• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian ini terbagi menjadi penelitian tahap pertama dan penelitian tahap kedua. Penelitian tahap pertama yaitu mengenai manajemen produksi selama proses pembuatan keju lunak rendah lemak yang digunakan untuk keperluan kegiatan intervensi penelitian. Pembuatan produk intervensi keju lunak rendah lemak memerlukan manajamen produksi yang baik agar mendapatkan hasil yang memuaskan.

Manajemen Produksi

Menurut Asri dan Suprihanto (1986), manajemen produksi adalah seluruh usaha manusia untuk merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, dan mengendalikan atau mengawasi segala kegiatan membuat barang dan jasa atau meningkatkan daya guna barang tersebut. Terdapat empat aspek manajamen produksi yang diteliti dalam penelitian ini yaitu man (manusia), material (bahan),

method (metode), dan market (pemasaran).

Man (Manusia). Faktor manusia adalah yang paling menentukan dalam manajemen produksi. Kegiatan suatu produksi tidak dapat dipisahkan dari manusia. Manusia membuat tujuan dan melakukan proses untuk mencapai tujuan. Manusia dalam hal ini adalah tenaga kerja. Tenaga kerja dalam pembuatan keju lunak rendah lemak terdiri dari 6 orang. Pembagian kerja dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Pembagian kerja produksi keju lunak rendah lemak

No Pembagian kerja Jumlah (orang)

1 Persiapan dan pengolahan bahan 2

2 Persiapan alat dan pengawasan bahan 1

3 Pengolahan dan pencetakan keju 1

4 Pengemasan dan pengawasan distribusi 2

Pada Tabel 2, dijelaskan pembagian kerja saat produksi, penggunaan tenaga kerja berjumlah 6 orang dapat dinyatakan efektif untuk dapat mencapai hasil produksi yang optimal. Hal ini dibuktikan dengan jumlah tenaga kerja yang hanya berjumlah 4 orang pada minggu pertama mengakibatkan penggunaan waktu yang lebih lama dan tenaga yang lebih banyak.

Alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan keju lunak rendah lemak dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 6 orang yaitu ± 9 jam. Pada minggu awal kegiatan produksi dengan jumlah tenaga kerja berjumlah 4 orang, waktu yang dibutuhkan untuk membuat keju lunak rendah lemak menjadi lebih lama lama yaitu ± 15 jam.

Selain itu, faktor yang dapat mempengaruhi dalam kegiatan produksi adalah tenaga kerja belum terbiasa membuat keju lunak rendah lemak dalam skala yang cukup besar. Namun, seiring dengan kegiatan produksi yang dilakukan selama 18 hari, maka tenaga kerja pun mulai terbiasa dengan pola produksi dalam pembuatan keju lunak rendah lemak. Hal ini dapat dibuktikan dengan alokasi waktu yang semakin cepat yaitu ± 7 jam dan hasil produksi yang lebih baik.

Hasil produksi harus dihitung agar memenuhi persediaan untuk distribusi dan konsumsi responden setiap harinya. Responden dalam kegiatan intervensi berjumlah 39 orang yang telah memenuhi kriteria lengkap. Subjek sebanyak 39 orang dibagi secara acak ke dalam tiga kelompok perlakuan yaitu keju jagung (13 orang), keju bekatul (13 orang), dan keju kontrol (13 orang). Pemberian keju sebanyak 6% dari rekomendasi konsumsi lemak per hari, yaitu sebanyak 70 g per hari.

Material (Bahan). Pengadaan bahan untuk produksi keju lunak rendah lemak dibagi menjadi bahan baku dan bahan tambahan. Bahan baku yang digunakan yaitu susu murni (whole milk) sebanyak 20 liter dan susu skim sebanyak 40 liter dalam satu kali produksi. Bahan baku untuk pembuatan keju lunak rendah lemak didapatkan dari peternakan Konak Leuwiliang dan Fakultas Peternakan IPB. Bahan baku utama berupa susu murni (whole milk) dan susu skim disiapkan pada pagi hari pukul 06.30 WIB saat susu dikirim ke balai tempat produksi. Persiapan bahan tambahan pembuatan keju lunak rendah lemak dilakukan sehari sebelumnya. Persiapan ini meliputi pengecekan dan penimbangan bahan. Bahan tambahan antara lain enzim rennet, enzim lipase, minyak jagung (corn oil), minyak bekatul (rice brand oil), CaCl2, polioksietilen sorbitan monostearat/Tween-60, sorbitan monostearat/span-60, gliserol monostearat/GMS.

Kendala yang dapat terjadi pada pengadaan bahan adalah keterlambatan pengiriman bahan dan kualitas bahan yang kurang baik, tetapi dalam produksi keju lunak rendah lemak tidak terdapat kendala yang serius dalam penyediaan bahan baku maupun bahan tambahan. Bahan baku dan bahan tambahan yang digunakan berada dalam kualitas baik dan persediaan termasuk cukup. Hal ini sesuai dengan ketepatan waktu pengiriman bahan baku setiap harinya dan dilakukan pengecekan dan penimbangan bahan tambahan. Kekurangan bahan yang tersedia akan mengakibatkan terhentinya proses produksi. Oleh karena itu,

untuk menyediakan bahan yang cukup untuk produksi diperlukan perhitungan pembelian yang tepat. Pembelian yang tepat sangat menentukan untuk mendapatkan kualitas dan kuantitas bahan yang diinginkan.

Method (Metode). Suatu tata cara kerja (metode) yang baik diperlukan agar dapat memperlancar jalannya proses produksi. Proses produksi keju lunak rendah lemak dilakukan selama 18 hari untuk memenuhi kebutuhan konsumsi kegiatan intervensi selama 21 hari. Jenis keju lunak rendah lemak yang diproduksi terdiri dari tiga varian, yaitu keju dengan penambahan lipase menggunakan emulsi minyak jagung dan minyak bekatul serta susu murni (whole milk) dengan kadar lemak 5% (sebagai keju kontrol). Hasil produksi yang didapatkan setiap hari sebanyak 20 keping keju jagung, 20 keping keju bekatul, dan 20 keping keju kontrol. Hasil produksi keju setiap harinya sama, hal ini dikarenakan keterbatasan jumlah round mold yaitu 10 buah yang digunakan dalam pencetakan dan pengepresan keju lunak rendah lemak.

Proses produksi keju lunak rendah lemak dilakukan di dapur mikro dan bangsal Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Bogor. Persiapan bahan hingga proses penggumpalan (koagulasi) dilakukan di dapur mikro, sedangkan penyaringan atau pengaliran cairan whey hingga pengemasan dilakukan di bangsal. Proses produksi ini dibedakan menjadi dua tempat agar memudahkan proses produksi dan mobilitas tenaga kerja dengan skala pembuatan produk keju yang cukup banyak.

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa proses produksi keju lunak rendah lemak termasuk dalam proses produksi yang bersifat terputus (intermittent). Hal ini dikarenakan kegiatan produksi ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi selama waktu yang dibutuhkan. Hasil produksi pun berada dalam jumlah kecil apabila dibandingkan dengan industri keju di pasaran. Proses produksi keju lunak rendah lemak dapat dikatakan berhasil didukung dengan tenaga kerja yang memadai, penggunaan waktu yang efisien, dan kualitas bahan yang baik. Namun, proses produksi ini tidak luput dari adanya pengawasan agar hasil maupun proses tidak mengalami penurunan mutu.

Market (Pemasaran). Saluran pemasaran terdiri dari perangkat yang melakukan kegiatan yang digunakan untuk menyalurkan produk dari produksi ke konsumsi. Setelah kegiatan produksi selesai, maka produk tersebut siap untuk dipasarkan. Salah satu kegiatan dalam pemasaran adalah distribusi. Sebelum keju didistribusikan kepada responden, keju terlebih dahulu melalui masa

pemeraman selama 3 hari. Pemeraman keju dilakukan di refrigerator dengan suhu 40C dengan menggunakan kemasan aluminium foil. Menurut Syarief et al.

(1989), berbagai makanan yang dibungkus dengan aluminium foil menunjukkan bahwa produk makanan tersebut cukup baik dan tahan terhadap aluminium. Kemasan aluminium untuk produk biasanya memerlukan lapisan pelindung. Laminasi aluminium pada pengemasan keju terutama untuk mencegah pengurangan air dan menjaga penampakan.

Keju diberi label sesuai kode produksi. Hal ini agar memudahkan saat keju hendak didistribusikan. Keju didistribusikan menggunakan prinsip First in First Out (FIFO). Prinsip FIFO dilakukan agar keju dapat didistribusikan secara teratur sesuai dengan urutan kode produksi. Hal ini dapat menghindari terjadinya penurunan mutu keju yang akan dikonsumsi. Ketika keju hendak didistribusikan, kemasan aluminium foil dilepaskan dan digantikan dengan menggunakan kemasan plastik. Menurut Winarno (2002), penggunaan plastik sebagai bahan pengemas memiliki keunggulan dibanding bahan kemasan lain karena sifatnya yang ringan, transparan, kuat, dan termoplastis. Sifat permeabilitas plastik terhadap uap air dan udara menyebabkan plastik mampu berperan memodifikasi ruang kemas.

Kemasan plastik agar lebih menarik ditambahkan label yang sekaligus memiliki manfaat dapat memberi penjelasan mengenai produk. Penjelasan ini berupa jenis produk keju, kegunaan produk tersebut, berat bersih, dan kepentingan produk yang dalam label ini diberi penjelasan untuk keperluan penelitian. Menurut Karmini dan Briawan (2004), label produk yang dijamin kebenarannya akan memudahkan konsumen dalam menentukan berbagai produk dan substitusinya di pasaran. Label selain sebagai sarana pendidikan pada masyarakat, juga dapat memberikan nilai tambah bagi produk. Contoh label pada kemasan plastik dapat dilihat pada Gambar 3.

Label dapat menjadi strategi yang menarik dalam pemasaran (marketing strategy) dengan bertambahnya kompetitor produk di pasaran. Label dalam suatu produk mengandung informasi nilai gizi dari produk tersebut, setiap 70 g keju lunak rendah lemak memiliki energi sebesar 154 kkal, protein sebesar 14,4 g, lemak total sebesar 7,0 g, dan karbohidrat sebesar 8,5 g. Jumlah keseluruhan energi dihitung berdasarkan jumlah energi yang berasal dari protein, lemak, dan karbohidrat. Selain itu, menurut Codex General Standard for Cheese (1985), keju rendah lemak juga memiliki kandungan lemak total 10% (% berat basah) atau 21,9% (% berat kering) dan tergolong ke dalam kategori keju rendah lemak sehingga dapat diklaim sebagai produk pangan rendah lemak.

Setelah produk keju lunak rendah lemak dikemas dan diberi label, selanjutnya siap untuk didistribusikan. Distribusi keju lunak rendah lemak dilakukan setiap dua hari sekali pada pukul 07.30 WIB. Produk keju yang didistribusikan sebanyak 40 keping keju jagung, 40 keping keju bekatul, dan 40 keping keju kontrol. Keju yang didistribusikan dari balai tempat produksi, kemudian disimpan kembali di Teaching Café, Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor yang akan disortir sebelum diserahkan kepada konsumen. Pengawasan yang meliputi penyortiran ini dilakukan setiap hari sebelum produk keju diserahkan kepada konsumen.

Kegiatan pengawasan ini bertujuan untuk menjaga kualitas produk, contohnya seperti yang terjadi pada produksi hari ketujuh bahwa produk mengalami penolakan sebelum diberikan kepada responden. Penolakan ini terjadi karena kualitas yang tidak sesuai untuk diberikan kepada responden, oleh karena itu hasil produksi hari ketujuh kemudian digantikan dengan menggunakan hasil produksi hari kedelapan. Produk keju harus dijaga kualitasnya agar responden merasa puas dan dapat menjadi tolak ukur proses produksi tersebut berjalan dengan lancar atau tidak. Secara keseluruhan kegiatan pendistribusian merupakan faktor produksi yang paling rentan mengalami kendala. Hal ini dapat dikarenakan faktor-faktor seperti transportasi dari tempat produksi menuju tempat penyimpanan akhir sebelum produk keju diberikan kepada responden.

Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa manajemen produksi meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan. Hal-hal ini kemudian disalurkan melalui faktor-faktor produksi antara lain tenaga kerja, bahan baku yang digunakan, metode yang digunakan, alokasi waktu, dan pendistribusian produk. Tidak ada kendala serius yang dihadapi pada faktor-faktor produksi

seperti tenaga kerja, bahan baku yang digunakan, metode yang digunakan, dan alokasi waktu. Namun, kendala dapat terjadi pada kegiatan pendistribusian produk. Hal ini dikarenakan ada faktor dari luar misalnya transportasi yang menyebabkan hasil akhir produk tidak sesuai dengan yang diinginkan. Oleh karena itu, dibutuhkan pengawasan terhadap produk keju agar kualitas produksi tidak menurun.

Manajemen produksi produk keju lunak rendah lemak, dapat dikatakan cukup berhasil. Hal ini ditandai sesuai dengan uraian di atas bahwa hanya satu faktor produksi saja yang rentan mengalami kendala. Perencanaan yang matang dan pengawasan yang aktif pada saat pelaksanaan proses produksi dapat meningkatkan kualitas manajemen produksi suatu produk.

Penelitian Tahap Kedua

Setelah dilakukan penelitian tahap pertama mengenai manajemen produksi dalam pembuatan keju lunak rendah lemak untuk keperluan intervensi, beberapa responden mengeluhkan mengenai flavor yang kurang menarik. Oleh karena itu, dilakukan penelitian tahap kedua untuk memperbaiki penerimaan keju lunak rendah lemak dengan cara dilakukan penambahan berbagai flavor. Salah satu cara untuk menentukan flavor yang terbaik dapat dilakukan dengan menggunakan uji organoleptik.

Uji Organoleptik

Uji organoleptik yang dilakukan adalah uji hedonik dan uji mutu hedonik. Menurut Setyaningsih et al. (2010), uji hedonik digunakan untuk mengetahui tingkat kesukaan panelis terhadap suatu produk. Panelis diminta tanggapannya tentang kesukaan atau ketidaksukaannya terhadap suatu produk. Uji mutu hedonik digunakan untuk mengetahui kesan panelis terhadap sifat produk secara lebih spesifik.

Uji Mutu Hedonik

Parameter dari uji mutu hedonik meliputi rasa, tekstur tekan, tekstur kunyah, aroma, dan cita rasa. Nilai yang digunakan untuk parameter rasa adalah skala 1-5 (pahit-gurih), parameter tekstur tekan skala 1-5 (lembek-keras), tekstur kunyah skala 1-5 (lembut-kasar), parameter aroma skala 1-5 (sangat tidak harum-sangat harum), dan parameter cita rasa skala 1-5 (off flavor-sangat harum).

Rasa. Mutu rasa merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan keputusan akhir konsumen untuk dapat menerima atau menolak

suatu produk. Walaupun parameter penilaian yang lain baik, tetapi jika rasa tidak enak maka produk akan segera ditolak oleh konsumen (Budianto 2012). Nilai rata-rata uji mutu hedonik rasa dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4 Pengaruh penambahan flavor terhadap mutu rasa keju

Berdasarkan gambar diatas, hasil uji mutu hedonik terhadap parameter rasa berada pada nilai 2,5-3,5. Nilai ini berada pada kisaran biasa hingga agak gurih. Semakin rendah nilai menunjukkan bahwa rasa keju semakin pahit dan semakin tinggi nilai menunjukkan bahwa rasa keju semakin gurih. Berdasarkan hasil sidik ragam diperoleh bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap mutu hedonik rasa keju (p<0,05).

uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa keju dengan penambahan flavor coklat yang memiliki rasa biasa tidak berbeda nyata dengan keju dengan penambahan flavor vanilla dan green tea akan tetapi berbeda nyata dengan keju penambahan flavor sirsak dan strawberry yang memiliki mutu agak gurih.

Tekstur Tekan. Tekstur suatu produk salah satunya dihasilkan dengan cara merasakan kekerasan dan kelembekan produk tersebut saat ditekan. Hasil uji mutu hedonik terhadap parameter tekstur tekan berada pada nilai 2,3-3,5. Nilai ini berada pada kisaran agak lembek hingga agak keras. Semakin rendah nilai menunjukkan bahwa tekstur tekan keju semakin lembek dan semakin tinggi nilai menunjukkan bahwa tekstur tekan keju semakin keras. Berdasarkan hasil sidik ragam diperoleh bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap mutu hedonik tekstur tekan keju (p<0,05). Nilai rata-rata uji mutu hedonik tekstur tekan dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5 Pengaruh penambahan flavor terhadap mutu tekstur tekan keju

2.5a 2.5a 2.9b 3.5b 2.6a

0,0 1,0 2,0 3,0 4,0

Coklat Vanilla Sirsak Strawberry Green tea

Rat a -r ata Flavor 2.3a 2.8ab 3.5c 3.5c 2.8b 0,0 1,0 2,0 3,0 4,0

Coklat Vanilla Sirsak Strawberry Green tea

Rat a -r ata Flavor Keterangan: 1 = lembek 2 = agak lembek 3 = biasa 4 = agak keras 5 = keras Keterangan: 1 = pahit 2 = agak pahit 3 = netral 4 = agak gurih 5 = gurih

Hasil uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa keju dengan penambahan flavor coklat yang memiliki tekstur tekan agak lembek berbeda nyata dengan keju dengan penambahan flavor vanilla dan green tea yang memiliki mutu tekstur tekan biasa. Selain itu, berbeda nyata pula dengan keju penambahan flavor sirsak dan strawberry yang memiliki mutu tekstur tekan agak keras.

Tekstur Kunyah. Tekstur suatu produk dapat dihasilkan dengan cara merasakan kekasaran dan kelembutan produk tersebut di dalam mulut. Hasil uji mutu hedonik terhadap parameter tekstur kunyah berada pada nilai 2,3-3,4. Nilai ini berada pada kisaran agak lembut hingga biasa. Semakin rendah nilai menunjukkan bahwa tekstur kunyah keju semakin lembut dan semakin tinggi nilai menunjukkan bahwa tekstur kunyah keju semakin kasar. Berdasarkan hasil sidik ragam diperoleh bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap mutu hedonik tekstur kunyah keju (p<0,05). Nilai rata-rata uji mutu hedonik tekstur kunyah dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6 Pengaruh penambahan flavor terhadap mutu tekstur kunyah keju Hasil uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa keju dengan penambahan flavor coklat yang memiliki tekstur kunyah agak lembut tidak berbeda nyata dengan keju dengan penambahan flavor vanilla dan green tea. Namun, berbeda nyata dengan keju penambahan flavorsirsak, dan strawberry yang memiliki mutu tekstur kunyah biasa.

Aroma. Parameter selanjutnya yang diuji dalam uji mutu hedonik adalah aroma. Hasil uji mutu hedonik terhadap parameter aroma berada pada nilai 2,5-3,6. Nilai ini berada pada kisaran biasa hingga harum. Semakin rendah nilai menunjukkan bahwa aroma keju semakin sangat tidak harum dan semakin tinggi nilai menunjukkan bahwa aroma keju semakin sangat harum. Berdasarkan hasil sidik ragam diperoleh bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap mutu hedonik aroma keju (p<0,05). Nilai rata-rata uji mutu hedonik aroma dapat dilihat pada Gambar 7. 2.3a 2.3a 3.1b 3.4b 2.6a 0,0 1,0 2,0 3,0 4,0

Coklat Vanilla Sirsak Strawberry Green tea

Rat a -r ata Flavor Keterangan: 1 = lembut 2 = agak lembut 3 = biasa 4 = agak kasar 5 = kasar

Gambar 7 Pengaruh penambahan flavor terhadap mutu aroma keju

Hasil uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa keju dengan penambahan flavor coklat yang memiliki aroma biasa tidak berbeda nyata dengan keju dengan penambahan flavor vanilla dan green tea. Namun, berbeda nyata pada keju dengan penambahan flavor sirsak, dan strawberry yang memiliki mutu aroma harum.

Cita rasa. Parameter terakhir yang diuji dalam uji mutu hedonik adalah cita rasa. Hasil uji mutu hedonik terhadap parameter cita rasa berada pada nilai 2,6-3,7. Nilai ini berada pada kisaran biasa hingga harum. Semakin rendah nilai menunjukkan bahwa cita rasa keju semakin sangat tidak harum dan semakin tinggi nilai menunjukkan bahwa cita rasa keju semakin sangat harum. Berdasarkan hasil sidik ragam diperoleh bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap mutu hedonik cita rasa keju (p<0,05). Nilai rata-rata uji mutu hedonik cita rasa dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8 Pengaruh penambahan flavor terhadap mutu citarasa keju

Hasil uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa keju dengan penambahan flavor coklat yang memiliki cita rasa biasa tidak berbeda nyata dengan keju dengan penambahan flavor vanilla dan green tea. Namun, berbeda nyata pada keju dengan penambahan flavor sirsak, dan strawberry yang memiliki mutu cita rasa harum.

Uji Hedonik

Panelis melakukan uji hedonik dan uji mutu hedonik dari produk keju lunak rendah lemak dengan lima penambahan flavor. Flavor yang ditambahkan antara lain coklat, vanilla, strawberry, green tea, dan sirsak. Parameter dari uji

2.6a 2.5a 3.4b 3.6b 2.5a 0,0 1,0 2,0 3,0 4,0

Coklat Vanilla Sirsak Strawberry Green tea

Rat

a

-r

ata

Flavor

2.6a 2.6a 3.5b 3.7b 2.7a

0,0 1,0 2,0 3,0 4,0

Coklat Vanilla Sirsak Strawberry Green tea

Rat a -r ata Flavor Keterangan: 1 = offflavor

2 = agak off flavor

3 = biasa 4 = harum 5 = sangat harum Keterangan: 1 = sangat tidak harum 2 = tidak harum 3 = netral 4 = harum 5 = sangat harum

hedonik keju lunak rendah lemak antara lain rasa, tekstur tekan, tekstur kunyah, aroma, cita rasa, dan keseluruhan keju, dengan penilaian skala 1 (sangat tidak suka) hingga skala 5 (sangat suka).

Rasa. Hasil uji hedonik terhadap parameter rasa menunjukkan bahwa nilai rata-rata tingkat kesukaan panelis berada pada tingkat 2,3-3,5. Nilai ini berada pada kisaran tidak suka hingga suka. Semakin rendah nilai menunjukkan tingkat sangat tidak suka dan semakin tinggi nilai menunjukkan tingkat sangat suka. Uji Friedman menunjukkan bahwa penambahan flavor berpengaruh nyata terhadap tingkat kesukaan panelis untuk parameter rasa (p<0,05). Keju dengan penambahan flavor strawberry memiliki rasa yang semakin disukai jika dibandingkan dengan keju dengan penambahan flavor coklat, vanilla, green tea, dansirsak.

Tekstur Tekan. Hasil uji hedonik terhadap parameter tekstur tekan menunjukkan bahwa nilai rata-rata tingkat kesukaan panelis berada pada tingkat 2,3-3,5. Nilai ini berada pada kisaran tidak suka hingga suka. Semakin rendah nilai menunjukkan tingkat sangat tidak suka dan semakin tinggi nilai menunjukkan tingkat sangat suka. Uji Friedman menunjukkan bahwa penambahan flavor berpengaruh nyata terhadap tingkat kesukaan panelis untuk parameter tekstur tekan (p<0,05). Keju dengan penambahan flavor strawberry

dan sirsak memiliki tekstur tekan yang semakin disukai jika dibandingkan dengan keju dengan penambahan flavor coklat, vanilla, dan green tea.

Tekstur Kunyah. Hasil uji hedonik terhadap parameter tekstur kunyah menunjukkan bahwa nilai rata-rata tingkat kesukaan panelis berada pada tingkat 2,3-3,4. Nilai ini berada pada kisaran tidak suka hingga biasa. Semakin rendah nilai menunjukkan tingkat sangat tidak suka dan semakin tinggi nilai menunjukkan tingkat sangat suka. Uji Friedman menunjukkan bahwa penambahan flavor berpengaruh nyata terhadap tingkat kesukaan panelis untuk parameter tekstur kunyah (p<0,05). Keju dengan penambahan flavor strawberry

memiliki tekstur kunyah yang semakin disukai jika dibandingkan dengan keju dengan penambahan flavor coklat, vanilla,green tea, dansirsak.

Aroma. Hasil uji hedonik terhadap parameter aroma menunjukkan bahwa nilai rata-rata tingkat kesukaan panelis berada pada tingkat 2,5-3,6. Nilai ini berada pada kisaran biasa hingga suka. Semakin rendah nilai menunjukkan tingkat sangat tidak suka dan semakin tinggi nilai menunjukkan tingkat sangat suka. Uji Friedman menunjukkan bahwa penambahan flavor berpengaruh nyata

terhadap tingkat kesukaan panelis untuk parameter aroma (p<0,05). Keju dengan penambahan flavor strawberry dan sirsak memiliki aroma yang semakin disukai jika dibandingkan dengan keju menggunakan penambahan flavor coklat, vanilla,

dan green tea.

Cita rasa. Hasil uji hedonik terhadap parameter cita rasa menunjukkan bahwa nilai rata-rata tingkat kesukaan panelis berada pada tingkat 2,6-3,6. Nilai ini berada pada kisaran biasa hingga suka. Semakin rendah nilai menunjukkan tingkat sangat tidak suka dan semakin tinggi nilai menunjukkan tingkat sangat suka. Uji Friedman menunjukkan bahwa penambahan flavor berpengaruh nyata terhadap tingkat kesukaan panelis untuk parameter cita rasa (p<0,05). Keju dengan penambahan flavor strawberry dan sirsak memiliki cita rasa yang semakin disukai jika dibandingkan dengan keju dengan penambahan flavor

Dokumen terkait