METODOLOGI PENELITIAN
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian mengenai Hubungan Kadar Haemoglobin Ibu Hamil trimester III dengan Berat Bayi Lahir Rendah di Klinik Bersalin Lolly Medan. Jumlah responden sebanyak 69 orang dengan hasil sebagai berikut :
1. Analisa Univariat
Analisa univariat pada penelitian ini akan menggambarkan karakteristik masing – masing variabel yang diteliti. Data yang bersifat kategorik dicari frekuensi dan presentasenya sedangkan data yang berrsifat numerik dicari mean dan standar deviasinya. Karakteristik data demografi meliputi : umur dan paritas.
Tabel 5. 1. Distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik data demografi ibu hamil trimester III di Klinik Lolly Medan Februari s/d Mei 2012 ( N = 69 orang).
Karakteristik Frekuensi Persentase ( % )
Umur < 20 tahun 18 26 % 21 – 35 tahun 49 71 % > 36 tahun 2 2 % Paritas < 2 47 68,1 % 3 – 4 20 29,0 % > 5 2 2,9 % Pendidikan
SD 21 30,4 % SMP 25 36,2 % SMA 20 29,0 % S1 3 4,3 % Pekerjaan IRT 37 53,6 % Wiraswasta 27 39,1 % PNS 5 7,2 % Total 69 100 %
Analisis Data : Tabel diatas menunjukkan bahwa mayoritas umur responden pada rentang 21 – 35 tahun sebanyak 49 responden ( 71 % ), dan minoritas umur responden pada rentang > 35 tahun sebanyak 2 responden ( 2 % ), Mayoritas paritas responden pada rentang < 2 sebanyak 47 responden ( 68,1 % ) dan minoritas paritas responden pada rentang > 5 sebanyak 2 orang ( 2,9 % ). Mayoritas pendidikan responden pada SMP sebanyak 25 responden ( 36,2 % ) dan minoritas pendidikan responden pada S1 sebanyak 3 responden ( 4,3 % ). Serta mayoritas pekerjaan responden pada IRT sebanyak 37 responden ( 53,6 % ) dan minoritas pekerjaan responden pada PNS sebanyak 5 responden ( 7,3 % ) (N = 69)
Tabel 5. 2. Distribusi Frekuensi Kadar Haemoglobin Ibu Hamil Trimester III di Klinik Lolly Medan (N= 69).
Kadar Haemoglobin Frekuensi Presentase ( % )
< 7 12 17,3
8 - 10 48 69,5
> 11 9 13
Total 69 100
Analisis data : Tabel di atas menunjukkan bahwa mayoritas kadar Haemoglobin Ibu hamil Trimester III pada rentang 8 - 10 gr% sebanyak 48 responden ( 69,5 % ) dan minoritas Kadar Haemoglobin Ibu Hamil Trimester III pada rentang > 11 gr% sebanyak 9 responden ( 13% ) ( N = 69 ).
Tabel 5. 3. Distribusi Frekuensi Berat Bayi Baru Lahir di Klinik Lolly Medan ( N= 69 ).
Berat Badan Bayi Baru Lahir Frekuensi Presentase ( % )
< 2500 15 21,7 %
2500 - 3500 41 59,4 %
> 3500 13 18,9 %
Total 69 100
Analisis Data : Tabel di atas menunjukkan bahwa mayoritas Berat Bayi Baru lahir pada rentang > 2500 - 3500 sebanyak 41 responden ( 59, 4 % ) dan minoritas Berat Bayi Baru Lahir pada rentang > 3500 sebanyak 13 responden ( 18, 9 % ) ( N = 69 ).
2. Analisis Bivariat
Analisis ini digunakan untuk menguji Hubungan Kadar Haemoglobin Ibu Hamil Trimester III dengan Berat Bayi Lahir Rendah di Klinik Lolly Medan. Dalam menganalisis data secara bivariat, pengujian data dilakukan dengan menggunakan uji statistik korelasi product moment
dimana probabilitas (p < 0,05) artinya dimana adanya hubungan yang signifikan dan koefisien korelasi ( r ) digunakan untuk menunjukkan kekuatan hubungan satu variabel dengan variabel lainnya. Koefisien korelasi ( r ) berkisar 0 – 1 makin mendekati angka 1 maka makin dekat derajat hubungan.
Tabel 5.4. Hubungan Kadar Haemoglobin Ibu Hamil Trimester III dengan Berat Bayi Lahir Rendah di Klinik Lolly Medan ( N= 69 ).
No Variabel Mean Standar Deviasi
95% confidence interval for mean
P (value) R (korelasi) lower upper 1 Haemoglobin 9,04 1,333 8,72 9,36 0,000 0,829 2 Berat Badan Bayi 2990,87 545,545 2859,82 3121,92
Analisis Data : Tabel di atas menunjukkan bahwa nilai korelasi ( r = 0,829) dan nilai value ( p = 0,000 ) maka adanya hubungan yang sangat kuat ( r = 0,829) dan berpola positif yang artinya makin rendah kadar haemoglobin ibu hamil tersebut maka akan melahirkan bayi dengan berat badan rendah. Uji statistik juga menunjukkan bahwa adanya hubungan yang sangat signifikan antara kadar haemoglobin ibu hamil dengan berat badan bayi baru lahir dengan nilai p < 0,05 yaitu ( p = 0,000 ) .
Tabel 5.5. Hubungan Kadar Haemoglobin Ibu Hamil Trimester III yang anemia dengan Berat Bayi Lahir Rendah di Klinik Lolly Medan ( N= 60 ).
No Variabel Mean Standar Deviasi
95% confidence interval for mean
P (value) R (korelasi) lower upper 1 Haemoglobin 8,75 1,174 8,45 9,05 0,000 0,761 2 Berat Badan Bayi 2859,50 447,148 2743,95 2975,05
Analisis Data : Tabel di atas menunjukkan bahwa nilai korelasi ( r = 0,761) dan nilai value ( p = 0,000 ) maka adanya hubungan yang sangat kuat ( r = 0,761) dan berpola positif yang artinya makin rendah kadar haemoglobin ibu hamil tersebut maka akan melahirkan bayi dengan berat badan rendah. Uji statistik juga menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara kadar haemoglobin ibu hamil dengan berat badan bayi baru lahir dengan nilai p < 0,05 yaitu ( p = 0,000).
B. Pembahasan
Dari hasil penelitian yang berjudul Hubungan Kadar Haemoglobin Ibu Hamil Trimester III dengan Berat Bayi Lahir Rendah di Klinik Lolly Medan akan diuraikan pembahasan tentang membandingkan hasil penelitian dengan literatur yang berhubungan dengan kadar haemoglobin ibu hamil dengan berat badan bayi baru lahir.
Dari hasil penelitian diperoleh dari data demografi bahwa mayoritas umur responden berusia 21 – 35 tahun sebanyak 49 responden ( 71 % ) dan minoritas usia responden berusia > 36 tahun sebanyak 2 responden ( 2 % ), mayoritas paritas responden pada rentang < 2 sebanyak 47 responden ( 47 % ) dan minoritas paritas pada > 5 sebanyak 2 responden ( 2,9 % ), mayoritas pendidikan pada SMP sebanyak 25 responden ( 36,2 % ) dan mayoritas pendidikan pada S1 sebanyak 3 responden ( 4,3 % ), mayoritas pekerjaan pada IRT sebanyak 37 responden ( 53,6 % ) dan minoritas pekerjaan pada PNS sebanyak 5 responden ( 7,3 % ), mayoritas kadar hemoglobin pada 8 – 10 sebanyak 48 responden ( 69,5 % ) dan minoritas kadar hemoglobin pada > 11 sebanyak 9 responden ( 13 % ), mayoritas berat bayi baru lahir pada 2500 – 3500 gram sebanyak 41 responden ( 59,4 % ) dan minoritas pada > 3500 gram sebanyak 13 responden ( 18,9 % ). Jadi, sesuai dengan teori Sylviati ( 2008 ) bahwa barat badan bayi dipengaruhi oleh faktor – faktor yang secara langsung
atau internal meliputi umur ibu, paritas, kadar hemoglobin, pekerjaan dan tingkat pengetahuan ibu.
Dari hasil uji statistik diperoleh kesimpulan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara kadar haemoglobin ibu hamil trimester III dengan berat bayi lahir rendah dengan taraf signifikan 0,000 ( p < 0,05 ) dan nilai r = 0,829. Dan hubungan kadar hemoglobin ibu hamil yang anemia dengan berat badan bayi diperoleh bahwa adanya hubungan yang signifikan antara kadar hemoglobin ibu hamil yang anemia dengan berat badan bayi dengan taraf signifikan 0,000 ( p < 0,05 ) dan nilai r = 0,761. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Rukiyah ( 2010 ) bahwa penurunan kadar haemoglobin, hematokrit dan jumlah eritrosit dibawah normal disebut dengan anemia. Pada penderita anemia, lebih disebut dengan kurang darah, kadar sel darah merah ( Haemoglobin dibawah nilai normal. Penyebabnya bisa karena kurangnya zat gizi untuk pembentukan darah, misalnya zat besi, asam folat dan vitamin B12, tetapi yang sering terjadi adalah anemia karena kekurangan zat besi.
Menurut Solihah ( 2010), kekurangan kadar haemoglobin pada ibu hamil dapat menyebabkan Abortus, Persalinan yang lama, Perdarahan Pasca Persalinan, Kelahiran Prematur di bawah 37 minggu, BBLR ( Berat Bayi Lahir Rendah ), kematian mudah (terjadi saat kehamilan muda ), serta kemungkinan lahir dengan cacat bawaan.
Menurut Rukiyah ( 2010 ), anemia juga menyebabkan rendahnya kemampuan jasmani karena sel-sel tubuh yang tidak cukup mendapat pasokan oksigen. Anemia juga meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan. Risiko kematian maternal, angka prematuritas, berat badan bayi lahir rendah, dan angka kematian perinatal meningkat, perdarahan post partum lebih sering dijumpai pada
wanita yang anemis dan lebih sering berakibat fatal, sebab wanita yang anemis tidak dapat mentolerir kehilangan darah.
Menurut beberapa Hasil penelitian seperti di kemukakan oleh Rush (2001), dari Tuffs University, Boston USA, mengemukakan hasil penelitiannya tentang maternal nutrition and perinatal survival, bahwa kemungkinan hidup seorang bayi secara sederhana dapat dihubungkan dengan status gizi makro ibunya, dengan asumsi bahwa peningkatan intake zat gizi makro akan meningkatkan berat badan ibu, yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan janin, sehingga bayi mempunyai kemungkinan lebih besar untuk lahir hidup.
Bhargava dkk (2000) dalam penelitiannya di Kenya mengenai modelling the effects of maternal nutritional status and socioeconomic outcome on the anthropometric and psychologic indicators of Kenyan infant from age 0-6 month, menyimpulkan bahwa status gizi dan kadar Hb ibu mempunyai hubungan yang positif dengan berat bayi lahir. Temuan tersebut didukung oleh hasil penelitian Humphrey dan Holzheimer (2000) yakni a prospective study of gestation and birthweight in Aboriginal pregnancies in far north Queensland, yang menyatakan bahwa status gizi yang rendah mempunyai korelasi dengan BBLR. Demikian pula hasil penelitian yang dilakukan oleh Rodrigues dan Barros (1998) tentang risk factors for preterm labor, bahwasanya aktifitas ibu hamil dan status gizinya sangat penting terhadap risiko bayi prematur atau BBLR. Penelitian serupa juga diungkapkan oleh Ogunyemi dkk (1998) yakni tentang prepregnancy body mass index, weigt gain during pregnancy and perinatal outcome in a rural black population, bahwa ada hubungan antara status gizi dan kenaikan berat badan ibu hamil dengan keadaan bayi perinatal dan berat lahirnya. Jadi status gizi normal dan kenaikan berat badan yang ideal pada ibu hamil berhubungan dengan penurunan
komplikasi bayi perinatal dan mengoptimalkan berat badan. Demikian juga menurut Merchant dkk (1999) dalam penelitiannya mengenai effect of prepregnancy body mass index and gestational weigt gain on birth weigth, menyatakan bahwa status gizi ibu adalah salah satu hal yang menjadi pertimbangan penting sebagai indikator terhadap hasil kelahiran (birth outcome).
Kemudian yang di lakukan oleh penelitian di Indonesia seperti dilakukan Budijanto dkk (2000) di Madiun, Jawa Timur menyatakan bahwa risiko terhadap kejadian berat bayi lahir rendah adalah ukuran lingkar lengan atas dan pekerjaan berat. Ini mendukung penelitian sebelumnya oleh Purdyastuti di RS Fatmawati Jakarta (1994) yang menyimpulkan adanya hubungan antara status gizi ibu yakni yang diukur menggunakan LILA dengan berat bayi lahir. Menurut Mawah dkk (1993), insiden BBLR lebih tinggi pada ibu hamil dari kalangan sosial ekonomi lemah yang biasanya mempunyai status gizi kurang dimana anemia gizi mempunyai peran utama sebagai penyebab utama terhadap kejadian BBLR.
BAB VI