Pada awalnya Sungai Cipunagara mengalir menuju Pantai Utara Subang dengan arah Utara seperti yang nampak pada Gambar 3 (a), namun sekitar tahun 1962 sungai ini mengalami proses normalisasi (pelurusan) dan aliran berpindah ke arah Timur menuju pantai. Pada Gambar 3 (b) menunjukkan area lahan timbul pada Tahun 1972, 1990 dan 2008.
(a) (b)
Gambar 3. (a) Garis Pantai Tahun 1972, 1990 dan 2008; (b) Lahan Timbal di Tahun 1972, 1990 dan 2008.
Gambar 4a. menunjukkan bahwa lahan timbal di Tahun 1972 masih relatif kecil yaitu 138.9 ha dan mengalami penambahan sekitar 757.3 ha di Tahun 1990 dan 623 ha di Tahun 2008. Laju penambahan lahan timbul pada masing-masing periode sebesar 13,9 ha/th (1962-1972); 42,1 ha/th (1972-1990) dan 34,6 ha/th (1990-2008). Gambar 4b.menunjukkan arah perkembangan lahan timbul, dimana pada periode 1972-1990 cenderung ke arah timur, sedangkan pada periode 1990-2008 cenderung ke arah utara. Dinamika laju dan arah perkembangan lahan timbul ini terjadi karena didukung oleh kondisi alam seperti arus laut tenang
(1-14mil/hari) (Janhidros,2006), pasut (100m), gelombang (0,5-3m) (Dishidros, 2008) dan juga Debit S. Cipunagara pada musim hujan, relatif tinggi yaitu 487,54 m3/detik Fenomena alam ini, memungkinkan proses pengendapan terjadi dengan optimal.
(a) (b)
Gambar 4. (a) Perkembangan Luas Lahan Timbal dan (b) Arah Pekembangan Lahan Timbul.
Penggunaan Lahan di Lahan Timbul
Tabel 1. menunjukkan bahwa lahan timbul didominasi oleh tubuh air/tambak yaitu 26.0% (1972); 50.0% (1990) dan 67.8% (2008). Adapun lahan terbuka yang berupa sedimen, terutama dijumpai di ujung muara sungai (Gambar 5) yang besarnya berfluktuasi dan maksimum terjadi pada 1990 yaitu 410,1 ha.
Tabel 1. Penggunaan Lahan, Tahun 1972, 1990 dan 2008
Tipe Penggunaan Tahun 1972 Tahun 1990 Tahun 2008
Lahan (Ha) (%) (Ha) (%) (Ha) (%)
Kebun Campuran - - 23.2 1.8 16.2 1.0
Lahan Persawahan - - 31.3 2.4 58.0 3.4
Lahan Terbuka - - 63.6 4.8 - -
Lahan Terbuka/Sedimen 212.5 60.5 410.1 31.0 177.1 10.4
Mangrove 30.3 8.6 47.1 3.6 187.1 11.0
Mangrove dan Semak Belukar - - 8.0 0.6 38.5 2.3
Permukiman - - 8.4 0.6 9.1 0.5 Tubuh Air/Tambak 91.4 26.0 662.2 50.0 1151.7 67.8 Sungai 17.2 4.9 70.6 5.3 60.1 3.5 Jumlah 351.4 100.0 1324.5 100.0 1697.8 100.0 138.9 896.2 1519.2 0 400 800 1200 1600 1972 1990 2008 L u a s ( h a )
(a) (b) (c)
Gambar 5. Penggunaan/Penutupan Lahan di Lahan Timbul (a) Tahun 1972; (b) Tahun 1990 dan (c) Tahun 2008.
Verifikasi Peta Persil dari Kantor Pajak Bumi dan Bangunan dengan Fusi Citra Quick Bird (QB)
Karakteristik Peta Persil dari Kantor Pajak Bumi dan Bangunan adalah berskala besar (1:1000 dan 1:2000), belum memiliki koordinat, semua luas persil diukur di lapang, pemetaan dilakukan secara manual (digambar), menggunakan peta dasar terlalu kecil (1:25.000) dan tahun lama (1999). Peta Persil PBB ini diverifikasi dengan data penginderaan jauh resolusi tinggi dengan teknik koreksi geometrik. Adapun jumlah persil yang dianalisis berjumlah 737 persil yang masuk dalam 9 blok. Hasil verifikasi ini menunjukkan bahwa:
1. Batas luar Peta Blok dari PBB tidak sesuai dengan kenyataan di lapang seperti yang disajikan pada Fusi Citra Quick Bird (Gambar 6) Hal ini dikarenakan peta dasar yang digunakan adalah Peta Rupa Bumi skala 1:25.000 edisi Tahun 1999 (terlalu tua).
2. Posisi blok 5 dan 6 pada Peta Blok PBB (Gambar 6a) terbalik bila dibandingkan dengan posisi blok 5 dan 6 pada Peta Blok dari Fusi Citra QB (Gambar 6b).Hal ini dikarenakan peta dasar (Peta Rupa Bumi) yang digunakan terlalu tua (1999).
(a) (b)
Gambar 6. (a) Peta Blok Desa Patimban dan (b) Peta Blok dari Citra Quick Bird
3. Batas persil yang sudah diverifikasi dari Fusi Citra QB masih relatif kecil yaitu 17,2% (73 persil) yang disajikan pada Gambar 7. Hal ini karena sedikitnya batas persil yang berupa galengan sehingga mudah diidentifikasi dari Fusi Citra Quick Bird.
(a) (b)
Gambar 7. Centroit Persil (a) 73 Persil yang Bersumber dari Peta Persil PBB yang bersesuian dengan (b) 73 Persil yang Bersumber dari Citra Quick Bird.
4. Analisis regresi antara luas persil hasil pengukuran lapang (y) dengan luas persil dari Fusi Citra QB (x), diperoleh model regresi: y = 2118+0,9364x
dengan R2=94,4% (Gambar 8). Hal berarti luas persil hasil verifikasi bersesuaian dengan luas persil dari Fusi Citra QB.
Gambar 8. Hubungan antara Luas Persil dari Pengukuran Lapang dengan Luas Persil dari Fusi Citra Quick Bird
5. Pergeseran antara poligon persil dari PBB yang telah diverifikasi dengan poligon persil dari Fusi Citra Quick Bird (Gambar 9) berkisar antara 1,5m-57,2m dengan rata-rata sebesar 19,9m. Besarnya pergeseran ini terjadi masih dalam satu persil yang bersangkutan.
Gambar 9. Pergeseran Centroit Persil antara Peta Persil dari Kantor PBB dan Peta Persil dari Fusi Citra Quick Bird
Kajian Umum Peraturan Perundang-Undangan Terkait dengan Lahan Timbul
Lahan timbul dikuasai oleh Negara, seperti ketentuan dalam Surat Edaran Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No.410-1293 Tanggal 9 Mei 1996 tentang Penerbitan Status Tanah Timbul dan Reklamasi; UU No.5 Tahun 1960 tentang penataan tanah dan Peraturan PP 16 Tahun 2004 tentang Peraturan Pokok-Pokok Agraria. Namun lahan timbul di Tanjung Cipunagara belum memiliki status hukum yang jelas, karena BPN belum melakukan tindakan yang konkrit.
Upaya pengelolaan lahan timbul oleh Departemen Dalam Negeri dimungkinkan sesuai dengan PP No.8 Tahun 1953 tentang penguasaan tanah negara. Upaya pengelolaan lahan timbul oleh Pemerintah Daerah juga dimungkinkan sesuai dengan UU No.32 Tahun 2004 tentang otonomi daerah. Namun fenomena ini juga tidak nampak di lahan timbul Cipunagara.
Lahan timbul memungkinkan menjadi hak milik individu, sesuai dengan UU No. 24 Tahun 1997 tentang pendaftaran tanah. Syarat tanah Negara menjadi hak milik harus dikuasai dan diusahakan selama 20 tahun secara terus menerus. Lahan timbul di daerah penelitian sebagaian besar diusahakan untuk tambak dengan seizin dari Kepala Desa setempat.
KESIMPULAN
Lahan timbul di Tanjung Cipunagara berpotenti terus bertambah yang perlu diantisipasi pengelolaannya dan status hukumnya. Bila batas kepemilikkan lahan berupa galengan atau bentuk lain yang mudah diidentifikasi dari Citra Quick Bird, maka hasil verifikasi dalam hal posisi, kesesuaian luas dan pergeseran persil relatif lebih baik. Berdasarkan penelitian ini, disarankan untuk melakukan ortofoto terhadap Citra Quick Bird supaya diperoleh hasil verifikasi yang lebih baik.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penelitian ini dibiayai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional sesuai Surat Pelaksanaan Hibah Kompetitif Penelitian sesuai Prioritas Nasional, Tahun 2009.
DAFTAR PUSTAKA
Dishidros, 2008. Data pasang-surut perairan Indonesia. Dinas Hidro-Oseanografi, Jakarta.
Janhidros, 2006. Peta Arus Perairan Indonesia Kawasan Barat. Jawatan Hidro-Oseanografi, Jakarta.
Surat Edaran Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No.410-1293 Tanggal 9 Mei 1996 tentang Penerbitan Status Tanah Timbul dan Reklamasi. Jakarta
PP No.8 Tahun 1953 tentang penguasaan tanah negara. Jakarta PP 16 Tahun 2004 tentang Peraturan Pokok-Pokok Agraria. Jakarta UU No.5 Tahun 1960 tentang penataan tanah. Jakarta
UU No.32 Tahun 2004 tentang otonomi daerah. Jakarta UU No. 24 Tahun 1997 tentang pendaftaran tanah. Jakarta.