• Tidak ada hasil yang ditemukan

Percobaan II. Pengujian Vigor Kekuatan Tumbuh pada Kondisi Suboptimum

HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian Pendahuluan

)

HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian Pendahuluan

Pengujian Vigor Daya Simpan dengan Pengusangan Benih secara Kimia

Metode pengusangan cepat kimia dilakukan dengan mengusangkan benih uap etanol 96%. Waktu penderaan dilakukan dengan interval waktu 30, 60, 90, 120, 160, dan 180 menit. Pramono (2000) menyatakan bahwa penderaan benih dengan uap etanol dengan intensitas makin tinggi (konsentrasi makin tinggi) menurunkan viabilitas benih kedelai secara gradual. Hal ini sesuai dengan hasil penurunan daya berkecambah masing

adi rawa, dan padi sawah (Lampiran 4). Hasil si

) menunjukkan bahwa perlakuan waktu penderaan uap etanol 96% berpengaruh nyata terhadap peubah daya berkecambah pada genotipe

padi sawah, dan padi rawa.

percobaan ini akan ditentukan satu waktu penderaan yang akan pengujian vigor daya simpan (VDS). Waktu yang tepat untuk pengusangan cepat kimia (uap etanol 96%) pada masing-masing genotipe gogo, padi sawah, dan padi rawa adalah pada saat daya berkecambah benih

ai 60% (Gambar 3).

garis yang digunakan untuk menentukan waktu pengusangan cepat kimia (uap etanol 96%) hingga DB mencapai 60%

. Kurva Rata-Rata Daya Berkecambah pada Pengusangan Cepat Kimia (uap etanol 96%) pada Genotipe Padi Gogo, Padi Sawah, dan Padi Rawa

y = -21,41x + 91,19 R² = 0,947 ** y = -21,41x + 83,97 R² = 0,951 ** y = -17,39x + 105,2 R² = 0,937 ** 3 4 5 6 7 8 Waktu (jam) Padi Gogo Padi Rawa Padi Sawah Pengusangan Benih

Metode pengusangan cepat kimia dilakukan dengan mengusangkan benih dilakukan dengan interval waktu Pramono (2000) p etanol dengan intensitas makin tinggi (konsentrasi makin tinggi) menurunkan viabilitas benih kedelai secara penurunan daya berkecambah masing-masing asil sidik ragam ) menunjukkan bahwa perlakuan waktu penderaan uap etanol 96% padi gogo,

satu waktu penderaan yang akan ). Waktu yang tepat untuk genotipe padi gogo, padi sawah, dan padi rawa adalah pada saat daya berkecambah benih

pengusangan cepat kimia

Rata Daya Berkecambah pada Pengusangan Cepat Padi Gogo, Padi

21,41x + 91,19 21,41x + 83,97 R² = 0,951 **

17,39x + 105,2 R² = 0,937 **

24

Sadjad (1999) menyatakan bahwa batas penurunan viabilitas benih yang diberi perlakuan pengusangan adalah 40% (P40) sehingga viabilitas benih mencapai 60%. Berdasarkan Gambar 3 dan persamaan regresinya, waktu penderaan untuk pengujian VDS benih padi gogo, padi sawah, dan padi rawa berturut-turut selama 1.46 jam (87.6 menit), 2.59 jam (155.4 menit), dan 1.08 jam (64.8 menit). Perbedaan kecepatan penurunan daya berkecambah benih tersebut diduga karena faktor genetik.

Percobaan II. Pengujian Vigor Kekuatan Tumbuh pada Kondisi Suboptimum

Kondisi suboptimum pada pengujian ini meliputi kondisi salin dan kekeringan.

1. Kondisi Salin

Pada pengujian kondisi salin untuk genotipe padi rawa dilakukan dengan larutan NaCl pada konsentrasi 0 ppm, 3000 ppm, 4000 ppm, dan 5000 ppm. Ferdianti (2007) menyatakan semakin tinggi konsentrasi NaCl, viabilitas benih semakin menurun berarti kandungan garam makin tinggi pada lingkungan perkecambahan benih, akibatnya menghambat masuknya air ke dalam benih. Hal ini terlihat pada genotipe padi rawa yang diberi perlakuan NaCl dengan konsentrasi NaCl yang semakin meningkat (Tabel 1).

Tabel 1. Daya Berkecambah Genotipe Padi Rawa pada Beberapa Konsentrasi NaCl pada Kondisi Salin

Konsentrasi NaCl (ppm) DB (%)

0 89.40a

3000 88.20a

4000 79.60b

5000 69.60c

Keterangan : DB = Daya Berkecambah, Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom tidak berbeda nyata pada DMRT 5%

Berdasarkan hasil analisis uji lanjut pada Tabel 1 pengujian VKT(Salin)padi rawa dengan NaCl yang memiliki daya berkecambah tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol (0 ppm). Perlakuan kontrol tidak berbeda nyata dengan

perlakuan NaCl 3000 ppm tetapi berbeda nyata dengan NaCl 4000 ppm dan 5000 ppm. Hasil penelitian Suwarno dan Solahuddin (1983) menunjukkan NaCl pada konsentrasi rendah sampai dengan 0.50% hanya menghambat perkecambahan, tetapi tidak atau sangat sedikit mengurangi jumlah benih berkecambah sedangkan konsentrasi 1% mulai terlihat penurunan jumlah benih berkecambah dan pada konsentrasi 4% tidak ada benih yang mampu berkecambah. Kondisi ini sesuai dengan hasil percobaan pada varietas padi rawa. Pada percobaan ini terpilih satu konsentrasi terbaik yaitu 4000 ppm karena konsentrasi tersebut dapat mewakili penurunan fisiologi benih.

2. Kondisi Kekeringan

Kondisi kekeringan dilakukan dengan menggunakan larutan PEG 6000 dan pengaturan ketinggian penanaman benih dari permukaan air untuk genotipe padi gogo dan padi sawah. Tingkat potensial air pada larutan PEG 6000, terdiri dari 0 bar, -1.5 bar, -2 bar, dan -2.5 bar. Michel dan Kaufman (1973) menyatakan bahwa penggunaan larutan PEG untuk seleksi tanaman terhadap cekaman kekeringan dapat dijadikan alternatif karena mampu menahan air sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Daya berkecambah genotipe padi gogo dan padi sawah pada kondisi kekeringan dengan PEG 6000 pada beberapa tingkat potensial air dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Daya Berkecambah Genotipe Padi Gogo dan Padi Sawah pada Kondisi Kekeringan dengan PEG 6000 pada Beberapa Tingkat Potensial Air

Potensial air PEG (bar) DB (%)

Padi Gogo Padi Sawah

0 94.20a 94.80a

-1.5 86.40a 73.50a

-2 60.78b 39.80b

-2.5 40.68c 26.70c

Keterangan : DB = Daya Berkecambah, Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom tidak berbeda nyata pada DMRT 5%

Berdasarkan hasil uji lanjut pada Tabel 2 terlihat bahwa perlakuan dengan kondisi potensial air 0 bar dan -1.5 bar tidak berbeda nyata tetapi berbeda nyata dengan perlakuan potensial air -2 bar dan -2.5 bar pada genotipe padi gogo dan

26

padi sawah. Persentase daya berkecambah benih pada perlakuan potensial air 0 bar (kontrol) dan -1.5 bar sebesar 94.20 % dan 86.40% untuk padi gogo serta 94.80% dan 73.50% untuk padi sawah. Daya berkecambah mulai mengalami penurunan pada potensial air -2 bar menjadi 60.78% untuk padi gogo dan 39.80% untuk padi sawah, bahkan pada kondisi potensial air -2.5 bar menurun secara signifikan menjadi 40.68% untuk padi gogo dan 26.70% untuk padi sawah. Penelitian ini menunjukkan pada potensial air -2 bar benih padi masih mampu berkecambah normal terhadap cekaman kekeringan pada media perkecambahan.

Pada pengujian VKTKekeringan tidak hanya dilakukan dengan PEG 6000 tetapi menggunakan pengaturan ketinggian posisi benih saat penanaman pada kertas merang dengan ketinggian kontrol, 17.5 cm dan 25 cm dari permukaan air (Tabel 3).

Tabel 3. Daya Berkecambah Genotipe Padi Gogo dan Padi Sawah pada Kondisi Kekeringan dengan Pengaturan Ketinggian Posisi Benih dari Permukaan Air

Ketinggian Posisi Benih (cm) DB (%)

Padi Gogo Padi Sawah

Kontrol 94.20a 94.80a

17.5 76.00a 68.10a

25 49.33b 42.56b

Keterangan : DB = Daya Berkecambah, Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom tidak berbeda nyata pada DMRT 5%

Haryani (2011) menyatakan bahwa metode kertas merang dengan posisi benih pada ketinggian 17.5 cm dari permukaan air merupakan metode terpilih yang digunakan untuk seleksi awal toleransi kekeringan genotipe padi gogo. Hal ini tidak sesuai dengan hasil penelitian karena berdasarkan Tabel 3, ketinggian posisi benih dari permukaan air pada kontrol dan ketinggian 17.5 cm tidak memberikan pengaruh nyata terhadap daya berkecambah genotipe padi gogo dan padi sawah. Daya berkecambah pada kontrol dan ketinggian 17.5 cm berturut-turut sebesar 94.20% dan 76% untuk padi gogo serta 94.80% dan 68.10% untuk padi sawah. Pada ketinggian 25 cm dari permukaan air terjadi penurunan daya berkecambah menjadi 49.33% untuk padi gogo dan 42.56% untuk padi sawah. Pada pengujian VKTKekeringan(Ketinggian) dipakai ketinggian posisi penanaman benih

25 cm dari permukaan air karena pada ketinggian tersebut dapat dibedakan genotipe padi gogo yang memiliki ketahanan pada kondisi kekeringan.

Penelitian Utama

Penelitian utama dilakukan setelah didapat metode terbaik pada penelitian pendahuluan. Genotipe padi yang digunakan terdiri dari 20 genotipe padi gogo, 20 genotipe padi sawah, dan 10 genotipe padi rawa. Penelitian ini meliputi pengujian vigor daya simpan dan pengujian vigor kekuatan tumbuh pada kondisi suboptimum.

Percobaan I. Pengujian Vigor Daya Simpan (VDS) menggunakan Metode

Dokumen terkait