• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. MEKANISME KERJA MESIN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

Kadar air biji juwawut sebelum penyosohan diukur dengan analisa kadar air metode oven (AOAC, 1995) pada suhu 105 oC sampai berat konstan. Dari pengukuran tersebut diketahui bahwa kadar air awal biji juwawut adalah sebesar 12.03% (bb). Pengukuran kadar air dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Pengukuran Kadar Air Biji Juwawut Sebelum Penyosohan dengan Metode Oven

Kriteria

Kadar Air Sebelum Penyosohan

Sample 1 Sample 2 Sample 3 rata-rata

Bo (g) 10.00 10.00 10.00 10.00

Btaw (g) 8.81 8.80 8.78 8.80

∆B (g) 1.19 1.20 1.22 1.20

KAbb (%) 11.90 12.00 12.20 12.03

KAbk (%) 13.51 13.64 13.90 13.68

Pengukuran kadar air tidak hanya dilakukan pada saat biji juwawut sebelum dan sesudah disosoh yaitu 14.38% (bb), namun pengukuran kadar air juga dilakukan pada saat tepung juwawut telah diperoleh. Pengukuran tepung juwawut menggunakan analisa metode oven (AOAC, 1995) pada suhu 105 oC sampai berat konstan. Dari pengukuran tersebut dapat diketahui bahwa kadar air tepung juwawut tiap perlakuan berbeda-beda yaitu berada kisaran angka 5-7% (bb). Pengukuran kadar air tepung juwawut dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Pengukuran Kadar Air Tepung Juwawut sample W cawan (gr) W sampel (gr) W cawan + sample (gr) W cawan+sampel kering (gr) Hasil (%) Rata-rata (%) rpm 1425 mesh 80 1 4.7000 4.0749 8.7749 8.5335 5.92 5.95 2 4.6474 3.9635 8.6109 8.3737 5.98 mesh 100 1 4.6523 3.6706 8.3229 8.1155 5.65 5.56 2 4.4036 3.3289 7.7325 7.5502 5.48 rpm 2850 mesh 80 1 5.2375 4.6060 9.8435 9.5766 5.79 6.31 2 4.6392 4.3844 9.0236 8.7240 6.83 mesh 100 1 4.0900 5.1308 9.2208 8.9200 5.86 5.85 2 5.9934 3.1702 9.1636 8.9787 5.83 rpm 4750 mesh 80 1 4.9176 3.8464 8.7640 8.4985 6.90 6.85 2 4.1272 3.7542 7.8814 7.6264 6.79 mesh 100 1 4.8369 3.3364 8.1733 7.9472 6.78 6.79 2 4.8020 3.5201 8.3221 8.0829 6.80 rpm 5700 mesh 80 1 5.1616 4.1946 9.3562 9.0722 6.77 6.80 2 4.5895 4.3481 8.9376 8.6408 6.83 mesh 100 1 5.0217 4.5530 9.5747 9.2407 7.34 7.36 2 4.7470 5.3773 10.1243 9.7276 7.38

2. Uji Performansi Mesin Penepung Tipe Disc (Disc Mill)

Uji performansi dilakukan pada mesin penepung tipe disc (disc mill) dengan menggunakan bahan baku berupa biji juwawut yang telah disosoh. Kegiatan yang dilakukan meliputi pengambilan data untuk mengetahui kapasitas penepungan, rendemen penepungan, susut tercecer penepungan, efisiensi kerja motor listrik, kebutuhan daya untuk mengoperasikan mesin penepung tipe disc (disc mill) serta kualitas tepung yang didapat dari proses penepungan. Data hasil pengujian performansi dari mesin penepung tipe disc (disc mill) dapat dilihat pada tabel 4. Dari tabel 4 ditunjukkan bahwa terjadinya peningkatan rpm dengan pengubahan pada diameter puli II (diameter pada motor penggerak) dan penggunaan mesh yang berbeda (mesh 80 dan mesh 100) berpengaruh terhadap peningkatan kapasitas mesin penepung.

Tabel 4. Data Hasil Pengujian Performansi dari Mesin Penepung Tipe Disc Kriteria RPM 1425 RPM 2850 RPM 4750 RPM 5700 mesh 80 mesh 100 mesh 80 mesh 100 mesh 80 mesh 100 mesh 80 mesh 100 Kapasitas penepungan (kg/jam) 2.41 1.59 6.02 4.85 10.43 8.35 20.43 15.93 Rendemen penepungan (%) 18.47 17.23 54.37 22.33 83.07 78.93 91.6 81.7 Susut tercecer mesin penepung (%) 7.6 9.7 5.43 5.67 2.53 3.63 1.77 2.03 Daya (watt) 279 291 291 329 304 342 519 532 Efisiensi motor listrik (%) 0.11 0.12 0.11 0.13 0.12 0.14 0.20 0.21 a) Kapasitas penepungan

Kapasitas produksi mesin penepung dihitung untuk mengetahui kemampuan mesin untuk menggiling biji juwawut hingga menjadi tepung pada keadaan rpm yang berbeda dan pada panggunaan mesh yang berbeda pula. Kapasitas mesin penepung merupakan nilai kapasitas yang diperoleh sampai biji juwawut menjadi tepung. Analisa sidik ragam (Lampiran 7) menunjukkan bahwa perlakuan rpm, perlakuan kapasitas produksi mesin penepung dan interaksi rpm dengan kapasitas produksi mesin penepung berpengaruh nyata. Menurut uji lanjut Duncan (Lampiran 7) perlakuan rpm 1425, rpm 2850, rpm 4750, dan rpm 5700 berbeda nyata terhadap kapasitas penepungan.

Gambar 18. Hubungan

Tabel 4 menunjukkan bahwa hubungan antara peningkatan rpm dengan kapasitas

pada motor penggerak, semaki didapat. Hal tersebut juga terjadi 100 untuk menentukan besarnya k

penepungan terendah didapat apabila menggunakan rpm 1425 menggunakan saringan

menggunakan saringan

adalah sebesar 1.59 kg/jam. Kapasitas menggunakan rpm 5700 dengan hasil 80 sebanyak 20.43 kg/jam, s

100 kapasitas penepungan penepungan berturut

saringan mesh 80 adalah 6.02 kg/jam dan 10.43 kg/jam dan apabila menggunakan saringan

4.85 kg/jam dan 8.35 kg/jam.

Semakin besar ukuran puli yang digunakan pada motor penggerak, semakin cepat motor penggerak berputar serta

0 5 10 15 20 25 1425 K A P A S IT A S P RO D U K S IM E S IN P E N E P U N G ( K G /J A M )

Hubungan Kapasitas Penepungan Pada Berbagai RPM

menunjukkan bahwa hubungan antara peningkatan rpm dengan kapasitas penepungan adalah semakin tinggi rpm yang digunakan pada motor penggerak, semakin tinggi pula kapasitas penepungan didapat. Hal tersebut juga terjadi juga pada penggunaan mesh 80 dan mesh 100 untuk menentukan besarnya kapasitas penepungna.

terendah didapat apabila menggunakan rpm 1425 saringan mesh 80 sebanyak 2.41 kg/jam, sedangkan apabila saringan mesh 100, kapasitas penepungan yang didapat 1.59 kg/jam. Kapasitas penepungan tertinggi didapat apabila menggunakan rpm 5700 dengan hasil apabila menggunakan saringan

20.43 kg/jam, sedangkan apabila menggunakan saringan penepungan yang didapat sebanyak 15.93 kg/jam.

berturut-turut pada rpm 2850 dan rpm 4750 menggunakan mesh 80 adalah 6.02 kg/jam dan 10.43 kg/jam dan apabila saringan mesh 100, hasil yang didapat berturut-turut adalah 4.85 kg/jam dan 8.35 kg/jam.

Semakin besar ukuran puli yang digunakan pada motor penggerak, semakin cepat motor penggerak berputar serta semakin cepat pula pisau

1425 2850 4750 5700 RPM

Mesh 80 Mesh 100

Pada Berbagai RPM

menunjukkan bahwa hubungan antara peningkatan rpm adalah semakin tinggi rpm yang digunakan penepungan yang pada penggunaan mesh 80 dan mesh . Kapasitas terendah didapat apabila menggunakan rpm 1425 m, sedangkan apabila yang didapat tertinggi didapat apabila saringan mesh saringan mesh yang didapat sebanyak 15.93 kg/jam. Kapasitas turut pada rpm 2850 dan rpm 4750 menggunakan mesh 80 adalah 6.02 kg/jam dan 10.43 kg/jam dan apabila turut adalah

Semakin besar ukuran puli yang digunakan pada motor penggerak, semakin cepat pula pisau

Mesh 80 Mesh 100

penumbuk yang berada di dalam rumah penepungan berputar untuk menghancurkan biji juwawut sehingga kapasitas mesin penepungan yang diperoleh semakin besar. Begitu pula dengan penggunaan saringan mesh. Kapasitas mesin penepungan yang dihasilkan apabila menggunakan saringan mesh 80 lebih besar dibandingkan menggunakan saringan mesh 100. Hal tersebut dikarenakan jumlah lubang dalam 1 inchi pada mesh 80 lebih renggang dibandingkan pada mesh 100. Hubungan antara peningkatan rpm dengan kapasitas penepungan dapat dilihat pada Gambar 18. Pengukuran kapasitas penepungab dapat dilihat pada Lampiran 1.

b) Rendemen Penepungan

Rendemen menunjukkan persen hasil, yaitu perbandingan berat akhir (output) dan berat awal (input) penepungan dikalikan dengan 100. Rendemen tersebut menunjukkan pula persen tepung yang hilang selama proses penepungan. Analisa sidik ragam (Lampiran 8) menunjukkan bahwa perlakuan perbedaan rpm kecepatan motor penggerak, perlakuan mesh dan interaksi rpm dengan mesh berpengaruh nyata terhadap rendemen penepungan. Menurut uji lanjut Duncan (Lampiran 8) perlakuan pada rpm 1425, rpm 2850, rpm 4750, dan rpm 5700 berbeda nyata terhadap rendemen mesin penepung.

Tabel 4 menunjukkan bahwa hubungan antara peningkatan rpm dengan rendemen penepungan adalah dengan penambahan rpm mempengaruhi besarnya hasil rendemen penepungan yang dihasilkan oleh mesin penepung. Hal tersebut juga terjadi pada penggunaan saringan mesh mesh 80 dan saringan mesh 100.

Gambar

Dilihat dari Gambar 18 didapat apabila menggunakan bila menggunakan

oleh hasil tepung yang didap

banyak hasil tepung (output) yang di maka rendemen penepung

menggiling menggunakan 1425 adalah 18.47%. 5700, hasil rendemen

83.07% dan 91.6%. Sedangkan rendemen mesin penepung apabila menggiling biji juwawut menggunakan

yaitu 1425 adalah 17.23%. Rendemen mesin penepung menggunakan rpm yang tinggi yaitu rpm 5700 pada mesh 100 sebesar 81.7%

rendemen mesin penepu

c) Susut Tercecer Mesin Penepung

Susut tercecer mesin penepung diperoleh biji dan tepung juwawut

berat biji juwawut yang ditepungkan (input)

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 1425 R E N D E M E N M E S IN P E N E P U N G ( % )

Gambar 19. Rendemen Penepungan Pada Beberapa RPM Dilihat dari Gambar 18 bahwa hasil rendemen penepun

didapat apabila menggunakan saringan mesh 80 lebih besar dibandingkan bila menggunakan saringan mesh 100. Rendemen penepungan dipengaruhi oleh hasil tepung yang didapat setiap kali melakukan penepungan.

banyak hasil tepung (output) yang dihasilkan dari setiap penggilingan, penepungan semakin besar. Rendemen penepung

menggiling menggunakan saringan mesh 80 pada rpm rendah yaitu rpm 18.47%. Apabila menggunakan rpm 2850, rpm 4750 dan rpm 5700, hasil rendemen mesin penepung berturut-turut adalah 54.37%, 83.07% dan 91.6%. Sedangkan rendemen mesin penepung apabila menggiling biji juwawut menggunakan saringan mesh 100 pada rpm rendah yaitu 1425 adalah 17.23%. Rendemen mesin penepung menggunakan rpm itu rpm 5700 pada mesh 100 sebesar 81.7%. Pengukuran rendemen mesin penepung dapat dilihat pada Lampiran 1.

Mesin Penepung

Susut tercecer mesin penepung diperoleh dengan cara membagi berat juwawut yang tercecer pada saat penepungan dengan berat biji juwawut yang ditepungkan (input) kemudian dikali dengan 100

1425 2850 4750 5700 RPM mesh 80 mesh 100 Pada Beberapa RPM penepungan yang mesh 80 lebih besar dibandingkan dipengaruhi ngan. Semakin hasilkan dari setiap penggilingan, penepungan apabila rpm rendah yaitu rpm Apabila menggunakan rpm 2850, rpm 4750 dan rpm turut adalah 54.37%, 83.07% dan 91.6%. Sedangkan rendemen mesin penepung apabila mesh 100 pada rpm rendah yaitu 1425 adalah 17.23%. Rendemen mesin penepung menggunakan rpm . Pengukuran

cara membagi berat epungan dengan total kemudian dikali dengan 100

mesh 80 mesh 100

%. Susut tercecer ini diperoleh dengan cara mengambil bi yang tercecer saat penepungan

tertampung pada te

menunjukkan bahwa perlakuan rpm dengan mesh terhadap

Menurut uji lanjut Duncan (Lampiran 9

nyata terhadap rpm 2850, rpm 4750 dan rpm 5700. Perlakuan rpm 2850 tidak berbeda nyata terhadap rpm 4750, namun berbeda nyata terhadap perlakuan rpm 5700. Perlakuan rpm 4750 tidak berbeda nyata terhadap perlakuan rpm 5700.

dapat dilihat pada Gambar 20

Gambar 20. Hubungan RPM

Tepung tercecer terjadi karena ketika proses penepungan berlangsung, banyak tepung yang menempel pada rumah penepungan dan pisau penepung, selain itu ada pula biji yang tercecer keluar dari

Gambar 20 dan Tabel 4 penepung ketika menggunakan tercecer yang didapat apab penambahan rpm pada pros

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1425 S U S U T T E RC E C E R M E S IN P E N E P U N G ( % )

%. Susut tercecer ini diperoleh dengan cara mengambil biji dan yang tercecer saat penepungan berlangsung dan biji serta tepung

rtampung pada tempat penampung. Analisa sidik ragam (Lampiran 9 menunjukkan bahwa perlakuan rpm, perlakuan mesh dan interaksi rpm

mesh terhadap susut tercecer mesin penepung berpengaruh ut uji lanjut Duncan (Lampiran 9) perlakuan pada rpm 1425

rpm 2850, rpm 4750 dan rpm 5700. Perlakuan rpm 2850 tidak berbeda nyata terhadap rpm 4750, namun berbeda nyata terhadap perlakuan rpm 5700. Perlakuan rpm 4750 tidak berbeda nyata terhadap perlakuan rpm 5700. Hubungan antara susut tercecer pada beberapa rpm dapat dilihat pada Gambar 20.

Hubungan Susut Tercecer Mesin Penepung Pada Beberapa RPM

Tepung tercecer terjadi karena ketika proses penepungan berlangsung, banyak tepung yang menempel pada rumah penepungan dan

, selain itu ada pula biji yang tercecer keluar dari

dan Tabel 4 menunjukkan bahwa susut tercecer mesin penepung ketika menggunakan saringan mesh 80 lebih kecil daripada susut tercecer yang didapat apabila menggunakan saringan mesh 100 se

enambahan rpm pada proses penepungan biji juwawut mempengaruhi

1425 2850 4750 5700 RPM

Mesh 80 Mesh 100

ji dan tepung serta tepung yang tidak nalisa sidik ragam (Lampiran 9) dan interaksi rpm engaruh nyata. pada rpm 1425 berbeda rpm 2850, rpm 4750 dan rpm 5700. Perlakuan rpm 2850 tidak berbeda nyata terhadap rpm 4750, namun berbeda nyata terhadap perlakuan rpm 5700. Perlakuan rpm 4750 tidak berbeda nyata terhadap da beberapa rpm

Susut Tercecer Mesin Penepung Pada Beberapa

Tepung tercecer terjadi karena ketika proses penepungan berlangsung, banyak tepung yang menempel pada rumah penepungan dan , selain itu ada pula biji yang tercecer keluar dari hopper. menunjukkan bahwa susut tercecer mesin daripada susut mesh 100 serta mempengaruhi

Mesh 80 Mesh 100

hasil susut tercecer. Jadi, semakin meningkatnya rpm, susut tercecer yang diperoleh semakin sedikit.

Susut tercecer yang didapat ketika menggunakan rpm 1425 saringan mesh 80 adalah 7.6% dan ketika menggunakan saringan mesh 100, susut tercecer yang didapat adalah 9.7%. Pada rpm 2850 menggunakan saringan mesh 80 susut tercecer yang diperoleh adalah 5.43%, sedangkan apabila menggunakan saringan mesh 100 susut tercecer yang diperoleh adalah 5.67%. Pada rpm 4750 dan rpm 5700 susut tercecer yang didapat berturut-turut ketika menggunakan saringan mesh 80 adalah 2.53% dan 3.63%, sedangkan apabila menggunakan saringan mesh 100, hasil yang didapat berturut-turut adalah 1.77% dan 2.03%. Pengukuran susut tercecer mesin penepung dapat dilihat pada Lampiran 1.

d) Kebutuhan Daya dan Efisiensi Mesin yang Dibutuhkan

Konsekuensi lain dari peningkatan kecepatan putar motor dari mesin penepung adalah bertambah besarnya daya yang dibutuhkan, karena kecepatan putar yang tinggi memerlukan tenaga yang besar pula (Gambar 21). Peningkatan kebutuhan daya ini ditunjukkan dengan peningkatan penggunaan daya oleh motor listrik. Analisa sidik ragam (Lampiran 10) menunjukkan bahwa perlakuan rpm, perlakuan mesh dan interaksi rpm dengan mesh terhadap kebutuhan daya yang diperlukan unutk proses penepungan biji juwawut berpengaruh nyata. Menurut uji lanjut Duncan (Lampiran 10) perlakuan pada rpm 5700 berbeda nyata terhadap rpm 1425, rpm 2850 dan rpm 4750. Perlakuan rpm 1425 tidak berbeda nyata terhadap rpm 2850. Begitu pula rpm 2850 tidak berbeda nyata terhadap perlakuan rpm 4750.

Gambar 21. Hubungan Daya Yang Dibutuhkan Motor Pada Beberapa RPM

Daya yang diperlukan oleh mesin penepung ketika sedang bekerja pada beberapa rpm me

menunjukkan bahwa hubungan daya yang dibutuhkan pada motor pada beberapa rpm berbeda

saringan mesh untuk proses penepungan mempengaruhi besarnya daya yang dibutuhkan. P

saringan mesh 100, daya yang dibutuhkan motor listrik berturut adalah sebesar 279 watt dan 291

watt ketika menggunakan saringan mesh 80 dan 329 watt ketika menggunakan saringan mesh 100. Pada saat mesin penepung berada pada rpm 4750, daya yang dibutuhkan ketika menggun

adalah 304 watt sedangkan apabila mengunakan saringan mesh 100, yang dibutuhkan adalah 342

membutuhkan daya yang tinggi pula. Pada rpm 5700 daya sebesar 519 watt dibutuhkan ketika menggunakan saringan mesh 80, berbeda halnya ketika menggunakan saringan mesh 100. Daya yang dibutuhkan adalah sebesar 532 watt. 0 100 200 300 400 500 600 1425 D A Y A ( W A T T )

. Hubungan Daya Yang Dibutuhkan Motor Pada Beberapa RPM

Daya yang diperlukan oleh mesin penepung ketika sedang bekerja pada beberapa rpm menunjukkan nilai yang beragam. Dari Gambar 21 menunjukkan bahwa hubungan daya yang dibutuhkan pada motor pada beberapa rpm berbeda-beda. Dengan penambahan rpm dan penggunaan saringan mesh untuk proses penepungan mempengaruhi besarnya daya yang dibutuhkan. Pada rpm 1425 menggunakan saringan mesh 80 dan saringan mesh 100, daya yang dibutuhkan motor listrik berturut adalah sebesar 279 watt dan 291 watt. RPM 2850 membutuhkan daya 291 watt ketika menggunakan saringan mesh 80 dan 329 watt ketika saringan mesh 100. Pada saat mesin penepung berada pada rpm 4750, daya yang dibutuhkan ketika menggunakan saringan mesh 80

watt sedangkan apabila mengunakan saringan mesh 100, yang dibutuhkan adalah 342 watt. Penggunaan rpm yang tinggi

utuhkan daya yang tinggi pula. Pada rpm 5700 daya sebesar 519 watt dibutuhkan ketika menggunakan saringan mesh 80, berbeda halnya ketika menggunakan saringan mesh 100. Daya yang dibutuhkan adalah sebesar

1425 2850 4750 5700 RPM

mesh 80 mesh 100

. Hubungan Daya Yang Dibutuhkan Motor Pada Beberapa RPM

Daya yang diperlukan oleh mesin penepung ketika sedang bekerja pada lai yang beragam. Dari Gambar 21 menunjukkan bahwa hubungan daya yang dibutuhkan pada motor pada beda. Dengan penambahan rpm dan penggunaan saringan mesh untuk proses penepungan mempengaruhi besarnya daya ada rpm 1425 menggunakan saringan mesh 80 dan saringan mesh 100, daya yang dibutuhkan motor listrik berturut-turut . RPM 2850 membutuhkan daya 291 watt ketika menggunakan saringan mesh 80 dan 329 watt ketika saringan mesh 100. Pada saat mesin penepung berada pada akan saringan mesh 80 watt sedangkan apabila mengunakan saringan mesh 100, daya watt. Penggunaan rpm yang tinggi utuhkan daya yang tinggi pula. Pada rpm 5700 daya sebesar 519 watt dibutuhkan ketika menggunakan saringan mesh 80, berbeda halnya ketika menggunakan saringan mesh 100. Daya yang dibutuhkan adalah sebesar

mesh 80 mesh 100

Tabel 5. Hasil pengukuran kebutuhan daya dan efisiensi motor listrik (daya saat diberi beban kosong (P beban kosong)= 2546 watt)

Kriteria RPM 1425 RPM 2850 RPM 4750 RPM 5700 mesh 80 mesh 100 mesh 80 mesh 100 mesh 80 mesh 100 mesh 80 mesh 100 Daya (Watt) 279 304 291 329 304 355 519 532 Efisiensi (%) 0.11 0.12 0.11 0.13 0.12 0.14 0.20 0.21

Besar kebutuhan daya yang beragam ini disebabkan karena motor listrik yang digunakan sebagai sumber tenaga penggerak puli adalah motor listrik 3 (tiga) fasa menggunakan listrik AC yang merupakan arus bolak balik. Listrik AC mempunyai besaran arus yang berubah setiap saat (bergetar) sesuai dengan fungsinya (Lampiran 2 dan Lampiran 3). Maka setiap saat akan didapat nilai arus yang berbeda untuk masing-masing fasanya.

Arus listrik yang dihasilkan motor ketika motor tidak dihubungkan dengan sistem transmisi (beban kosong) adalah I1 = 1.7 A., I2 = 2.8 A., I3 = 2.2 A. Maka daya yang mampu dihasilkan motor listrik (beban kosong) adalah sebagai berikut:

P=V*Σ I………...…………(10) P= (V*I1)+(V*I2)+(V*I3)

P= (380*1.7)+(380*2.8)+(380*2.2) P= 2546 Watt

Adapun nilai efisiensi motor listrik diperoleh dengan membandingkan daya motor listrik pada saat diberi beban dengan daya motor listrik pada saat kondisi beban kosong (Tabel 5).

Gambar 22. Hubungan Efisiensi Yang Dibutuhkan Motor Listrik Pada Beberapa RPM

Analisa sidik ragam (Lampiran 11) menunjukkan bahwa perlakuan rpm, perlakuan mesh dan interaksi rpm dengan mesh terhadap kebutuhan efisiensi yang diperlukan unutk proses penepungan biji juwawut berpengaruh nyata

pada rpm 5700 berbeda nyata terhadap rpm 1425, rpm 2850 dan rpm 4750. Perlakuan rpm 1425 tidak berbeda nyata terhadap rpm 2850. Begitu rpm 2850 tidak berbeda nyata terhadap perlakuan rpm 4750.

Dari Gambar 22 menunjukkan bahwa hubungan efisiensi yang dibutuhkan pada motor penggerak pada beberapa rpm tidak jauh berbeda. Dengan penambahan rpm dan penggunaan saringan mesh yang digunaka untuk proses penepungan

dibutuhkan. Pada rpm 1425 menggunakan saringan mesh 80 dan saringan mesh 100, efisiensi yang dibutuhkan motor li

sebesar 0.11% dan 0.12%

0.11% ketika menggunakan saringan mesh 80 dan 0.13% ketika menggunakan saringan mesh 100. Pada saat mesin penepung berada pada rpm 4750, efisiensi yang dihasilkan sebesar 0.12

saringan mesh 80 sedangkan apabila mengunak yang dibutuhkan adalah 0.14

0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 1425 E F IS IE N S I (% )

. Hubungan Efisiensi Yang Dibutuhkan Motor Listrik Pada Beberapa RPM

Analisa sidik ragam (Lampiran 11) menunjukkan bahwa perlakuan rpm, perlakuan mesh dan interaksi rpm dengan mesh terhadap kebutuhan yang diperlukan unutk proses penepungan biji juwawut nyata. Menurut uji lanjut Duncan (Lampiran 11) perlakuan pada rpm 5700 berbeda nyata terhadap rpm 1425, rpm 2850 dan rpm 4750. Perlakuan rpm 1425 tidak berbeda nyata terhadap rpm 2850. Begitu rpm 2850 tidak berbeda nyata terhadap perlakuan rpm 4750.

Dari Gambar 22 menunjukkan bahwa hubungan efisiensi yang dibutuhkan pada motor penggerak pada beberapa rpm tidak jauh berbeda. Dengan penambahan rpm dan penggunaan saringan mesh yang digunaka untuk proses penepungan mempengaruhi besarnya efisiensi yang dibutuhkan. Pada rpm 1425 menggunakan saringan mesh 80 dan saringan mesh 100, efisiensi yang dibutuhkan motor listrik berturut-turut

dan 0.12%. Pada rpm 2850 efisiensi yang dihasilkan yaitu % ketika menggunakan saringan mesh 80 dan 0.13% ketika menggunakan saringan mesh 100. Pada saat mesin penepung berada pada nsi yang dihasilkan sebesar 0.12% ketika menggunakan saringan mesh 80 sedangkan apabila mengunakan saringan mesh 100, yang dibutuhkan adalah 0.14%. Pada rpm 5700 efisiensi sebesar 0.20%

1425 2850 4750 5700 RPM

mesh 80 mesh 100

. Hubungan Efisiensi Yang Dibutuhkan Motor Listrik Pada

Analisa sidik ragam (Lampiran 11) menunjukkan bahwa perlakuan rpm, perlakuan mesh dan interaksi rpm dengan mesh terhadap kebutuhan yang diperlukan unutk proses penepungan biji juwawut . Menurut uji lanjut Duncan (Lampiran 11) perlakuan pada rpm 5700 berbeda nyata terhadap rpm 1425, rpm 2850 dan rpm 4750. Perlakuan rpm 1425 tidak berbeda nyata terhadap rpm 2850. Begitu pula

Dari Gambar 22 menunjukkan bahwa hubungan efisiensi yang dibutuhkan pada motor penggerak pada beberapa rpm tidak jauh berbeda. Dengan penambahan rpm dan penggunaan saringan mesh yang digunakan mempengaruhi besarnya efisiensi yang dibutuhkan. Pada rpm 1425 menggunakan saringan mesh 80 dan saringan turut yaitu dihasilkan yaitu % ketika menggunakan saringan mesh 80 dan 0.13% ketika menggunakan saringan mesh 100. Pada saat mesin penepung berada pada % ketika menggunakan an saringan mesh 100, daya %. Pada rpm 5700 efisiensi sebesar 0.20%

mesh 80 mesh 100

dibutuhkan ketika menggunakan saringan mesh 80, berbeda halnya ketika menggunakan saringan mesh 100. Efisiensi yang dibutuhkan adalah sebesar 0.21%. Jadi nilai efisiensi adalah persentase dari penggunaan listrik oleh motor bukan nilai efisiensi tenaga mesin penepung

e) Kualitas Penepungan

Untuk mengetahui kualitas penepungan, diperlukan test pengayakan yang menggunakan 7 (tujuh) macam ukuran ayakan yaitu 3/8, 4, 8, 14, 28, 48, 100 mesh dan baki pada tingkat terbawah. Menurut Henderson dan Perry (1976), bahwa dalam penentuan mutu hasil giling digunakan dua macam kriteria, yaitu:

3) Ukuran Partikel Tepung Juwawut

Ukuran partikel tepung dapat menunjukkan kehalusan tepung, semakin kecil ukuran tepung maka semakin halus tepung tersebut, dan sebaliknya, bila ukuran semakin besar maka tingkat kehalusan tepung semakin kasar. Analisa sidik ragam (Lampiran 13) menunjukkan bahwa perlakuan rpm, perlakuan mesh dan interaksi rpm dengan mesh terhadap ukuran partikel tepung berpengaruh nyata. Menurut uji lanjut Duncan (Lampiran 13) pada rpm 1425 tidak berbeda nyata terhadap rpm 2850. Namun, rpm 2850 berbeda nyata terhadap rpm 4750, begitu pula yang terjadi pada rpm 4750 berbeda nyata terhadap rpm 5700. Hubungan antara ukuran tepung pada beberapa rpm dapat dilihat pada Gambar 23.

Gambar 23. Hubungan Ukuran Partikel Tepung Juwawut Pada

Gambar 23

menggunakan rpm 1425 dan saring

dan mesh 100, maka hasil tepung yang didapat mempunyai ukuran rat rata partikel tepung

inchi. Ukuran rata

penepungan menggunakan rp sebesar 0.016849384

mesh 100, ukuran rata yaitu sebesar 0.0

Proses penepungan menggunakan rpm 4750, ukuran rata partikel tepung juwawut y

pada saat menggunakan saringan mesh 80 dan inchi pada saat menggunakan

untuk proses penepungan juwawut, ukuran rata didapat yaitu sebesar 0.016

digunakan dan 0.016468348

digunakan. Artinya, lebih halus tepung yang didapat apabila menggunakan mesh 100 daripada menggunakan mesh 80 pada sa

0.00000 0.00500 0.01000 0.01500 0.02000 0.02500 U k u ra n P a rt ik e l T e p u n g J u w a w u t (i n ch i)

. Hubungan Ukuran Partikel Tepung Juwawut Pada Beberapa RPM

Gambar 23 menunjukkan bahwa apabila proses penepungan menggunakan rpm 1425 dan saringan yang digunakan adalah mesh 80 dan mesh 100, maka hasil tepung yang didapat mempunyai ukuran rat rata partikel tepung yaitu sebesar 0.022202095 inchi dan 0.02221749

. Ukuran rata-rata partikel tepung juwawut apabila proses penepungan menggunakan rpm 2850 dan saringan mesh 80 adalah sebesar 0.016849384 inchi. Sedangkan apabila menggunakan saringan mesh 100, ukuran rata-rata partikel tepung yang didapat lebih besar yaitu sebesar 0.016919604 inchi.

Proses penepungan menggunakan rpm 4750, ukuran rata partikel tepung juwawut yang didapat adalah sebesar 0.016767828 pada saat menggunakan saringan mesh 80 dan sebesar 0.016896165 inchi pada saat menggunakan mesh 100. Pada saat rpm 5700 digunakan untuk proses penepungan juwawut, ukuran rata-rata partikel yang

tu sebesar 0.016456937 inchi bila saringan mesh

digunakan dan 0.016468348 inchi bila saringan mesh 100 yang digunakan. Artinya, lebih halus tepung yang didapat apabila menggunakan mesh 100 daripada menggunakan mesh 80 pada sa

1425 2850 4750 5700 RPM

. Hubungan Ukuran Partikel Tepung Juwawut Pada

menunjukkan bahwa apabila proses penepungan an yang digunakan adalah mesh 80 dan mesh 100, maka hasil tepung yang didapat mempunyai ukuran

rata-dan 0.02221749 rata partikel tepung juwawut apabila proses n mesh 80 adalah

Dokumen terkait