• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknis Budidaya dan Manajerial Perusahaan

PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu merupakan perusahaan yang membudidayakan sagu dalam skala besar di Indonesia. Areal budidaya sagu PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu terletak di Pulau Tebing Tinggi, Kabupaten Meranti, Riau. Kegiatan budidaya yang dilaksanakan di PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu terbagi menjadi tiga kegiatan yaitu penyiapan lahan, penanaman, pemeliha- raan, dan panen . Penyiapan lahan dilakukan untuk mempersiapkan kondisi lahan agar sesuai untuk budidaya sagu. Kegiatan penyiapan lahan terdiri atas pember- sihan lahan, pembuatan kanal, pancang blok, pelorongan, pemancangan ajir, dan penanaman. Penanaman terdiri atas pengaturan jarak tanam, pembuatan lubang tanam, penyeleksian bibit, persemaian, dan pemindahan tanam ke lapangan.

Penyiapan bahan tanam berupa pengadaan bibit sagu (abut) yang akan ditanam di kebun. Anakan sagu yang akan dipilih untuk menjadi bibit sebaiknya diambil dari induk sagu yang tumbuh dengan baik, bibit masih segar dengan daun yang masih hijau, bibit sudah cukup tua yang dicirikan oleh banir yang cukup keras, daun dan pucuk masih hidup, bobot 3 - 4 kg per bibit, banir berbentuk huruf L, dan bebas dari serangan hama penyakit.

Kendala yang dihadapi dalam kegiatan pengadaan bibit tersebut yaitu sulit mencari bibit yang seragam dan kualitas bibit sagu tidak sama. Keadaan pertum- buhan tanaman yang tidak seragam mengakibatkan pertumbuhan anakan pada setiap tanaman berbeda, sehingga sulit untuk mendapatkan anakan dengan karak- teristik yang seragam. Kualitas bibit sagu yang berasal dari induk yang berbeda akan sangat berbeda satu dengan yang lainnya, bahkan antara sesama bibit sagu yang berasal dari induk yang sama pun akan sangat berbeda.

Sebelum penanaman terlebih dahulu dilakukan pemancangan ajir pada areal yang akan ditanami. Jarak antar ajir sesuai dengan jarak tanam yang diguna- kan dalam areal tersebut. Pengajiran dilakukan untuk mencegah adanya ketidakte- raturan penanaman bibit. Jarak tanam yang digunakan di PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu saat ini ada tiga yaitu 8 m x 8 m, 10 m x 10 m, dan 10 m x 15 m.

Kedalaman lubang tanam yang paling ideal untuk penanaman yaitu apabila sudah sampai pada permukaan air. Kondisi tersebut akan memudahkan bibit untuk beradaptasi dengan kondisi lapangan setelah dipindahkan dari persemaian di kanal. Saat kegiatan magang berlangsung tidak ada kegiatan penanaman yang dilakukan di kebun.

Kegiatan budidaya sagu di PT. National Timber And Forest Product dimulai pada tahun 1996/1997. Penanaman awal dilakukan pada empat divisi, yaitu Divisi 1, 2, 3, dan 4. Jarak tanam yang digunakan 8 m x 8 m. Penanaman kedua dilakukan pada tahun 1999/2000 di Divisi 5-8 dengan jarak tanam 8 m x 8 m dan 10 m x 10 m. Penanaman ketiga dilakukan pada tahun 2003/2004 di Divisi 9-11 dengan jarak tanam 10 m x 15 m. Jarak tanam yang digunakan berbeda pada setiap periode penanaman dikarenakan perusahaan mengalami masalah keuangan. Pelebaran jarak tanam dari 8 m x 8 m menjadi 10 m x 10 m pada tahun 1999/2000 bertujuan untuk menghemat biaya operasional kebun. Tahun 2003/2004 perusa- haan melakukan kegiatan penanaman di Divisi 9-11. Pada saat tersebut perusa- haan mengalami masalah keuangan yang lebih parah sehingga jarak tanam yang digunakan diperlebar lagi menjadi 10 m x 15 m.

Terhitung dari awal penanaman pada setiap divisi berarti pada saat kegi- atan magang berlangsung, tanaman di Divisi 1, 2, 3, dan telah berumur 12-13 tahun, tanaman di Divisi 5, 6, 7, dan 8 telah berumur 9-10 tahun, dan tanaman di Divisi 9, 10, dan 11 telah berumur 5-6 tahun. Tanaman sagu dengan umur 12-13 tahun di Divisi 1-4 harusnya telah masuk masa tebang, tanaman di Divisi 5-8 seharusnya telah masuk ke dalam fasa layak tebang, dan tanaman di Divisi 9-11 seharusnya telah membentuk formasi batang. Keadaan di lapangan menunjukkan bahwa kondisi tanaman tidak seperti itu, terutama tanaman di Divisi 5-11. Pertumbuhan tanaman lambat dan kalah bersaing dengan gulma. Kegiatan pemeli- haraan kebun yang tidak terlaksana dengan baik menjadi penyebab utama. Pemeli- haraan kebun untuk Divisi 1-4 sempat dilakukan pada beberapa tahun, namun pemeliharaan kebun sama sekali tidak dilakukan di Divisi 5-11.

Bibit yang akan ditanam di lapang terlebih dahulu disemaikan di kanal dengan menggunakan rakit. Persemaian dilakukan agar bibit sagu tetap segar sebelum dipindah ke lapang. Bibit yang akan disemai terlebih dahulu dipangkas

daun tuanya dengan ketinggian pangkasan 30-40 cm dari banir. Tujuannya agar evaporasi dapat ditekan dan untuk mempercepat pemunculan tunas. Sebelum dise- mai bibit dicelupkan ke dalam larutan fungisida. Bibit yang disemai harus teren- dam air, baik setengah maupun seluruhnya karena secara umum tanaman sagu membutuhkan banyak air untuk tumbuh dan berkembang. Persemaian dilakukan selama tiga bulan. Bibit sagu yang telah disemai selama tiga bulan telah siap untuk dipindahkan ke lapangan.

Kegiatan pemeliharaan kebun di PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu tidak pernah dilaksanakan lagi sejak lima tahun yang lalu. Hal terssebut terjadi karena mengalami masalah keuangan sehingga perusahaan tidak memiliki biaya untuk pemeliharaan kebun. Kegiatan pemeliharaan kebun mulai dilakukan kembali sejak PT. Sampoerna Tbk. mengambil alih kegiatan operasional kebun. Kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan di PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu terdiri atas pemupukan, pe- ngendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit, penyulaman, dan manajemen air. Kegiatan yang sedang dilaksanakan di kebun ada tiga kegiatan yaitu pengen- dalian gulma secara manual dan kimia, serta manajemen air.

Pemupukan di PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu dilakukan bertujuan untuk menyediakan unsur hara makro dan mikro bagi pertumbuhan tanaman sagu. Pemupukan sangat diperlukan karena sebagian besar lahan PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu memiliki kandungan hara yang rendah dan sangat masam. Pada tanah yang memiliki pH rendah seperti di tanah gambut, pertumbuhan sagu merana karena kekurangan Ca dan Mg (Atmawidjaja, 1992). Pupuk yang digunakan oleh PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu yaitu Muriate of Potash (MOP), Rock Phosphate (RP), Urea, Cu, Zn, dan Dolomit. Pada saat kegiatan magang dilaksa- nakan kegiatan pemupukan belum dilaksanakan di kebun.

Pengendalian gulma dilakukan untuk mengurangi persaingan antara gulma dan sagu serta mengurangi kelembaban lingkungan agar tanaman tidak mudah terserang hama dan penyakit. Kegiatan pengendalian gulma juga memudahkan kegiatan pemeliharaan tanaman dan panen.

PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu pada saat ini hanya menggunakan metode pengendalian gulma secara manual dan kimia. Pengendalian gulma secara manual dilakukan dengan penebasan lorong (jalur bersih), penebasan pinggir blok, dan piringan tanaman. Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan pengendalian gulma secara manual yaitu blok terlalu luas, kondisi gulma di kebun yang sangat parah, dan kualitas tenaga kerja tidak semuanya bagus. Ketiga faktor tersebut mengakibatkan pekerjaan menjadi tidak efektif dan efisien, sehingga hasil kerja pun kurang baik.

Pengendalian gulma secara kimia dilakukan dengan mengaplikasikan her- bisida pada lorong dan piringan tanaman yang telah ditebas. Herbisida yang digunakan yaitu Premaxon, Meta Prima, dan Tri Ester. Kegiatan tersebut dilaku- kan oleh buruh harian lepas (BHL). Ada beberapa kendala yang dihadapi perusa- haan dalam melaksanakan kegiatan tersebut. Kendala tersebut antara lain sulit mencari tenaga kerja harian yang berpengalaman dalam kegiatan tersebut dan ku- rangnya tenaga pengawas.

Ketersediaan tenaga kerja berpengalaman dalam melakukan kegiatan pe- nyemprotan gulma di sekitar kebun sangat kurang. Hanya sebagian masyarakat di sekitar kebun sagu PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu yang biasa melakukan kegiatan tersebut. Hal tersebut terlihat pada pelak-sanaan kerja di lapangan. Pekerja memerlukan beberapa hari untuk menyelesaikan peker- jaan sesuai dengan pengarahan yang diberikan oleh pengawas.

Banyaknya jumlah pekerja dengan jumlah pengawas kurang sebanding. Dalam satu kali pengawasan, seorang pengawas harus mengawasi 6-8 pekerja. Kondisi lantai kebun yang tidak rata mengakibatkan pengawasan oleh seorang pengawas saja tidak efisien sehingga kualitas kerja BHL kurang terpantau dengan baik.

Hama yang sering menyerang perkebunan sagu adalah ulat sagu/gendon (R. ferrugineus Oliver), rayap (Macrotermes sp.), monyet ekor panjang (M. fascicularis Raffles) dan babi hutan (S. scrofa Linnaeus). Penyakit bercak daun yang disebabkan oleh cendawan Cercospora sp. sering dijumpai di perkebunan sagu PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu. Pengenda- lian cendawan Cercospora sp. dilakukan dengan sanitasi lingkungan. Pengenda-

lian hama ulat sagu/gendon (R. ferrugineus Oliver) dan rayap (Macrotermes sp.) dapat dilakukan secara kimiawi dan kultur teknis.

Monyet ekor panjang (M. fascicularis Raffles) dan babi hutan (S. scrofa Linnaeus) cukup banyak terdapat di kebun. Kerusakan pada rumpun sagu karena serangan kedua satwa tersebut sering dijumpai, namun tidak dilakukan tindakan pengendalian karena tidak menurunkan hasil. Untuk babi hutan (S. scrofa Linnaeus), populasinya secara tidak langsung dapat berkurang oleh adanya perbu- ruan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar kebun. Pengendalian hama dan penyakit di PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu tidak dilakukan secara terjadwal. Kegiatan tersebut hanya dilakukan apabila serangan telah melewati ambang ekonomi. Saat kegiatan magang dilakukan kegiatan terse- but sedang tidak berlangsung di kebun.

Manajemen air di PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu merupakan salah satu kegiatan yang sedang dilakukan di kebun. Kegiatan tersebut berupa pencucian dan pelebaran kanal serta pemasangan alat ukur ketinggian air. Tujuan dari kegiatan tersebut untuk mengelola sumberdaya air dengan baik sehingga dapat menunjang pertumbuhan tanaman, transportasi dan pencegahan kebakaran. Alat ukur ketinggian air yang terdapat di kebun PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu yaitu water level dan pizzo meter.

Kegiatan pencucian dan pelebaran kanal di kebun PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu berdampak baik pada pertumbuhan tanaman sagu. Kondisi tersebut terlihat dari perubahan warna daun tanaman sagu. Daun sagu yang baru muncul berwarna lebih hijau dibandingkan dengan daun lama yang berwarna agak kekuningan. Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan pencucian dan pelebaran kanal yaitu alat berat yang digunakan sudah berumur tua, sering terjadi pergantian operator alat berat, dan sulit mencari opera- tor yang berkualitas. Kondisi tersebut mengakibatkan kegiatan tidak terlaksana secara optimal.

Kegiatan lain yang juga dilaksanakan di kebun yaitu sensus tanaman. Sensus tanaman terdiri atas dua macam, yaitu sensus prosentase hidup sagu dan sensus taksasi produksi. Sensus prosentase hidup mati bertujuan untuk menge-

tahui jumlah tanaman sagu yang hidup pada suatu blok, sedangkan sensus taksasi produksi dilakukan untuk mengidentifikasi tingkat pertumbuhan tanaman dari mulai tahap anakan sampai tahap tanaman siap panen. Untuk sensus taksasi produksi, data yang diperoleh akan digunakan sebagai acuan dalam kegiatan panen. Dalam melakukan sensus kendala yang paling menyulitkan yaitu kondisi lantai kebun yang bergambut dan tidak rata, serta tidak teraturnya penanaman sagu.

Selama membudidayakan sagu sejak tahun 1996, PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu telah melakukan dua kali panen. Panen pertama dilakukan pada tahun 2008 dan panen kedua baru dimulai pada bulan Juni 2009. Pohon sagu dapat dipanen setelah berumur 10-12 tahun. Kriteria terbaik untuk panen sagu adalah saat fasa jantung, karena pada fasa tersebut batang sagu memiliki kandungan pati tertinggi dibandingkan fasa yang lain. Tingkatan panen yang digunakan pada panen kedua yaitu mulai dari tingkat maputih masa, putus duri, fasa jantung (nyorong), sampai fasa berbunga. PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu belum memiliki pabrik sagu sendiri, sehingga hasil panen dijual kepada pembeli yang memiliki pabrik pengolahan sagu.

Struktur organisasi PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu berbentuk garis (line organization). Pimpinan perusahaan dipegang oleh seorang General Manager yang ditunjuk oleh pemilik perusahaan. Proses pengambilan keputusan, kebijaksanaan, dan instruksi berjalan cepat dan tidak bertele-tele. Pengambilan keputusan dilakukan oleh General Manager.

Sistem manajerial perusahaan yang berubah dari sistem manajerial lama ke sistem manajerial PT. Sampoena Tbk. masih belum dapat diterima karyawan dengan baik. Penghilangan biaya insentif dari bagian gaji karyawan menjadi salah satu penyebab. Selain itu penetapan hari libur bagi karyawan juga belum jelas. Tenaga kerja lapang masih menggunakan peraturan lama yaitu libur pada hari jum’at dan cuti empat hari setiap bulan, sedangkan staf kantor menggunakan peraturan baru yaitu libur hari minggu. Selain itu, tidak ada batasan jumlah karyawan yang diperbolehkan cuti pada saat yang bersamaan.

Pada saat kegiatan magang berlangsung pernah dalam satu divisi ada tiga sampai empat orang yang cuti, padahal jumlah tenaga kerja pada setiap divisi tidak lebih dari delapan orang. Keadaan tersebut diperparah dengan tidak adanya ketegasan dan keteladanan dari pimpinan, sehingga kondisi tersebut terus berjalan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kegiatan operasional kebun terganggu. Pera- turan yang jelas mengenai sistem kerja, penetapan hari libur dan penetapan sanksi bagi karyawan perlu dibuat agar karyawan menjadi lebih disiplin.

Sejak PT. Sampoerna Tbk. mengambil alih kendali operasional perusa- haan, kegiatan pemeliharaan tanaman mulai dilakukan kembali. Dampak awal dilaksanakannya kembali kegiatan pemeliharaan di Divisi 1, 2, 3, dan 4 terlihat dari pertumbuhan tanaman sagu yang mulai membaik.

Kegiatan pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, dan penyulaman sedang tidak dilaksanakan di kebun. Pemupukan belum dilaksanakan karena dosis rekomendasi pemupukan yang dimiliki perusahaan masih dipertimbangkan untuk dilaksanakan karena biayanya mahal.

Sagu merupakan tanaman kehutanan. Dalam budidaya tanaman kehutanan pemupukan hanya dilaksanakan sekali pada awal tanam. Tanaman akan kembali dipupuk apabila ada hasil yang diambil dari tanaman tersebut Pupuk yang diberi- kan sesuai dengan jumlah hasil yang diperoleh dari tanaman. Oleh karena itu, PT. Sampoerna Tbk. masih mempertimbangkan untuk melakukan kegiatan pemupu- kan sesuai dosis rekomendasi atau tidak.

Kegiatan pengendalian hama dan penyakit tidak dilakukan karena agenda pelaksanaannya bukan pada saat kegiatan magang berlangsung. Begitu juga de- ngan kegiatan penyulaman yang baru akan dilaksanakan setelah kegiatan sensus prosentase hidup dan mati selesai dilaksanakan.

Pihak PT. Sampoerna Tbk. berencana akan melakukan penanaman ulang pada areal yang jumlah sagunya sedikit atau tidak ada sama sekali. Data areal yang akan ditanam ulang akan diambil berdasarkan data sensus bersama antara PT. Siak Raya Groups dan PT. Sampoerna Tbk pada bulan Juni-Juli 2009. Apabi- la kegiatan penyulaman dan penanaman ulang jadi dilaksanakan, maka diperlukan perencanaan yang matang sebelum kegiatan dilaksanakan. Salah satu bagian penting dalam perencanaan kegiatan budidaya sagu adalah pengaturan jarak

tanam. Pemilihan jarak tanam yang tepat akan menunjang pertumbuhan tanaman sagu dalam memperoleh unsur hara dan penyinaran cahaya matahari yang opti- mal.

Kondisi Lingkungan Kebun

Lingkungan tumbuh pada areal perkebunan PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu menunjukkan kondisi yang beragam. Kate- gori penutupan gulma tidak sama pada setiap divisi dan blok. Penutupan gulma pada kebun bervariasi mulai dari tertutup gulma ringan, tertutup gulma sedang, sampai tertutup gulma berat.

Tanaman sagu pada kebun sagu dengan jarak tanam 8 m x 8 m banyak yang tumbuh, namun areal tertutup rapat oleh gulma. Gulma yang tumbuh dido- minasi dari jenis pakis, dengan tinggi pakis pada areal tersebut sekitar 2 m. Selain pakis, terdapat juga beberapa jenis pohon di areal tersebut (Tabel 2). Keberadaan gulma pada areal tersebut sangat merugikan bagi partumbuhan tanaman sagu. Persaingan dalam memperoleh unsur hara dan sinar matahari antara gulma dan tanaman sagu menyebabkan pertumbuhan tanaman sagu terhambat. Kondisi ling- kungan yang buruk tersebut disebabkan oleh tidak adanya pemeliharaan kebun selama beberapa tahun ke belakang. Pemeliharaan kebun dari awal tanam sampai sekarang pun tidak dilakukan secara maksimal, sehingga kondisi kebun menjadi tidak terurus.

Kondisi penutupan gulma pada kebun sagu dengan jarak tanam 10 m x 10 m kondisinya cukup parah. Tanaman sagu yang tumbuh tidak banyak dan gulma yang tumbuh lebih banyak dibandingkan kebun sagu dengan jarak tanam 8 m x 8 m. Gulma yang tumbuh pada areal tersebut tidak lagi didominasi oleh pakis, tetapi lebih didominasi oleh pohon berdiameter sedang (10-30 cm). Gulma yang ditemui di areal tersebut antara lain pohon mahang (Macaranga sp.), geronggang (Cratoxylon formosum Dyer), meranti (Shorea sp.), dan salak hutan (Salacca conferta Griff.) (Tabel 2). Kondisi penutupan vegetasi yang rapat dengan pohon membuat areal tersebut lebih menyerupai hutan sekunder dibandingkan kebun sagu.

Penutupan tajuk tanaman sagu oleh gulma pada areal tersebut menyebab- kan sebagian besar tanaman sagu kalah bersaing dalam memperoleh sinar mataha- ri. Sagu yang tumbuh dengan naungan dari pohon turut mempengaruhi besaran sinar matahari yang masuk ke lantai tegakan (Sitaniapessy, 1996). Sedikitnya sinar matahari yang terserap oleh daun mengakibatkan proses fotosintesis tanaman terganggu. Fotosintat yang dihasilkan pun menjadi lebih sedikit sehingga suplai bahan makanan ke bagian tanaman, terutama batang menjadi berkurang. Keadaan tersebut menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi lambat.

Faktor yang menjadi penyebab banyaknya gulma yang tumbuh yaitu jarak tanam yang lebih lebar antar tanaman sagu. Jarak tanam yang lebih lebar menye- babkan adanya ruang yang lebih besar bagi gulma untuk tumbuh. Selain itu, pemeliharaan yang tidak dilakukan secara benar juga menjadi penyebab buruknya kondisi kebun. Sejak awal tanam sampai sekarang tidak dilakukan pemeliharaan terhadap kebun. Akibatnya kebun menjadi tidak terurus dan banyak tanaman sagu yang mati.

Kondisi kebun pada areal 10 m x 15 m lebih parah dibandingkan kebun dengan jarak tanam 8 m x 8 m dan 10 m x 10 m. Pada areal tersebut banyak tanaman sagu yang mati dan gulma yang tumbuh sangat rapat serta bervariasi jenisnya. Beberapa jenis gulma yang tumbuh antara lain pakis, salak hutan (S. conferta Griff.), palem merah (Cyrtostachys lakka Becc.), palas (Licuala paludosa Grif), sirih hutan (Piper caducibracteum C.DC), kantung semar (Nephentes sp.), dan beberapa jenis pohon berdiameter sedang sampai besar ( 30 cm) (Tabel 2).

Pada areal tersebut masih dapat ditemukan tanaman sagu yang masih bertahan hidup, namun pertumbuhannya sangat lambat. Tidak ada satupun tanaman sagu yang telah membentuk formasi batang. Kondisi tersebut terjadi karena penerimaan sinar matahari tanaman terhalang oleh tajuk pohon yang rapat sehingga kegiatan fotosintesis tanaman terganggu. Menurut Sitaniapessy (1996), cahaya matahari menjadi faktor pembatas dan mempengaruhi luas daun tanaman untuk tumbuh. Rapatnya vegetasi gulma menyebabkan iklim mikro kebun tidak terkendali sehingga pertumbuhan tanaman menjadi lambat. Kondisi kebun yang tak terawat terjadi karena tidak adanya kontrol pemeliharaan yang baik oleh perusahaan.

Tabel 2. Jumlah tanaman yang hidup dan jenis-jenis gulma yang tumbuh di blok pengamatan pengaruh pengaturan jarak tanam

No. Perlakuan Jumlah Tanaman Hidup (%) *)

Jumlah Tanaman Mati (%) *)

Jenis Gulma yang Tumbuh

1. 8 m x 8 m

Blok M24 (Ul 1) 4 845 (46.59)

5 555 (53.41)

Didominasi oleh pakis. Tumbuh juga pohon gerong- gang (Cratoxylon formosum Dyer), dan beberapa jenis pohon berdiameter 10-30 cm.

Blok N24 (Ul 2) 5 211 (65.15)

2 787 (34.85)

Didominasi oleh pakis. Tumbuh juga beberapa jenis pohon berdiameter 10-30 cm

Blok O24 (Ul 3) 4 905 (61.33)

3 093 (38.67)

Didominasi oleh pakis. mahang (Macaranga sp.), dan beberapa jenis pohon berdiameter 10-30 cm.

2. 10 m x 10 m

Blok A32 (Ul 1) 2 677 (61.23)

1 695 (38.77)

Didominasi oleh gulma pohon seperti pohon mahang (Macaranga sp.), geronggang (Cratoxylon formosum Dyer), dan meranti (Shorea sp.). Terdapat juga pakis, salak hutan (Salacca conferta Griff.), dan kantung semar (Nephentes sp.).

Blok B33 (Ul 2) 719

(14.98)

4 081 (85.02)

Didominasi oleh gulma pohon seperti pohon mahang (Macaranga sp.), geronggang (Cratoxylon formosum

Tabel 2. Jumlah tanaman yang hidup dan jenis-jenis gulma yang tumbuh di blok pengamatan pengaruh pengaturan jarak tanam (Lanjutan)

No. Perlakuan Jumlah Tanaman Hidup (%) *)

Jumlah Tanaman Mati (%) *)

Jenis Gulma yang Tumbuh

Blok B33 (Ul 2) Dyer), dan meranti (Shorea sp.). Terdapat juga pakis

dan salak hutan (Salacca conferta Griff.)

Blok A33 (Ul 3) Tidak Ada Data Tidak Ada Data Didominasi oleh gulma pohon seperti pohon mahang (Macaranga sp.), geronggang (Cratoxylon formosum Dyer), meranti (Shorea sp.), dan salak hutan (Salacca conferta Griff.) 3. 10 m x 15 m Blok R10 (Ul 1) 446 (15.96) 2 349 (84.04)

Jenis gulma terdiri atas pakis, salak hutan (Salacca conferta Griff.), palem merah (Cyrtostachys lakka Becc.), palas (Licuala paludosa Griff.), sirih hutan (Piper caducibracteum C.DC), dan beberapa jenis pohon berdiameter sedang sampai besar ( 30 cm).

Blok Q11 (Ul 2) 106

(3.66)

2 792 (96.34)

Didominasi oleh pohon berdiameter sedang sampai besar ( 30 cm). Terdapat juga pakis, salak hutan (Salacca conferta Griff.), palem merah (Cyrtostachys lakka Becc.), palas (Licuala paludosa Grif), sirih hutan

Tabel 2. Jumlah tanaman yang hidup dan jenis-jenis gulma yang tumbuh di blok pengamatan pengaruh pengaturan jarak tanam (Lanjutan)

No. Perlakuan Jumlah Tanaman Hidup (%) *)

Jumlah Tanaman Mati (%) *)

Jenis Gulma yang Tumbuh

Blok Q11 (Ul 2) (Piper caducibracteum C.DC), dan kantung semar

(Nephentes sp.).

Blok Q10 (Ul 3) 171

(10.18)

1 509 (89.82)

Jenis gulma terdiri atas pakis, salak hutan (Salacca conferta Griff.), palas (Licuala paludosa Griff.), palem merah (Cyrtostachys lakka Becc.), sirih hutan (Piper caducibracteum C.DC), dan beberapa jenis pohon berdiameter sedang sampai besar ( 30 cm).

Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Sagu (Metroxylon spp.)

Jumlah Anakan

A.Jumlah anakan aktual

Perlakuan jarak tanam 8 m x 8 m dan 10 m x 10 m tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap jumlah anakan pada Bulan Pengamatan (BP) 1. Pada BP 2 sampai BP 6 jarak tanam 8 m x 8 m, 10 m x 10 m, dan 10 m x 15 m menun- jukkan pengaruh nyata terhadap jumlah anakan (Tabel 3).

Dokumen terkait