• Tidak ada hasil yang ditemukan

SARAN

Dalam dokumen PEDOMAN WAWANCARA (Halaman 59-75)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

B. SARAN

1. Bagi pasien tuberculosis

Meningkatkan pengetahuan tentang dampak bagi dirinya jika tidak patuh minum obat, sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan.

2. Bagi pelayanan kesehatan

Khususnya perawat lebih meningkatkan lagi pelayanan kesehatan bagi pasien tuberculosis dengan melalui penyuluhan kesehatan.

3. Bagi penentu kebijakan

Tetap memprogramkan pengobatan gratis.

4. Bagi peneliti selanjutnya

Diharapkan adanya penelitian lebih lanjut dan diperlukan pemahaman secara mendalam mengenai penelitian kualitatif, baik tekhnik wawancara, maupun dalam menentukan hasil analisa data dan pebhasan, sehngga penelitian yang dilakukan dapat lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Abraham, C. & Shanley, E. (2005). Psikologi sosial untuk perawat, alih bahasa Leoni Sally M. Jakarta : EGC.

Aditama, T.Y. (2005). Mengenal Tuberkulosis . Surabaya : Penyuluhan No. 12.

Adin, AN, (2005). Kebijakan Paru dalm Penangulangan Tuberkuosis di Indonesia, Jakarta : Depkes RI.

Anggraeni, S. (2010). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta.

Arif, (2006). Pengobatan Penyakit Tuberkulosis. Jakarata : Bagian Penyakit Dalam Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Arikunto, S. (2005). Prosedur Penelitian (Suatu pendekatan praktek), Jakarta : PT.

Rineka Cipta.

Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru. (2007). Sepuluh masalah Tuberkolusis dan Penanggulangannya, Jurnal Respinologi Indonesia, Vol. 20, No. 1 Jakarta.

Basri. (2006). Apakah DOTS merupakan Cara Terbaik mengatasi TB?, Kumpulan Makalah Simposium Peran Dokter Swasta dalam Penerapan Strategi DOST pada Pemberantasan TB di Indonesia.

Bugin, B. (2007). Penelitian Kualitatif. Prenada Media Group: Jakarta

Burhanuddin. (2007). Penanggulangan Penyakit Tubercolosis Oleh Perawat, FKM Unhas. Makassar.

Crofton & Fred Miller. (2005). Tuberkulosis Klinis, Jakarta: Widya Medika.

Departemen Kesehatan RI. (2005). Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis.

Jakarta: Direktorat Jendral PPM dan PLP.

Departemen Kesehatan RI. (2007). Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis.

Jakarta: Direktorat Jendral PPM dan PLP

Departemen Kesehatan RI. (2008). Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis.

Jakarta: Direktorat Jendral PPM dan PLP

Departemen Pendidikan Nasional RI, (2010). Pembelajarn Orang Dewasa. Jakarta:

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi PEKERTI.

Friendman, Marlyn M, (2008). Keperawatan Keluaarga: teori dan praktik. Alih bahasa, Ina Bebora, Ed. 3. Jakarta. EGC.

Hasibuan & Winardi. (2005). Organisasi dan Motivasi. Jakarta: Bumi Aksara.

Hawari, (2006). Psikiater Manajemen Stress, Cemas, Depresi, Jakarta :FKUI

Helena. (2010). Pengobatan Penyakit Tuberkulosis. Jakarata : Bagian Penyakit Dalam Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Hidayat, A. (2007). Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisa Data.

Jakarta : Salemba Medika.

Hudoyo. (2005). Strategi Pelaksanaan DOTS. Jakarta: Pedoman Nasional Penggulangan Tuberkulosis. Edisi. 2.

Litbangkes, (2007). Data pelatihan dan Pengembangan Kesehatan RI. Jakarta.

Notoatmodjo. (2005). Metodelogi Penelitian Kesehatan Edisi Revisi. Jakarta: Rinda Cipta.

Nurdewati. (2005). Profil Penderita Tuberkulosis yang berobat di Rumah Sakit Fatmawati priode 1988-1999, Fatmawati Journal of Health Sciences.

Rachmat, J. (2005). Psikologi komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Refika . (2005). Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia.

Bandung.

Rintiswati, (2005). Pemberantasan Penyakit TB Paru dan Strategi Dots, Bagian Paru Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Barat.

Saryono, S. (2006). Sosiologi Kesehatan. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

Sugiyono & Anggraeni, (2010). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. (2007). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta.

Syarifudin, B. (2009). Panduan TA keperawatan dan kebidanan dengan SPSS.

Yogyakarta : Penerbit Grafindo Litera Media.

Waspadji, SS. (2005). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II, Jakarta : PT. Balai Penerbit FKUI.

Widayatun, T.R. (2006). Ilmu perilaku. Jakarta : CV. Sagung Seto.

Winardi, J. (2007). Motivasi, Pemotivasian Dalam Manajemen. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Lampiran

PENJELASAN PENELITIAN

Kepada Yth.

Saudara Partisipan Di-

T e m p a t

Dengan hormat

Dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan maka saya : Nama : Dg Jikanang

Nim : C121 09 575 Alamat :

Sebagai mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, bermaksud akan melaksanakan penelitian dengan judul:

” Faktor-faktor yang berhubungan dengan penyebab putus obat pasien tubeculosis di wilayah kerja puskesmas Jongaya Makassar”

Sehubungan dengan hal diatas saya mohon kesediaan saudara kiranya dapat berpartisipasi dalam penelitian ini dengan menjadi partisipan. Penelitian ini mengunakan desain kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Berikut ini saya akan menjelaskan beberapa hal terkait dengan penelitian yang akan saya lakukan : 1. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang faktor-faktor

penyebab putus obat pada pasien tuberculosis.

2. Manfaat penelitian ini secara garis besar adalah meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan khususnya dibidang perawatan pasien tuberculosis yang putus obat, khususnya peran serta petugas, keluarga dalam memberikan informasi dan dukungan/motivasi kepada pasien tuberculosis.

3. Partisiapan dalam penelitian ini adalah pasien tuberculosis yang putus obat.

4. Pengambilan data dalam penelitian ini akan dilakukan dengan wawancara secara mendalam dengan partisipan yang berlangsung selama 30-45 menit untuk setiap partisipan.

Atas partisipasi dan kebijakannya yang baik saya mengucapkan banyak terima kasih.

Hormat saya Peneliti Dg Jikanang

Lampiran

SURAT PERSETUJUAN MENJADI PARTISIPAN (INFORMED CONCENT)

Surat persetujuan menjadi partisipan

Saya bertanda tangan dibawah ini tidak berkeberatan untuk menjadi partisipan dalam penelitian yang dilakukan mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin dengan judul: “ FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENYEBAB PUTUS OBAT PASIEN TUBECOLUSIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS JONGAYA MAKASSAR”.

Saya memahami bahwa data ini bersifat rahasia. Demikianlah surat pernyataan ini dengan suka rela tanpa paksaan dari pihak manapun semoga dapat dipergunakan seperlunya.

Makassar, Januari 2011 Responden

.

.. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. ..

PEDOMAN WAWANCARA

“Faktor-faktor yang berhubungan dengan penyebab putus obat pasien tubeculosis di wilayah kerja puskesmas Jongaya Makassar”.

A. Krakteristik responden

1. Inisial responden :

2. Umur :

3. Agama :

4. Jenis kelamin :

5. Alamat :

6. Pendidkan terakhir : 7. Status perkawinan :

8. Pekerjaan :

9. Tinggal bersama : B. Pedoman wawancara

1. Selama saudara menjalani pengobatan, pernahkah saudara lalai minum obat?

2. Apa saudara mendapat kesulitan pelayanan untuk melanjutkan pengobatan bila berobat ke tempat lain?

3. Apa anda setiap mengkomsumsi obat ada perbaikan atau perubahan?

4. Seandainya untuk memperoleh obat tersebut, anda harus membayar atau mengeluarkan biaya, apakah anda bersedia?

5. Selama pengobatan, pernahkah anda terlambat mendapatkan obat dari pengawas minum obat (PMO)?

6. Setiap kali saudara ke puskesmas untuk mengambil obat, apakah saudara disambut dan dilayani dengan baik oleh petugas yang memberikan saudara pengobatan?

7. Selama saudara menjalani pengobatan, pernahkah petugas kesehatan yang memberikan pengobatan, berkunjung ke rumah saudara?

8. Apa keluarga saudara memberikan dorongan untuk berobat secara teratur dan tuntas?

TRANSKIP HASIL WAWANCARA INFORMAN I1

Wawancara dilakukan pada tanggal, Februari 2011, jam di ruangan pertemuan Puskesmas Jongaya Makassar, suasana ruangan bersih, dan tertata rapi, s informan ramah dan kooperatif pada saat wawancara berlangsung. Informan atas nama Ny. R, umur 31 tahun, agama islam, jenis kelamin perempuan, status perkawinan pisah, tinggal bersama kakak dan adiknya di rumah orang tuanya, kedua orang tuanya sudah meninggal, pekerjaan buruh harian seperti membantu tetangganya mencuci pakaian.

Pt :

Inf :

Pt :

Inf :

Pt : Inf :

Selama saudara menjalani pengobatan, pernahkah saudara lalai minum obat?

Dulu itu bu, tidak kuminumki obatku karena posoka kurasa, nabawa tongmi poeng adik iparku, na’ dua haripi baru nabawakanka.

Apa saudara mendapat kesulitan pelayanan untuk melanjutkan pengobatan bila berobat ke tempat lain?

Tidak pernaka, pindah berobat, tapi waktunya petugasnya belum diganti saya biasa dimarah-marahi petugasnya, apalagi kalau paski hari libur na’habiski obatku. Sekarang petugasnya terutama sus”M” natelponki kalau natauki kalau sudah mau habis obatku.

Apa anda setiap mengkomsumsi obat ada perbaikan atau perubahan?

Sebelumnya bu, tidak ada perubahan kurasakan bahkan tambah posoka,

Pt :

Inf :

Pt :

Inf :

Pt :

Inf :

Pt :

Inf :

Pt :

sekarang kalau malamki tidak banyakmi keringatku.

Seandainya untuk memperoleh obat tersebut, anda harus membayar atau mengeluarkan biaya, apakah anda bersedia?

Kalau tidak adami gratis dari puskesmas, berhentima makan obat, karena makan saja sehari-hari, pergipa jadi buruh harian, ya bantu-bantu orang cuci pakaiannya.

Selama pengobatan, pernahkah anda terlambat mendapatkan obat dari pengawas minum obat (PMO)?

Sering saya terlambat minum obat, apalagi kalau pergika bantu-bantu orang mencuci, baru saya sendiriji yang minum obatku tidak ada orang yang kasi ingatka.

Setiap kali saudara ke puskesmas untuk mengambil obat, apakah saudara disambut dan dilayani dengan baik oleh petugas yang memberikan saudara pengobatan?

Sekarang petugasnya baikbaik semua, ituji dulu iya, takut-takutki pergi ambil obat.

Selama saudara menjalani pengobatan, pernahkah petugas kesehatan yang memberikan pengobatan, berkunjung ke rumah saudara?

Waktuku pertama berobat tidak pernah dating petugas ke rumah, tapi sekarang biasaji datang, biasa iya natelponki lagi.

Apa keluarga saudara memberikan dorongan untuk berobat secara teratur dan tuntas?

Inf : Tidak pernah, bahkan suamiku natinggalkanka, na’tauki na’kenaka penyakit ini, untug adaji adikku yang mengingatkan minum obat, karena tinggalmaka sama-sama.

NO TEMA SUB

TEMA KATEGORI SUB

KATEGORI KATA KUNCI I1 I2 I3 I4 I5

1 Respon pasien yang menjalani pengobatan kembali

Faktor Internal

Faktor ekternal

Perilaku

Psikologis

Spritual

Dukungan

Tidak patuh

Malu

Terbebani Berserah diri

Keluarga

“Tidak kuminumki obatku karena posoka kurasa”

”Tidak teratukar

minum obat

na’baik-baikmi kurasa

perasaanku.

“Perasaanku loyo, itu kuberhenti minum obat”

“Tidak kuminum obatku, karena

tidak ada

perubahan”

“Minum

ripamfisin, mukaku merah, kayak allergi”

“Na’tinggalkanma, suamiku”

“Maluka, batu-batuka latto-lattoka”

“Sudah berobat di RS.”X”dan dr.”X”

naitidak sembuh-sembuh”

“Tidak bisaki telat minum obat”

x

x

x

x x

x

x

x x

x

x x

x

x

x x

x

2

Hubungan sosial

Dengan lingkungan sekitar Dengan

Petugas kesehatan

Biaya

Berubah/tidak berubah

“Tuhan yang tauki

“Semuanya saya serahkan ke Tuhan

“Allah Maha Segalanya”

“Adikku selalu suruhka pergi ambilki obatku”

“Orang tuaku sering

mengingatkan untuk datang ambil obat”

“Tidak ada yang mengingatkan minum obat”

“Datang sendiri ambil obat”

“Istri saya yang ambilkan obat”

“Tidak pernah petugas datang di rumah”

“Tidak ada

penyampaian, obat tidak boleh telat diminum satu hari”

“Na’bilang dokter

“X”sudah sembuhmaki”

x

x

x x

x

x x

x

x x

x x

x

x

3

Persepsi pasien yang menjalani pengobatan kembali

teman kerja Dengan keluarga

Setelah minum obat kembali

“Bukan saya yang lalai minum”

“Tidak ada

informasi

mengenai efek samping obat”

“Kalau tidak adami gratis dari pemerintah,

berhentima makan obat”

“Diusahakan mami yang penting sembuh”

“Adami na’siapkan

pemerintah gratis

“mubazir”

“Tidak usami berobat kalau beli obat”

“Tidak jadi masalah, adaji sedikit gaji pensiunku pakai beli obat

“Nahindarika”

“Biasa-biasaji”

“Biasa temanku bilang “obat apami itu kau minum”

x x

x

x x

x x

x

“Janganmi terlalu repot”

“Tidak adaji perubahan”

“Baik-baikmi kurasa”

“Ada perubahan, sudah teratur berobat 3 bulan, enakmi saya rasa”

“Sempatka ragu karena lendirku warna coklatki lagi”

“Sekarang

bisamaka baring”

“Ada perbaikan napsu makan”

Dalam dokumen PEDOMAN WAWANCARA (Halaman 59-75)

Dokumen terkait