• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil identifikasi dari laboratorium taksonomi tumbuhan Departemen Biologi FMIPA USU (Lampiran 1, halaman 36) diketahui bahwa sampel yang diteliti adalah rimpang temu giring (Curcuma heyneana Valeton & Zijp. Suku : Zingiberaceae).

Hasil pemeriksaan makroskopik dari rimpang temu giring (Lampiran 3, halaman 38) adalah berbentuk hampir bulat sampai jorong atau bulat memanjang, kadang bercabang atau berbentuk tidak beraturan, warna kuning, warna daging kuning terang, panjang 5-9 cm, dan diameter 2-4 cm Hasil pemeriksaan makroskopik simplisia rimpang temu giring diperoleh bentuk keping pipih, ringan, diameter 2-5 cm dan ketebalan 1-4 mm; bagian tepi berombak atau berkeriput, warna kuning kecoklatan, bau khas, rasa pahit, sedikit pedas, lama-kelamaan menimbulkan rasa tebal. Hasil pemeriksaan mikroskopik serbuk simplisia (Lampiran 3, halaman 39) terlihat fragmen berupa butir pati, tetes minyak atsiri, fragmen parenkim, rambut penutup, fragmen pembuluh kayu dan fragmen gabus.

Hasil pemeriksaan karakterisasi simplisia rimpang temu giring diperoleh kadar air 9,13%, kadar abu total 4,54%, kadar abu tidak larut dalam asam 1,66%, kadar sari larut dalam air 17,17%, kadar sari larut dalam etanol 11,71%. Hasil penetapan kadar air, kadar sari larut dalam air, kadar sari larut dalam etanol, kadar abu total memenuhi persyaratan pada Materia Medika Indonesia. Persyaratan umum pada Materia Medika Indonesia (MMI) adalah kadar air tidak lebih dari 10%, kadar sari yang larut dalam air tidak kurang dari 16%, kadar sari yang larut

dalam etanol tidak kurang dari 6%, kadar abu tidak lebih dari 9%, kadar abu yang tidak larut dalam asam tidak lebih dari 1,5%, yang dapat dilihat pada tabel 4.1. Tabel 4.1 Hasil Pemeriksaan Karakteristik Simplisia dan Ekstrak.

No Penetapan Simplisia Ekstrak Kadar (%) Persyaratan MMI Kadar (%) Persyaratan MIMPE 1 Kadar sari larut dalam air 17,17 > 16 - - 2. Kadar sari larut dalam etanol 11,71 > 6 - -

3. Kadar abu total 4,54 < 9 - < 0,5

4. Kadar abu tidak larut dalam asam 1,66 < 1,5 - < 0,2

5. Kadar air 9,13 < 10 3,30 < 9,6

Keterangan :

MMI = Materia Medika Indonesia

MIMPE = Monograph of Indonesian Medicinal Plant Extracts

Dapat dilihat dari tabel di atas, kadar abu tidak larut dalam asam lebih besar dari yang ditetapkan dapat ditarik kesimpulan bahwa ini dipengaruhi oleh tanah tempat tumbuh tanaman temu giring tersebut. Hasil pemeriksaan kadar sari larut dalam etanol menunjukkan bahwa jumlah senyawa dalam simplisia rimpang temu giring yang dapat tersari dalam pelarut etanol sebesar 11,71%, memenuhi persyaratan MMI. Standarisasi bahan baku tanaman diperlukan karena kandungan bahan aktif yang terkandung dalam jenis tanaman yang sama dapat bervariasi, dengan standarisasi diharapkan bahan aktif yang terkandung di dalam bahan baku tersebut cukup konsisten, sehingga takaran yang digunakan untuk pengujian memiliki kandungan aktif yang setara.

Hasil penyarian 977 g serbuk simplisia rimpang temu giring dengan pelarut etanol 95% diperoleh ekstrak kental yang kemudian diuapkan dengan

menggunakan rotary evaporator dan kemudian dikeringkan dengan menggunakan freeze dryer diperoleh 163,5 g ekstrak (rendemen 16,73%).

Hasil pengkondisian marmot yang dibuat hiperkolesterolemia selama 14 hari dapat dilihat pada Gambar 4.1 yang menunjukkan adanya peningkatan kadar kolesterol darah normal menjadi hiperkolesterolemia.

0 20 40 60 80 100 120 0 5 10 15 20 25 Na-CMC Simvastatin EERTG 100 mg/kgBB EERTG 200 mg/kgBB EERTG 400 mg/kgBB Waktu (Hari) k d r k o le st e ro l (m g /d l)

Gambar 4.1 Grafik kadar kolesterol darah marmot (mg/dl) vs Waktu (Hari) pada berbagai perlakuan.

Berdasarkan Gambar 3.1 dapat dilihat bahwa rata – rata kadar kolesterol darah marmot hiperkolesterolemia menunjukkan kadar yang lebih tinggi dibandingkan dengan kadar kolesterol normal. Hasil ini menunjukkan bahwa pada pemberian makanan induksi berupa pakan yang dicampur kuning telur 1% bb dengan lemak kambing 15 g/100 g jumlah pakan diberikan selama 14 hari berturut-turut dapat meningkatkan kadar kolesterol darah marmot.

Kuning telur mengandung 220-250 mg kolesterol sehingga pemberian pakan yang mengandung kuning telur sebanyak 2,02 gram sudah dapat menaikkan kadar kolesterol (Lidya, dkk., 1998). Asam lemak jenuh yang banyak terdapat

pada lemak hewani (seperti lemak kambing) yang dikonsumsi dapat diubah didalam hati menjadi kolesterol sehingga menyebabkan kenaikan kadar kolesterol. Peningkatan kadar kolesterol dalam darah dapat bersifat sinergis apabila bahan pangan yang mengandung kolesterol dikonsumsi bersama dengan lemak jenuh (Sitepoe, 1993).

Hasil pengujian efek ekstrak etanol rimpang temu giring sebagai penurun kadar kolesterol darah marmot yang dibuat hiperkolesterolemia dengan penginduksi pakan yang dicampur dengan kuning telur ayam dan lemak kambing diperoleh penurunan kadar kolesterol yang diukur pada hari ke – 19 dan hari ke – 23 dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Rata-rata kadar kolesterol darah marmot setelah pemberian obat pada hari ke – 19 dan ke – 23.

Kadar kolesterol (mg/dl) + SD Setelah pemberian obat pada

hari ke – 19

Setelah pemberian obat pada hari ke – 23 A 102,33 + 38,124 99,50 + 10,134 B 71,83 + 12,766 45,83 + 12,432 C 63,33 + 18,041 42,50 + 10,134 D 63,67 + 27,551 44,17 + 11,268 E 48,50 + 28,905 34,17 + 17,175 Keterangan : SD : Standar Deviasi

A : untuk perlakuan pemberian suspensi Na-CMC 0,5% (dosis 1% BB) selama 7 hari

B : untuk perlakuan pemberian suspensi simvastatin (dosis 0,80 mg/kg BB/hari) selama 7 hari.

C : untuk perlakuan pemberian Ekstrak etanol rimpang temu giring (dosis 100 mg/kg BB/hari) selama 7 hari.

D : untuk perlakuan pemberian Ekstrak etanol rimpang temu giring (dosis 200 mg/kg BB/hari) selama 7 hari.

E : untuk perlakuan pemberian Ekstrak etanol rimpang temu giring (dosis 400 mg/kg BB/hari) selama 7 hari.

Pada tabel diatas setelah pemberian obat hari ke – 23, ekstrak etanol rimpang temu giring dosis 200 mg/kgBB lebih kuat menurunkan kadar kolesterol

darah (44,17 mg/dl) dibandingkan dengan ekstrak etanol rimpang temu giring dosis 400 mg/kgBB (34,17 mg/dl). Hal ini mungkin disebabkan oleh telah didudukinya semua reseptor yang berkaitan dengan penurunan kadar kolesterol oleh ekstrak etanol rimpang temu giring dosis 200 mg/kgBB. Sehingga peningkatan dosis menjadi 400 mg/kgBB tidak menyebabkan penurunan kadar kolesterol yang lebih kuat lagi. Menurut Katzung (2001), dengan meningkatnya dosis peningkatan respon menurun. Pada akhirnya, tercapai dosis yang tidak dapat meningkatkan respon lagi.

Angka penurunan kadar kolesterol rata-rata pada marmot yang diberi ekstrak etanol rimpang temu giring dosis 100 mg/kg BB, 200 mg/kg BB, 400 mg/kg BB dan simvastatin lebih besar dibandingkan dengan kontrol. Ini menunjukkan bahwa suspensi ekstrak etanol rimpang temu giring (EERTG) dosis 100 mg/kg BB, 200 mg/kg BB dan 400 mg/kg BB mampu menurunkan kadar kolesterol marmot yang dapat dilihat pada Gambar 4.2 berikut ini :

3 47.67 26.67 32.83 28.16 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 A B C D E A = Na-CMC B = Simvastatin C = EERTG 100 mg/kg BB D = EERTG 200 mg/kg BB E = EERTG 400 mg/kg BB a n g k a p e n u ru n a n k o le st e ro l (m g / d l) perlakuan

Gambar 4.2 Diagram total penurunan kadar kolesterol darah marmot setelah pemberian obat dibandingkan dengan kontrol.

Hal ini disebabkan oleh kandungan golongan senyawa kimia kurkumin yang terdapat pada rimpang temu giring. Menurut Bermawie, dkk (2007), kurkumin atau kurkuminoid adalah suatu campuran yang kompleks berwarna kuning orange yang diisolasi dari tanaman dan memiliki efek terapeutik, terdapat pada berbagai jenis Curcuma sp. Telah terbukti secara ilmiah melalui berbagai pengujian pre-klinik dan klinik, berkhasiat untuk mengobati berbagai macam penyakit degeneratif yang salah satunya adalah penurun kadar lipid darah, Menurut Kuswinarti (1989), berdasarkan penelitian yang dilakukan, pemberian ekstrak air rimpang temu giring pada tikus putih jantan yang ditingkatkan kadar kolesterol darahnya dengan diet kolesterol tinggi dapat memberikan efek penurunan kadar kolesterol darah yang berarti bila dibandingkan dengan kontrol positif .

Dari hasil uji ANAVA (lampiran 10, halaman 52) pada t-15 menunjukkan tidak adanya perbedaan yang bermakna antar kelompok uji (p > 0,05), Sedangkan pada t-0, t-19 dan t-23 menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antar kelompok uji (p < 0,05). Untuk mengetahui perbedaan yang bermakna antar perlakuan, dilakukan uji beda rata-rata Duncan.

Dari hasil uji beda rata-rata Duncan pada t-19 (lampiran 10, halaman 53) diperoleh kelompok simvastatin pada subset 1 dan 2. Ini menunjukkan bahwa pada pemberian suspensi simvastatin dengan dosis 0,80 mg/kg BB/hari tidak menurunkan kadar kolesterol yang signifikan terhadap kelompok ekstrak etanol rimpang temu giring dosis 100 mg/kg BB, dosis 200 mg/kg BB dan dosis 400 mg/kg BB serta pemberian Na-CMC (kontrol) selama 4 hari yang berarti marmot masih dalam kondisi hiperkolesterolemia. Sedangkan Pemberian Ekstrak etanol

rimpang temu giring dosis 100 mg/kg BB, dosis 200 mg/kg BB dan dosis 400 mg/kg BB dibandingkan dengan pemberian Na-CMC selama 4 hari menunjukkan perbedaan, berarti ekstrak etanol rimpang temu giring tersebut menurunkan kadar kolesterol secara nyata secara statistik.

Dari hasil beda rata-rata Duncan pada t-23 (lampiran 11, halaman 53) diperoleh bahwa pada pemberian ekstrak etanol rimpang temu giring dosis 100 mg/kg BB, dosis 200 mg/kg BB, dosis 400 mg/kg BB dan pemberian simvastatin dibandingkan dengan pemberian Na-CMC selama 7 hari menunjukkan perbedaan, berarti ekstrak etanol rimpang temu giring dan simvastatin tersebut mempunyai aktivitas menurunkan kadar kolesterol secara nyata. Sedangkan pemberian ekstrak etanol rimpang temu giring dosis 100 mg/kg BB, dosis 200 mg/kg BB dan dosis 400 mg/kg BB selama 7 hari menunjukkan penurunan kadar kolesterol tidak berbeda nyata secara statistik dengan pemberian suspensi simvastatin.

BAB V

Dokumen terkait