Kegiatan beternak domba oleh para peternak di Kelurahan Cimahpar merupakan usaha sambilan. Pengelolaan usahaternak tersebut masih dijalankan secara tradisional artinya pengelolaan seadanya mengikuti kebiasaan setempat dan orang tua terdahulu. Tingkat penerapan teknologi pada usaha peternakan domba masih terbatas, hal ini dikarenakan usaha ternak domba dilakukan hanya sebagai usaha sambilan. Sebagian besar peternak kurang mengetahui tentang manfaat dan cara-cara melakukan kawin suntik, kastrasi (pengebirian), serta pembuatan silase (rumput yang dikeringkan).
Aspek Budidaya
Kandang domba terdiri dari dua tipe, yaitu kandang panggung dan kandang lemprak. Tipe kandang yang digunakan para peternak di Kelurahan Cimahpar adalah tipe panggung, yaitu tipe kandang yang memiliki kolong yang bermanfaat sebagai penampung kotoran. Kolong digali dan dibuat lebih rendah daripada permukaan tanah sehingga kotoran dan air kencing ternak domba tidak berceceran. Alas kandang terbuat dari kayu/bambu dengan tinggi panggung dari tanah sekitar 50 cm. Sebagian peternak sudah memisahkan beberapa bagian kandang sesuai dengan fungsinya, yaitu kandang induk, anak serta pejantan. Para peternak umumnya telah melakukan pemeliharaan kandang, yang meliputi pembersihan kotoran domba, membuang kotoran ke tempat penampungan limbah, dan membersihkan alas; yang dilaksanakan para peternak secara rutin setiap minggu.
Bibit domba yang umumnya digunakan oleh peternak adalah bibit lokal (domba kampung). Domba kampung memiliki ciri-ciri: tubuh kecil, lambat dewasa, warna bulunya maupun karakteristiknya tidak seragam dan hasil dagingnya relatif lebih sedikit. Ternak domba yang dipelihara berasal dari anak domba yang dilahirkan induknya atau dibeli dari peternak lain. Bibit tersebut diperoleh dari anak lahiran atau hasil pembelian dari sesama peternak.
Kegiatan pemeliharaan ternak domba tersebut meliputi: Pertama, memandikan ternak. Para peternak di Kelurahan Cimahpar umumnya sudah mengetahui bahwa domba perlu dimandikan. Kegiatan memandikan domba
19 dilakukan seminggu sekali pada pagi hari dengan menggunakan sikat dan sabun. Setelah dimandikan, selanjutnya domba dijemur di bawah sinar matahari pagi. Kedua, mencukur bulu. Para peternak umunya telah melakukan kegiatan pencukuran bulu domba. Pencukuran bulu domba dilakukan dengan menggunakan gunting. Peternak biasanya melakukan pencukuran bulu domba enam bulan sekali. Ketiga, merawat dan memotong kuku. Pemotongan kuku domba sebaiknya dilakukan empat bulan sekali dengan golok, pahat kayu, pisau kuku atau gunting. Para peternak sebagian tidak melakukan pemotongan kuku, namun ada sebagian kecil peternak melakukan pemotongan kuku saat lahir.
Bahan makanan yang diberikan oleh para peternak di Kelurahan Cimahpar umumnya adalah pakan hijauan dan konsentrat. Pakan hijau merupakan makanan kasar yang berupa rumput lapangan, limbah hasil pertanian dan rumput unggul dan berbagai jenis leguminosa. Hijauan pakan merupakan makanan utama bagi domba yang tidak hanya berfungsi sebagai pengisi perut, tetapi juga sebagai sumber gizi protein, vitamin dan mineral. Jenis rumput yang diberikan adalah rumput raja, rumput gajah yang ditanam di atas lahan dengan curah hujan tinggi dan rumput benggala serta rumput setaria dan lahan kering. Jenis leguminosa antara lain lamtoro, jayanti, kaliandra dan turi. Selain hijauan, peternak juga memberikan konsentrat. Konsentrat merupakan makanan ternak penguat yang kaya karbohidrat dan protein seperti jagung, bekatul dan bungkil-bungkilan. Konsentrat digunakan terutama pada saat pertumbuhan, pada masa kebuntingan maupun saat menyusui bagi induknya.
Peternak di Kelurahan Cimahpar sebagian besar telah memahami bahwa ternak domba perlu diberikan vaksin. Namun demikan, dalam prakteknya masih ada peternak yang tidak memberikannya. Terdapat berbagai alasan peternak sehingga peternak tidak memberikan vaksin sebagaimana yang seharusnya. Alasan tersebut antara lain: peternak tidak mampu membeli dan sebagian peternak yang lain masih merasa aman dengan antibodi yang dimiliki domba itu sendiri. Vaksinasi mulai diberikan pada anak domba (cempe) yang berusia satu bulan, selanjutnya diulangi pada usia 2-3 bulan. Jenis vaksin yang biasa diberikan adalah jenis vaksin Spora (Max Sterne), serum anti anthrax, vaksin AE, dan vaksin SE (Septichaemia Epizootica).
Penyakit yang banyak dikeluhkan oleh para peternak adalah penyakit kudis. Penyakit kudis merupakan penyakit menular yang menyerang kulit domba pada semua usia. Akibat dari penyakit ini produksi domba merosot, kulit menjadi jelek dan mengurangi nilai jual ternak domba. Penyebab penyakit ini adalah parasit berupa kutu yang bernama Psoroptes ovis, Psoroptes ciniculi dan Chorioptes bovis. Gejala- gejalanya adalah tubuh domba lemah, kurus, nafsu makan menurun dan senang menggaruk tubuhnya. Kudis dapat menyerang muka, telinga, perut punggung, kaki dan pangkal ekor. Pengendalian dilakukan dengan mengoleskan Benzoas bensilikus
10% pada luka, menyemprot domba dengan Coumaphos 0,05-0,1%.
Aspek Pemasaran
Ternak domba mencapai berat badan optimal pada umur 18 bulan, sehingga pada umur tersebut domba mulai dijual. Domba muda berumur di bawah 6 bulan biasanya jarang dijual karena harganya rendah. Penjualan domba hidup oleh para peternak di Kelurahan Cimahpar pada umumnya dilakukan dengan cara sebagai berikut: (1) menjual langsung kepada pembeli, (2) menjual di pasar ternak, dan (3) menjual melalui pedagang perantara. Sebagian besar peternak domba di Kelurahan Cimahpar menjual langsung kepada pembeli.
Umumnya peternak di Kelurahan Cimahpar tidak kesulitan menjual ternak domba. Bahkan pada saat Idul Adha ternak yang ditawarkan masih perlu ditingkatkan. Hal yang banyak dikeluhkan dari sisi pemasaran adalah harga domba yang mereka terima cenderung rendah.
Aspek Kelembagaan
Pengembangan ternak domba memerlukan kelembagaan peternakan. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari para peternak di Kelurahan Cimahpar tidak terdapat kelompok peternak, KUD atau semacamnya. Kegiatan penyuluhan peternakan pun menurut beberapa peternak tidak pernah dilakukan di kelurahan ini.
Ketiadaan kelembagaan (ekonomi) yang khusus menjadi wadah peternak di Kelurahan Cimahpar menyebabkan peternak merasa kesulitan dalam melakukan penjualan ternaknya. Oleh sebab itu banyak diantara peternak yang menjual ternaknya ke tengkulak yang tentu saja dengan harga di bawah harga pasar. Sebagian dari peternak juga menjual langsung kepada konsumen.
21
Karakteristik Peternak Domba
Peternak domba adalah individu yang berbeda-beda antara peternak yang satu dengan peternak yang lain. Perbedaan ini dipengaruhi oleh karakteristik yang melekat pada diri peternak. Karakteristik peternak domba yang dideskripsikan pada penelitian ini adalah umur, pendidikan, pekerjaan, lama beternak, jumlah ternak yang dipelihara dan jumlah tanggungan keluarga.
Umur
Umur peternak domba di Kelurahan Cimahpar berkisar antara 23-90 tahun, dengan rata-rata 45 tahun. Apabila umur responden dibedakan berdasarkan usia produktif (15-64 tahun) dan non produktif (65-90 tahun), maka dapat diketahui bahwa 85,7 % para peternak terkategori usia produktif. (Tabel 1). Dengan demikian dilihat dari usia peternak, maka pengembangan usahaternak di Kelurahan Cimahpar masih sangat potensial mengingat sebagian besar peternaknya berusia produktif. Kondisi ini memperlihatkan bahwa usahaternak domba masih memiliki daya tarik di kalangan usia produktif.
Tabel 1. Distribusi Umur Peternak Berdasarkan Usia Produktif dan Non Produktif Dihubungkan dengan Skor Motivasi
No. Kategori Motivasi Total Kurang Termotivasi Cukup Termotivasi Termotivasi Jml % Jml % Jml % Jml % 1. Produktif (15-64 tahun) - - 20 31,17 34 54 54 85,7 2. Non Produktif (65-90 tahun) - - 3 4,8 6 9,5 9 14,3 Jumlah - - 23 36,5 40 63,5 63 100 Pendidikan
Ditinjau dari segi pendidikan, peternak domba di Kelurahan Cimahpar bervariasi mulai dari tidak lulus SD sampai tingkat sekolah menengah atas (SMA). Berdasarkan kategori pendidikan, dapat diketahui bahwa umumnya peternak di Kelurahan Cimahpar berpendidikan rendah, yang ditunjukkan dengan persentase peternak yang tidak lulus dan hanya lulus SD berjumlah 95 persen (Tabel 2). Banyaknya peternak yang berpendidikan rendah disebabkan minat untuk melanjutkan sekolah masih rendah. Selain itu, kemampuan orang tua untuk
membiayai anaknya sekolah juga rendah yang hal ini terkait dengan rendahnya pendapatan keluarga. Oleh karena itu diperlukan upaya peningkatan pengetahuan melalui pendidikan informal.
Tabel 2. Distribusi Peternak Berdasarkan Kategori Pendidikan Dihubungkan dengan Skor Motivasi
No. Kategori Motivasi Total Kurang Termotivasi Cukup Termotivasi Termotivasi Jml % Jml % Jml % Jml % 1. Tidak lulus SD - - 6 9,5 8 12,7 14 22,2 2. Lulus SD - - 16 25,4 30 47,6 46 73,0 3. Lulus SLTP - - 1 1,6 1 1,6 2 3,2 4. Lulus SLTA - - - - 1 1,6 1 1,6 Jumlah - - 23 36,5 40 63,5 63 100 Pekerjaan
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa beternak domba merupakan pekerjaan sambilan semua peternak. Hal tersebut akan memberikan pengaruh negatif bila dikaitkan dengan pengembangan peternakan masa depan dikarenakan jika usahaternak dilakukan sebagai pekerjaan sambilan maka hasil usaha tidak optimal sehingga secara otomatis kemajuan peternakan mengalami stagnasi. Berdasarkan kategori pekerjaan dapat diketahui bahwa sebagian besar (79,4 %) bekerja sebagai buruh, baik yang merupakan buruh tani maupun buruh bangunan (Tabel 3). Banyaknya peternak yang bekerja sebagai buruh disebabkan rendahnya pendidikan peternak sehingga tidak bisa diterima di sektor formal.
Tabel 3. Distribusi Peternak Berdasarkan Pekerjaan Dihubungkan dengan Skor Motivasi No. Kategori Motivasi Total Kurang Termotivasi Cukup Termotivasi Termotivasi Jml % Jml % Jml % Jml % 1. Buruh - - 20 31,7 30 47,6 50 79,4 2. Petani - - 2 3,2 8 9,5 8 12,7 3. Karyawan Perusahaan Swasta - - 1 1,6 - - 1 1,6 4. Wiraswasta/Dagang - - - - 4 6,3 4 6,3 Jumlah - - 23 36,5 40 63,5 63 100
23
Jumlah Ternak yang Dipelihara
Jumlah ternak yang dipelihara oleh peternak domba mempunyai kisaran antara 1-26 ekor, dengan rata-rata 8 ekor. Angka rata-rata pemeliharaan 8 ekor ternak termasuk relatif tinggi dan secara ekonomi sudah mendekati skala usaha ternak domba yang optimal. Relatif tingginya angka rata-rata pemeliharaan ini karena selain peternak memelihara ternak miliknya sendiri, juga memelihara ternak milik orang lain. Umumnya peternak menggunakan sistem paro. Sistem paro dimaksud adalah jika sesorang meminta seorang peternak memelihara induk, dan kemudian induk tersebut melahirkan dua cempe (anak domba), maka salah satu anaknya menjadi milik peternak, dan lainnya milik pemilik induk. Berdasarkan rata- ratanya, jumlah ternak yang dipelihara dibagi menjadi dua kategori, yakni sedikit (< 8 ekor) dan banyak (9-26 ekor). Berdasarkan kategori jumlah ternak yang dipelihara, umumnya peternak terkategori sedikit (57,1 persen) memelihara ternak domba (Tabel 4).
Tabel 4. Distribusi Peternak Berdasarkan Jumlah Ternak yang Dipelihara Dihubungkan dengan Skor Motivasi
No. Kategori Motivasi Total Kurang Termotivasi Cukup Termotivasi Termotivasi Jml % Jml % Jml % Jml % 1. Sedikit (< 8 ekor) - - 13 20,6 23 36,5 36 57,1 2. Banyak (9-26 ekor) - - 10 15,9 17 27,0 27 42,9 Jumlah - - 23 36,5 40 63,5 63 100 Lama Beternak
Lama beternak domba para peternak di Kelurahan Cimahpar mempunyai kisaran antara 1-30 tahun, dengan rata-rata 5,94 tahun. Berdasarkan rata-ratanya, kategori lama beternak para peternak dibagi menjadi dua kategori, yakni lama beternak antara 1 -5 tahun dan 6-30 tahun. Berdasarkan kategori lama beternak dapat diketahui bahwa sebanyak 77,8 % peternak telah beternak antara 1-5 tahun. (Tabel 5). Banyaknya para peternak yang terkategori lama beternak 1-5 tahun karena ada beberapa responden peternak yang baru memulai berusaha ternak domba.
Tabel 5. Distribusi Peternak Berdasarkan Lama Beternak No. Kategori Motivasi Total Kurang Termotivasi Cukup Termotivasi Termotivasi Jml % Jml % Jml % Jml % 1. 1 - 5 tahun - 0 18 28,6 31 49,2 49 77,8 2. 6 - 30 tahun - 0 5 7,9 9 14,3 14 22,2 Jumlah - 0 23 36,5 40 63,5 63 100
Jumlah Tanggungan Keluarga
Jumlah tanggungan keluarga para peternak berkisar antara 2-12 orang, dengan rata-rata 5 orang. Jumlah tanggungan keluarga peternak dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu kecil (2-5 orang) dan besar (6-12 orang). Pengelompokkan ini didasarkan pada nilai rata-rata jumlah tanggungan keluarga. Peternak yang memiliki jumlah anggota keluarga kecil sebanyak 76,2 %, sedangkan peternak yang terkategori jumlah tanggungan keluarga besar sebanyak 23,8 % (Tabel 6). Lebih banyaknya peternak yang terkategori jumlah tanggungan keluarga kecil berarti bahwa program KB di Kelurahan Cimahpar pada masa lalu cukup berhasil, walaupun belum mencapai angka jumlah anggota keluarga ideal (empat orang; ayah, ibu dan dua orang anak)
Tabel 6. Distribusi Peternak Berdasarkan Jumlah Tanggungan Keluarga Dihubungkan dengan Skor Motivasi
No. Kategori Motivasi Total Kurang Termotivasi Cukup Termotivasi Termotivasi Jml % Jml % Jml % Jml % 1. 2-5 orang - - 17 27,0 31 49,2 48 76,2 2. 6-12 - - 6 9,5 9 14,3 15 23,8 Jumlah - - 23 36,5 40 63,5 63 100
Pengetahuan Peternak tentang Informasi Pasar
Pengetahuan peternak tentang informasi pasar ternak dalam penelitian ini adalah sejauh mana para peternak mengetahui besarnya permintaan hasil ternak domba, tempat-tempat dimana peternak bisa menjual domba dan harga pasar ternak. Berdasarkan sebaran total skor pengetahuan peternak tentang informasi pasar ternak,
25 peternak dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu tidak mengetahui, cukup mengetahui dan sangat mengetahui. Peternak yang sangat mengetahui informasi pasar sebanyak 12,7 %, peternak yang cukup mengetahui informasi pasar sebanyak 74,6 % dan peternak yang tidak mengetahui informasi pasar sebanyak 12,7 % (Tabel 7). Berdasarkan persentase tersebut peternak di Kelurahan Cimahpar cukup mengetahui informasi pasar ternak. Hal ini disebabkan karena akses informasi di Kelurahan Cimahpar cukup terbuka, termasuk informasi pasar ternak.
Tabel 7. Distribusi Peternak Berdasarkan Pengetahuan Peternak tentang Informasi Pasar Ternak Dihubungkan dengan Skor Motivasi
No. Kategori Motivasi Total Kurang Termotivasi Cukup Termotivasi Termotivasi Jml % Jml % Jml % Jml % 1. Kurang Mengetahui - - - 2. Cukup Mengetahui - - 10 15,9 22 34,9 32 50,8 3. Sangat Mengetahui 13 20,6 18 28,6 31 49,2 Jumlah - - 23 36,5 40 63,5 63 100
Keterjangkauan terhadap Sarana Produksi Peternakan
Keterjangkauan terhadap Sapronak dalam penelitian ini adalah sejauh mana para peternak di Kelurahan Cimahpar mampu memenuhi kebutuhan sapronak yang meliputi pakan dan obat-obatan ternak. Berdasarkan sebaran total skor keterjangkauan terhadap Sapronak, peternak dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu sangat terjangkau, cukup terjangkau, dan tidak terjangkau. Peternak yang sangat terjangkau akan sapronak sebanyak 14,3 %, peternak yang cukup terjangkau akan saponak sebanyak 23,8 % dan peternak yang tidak terjangkau akan sapronak sebanyak 61,9 %. Berdasarkan persentase keterjangkauan sapronak tersebut dapat diketahui umumnya para peternak di Kelurahan Cimahpar tidak mampu menjangkau sapronak. Menurut para peternak di Kelurahan Cimahpar saat ini rumput agak sulit dicari mengingat banyak konversi lahan dari kebun menjadi perumahan, sedangkan harga obat-obatan semakin mahal seiring dengan adanya kenaikan harga BBM. Distribusi peternak berdasarkan keterjangkauan sapronak ditampilkan pada Tabel 8.
Tabel 8. Distribusi Peternak Berdasarkan Keterjangkauan Sapronak Dihubungkan dengan Skor Motivasi
No. Kategori Motivasi Total Kurang Termotivasi Cukup Termotivasi Termotivasi Jml % Jml % Jml % Jml % 1. Kurang Terjangkau - - - 2. Cukup Terjangkau - - 19 30,2 34 54,0 53 84,1 3. Sangat Terjangkau - - 4 6,3 6 9,5 10 15,9 Jumlah - - 23 36,5 40 63,5 63 100
Motivasi Beternak Domba
Motivasi beternak domba para peternak di Kelurahan Cimahpar secara umum terkategori sedang yang hal ini dilihat dari rataan skor seluruh indikator motivasi. Tiga indikator untuk melihat motivasi beternak domba adalah kebutuhan keberadaan, kebutuhan berhubungan dan kebutuhan untuk berkembang. Tabel 9 menyajikan tingkat motivasi beternak domba berdasarkan hasil rataan skor motivasi menurut indikator motivasi.
Tabel 9. Rataan Jumlah Skor Motivasi Beternak Domba menurut Indikator Motivasi
No. Indikator Motivasi Rataan Skor Kategori*)
1. Kebutuhan Keberadaan 50,6 Termotivasi
2. Kebutuhan Berhubungan 46,6 Cukup Termotivasi
3. Kebutuhan untuk Berkembang 48,0 Termotivasi
Total Rataan Skor 48,42 Termotivasi
Keterangan :
*) Penentuan kategori skor:
Kurang Termotivasi 20-33 Cukup Termotivasi 34-47 Termotivasi 48-60
Berdasarkan tiga indikator motivasi tersebut, petani termotivasi untuk memenuhi kebutuhan keberadaan dan kebutuhan untuk berkembang, sedangkan untuk kebutuhan berhubungan, petani terkategori cukup termotivasi. Secara keseluruhan (berdasarkan nilai rata-rata), maka dapat diketahui bahwa peternak
27 Motivasi peternak domba untuk memenuhi kebutuhan keberadaan, yaitu kepuasan peternak terhadap pendapatan yang diperoleh sebagai hasil dari usahaternak. Rataan jumlah skor motivasi kebutuhan keberadaan adalah 50,6, sehingga berdasarkan sebaran total skor, terkategori termotivasi. Hal ini menunjukkan pendapatan dari beternak domba cukup memuaskan dan memberikan kontibusi terhadap pendapatan keluarga secara keseluruhan sehingga cukup memotivasi peternak untuk beternak domba. Menurut para peternak, walaupun pendapatan dari usahaternak ini tidak rutin didapatkan setiap bulannya, tetapi mampu membantu menanggulangi kebutuhan-kebutuhan yang mendadak. Misalnya ada keluarga yang sakit, maka ternak domba dapat dijadikan andalan dan dengan mudah dapat menjualnya, walaupun penjualan dalam keadaan seperti itu lebih murah dibandingkan dengan penjualan pada Bulan Haji.
Indikator motivasi kebutuhan berhubungan, yaitu kebutuhan peternak untuk diterima dalam pergaulan di lingkungan masyarakat tempat peternak tinggal. Berdasarkan indikator motivasi kebutuhan berhubungan, peternak terkategori cukup termotivasi untuk memenuhi kebutuhan ini. Hal ini menunjukkan kebutuhan berhubungan cukup memotivasi peternak untuk beternak domba. Peternak menjaga keharmonisan dalam berinteraksi dengan masyarakat termasuk dalam beternak domba. Para peternak saling bertukar informasi atau pengalaman dalam beternak domba, saling memberitahu jika ada kesulitan terhadap suatu penyakit ternak. Saling bertukar informasi dan pengalaman menurut para peternak sangat penting mengingat peran instansi teknis, khususnya kegiatan penyuluhan peternakan di Kelurahan Cimahpar, hampir tidak pernah ada.
Motivasi peternak dalam memenuhi kebutuhan untuk berkembang, yaitu kebutuhan peternak untuk meningkatkan skala usahaternak, memperoleh penghargaan dan pengakuan dari masyarakat terhadap keberhasilan usaha ternaknya. Berdasarkan indikator kebutuhan keberadaan, peternak termotivasi untuk memenuhi kebutuhan ini. Umumnya para peternak berkeinginan untuk meningkatkan skala usahaternak saat ini. Para peternak sangat berharap agar pemerintah membantu dalam hal pendanaan, misalnya program perguliran ternak domba. Selain itu, para peternak juga berharap bantuan pendanaan disertai dengan bimbingan teknis budidaya ternak dan manajemen pemasaran, melalui kegiatan pendampingan,
pelatihan maupun penyuluhan tanpa biaya. Di sisi lain adanya penghargaan terhadap para petani yang berhasil juga memacu peternak domba untuk lebih berkembang. Sejauh ini pemerintah tidak pernah memberikan penghargaan secara formal terhadap peternak yang berhasil. Umumnya penghargaan yang didapatkan selama ini adalah non materi dalam bentuk pengakuan terhadap peternak yang berhasil, misalnya jumlah ternak yang banyak dan kondisi ternak yang terpelihara.
Hubungan Karakteristik Peternak dengan Motivasi Beternak Domba
Karakterisitik peternak yang diduga berhubungan dengan motivasi beternak domba adalah umur, pendidikan, lama beternak dan jumlah tanggungan, pengetahuan peternak tentang informasi pasar (permintaan domba) dan keterjangkauan peternak untuk memenuhi sarana produksi peternakan (sapronak), seperti pakan dan obat- obatan. Analisis hubungan antara karakterisitk peternak dengan motivasi beternak diolah dengan menggunakan analisis rank Spearman. Hasil analisis korelasi rank Spearman ditampilkan pada Tabel 10 berikut ini.
Tabel 10. Koefisien Korelasi Karakteristik Peternak dengan Motivasi Beternak Domba
Motivasi
Karakteristik Peternak
UMR PEND JTK LAMA SAPRO PSR Kebutuhan Keberadaan -0.010 0.101 0.309* -0.101 0.049 0.171 Kebutuhan untuk Berkembang -0.245 0.301* 0.040 -0.022 -0.206 0.375** Kebutuhan Berhubungan 0.296* -0.064 0.010 0.064 0.236 0.040 Keterangan :
* = Berhubungan nyata dengan taraf signifikan α = 0,05 ** = Berhubungan nyata dengan taraf signifikan α = 0,01 UMR = Umur Peternak
PEND = Tingkat Pendidikan Peternak JTK = Jumlah Tanggungan Keluarga LAMA = Lama Beternak
SAPRO = Ketersediaan dan Keterjangkauan Sapronak PSR = Pengetahuan Informasi Pasar
Hasil analisis korelasi rank Spearman seperti ditampilkan pada Tabel 10 menunjukkan bahwa kebutuhan keberadaan berhubungan nyata dengan jumlah
29 tanggungan keluarga (P < 0,05; rs = 0,309). Hal ini berarti bahwa semakin banyak
jumlah tanggungan keluarga maka akan meningkatkan motivasi peternak untuk memenuhi kebutuhan keberadaan. Kebutuhan keberadaan dalam hal ini adalah tambahan pendapatan. Rumah tangga yang memiliki anggota cukup banyak maka kebutuhannya pun semakin besar, sehingga diperlukan sumber-sumber tambahan pendapatan. Dengan demikian, usaha beternak domba menjadi alternatif sumber tambahan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga para peternak di Kelurahan Cimahpar. Hal ini sesuai dengan pendapat sebagian besar peternak bahwa berusaha ternak domba memberikan tambahan pendapatan yang cukup lumayan, selain cukup menguntungkan juga usahaternak domba sebagai usaha sambilan mudah dilakukan dan tidak menyita banyak waktu.
Hubungan antara motivasi untuk memenuhi kebutuhan berkembang dengan tingkat pendidikan peternak menunjukkan hubungan nyata (P < 0,05; rs = 0,301).
Peternak dengan pendidikan tinggi semakin besar keinginannya untuk melakukan pengembangan usahaternak. Para peternak sangat memahami bahwa pengembangan usahaternak melalui peningkatan skala usaha akan semakin memberikan peluang untuk meningkatkan pendapatan. Peternak dengan pendidikan tinggi lebih memahami dan merasa perlu bahwa usahaternak yang dikelola pada saat ini harus ada peningkatan di masa mendatang. Para peternak yang berpendidikan SLTP dan SLTA umumnya bercita-cita suatu saat dapat menjadi pengusaha peternakan besar, dan menjadikan usahaternak domba sebagai mata pencaharian utama. Kondisi ini berbeda dengan peternak yang lain yang berpendidikan rendah (tidak lulus SD), yang umumnya berpendapat bahwa usahaternak yang dijalankan pada saat ini sudah cukup, dan tidak berkeinginan untuk menambah skala usahanya, tidak juga bercita- cita menjadi seoarang pengusaha peternakan besar.
Pengetahuan informasi pasar (permintaan domba) juga berhubungan nyata dengan motivasi untuk memenuhi kebutuhan untuk berkembang (P < 0,01; rs =
0,375). Peternak yang memiliki informasi bahwa ternak domba masih banyak dibutuhkan sangat memotivasi peternak untuk melakukan pengembangan usahaternaknya. Para peternak di Kelurahan Cimahpar umumnya mengetahui pasar domba di wilayah Bogor diantaranya terdapat di dekat Komplek Good Year dan di jalan baru. Tempat-tempat tersebut ramai terutama pada Bulan Haji, karena pada
bulan tersebut permintaan domba sedang meningkat. Informasi-informasi pasar tersebut cukup menggugah semangat para peternak untuk beternak domba.
Hubungan antara motivasi untuk memenuhi kebutuhan berhubungan, yaitu kebutuhan peternak untuk diterima dalam pergaulan di lingkungan masyarakat tempat tinggalnya, dengan variabel umur menunjukkan hubungan yang nyata (P < 0,05; rs = 0,296). Hal ini berarti bahwa semakin meningkat umur peternak maka
peternak tersebut semakin memerlukan pemenuhan kebutuhan untuk diterima dalam lingkungan pergaulan tempat tinggalnya. Hal ini dapat dipahami mengingat semakin tua umur seseorang maka semakin peternak tersebut menyadari bahwa hidup itu tidak bisa sendiri, membutuhkan serta dibutuhkan oleh orang lain, terutama orang- orang di sekitar tempat tinggalnya (tetangga). Beberapa peternak di Kelurahan Cimahpar yang berusia tua mengakui merasa lebih dekat dengan tetangga yang juga sama-sama peternak domba. Rasa kedekatan tersebut muncul mengingat para peternak seringkali melakukan aktivitas dan rutinitas yang sama, misalnya ketika bersama-sama mencari rumput, berdiskusi tentang jenis penyakit ternak yang sulit diatasi dan bersama-sama ketika akan menjual domba di Bulan Haji.
31