• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Penggunaan Lahan dan Pola Tanam

Secara umum jenis penggunaan lahan yang terdapat di lokasi penelitian meliputi : sawah tadah hujan, tegalan, semak, hutan tanaman, kebun dan badan air (Tabel 13).

Tabel 13 Penggunaan lahan di DAS Sape Lombok Tengah

Penggunaan Lahan Satuan Lahan Luas Ha Persen (%) Hutan Tanaman 15,16a, 16c, 16f, 16g, 16h ,17a 17d, 25f 1.900,2 37,6 Tegalan 25b, 16c, 5b, 17c, 5d, 17b, 11a, 25d, 23 1.860,3 36,9 Sawah Tadah Hujan 10c, 25a, 5a, 22,5c, 2, 25c, 11b, 6, 10a, 10b 635,2 12,6 Kebun 25e, 16b, 16d, 14 291,3 5,8

Semak 4 83,3 1.6

Badan Air - 277,6 5,5

Total 5.048 100

Sumber: BPTP Narmada, NTB

Jenis penggunaan lahan yang paling menonjol adalah hutan tanaman yang mencapai 37,6 % dari luas lahan di DAS Sape. Penggunaan lahan ini berada pada wilayah dengan topografi 25 – 45 %. Vegetasi yang masih ada dan tumbuh baik adalah pohon jati, sengon, mahoni dan sonokeling (masih berupa tunas). Namun karena adanya tekanan kebutuhan hidup dan pertumbuhan penduduk, telah terjadi perubahan penggunaan lahan di sekitar kawasan hutan. Saat ini banyak masyarakat di sekitar kawasan hutan yang memanfaatkan hutan dengan melakukan pembukaan lahan tegalan baru; masyarakat menanam tanaman pangan (palawija), buah-buahan seperti jambu mete dan mangga serta tanaman hijauan untuk pakan ternak. Jika keadaan ini tidak dikelola dengan memperhatikan aspek konservasi, maka akan mengakibatkan berkurangnya daerah tangkapan air sehingga laju aliran permukaan/erosi akan semakin meningkat. Akibatnya adalah keseimbangan hidrologi terganggu dan produktivitas tanah menurun.

Hutan memiliki peranan penting karena memungkinkan penyerapan air melalui infiltrasi sehingga air yang mengalir pada permukaan tanah akan lebih sedikit; akibatnya banjir yang terjadi menjadi lebih sedikit. Oleh sebab itu fungsi tersebut harus tetap dipertahankan karena kerusakan yang ditimbulkan akibat

rusaknya hutan akan berdampak buruk terhadap lahan pertanian dan kehidupan masyarakat di wilayah suatu DAS.

Penggunaan lahan tegalan terdapat pada topografi 15 – 45 %; vegetasi utama yang dijumpai pada lahan tegalan adalah padi ladang varietas lokal “rau” yang umumnya ditanami pada pertengahan bulan Nopember. Setelah padi ladang, tegalan umumnya ditanami palawija yang ditanam di bawah tegakan pohon mahoni, sengon dan jati. Lahan tegalan di daerah ini merupakan lahan hutan yang dikonversi oleh masyarakat yang berada di sekitar kawasan hutan.

Sawah tadah hujan umumnya terdapat pada topografi 3 - 8 %; pola tanam yang diterapkan oleh petani di daerah ini adalah padi tadah hujan – palawija – bera. Budidaya padi tadah hujan sangat bergantung pada curah hujan, sehingga musim tanam sangat ditentukan oleh awal musim hujan. Pada pengamatan di lapangan, kebun ditanami tanaman tahunan dan semusim seperti jambu mete, pisang, mangga, palawija (ubi kayu) dan pepaya. Tanaman jenis tersebut dipilih petani karena perawatannya lebih mudah, pengolahan tanah tidak dilakukan secara intensif dan harga panen cenderung lebih stabil dibandingkan tanaman semusim. Penggunaan lahan semak didominasi oleh anakan pohon dan alang- alang dengan populasi yang jarang. Umumnya penggunaan lahan ini terdapat pada topografi curam (45 %).

Pola tanam yang terdapat di DAS sape umumnya adalah pola tanam tanaman pangan (padi dan palawija) yang mencapai 52,9 % dan pola tanam tanaman tahunan (Tabel 14).

Tabel 14 Berbagai pola tanam di DAS Sape Lombok Tengah

Pola Tanam (%) Petani Penggunaan Lahan Padi tadah hujan – palawija (A) 52,9 Sawah tadah hujan dan tegalan Tanaman tahunan + palawija 35,4 Tegalan dan kebun

Tanaman tahunan 11,7 Hutan tanaman

Sumber: Data Primer Diolah

Keterangan: Pola A: tumpangsari bersisipan antara padi + jagung//ubi kayu + kedelai/kacang hijau/kacang tanah (Basa, et.al, 1884); palawija (kedelai, kacang hijau, kacang tanah, jagung dan ubi kayu)

Dilihat dari pola tanam selama satu tahun musim tanam pada penggunaan lahan sawah tadah hujan, pola tanam petani umumnya adalah pola tanam A menurut Basa et.al (1984) yaitu tumpang sari bersisipan antara tanaman padi

dengan palawija (kedelai, kacang hijau, jagung dan kacang tanah). Pola tanam seperti ini telah berlangsung bertahun-tahun. Alasan petani menerapkan pola tanam ini karena ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, selain itu keterbatasan pilihan komoditas juga menjadi kendala dalam menentukan jenis komoditas yang akan ditanam.

Pola tanam tanaman tahunan dan palawija dengan sistem tumpang sari dan monokultur juga diterapkan pada penggunaan lahan tegalan. Tanaman pangan (palawija) yang ditanami umumnya adalah kedelai, jagung dan ubi kayu; sedangkan tanaman tahunan yang umum dibudidayakan adalah pisang, jambu mete dan mangga. Usahatani dengan pola tanam seperti ini dari aspek ekonomi lebih menguntungkan dan dari aspek konservasi sangat baik dengan syarat kerapatan dan jenis tanaman yang diusahakan beragam sehingga permukaan tanah relatif tertutup sepanjang tahun, walaupun kenyataannya tujuan utama petani adalah pemenuhan kebutuhan keluarga yang lebih beragam disamping alasan untuk meningkatkan pendapatan petani.

Pola tanam tanaman tahunan yang disisipkan dengan tanaman semusim seperti palawija (jagung, kacang tanah, kedelai dan ubi kayu) umumnya terdapat pada penggunaan lahan kebun. Jenis tanaman tahunan yang umum dijumpai adalah kelapa, jambu mete, nangka, pisang dan tanaman keras seperti sengon dan mahoni walaupun tidak dalam jumlah yang banyak. Lahan tegalan dan kebun sebelumnya merupakan hutan negara yang dialihfungsikan menjadi hutan kemasyarakatan dan hak penggunaannya diberikan kepada petani dengan maksud agar tidak terjadi penebangan liar. Untuk pola tanam tanaman tahunan, jenis tanaman yang ada adalah jati, sonokeling dan sebagian kecil mahoni; pola tanam ini berada pada penggunaan lahan hutan tanaman. Lahan hutan tanaman di wilayah DAS Sape merupakan hutan yang direboisasi oleh pemerintah pada tahun 1989 walaupun sering terjadi penebangan, dan pada tahun 2003 dilakukan penghijauan ulang.

Evaluasi Kemampuan Lahan

Evaluasi kemampuan lahan dimaksudkan untuk mengetahui potensi dan hambatan dalam penggunaan lahan yang ada di DAS Sape untuk kegiatan

pertanian secara lestari. Penggunaan lahan yang sesuai dengan kelas kemampuan lahannya merupakan salah satu tindakan konservasi yang tepat karena akan menjamin produktivitas dan kelestarian sumberdaya lahan. Hasil evaluasi dan klasifikasi kemampuan lahan di DAS Sape dijumpai kelas kemampuan II, III, IV dan VI (Tabel 15).

Tabel 15 Klasifikasi kemampuan lahan dan faktor penghambat di DAS Sape Lombok Tengah

Kelas Kemampuan

Lahan

Faktor Penghambat Satuan Lahan Luas (ha) II l1 d2 Lereng landai & drainase agak baik SL 5a, 6, 22, 10b 610,6 III l2 Lereng bergelombang SL 10c, 16c, 23, 25a 244,6 III l2 p2 Lereng bergelombang & permeabilitas

agak lambat

SL 5c, 10a, 25c 291,3 III l2 e2 Lereng bergelombang & erosi sedang SL 5b, 11a, 11b, 14 407,1 IV l3 Lereng miring SL 5d, 16b, 16e, 17a,

17c 25b, 25d, 25e

1355,4 VI l4 Lereng agak curam SL 4, 15, 16a, 16d,

16f, 16g, 16h, 17b,

17d, 25f 1.791,1 VI l4 e4 Lereng agak curam & erosi yang berat SL 2 70,3 Sumber: Data Primer Diolah

Karakteristik setiap kelas kemampuan lahan yang terdapat di lokasi pengamatan intensif dapat diuraikan sebagai berikut: lahan dengan kelas kemampuan II l1 d2 (SL 5a, 6, 10b dan 22) pada dasarnya tidak mempunyai faktor penghambat yang besar untuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian karena kemiringan lerengnya masih tergolong landai (≤ 8 %). Tingkat erosi yang terjadi masih tergolong ringan, namun demikian faktor drainase dengan kelas agak baik merupakan penghambat yang bisa mengurangi intensitas penggunaan lahan. Hal ini disebabkan pada satuan lahan ini tekstur tanahnya adalah lempung berdebu dan liat berdebu sehingga kemampuan meloloskan air agak sedikit lambat. Satuan lahan ini tetap memerlukan tindakan konservasi untuk dapat digunakan sebagai lahan pertanian yang intensif; daerah ini cocok untuk usaha tanaman pangan dengan menerapkan teknik konservasi tanah berupa pergiliran tanaman, pemakaian tanaman penutup tanah ataupun mulsa, penanaman dalam strip, pembuatan teras ataupun kombinasi dari teknik-teknik konservasi tersebut. Selain

itu penambahan bahan organik seperti pemberian pupuk kandang, pupuk hijauan lainnya dapat dilakukan agar produktivitas tanah dapat terus dipertahankan.

Lahan dengan kelas kemampuan III l2 p2 (SL 5c, 10a dan 25c) mempunyai faktor pembatas lereng yang bergelombang (12 – 13 %) dan permeabilitas agak lambat. Satuan lahan lahan tersebut belum mempunyai hambatan yang terlalu berat dalam pemanfaatannya untuk pertanian tanaman pangan. Hambatan permeabilitas dapat ditekan dengan penambahan bahan organik dan perbaikan drainase melalui pembuatan bedengan terutama pada pola tanam palawija. Pada lahan dengan kelas kemampuan III l2 (SL 10c, 16c, 23 dan 25a) memiliki faktor pembatas lereng yang bergelombang (10 – 15 %); dan kelas III l2 e2 ( SL 5b, 11a, 11b dan 14), disamping faktor pembatas lereng yang bergelombang (8 – 22 %), faktor pembatas erosi dengan tingkat sedang juga merupakan hambatan yang cukup berat. Pada satuan lahan 14, erosi terjadi karena pengelolaan lahannya tidak dilakukan secara baik; pada satuan lahan ini tidak dilakukan pembuatan teras atau guludan, tetapi hanya menerapkan sistem konturing dengan penanaman yang jarang. Untuk memanfaatkan lahan ini diperlukan pengelolaan yang baik melalui pembuatan guludan atau teras, pergiliran tanaman, penanaman dalam strip dan penggunaan tanaman penutup tanah.

Pada lahan kelas IV l3 (SL 5d, 16b, 16e, 17a, 17c 25b, 25d, 25e) terdapat kendala pemanfaatan lahan berupa lereng yang miring (22 – 35 %). Lahan dengan pembatas seperti ini mempunyai penghambat yang berat dan membatasi pilihan tanaman yang diusahakan. Lahan ini memerlukan pengelolaan yang hati-hati karena mempunyai potensi erosi yang cukup besar. Dengan faktor penghambat ini, pilihan penggunaan lahan dan tanaman menjadi terbatas yaitu untuk budidaya tanaman semusim dan tahunan tetapi tidak intensif yang memerlukan tingkat pengelolaan yang tinggi dan bersifat khusus seperti penerapan teras, rotasi tanaman, konturing, penanaman tanaman penutup tanah, makanan ternak, pupuk hijau ataupun kombinasi dari beberapa teknik konservasi tersebut .

Lahan kelas VI l4 (SL 2, 4, 15, 16a, 16d, 16f, 16g, 16h, 17b, 17d, 25f) mempunyai faktor pembatas lereng yang agak curam (30 – 45%), satuan lahan ini terletak di bagian hulu DAS Sape dengan penggunaan lahan kebun dan hutan tanaman dengan potensi erosi yang besar. Pada satuan lahan ini, penggunaan

lahan kebun campuran dengan tajuk yang jarang beresiko tinggi terhadap kelestarian produktivitas lahan. Selain itu penggunaan lahan untuk kebun monokultur dan semak tidak memungkinkan karena sangat berisiko tinggi terjadi erosi. Secara umum, lahan dengan kelas ini tidak cocok untuk usaha pertanian intensif maupun sedang. Namun demikian lahan ini dapat diperuntukkan sebagai hutan alami, hutan produksi, hutan tanaman atau agroforestry disertai dengan perlakuan konservasi secara khusus baik sistem pengelolaan tanah maupun pengelolaan tanamannya. Selain itu untuk lebih meningkatkan fungsi ekonomi, dapat dilakukan penanaman rumput untuk tanaman penutup yang produksinya dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak. Hal ini dimungkinkan karena populasi ternak dan kepemilikan ternak khususnya ternak besar cukup banyak di daerah ini. Untuk lahan dengan kelas kemampuan VI l4 e4 (SL 2) mempunyai faktor pengambat yang terberat yaitu lereng yang agak curam (40 %) dan erosi dengan tingkat yang sangat berat. Erosi yang berat ini ditandai dengan tipisnya solum tanah di lapangan yang hanya mencapai 40 cm. Dengan faktor pembatas ini, satuan lahan pada kelas kemampuan lahan ini mempunyai pilihan penggunaan lahan yang sangat terbatas.

Evaluasi Penggunaan Lahan

Untuk mengetahui kesesuaian penggunaan lahan dilakukan evaluasi penggunaan lahan dan dengan berbagai pola tanam yang ada berdasarkan pedoman intensitas faktor pembatas dan arahan penggunaan lahan yang disesuaikan dengan kelas kemampuan lahan yang dimiliki. Hasil evaluasi penggunaan lahan di DAS Sape disajikan pada Tabel 16.

Tabel 16 menunjukkan bahwa lahan dengan kelas kemampuan II yang digunakan untuk sawah tadah hujan (SL 5a, 6, 22 dan 10b) dapat dikatakan sesuai dengan arahan penggunaan lahannya yaitu kegiatan pertanian intensif. Walaupun demikian penggunaan lahan ini tetap memiliki faktor penghambat yang dapat mengurangi pilihan atau alternatif tanaman yang diusahakan seperti lereng yang landai dan drainase yang agak baik.

Tabel 16 Hasil evaluasi penggunaan lahan aktual dengan kelas kemampuan lahan di DAS Sape Lombok Tengah

KKL Penggunaan Lahan Aktual

Pola Tanam EPL Faktor Penghambat Luas (ha) II Sawah tadah

hujan

Pola A (padi gogo – palawija) Sesuai Lereng landai, drainase agak baik 564,7

III

Tegalan Pola A (padi gogo + palawija) Sesuai Lereng bergelombang, erosi sedang dan permeabilitas agak lambat

1.011,3

Kebun Tanaman tahunan + palawija Sesuai Lereng bergelombang dan erosi sedang 210,6

IV

Hutan tanaman Tanaman tahunan Sesuai Lereng miring 149

Tanaman tahunan + Palawija Sesuai Lereng miring 452,6

Kebun Tanaman tahunan + Palawija Sesuai Lereng miring 166,9

Tegalan Palawija + Tanaman tahunan sesuai Lereng miring 236,7

VI

Kebun

Tanaman tahunan + palawija Tidak sesuai Lereng curam 368,4

Tanaman tahunan (jarang) + semak Tidak sesuai Lereng curam 548,1

Kebun monokultur (jarang) Tidak sesuai Lereng curam 242,4

Hutan tanaman Hutan alami Sesuai Lereng curam 98,1 Semak Semak dan anakan tegakan pohon Tidak sesuai Lereng curam 83,2 Sawah tadah

hujan

Pola A (padi gogo – palawija) Tidak sesuai Lereng curam dan erosi sangat berat 70,3

Sumber: Data Primer Diolah

KKL; kelas kemampuan lahan; EPL: evaluasi penggunaan lahan; Pola A: tumpangsari bersisipan antara padi + jagung//ubi kayu + kedelai/kacang hijau/kacang tanah (Basa, et.al, 1884); Palawija (kedelai, kacang hijau, jagung, kacang tanah, ubi kayu), tanaman tahunan (jati, mete, sengon, mahoni, pisang, mangga, nangka).

Lahan pada kelas kemampuan III dengan penggunaan lahan tegalan (SL 5b, 5c, 5d, 25c dan 14) masih sesuai dengan arahan penggunaan lahan untuk kelas kemampuan lahan yang dimiliki. Walaupun demikian, pada penggunaan lahan ini masih belum diterapkan praktek konservasi yang memadai; hal ini akan memungkinkan terjadinya erosi yang berakibat pada menurunnya produktivitas lahan. Demikian juga penggunaan lahan kebun yang berada pada kelas kemampuan ini secara umum masih sesuai dengan arahan penggunaan lahan dan kelas kemampuan yang dimiliki walaupun erosi yang terjadi berada pada tingkat yang sedang.

Pada lahan dengan kelas kemampuan lahan IV, penggunaan lahan yang dijumpai adalah hutan tanaman, kebun dan tegalan. Secara umum bentuk penggunaan lahan ini telah sesuai dengan potensi pada kelas kemampuan lahannya yaitu pertanian dengan intensitas yang tebatas untuk tanaman semusim. Penggunaan lahan seperti sawah tadah hujan, kebun dan semak tidak sesuai dengan arahan penggunaan untuk kelas kemampuan lahan VI; sedangkan untuk penggunaan lahan hutan pada kelas kemampuan ini sesuai dengan arahan penggunaan lahannya. Lahan dengan kelas kemampuan VI tidak disarankan untuk kegiatan pertanian intensitas sedang ataupun intensif; usaha budidaya dengan sistem monokultur dan tajuk yang jarang pada lahan dengan kelas kemampuan VI akan sangat membahayakan keberlanjutan produktivitas lahan.

Secara umum sebanyak 54,4 % penggunaan lahan dengan total luas 1.312,4 ha di DAS Sape masih belum sesuai dengan kemampuan lahan yang dimiliki. Oleh sebab itu untuk mencapai tujuan pertanian yang berkelanjutan di DAS Sape maka harus dilakukan perubahan bentuk penggunaan lahan pada lahan yang tidak sesuai dengan kelas kemampuan lahannya. Penggunaan lahan yang perlu dilakukan perubahan adalah sawah tadah hujan, semak, kebun monokultur serta hutan tanaman dengan semak yang berada pada kelas kemampuan lahan VI. Bentuk perubahan penggunaan lahan yang dapat dilakukan yaitu menjadi hutan ataupun hutan campuran yang merupakan kombinasi tanaman bernilai ekonomi tinggi dengan sistem agroforestry.

Peng. tanah

Perencanaan Pertanian Berkelanjutan

Untuk mewujudkan pertanian yang berkelanjutan, maka harus dilakukan evaluasi dan prediksi erosi serta analisis usahatani pada pola tanam yang ada. Hal ini di lakukan untuk mengetahui apakah pola tanam yang ada menghasilkan erosi yang lebih kecil dari erosi yang dapat ditoleransi (ETol) serta menghasilkan pendapatan yang tinggi dan mampu menjamin kesejahteraan hidup petani.

Prediksi Erosi

Hasil prediksi erosi menunjukkan bahwa hampir semua jenis pola tanam di DAS Sape menghasilkan erosi yang lebih besar dari erosi yang dapat ditoleransi (Tabel 17; Lampiran 21). Gambaran pola tanam yang yang dianalisis untuk prediksi erosi disajikan pada Gambar 3.

0 50 100 150 200 250 300 350

Agu Sep Okt Nop Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul

C u ra h H u ja n (mm) Palawija

Peng. tanah Padi tadah hujan Kedelai/KH/KT

Tanaman tahunan Pola tanam A

Tanaman tahunan + palawija

Ubi kayu

Tanaman tahunan

Pisang Tanaman tahunan

Kebun monokultur

Tabel 17 Hasil prediksi erosi dan perbandingannya dengan ETol pada berbagai pola tanam di DAS Sape Lombok Tengah

Pola Tanam Satuan Lahan Prediksi Erosi

(ton/ha/th)

ETol (ton/ha/th) Pola tanam A 2, 5a, 5b, 6, 5c, 10a, 10b, 10c,

11b, 16c 22, 23, 25a, 25c, 25b

3,9 – 420,6 40,2 – 81,1 Tanaman tahunan+palawija-bera 5d, 11a, 14, 16b, 16d, 16e, 16g,

17b, 25d

39,3 – 649,2 20,2–49,5 Tanaman tahunan (jarang)+

semak

16a, 16f, 16h, 17a, 17c, 17d, 25f 91,6 – 4915 29,7 – 59,7

Pisang monokultur (jarang) 25e 1650,6 34,5

Semak dan anakan tegakan pohon

4

6584,2 50,5

Hutan alami 15 37,4 53,8

Sumber: Data Primer Diolah

Pola A: tumpangsari bersisipan antara padi + jagung//ubi kayu + kedelai/kacang hijau/kacang tanah (Basa, et.al, 1884); Palawija (kedelai, kacang hijau, jagung, kacang tanah, ubi kayu), tanaman tahunan (jati, mete, sengon, mahoni, pisang, pepaya).

Prediksi erosi pada penggunaan lahan sawah tadah hujan dan tegalan dengan pola tanam tumpang sari bersisipan antara padi + palawija (Pola tanam A) dan palawija + tanaman tahunan menghasilkan erosi yang lebih besar dari erosi yang dapat ditoleransi, kecuali pada satuan lahan 5a, 22, 10a, 10b dan 25c. Tingginya prediksi erosi pada pola tanam tersebut lebih disebabkan karena penerapan teknik konservasi yang kurang memadai. Di daerah ini awal musim hujan hujan cenderung terlambat dengan intensitas dan distribusi yang tidak merata; untuk menghemat waktu tanam, petani biasanya melakukan pengolahan tanah dengan cara membongkar sebelum musim hujan. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada pertengahan bulan Oktober hingga akhir bulan Nopember, sehingga pada awal musim hujan lahan dapat langsung ditanam dengan sistem “gogo rancah”. Akan tetapi dalam aplikasinya teknologi ini sangat beresiko. Dengan dilakukannya pembongkaran tanah maka dekomposisi bahan organik tanah akan lebih cepat dan intensif sehingga kadar bahan organik akan menurun, akibatnya kekuatan ikat antar partikel semakin lemah; akibat selanjutnya adalah butir hujan akan mempermudah dispersi partikel tanah sehingga mempercepat terjadinya erosi. Kondisi ini diperparah oleh karakteristik lahan yang berbukit dan curam serta mempunyai kepekaan tanah terhadap erosi yang cukup tinggi. Selain itu, kurangnya pengetahuan dan pemahaman petani tentang pelestarian sumberdaya lahan serta keterbatasan sumber modal untuk menerapkan tindakan

konservasi juga menjadi faktor yang berperan terhadap permasalahan erosi yang terjadi.

Nilai prediksi erosi pada pola tanam palawija + tanaman tahunan yang diberakan setelah palawija (SL 17b dan 25d) jauh lebih besar dibandingkan erosi yang dapat ditoleransi. Permukaan tanah yang terbuka dalam jangka waktu lama menyebabkan energi kinetik hujan lebih besar, sehingga menyebabkan erosi percikan pada permukaan tanah. Selain itu dengan semakin besarnya kemiringan dan panjang lereng mengakibatkan kecepatan aliran permukaan meningkat sehingga kekuatan air membawa partikel tanah semakin besar. Demikian juga dengan pola tanam tanaman tahunan + palawija, secara umum menghasilkan prediksi erosi yang lebih besar dari erosi yang dapat ditoleransi. Pada pola tanam ini hanya satuan lahan 16g yang masih mempunyai prediksi erosi yang lebih kecil dari erosi yang dapat ditoleransi. Hal ini karena pengelolaan tanaman dan teknik konservasi tanah yang diterapkan cukup baik, dengan demikian prediksi erosi yang diperoleh lebih kecil dari erosi yang dapat ditoleransi.

Pola tanam monokultur (SL 25e) juga mengakibatkan erosi yang lebih besar dari erosi yang dapat ditoleransi. Prediksi erosi yang tinggi terjadi disamping karena faktor kemiringan lahan juga disebabkan karena tanaman yang dibudidaya mempunyai tajuk yang jarang serta tanpa penutup tanah sehingga mengakibatkan air hujan yang lolos dari tajuk tanaman lebih banyak, dengan demikian erosi akan lebih besar. Selain itu pada satuan lahan 25e hanya menerapkan konturing dan teras sederhana sehingga efektivitas dalam menekan laju erosi rendah. Pengelolaan yang tidak intensif pada satuan lahan ini disebabkan karena petani tidak mengetahui jenis komoditas yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, sehingga tujuan utama penanaman hanya sebagai tanaman sampingan. Oleh karena itu pola tanam dan agroteknologi yang ada dapat dipertahankan jika pengelolaan tanaman berorientasi intensif dan meningkatkan keragaman tanaman yang diusahakan terutama tanaman yang bernilai ekonomi tinggi.

Pola tanam tanaman tahunan + semak, semak dan anakan tegakan pohon (SL 16a, 16f, 16h, 17a, 17c,17d, 25f dan 4) mengakibatkan erosi yang jauh di atas erosi yang dapat ditoleransi. Hal ini mengindikasikan bahwa faktor panjang dan

kemiringan lereng (LS) sangat berpengaruh terhadap erosi. Secara umum erosi akan meningkat dengan bertambahnya kemiringan lereng, dan peningkatan ini sifatnya eksponensial (Arsyad, 2000). Selain itu faktor CP juga berpengaruh terhadap besarnya erosi yang terjadi, pada satuan lahan tersebut nilai faktor CP yang dimiliki tergolong tinggi oleh karena sistem pengelolaan tanaman dan teknik konservasi tanah yang diterapkan tidak mendukung untuk menekan laju erosi.

Kenyataan ini mengindikasikan bahwa sebagian besar pola tanam dan agroteknologi yang diterapkan petani di DAS Sape Lombok Tengah masih belum memperhatikan aspek kelestarian sumberdaya lahan sehingga erosi yang terjadi lebih besar dibandingkan dengan erosi yang dapat ditoleransi. Erosi yang timbul menyebabkan penurunan kesuburan tanah. Lapisan tanah yang subur dan berada pada lapisan atas (top soil) akan terbawa oleh aliran permukaan sehingga unsur hara dan bahan organik yang terkandung di dalamnya akan hilang. Hal ini mengakibatkan penurunan produktivitas lahan dan meningkatnya lahan kritis. Dengan demikian pola tanam yang ada tidak dapat dipertahankan, oleh karena itu harus dicari alternatif pola tanam dan agroteknologi yang tidak membahayakan kelestarian sumberdaya lahan.

Perubahan dan perbaikan pola tanam serta teknik konservasi yang akan diterapkan dalam bentuk agroteknologi harus sesuai dengan kelas kemampuan lahan serta mempertimbangkan faktor ekonomi dan sosial masyarakat; agroteknologi yang akan direkomendasikan harus dapat memberikan keuntungan dan dapat diterima sesuai dengan tingkat pengetahuan petani yang akan menerapkannya. Untuk pola tanam yang mempunyai tingkat erosi yang lebih kecil dari erosi yang dapat ditoleransi dapat dipertahankan dengan perbaikan agroteknologi sehingga produktivitas lahan dan pendapatan petani meningkat.

Penerapan teknik konservasi tanah sangat berperan dalam mencegah terjadinya degradasi lahan. Petani di DAS Sape sebagian besar menyatakan belum memahami faktor utama penyebab kerusakan lahan (72 %) walaupun di lahan mereka telah diterapkan teknologi teras sederhana dan pemberian mulsa. Sebagian

Dokumen terkait