olem, (1994) dalam Effendi, (2000) tingkat kecerahan perairan kurang dari 200 cm termasuk dala m tingkat kesuburan eutrofik. Tingkat kecerahan Waduk Gajah Mungkur tergolong rendah, dengan demikian perairan ini termasuk dalam kriteria tingkat kesuburan eutrofik. Kecerahan air tergantung kepada warna, kekeruhan (turbidity), keadaan cuaca, waktu peng ukuran, dan padatan tersuspensi (TSS) dan terlarut (TDS).

Kecerahan yang rendah mengindikasikan laju sedimentasinya tinggi, disamping itu w arna air waduk Gajah Mungkur yang kehijauan hingga hijau mengindikasikan perairan kaya plankton terutama fitoplankton.

Kedalaman

Kedalaman perairan Waduk Gajah Mungkur berkisar antara 1,5 – 14,7 m dengan kedalaman terendah terdapat pada stasiun inlet Wiroko dan Bengawan Solo yaitu 1,5 dan 2,4 m pada bulan Maret, Juni dan September dan terdalam pada area karamba jaring apung yaitu 10,7-14,5 m (Lampiran 1-4).

Oksigen Terlarut

Oksigen terlarut di Waduk Gajah Mungkur berkisar antara 0,0 – 9,40 mg/l dengan rata-rata 6,7 mg/l. Ada indikasi semakin menuju ke dasar perairan konsentrasi oksigen semakin menurun (Gambar 4), bahkan di dasar perairan bisa mencapai nol seperti di stasiun Tengah dan KJA Godean dan Gawe (Lampiran 1-4). Pada kedalaman setelah 3 meter pada umumnya konsentrasi oksigen sudah mulai menurun dan pada dasar perairan konsentrasi oksigen sangat rendah bisa mencapai nol seperti di stasiun inlet wiroko dan 1,23 mg/l. Pada perairan yang banyak keramba jaring apung, k onsentrasi oksigen di daerah keramba jaring apung dapat menjadi rendah karena konsumsi oksigen oleh besarnya populasi ikan dari keramba dan digunakan untuk proses dekomposisi sisa bahan organik yang mengendap di dasar perairan.

Konsentrasi rata-rata oksigen terlarut Waduk Gajah Mungkur 6,7 mg/l, kisaran oksigen terlarut pada lapisan permukaan, 4,5 – 9,4 mg/l, pada kedalaman 3 meter 4,8 – 7,9 mg/l, dan pada pada kedalaman 5 meter 3,24 -6,9 mg/l, dan di dasar perairan 0,0 – 5,3 mg/l. Konsentrasi oksigen terlarut secara alami bervariasi pada setiap kedalaman, penurunan tersebut tidak terlalu tajam, namun mengikuti pola stratifikasi perairan. Oksigen pada lapisan epilimnion lebih tinggi karena daerah ini terjadi proses fotosintesis secara aktiv, sedangkan di daerah hipolimnion konsentrasi oksigen lebih rendah (Boyd, 1993). Konsentrasi oksigen di di daerah hipolimnion merupakan hasil bersih dari sis a proses dekomposisi bahan organi k di sedimen dan respirasi biota perairan.

Secara alami oksigen akan masuk kedalam perairan air waduk terutama melalui proses fotosintesis sebesar 90-95 % dan yang lain melalui proses difusi dari udara, serta dari perair an itu

sendiri (Schmittou, 1991). Proses fotosintesa akan terjadi diperairan yang masih mendapatkan cahaya atau sinar matahari, dipengaruhi oleh suhu, tekanan parsiel yang ada di udara maupun yang di air, kadar garam serta adanya senyawa atau unsur yang m udah teroksidasi yang terkandung dalam air, makin tinggi suhu, kadar garam dalam air, dan tekanan parsiel gas yang terlarut dalam air maka kelarutan oksigen dalam air akan berkurang (Wardoyo,1981).

Menurut Cole, 1983 dalam Effendi 2000 sema kin tinggi suhu perairan kelarutan oksigen semakin rendah. Kadar Oksigen terlarut di perairan bila sama dengan kadar oksigen secara teoritis berdasarkan suhu maka disebut kadar oksigen jenuh atau saturasi, yang melebihi nilai jenuh disebut lewat jenuh dan yang kurang d ari nilai jenus disebut tidak jenuh. Bila kadar oksigen jenuh maka terjadi keseimbangan dengan kadar oksigen di atmosfir, tidak ada difusi oksigen dari udara ke dalam air dan sebaliknya. Difusi oksigen dari udara ke peraran dan sebaliknya akan terjadi bi la kondisi jenuh belum tercapai (tidak jenuh). Kejenuhan oksigen di perairan dinyatakan dalam persen saturasi.

Gambar 4. Kandungan Oksigen Terlarut Di Waduk Gajah Mungkur

Suhu

Dari Lampiran (1-4) terlihat bahwa suhu rata -rata perairan waduk Gajah Mungkur.

Kisaran suhu perairan selama penelitian berkisar antara 26 ,2 hingga 35oC dengan rata 29,18 oC.

Tinggi rendahnya suhu pada satu lokasi/ stasiun pengamatan sangat tergantung dengan waktu pengukuran yaitu jam dan bulan pengukuran. Suhu perairan cendrung semakin menurun seiring dengan tingkat kedalaman air. Suhu rata -rata permukaan di perairan waduk Gajah Mungkur berkisar antara 26,5 hingga 31,5 oC, kedalaman 3 meter 27, 2-30 oC, kedalaman 5 meter hingga dasar perairan 26,2 hingga 30 oC. suhu rata rata periran waduk gajah mungkur di perkaan, kedalaman 3m, 5 m, dan dasar perairan adalah 29,34; 29,32; 29,30; dan 28,77 oC (Gambar 5).

Walaupun suhu air cendrung menurun dengan bertambahnya kedalaman, n amun demikian keadaan suhu di perairan ini belum menunjukkan gejala stratifikasi.

Gambar 5. Grafik Suhu Perairan Waduk Gajah Mungkur Karbondioksida (CO2)

Karbondioksida (CO2) terlarut di waduk Gajah Mungkur berkisar antara 0,0 hingga 22,8 mg/l (Gambar 6). Pada bulan Maret berkisar anatara 2,64 -22,8 mg/l, di permukaan berkisar antara :2,64- 22,8 mg , 0- 3,52 kedalaman 3 m berkisar antara 0,0 -12,2 mg/l, dan kedalaman 5 m berkisar antara 0-3,52 mg/l. Semakin dalamnya perairan, konsentrasi CO2 cendrung semakin tinggi terutama di dasar perairan, yaitu 22,8 mg/l di stasiun outlet pada bulan Maret di stasiunKJA Gawe. di stasiun inlet KJA aquafarm, yaitu 13,2 dan 14,96 mg/l pada bulan Mei, dan 19,36 mg/l di stasiun KJA Tengah yaitu 3,52 mg/l pada bulan Juli serta 20,24 di stasiun tengah pada bulan Nopember. CO2 meningkat dengan semakin meningkatnya kedalaman

2,56 mg/l; 4,69 mg/l; 5,28 mg/l; dan 8,10 mg/l. CO2 bebas di perairan yang layak untuk perikanan sebaiknya kurang dari 5 mg/l. jika lebih besar dari 10 mg/l masih cukup baik asalkan kadar oksigen terlarutnya cukup (Boyd, 1988).

Gambar 6. Karbondioksida Bebas Di Periran Waduk Gajah Mungkur.

Tingkat kemasaman (pH) Perairan .

Tingkat kepasaman perairan perairan waduk waduk Gajah Mungkur stasiun keramba jaring apung berkisar anata 6,3 bagian inlet 8,0 denga rata-rata 7,25. Terlihat bahwa nilai pH tersebar merata di seluruh permukaan waduk ini. Hal ini dapat memperlihatkan bahwa air yang masuk keperairan mempunyai pH yang sudah tinggi, dan di dalam waduk nilai pH cendrung meningkat. Hal ini disebabkan adanya penambahan ion basa a tau hidroksil yang terlarut dari sekeliling perairan berupa batuan kapur, dari pemupukan di areal pertanian disekitarnya, dan dari sisa bahan pakan ikan yang masuk ke perairan. Jika dilihat dari kedalaman, ada kecendrungan semakin bertambahnya kedalaman, nilai pH sedikit menurun, seperti terlihat pada Lampiran 1-4 . Hal ini diduga adanya asam organik dari proses dekomposisi bahan organik yang terlepas ke perairan.

Total Alkalinitas

Total alkalinitas perairan Waduk Gajah Mungkur tergolong tinggi yaitu ber kisar antara 74-hingga 149 mg/l dengan rata-rata 92 mg/l, secara keseluruhan total alkalinitasnya tidak

0 4 8 12 16 20 24

035Dasar

- 4 8 12 16 20 24 28

035Dasar 04812162024 0 3 5 Dasar

KJA Aquafarm Inlet Wiroko KJA LOSO

Inlet Bengawan Solo Inlet Temon Tengah depan wiroko

-481216202428 0 3 5 Dasar

KJA Aquafarm KJA Masy. Godean KJA LOSO KJA Masykt. Gawe Inlet Wiroko Inlet Bengawan Solo

Inlet Temon Tengah III Tengah IV

Kedalaman (m)

CO2

menunjukkan kecendrungan dengan kedalaman perairan, semakin dalamnya perairan, yaitu di permukaan 98 mg/l, kedalaman 3 meter 8 6 mg/l, kedalaman 5 meter 89 mg/l dan 100 mg/l di dasar perairan. Total alkalinitas terendah di stasiun KJA Loso yaitu 74 mg/l, dan tertinggi yaitu 149 mg/l di stasiun inlet Bengawan Solo (Gambar 7). Total alkalinitas tergolong tinggi dan merata di setiap stasiun tercermin juga dari pH perairan yang tergolong basa. Hal ini berkaitan dengan sifat tanah yang dilewati oleh air dan sedimen perairan serta bahan masukan lainnya ke perairan. Nilai alkalinitas di perairan yang baik berkisar 30 – 500 mg/l CaCO3. pada perairan alami nilai alkalinitas 40 mg/l CaCO3,jika lebih dari 40 mg/l CaCO3disebut perairan sadah dan jika kurang dari 40 mg/l CaCO3disebut perairan lunak (Boyd,1988).

Gambar 7. Grafik Total Alkalinitas Perairan Waduk Gajah Mungkur Nitrogen

Total Nitrogen perairan waduk Gajah mungkur tergolong sedang hingga tinggi berkisar antara 1,09 hingga 19,4 mg/l dengan nilai rata rata 7,8 ppm (Lampiran 1-4), dengan demikian berdasarkan kandungan Total N maka Waduk Gajah Mungkur termasuk perairan mesotrofik hingga eutrofik. Nitrogen merupakan unsur hara makro atau unsur utama penentu tingkat kesuburan. Amonia (NH3-N) adalah salah satu bentuk nitrogen anorganik, bentuk nitrogen yang dapat diserap oleh mahluk hidup. Kandungan Amonia rata rata di Waduk Gajah Mungkur dari tidak terukur hingga 1.78 ppm, dengan rata rata 0,26 ppm. Menurut Goldman dan Horn (1983) amoniak (NH3) kurang dari 0,01 mg/l termasuk oligotrofik, jika lebih besar dari 0,2 mg/l termasuk eutrofik, sehingga berdasarkan kandungan amonia rata-rata maka Waduk Gajah Mungkur ternasuk perairan mesotrofik . Konsentrasi NH3, tidak boleh lebih dari 1,0 mg/l untuk

kehidupan ikan dengan layak, konsentrasi lebih besar dari 1 mg/L akan mematikan ikan (Pescod, 1973; Boyd, 1993).

Proses amonifikasi da ri nitrogen organik dalam proses dekomposisi bahan organik menghasilkan amonia. Jika kondisi kurang oksigen, bakteri anaerob akan aktif mendekomposisi bahan organik dalam proses denitrifikasi menghasilkan nitrit (NO2). Konsentrasi amonia (NH3 -N) di lapisan permukaan berkisar antara 0,01 -0,23 mg/l. Ada indikasi kadar amonia akan meningkat pada lapisan dasar perairan, terutama di area keramba jaring apung Loso 1,078 mg/l (Lampiran 1-4), jika musim kemarau akan tecium bau amis, yang berarti terjadi dekomposis i yang mencolok disekitar KJA . Hal tersebut disebabkan dekomposisi bahan organik yang berasal dari sisa pakan ikan atau ikan yang mati akan mengendap di dasar perairan akan menghasilkan amonia. NH3 adalah amoniak bebas yang tidak terionisasi, dan toksik terhadap biota air, sebaiknya berada kurang 0,02 mg/l di dalam air (Sawyer dan McCarty, 1978).

Gambar 8. Grafik Total Nitrogen Di Waduk Gajah Mungkur Amoniak (NH3)

Amoniak di perairan waduk Gajah Mungkur berkisar antara 0,001 atau tidak terukur hing ga 1,078 mg/l, umumnya nilai NH 3 di dasar perairan waduk ini rendah, tetapi dapat mencapai 0,264 di bagian dasar inlet -inlet. pada bulan Mei 0,35 didasar perairan stasiun KJA aquafarm dan tertinggi 2,64 mg/l di inlet Bengawan Solo. Tingginya NH3dari stasiun ini kemungkinan

besar karena di sepanjang sungai Solo sudah sangat tercemar, sehingga air yang masuk ke waduk sudah mengandung NH3 di waduk ini sudah tergolong tinggi. Menurut Goldman dan Horn (1983) amoniak (NH3) kurang dari 0,01 mg/l termasuk oligotrofik, jika lebih besar dari 0,2 mg/l termasuk eutrofik. NH3 berasal dari proses dekomposisi bahan organic di perairan.

Menurut Pescod (1973) konsentrasi NH3, tidak lebih dari 1,0 mg/l untuk kehidupan ikan dengan layak, Amoniak (NH3) dalam konsentrasi tinggi beracun bagi ikan (Boyd, 1979). Hal ini kemungkinan pada bulan Mei , proses dekomposisi bahan organic yang dapat berasal dari limbah rumah tangga, sisa pakan yang terbuang ke perairan , terjadi pembusukan atau dekomposisi, karena pada dasar waduk yang kondisi oksigen terlarutnya sangat rendah , maka laju dekomposisi bahan organic akan lambat, hal ini lama kelamaan akan menyebabkan terakumulasinya bahan organic di dasar perairan. NH3adalah amoniak bebas yang tidak terionisasi, dan toksik terhad ap biota air, sebaiknya berada kurang 0,02 mg/l di dalam air (Sawyer dan McCarty, 1978).

Orthofosfat (PO42-)

Orthofosfat dalam kondisi basa akan berada dalam bentuk orthofosfatcalsium dan tidak tersedia bagi biota atau tidak dapat dimanfaatkan oleh bio ta perairan. P-tersedia atau orthofosfat (PO42-) dalam konsentrasi 0,003 -0,01 mg/l termasuk oligotrofik, 0,011 -0,03 mg/l meso, 0,031 – 0,1 mg/l eutrofik. 0,002 mg/l rendah, 0,021 -0,05 sedang, 0,051-0,1 mg/l tinggi (Yoshimura dalam Liaw, 1969 dalam Effendi, 2000). Orthofosfat (PO42-) di perairan Waduk Gajah Mungkur berkisar antara 0,1 hingga 2,8 mg/l, dan rata -rata 0,51 mg/l, dengan sebaran pada berbagai kedalaman sebagai berikut: P-tersedia berkisar antara 0,1 0 hingga 0,8 mg/l di permukaan , 0,1 hingga 1,1 mg/l pada kedalaman 3 meter, 0,1 hingga 0,6 mg/l pada kedalaman 5 meter, dan 0,2 hingga 2,8 mg/l di dasar perairan KJA (Gambar 9 dan Lampiran 1 – 4). P-tersedia di perairan waduk ini tergolong sangat tinggi dengan tingkat kesuburan eutrofik. Salah s atu sumber P-tersedia di perairan waduk adalah dari sisa pakan ikan yang mengandung nitrogen dan fosfor yang terdapat dalam pakan ikan dan terbuang kedalam perairan. Sisa pakan dari budidaya dalam keramba jaring apung sekitar 30 % sebagai penyumbang fosfat perairan (Krismono et al., 1996).

Gambar 9. Grafik PO4(mg/l) Di Perairan Waduk Gajah Mungkur

Daya Hantar Listrik

Daya hantar listrik di waduk Gajah Mungkur berkisar antara 7 0 hingga 233 µmhos/cm (Gambar 10). Perairan waduk sudah tergolong tingkat kesuburan tinggi. Daya hantar listrik di perairan alami berkisar antara 20 -1500 µmhos/cm ( Boyd, 1988). Kisaran rata-rata DHL pada permukaan waduk antara 70 hingga 233 µmhos/cm, kedalaman 3 meter 89 hingga 200 µmhos/cm, kedalaman 5 meter 87 hingga 171 µmhos/cm, dan di dasar perairan 92 hingga 226 µmhos/cm. Nilai DHL dalam perairan W aduk Gajah Mungkur tidak menunjukkan suatu kecendrungan, baik tarhadap kedalaman maupun pada berbagai stasiun pengamatan, yaitu rata-rata di permukaan 174,15 µmhos/cm , kedalaman 3 meter 162,82 µmhos/cm , kedalaman 5 meter 148,63 µmhos/cm, dan di dasar perairan 160,39 µmhos/cm, dengan rata-rata keseluruhan yaitu 161,50 µmhos/cm (Lampiran 1- 4), Berdasarkan daya hantar listrik ya ng diketahui, maka Waduk Gajah Mungkur termasuk perairan mesoeutropik. Dengan memakai persamaan morfoedhapik indeks, maka p otensi perikanan pada perairan dalam, dapat diduga dengan DHL berdasarkan kedalaman rata -rata (Wellcome, 1975).

Gambar 10. DHL (µmhos/cm) Di Waduk Gajah Mungkur

Fosfor (P)

Total fosfat di perairan waduk Gajah Mungkur berkisar antara tidak terukur hingga 2,6 mg/l. dengan nilai rata rata 0,41mg/l. Rata-rata pada permukaan tidak terukur sampai 2,6 m g/l, pada kedalaman 3 m tidak terukur sampai 1,7 mg/l, kedalaman 5 m tidak terukur hingga 0,7 mg/l, dan pada dasar perairan tidak terukur hingga 2,3 mg/l. total posfor tertinggi didapatkan di stasiun inlet Keduang atau watu pecah (Gambar 11 dan Lampiran 1 - 4). Berdasarkan kriteria Novotny & Olem, 1994 maka perairan waduk Gajah Mungkur rata rata sudah termasuk eutrofik. Sumber fosfor di alam sangat sedkit, p ertambahan fosfor secara alami berasal dari proses pelapukan mineral liat (tanah) yang mengandung P. Kadar fosfor dalam tekstur mineral tanah jenis lempung 0,043 – 0,064 % yang berasal dari pupuk fosfor, dari sisa pakan, limbah hewan dan limbah domestik (Walker and Borwn 1936 in Tisdale and Nelson, 1975) . Fosfor masuk ke perairan melalui erosi yang membawa koloid-koloid tanah dan limpasan air yang masuk ke perairan. Oleh karena itu banyaknya P terangkut ke perairan sangat tergantung juga dengan jumlah curah hujan. Total fosfor merupakan salah satu parameter menduga potensi

Horne, 1983). Tingginya total fosfor di waduk Gajah Mungkur terutama disebabkan terutama dari sisa pakan dan kotoran ikan di perairan tersebut serta limpasan air yang kaya fosfor dari pertanian di sekeliling terrestrial waduk.

Salah satu sumber fosfor di perairan waduk adalah dari sisa pakan dan kotoran ikan ikan dari KJA yang terbuang kedalam perairan. Sisa pakan dari budidaya dalam keramba jaring apung sekitar 30 % sebagai penyumbang fosfo r perairan (Krismono et al., 1996). Ada indikasi bahwa makin ke dasar perairan kandungan fosfor makin tinggi, karena bahan organik yang mengendap di dasar perairan akan terura i menghasilkan fosfor (Lampiran 1).

Gambar 11. Grafik Total Posfor Di Waduk Gajah Mungkur Klorofil-a.

Tabel 3 memperlihatkan rata-rata kandungan klorofil -a perbulan pengamatan klorofil –a di perairan waduk Gajah Mungkur ( Tabel 3 dan Lampiran 1 - 4). Klorofil pada fitoplankton merupakan zat hijau daun yang sangat berperan dala m proses fotosintesis di perairan.

Banyaknya nilai klorofil akan tergantung apada banyaknya fitoplankton diperairan, dan banyaknya fitoplankton sangat ditentukan oleh kandungan nutrien diperairan terutama fosfor.

Kandungan total klorofil-a di perairan waduk Gajah Mungkur berkisar antara 1,19 -124,95 μg/l dengan nilai rata rata adalah 18,37 μg/l.

Tabel 3. Nilai Klorofil-a μg/l Berdasarkan Habitat Dan Waktu Pengamatan

Khlorofil-a (µg/l) Rata-rata

Menurut Novotny & Olem (1994); perairan oligotrofik bila kandungan klorofil < 4 μg/l, mesotrofik bila kandungan klorofil antara 4 -10 μg/l, eutrofik bila kandungan klorofil >10 μg/l.

Perairan Waduk Gajah Mungkur berdasarkan rata rata kandungan klorofil sudah masuk katagori perairan eutrofik (kesuburan tinggi). Kandungan klorofil yang tinggi tersebut dikarenakan jumlah fitoplankton di Gajah Mungkur juga sudah cukup tinggi mencapai 54500–358524 sel/liter (Dharyati et al (2009). Penyebab kandungan klorofil dan fitoplankton yang cukup tinggi disebabkan karena adanya pengkayaan unsur hara (eutrofikasi) terutama unsur fosfor di perairan.

Pada saat kemarau volume air waduk lebih kecil dari pada saat musim penghujan sehingga kandungan bahan organik lebih pekat, sedangkan saat m usim penghujan waduk banyak terisi oleh air baru dari air hujan.

Kondisi kesuburan perairan yang tinggi (eutrofik) di Waduk Gajah Mungkur tidak terlepas dari masukan bahan antropogenik seperti limbah dari keramba jaring apung (KJA), limbah rumah tangga dan limbah pertanian. Pada sekitar daerah pengaliran sungai yan g masuk ke waduk juga banyak dihuni penduduk, sehingga Waduk Gajah Mungkur juga menerima beban masukan bahan organik dari limbah rumah tangga.

Apa bila dibanding dengan Waduk di Jawa Barat maka waduk di Jawa Barat kondisi perairannya jauh lebih jelek dar i pada Waduk Gajah Mungkur. Sebagai contoh Waduk Cirata dan Saguling kondisinya sudah hypertrophic (kesuburan perairan sangat tinggi). Waduk Cirata terdapat 30.000 KJA, sedangkan menurut aturan yang dikeluarkan oleh Pemda setempat hanya diperbolehkan 12.000 Petak KJA, total fosfor yang lepas ke perairan dari KJA mencapai 91.247 kg/tahun (Kartamihardja, 1997). Waduk Saguling tiap tahun menghasilkan ikan dari KJA 34.279 ton sedangkan daya dukung perairan hanya 4.846 ton/tahun, kandungan fosfor rata rata di perairan mencapai 170 µg/L ( hypertrophic), sedangkan Waduk sebagai sumber air minum sebaiknya kadar fosfor tidak boleh melebihi 50 µg/L (Sukimin,2008)

Fluktuasi Beberapa Parameter Kualitas Air Selama Priode 24 Jam

Gambar 12 Fluktuasi Beberapa P arameter Kualitas Air Selama Priode 24 Jam

Karbondioksida (CO2)

Gambar 13. Suhu (oC), DO (mg/l) Dan CO2Pada Waktu Terendah Dan Tertinggi Di Waduk Gajah Mungkur

Beberapa parameter penting kualitas air yaitu suhu, karbondioksid a, dan oksigen terlarut dapat mengalami fluktuasi harian yang cukup signifikan dalam suatu periran (Lampiran 5-8). suhu perairan berkisar antara 28-30 oC, dari hasil pengamatan suhu tidak mengalami fluktuasi yang ekstrim, baik berdasarkan kedalaman maupu n berdasarkan waktu pengukuran. Sedangkan oksigen terlarut berfluktuasi cukup besar. Konsentrasi oksigen berkisar antara 0 – 8.9 mg/l, konsentrasi karbondioksida berkisar antara 0 -37 mg/l. Fluktuasi oksigen terlarut dalam priode 24 jam diamati pada berbagai lapisan kedalaman (Gambar 12-13 ). Konsentrasi oksigen rata -rata yang terukur pada berbagai lapisan kedalaman menunjukkan pola konsentrasi oksigen semakin menurun dengan semakin dalam lapisan perairan. Pada umumnya konsen trasi DO mengalami stratifikasi, demikian juga dengan karbondioksida terjadi sebaliknya.

Kandungan oksigen terlarut sangat penting artinya bagi kehidupan biota perairan terutama ikan. Sumber oksigen di perairan berasal dari hasil proses fotosintesa tumbuhan air terutama oleh phytoplankton, dan difusi dari udara di permukaan (Wetzel, 1975). Fotosintesis adalah proses perubahan energy matahari menjadi energy kimia, dilakukan oleh mahluk hidup yang berklorofil. Proses respirasi melepaskan CO2dan mengkonsumsi oksigen, dan fotosintesis melepaskan oksigen dan mengabsorpsi CO2di perairan ( Stickney, 1979). Pada siang hari, cuaca cerah, sinar matahari cukup untuk proses fotosintesis. Energi cahaya yang masuk ke badan perairan digunakan dalam proses fotosintesis sehingga laju fotosintes is akan lebih tinggi dan oksigen yang dihasilkan meningkat. Pada malam hari cahaya berkurang terjadi proses respirasi dan menghasilkan CO2. Pernafasan ikan memerlukan oksigen yang cukup untuk proses pembakaran yang akan menghasilkan energy. Menurut Pescod (1973) dan Boyd (1992) konsentrasi DO yang ideal untuk kehidupan ikan minimal 4 mg/l. Penurunan konsentrasi DO di suatu perairan akan menyebabkan stress bagi biota perairan (Sumittou, 1991). Bila kandungan oksigen ≤ 2 mg/l dapat menyebabkan kematian bagi ikan (Boyd, 1988). Jika defisit oksigen akan terjadi kondisi anaerob, pada k ondisi ini akan dihasilkan gas -gas CO2 dan H2S, yang

ditandai dengan timbulnya bau busuk (Allan dan Cushing, 2001). Aktivitas dalam proses perombakan bahan organic membutuhkan oksigen sehingga mengakibatkan penurunan oksigen dalam air. DO pada konsentrasi terendah pada pukul 02.00 wib.

Tipe Habitat Di Perairan Waduk Dan Beberapa Ciri -cirinya

Waduk merupakan tipe perairan umum yang sengaja dibuat dengan cara membendung sungai, sumber air berasal terutama dari sungai dan hujan. Sebagai w aduk serbaguna, aktivitas yang terjadi di perairan waduk dan sekitarnya berhubungan erat dengan pemanfaatan waduk yaitu : untuk irigasi persawahan, pembangkit tenaga listrik, sumber air minum, pariwisata, perikanan budidaya dan perikanan tangkap. Waduk Gajah Mungkur terletak di Kab. Wono Giri Jawa Tengah, berada di Kaki gunung Seribu. Sumber Mata air yang Penting yaitu Kali Keduang, Bengawan Solo, Kali Tirtomoyo, Kali Mlati.

Ciri-ciri :

Permukaan menjadi luas karena tepi waduk berkelok -kelok atau banyak teluk -teluk.

Waduk dibedakan atas bagian inlet, tengah dan outlet.

Waduk adalah tipe perairan umum buatan, perairan dalam, dan tidak mengalir (lentic). Ciri umumnya, relative tidak mengalir, mempnyai daerah tangkapan hujan yang luas, disekelilingnya merupakan teluk-teluk sehingga tepi waduk berkelok -kelok, lithoralnya landai.

Zona waduk dibagi kedalam 3 bagian, yaitu : Inlet, tengah dan outlet. Ciri masing-masing adalah sebagai berikut:

Zona Inlet :

1. Inlet Keduang dan Wiroko :

- Terdiri dari muara sungai yang airnya masuk ke waduk;

- Terdiri dari muara sungai yang airnya masuk ke waduk;

Dalam dokumen LAPORAN TEKNIS / AKHIR TAHUN ANGGARAN 2011 (Halaman 28-46)

Dokumen terkait