Metode parasitisasi menunjukkan pengaruh sangat nyata terhadap persentase parasitisasi. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Pengaruh metode parasitisasi terhadap persentase parasitisasi C. flavipes
pada larva C. sacchariphagus.
Perlakuan Rataan (%)
P1 (parasitisasi alami) 18.52b P2 (parasitisasi buatan) 50.00a
Keterangan : Angka yang diikuti notasi huruf yang sama pada kolom yang sama menyatakan tidak berbeda nyata pada uji jarak Duncan taraf 5 %.
Tabel 1 di atas menunjukkan bahwa persentase parasitisasi tertinggi (50.00 %) terdapat pada perlakuan P2 (parasitisasi buatan). Sedangkan persentase parasitisasi terendah (18.52 %) pada perlakuan P1 (parasitisasi alami). Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk mendapatkan kokon dengan jumlah yang banyak, metode parasitisasi buatan lebih tepat untuk digunakan dibandingkan dengan penggunaan metode parasitisasi alami. Hal ini didasari atas proses penemuan inang C. flavipes
pada metode parasitisasi buatan inang langsung dipertemukan dengan parasitoid betina yang sudah siap untuk meletakkan telur, tidak ada proses pencarian inang sebelumnya. Berbeda dengan parasitisasi alami, dimana inang sudah berada dalam sogolan yang sudah dimodifikasi seolah seperti batang tanaman tebu yang ketika di lapangan parasitoid ini akan mencari inang dengan sendirinya setelah keluar dari kokon. Soviani (2012) menjelaskan bahwa dalam pemilihan inang, seekor imago sangat mempertimbangkan kemungkinan kelangsungan hidup keturunannya. Oleh
karena itu, disamping faktor nutrisi, ketersediaan ruang yang sesuai juga merupakan hal yang sangat penting.
Tingkat parasitisme erat kaitannya dengan kapasitas reproduksi parasitoid dan ruang pencarian inang. Menurut Doutt et al. (1976) persentase parasitoid sangat menentukan produksi kokon parasitoid dari larva yang terparasit. Esther et al. (2005) melaporkan bahwa daya parasitisasi dan jumlah parasitoid akan berhubungan pada perbedaan kemampuan pencarian inang dalam parasitisme. Dalam hal yang sama Soviani (2012) juga menjelaskan bahwa proses penemuan inang oleh parasitoid merupakan proses yang sangat kompleks atas dasar ketergantungan keberadaan jarak inang terhadap parasitoid.
Periode Pradewasa (Hari)
Metode parasitisasi menunjukkan pengaruh sangat nyata terhadap periode pradewasa. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Pengaruh metode parasitisasi terhadap periode pra dewasa C. flavipes.
Perlakuan Rataan
P1 (parasitisasi alami) 2.31b
P2 (parasitisasi buatan) 5.59a
Keterangan : Angka yang diikuti notasi huruf yang sama pada kolom yang sama menyatakan tidak berbeda nyata pada uji jarak Duncan taraf 5 %.
Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa periode pradewasa C. flavipes tertinggi (5.59 hari) terdapat pada perlakuan P2 (parasitisasi buatan). Sedangkan periode pradewasa terendah (2.31 hari) pada perlakuan P1 (parasitisasi alami). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ini berkaitan dengan jumlah kokon yang terbentuk. Pada perlakuan P2 (parasitisasi buatan) kokon yang terbentuk lebih banyak
dibandingkan dengan P1 (parasitisasi alami) sehingga kemunculan imago dari kokon yang terbentuk jika dirata-ratakan yang lebih tinggi akan didapatkan dari perlakuan P2 (parasitisasi buatan).
Banyak faktor yang mempengaruhi cepat atau tidaknya kokon yang terbentuk untuk menetas menjadi imago, beberapa diantaranya adalah faktor suhu, cuaca dan kualitas kokon maupun parasitoid yang merupakan faktor utama yang mempengaruhi periode penetasan dan kematian imago yang sudah menetas atau dapat tidaknya kokon yang terbentuk menetas dengan sempurna. Hal ini disebutkan oleh Salbiah (2001) yang menyatakan bahwa keberadaan suatu populasi parasitoid dipengaruhi oleh kualitas parasitoid. Kualitas parasitoid yang tinggi menyebabkan populasi parasitoid dapat lebih unggul dalam mempertahankan keberadaannya. Maka dalam keperluan berdasarkan tingkat keperidian yang tinggi, toleransi terhadap kondisi iklim yang baik menjadi faktor penentu dalam kemunculan imago.
Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa perlakuan P2 (parasitisasi buatan) hasil rata-rata nya sebesar 5.59 hari tidak jauh berbeda dengan yang disebutkan oleh Muirhead et al. (2010) yang menyatakan bahwa masa stadia pupa (kokon) dari parasitisasi parasitoid C. flavipes terhadap C. sacchariphagus
berlangsung selama 5.20 hari, sehingga total hari untuk menetaskan individu baru dari mulai terparasit sampai menjadi imago lebih kurang adalah 21 hari.
Bobot Kokon (gr)
Metode parasitisasi menunjukkan pengaruh sangat nyata terhadap bobot kokon. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Pengaruh metode parasitisasi terhadap bobot kokon C. flavipes.
Perlakuan Rataan
P1 (parasitisasi alami) 0.19b
P2 (parasitisasi buatan) 0.54a
Keterangan : Angka yang diikuti notasi huruf yang sama pada kolom yang sama menyatakan tidak berbeda nyata pada uji jarak Duncan taraf 5 %.
Tabel 3 di atas menunjukkan bahwa bobot kokon C. flavipes tertinggi (0.54 gr) terdapat pada perlakuan P2 (parasitisasi buatan). Sedangkan bobot kokon terendah (0.19 gr) pada perlakuan P1 (parasitisasi alami). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hal ini berkaitan dengan jumlah kokon yang terbentuk, sehingga hasil rata-rata perlakuan P2 (parasitisasi buatan) lebih tinggi dibandingkan dengan P1 (parasitisasi alami). Faktor lain yang mempengaruhi ukuran dan bobot kokon adalah jenis inang itu sendiri yang dipengaruhi oleh ukuran inang. Dalam hal ini Murtiyarini et al. (2006) dari hasil penelitiannya menerangkan, ukuran kokon yang terbentuk tergantung dari ukuran larva yang digunakan. Selain daripada itu ada faktor lain yang mempengaruhi yakni suhu ruang penyimpanan. Abraha (2003) telur menuju kepompong/kokon memasuki masa perkembangan yang sangat signifikan lebih lama pada suhu 200C untuk semua populasi terhadap interaksi suhu dengan rata-rata terpanjang masa telur saat perkembangan adalah 19,0 hari, sementara waktu perkembangan untuk telur kokon pada suhu 250C, 280C, 300C memberikan pengaruh yang tidak signifikan satu sama lain.
Dalam hal lain, rangsangan dari inang juga akan mempengaruhi tingkat dari peletakan telur oleh parasitoid. Dalam hal ini C. flavipes termasuk kedalam kelompok endoparasitoid dan yang berkembang pada inang yang hidup (koinibiont).
Murthy and Rajeshwari (2011) menerangkan, kemampuan mencari inang yang berbeda dari C. flavipes dinilai dalam hal kemampuan mereka dalam mendeteksi inang. Hubungan antara populasi dari kualitas kokon dengan tingkat parasitisme akan terlihat dari bagaimana ruang yang diberikan dan senyawa rangsang yang diberikan oleh inang. Begitu juga dengan jumlah kokon yang terbentuk dalam ruang yang berbeda juga akan memberikan hasil yang berbeda terhadap populasi dan kualitas kokon.
Jumlah Imago C. flavipes yang Muncul (ekor)
Metode parasitisasi menunjukkan pengaruh sangat nyata terhadap jumlah imago C. flavipes yang muncul. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Pengaruh metode parasitisasi terhadap jumlah imago C. flavipes. yang muncul
Perlakuan Rataan
P1 (parasitisasi alami) 13.95b
P2 (parasitisasi buatan) 44.28a
Keterangan : Angka yang diikuti notasi huruf yang sama pada kolom yang sama menyatakan tidak berbeda nyata pada uji jarak Duncan taraf 5 %.
Tabel 4 di atas menunjukkan bahwa jumlah imago C. flavipes tertinggi (44.28 ekor) terdapat pada perlakuan P2 (parasitisasi buatan). Sedangkan jumlah imago
C. flavipes yang muncul terendah (13.95 ekor) pada perlakuan P1 (parasitisasi alami). Hasil penelitian menunjukkan pengaruh yang sangat nyata antara perlakuan P1 (parasitisasi alami) dengan P2 (parasitisasi buatan). Hal tersebut disebabkan beberapa hal yang terjadi. Dalam perkembangan Jumlah populasi C. flavipes, akan dipengaruhi oleh tingkat kematangan imago betina dalam melakukan oviposisi.
Tingkat populasi C. flavipes juga akan mempengaruhi preferensi oviposisi
yang akan berpengaruh pada pemilihan inang dan kemunculan suatu imago, Reay-Jones et al. (2005). Atas dasar ini perkembangan populasi C. flavipes serta
kemampuannya meneruskan keturunan akan terwaris dari satu generasi ke generasi berikutnya. Jumlah ini akan mengasumsikan bahwa pemilihan inang secara acak di dari lapangan dengan sifat dan ciri tertentu dari suatu imago juga akan memberikan pengaruh kepada kualitas dan jumlah imago yang dihasilkan.
Dari hasil penelitian ditunjukkan jika dihubungkan antara kemunculan imago dengan bobot kokon, terlihat bahwa penambahan bobot kokon pada perlakuan U5 dan U6 tidak memberikan dampak peningkatan seperti perlakuan sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin bertambah usia imago maka populasi yang dihasilkan dari penetasan kokon juga menurun. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Lv et al. (2011) yang menyatakan bahwa fungsi fisiologis dari parasitoid pada pemilihan inang dipengaruhi karena usia imago itu sendiri dan pada larva yang terparasit akan mempengaruhi jumlah populasi yang dihasilkan oleh parasitoid yang memarasit inang. Selain daripada itu peralihan dari generasi yang satu ke yang lain juga akan diteruskan oleh keturunan berikutnya berdasarkan sifat yang ada pada induk sebelumnya.
Nisbah Kelamin C. flavipes
Metode parasitisasi menunjukkan pengaruh sangat nyata pada nisbah kelamin
Tabel 5. Pengaruh metode parasitisasi terhadap nisbah kelamin C. flavipes.
Perlakuan Jumlah Parasitoid C. flavipes Nisbah Kelamin
Jantan Betina Jantan Betina
P1 (parasititasi alami) 7.50b 6.72ab 1.17 1
P2 (parasititasi buatan) 38.45a 6.39b 6.02 1
Keterangan : Angka yang diikuti notasi huruf yang sama pada kolom yang sama menyatakan tidak berbeda nyata pada uji jarak Duncan taraf 5 %.
Dari tabel 5 di atas menunjukkan bahwa jumlah C. flavipes jantan tertinggi (38.45 ekor) terdapat pada perlakuan P2 (parasitisasi buatan) dan terendah (7.50 ekor) pada perlakuan P1 (parasitisasi alami). Sedangkan jumlah C. flavipes betina tertinggi (6.72 ekor) pada perlakuan P1 (parasitisasi alami) dan terendah (6.39 ekor) pada perlakuan P2 (parasitisasi buatan). Hasil penelitian menunjukkan pengaruh yang sangat nyata antara perlakuan P1 (parasitisasi alami) dengan P2 (parasitisasi buatan) pada nisbah kelamin C. flavipes C. flavipes. Tingginya angka nisbah kelamin jantan pada imago C. flavipes yang didapat dari hasil penelitian karena pada kemunculan imago C. flavipes betina mengalami penurunan yang signifikan dari perlakuan U3 (48 jam) sampai U5 (96 jam) yakni tidak ada sama sekali imago betina yang muncul pada kedua perlakuan tersebut, sementaraa yang muncul hanya imago jantan. Parasitoid ini bersifat gregarious yang tetap dapat meletakkan telur tanpa mengalami proses kopulasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Murthy and Rajeshwari (2011) yang menyatakan bahwa genus dari kelompok Cotesia merupakan parasitoid gregarious yang tetap dapat meletakkan telur tanpa mengalami proses kopulasi
Hasil penelitian juga berkaitan dengan kemampaun meletakkan telur oleh imago betina, sesuai pernyataan Bakti (1991) bahwa parasitoid hanya efektif menghasilkan imago dengan keturunan betina antara waktu 1-3 hari, dimana daya
tingkat kebugaran. Dari penelitian Murthy and Rajeshwari (2011) juga dijelaskan efisiensi pencarian inang dan perilaku kawin dari parasitoid C. flavipes berkurang seiring dengan pertambahan umur imago parasitoid. Hal ini akan mempengaruhi populasi dan nisbah kelamin yang berbeda. Tanwar (2004) menerangkan bahwa perkembangan umur imago juga akan berpengaruh pada proses fisiologis parasitoid tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nisbah kelamin C. flavipes pada perlakuan P1 (parasitisasi alami) menunjukkan perbandingan 1 : 1.17. Hasil penelitian ini tidak jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Batelho (1980) yakni menunjukkan perbandingan 1 : 1.27.
Pengaruh Umur Imago Terhadap Kemunculan Imago C. flavipes Betina
Umur imago menunjukkan pengaruh sangat nyata pada kemunculan imago
C. flavipes betina. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Pengaruh umur imago terhadap kemunculan imago C. flavipes betina.
Perlakuan Rataan U1 (0 jam) 21.50a U2 (24 jam) 12.34b U3 (48 jam) 3.34cd U6 (120 jam) 2.17d U4 (72 jam) 0.00e U5 (96 jam) 0.00e
Keterangan : Angka yang diikuti notasi huruf yang sama pada kolom yang sama menyatakan tidak berbeda nyata pada uji jarak Duncan taraf 5 %.
Tabel 6 di atas menunjukkan bahwa jumlah C. flavipes betina tertinggi (21.50 ekor) terdapat pada perlakuan U1 (0 jam), sedangkan terendah (0 ekor) pada
U4 (72 jam) dan U5 (96 jam). Hasil penelitian menunjukkan pengaruh yang sangat nyata antara perlakuan U1, U2, U3 dan U6, U4 dan U5. Tabel 6 juga menunjukkan penurunan yang sangat signifikan dari waktu ke waktu sesuai dengan bertambahnya umur imago parasitoid. Terlihat perlakuan U6 lebih tinggi dibanding perlakuan U4 dan U5. Pada penelitian yang dilakukan menggunakan larva berukuran 2,5-3 cm yang mengacu pada pernyataan Capinera (2009), perkiraan antara instar 4-5 adalah dengan panjang larva 2,3-2,9 cm. Pinheiro et al. (2010) juga menyatakan bahwa inang yang lebih dipilih oleh C. flavipes adlah larva penggerek bergaris yang berukuran panjang 2-3 cm atau instar 4-5.
Hasil penelitian diperoleh bahwa jumlah telur yang diletakkan tertinggi
terdapat pada perlakuan U1 (0 jam) dan U2 (24 jam) sehingga didapat jumlah
C. flavipes betina yang tertinggi pada kedua perlakuan tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa terjadi perkawinan antara parasitoid jantan dan betina. Hasil penelitian tidak jauh berbeda dengan yang dinyatakan oleh Oliveira and Tavares (1995) yaitu jumlah tertinggi dari keturunan yang dihasilkan adalah pada peletakan telur hari pertama dan hari kedua dan tidak berbeda nyata pada nisbah kelamin yang dihasilkan seiring pertambahan umur imago.
Banyak atau tidaknya imago betina yang muncul juga bergantung pada inang yang digunakan. Hasil penelitian dengan menggunakan inang instar akhir yaitu instar 4-5 yang disesuaikan dengan ukuran larva yang memenuhi kriteria tersebut, mengacu pada pernyataan Ngi-Song and Overholt (1995) bahwa sebagian besar imago betina akan ditemukan pada stadia larva dengan instar tingkat akhir. Hal tersebut memberikan tingkat parasitisme yang tinggi dari C. flavipes. Pada proses penghasilan
telur untuk mendapatkan tingkat rasio yang tinggi harus melalui tahap proses perkawinan parasitoid. Sembel (2010) menerangkan bahwa tempat atau ruang akan mempengaruhi perilaku kawin parasitoid begitu juga ketika dalam skala luas dilapangan areal tanam. Kondisi lingkungan akan mempengaruhi perilaku kawin parasitoid dan ketahanan hidupnya dalam menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan sekitar.
Pengaruh Interaksi Umur Imago dan Metode Parasitisasi Terhadap Kemunculan Imago C. flavipes Betina
Interaksi umur imago dan metode parasitisasi menunjukkan pengaruh berbeda nyata terhadap kemunculan imago C. flavipes betina. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Pengaruh interaksi umur imago dan metode parasitisasi terhadap kemunculan imago C. flavipes betina
Perlakuan Rataan
U1P2 (0 jam, parasitisasi buatan) 31.67a
U2P1 (24 jam, parasitisasi alami) 24.67b
U1P1 (0 jam, parasitisasi alami) 11.33c
U3P2 (48 jam, parasitisasi buatan) 6.67de U6P1 (120 jam, parasitisasi alami) 4.33e U2P2 (24 jam, parasitisasi buatan) 0.00f
U3P1 (48 jam, parasitisasi alami) 0.00f
U4P1 (72 jam, parasitisasi alami) 0.00f
U4P2 (72 jam, parasitisasi buatan) 0.00f
U5P1 (96 jam, parasitisasi alami) 0.00f
U5P2 (96 jam, parasitisasi buatan) 0.00f U6P2 (120 jam, parasitisasi buatan) 0.00f
Keterangan : Angka yang diikuti notasi huruf yang sama pada kolom yang sama menyatakan tidak berbeda nyata pada uji jarak Duncan taraf 5 %.
Tabel 7 di atas menunjukkan bahwa pengaruh interaksi umur imago dan metode parasititsasi terhadap jumlah C. flavipes betina tertinggi (31.67 ekor) terdapat pada perlakuan U1P2, sedangkan terendah (0 ekor) pada U2P2, U3P1, U4P1, U4P2, U5P1, U5P2 dan U6P2 yaitu tidak ada yang muncul. Hasil pengamatan terhadap pengaruh interaksi antara umur imago dengan metode parasitisasi pada Tabel 7 di atas menunjukkan bahwa kemunculan imago C. flavipes betina tertinggi terdapat pada perlakuan dimana awal imago baru muncul dan menurun secara signifikan dari hari ke hari seiring dengan bertambahnya umur imago. Hal ini sesuai dengan pernyataan Abraha (2003), bahwa parasitoid yang telah kawin dapat segera meletakkan telur pada inangnya. Kemampuan serta kapasitas parasitoid dalam oviposisi berkorelasi terhadap pertambahan umur imago dan suhu lingkungan sehingga mempengaruhi perkembangan imago dewasa.
Dari hasil interaksi perlakuan di atas dilihat bahwa parasitoid C. flavipes
hanya efektif menghasilkan keturunan betina sampai dengan hari ketiga setelah muncul manjadi imago. Hal tersebut tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian Simanjuntak et al. (2013) bahwa terdapat penurunan jumlah imago betina yang dihasilkan pada imago yang meletakkan telur seiring bertambahnya umur imago.