Hasil pengamatan dan daftar sidik ragam persentase keberhasilan okulasi 3 minggu setelah okulasi disajikan pada lampiran 1 – 3. Berdasarkan sidik ragam tersebut terlihat bahwa perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000), perlakuan mata entres, dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata pada persentase keberhasilan okulasi.
Rataan persentase keberhasilan okulasi dari perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000) dan perlakuan mata entres dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Rataan persentase keberhasilan okulasi (%) pada perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000) dan perlakuan mata entres.
Persentase keberhasilan okulasi (%)
Batang bawah Mata entres Rataan
E1 = IRR104 E2 = IRR 39 E3 = IRR 72
B0 = PEG 0 % 66,67 88,89 94,44 83,33
B1 = Konsentrasi PEG 15 % 61,11 72,22 77,78 70,37
B2 = Konsentrasi PEG 30 % 61,11 83,33 88,89 77,78
B3 = Konsentrasi PEG 45 % 72,22 55,56 72,22 66,67
Rataan 65,28 75,00 83,33 74,54
Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000), perlakuan mata entres, dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata pada persentase keberhasilan okulasi di lapangan. Pada perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000), dimana rataan persentase keberhasilan okulasi tertinggi pada perlakuan B0 (PEG 0 %) yaitu sebesar 83,33 %, dan B2 (Konsentrasi PEG 15 %)
0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 80,00 90,00 B0 B1 B2 B3 K e be r ha si la n O kul a si ( % ) Batang Bawah
yaitu sebesar 70,37 %. Pada perlakuan mata entres, rataan persentase keberhasilan okulasi tertinggi pada perlakuan E3 (IRR 72) yaitu sebesar 83,33 %, diikuti oleh E2 (IRR 39) yaitu sebesar 75,00 % dan rataan terendah terdapat pada perlakuan E1 (IRR 104) yaitu 65,28 %.
Grafik rataan persentase keberhasilan okulasi terhadap bibit batang bawah karet yang telah diberi perlakuan benih tertera pada Gambar 1.
Gambar 1. Hubungan antara persentase keberhasilan okulasi pada perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000).
Dari Gambar 1 dapat dilihat bahwa pengaruh bibit batang bawah karet yang telah diberi perlakuan benih memberikan pengaruh yang berbeda pada setiap perlakuan. Hal ini dapat dilihat dari rataan persentase keberhasilan okulasi tertinggi pada perlakuan B0 (PEG 0 %) yaitu sebesar 83,33 %, B2 (Konsentrasi PEG 15 %) yaitu sebesar 70,37 % dan terendah B3 (Konsentrasi PEG 45 %) yaitu 66,76 %. Namun bibit batang bawah karet yang telah diberi perlakuan benih memberikan pengaruh tidak nyata terhadap persentase keberhasilan okulasi. Hal ini disebabkan tingginya daya kompatibilitas antara batang bawah dengan batang
0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 80,00 90,00 E1 E2 E3 K e be r ha si la n O kul a si ( % ) Entres
atas, yang diawali oleh pembentukan kalus, sampai membentuk jaringan yang baru yaitu xilem dan floem hal ini didukung oleh Darikova, dkk., (2011) dimana kompatibilitas batang bawah dan batang atas disebabkan kesesuaian pada okulasi yang menunjukkan hubungan jaringan vaskular, kesinambungan pembuluh yang baik dan adaptasi floem yang baik. Dan perpaduan jaringan vaskular dapat mendorong kelancaran aliran mineral, nutrisi dan mengasimilasi aliran dalam tanaman.
Grafik rataan persentase keberhasilan okulasi terhadap mata entres tertera pada Gambar 2.
Gambar 2. Hubungan antara persentase keberhasilan okulasi pada perlakuan mata entres
Dari Gambar 2 tersebut dapat dilihat bahwa mata entres memberikan pengaruh yang tidak nyata pada seluruh perlakuan. Hal ini dapat dilihat dari rataan persentase keberhasilan okulasi tertinggi pada perlakuan E3 (IRR 72) yaitu sebesar 83,33 %, diikuti oleh E2 (IRR 39) yaitu sebesar 75,00 % dan rataan terendah terdapat pada perlakuan E1 (IRR 104) yaitu 65,28 %. Faktor keberhasilan okulasi disebabkan banyak hal diantaranya daya gabung yang baik dari batang atas, cara penyambungan, suhu lingkungan, kadar air tanah dan
kondisi tanaman, aktifitas pertumbuhan batang bawah, keterampilan pelaksana, serangan hama, penyakit, dan virus. Pada saat pelaksanaan okulasi terjadi kondisi suhu yang kritis pada bulan Maret yakni antara 280-350 C, yakni pada umumnya kondisi yang ideal pada saat kambium batang bawah dan mata entres bertemu adalah 12,8 – 320 C (Webster and Paarkooper, 1990) dengan demikian tingginya transpirasi tanaman yang mengakibatkan pertautan batang atas dan batang bawah oleh kambium dan jaringan vaskular menjadi terhambat, dan juga menjadi salah satu penyebab terjadinya perbedaan keberhasilan okulasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sagay dan Omakhafe (1997) dalam Lasminingsih, dkk., (2006) mengatakan bahwa faktor keberhasilan okulasi, ditentukan oleh umur batang bawah, faktor lingkungan, waktu okulasi dan kemampuan dari okulator. Apabila faktor tersebut telah terpenuhi, maka faktor lain yang berpengaruh adalah tingkat kesesuaian antara batang bawah dan batang atas. Pada penelitian sebelumnya oleh International Centre For Research In Agroforestry (ICRAF), 2001 dalam “Okulasi langsung dengan entres klon pada tanaman anakan karet di lapangan” diperoleh keberhasilan okulasi 50 %, dengan demikian okulasi yang dilakukan pada bibit batang bawah yang telah mendapat perlakuan PEG menunjukkan kemampuan adaptasi yang baik.
Kecepatan Mata Okulasi Melentis (hari)
Hasil pengamatan dan daftar sidik ragam kecepatan mata okulasi melentis 5-6 minggu setelah okulasi disajikan pada lampiran 4 – 6. Berdasarkan sidik ragam tersebut terlihat bahwa perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000), perlakuan mata
entres, dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata pada kecepatan mata okulasi melentis.
Rataan kecepatan mata okulasi melentis dari perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000) dan perlakuan mata entres dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Rataan kecepatan mata okulasi melentis (hari) pada perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000) dan perlakuan mata entres.
Kecepatan mata okulasi melentis (%/etmal)
Batang bawah Mata entres Rataan
E1 = IRR104 E2 = IRR 39 E3 = IRR 72
B0 = PEG 0 % 4,00 4,00 5,22 4,41
B1 = Konsentrasi PEG 15 % 3,72 1,83 4,44 3,33 B2 = Konsentrasi PEG 30 % 4,06 3,06 4,11 3,74 B3 = Konsentrasi PEG 45 % 5,33 3,11 3,11 3,85
Rataan 4,28 3,00 4,22 3,83
Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000), perlakuan mata entres, dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata pada kecepatan mata okulasi melentis di lapangan. Pada perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000), dimana rataan kecepatan mata okulasi melentis tertinggi pada perlakuan B0 (PEG 0 %) yaitu sebesar 4,41 %/etmal, diikuti oleh B3 (Konsentrasi PEG 45 %) yaitu sebesar 3,85 %/etmal. Pada perlakuan mata entres, rataan kecepatan mata okulasi melentis tertinggi pada perlakuan E1 (IRR 104) yaitu sebesar 4,28 %/etmal, diikuti oleh E3 (IRR 72) yaitu sebesar 4,22 %/etmal dan rataan terendah terdapat pada perlakuan E2 (IRR 39) yaitu 3,00 %/etmal.
Grafik rataan kecepatan mata okulasi melentis terhadap bibit batang bawah karet yang telah diberi perlakuan benih tertera pada Gambar3.
0,00 0,50 1,00 1,50 2,00 2,50 3,00 3,50 4,00 4,50 5,00 B0 B1 B2 B3 K ecep a ta n M el en ti s (% /et ma l) Batang Bawah
Gambar 3. Hubungan antara kecepatan mata okulasi melentis pada perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000).
Dari Gambar 3 dapat dilihat bahwa adanya perbedaan kecepatan mata okulasi melentis pada setiap perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000). Hal ini dapat dilihat dari rataan kecepatan mata okulasi melentis tertinggi pada tertinggi pada perlakuan B0 (PEG 0 %) yaitu sebesar 4,41 %/etmal, diikuti oleh B3 (Konsentrasi PEG 45 %) yaitu sebesar 3,85 %/etmal dan terendah pada B1(Konsentrasi PEG 15 %) yaitu sebesar 3,33. Hasil analisis data penelitian secara statistik menunjukkan bahwa perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000) tidak berpengaruh nyata terhadap kecepatan mata okulasi melentis. Bibit batang bawah karet yang telah diberi perlakuan benih mengindikasikan bahwa batang bawah mempunyai kemampuan yang tinggi untuk berpadu dengan batang atas, batang bawah mampu melakukan perannya sebagai pengarbsorbsi unsur hara dan mengakumulasikannya dalam batang atas sehingga hubungan yang kompatibel ini
memacu untuk menstimulasi pertumbuhan tunas hal ini sesuai dengan pernyataan Boerhendhy (1992), Toruan dkk., (1999) dalam Lizawati (2002) bahwa tingkat kompatibilitas pada okulasi tanaman karet berguna sangat penting dalam proses translokasi senyawa anorganik dari batang bawah melalui jaringan ikat pembuluh kayu dan translokasi senyawa organik dari batang atas melalui jaringan ikat pembuluh kulit kayu. Proses biosintesis senyawa organik dan pengangkutan unsur hara pada okulasi karet yang kompatibel akan bejalan lancar.
Grafik rataan kecepatan mata okulasi melentis terhadap mata entres tertera pada Gambar 4.
Gambar 4. Hubungan antara kecepatan mata okulasi melentis pada perlakuan mata entres.
Dari Gambar 4 tersebut dapat dilihat bahwa mata entres memberikan pengaruh yang berbeda pada setiap perlakuan. Hal ini dapat dilihat dari rataan kecepatan mata okulasi melentis tertinggi pada E1 (IRR 104) yaitu sebesar 4,28 %/etmal, diikuti oleh E3 (IRR 72) yaitu sebesar 4,22 %/etmal dan rataan terendah terdapat pada perlakuan E2 (IRR 39) yaitu 3,00 %/etmal. E1 (IRR 104) yang merupakan klon anjuran penghasil lateks diduga memiliki metabolisme yang hampir sama dengan klon batang bawah PB 260, hal ini dapat menjadi penyebab
0,00 0,50 1,00 1,50 2,00 2,50 3,00 3,50 4,00 4,50 E1 E2 E3 k ecep a ta n mel en ti s (% /et ma l) Entres
E1 merupakan mata entres dengan rataan tertinggi terhadap kecepatan mata okulasi melentis batang atas akan mampu tumbuh dan berkembang dengan baik. Ketidaksesuaian anatomi antara batang atas dengan batang bawah menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme, Hal ini juga dinyatakan dalam Toruan-Mathius dkk. (1999) dalam Lizawati (2002) bahwa dalam okulasi unsur hara dan air menyebabkan cekaman kekeringan pada batang atas. Gangguan ini disebabkan terjadinya pertautan jaringan ikat pembuluh kayu maupun ikatan pembuluh kulit kayu yang kurang harmonis menyebabkan timbulnya lapisan sel-sel kulit batu, anatomi kulit batang daerah pertautan pada kombinasi okulasi tanaman karet yang inkompatibel sehingga terjadi penyambungan batang yang tidak mulus dan pada daerah floem terjadi pembentukan sel batu yang lebih banyak.
Persentase Okulasi Bertunas (%)
Hasil pengamatan dan daftar sidik ragam persentase okulasi bertunas 8 minggu setelah okulasi disajikan pada lampiran 7 – 9. Berdasarkan sidik ragam tersebut terlihat bahwa perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000), perlakuan mata entres, dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata pada persentase okulasi bertunas.
Rataan persentase okulasi bertunas dari perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000) dan mata entres dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Rataan persentase okulasi bertunas (%) pada perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000) dan perlakuan mata entres.
Persentase okulasi bertunas (%)
Batang bawah Mata entres Rataan
E1 = IRR104 E2 = IRR 39 E3 = IRR 72
B0 = PEG 0 % 44,44 72,22 83,33 66,67
B1 = Konsentrasi PEG 15 % 44,44 44,44 61,11 50,00
B2 = Konsentrasi PEG 30 % 55,56 61,11 72,22 62,96
B3 = Konsentrasi PEG 45 % 61,11 50,00 55,56 55,56
Rataan 51,39 56,94 68,06 58,80
Dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000), perlakuan mata entres, dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata pada persentase okulasi bertunas di lapangan. Pada perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000), dimana rataan persentase okulasi bertunas tertinggi pada perlakuan B0 (PEG 0 %) yaitu sebesar 66,67 %, diikuti oleh B2 (Konsentrasi PEG 15 %) yaitu sebesar 62,96 %. Pada perlakuan mata entres, rataan persentase okulasi bertunas tertinggi pada perlakuan E3 (IRR 72) yaitu sebesar 68,06 %, diikuti oleh E2 (IRR 39) yaitu sebesar 56,94 % dan rataan terendah terdapat pada perlakuan E1 (IRR 104) yaitu 51,39 %.
Grafik rataan persentase okulasi bertunas terhadap bibit batang bawah karet yang telah diberi perlakuan benih tertera pada Gambar 5.
Gambar 5. Hubungan antara persentase okulasi bertunas pada perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000).
Dari Gambar 5 tersebut dapat dilihat bahwa pengaruh bibit batang bawah karet yang telah diberi perlakuan benih memberikan pengaruh yang berbeda pada setiap perlakuan. Hal ini dapat dilihat dari rataan persentase okulasi bertunas tertinggi pada perlakuan B0 (PEG 0 %) yaitu sebesar 66,67 %, diikuti oleh B2 (Konsentrasi PEG 15 %) yaitu sebesar 62,96 %.rataan terendah pada B1 (Konsentrasi PEG 15 %) yaitu sebesar 50,00 %. Namun bibit batang bawah karet yang telah diberi perlakuan benih memberikan pengaruh tidak nyata terhadap persentase okulasi bertunas. Perlakuan benih pada sumber bibit batang bawah karet tidak lagi memberikan pengaruh terhadap okulasi. Karena PEG hanya berpengaruh pada saat penyimpanan benih yang menjadi sumber batang bawah namun dari analisis data dapat dilihat bahwa bibit batang bawah karet yang telah mendapat perlakuan benih dapat berinteraksi dengan batang atas dengan baik dan tidak berbeda bila dibandingkan dengan bibit batang bawah tanpa perlakuan PEG (0%). Hal ini menunjukkan bahwa terjadi produksi jaringan parenkim yang
0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 B0 B1 B2 B3 P ers en ta se b ert u n a s (% ) Batang Bawah
mendukung penggabungan batang bawah dan batang atas pada daerah kambium. Hal ini sesuai dengan Barus dan Syukri (2008) yang meyatakan bahwa jaringan parenkim memiliki kloroplas dan berbentuk poligonal dengan banyak ruang antarsel untuk pertukaran udara. Selain membentuk jaringan sederhana, sel parenkim merupakan komponen dari dua jaringan kompleks, yaitu xilem dan floem. Proses penyatuan antara batang bawah dan batang atas pada penyambungan tanaman terdiri dari empat tahapan yaitu: produksi jaringan parenkim yang disebabkan penggabungan batang bawah dan batang atas pada daerah kambium, sel-sel parenkim saling bergabung dan mengikat, dilanjutkan dengan penggabungan sel-sel parenkim yang kemudian menjadi sel kambium baru yang berhubungan dengan jaringan kambium dasar batang bawah dan batang atas. Produksi vaskular baru yang disebabkan oleh jaringan parenkim berperan dalam kelancaran aliran air dan unsur hara dari batang bawah kebagian atas.
Grafik rataan persentase okulasi bertunas terhadap mata entres tertera pada Gambar 6.
Gambar 6. Hubungan antara persentase okulasi bertunas pada perlakuan mata entres. 0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 80,00 E1 E2 E3 P ers en ta se b ert u n a s (% ) Entres
Dari Gambar 6 tersebut dapat dilihat bahwa mata entres memberikan pengaruh yang berbeda pada setiap perlakuan. Hal ini dapat dilihat dari rataan persentase okulasi bertunas tertinggi pada perlakuan E3 (IRR 72) yaitu sebesar 68,06 %, diikuti oleh E2 (IRR 39) yaitu sebesar 56,94 % dan rataan terendah terdapat pada perlakuan E1 (IRR 104) yaitu 51,39 %. Namun mata entres memberikan pengaruh tidak nyata terhadap persentase okulasi bertunas. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya masa dormansi yang berbeda pada setiap mata tunas dalam tiap jenis entres sehingga menimbulkan adanya kegagalan dalam proses munculnya tunas setelah mata tunas dinyatakan melentis, sifat dormansi pada mata entres juga menyebabkan keterlambatan terbentuknya tunas. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sunarjono (2000) dalam Nurhasanah (2003) yang menyatakan bahwa entres yang dorman dikaitkan dengan kondisi dorman entres pada pohon induknya. Entres yang masih tidur atau dorman akan lambat dalam proses pertautan antara batang bawah dan batang atas dan memicu terjadinya kesulitan dalam terbentuknya tunas.
Panjang Tunas (cm)
Hasil pengamatan dan daftar sidik ragam panjang tunas 8, 10, dan 12 minggu setelah okulasi disajikan pada lampiran 10 – 15. Berdasarkan sidik ragam tersebut terlihat bahwa perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000), perlakuan mata entres, dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata pada panjang tunas.
Rataan panjang tunas dari perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000) dan mata entres dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Rataan panjang tunas (cm) pada perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000) dan perlakuan mata entres.
Panjang Tunas (cm) Waktu
pengamatan Batang bawah
Mata entres Rataan E1 = IRR104 E2 = IRR 39 E3 = IRR 72 8 MSO B0 = PEG 0 % 13,14 16,64 15,82 15,20 B1 = Konsentrasi PEG 15 % 25,00 20,92 16,13 20,68 B2 = Konsentrasi PEG 30 % 23,38 13,67 22,18 19,74 B3 = Konsentrasi PEG 45 % 27,69 17,79 11,42 18,97 Rataan 22,30 17,25 16,38 18,65 10 MSO B0 = PEG 0 % 13,99 21,65 23,45 19,70 B1 = Konsentrasi PEG 15 % 26,44 28,68 22,83 25,99 B2 = Konsentrasi PEG 30 % 27,07 18,18 25,50 23,58 B3 = Konsentrasi PEG 45 % 27,60 18,44 19,38 21,81 Rataan 23,77 21,74 22,79 22,77 12 MSO B0 = PEG 0 % 21,76 25,48 23,45 23,57 B1 = Konsentrasi PEG 15 % 26,44 32,69 26,00 28,38 B2 = Konsentrasi PEG 30 % 29,90 26,16 28,56 28,21 B3 = Konsentrasi PEG 45 % 28,22 21,89 22,21 24,11 Rataan 26,58 26,56 25,05 26,06
Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000), perlakuan mata entres, dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata pada panjang tunas. Pada perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000), rataan panjang tunas tertinggi pada perlakuan B1 (PEG 15 %) yaitu sebesar 28,38 cm, diikuti oleh B2 (Konsentrasi PEG 15 %) yaitu sebesar 28,21 cm, dan yang terendah pada B0 (PEG 0%) yaitu 23,57 cm. Pada perlakuan mata entres, rataan panjang tunas tertinggi pada perlakuan E1 (IRR 104) yaitu 26,58 cm E2 (IRR 39) yaitu sebesar 25,56 cm dan yang terendah E3 (IRR 72) yaitu sebesar 25,05 cm.
Grafik rataan panjang tunas terhadap bibit batang bawah karet yang telah diberi perlakuan benih tertera pada Gambar 7.
Gambar 7. Hubungan antara panjang tunas pada perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000) pada 8, 10 dan 12 minggu setelah okulasi.
Dari Gambar 7 tersebut dapat dilihat bahwa pengaruh bibit batang bawah karet yang telah diberi perlakuan benih memberikan pengaruh yang berbeda pada setiap perlakuan. Hal ini dapat dilihat dari rataan panjang tunas tertinggi pada perlakuan B1 (PEG 15 %) yaitu sebesar 28,38 cm, diikuti oleh B2 (Konsentrasi PEG 15 %) yaitu sebesar 28,21 cm, dan yang terendah pada B0 (PEG 0%) yaitu 23,57 cm. Namun bibit batang bawah karet yang telah diberi perlakuan benih memberikan pengaruh tidak nyata terhadap panjang tunas. Laju pertumbuhan tunas sangat dipengaruhi oleh kemampuan batang bawah sebagai fasilitator pengangkut unsur hara dan air ke seluruh bagian tanaman. Analisis data membuktikan bahwa bibit batang bawah karet yang telah diberi perlakuan benih dapat berperan dengan baik sehingga alokasi unsur hara dan mineral keseluruh bagian tanaman berjalan dengan baik sehingga laju pertumbuhan tunas terjadi. Hal
0 5 10 15 20 25 30
8 MSO 10 MSO 12 MSO
P a nj a ng t una s (c m )
Minggu setelah okulasi
B0 = PEG 0 %
B1 = Konsentrasi PEG 15 % B2 = Konsentrasi PEG 30 % B3 = Konsentrasi PEG 45 %
ini sesuai dengan pernyataan Borchert (1973) dalam Hidayat, dkk., (2005) bahwa awal pertumbuhan tunas, aktivitasnya tergantung dari akumulasi karbohidrat di dalam tanaman yang dihasilkan pada musim pertumbuhan sebelumnya dan karbohidrat tersebut bergerak menuju ke arah jaringan meristem, sehingga laju pertumbuhan tunas meningkat.
Grafik rataan panjang tunas terhadap mata entres tertera pada Gambar 8.
Gambar 8. Hubungan antara panjang tunas pada perlakuan mata entres pada 8, 10 dan 12 minggu setelah okulasi.
Dari Gambar 8 tersebut dapat dilihat bahwa mata entres memberikan pengaruh yang berbeda pada setiap perlakuan. Hal ini dapat dilihat dari rataan panjang tunas tertinggi pada perlakuan E1 (IRR 104) yaitu 26,58 cm, E2 (IRR 39) yaitu sebesar 25,62 cm dan rataan terendah pada perlakuan E3 (IRR 72) yaitu sebesar 25,05 cm. Namun mata entres memberikan pengaruh tidak nyata terhadap panjang tunas. Batang atas sebagai tempat berlangsungnya pembentukan tunas pada okulasi, diawali dengan proses hormonal tanaman yaitu sitokinin yang berperan dalam pembelahan sel dalam kalus (Gardner, perace, dan Mitchell, 1991)
0 5 10 15 20 25 30
8 MSO 10 MSO 12 MSO
P a nj a ng t una s (c m )
Minggu setelah okulasi
E1 = IRR104 E2 = IRR 39 E3 = IRR 72
ini juga didukung oleh Sumekto, dkk., (1995) dalam Nurhasanah (2003) yang menyatakan bahwa bangun dan tumbuhnya tunas diawali oleh proses hormonal diikuti suplai nutrisi ke titik tumbuh.
Jumlah Daun (helai)
Hasil pengamatan dan daftar sidik ragam jumlah daun 10 dan 12 minggu setelah okulasi disajikan pada lampiran 16 - 19. Berdasarkan sidik ragam tersebut terlihat bahwa perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000), perlakuan mata entres, dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata pada jumlah daun.
Rataan jumlah daun dari perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000) dan mata entres dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Rataan jumlah daun (helai) pada perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000) dan perlakuan mata entres.
Jumlah Daun (helai)
Waktu
pengamatan Batang bawah
Mata entres Rataan E1 = IRR104 E2 = IRR 39 E3 = IRR 72 10 MSO B0 = PEG 0 % 33,33 28,67 32,22 31,41 B1 = Konsentrasi PEG 15 % 31,83 35,17 32,92 33,31 B2 = Konsentrasi PEG 30 % 32,29 26,58 30,75 29,87 B3 = Konsentrasi PEG 45 % 36,14 36,50 30,17 34,27 Rataan 33,40 31,73 31,51 32,21 12 MSO B0 = PEG 0 % 33,33 29,83 32,47 31,88 B1 = Konsentrasi PEG 15 % 32,33 34,00 32,92 33,08 B2 = Konsentrasi PEG 30 % 32,90 27,97 32,92 31,26 B3 = Konsentrasi PEG 45 % 36,14 36,50 26,56 33,06 Rataan 33,68 32,08 31,22 32,32
Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG
6000), perlakuan mata entres, dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata pada jumlah daun. Pada perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000), rataan jumlah daun tertinggi pada perlakuan B1 (konsentrasi PEG 15 %) yaitu sebesar 33,08 helai, diikuti oleh B3 (konsentrasi PEG 45 %) yaitu sebesar 33,06 helai, dan yang terendah pada B2 (konsentrasi PEG 30%) yaitu 31,26 helai. Pada perlakuan mata entres, rataan jumlah daun tertinggi pada perlakuan E1 (IRR 104) yaitu 33,68 helai,
diikuti E2 (IRR 39) yaitu sebesar 32,08 dan yang terendah E3 (IRR 72) yaitu
sebesar 31,22 helai.
Grafik rataan jumlah daun terhadap bibit batang bawah karet yang telah diberi perlakuan benih tertera pada Gambar 9.
Gambar 9. Hubungan antara panjang tunas pada perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000) pada 10 dan 12 minggu setelah okulasi.
Dari Gambar 9 tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan bibit batang bawah karet (berasal dari benih yang telah mendapat perlakuan seed coating dengan PEG 6000) memberikan pengaruh yang berbeda pada setiap perlakuan. Hal ini dapat dilihat dari rataan jumlah daun tertinggi pada perlakuan B1 (konsentrasiPEG 15
27 28 29 30 31 32 33 34 35 10 MSO 12 MSO J um la h da un (he la i)
Minggu setelah okulasi
B0 = PEG 0 %
B1 = Konsentrasi PEG 15 % B2 = Konsentrasi PEG 30 % B3 = Konsentrasi PEG 45 %
%) yaitu sebesar 33,08 helai, diikuti oleh B3 (konsentrasi PEG 45 %) yaitu sebesar 33,06 helai, dan yang terendah pada B2 (konsentrasi PEG 30%) yaitu 31,26 helai. Namun bibit batang bawah karet yang telah diberi perlakuan benih memberikan pengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun. Batang bawah berperan dalam mengabsorbsi hara dan mineral dari akar ke seluruh bagian tanaman. Oleh karena pertautan batang bawah dan batang atas semakin erat pada 10 – 12 minggu setelah okulasi maka translokasi hara dan mineral melalui batang bawah dapat menuju daun. Sehingga daun dapat melakukan perannya sebagai tempat fotosintesis yang berperan penting dalam pertumbuhan vegetatif. Hal ini sesuai dengan literatur