METODOLOGI PENELITIAN
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh bahwa perlakuan pengujian terhadap kapasitas efektif alat, konsumsi bahan bakar dan rendemen dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 1. Hasil pengujian terhadap parameter yang diamati.
Perlakuan Kapasitas Efektif
Berdasarkan Tabel 1 dapat disimpulkan bahwa kapasitas alat terbesar diperoleh pada perlakuan D2 dengan ukuran diameter pulley 5 inci yaitu sebesar 4,752 kg/jam. Karena rpm yang dihasilkan sesuai dengan kinerja mata pisau pencacah sabut kelapa pada saat dilakukan pengujian sehingga tidak terjadi kendala pada kinerja alat, Sedangkan nilai kapasitas alat terkecil diperoleh pada perlakuan D3 dengan ukuran diameter pulley 8 inci yaitu sebesar 1,881 kg/jam.
Untuk konsumsi bahan bakar paling sedikit terdapat pada perlakuan D1 dengan ukuran diameter pulley 3 inci yaitu sebesar 1,207 (Liter/Jam). Sedangkan untuk konsumsi bahan bakar terbanyak terdapat pada perlakuan D2 dengan ukuran diameter pulley 5 inci yaitu sebesar 2,026 Liter karena alat bekerja dengan normal pada saat melakukan pencacahan sabut kelapa seberat 2 kg tanpa ada kendala hingga selesai pengujian. Rendemen yang dihasilkan paling banyak terdapat pada perlakuan D1 dengan ukuran diameter pulley 3 inci yaitu sebesar 48,83 %. Sedangkan Rendemen yang dihasilkan paling sedikit terdapat pada perlakuan D3 dengan ukuran diameter pulley 8 inci yaitu sebesar 42,67 %.
Dari perlakuan ketiga uji pulley memiliki kelebihan dan kekurangan yaitu pada perlakuan D1 yaitu pulley 3 menghasilkan kecepatannya tinggi akan tetapi tenaganya rendah. Pada perlakuan D2 yaitu pulley 5 menghasilkan kecepatan dan tenaga yang seimbang. Pada perlakuan D3 yaitu pulley 8 kecepatannya kurang akan tetapi tenaganya kuat.
Kapasitas Efektif Alat
Kapasitas efektif alat dapat diperoleh dengan membandingkan berat keseluruhan bahan yang diolah dengan waktu yang dibutuhkan untuk bahan tersebut sampai habis terolah. Waktu pengolahan dihitung dari mulai memasukkan bahan kedalam hopper sampai bahan habis terolah. Dari hasil analisis sidik ragam lampiran 3 dapat dilihat bahwa perbedaan ukuran diameter pulley memberikan pengaruh sangat nyata terhadap kapasitas efektif alat pengurai sabut kelapa, sehingga diperlukan analisa lanjutan yaitu dengan menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT) untuk mengetahui hubungan antar perlakuan.
Tabel 2. Uji DMRT Kapasitas Efektif Alat Pengurai Sabut Kelapa.
Jarak DMRT perlakuan memberikan pengaruh yang nyata pada taraf 5 % dan sangat nyata pada taraf 1 %.
Berdasarkan tabel 2 memperlihatkan bahwa uji DMRT dengan taraf nyata 0,05 pada kapasitas efektivitas alat dengan perlakuan D3 berbeda nyata dengan perlakuan D2 tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan D1 serta perlakuan D1
33
berbeda nyata dengan perlakuan D2. Begitu juga dengan uji DMRT pada taraf nyata 0,01, kapasitas efektivitas alat dengan perlakuan D3 berbeda sangat nyata dengan perlakuan D2, ini artinya efektivitas alat pengurai sabut kelapa dengan pulley yang berdiameter 8 inci berbeda dengan sangat signifikan dengan pulley yang berdiameter 5 inci. Tetapi efektivitas alat pengurai sabut kelapa dengan pulley yang berdiameter 3 inci tidak berbeda secara signifikan terhadap pulley yang berdiameter 5 inci maupun 8 inci.
Perlakuan D2 memiliki rata-rata kapasitas efektifitas alat sebesar 4,752 Kg/Jam berbeda 2,871 Kg/Jam dengan perlakuan D3 dan 1,999 Kg/Jam dengan perlakuan D1. Dengan demikian disimpulkan bahwa alat pengurai sabut kelapa terbaik yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah alat pengurai sabut kelapa yang dikenai perlakuan D2 dengan diameter Pulley 5 inci. Hal ini sesuai dengan literatur siregar (2018) yang menyatakan bahwa hubungan diameter pulley terhadap kapasitas efektif alat memperlihatkan bahwa semakin besar diameter pulley maka semakin rendah kapasitas efektif alat, dan semakin kecil diameter pulley maka semakin tinggi kapasitas efektif alat terjadi pada bahan yang bersifat lunak. Hubungan diameter pulley terhadap kapasitas efektif alat dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 3. Hubungan diameter pulley terhadap kapasitas efektif alat
Berdasarkan gambar 3 memperlihatkan bahwa persamaan garis yang terbentuk dari data efektivitas alat yaitu y = -0,2362x + 4,3883 dengan koefisien determinansi R2 = 0,1631. Persamaan garis digunakan untuk menyatakan hubungan antara diameter pulley dengan kapasitas efektif alat sementara koefisien determinansi R2 menyatakan ukuran kuat atau tidaknya hubungan keduanya. Nilai koefisien determinansi berada pada 0 sampai 1. Jika koefisien determinansi mendekati 1 semakin kuat hubungan antar variabel sebaliknya jika koefisien determinansi mendekati 0 semakin tidak berarti hubungan keduanya.
Nilai R2 = 0,1631 disimpulkan bahwa antara variabel x diameter pulley dengan variabel y kapasitas efektif alat tidak memiliki hubungan berarti. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwasanya tidak ada hubungan kuat secara linear antara diameter puley terhadap kapasitas efektif alat. Secara teoritis menurut Yusuf (2015) yang menyatakan semakin nyata hubungan linier atau garis lurus, maka semakin kuat atau tinggi derajat hubungan garis lurus antara kedua variabel atau lebih. Akan tetapi diameter pulley pada perlakuan D1 seharusnya menghasilkan KEA yang paling tinggi karena kecepatan putaran poros lebih tinggi dari pada perlakuan D2 dan D3, pada kenyataannya hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan D1 memiliki KEA lebih rendah dari D2, hal ini disebabkan oleh terjadinya slip pada pulley ketika bahan dimasukkan sehingga KEA pada perlakuan D1 menjadi lebih rendah dari pada D2. Slip kemungkinan terjadi karena daya yang ditransmisikan ke mata pisau tidak mencukupi. KEA pada perlakuan D3 rendah disebabkan oleh rendahnya kecepatan putaran yang dihasilkan oleh pulley dengan diameter 8 inci. Dengan demikian perlakuan yang memiliki KEA paling baik adalah perlakuan D2.
35
Konsumsi Bahan Bakar
Data konsumsi bahan bakar diperoleh dari jumlah bahan bakar yang dihabiskan ketika mesin beroperasi menguraikan sabut sebanyak 2 kg. Dari hasil analisis sidik ragam lampiran 4 dapat dilihat bahwa perbedaan ukuran diameter pulley memberikan pengaruh nyata terhadap konsumsi bahan bakar alat pengurai sabut kelapa, sehingga diperlukan analisa lanjutan yaitu dengan menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT) untuk mengetahui hubungan antar perlakuan.
Tabel 3. Uji DMRT Konsumsi Bahan Bakar Alat Pengurai Sabut Kelapa.
Jarak DMRT perlakuan D2 tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan D3 serta perlakuan D3 berbeda nyata dengan perlakuan D2. Hal ini berarti konsumsi bahan bakar alat pengurai sabut kelapa dengan pulley yang berdiameter 5 inci berbeda signifikan dengan pulley yang berdiameter 3 inci maupun pulley yang berdiameter 8 inci.
Tetapi konsumsi bahan bakar alat pengurai sabut kelapa dengan pulley yang berdiameter 8 inci tidak berbeda secara signifikan terhadap pulley yang berdiameter 3 inci. Lain halnya dengan uji DMRT pada taraf nyata 0,01, konsumsi bahan bakar pada semua perlakuan tidak berbeda secara signifikan. Hal
ini sesuai dengan literatur Rosyadi (2014) yang menyatakan konsumsi bahan bakar (Fuel Consumption) apabila semakin tinggi putaran mesin maka konsumsi bahan bakar juga semakin tinggi.
Perlakuan D1 memiliki rata-rata konsumsi bahan bakar sebesar 1,207 Liter/Jam berbeda 0,125 Liter/Jam dengan perlakuan D3 dan 0,819 Liter/Jam dengan perlakuan D2. Dengan demikian disimpulkan bahwa alat pengurai sabut kelapa terbaik yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah alat pengurai sabut kelapa yang dikenai perlakuan D1 dengan diameter Pulley 3 inci.
Hubungan diameter pulley terhadap konsumsi bahan bakar dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 4. Hubungan Diameter Pulley Terhadap Konsumsi Bahan Bakar Berdasarkan Gambar 4 memperlihatkan bahwa persamaan garis yang terbentuk antara variabel x diameter pulley dan y konsumsi bahan bakar yaitu y = 0,0048x + 1,4963 dengan R2 = 0,0007 cukup dekat dengan 0. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa antara diameter pulley dengan konsumsi bahan bakar hampir tidak memiliki hubungan. Hal ini berarti tidak terdapat pengaruh antara ukuran diameter pulley terhadap konsumsi bahan bakar yang mempengaruhi adalah kecepatan putaran. Rosyadi (2014) menyatakan konsumsi bahan bakar (Fuel Consumption) apabila semakin tinggi putaran mesin maka konsumsi
37
bahan bakar juga semakin tinggi.
Rendemen
Data rendemen diperoleh dari berat cocopeat yang dihasilkan mesin pengurai sabut kelapa dengan berat awal sabut 3000 gram dan diulang sebanyak tiga kali pada masing-masing pulley yaitu pulley berdiameter 3 Inci, 5 Inci, dan 8 Inci. Dari hasil analisis sidik ragam lampiran 5 dapat dilihat bahwa perbedaan ukuran diameter pulley memberikan pengaruh nyata terhadap rendemen yang dihasilkan alat pengurai sabut kelapa, sehingga diperlukan analisa lanjutan yaitu dengan menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT) untuk mengetahui hubungan antar perlakuan.
Tabel 4. Uji DMRT Rendemen yang Dihasilkan Alat Pengurai Sabut Kelapa.
Jarak DMRT perlakuan memberikan pengaruh yang nyata pada taraf 5 % dan sangat nyata pada taraf 1 %.
Berdasarkan tabel 4 memperlihatkan bahwa uji DMRT dengan taraf nyata 0,05 pada rendemen dengan perlakuan D1, perlakuan D2, dan perlakuan D3 ketiganya berbeda nyata . Hal ini berarti rendemen yang dihasilkan alat pengurai sabut kelapa dengan pulley yang berdiameter 3 inci, 5 inci dan 8 inci berbeda signifikan. Untuk uji DMRT pada taraf nyata 0,01, perlakuan D3 berbeda sangat nyata dengan perlakuan D1 tetapi tidak berbeda sangat nyata dengan perlakuan D2 serta perlakuan D2 tidak berbeda sangat nyata dengan perlakuan D1. Hal ini berarti rendemen yang dihasilkan alat pengurai sabut kelapa dengan pulley
yang berdiameter 8 inci berbeda sangat signifikan dengan pulley yang berdiameter 3 inci.
Perlakuan D1 memiliki rata-rata persentase rendemen sebesar 48,833 % berbeda 2,333 % dengan perlakuan D2 dan 6,166 % dengan perlakuan D3.
Dengan demikian disimpulkan bahwa alat pengurai sabut kelapa terbaik yang diperoleh dari hasil penelitian ini ditinjau dari rendemen yang dihasilkan adalah alat pengurai sabut kelapa yang dikenai perlakuan D1 dengan diameter Pulley 3 inci dengan rendemen sebesar 48,833 %. Pada pengujian tidak didapatinya hasil rendemen cocopeat mendekati nilai 100 % karena dari proses penguraian sabut kelapa menghasilkan dua produk yaitu cocopeat dan cocofiber. Rendemen cocopeat terbaik yang didapati pada penelitian ini yaitu sebesar 48,833 %.
Hubungan diameter pulley terhadap rendemen yang dihasilkan dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 5. Hubungan Diameter Pulley Terhadap Rendemen yang Dihasilkan Berdasarkan Gambar 5 memperlihatkan bahwa semakin besar diameter pulley semakin sedikit rendemen yang dihasilkan, dan semakin kecil diameter pulley maka semakin banyak rendemen yang dihasilkan. Hal ini disebabkan semakin kecil ukuran diameter pulley maka akan semakin kencang putaran pada pulley yang digerakkan sehingga persentase bahan tertinggal akan
39
semakin kecil disebabkan dapat mengurai sabut kelapa dengan baik. Apabila semakin besar ukuran diameter pulley maka akan semakin lambat putaran pada pulley yang digerakkan sehingga bahan tertinggalnya semakin besar. Persamaan garis pada gambar terbentuk dari persamaan y = -1,2367x + 52,596 dengan nilai R² = 0,9994 cukup dekat dengan 1. Nilai ini menunjukkan hubungan antara diameter pulley dan rendemen sangat kuat sehingga dapat disimpulkan bahwa rendemen yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh ukuran diameter pulley. Hal ini sesuai dengan literatur Catur (2019) yang menyatakan bahwa semakin besar ukuran diameter pulley yang digunakan maka persentase bahan tertinggalnya semakin tinggi dan semakin kecil ukuran diameter pulley yang digunakan, persentase bahan tertinggal semakin rendah.
40