Pada umumnya, krim merupakan campuran gula dan lemak dengan penambahan bahan perasa dan pewarna. Krim dengan rasa manis mengandung lemak dan sukrosa sebagai komponen utama dan dextrose, susu bubuk, coklat
bubuk, garam, emulsifier, flavour dan pewarna sebagai komponen tambahan. Pencampuran bahan merupakan hal yang penting dalam pembuatan krim, karena akan menentukan keseragaman atau kehomogen dan tekstur produk akhir.
Formula dasar krim diperoleh dari hasil penelitian Rieuwpassa (2004) dengan komposisi krim yaitu 10 g mentega, 10 g margarin, 75 g gula halus dan 5 ml susu cair. Modifikasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan penambahan 1,4 g pelet/kg krim probiotik Enterococcus faecium IS-27526 yang telah dimikroenkapsulasi dengan viabilitas probiotik adalah 108 cfu/g krim setelah dilakukan pengujian, sehingga konsumsi tikus adalah 108 cfu/hari. Penambahan 1,4 g pelet/kg krim didasarkan dari banyaknya krim yang dibuat (1000 g) dikalikan dengan efek dari probiotik yang memberikan manfaat bagi kesehatan
(108 cfu/g) dan dibagi dengan uji viabilitas BAL dari pelet yang telah dimikroenkapsulasi (7,4 x 1010 cfu/g).
Proses pembuatan krim diawali dengan mencampurkan mentega dan margarin. Kemudian dilanjutkan dengan penambahan gula dan susu. Lalu adonan diaduk dengan menggunakan mixer sampai tercampur merata. Setelah cukup homogen ditambahkan probiotik ke dalam campuran dan diaduk kembali sampai kalis dan homogen. Kemudian krim dikemas menggunakan aluminium foil.
Sifat Fisik Krim
Parameter sifat fisik krim yang diamati meliputi pH dan densitas kamba.
Nilai pH merupakan faktor penting yang harus diketahui pada sebagian produk pangan. Nilai pH produk dipengaruhi oleh bahan-bahan yang digunakan. Besarnya nilai pH dapat digunakan untuk menentukan suatu produk bersifat asam, netral atau basa. Nilai pH krim berpengaruh banyak terhadap sifat-sifat produk yang dihasilkan, yaitu masa simpan, daya mengikat air, tekstur dan warna produk.
Hasil analisis sifat fisik menunjukkan bahwa pH krim probiotik (5,94)
adalah sangat nyata (p<0,01) lebih rendah dibandingkan dengan krim non probiotik (6,16). Hasil uji statistik pH kedua krim disajikan pada Lampiran 6. Nilai pH tersebut menunjukkan bahwa krim probiotik dan krim non probiotik cenderung asam tetapi mendekati netral. Data hasil pengujian sifat fisik krim disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4 Sifat fisik krim probiotik dan krim non probiotik
Krim probiotik Krim non probiotik Nilai p
Nilai pH 5,94 6,16 0,002
Densitas kamba (g/ml) 1,34 1,34 1,000
Keterangan : n= 2
Perbedaan pH yang sangat nyata antara kedua krim diduga karena adanya perubahan yang terjadi dengan penambahan bakteri probiotik di dalam krim yang telah dimikroenkapsulas i dengan pautan silang antara natrium alginat dengan kalsium klorida sebagai bahan penyalut, interaksi yang terjadi antara produk serta zat-zat yang merupakan pembentuk krim.
Alginat merupakan senyawa polisakarida ß- D-manuronat dan a-1-guluronat yang terdiri atas unit monomer berikatan (1,4) yang bersifat asam yang diekstraksi dari ganggang coklat. Reaksi pautan silang pada krim probiotik, yakni
antara alginat dengan kalsium klorida yang larut air dan pH rendah dengan kalsium klorida menghasilkan Ca-alginat yang tidak larut air dan tidak larut dalam HCl, sehingga adanya interaksi tersebut mengakibatkan perbedaan yang sangat nyata antara kedua krim.
Densitas kamba merupakan salah satu karakteristik fisik terpenting yang diperlukan dalam evaluasi proses pembuatan produk-produk pangan dan dinyatakan dalam satuan g/ml. Densitas kamba merupakan perbandingan antara berat bahan dengan volume bahan. Semakin tinggi densitas kamba menunjukkan produk semakin ringkas atau padat. Nilai densitas juga menunjukkan porositas bahan. Bahan yang lebih ringkas memiliki porositas yang lebih sedikit karena lebih sedikit rongga antar partikel. Banyaknya rongga antar partikel dan besarnya
ukuran partikel akan menyebabkan banyak ruang kosong tersisa yang seharusnya terisi oleh partikel tersebut. Hal ini menyebabkan jumlah partikel yang menempati suatu volume ruang lebih sedikit.
Hasil analisis (Tabel 4) menunjukkan bahwa nilai densitas kamba untuk
kedua krim adalah tidak berbeda (p>0,05), yaitu 1,34 g/ml. Hasil uji statistik densitas kamba kedua krim disajikan pada Lampiran 6. Nilai densitas kamba dalam penelitian ini termasuk kategori besar. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh komposisi bahan baku yang digunakan, yaitu gula, mentega dan margarin. Menurut Winarno (1997) lemak dapat mempengaruhi densitas kamba suatu produk karena lemak dapat mengkompakkan bahan sehingga kadar lemak yang lebih besar cenderung menyebabkan densitas kamba yang semakin besar.
Sifat Kimia Krim
Parameter sifat kimia krim yang diamati meliputi kadar air, kadar protein, kadar lemak, kadar abu dan kadar karbohidrat. Sifat kimia krim probiotik dan non probiotik disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5 Sifat kimia krim probiotik dan krim non probiotik (% bk)
Krim probiotik Krim non probiotik Nilai p
Kadar Air* 2,63 2,69 0,81
Kadar Protein 0,75 0,47 0,03
Kadar Lemak 15,74 16,19 0,23
Kadar Abu 0,46 0,36 0,02
Kadar Karbohidrat 83,04 82,98 0,82
*) Kadar air dinyatakan berdasarkan berat basah
Kadar Air
Kadar air adalah kandungan air suatu bahan yang dapat dinyatakan berdasarkan berat basah. Kadar air dalam bahan pangan akan berubah-ubah sesuai dengan lingkungannya dan sangat erat hubungannya dengan daya awet bahan pangan. Selain itu, kadar air juga merupakan salah satu karakteristik yang sangat
penting pada bahan pangan, karena air dapat mempengaruhi penampakan, tekstur, dan citarasa bahan pangan (Winarno 1997).
Hasil analisis menunjukkan bahwa krim probiotik mempunyai kadar air (2,63% bb) yang tidak berbeda nyata (p>0,05) lebih rendah dibandingkan dengan krim non probiotik (2,69% bb). Hasil uji statistik terhadap kadar air krim probiotik dan krim non probiotik menggunakan t-test disajikan pada Lampiran 7.
Kadar Protein
Hasil analisis menunjukkan bahwa krim probiotik mempunyai kadar protein (0,75% bk) adalah nyata (p<0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan krim non probiotik (0,47% bk). Hasil uji statistik terhadap kadar protein krim probiotik dan krim non probiotik menggunakan t-test disajikan pada Lampiran 7. Perbedaan kandungan protein antara krim probiotik dan krim non probiotik diduga adanya penambahan E. faecium IS-27526 ke dalam krim probiotik karena 15% dari berat sel bakteri adalah protein dengan jumlah molekul rata-rata per sel adalah 106 (Fardiaz 1989).
Winarno (1997) menyatakan, protein merupakan suatu zat gizi yang amat penting bagi tubuh, karena zat ini selain berfungsi sebagai penghasil energi dalam tubuh juga berfungsi sebagai zat pembangun dan pengatur. Sifat protein sebagai zat pengatur dimiliki oleh enzim. Sebagai zat pembangun, protein merupakan
bahan pembentuk jaringan baru dalam tubuh.
Kadar Lemak
Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar lemak krim probiotik (15,74% bk) yang tidak berbeda nyata (p>0,05) lebih rendah dibandingkan dengan krim non probiotik (16,19% bk). Hasil uji statistik terhadap kadar lemak krim probiotik dan krim non probiotik menggunakan t-test disajikan pada Lampiran 7.
Lemak merupakan bahan baku paling penting dalam pembuatan biskuit. Lemak merupakan komponen terbesar selain tepung dan gula. Pada pembuatan krim probiotik maupun krim non probiotik, digunakan dua jenis sumber lemak,
yaitu margarin dan mentega. Fungsi utama lemak dalam pembuatan krim adalah sebagai pengemulsi. Selain itu lemak juga berfungsi sebagai pembentuk citarasa dan memberikan tekstur pada krim.
Kadar Abu
Abu adalah zat organik sisa hasil pembakaran suatu bahan organik yang kandungan dan komposisinya tergantung pada jenis bahan dan cara pengabuannya (Sudarmadji et al. 1984). Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar abu krim probiotik (0,46% bk) adalah nyata (p<0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan
krim non probiotik (0,36% bk). Hasil uji statistik terhadap kadar abu krim
probiotik dan krim non probiotik menggunakan t-test disajikan pada Lampiran 7. Perbedaan kadar abu antara krim probiotik dan krim non probiotik diduga adanya penambahan E. faecium IS-27526 yang ada di dalam krim probiotik karena 1% senyawa-senyawa penyusun sel bakteri adalah ion organik dengan jumlah molekul rata-rata per sel 2,5 x 108 (Fardiaz 1989).
Kadar Karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber kalori utama bagi manusia. Karbohidrat mempunyai peranan penting dalam menentukan karakteristik bahan makanan, seperti rasa, warna, dan tekstur (Winarno 1997). Hasil analisis menunjukkan bahwa krim probiotik mempunyai kandungan karbohidrat (83,04% bk) yang tidak
berbeda nyata (p>0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan krim non probiotik (82,98% bk). Hasil uji statistik terhadap kadar karbohidrat kedua krim menggunakan t-test disajikan pada Lampiran 7.
Mutu Mikrobiologi Krim
Salah satu indikator kerusakan makanan dapat dilihat dari mutu mikrobiologi. Bahan pangan atau makanan disebut busuk atau rusak jika sifat-sifatnya telah berubah sehingga tidak dapat diterima sebagai makanan (Fardiaz 1989). Mutu mikrobiologi dari suatu produk makanan ditentukan oleh jumlah dan jenis mikroorganisme atau mikroba yang terdapat dalam bahan pangan ( Buckle et al. 1987). Mutu mikrobiologi ini akan menentukan daya simpan dan keamanan dari suatu produk.
Indikator yang dapat mempengaruhi kondisi penyimpanan dan keamanan bahan pangan salah satunya adalah pertumbuhan mikroorganisme dalam bahan pangan, simbiosis antara kelompok mikroorganisme dan tersedianya zat-zat gizi. Parameter yang diamati untuk menentukan mutu mikrobiologi krim probiotik dan non probiotik adalah total bakteri asam laktat, total mikroba (TPC), serta total kapang dan khamir. Apabila total mikroorganisme di luar batas standar, maka bahan pangan tidak aman untuk dikonsumsi.
Total Bakteri Asam Laktat (BAL)
Total bakteri asam laktat krim probiotik diperoleh dari perhitungan bakteri yang ditumbuhkan pada media deMan Rogosa Sharp Agar (MRSA). Krim probiotik memiliki total bakteri asam laktat sebesar 1,42 x 108 cfu/g, sedangkan pada krim non probiotik tidak terdapat bakteri asam laktat. Total bakteri asam laktat pada kedua krim disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6 Total bakteri asam laktat pada krim probiotik dan krim non probiotik
Produk Total bakteri asam laktat (cfu/g)
Krim Probiotik 1,42 x 108
Krim Non Probiotik 0
Menurut Tannock (1999), salah satu syarat produk probiotik adalah mengandung sel mikroba hidup sebesar 106 – 108 cfu/g. Oleh karena itu, produk krim probiotik yang dihasilkan dapat memenuhi syarat produk probiotik. Adanya sifat antagonis yang dilakukan oleh bakteri probiotik akan menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk dan patogen lainnya dalam suatu produk makanan. Selain itu, perbedaan laju pertumbuhan memungkinkan bakteri probiotik akan menghabiskan zat- zat gizi yang penting dalam substrat dan akan merugikan mikroorganisme lainnya, khususnya yang tidak bermanfaat bagi kesehatan.
Total Plate Count (TPC)
Total Plate Count (TPC) dilakukan untuk mengetahui total mikroba pada produk krim yang dihasilkan. Kondisi mikrobiologis pada produk dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti bahan baku dan pengemasan, perlakuan panas, kondisi sanitasi dan kebersihan alat-alat yang digunakan. Hasil uji menunjukkan bahwa produk krim probiotik memiliki total mikroba 3,2 x 104 cfu/g dan krim non probiotik memiliki total mikroba 3,4 x 104 cfu/g. Total mikroba pada kedua krim disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7 Total mikroba pada krim probiotik dan krim non probiotik
Produk Total mikroba (cfu/g)
Krim probiotik 3,2 x 104
Total mikroorganisme pada krim probiotik lebih kecil dibandingkan
dengan krim non probiotik. Hal ini diduga karena bakteri asam laktat tidak bisa tumbuh dengan baik pada media plate count agar. Bakteri asam laktat memerlukan media selektif untuk pertumbuhannya yang mengandung zat-zat gizi yang komplek seperti asam amino, vitamin (B1, B6, B12 dan biotin), purin dan pirimidin (Surono 2004).
Total Kapang dan Khamir
Kontaminasi kapang dan khamir pada suatu produk dimungkinkan berasal dari perlakuan pada tahap pengolahan, bahan pengemas, sanitasi ruang dan lingkungan yang kurang steril. Nilai pH yang asam pada suatu produk merupakan kondisi lingkungan yang sangat mendukung pertumbuhan kapang dan khamir.
Hasil uji menunjukkan bahwa produk krim probiotik memiliki total khamir 3,0 x 101 cfu/g dan tidak terdapat kapang, sedangkan pada krim non probiotik tidak terdapat kapang dan khamir. Total kapang dan khamir kedua krim disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8 Total kapang dan khamir pada krim probiotik dan krim non probiotik
Produk Total kapang dan khamir (cfu/g)
Krim Probiotik 3,0 x 101
Krim Non Probiotik 0
Pengaruh Perlakuan terhadap Peningkatan Berat Badan Tikus Pengukuran terhadap berat badan tikus dilakukan setiap dua hari sekali. Rata-rata berat badan tikus pada awal penelitian berkisar antara 60,20 g – 61,90 g dan di akhir penelitian mengalami peningkatan dengan kisaran berat badan antara 123,84 g – 143,98 g (Tabel 9). Peningkatan berat badan tikus di akhir pengamatan antara lain dipengaruhi oleh perlakuan yang diberikan dan lingkungan yang di kontrol. Kontrol terhadap lingkungan sudah berjalan dengan baik. Hal ini diindikasikan dengan berat badan tikus pada awal penelitian homogen (Lampiran 9). Data berat badan tikus secara keseluruhan selama 21 hari pengamatan disajikan pada Lampiran 8.
Tabel 9 Rata-rata berat badan tikus pada awal dan akhir penelitian
Perlakuan Rata-rata berat badan tikus (g)
Awal Akhir A0 60,46 123,84 A1 61,90 139,90 A2 61,86 143,98 A3 61,50 136,50 A4 60,20 135,18 A5 61,38 135,87 Keterangan :
A0 = Kontrol negatif / ransum standar
A1 = Kontrol positif / ransum standar + krim non probiotik + biskuit biasa A2 = Ransum standar + krim probiotik + biskuit tinggi protein
A3 = Ransum standar + krim probiotik + biskuit tinggi protein (selang 2 hari) A4 = Ransum standar + krim probiotik + biskuit biasa
A5 = Ransum standar + krim non probiotik + biskuit tinggi protein
Menurut Muchtadi (1989), peningkatan berat badan bersifat alamiah, tikus merupakan hewan yang tidak pernah berhenti tumbuh, walaupun kecepatan tumbuh akan menurun saat mencapai usia dewasa. Hasil penimbangan terhadap berat badan tikus selama 21 hari pengamatan menunjukkan bahwa rata-rata berat badan tikus dari enam perlakuan mengalami peningkatan (Gambar 3). Tikus yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah tikus umur sapih (30 hari) dengan rata-rata berat badan yaitu 60 g.
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan tidak berbeda nyata terhadap rata-rata berat badan tikus selama 21 hari pengamatan,
kecuali pada pengamatan hari ke-7 (Lampiran 9). Hasil uji lanjut Tukey menunjukkan bahwa pada penimbangan hari ke-7, berat badan tikus pada perlakuan krim probiotik + biskuit tinggi protein (A2) (96,58 g) berbeda nyata dengan perlakuan ransum standar (A0) (82,92 g), tetapi pada perlakuan lainnya krim non probiotik + biskuit biasa (A1) (89,74 g); krim probiotik + biskuit tinggi protein (selang 2 hari) (A3) (86,88 g); krim probiotik + biskuit biasa (A4) (84,26 g); krim non probiotik + biskuit tinggi protein (A5) (88,26 g) tidak berbeda nyata dengan perlakuan ransum standar (A0) (Lampiran 10). Perbedaan berat badan tikus hanya terjadi pada hari ke-7 karena jumlah ransum yang dikonsumsi oleh tikus adalah tidak berbeda nyata yaitu berkisar antara 158,26 g – 190,42 g antar perlakuan selama 21 hari pengamatan.
Keterangan :
*) = Berat badan tikus antar perlakuan berbeda nyata (p<0,05) A0 = Kontrol negatif / ransum standar
A1 = Kontrol positif / ransum standar + krim non probiotik + biskuit biasa A2 = Ransum standar + krim probiotik + biskuit tinggi protein
A3 = Ransum standar + krim probiotik + biskuit tinggi protein (selang 2 hari) A4 = Ransum standar + krim probiotik + biskuit biasa
A5 = Ransum standar + krim non probiotik + biskuit tinggi protein
Gambar 3 Rata-rata berat badan tikus selama 21 hari pengamatan
Analisis data terhadap perubahan berat badan tikus didasarkan pada pengurangan berat badan tikus pada pengamatan hari ke-1 hingga pengamatan hari ke-21 (selang penimbangan 2 hari) dengan data pengamatan hari ke-0. Hasil penimbangan berat badan tikus dari keenam perlakuan menunjukkan bahwa tikus mengalami peningkatan berat badan yang selalu meningkat (Gambar 4). Data peningkatan berat badan tikus secara keseluruhan dapat dilihat pada Lampiran 11.
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa peningkatan berat badan tikus antar perlakuan berbeda nyata (p<0,05) pada pengamatan hari ke-3, 5, 7, 9, 11, 13, dan 15, namun tidak berbeda nyata (p>0,05) pada hari pengamatan ke-1, 17, 19 dan 21. Meskipun berat badan cenderung meningkat dengan semakin lamanya pemberian intervensi, tetapi peningkatan berat badan tersebut tidak begitu cepat di saat melewati masa pertumbuhan karena pada hari ke-17, 18 dan 21 tikus sudah mencapai usia dewasa.
0 1 3 5 7* 9 11 13 15 17 19 21 A0 60,46 63,76 69,32 76,12 82,92 90,86 97,46 103,68 108,20 114,70 120,26 123,84 A1 61,90 66,22 73,26 81,86 89,74 99,96 105,40 112,70 119,50 125,24 133,62 139,90 A2 61,86 69,46 79,22 87,76 96,58 103,9 111,74 119,28 125,74 131,60 138,28 143,98 A3 61,50 66,38 72,68 80,96 86,88 95,16 102,94 111,16 117,70 125,04 132,90 136,50 A4 60,20 64,76 69,30 75,46 84,26 92,96 98,04 106,36 112,80 121,40 128,14 135,18 A5 61,38 65,94 70,70 78,40 88,26 96,30 104,02 110,96 118,36 125,80 130,22 135,87 0 60 120 180
Keterangan :
*) = Peningkatan berat badan tikus antar perlakuan berbeda nyata (p<0,05) **) = Peningkatan berat badan tikus antar perlakuan berbeda sangat nyata (p<0,01) A0 = Kontrol negatif / ransum standar
A1 = Kontrol positif / ransum standar + krim non probiotik + biskuit biasa A2 = Ransum standar + krim probiotik + biskuit tinggi protein
A3 = Ransum standar + krim probiotik + biskuit tinggi protein (selang 2 hari) A4 = Ransum standar + krim probiotik + biskuit biasa
A5 = Ransum standar + krim non probiotik + biskuit tinggi protein
Gambar 4 Rata-rata peningkatan berat badan tikus selama 21 hari pengamatan
Hasil uji lanjut Tukey menunjukkan bahwa pada hari ke-3, peningkatan berat badan tikus pada perlakuan krim probiotik + biskuit tinggi protein (A2) berbeda nyata dengan perlakuan ransum standar (A0) dan krim probiotik + biskuit biasa (A4), tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan krim non probiotik + biskuit biasa (A1), krim probiotik + biskuit tinggi protein (selang 2 hari) (A3) dan krim non probiotik + biskuit tinggi protein (A5).
Pada hari ke-5, peningkatan berat badan tikus pada perlakuan krim probiotik + biskuit tinggi protein (A2) berbeda nyata dengan ransum standar (A0),
krim probiotik + biskuit biasa (A4) dan krim non probiotik + biskuit tinggi protein (A5), tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan krim non probiotik + biskuit biasa (A1), krim probiotik + biskuit tinggi protein (selang 2 hari) (A3). Pada hari ke-7, peningkatan berat badan tikus pada perlakuan krim probiotik + biskuit tinggi protein (A2) berbeda sangat nyata dengan perlakuan ransum standar (A0), krim probiotik + biskuit tinggi protein (selang 2 hari) (A3), krim probiotik + biskuit biasa (A4), tetapi tidak berbeda nyata dengan krim non probiotik + biskuit biasa (A1) dan krim non probiotik + biskuit tinggi protein (A5).
0 30 60 90 1 3* 5* 7** 9* 11* 13* 15* 17 19 21 A0 3,30 8,86 15,66 22,46 30,40 37,00 43,22 47,74 54,24 59,80 63,38 A1 4,32 11,36 19,96 27,84 38,06 43,50 50,80 57,60 63,34 71,72 78,00 A2 7,60 17,36 25,90 34,72 42,04 49,88 57,42 63,88 69,74 76,42 82,12 A3 4,88 11,18 19,46 25,38 33,66 41,44 49,66 56,20 63,54 71,40 75,00 A4 4,56 9,10 15,26 24,06 32,76 37,84 46,16 52,60 61,20 67,94 74,98 A5 4,56 9,32 17,02 26,88 34,92 42,64 49,58 56,98 64,42 68,84 74,42
Pada hari ke-9, peningkatan berat badan tikus pada perlakuan krim
probiotik + biskuit tinggi protein (A2) berbeda nyata dengan ransum standar (A0), tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan krim non probiotik + biskuit biasa (A1), krim probiotik + biskuit tinggi protein (selang 2 hari) (A3), krim probiotik + biskuit biasa (A4) dan krim non probiotik + biskuit tinggi protein (A5).
Pada hari ke-11 peningkatan berat badan tikus pada perlakuan krim probiotik + biskuit tinggi protein (A2) berbeda nyata dengan ransum standar (A0) dan krim probiotik + biskuit biasa (A4), tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan krim non probiotik + biskuit biasa (A1), krim probiotik + biskuit tinggi protein (selang 2 hari) (A3) dan krim non probiotik + biskuit tinggi protein (A5).
Pada hari ke-13 dan 15, peningkatan berat badan tikus pada perlakuan krim probiotik + biskuit tinggi protein (A2) berbeda nyata dengan ransum standar (A0), tetapi tidak berpengaruh nyata dengan perlakuan krim non probiotik +
biskuit biasa (A1), krim probiotik + biskuit tinggi protein (selang 2 hari) (A3), krim probiotik + biskuit biasa (A4) dan krim non probiotik + biskuit tinggi protein (A5) (Lampiran 13).
Salah satu faktor yang meningkatkan pertumbuhan adalah asupan makanan yang diberikan dalam jumlah yang cukup dan kandungan gizi yang terdapat pada makanan. Semua tikus mendapatkan jenis ransum yang sama, namun perbedaan terdapat pada perlakuan, jumlah kalori dan protein yang diberikan pada setiap kelompok tikus. Peningkatan berat badan tikus yang mendapatkan krim probiotik + biskuit tinggi protein (A2) adalah lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya, karena selain mendapatkan gizi yang lebih banyak dari ransum dan biskuit, juga mendapatkan probiotik yang dapat
meningkatkan penyerapan zat gizi di dalam tubuh.
Pada fase pertumbuhan, protein memegang peranan yang sangat penting (dianalogkan pada biskuit yang tinggi protein dan kalori), karena pada fase tersebut proses biosintesis berlangsung dengan cepat terutama pembentukan protein tubuh, sedangkan energi dibutuhkan untuk berlangsungnya proses metabolisme tubuh (National Research Council 1978 ; Sulchan & Nur 2007).
Selain itu, adanya penambahan probiotik ke dalam ransum tikus menyebabkan bakteri non patogen di dalam saluran cerna akan lebih banyak
daripada bakteri patogen, sehingga akan menekan pertumbuhan bakteri patogen
yang akan menciptakan kondisi yang baik pada saluran pencernaan. Kondisi demikian akan meningkatkan penyerapan zat-zat gizi dan akan memberikan efek yang menguntungkan bagi kesehatan, yaitu akan menambahkan massa tubuh (Sobariah 2007).
Berbagai cara mikrobiota menekan pertumbuhan bakteri patogen diantaranya adalah kompetisi nutrisi. Asam lemak bebas yang dihasilkan oleh mikrobiota usus menghambat proliferasi patogen dengan menurunkan keasaman usus, dan beberapa bakteri menghasilkan bakteriosin. Mikrobiota usus mempercepat mengeluarkan kotoran dengan menstimulir motilitas usus dan menstimulir sistem imun usus. Kondisi ini akan menciptakan kondisi yang sehat di saluran pencernaan sehingga penyerapan zat gizi akan optimal yang akan memberikan kontribusi pada massa tubuh.
Mikrobiota Fekal Tikus Total Bakteri Asam Laktat Fekal Tikus
Bakteri asam laktat memiliki peranan yang penting pada kehidupan manusia, baik dalam fermentasi makanan maupun sebagai bagian dari mikroflora normal pada saluran pencernaan. Bakteri asam laktat yang secara normal tumbuh di saluran pencernaan dapat memberikan efek positif terhadap kesehatan tubuh melalui kemampuannya menekan pertumbuhan patogen (Purwandhani 1998).
Bakteri asam laktat merupakan kelompok bakteri gram positif, tidak menghasilkan spora, berbentuk bulat atau batang, katalase negatif, tidak
membentuk sitokrom, aerotoleran, anaerobik hingga mikroaerofilik, membutuhkan nutrisi kompleks seperti asam amino dan vitamin serta memproduksi asam laktat sebagai produk akhir metabolik utama selama fermentasi karbohidrat (Surono 2004).
Rata-rata jumlah bakteri asam laktat fekal tikus pada awal penelitian berkisar antara 1,78 x 108 cfu/g (8,25 log cfu/g) – 2,95 x 108 cfu/g (8,47 log cfu/g), sedangkan pada akhir penelitian mengalami peningkatan, yaitu berkisar antara 1,78 x 109 cfu/g (9,25 log cfu/g) – 5,37 x 1010 cfu/g (10,73 log cfu/g) (Gambar 5). Secara keseluruhan rata-rata jumlah bakteri asam laktat fekal tikus
dari enam perlakuan yang diberikan mengalami peningkatan hingga pengamatan
hari ke-21. Data jumlah bakteri asam laktat fekal tikus secara keseluruhan dapat dilihat pada Lampiran 14.
Keterangan :
**) = Jumlah bakteri asam laktat fekal tikus antar perlakuan berbeda sangat nyata (p<0,01) A0 = Kontrol negatif / ransum standar
A1 = Kontrol positif / ransum standar + krim non probiotik + biskuit biasa A2 = Ransum standar + krim probiotik + biskuit tinggi protein
A3 = Ransum standar + krim probiotik + biskuit tinggi protein (selang 2 hari) A4 = Ransum standar + krim probiotik + biskuit biasa
A5 = Ransum standar + krim non probiotik + biskuit tinggi protein
Gambar 5 Jumlah bakteri asam laktat fekal tikus
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa jumlah bakteri asam laktat fekal
tikus antar perlakuan berbeda sangat nyata pada pengamatan hari ke-7, 14 dan 21 (Lampiran 15). Hasil uji lanjut Tukey pada pengamatan hari ke-7 menunjukkan bahwa jumlah bakteri asam laktat fekal tikus pada perlakuan krim probiotik + biskuit tinggi protein (A2) adalah 2,14 x 109 cfu/g (9,33 log cfu/g) berbeda sangat nyata dengan perlakuan ransum standar (A0) 2,69 x 108 cfu/g (8,43 log cfu/g), krim non probiotik + biskuit biasa (A1) 3,89 x 108 cfu/g (8,59 log cfu/g) dan krim non probiotik + biskuit tinggi protein (A5) 9,77 x 108 cfu/g (8,99 log cfu/g), tetapi tidak berbeda nyata dengan krim probiotik + biskuit tinggi protein (selang 2 hari) (A3) 1,48 x 109 cfu/g (9,17 log cfu/g) dan krim probiotik + biskuit biasa ( A4) 1,45 x 109 cfu/g (9,16 log cfu/g). Rata-rata jumlah bakteri asam laktat fekal tikus paling baik dimiliki oleh perlakuan krim probiotik + biskuit tinggi protein (A2), sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan adanya penambahan probiotik ke
dalam krim dapat meningkatkan jumlah bakteri asam laktat fekal tikus.
0 Hari 7 Hari** 14 Hari** 21 Hari**