• Tidak ada hasil yang ditemukan

Salah satu jalur masuk logam berat dalam tubuh ternak adalah melalui makanan yang dikonsumsi. Sama halnya dengan manusia, kontaminasi logam berat pada pakan ternak dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada ternak, sehingga national research council merekomendasikan maksimum toleransi mineral dalam pakan ternak (tabel 1). Rumput merupakan sumber makanan utama bagi ternak sehingga keberadaan logam berat dalam rumput dapat memicu pengendapan sejumlah logam berat dalam tubuh ternak. Hasil analisis beberapa logam berat pada rumput dan air yang dikonsumsi oleh ternak di areal revegetasi tambang di sajikan pada tabel 6.

Tabel 6. Konsentrasi logam berat (mg/kg berat basah) yang terdapat pada rumput (tanpa pencucian) dan air minum ternak

Jenis Logam

Konsentrasi logam berat (mg/kg) pada

beberapa rumput di areal revegetasi tambang Air Minum Sapi dari areal revegetasi tambang (mg/kg) Maks. Toleransi mineral pada pakan (mg/kg)* Maks. Toleransi mineral pada air minum (mg/kg)** Siratro (Macroptilium atropurpureum) BD (Brachiaria decumbens) Cu 1.03 ± 0.07 0.64 ± 0.04 0.03 ± 0.00 100 - Fe 108.34 ± 0.53 98.99 ± 0.14 0.05 ± 0.05 1000 Tb Zn 7.11 ± 0.12 3.88 ± 0.06 0.00 ± 0.00 500 25 Cr 125.48 ± 0.54 184.84 ± 0.21 0.52 ± 0.01 1000 1.0 Ni 0.61 ± 0.08 290.78 ± 0.03 0.05 ± 0.00 50 1.0 Cd Tt Tt 0.05 ± 0.00 10 0.05 Hg - Tt 0.011 ± 0.005 2 0.01 Pb - Tt 0.034±0.003 100 0.1

* NRC (2000) (perkiraan untuk sapi dewasa); **NRC (2011); Tb = belum ada batas maksimum toleransi.

Konsentrasi Cu, Fe, Zn dan Cr pada kedua jenis rumput yang diamati, tidak melebihi angka maksimum toleransi mineral pada pakan. Logam berat yang tergolong toksik seperti Cd, Hg dan Pb tidak ditemukan pada kedua jenis rumput yang diamati. Konsentrasi yang melebihi maksimum toleransi mineral dalam pakan adalah nikel pada Brachiaria decumbens (BD), sementara konsentrasi nikel pada rumput Macroptilium atropurpureum (siratro) tidak melebihi maksimum toleransi. Tingginya konsentrasi nikel pada rumput BD dapat bersumber dari debu pabrik mengingat lahan revegetasi tersebut merupakan areal penambangan nikel dan tidak dilakukannya pencucian rumput sebelum proses preparasi sampel. Proses pencucian sampel sebelum preparasi, sengaja tidak dilakukan mengingat rumput yang dikonsumsi oleh ternak bercampur dengan debu yang menempel pada permukaan daunnya. Dalam lingkungan pertambangan, debu logam menyebar sebagai lapisan debu pada setiap permukaan di daerah karena peledakan batuan saat penambangan. Kontaminan ini dapat tersebar ke atmosfer melalui perantara angin dengan tingkat penghapusan logam dari tanah tergantung pada faktor-faktor seperti mineralogi buangan pertambangan, konsentrasi logam total,

spesiasi dan ada atau tidak adanya ion bersaing (Onder et al. 2007; Gutiérrez- Ginés et al. 2010; Bruce et al. 2003). Nikel adalah nutrisi esensial yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah kecil oleh beberapa spesies hewan, mikroorganisme dan tumbuhan sehingga gejala defisiensi dan toksisitas dapat terjadi jika mengkonsumsi nikel dalam jumlah yang sangat kecil (lebih rendah dari kebutuhan) ataupun sangat banyak. (Cempel and Nikel 2005).

Mineral memiliki pengaruh signifikan terhadap nutrisi dan metabolisme ruminansia, tetapi ketersediaan mineral dari tanah untuk hijauan ternak sangat bervariasi (Ashraf et al. 2007). Rata-rata konsumsi bahan kering bagi ruminansia adalah 3-4% dari berat badan, namun meskipun tingkat konsumsi didasarkan pada kadar bahan kering pakan, namun pemberian bahan kering pakan yang diberikan terbatas pada kapasitas rumen mengolah bahan pakan yaitu 10% dari berat badan sapi. Asupan rumput harian ternak yang cukup besar, sehingga rumput yang terkontaminasi logam berat berpotensi menimbulkan akumulasi logam berat pada tubuh ternak yang mengkonsumsinya.

Konsentrasi Cu, Fe, Zn, Cr dan Ni pada air minum yang dikonsumsi oleh ternak tidak melebihi maksimum toleransi mineral dalam air minum ternak. Logam berat yang tergolong toksik seperti Pb ditemukan dalam jumlah yang melebihi batas maksimum toleransi mineral dalam air minum ternak, sementara Hg dan Cd mencapai maksimum toleransi mineral dalam air minum ternak. Air minum yang dikonsumsi oleh ternak di areal revegetasi tambang adalah air yang tergenang pada kubangan tanah di areal revegetasi tambang. Kontaminasi logam berat pada air dapat bersumber dari sedimen tanah dan aliran air yang melewati tempat-tempat pembuangan limbah industri sebelum tergenang di sebuah kubangan. Hal ini dikuatkan Mendie (2005) bahwa air dapat memperoleh kontaminan dari aktivitas manusia (misalnya aktivias dalam kegiatan industri) dan hewan serta aktivitas biologis lainnya. Air memiliki sifat yang sangat unik karena polaritas dan ikatan hydrogen yang dimiliki mampu melarutkan, menyerap atau menyimpan senyawa yang berbeda (WHO 2007). Air drainase pertanian yang mengandung pestisida, pupuk dan limbah dari kegiatan industri dapat memasok sejumlah besar anion organik dan logam berat pada air dan sedimen (EC 2002). Selain dari makanan, air minum juga dapat menjadi sumber masuknya logam berat dalam tubuh ternak. Ternak besar seperti sapi yang hidup pada suhu lingkungan sekitar 27-32oC dapat mengkonsumsi air sekitar 33.69-48.07 liter air setiap harinya (NRC 2011), sehingga konsumsi air yang terkontaminasi logam berat, dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan ternak.

Logam Berat pada Daging dan Jeroan Sapi

Kontaminasi daging oleh logam berat dapat menjadi ancaman yang serius karena beberapa logam berat dapat bersifat toksik pada level tertentu. Logam berat dapat mengalami bioakumulasi dan biomagnifikasi sepanjang rantai makanan (Demirezen and Uruc 2006). Hasil analisis beberapa logam berat pada daging dan organ sapi yang merumput di areal revegetasi tambang maupun dari sapi di luar areal pertambangan disajikan pada tabel 7-14.

Tembaga

Tabel 7. Konsentrasi tembaga pada daging dan berbagai organ (mg/kg berat basah) dari sapi yang dipelihara di lahan pasca tambang dan di luar lahan pasca tambang.

Lokasi Sapi dari lahan pasca tambang (mg/kg)

Sapi dari luar areal lahan pasca tambang

(mg/kg) Standar* (mg/kg) Daging Punggung 0.04 ± 0.07 Tt 10 Daging Paha 0.01 ± 0.02 0.18 ± 0.06 Jantung 1.35 ± 0.20 1.07 ± 0.11 Hati 1.92 ± 1.26 0.71 ± 0.07 Paru-paru 0.41 ± 0.04 0.53 ± 0.07 Limpa 0.26 ± 0.03 0.21 ± 0.03 Ginjal 2.37 ± 0.18 1.80 ± 0.22 Tulang 0.07 ± 0.05 0.07 ± 0.01 Darah 0.18 ± 0.08 0.15 ± 0.03

* Chinese Standard (GB 15999-94 dan GB13106-1999). Tt : Tidak terdeteksi

Konsentrasi tembaga (tabel 7) pada sapi yang merumput dan hidup di lahan revegetasi tambang dan sapi yang berasal dari luar lahan pasca tambang di daging dan di seluruh organ yang biasa dikonsumsi oleh manusia tidak melebihi ambang batas maksimum tembaga dalam daging yang ditetapkan Chinese standard.

Tembaga paling banyak ditemukan pada ginjal sapi yang merumput di lahan revegetasi tambang maupun sapi dari luar areal tambang. Unsur tembaga yang terdapat dalam makanan, masuk melalui saluran pencernaan dan diangkut melalui darah. Setelah masuk peredaran darah, unsur tembaga akan berikatan dengan protein albumin. Kemudian diantarkan dan dilepaskan ke jaringan hati dan ginjal lalu berikatan dengan protein membentuk enzim, terutama enzim seruloplasmin yang mengandung 90 – 94% tembaga dari total kandungan tembaga dalam tubuh. Ekskresi utama unsur ini ialah melalui empedu, sebagian kecil dikeluarkan bersama air seni, keringat dan air susu. Jika terjadi gangguan- gangguan pada rute pembuangan empedu, tembaga akan diekskresi bersama air seni (Inoue et al. 2002).

Tembaga merupakan unsur mineral mikro esensial, asupan harian yang direkomendasikan untuk manusia adalah 0.9 mg/hari (tabel 2). Tembaga dibutuhkan dalam jumlah kecil, kekurangan asupan tembaga dapat menyebabkan gejala defisiensi. Namun asupan tembaga yang berlebihan dapat mengganggu kesehatan. Tembaga sebagai tembaga sulfat telah dievaluasi oleh JECFA pada tahun 1966, 1970, dan 1982. Maksimum asupan harian yang diizinkan (provosional maximum tolerable daily intake/PMDTI) adalah 0,05-0,5 mg / kg berat badan atau setara dengan 35 mg per hari untuk manusia dewasa dengan berat badan 70 kg (CAC 2010).

Hampir semua mineral esensial baik makro maupun mikro berfungsi sebagai katalisator dalam sel. Beberapa mineral berikatan dengan protein, sedangkan lainnya sebagai ikatan pembentukan komponen siklik antara molekul

organik dan ion logam Selain ikut serta dalam sintesa hemoglobin, tembaga juga merupakan bagian dari enzim-enzim di dalam sel, seperti sebagai kofaktor enzim tirosinase di dalam kulit. Di dalam hati, hampir semua tembaga berikatan dengan enzim, terutama enzim seruloplasmin yang berfungsi sebagai feroksidase dan transportasi di dalam darah (Sharma et al. 2003; Arifin 2007).

Besi

Mineral Fe dalam jumlah besar di daging dan seluruh organ (Tabel 8). Belum dapat dipastikan apakah konsentrasi Fe yang ditemukan ini berlebih atau masih dalam kisaran yang dibutuhkan, karena belum ada standar batas maksimum Fe untuk daging, mengingat daging sering dijadikan sebagai sumber Fe dari pangan. Namun EFSA menyebutkan bahwa, konsentrasi Fe normal pada hati, ginjal dan daging sapi masing-masing adalah 69 (44-72), 110 (65-150) dan 21 (17-23) (mg/kg).

Kadar Fe paling tinggi terdapat di darah, hal ini terjadi karena Fe adalah komponen hemoglobin di dalam sel darah merah (eritrosit) yang tersedia untuk mentransportasikan oksigen ke seluruh tubuh dan dalam bentuk mioglobin untuk penyimpanan dan penggunaan oksigen di otot. (Geissler dan Singh 2011). Namun pada sapi dari luar areal pertambangan, Fe banyak terdapat pada bagian limpa kemudian paru-paru dan jantung. Hal ini mungkin terjadi interaksi dengan mineral di dalam darah.

Tabel 8. Konsentrasi besi (Fe) pada daging dan berbagai organ (mg/kg berat basah) dari sapi yang dipelihara di lahan pasca tambang dan di luar lahan pasca tambang.

Lokasi Sapi dari lahan pasca tambang (mg/kg)

Sapi dari luar areal lahan pasca tambang

(mg/kg) Standar* (mg/kg) Daging Punggung 10.10 ± 3.49 28.10 ± 4.58 - Daging Paha 12.07 ± 3.13 26.52 ± 3.53 Jantung 32.89 ± 2.12 25.24 ± 1.92 Hati 57.95 ± 14.37 33.91 ± 2.02 Paru-paru 50.65 ± 9.90 41.68 ± 1.28 Limpa 81.22 ± 2.74 62.43 ± 2.11 Ginjal 47.36 ± 3.01 24.44 ± 1.16 Tulang 3.26 ± 1.22 3.79 ± 0.26 Darah 91.95 ± 10.65 35.24 ± 1.34

Besi terjadi sebagai konstituen alami dari semua makanan yang berasal dari tumbuahan dan hewan. Zat besi ditemukan dalam jumlah yang kecil pada buah-buahan, sayuran dan lemak. Besi ditemukan dalam jumlah sedang pada daging merah, ayam dan telur. Sementara pada jaringan organ, ikan, sayuran hijau dan tomat mengandung zat besi dalam jumlah tinggi.

Pada umumnya besi adalah mineral yang sangat dibutuhkan oleh tubuh dan kejadian penyakit yang disebabkan oleh kelebihan besi jarang terjadi. Yang sering terjadi di Indonesia adalah penyakit yang disebabkan oleh kekurangan zat

besi yaitu anemia. Namun tingginya besi dalam darah tidak begitu mengkhawatirkan mengingat masyarakat Indonesia tidak mengkonsumsi darah.

Asupan maksimum asupan harian iron yang diizinkan (provosional maximum tolerable daily intake/PMDTI) adalah 0.8 mg/Kg berat badan (CAC 2010). PMDTI ini ditetapakan untuk mencegah terjadinya penimbunan besi dalam tubuh secara berlebihan. Medicine Institut di Amerika pada Tahun 2001 mengusulkan tingkat toleransi asupan zat besi per hari adalah 45 mg berdasarkan gejala gastrointestinal dan efek akut yang paling jelas. Hal ini mewakili lebih dari lima kali lipat kecukupan gizi yang dianjurkan untuk laki-laki (8 mg/hari) dan sekitar 3 kali lipat untuk wanita yang belum menopause (18 mg/hari) (IOM 2001). Dosis mematikan besi rata-rata adalah 200-250 mg / kg berat badan, tetapi kematian telah terjadi setelah mengkonsumsi dosis serendah 40 mg / kg berat badan. Otopsi telah menunjukkan nekrosis hemoragik dan pengelupasan daerah mukosa di perut dengan ekstensi ke submukosa.

Seng

Konsentrasi seng (Tabel 9) dalam daging dan organ lainnya untuk sapi yang dipelihara di lahan pasca tambang maupun sapi yang dipelihara di luar lahan pasca tambang belum melebihi ambang batas yang ditetapkan (<100 mg/kg) (Chinese Standard 1999).

Tabel 9. Konsentrasi seng (Zn) pada daging dan berbagai organ (mg/kg berat basah) dari sapi yang dipelihara di lahan pasca tambang dan di luar lahan pasca tambang.

Lokasi Sapi dari lahan pasca tambang (mg/kg)

Sapi dari luar areal lahan pasca tambang

(mg/kg) Standar* (mg/kg) Daging Punggung 9.18 ± 3.27 11.19 ± 2.48 100 Daging Paha 9.72 ± 4.22 32.35 ± 2.03 Jantung 5.64 ± 0.47 4.43 ± 0.51 Hati 8.79 ± 0.66 8.02 ± 0.57 Paru-paru 5.96 ± 0.68 5.42 ± 0.30 Limpa 7.24 ± 0.50 7.71 ± 0.40 Ginjal 6.90 ± 0.28 5.89 ± 0.63 Tulang 26.61 ± 6.73 27.25 ± 0.80 Darah 0.08 ± 0.13 0.71 ± 0.05

* Chinese Standard GB 15999-94 dan GB13106-1999).

Konsentrasi seng tertinggi pada bagian tubuh sapi yang merumput dilahan pasca tambang terdapat di tulang. Konsentrasi seng pada sapi dari luar areal tambang juga terdapat dalam jumlah yang cukup tinggi pada tulang, namun seng paling tinggi terlihat di daging paha. Hal ini searah dengan pendapat Molokwu and Li (2006), bahwa seng terdapat berlimpah di jaringan tulang dan diperlukan untuk menjaga kepadatan mineral tulang dan metabolisme tulang. Metabolisme tulang menggunakan seng, dan defisiensi seng dapat menyebabkan osteoporosis. Matriks organik tulang terdiri dari protein, membutuhkan cukup seng untuk fungsi yang optimal. Seng berperan sebagai kofaktor untuk aktivitas osteoblas

selama pembentukan tulang, diperlukan untuk menjaga kepadatan tulang dan mengurangi risiko osteopenia atau fraktur yang disebabkan oleh pertambahan usia.

Seng merupakan mineral yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Secara kimia seng mempunyai keunikan karena berperan sebagai regulator, katalitik dan struktural yang penting pada berbagai sistem biologi. Seng berperan pada lebih dari 300 enzim yang terdapat pada bermacam-macam spesies. Seng berperan dalam metabolisme karbohidrat, lipid dan protein serta sintesis dan degradasi asam nukleat melalui peranannya pada enzim karbonik anhidrase (metabolisme CO2 dan HCO3), thimidin kinase/DNA dan RNA polymerase (sintesis asam

nukleat dan protein). Seng juga berperan dalam stabilisasi struktur protein, asam nukleat, serta integritas organel subseluler seperti proses transport, fungsi imun dan ekspresi informasi genetik serta perlindungan terhadap kerusakan akibat radikal bebas. Seng penting untuk berbagai fungsi sensori dan kekebalan, antioksidan serta stabilitas membran (Anderson 2004).

Walaupun seng sangat dibutuhkan oleh tubuh namun konsumsi seng yang berlebihan juga dapat bersifat toksik. Maksimum asupan harian iron yang diizinkan (provosional maximum tolerable daily intake/PMDTI) adalah 0.3-1 mg/kg berat badan. Seng adalah elemen penting, seng dibutuhkan sepanjang hidup dan efek kesehatan yang berhubungan dengan defisiensi seng sangat banyak. Seng terjadi sebagai konstituen alami di semua jaringan tumbuhan dan hewan dan berfungsi sebagai bagian integral dari beberapa sistem enzim. Kandungan seng terdapat dalam jumlah yang tinggi pada tiram dan terdapat dalam jumlah kecil pada makanan laut lainnya, daging, kacang-kacagan dan sereal utuh. Interaksi dengan faktor diet lainnya mempengaruhi penyerapan seng. Asupan harian rata- rata seng telah diperkirakan maksimal 20 mg / hari untuk orang dewasa (CAC 2010).

Kromium

Hasil analisa menunjukkan tidak terdeteksi adanya kromium pada daging maupun organ dari sapi yang dipelihara di luar lahan pasca tambang (Tabel 10). Sementara sapi yang dipelihara di lahan pasca tambang, terdapat kromium pada tulangnya sebesar 0.12 ppm. Konsentrasi kromium ini melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh FAO yaitu 0.0002 ppm, namun masih dalam kisaran yang ditetapkan oleh WHO yaitu 0.02-0.52 sesuai laporan IOM (2001). Konsentrasi kromium hanya ditemukan pada tulang, namun belum ditemukan laporan dari peneliti sebelumnya yang menyatakan penyerapan optimal kromium terjadi pada tulang. Penelitian di Inggris pada seluruh makanan telah menunjukkan konsentrasi tertinggi kromium telah ditemukan pada produk daging (230 µg/kg), diikuti oleh minyak dan lemak (170 µg/kg), roti (150 µg/kg), kacang-kacangan dan sereal (140 µg/kg), ikan dan gula (130 µg/kg). Konsentrasi terendah telah ditemukan dalam susu ( 10 µg/kg), buah-buahan segar dan sayur hijau (20 µg/kg) dan telur (40 µg/kg). Konsentrasi kromium dalam air minum tidak terkontaminasi sebagian besar berada di bawah 1 µg/L (EGVM 2002).

Tabel 10. Konsentrasi kromium (Cr) pada daging dan berbagai organ (mg/kg berat basah) dari sapi yang dipelihara di lahan pasca tambang dan di luar lahan pasca tambang.

Lokasi Sapi dari lahan pasca tambang (mg/kg)

Sapi dari luar areal lahan pasca tambang

(mg/kg) Standar* (mg/kg) Daging Punggung Tt Tt 0.02-0.52 Daging Paha Tt Tt Jantung Tt Tt Hati Tt Tt Paru-paru Tt Tt Limpa Tt Tt Ginjal Tt Tt Tulang 0.12 ± 0.17 Tt Darah Tt Tt *IOM (2001). Tt : Tidak terdeteksi

Peran utama Cr secara fisiologis adalah meningkatkan potensi aktivitas hormon insulin, yaitu hormon yang berperan dalam meningkatkan pengambilan glukosa dan asam amino di dalam sel, sehingga potensi aktivitas insulin sangat diperlukan sebagai faktor toleransi glukosa (glucose tolerance factor, GTF). Kerja GTF pada sistem transport glukosa dan asam amino adalah meningkatkan pengikatan insulin dengan reseptor spesifiknya pada organ target. Struktur GTF mengandung kromium sebagai komponen aktifnya, sehingga tanpa adanya kromium pada intinya, GTF tidak dapat bekerja mempengaruhi insulin. Oleh karena itu, kromium merupakan komponen aktif pada GTF dan dibutuhkan dalam metabolisme lemak dan protein, sehingga keberadaan Cr dalam makanan perlu diperhatikan (Suryadi et al. 2011).

Saat insulin mengikat reseptor spesifiknya, pengambilan glukosa seluler dan asam amino dipermudah karena GTF berfungsi meningkatkan efektivitas potensi insulin. Pada ternak yang kekurangan kromium, penambahan kromium dapat meningkatkan penggunaan glukosa oleh insulin untuk pembentuk organ seperti otot dan jaringan adipose (Mc Namara dan Valdez 2005).

Kadmium

Daging dan beberapa organ sapi yang dipelihara di lahan pasca tambang yaitu jantung dan hati tidak terdeteksi adanya kadmium (lihat tabel 11). Pada beberapa organ lainnya yaitu paru-paru, limpa, ginjal, tulang dan darah, terdeteksi sejumlah kadmium, namun konsentasi kadmium yang dimiliki belum melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh SNI (2009).

Pada daging dari sapi yang dipelihara di luar pertambangan tidak ditemukan kadmium, namun kadmium terdapat pada organ jantung, hati, paru- paru, ginjal dan tulang (lihat tabel 11). Konsentrasi kadmium pada ginjal dan tulang melebihi standar keberadaan kadmium dalam daging sesuai SNI (2009). Konsentrasi kadmium terbesar terdapat di ginjal baik dari sapi yang dipelihara di

lahan revegetasi tambang, maupun sapi yang di pelihara di luar pertambangan. Hal ini sejalan dengan pendapat Prankel et al. (2004) yang menyatakan bahwa kadmium terakumulasi terutama pada bagian organ hati dan ginjal. Berdasarkan temuan Prankel sebelumnya, Prankel et al. (2005) merancang sebuah penelitian untuk memperkuat temuan sebelumnya. Domba diberikan diet yang mengandung 1 mg/kg kadmium dalam bentuk organik. Setelah 130 hari pemberian kadmium dalam pakan, ditemukan residu di ginjal melampaui yang melampaui batas (>1 mg/kg berat basah). Jika kadmium dalam pakan sebagian besar dalam bentuk anorganik, maka dibutuhkan 2-4 kali lebih lama untuk mencapai efek yang sama. Tabel 11. Konsentrasi kadmium (Cd) pada daging dan berbagai organ (mg/kg

berat basah) dari sapi yang dipelihara di lahan pasca tambang dan di luar lahan pasca tambang.

Lokasi Sapi dari lahan pasca tambang (mg/kg)

Sapi dari luar areal lahan pasca tambang

(mg/kg) Standar* (mg/kg) Daging Punggung Tt Tt 0.3 Daging Paha Tt Tt 0.3 Jantung Tt 0.03 ± 0.03 0.5 Hati Tt 0.02 ± 0.02 0.5 Paru-paru 0.04 ± 0.08 0.03 ± 0.02 0.5 Limpa 0.03 ± 0.03 Tt 0.5 Ginjal 0.04 ± 0.04 0.86 ± 0.16 0.5 Tulang 0.02 ± 0.04 0.51 ± 0.05 0.5 Darah 0.20 ± 0.29 Tt 0.5 *SNI 7387 (2009). Tt : Tidak terdeteksi

Kadmium dari daerah kontrol yairu sapi dari luar areal pertambangan justru lebih besar dibandingkan sapi dari areal revegetasi tambang. Sapi dari areal pertambangan hanya mengkonsumsi rumput sebagai pakannya tanpa tambahan konsentrat sebagai makanan tambahan, berbeda dengan sapi dari luar areal pertambangan yang diberikan konsentrat sebagai makanan tambahannya. Kontaminasi kadmium pada sapi dari luar areal pertambangan dapat bersumber dari pakan konsentrat yang diberikan, mengingat konsentrat yang diberikan pada ternak dapat berasal dari limbah pertanian dan perkebunan. Hal ini sejalan dengan pendapat NWS DPI (2007) bahwa, penggunaan limbah pengolahan buah, sayuran dan makanan lainnya sebagai pakan ternak tampaknya memberikan keuntungan secara ekonomis, namun limbah ini dapat menyimpan residu bahan kimia dan logam berat yang dapat membahayakan ternak yang mengonsumsinya.

Toksisitas kadmium adalah mematikan pada dosis konsumsi 225 mg/Kg (LD50) dan asupan mingguan yang ditoleransi yaitu 0.007 mg/Kg berat badan

(provisional tolerable weekly intake/PTWI) (SNI 2009). JECFA (2010) kembali mengevaluasi kadmium karena telah terjadi sejumlah studi epidemiologi baru yang telah dilaporkan biomarker kadmium terikat dalam urin akibat paparan lingkungan. Tingkat β2 - mikroglobulin kemih terpilih sebagai biomarker yang paling cocok untuk melihat toksisitas kadmium karena secara luas diakui sebagai penanda untuk patologi ginjal dan akibatnya memiliki jumlah terbesar dari data

yang tersedia. Karena waktu paruh kadmium yang panjang dalam ginjal manusia yakni 15 tahun, maka disimpulkan bahwa penentuan konsentrasi kritis kadmium dalam urin adalah yang paling dapat diandalkan menggunakan data dari individu- individu dari 50 tahun dan lebih tua. Menggunakan hubungan dosis – respon β2- mikroglobulin ekskresi dalam urin untuk ekskresi kadmium dalam urin untuk kelompok populasi ini, diperkirakan konsentrasi kritis kadmium keratin adalah 5.24 ppm. Mengingat waktu paruh yang panjang dari kadmium, JECFA menetapkan untuk mencabut standar PTWI 0.007 mg/Kg/minggu menjadi PTMI (provisional tolerable monthly intake) 0.025 mg/kg/bulan.

Nikel

Nikel (Tabel 12) hanya ditemukan dalam jumlah yang sangat kecil pada organ paru-paru dan ginjal dari sapi yang dipelihara di lahan pasca tambang dan ditemukan dalam jumlah kecil di paru-paru sapi yang dipelihara dari luar lahan pasca tambang. Konsentrasi Ni tertinggi terdapat pada paru-paru. Hal ini menunjukkan Ni masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan. Belum ditemukan standar maksimum asupan nikel dari makanan, namun ATSDR (2005) menetapkan maksimum nikel yang masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan yaitu 0.0002 mg/m3untuk jangka paparan 15-364 hari dan 0.00009 mg/m3 untuk

jangka paparan lebih dari 365 hari.

Tabel 12. Konsentrasi nikel (Ni) pada daging dan berbagai organ (mg/kg berat basah) dari sapi yang dipelihara di lahan pasca tambang dan di luar lahan pasca tambang.

Lokasi Sapi dari lahan pasca tambang (mg/kg)

Sapi dari luar areal lahan pasca tambang

(mg/kg) Standar (mg/kg) Daging Punggung Tt Tt - Daging Paha Tt Tt Jantung Tt Tt Hati Tt Tt Paru-paru 0.28 ± 0.48 0.15 ± 0.04 Limpa Tt Tt Ginjal 0.08 ± 0.16 Tt Tulang Tt Tt Darah Tt Tt Tt : Tidak terdeteksi.

Nikel merupakan logam berat yang banyak terdapat di rumput yang dikonsumsi oleh ternak, namun hasil analisis logam berat nikel pada daging dan organ sapi yang memakan rumput tersebut, nikel tidak ditemukan di daging dan beberapa organ lain kecuali paru-paru. Ada tiga jalur penyerapan nikel ke dalam tubuh, yaitu pernapasan, pencernaan dan transdermal. Jalur masuk yang paling sering adalah melalui pernapasan kemudian pencernaan, sementara jalur masuk transdermal sering diabaikan. Tingkat penyerapan nikel, terkait dengan kelarutan senyawanya. Konstribusi dari senyawa yang sukar larut untuk penyerapan nikel

Dokumen terkait