• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengadaan Daging Sapi di Indonesia

Dalam rangka memenuhi kebutuhan nasional terhadap daging sapi, produksi daging sapi di Indonesia dipenuhi oleh sumber lokal dan impor. Sumber lokal dipasok oleh peternakan rakyat yang menghasilkan daging sapi dari sapi lokal yang berasal dari semua sentra produksi di wilayah Indonesia. Produksi daging sapi lokal dalam kurun waktu enam tahun yaitu dari tahun 2008 hingga tahun 2013 rata-rata sebesar 71% dari total kebutuhan nasional. Angka ini menunjukkan kurangnya kemampuan peternakan rakyat dalam memproduksi daging sapi. Kurangnya kemampuan peternakan rakyat dalam memasok kebutuhan daging sapi nasional mendorong pemerintah untuk melakukan impor. Impor tersebut berupa daging sapi dan sapi bakalan.

Tabel 5 Penyediaan dan konsumsi daging sapi di Indonesia tahun 2008-2013

No Uraian Tahun

2008 2009 2010 2011 2012 2013 (000 Ton)

1 Produksi lokal 233.6 250.8 283 292 399 470 2 Daging sapi bakalan

impor (feedlotters)

104.8 74.3 40.8 92 51.5 30.2

3 Daging impor 45.6 67.9 90.5 65 33.5 45.5

4 Stok sebelumnya 8.5 11.5 22.1 36.3 24.9 0 5 Daging impor +

daging sapi bakalan impor (feedlotters)

150.4 142.2 131.3 157 85 75.7 % Daging impor + daging

sapi bakalan impor (feedlotters)

39 % 36 % 32 % 35 % 18 % 14 % Total Produksi 392.5 404.5 436.5 485.3 508.9 545.6

35 Sebelum ditetapkannya kebijakan swasembada daging sapi yang dimulai pada tahun 2010, pasokan daging sapi yang berasal dari daging sapi impor dan sapi bakalan impor cukup tinggi yaitu 150.4 ribu ton pada tahun 2008 dan 142.2 ribu ton pada tahun 2009. Pada tahun 2010 daging sapi dan sapi bakalan impor menyumbang 131.3 ribu ton untuk memenuhi kebutuhan nasional. Kemudian sejak ditetapkannya kebijakan swasembada daging sapi mulai ada penurunan total impor daging sapi dan sapi bakalan meskipun hal ini baru dapat terealisasi pada tahun 2012. Pada tahun 2011 daging yang berasal dari daging sapi dan sapi bakalan impor mencapai 157 ribu ton yang menyumbang 35 persen dari total kebutuhan nasional. Persentase tersebut cukup tinggi namun turun signifikan menjadi 18 persen di tahun 2012 dan 14 persen di tahun 2013.

Sumber Lokal

Produksi daging sapi dipengaruhi oleh jumlah populasi ternak sapi. Populasi sapi potong di Indonesia selama periode 2008 hingga 2013 mengalami kenaikan dari 12.3 juta ekor menjadi 16.6 juta ekor. Dari total keseluruhan populasi sapi potong di Indonesia distribusi tertingggi berada di propinsi Jawa Timur yaitu sekitar 29.1 persen kemudian diikuti oleh propinsi Jawa Tengah sebesar 12.3 persen dan Sumatera Utara sebesar 8.8 persen. Jika dibandingkan dengan tahun 2011 populasi sapi potong di beberapa provinsi mengalami penurunan meskipun secara nasional mengalami peningkatan. Pertumbuhan populasi sapi potong nasional dari tahun 2008 ke tahun 2012 sebesar 6.28 persen. Pertumbuhan paling signifikan terjadi di daerah Kepulauan Riau yaitu sebesar 27.5 persen kemudian diikuti oleh Lampung sebesar 18.3 persen dan Papua sebesar 11.8 persen. Secara umum populasi sapi potong mengalami pertumbuhan positif namun sejumlah 10 provinsi di Indonesia mengalami penurunan.

Populasi sapi potong cukup besar namun tidak semuanya masuk RPH untuk dipotong. Hasil sensus peternakan mencatat jumlah sapi potong yang dipotong di Rumah Pemotongan Hewan dan di luar Rumah Potong Hewan setiap tahunnya hanya sekitar 9.64 persen dari total populasi yang ada. Pada tahun 2011 terdapat 1.5 juta ekor dari 14.8 juta ekor sapi potong sedangkan pada tahun 2012 terdapat 1.4 juta ekor dari 15.9 juta ekor sapi potong yang mengalami pemotongan. Setelah mengalami pemotongan kemudian daging ternak sapi tersebut dijual ke pasar. Biasanya supply daging ini berasal dari daerah yang memiliki populasi ternak sapi dalam jumlah besar. Di Indonesia, tiga wilayah yang memproduksi daging sapi terbesar yaitu Jawa Timur sebesar 23.3 persen, Jawa Barat 16.4 persen dan Jawa Tengah 11.8 persen. Jika dilihat dari jumlah populasi sapi potong, Jawa Barat bukanlah daerah sentra sapi potong. Populasi Sapi potong di Jawa Barat hanya 2.8 persen dari total populasi sapi potong di Indonesia namun daerah ini merupakan daerah produsen daging sapi terbesar urutan kedua setelah Jawa Timur. Hal ini disebabkan di Jawa Barat konsumsi penduduk terhadap daging sapi relatif tinggi sehingga banyak terjadi pemotongan sapi potong oleh RPH. RPH di Jawa Barat biasanya mendapatkan sapi dari berbagai daerah seperti Jawa Timur, Lampung, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Jawa Tengah, dan sebagainya.

Sumber lokal yang berasal dari peternakan sapi potong rakyat diusahakan oleh 3.6 juta rumah tangga di Indonesia dengan jumlah ternak 2-6 ekor per rumah tangga. Jenis ternak sapi yang diusahakan merupakan sapi yang telah lama

36

beradaptasi di Indonesia atau disebut sapi lokal seperti sapi Madura, sapi Aceh, sapi Jawa, sapi peranakan Ongole serta sapi asli Indonesia yaitu sapi Bali yang semuanya merupakan sapi keturunan bangsa Boss indicus dan Boss sondaicus (banteng); dan sapi persilangan dengan bangsa sapi Boss taurus seperti peranakan Limousin, peranakan Simmental, peranakan Brahman, dan sebagainya. Teknologi yang digunakan dalam pengusahaan peternakan rakyat masih sangat sederhana dikarenakan selain jumlah ternak yang terbatas juga kurangnya modal dan pengetahuan yang dimiliki peternak. Peternakan sapi potong rakyat menyebar di seluruh wilayah Indonesia terutama berada di daerah sentra produksi yang merupakan daerah pedesaan. Peternakan sapi potong di Indonesia memiliki tiga pola pengembangan. Pertama, pengembangan sapi potong yang dikaitkan dengan pengembangan usaha pertanian terutama sawah dan ladang. Kedua, pengembangan sapi potong yang tidak dikaitkan dengan pengembangan usaha pertanian seperti yang terdapat di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tengga Barat, dan Sulawesi. Pola pertama dan kedua umumnya diusahakan oleh peternakan rakyat sehingga cenderung kekurangan modal. Ketiga, pola pengembangan usaha penggemukan sapi bakalan menjadi sapi potong. Pola ketiga merupakan usaha padat modal yang dilakukan oleh industri peternakan rakyat yang umumnya terdiri dari perusahaan-perusahaan pengemukan yang dikenal dengan istilah feedlotters.

Kelemahan peternakan rakyat yang berskala kecil menuju kepada skala besar terletak pada kesulitan mendapatkan akses modal, saprodi dan keterbatasan SDM keluarga yang dimiliki. Sehingga jika terjadi penambahan jumlah sapi yang dihasilkan maka sebagian sapi harus dijual. Ternak sapi yang pertama dijjual adalah ternak sapi jantan yang telah mencapai bobot potong yaitu sekitar 300 kg. Ternak sapi jantan ini akan masuk ke pasar konsumen dan menjadi ternak konsumsi. Lalu ternak yang akan dijual setelah ternak sapi jantan adalah ternak sapi betina yang paling lama dari jarak kelahirannya. Pemotongan ternak sapi betina inilah yang disebut pemotongan ternak betina produktif. Sekitar 10 hingga 30 persen betina produktif dipotong setiap tahunnya yang disebabkan oleh kurangnya pemahaman peternak. Akibatnya, peternakan rakyat menghadapi kesulitan menghasilkan pedet atau sapi bakalan yang dibutuhkan dalam menjaga populasi ternak lokal (Wanti 2013).

Para peternak lokal umumnya mendapatkan bibit sapi potong dari sesama peternak ataupun dari pedagang. Usaha cow calf operastion belum berjalan di Indonesia sehingga ketersediaan sapi bakalan masih sangat terbatas. Hal ini dikarenakan tingkat kematian pedet di beberapa wilayah masih tinggi yang disebabkan oleh mutu pakan yang kurang baik sehingga daya tahan tubuh pedet menjadi lemah. Sementara itu, untuk meningkatkan produktivitas sapi potong termasuk jumlah pedet, pemerintah di berbagai daerah telah melaksanakan IB dan INKA meskipun dalam pelaksanaannya program ini belum maksimal. Dalam memelihara sapinya, peternak umumnya menggunakan sistem intensif dan semi intensif. Sistem intensif artinya ternak sapi dikandangkan dalam kandang individu yang tertutup rapat dan ukurannya terbatas sebesar ukuran tubuh sapi sedangkan semi intensif yaitu ternak sapi dikandangkan sekaligus digembalakan. Sistem intensif banyak dilakukan di daerah Jawa sedangkan sistem semi intensif dilakukan di daerah yang masih memiliki padang rumput yang luas seperti NTT dan NTB. Pemeliharaan sapi potong intensif saat ini banyak dilakukan daripada

37 semi intensif sebab selain semakin berkurangnya lahan penggembalaan, pemeliharaan secara intensif ditujukan agar sapi tidak banyak bergerak sehingga pertumbuhan bobot per harinya menjadi lebih tinggi.

Sistem pemeliharaan yang belum efektif, pemeberian pakan kualitas rendah ditambah sifat genetik sapi lokal itu sendiri menyebabkan produktivitas karkas sapi potong di Indonesia rendah jika dibandingkan dengan sapi impor. Rata-rata pertumbuhan bobot sapi lokal 0.5 hingga 0.8 kg per hari sedangkan sapi impor dapat mencapai 1.6 kg per hari. Bobot sapi lokal yang merupakan keturunan bangsa sapi Boss indicus dan Boss sondaicus biasanya hanya mencapai 400 kg sedangkan sapi impor yang pada umumnya keturunan bangsa sapi Boss taurus dapat mencapai 800 kg sampai 1000 kg. Persentase karkas sapi lokal dibawah 50 persen sedangkan sapi impor sekitar 50 hingga 60 persen. Untuk mendapatkan performa sapi yang lebih baik, akhir-akhir ini peternak menyilangkan sapi-sapi mereka dengan sapi keturunan Boss taurus seperti Limousin dan Simmental. Persilangan ini dilakukan dengan cara kawin alam ataupun IB namun cara IB lebih banyak dilakukan sebab lebih murah dan praktis. Sapi hasil persilangan antara sapi lokal dan sapi keturunan Boss taurus ini memiliki keunggulan yaitu selain menghasilkan daging yang lebih banyak dibandingkan sapi lokal sapi ini juga tahan terhadap penyakit dan kondisi lingkungan yang buruk. Sapi persilangan ini dianggap lebih menguntungkan bagi usaha pembibitan dan penggemukan.

Sumber-Sumber Impor

a. Impor daging sapi

Sumber impor daging sapi lebih banyak daripada sumber sapi bakalan. Setidaknya terdapat delapan negara yang menjadi sumber impor daging sapi bagi Indonesia. Negara-negara tersebut diantaranya Australia, Amerika Serikat, Selandia Baru, Singapura, Brasil, Kanada, Korea Selatan dan Ukraina.

Tabel 6 Sumber-sumber impor daging sapi bagi Indonesia tahun 2008-2013

Jenis Negara Tahun

2008 2009 2010 2011 2012 2013 (000 Ton) Daging Segar Dingin (0201) Korea Selatan - - 0.00002 - - - Singapura 0.031 0.0003 0.077 - - 0.180 Australia 0.554 1.090 1.395 2.153 1.917 2.209 Selandia Baru 0.079 0.689 0.205 0.657 0.131 0.211 Amerika Brasil Total - - 0.664 - 0.0004 1.78 - - 1.68 0.037 - 2.847 0.029 - 2.077 0.013 - 2.613

38

Australia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat menjadi eksportir utama daging sapi bagi Indonesia. Berdasarkan hasil perhitungan yang diperoleh, dari tahun 2008 hingga tahun 2013 ketiga negara tersebut memasok sekitar 99.4 persen dari total impor daging sapi di Indonesia. Australia memasok sebesar 67 persen, Selandia Baru sebesar 29 persen dan Amerika sebesar 3 persen, sedangkan sisanya dipenuhi oleh Kanada, Singapura, Brasil, Korea Selatan dan Ukraina.

Gambar 10 Persentase sumber-sumber impor daging sapi bagi Indonesia tahun 2008-2013

Selama ini pasokan daging sapi di Indonesia masih tergantung pasokan daging sapi dari Australia terutama jenis daging yang memiliki kualitas khusus yang dibutuhkan industri pengolahan sehingga Indonesia juga mengimpor daging sapi beku dan segar disamping mengimpor sapi bakalan. Selain itu, jika dibandingkan dengan Amerika Serikat, Australia memiliki jarak yang relatif dekat dengan Indonesia mengingat mode transportasi yang digunakan melaui jalur laut sehingga daging sapi Australia lebih cepat sampai dan menghemat biaya transportasi. Alasan lain, relatif kecilnya impor daging dari Amerika Serikat disebabkan adanya kasus ditemukannya penyakit sapi gila atau BSE (Bovine Spongiform Enchepalophaty) pada peternakan sapi perah di California. Oleh karena itu Indonesia menghentikan sementara impor daging sapi dari Amerika

Australia [PERCENTAGE] Selandia Baru [PERCENTAGE] Amerika [PERCENTAGE] lainnya [PERCENTAGE] Daging Beku (0202) Singapura - 0.164 1.707 0.041 - 0.039 Australia 25.517 46.100 47.990 38.871 23.142 26.412 Selandia Baru 18.793 19.388 35.168 20.459 7.322 6.362 Amerika 0.350 0.133 3.465 2.792 0.964 0.784 Kanada 0.256 0.337 0.474 0.013 - - Ukraina Total - 44.916 - 66.122 0.025 88.529 - 62.176 - 33.505 - 33.597

39 Serikat pada April 2012. Penghentian sementara ini dimaksudkan untuk mengantisipasi penyebaran penyakit sapi gila masuk ke Indonesia.

Impor daging sapi selama ini berbasiskan negara (country based) bukan berbasis wilayah (zone based). Artinya impor hanya boleh dilakukan dari negara yang bebas dari Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) seperti Australia, Amerika Serikat dan Selandia Baru (Lampiran 1). Di sisi lain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maka Pemerintah mencari alternatif negara yang dapat dijadikan sumber impor. Impor daging sapi dari negara yang belum bersertifikat PMK seperti Brasil dan Korea Selatan kemungkinan dilakukan oleh pihak tertentu pada saat volume impor daging sapi mencapai puncaknya yaitu tahun 2009 dan 2010. Meskipun jumlah kuota impor daging sapi yang ditetapkan pemerintah menurun dari tahun 2012 hingga tahun 2013 namun realisasinya justru sebaliknya. Kuota impor daging sapi tahun 2012 dan 2013 masing-masing sebesar 41 000 ton dan 32 000 ton namun jumlah yang terealisasi adalah 33 506 di tahun 2012 dan 45 503 di tahun 2013.

Indonesia mengimpor daging dalam bentuk daging segar yang didinginkan dan daging beku. Keduanya dibagi menjadi dua kategori yaitu daging berkualitas (prime cut) dan daging industri (secondary cut). Daging berkualitas (prime cut) disediakan untuk konsumen di hotel-hotel berbintang dan restauran tertentu sedangkan daging industri (secondary cut) untuk industri daging olahan. Indonesia lebih banyak mendatangkan daging sapi beku (HS 0202) daripada daging sapi segar (0201) karena daging beku dinilai lebih tahan lama mengingat daging diangkut dari negara asal ke Indonesia menggunakan moda transportasi laut. Selain mengimpor daging dari negara produsen daging sapi Indonesia juga mengimpor daging dari Singapura. Singapura memang bukan produsen daging, apalagi melihat luas daratan yang dimilikinya tidak mungkin negara tersebut memiliki populasi ternak sapi yang besar. Meskipun demikian, Singapura melakukan re-ekspor daging sapi dari Amerika Serikat, Brasilia, Australia dan negara lainnya. Di Indonesia terdapat 67 perusahaan pengimpor daging sapi namun yang terdaftar di Kementerian Perdagangan hanya 31 perusahaan (Lampiran 2).

b. Impor sapi bakalan

Impor sapi bakalan Indonesia periode 2008 hingga 2013 mayoritas berasal dari Australia sedangkan sebagaian kecil berasal dari beberapa negara diantaranya Jepang, Timor Timur, dan Ceko (Tabel 7). Australia mengekspor sapi bakalan ke Indonesia rata-rata 151 ton per tahun. Impor sapi bakalan dari Australia dilakukan secara kontinyu sedangkan dari Jepang, Ceko, Timor-Timur dilakukan hanya pada saat-saat tertentu saja.

Tabel 7 Sumber-sumber impor sapi bakalan bagi Indonesia tahun 2008-2013

Negara Tahun 2008 2009 2010 2011 2012 2013 (000) Ton Australia 201.314 233.253 208.500 118.921 60.688 84.016 Jepang 0.022 - - - - - Ceko 0.0004

40 Timor

Timur - 0.283 0.083 - - -

Total 201.336 233.536 208.583 118.921 60.688 84.016 Australia merupakan supplier utama sapi bakalan bagi Indonesia. Hal ini ditunjukkan oleh kontribusinya terhadap total impor sapi bakalan di Indonesia. Selama periode 2008 hingga 2010 Australia memasok sekitar 99.94 persen dari total volume sapi bakalan yang diimpor oleh Indonesia. Selanjutnya periode 2011 hingga 2013 Indonesia mengimpor sapi bakalan 100 persen dari Australia. Impor sapi bakalan dari negara lain seperti Jepang dan Timor Timur hanya dilakukan pada saat tertentu saja. Berdasarkan data yang diperoleh, volume impor sapi bakalan tertinggi dicapai pada tahun 2009 yaitu 233.5 ribu ton atau sebanyak 765 ribu ekor namun jumlah ini terus menurun hingga tahun 2013 yang disebabkan adanya pembatasan kuota impor sapi bakalan dan daging sapi untuk tujuan swasembada daging sapi 2014. Pada tahun 2013 volume impor sapi bakalan menjadi 84 ribu ton atau 276 ekor.

Berdasarkan hasil yang didapat Australia merupakan supplier utama impor sapi bakalan. Terdapat beberapa alasan yang mendasari besarnya ketergantungan Indonesia terhadap Australia dalam kaitannya dengan impor sapi bakalan. Australia merupakan negara produsen sapi bakalan terbesar kedua setelah Brasil yang jaraknya paling dekat dengan Indonesia (FAO 2014). Dalam hal ini jarak sangat menentukan importasi sapi bakalan yang dilakukan oleh Indonesia sebab jarak menentukan lamanya perjalanan serta biaya transportasi mengingat transportasi yang digunakan untuk mengangkut sapi bakalan ke Indonesia menggunakan alat trasnportasi laut yaitu kapal kargo Internasional. Alasan lainnya, Australia adalah salah satu negara yang telah memiliki sertifikat bebas PMK atau Penyakit Mulut dan Kuku. Sama halnya dengan impor daging sapi, sistem importasi sapi bakalan di Indonesia selama ini berbasiskan negara atau country based. Sistem impor country based mengharuskan Indonesia untuk mengimpor sapi dan daging sapi dari negara yang telah memiliki sertifikat bebas Penyakit Mulut dan Kuku kecuali Timor Timur. Alasan Indonesia mengimpor sapi bakalan dari Timor Timur dimungkinkan adanya desakan kebutuhan dalam negeri pada tahun 2009 dan 2010 serta tidak adanya pembatasan impor daging sapi dan sapi bakalan. Impor sapi bakalan dari Timor Timur terjadi pada saat total impor Indonesia terhadap daging sapi dan sapi bakalan sedang pada puncaknya.

Sistem importasi berbasiskan negara tersebut ditetapkan dalam UU No 18 tahun 2009 yang pada tahun 2013 telah direncanakan untuk direvisi. Hal ini mengingat kasus penghentian ekspor sapi bakalan ke Indonesia yang dilakukan oleh Australia pada tahun 2011 terkait masalah animale walfare. Sejak saat itu pemerintah berencana akan mencari eksportir lain seperti Brasilia, India, dan Kanada. Untuk dapat mengimpor sapi bakalan dari negara potensial selain Australia maka pemerintah berencana merevisi UU No 18 tahun 2009. Rencananya pemerintah Indonesia hendak mengubah sistem importasi sapi bakalan dan daging sapi dari country based menjadi zone based. Sistem importasi yang berdasarkan wilayah atau zone based tidak mengharuskan Indonesia mengimpor daging sapi ke negara yang telah bersertifikat bebas PMK. Artinya, Indonesia dapat mengimpor daging sapi dari negara yang belum bersertifikat

41 bebas PMK, tapi impor hanya dilakukan dari sebagian wilayah negara tersebut yang terbukti bebas dari PMK.

Dalam kaitannya dengan impor sapi bakalan, di Indonesia terdapat sepuluh perusahaan pengimpor yang turut andil di dalamnya antara lain PT Great Giant Livestock, PT Persero Varuna Tirta Prakasya, PT Santosa Agrindo, PT Agro Giri Perkasa, PT Agrisatwa Jaya Kencana, PT Elders Indonesia, PT Guna Prima Dharma Abadi, PT Bina Mentari Tunggal, PT Pasir Tengah, PT Australia Stockfeed. Dari sepuluh perusahaan terdapat delapan perusahaan yang terdaftar di Kementerian Perdagangan. Masing-masing perusahaan mendapat kuota impor yang berbeda, contohnya pada tahun 2013 PT Great Giant Livestock mendapat kuota impor sapi bakalan sebanyak 19 868 ekor, PT Santosa Agrindo sebanyak 20 764 ekor, PT Agro Giri Perkasa sebanyak 16 592 ekor, dan PT Australia Stockfeed sebanyak 19 039 ekor.

Penyediaan Daging Sapi di Indonesia

Seperti komoditas agribisnis lainnya, daging sapi harus melalui serangkaian jalur distribusi yang membentuk pola penyediaan mulai dari tingkat produsen yaitu peternak sapi potong hingga sampai di tingkat konsumen yang berperan dalam memenuhi ketersediaannya di seluruh wilayah Indonesia khusunya wilayah konsumen. Di dalam jalur distribusi tersebut terdapat pihak-pihak yang berperan antara lain importir, feedlotters, peternak, pedagang pengumpul, pedagang penerima, agen atau distributor dan RPH.

1. Peternak

Peternak adalah pihak yang melakukan usaha budidaya sapi potong. Peternak umumnya adalah perseorangan dengan jumlah kepemilikan 2 hingga 6 ekor sapi. mereka biasanya berada di daerah pedesaan yang merupakan sentra sapi potong.

2. Feedlotters

Feedlotter atau industri peternakan rakyat adalah pihak yang mengusahakan budidaya sapi potong dengan menggemukkan sapi bakalan. Feedlotters pada umumnya berada di kota-kota besar atau di wilayah sentra konsumsi.

3. Importir

Importir adalah pihak atau lembaga yang mendatangkan daging sapi impor ke dalam negeri.

4. Pedagang pengumpul

Pedagang pengumpul adalah pedagang yang mengumpulkan sapi potong dari peternak-peternak untuk kemudian dipotong ke RPH. Pedagang pengumpul biasanya merupakan perorangan. Mereka membeli sapi dari peternak yang telah siap untuk dipotong. Pedagang pengumpul kemudian menjual ternak yang ia peroleh ke daerah perkotaan yang merupakan sentra konsumen. Oleh sebab itu banyak pedagang pengumpul yang merangkap sebagai pedagangan antar provinsi.

5. Pedagang penerima

Pedagang penerima yang dimaksud adalah pedagang ternak besar yang berada di provinsi atau kota-kota besar. Mereka membeli sapi potong dari feedlotters dalam jumlah besar disamping membeli dari pedagang antar provinsi.

42 6. RPH

RPH (Rumah Pemotongan Hewan) adalah fasilitas yang disediakan oleh Dinas Peternakan untuk membidangi pemotongan hewan ternak khususnya sapi dan kerbau.

7. Pedagang pengecer

Pedagang pengecer adalah pedagang yang berfungsi menjual daging sapi dalam benuk ritel ke konsumen. Mereka membeli daging sapi dari pedagang perantara.

8. Agen atau distributor

Agen adalah pihak yang berfungsi menyalurkan daging sapi dari importir ke konsumen, supermarket dan hotel. Agen biasanya membeli daging sapi dalam jumlah banyak untuk kemudian dijual secara ritel ataupun grosir kepada pembelinya.

Pada umumnya daging sapi tersebut berupa daging sapi mentah dalam kondisi segar (fresh) ataupun dalam kondisi beku (frozen). Hal ini dikarenakan oleh preferensi konsumen Indonesia yang lebih menyukai daging mentah daripada daging olahan. Pada Gambar 11 ditunjukkan bahwa pengadaan daging sapi di Indonesia berasal dari peternakan rakyat, feedlotters dan importir yang artinya daging sapi yang beredar di pasar berasal dari sapi lokal, sapi impor dan daging impor (Hadi dan Ilham 2000 dalam Kariyasa 2005). Masing-masing pihak melewati saluran pemasaran atau rantai distribusi yang berbeda-beda. Saluran terpanjang yaitu Ternak sapi dari peternakan rakyatpedagang perantarapedagang penerimaRPHPengecer. Ternak sapi mengalami pemotongan di RPH kemudian di salurkan langsung ke pengecer dalam bentuk karkas maupun daging. Karkas dan daging sapi yang telah sampai di pengecer didistribusikan ke supermarket, pasar tradisional dan rumah makan, hotel, dan katering. Saluran terpendek yaitu importiragen atau distributor sebelum akhirnya didistribusikan ke supermarket, rumah makan dan hotel untuk dijual ke konsumen. Sementara itu sapi potong dari feedlotters dibeli oleh pedagang penerima untuk kemudian dipotong di RPH. Setelah dipotong didistribusikan ke supermarket, pasar tradisional, rumah makan, hotel, katering melalui pedagang pengecer hingga akhirnya sampai ke konsumen. Saluran distribusi sapi potong dari feedlotters cukup panjang sehingga harga daging sapi yang dihasilkan harganya tidak beda jauh dari daging sapi peternakan rakyat.

43

Sumber: Kementerian Perdagangan, diolah (2014d)

Gambar 11 Pola penyediaan daging sapi di Indonesia

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Daging Sapi di Indonesia

Model yang digunakan dalam menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi harga daging sapi di Indonesia adalah model regresi linear berganda dengan metode pendugaan OLS (Ordinary Least Square). Model terdiri dari volume impor daging sapi, volume impor sapi bakalan, harga paritas impor

Dokumen terkait