• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar 1. Peta Penyebaran Sukun

Hasil pengamatan di lapangan dan survey disajikan dalam bentuk peta penyebaran sukun di beberapa ketinggian di Sumatera Utara yang terdiri atas Kabupaten Simalungun, Batubara, Deli Serdang, dan desa yang terdiri atas Sait Buntu, Bandar Baru, Sikeben, Manik Maraja, Bangun Jawa, Batu Layang, Sibolangit, Kasindir, Bahsulung, Simbahe, Dolok Maraja, Sugau, Tiang Layar, Mekar Sari, Mesjid Lama, dengan ketinggian 0 – 1100 mdpl.

Lokasi Sukun Yang Ditemukan Di Berbagai Ketinggian

Pertumbuhan sukun yang terbesar ditemukan pada Desa Dolok Maraja dengan ketinggian 328 mdpl dengan jumlah 250 tanaman sukun dan jumlah pertumbuhan tanaman sukun terkecil terdapat pada Desa Sikeben dengan jumlah 2 pohon. Ini menunjukan bahwa tanaman sukun tergantung peminat untuk

Anwar Syadat Siregar : Inventarisasi Tanaman Sukun (Arthocarpus communis) Pada Berbagai Ketinggian Di Sumatera Utara, 2010.

melakukan penanaman Tanaman sukun di berbagai ketinggian dapat di sajikan pada Tabel 3 sebagai berikut:

Tabel 3. Lokasi Bedasarkan Ketinggian Tempat dan Jumlah Pohon Sukun.

No. Nama Desa Kecamatan Kabupaten Ketinggian

0 – 1100 mdpl Jumlah sukun 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Sait Buntu Bandar Baru Sikeben Bangun Jawa Manik Maraja Batu Layang Sibolangit Kasindir Bahsulung Sembahe Dolok Maraja Sugau Tiang Layar Mekar Sari Mesjid Lama Pematang Sidamanik Sibolangit Sibolangit Sidamanik Sidamanik Sibolangit Sibolangit Jorlang Hatorang Pematang Dolok Sibolangit Pematang Dolok Pancur Batu Pancur Batu Deli Tua Palawi Simalungun Deli Serdang Deli Serdang Simalungun Simalungun Deli Serdang Deli Serdang Simalungun Simalungun Deli Serdang Simalungun Deli Serdang Deli Serdang Deli Serdang Batubara 1100 898 873 848 845 693 544 542 357 329 328 204 169 61 5 10 4 2 20 200 7 15 10 120 5 250 7 10 20 15 Perbandingan pertumbuhan tanaman sukun dengan ketinggian 1100 mdpl dengan ketinggian 5 mdpl tidak memiliki selisih jumlah tanaman yang cukup jauh. Pada ketinggian 1100 mdpl terdapat 10 tanaman sukun, pada ketinggian 5 mdpl terdapat 15 tanaman sukun. Perbedaaan jumlah tanaman sukun yang ditemukan tidak dapat ditentukan berdasarkan ketinggian tempat tumbuh pada hasil pengamatan perbedaan jumlah tanaman sukun sangat bervariasi pada ketinggian 0 – 1100 mdpl.

Jenis Sukun Yang Ditemukan Di Berbagai Ketinggian

Berdasarkan pengamatan di lapangan, sukun di Sumatera Utara hanya ada satu jenis yaitu lokal pada penelitian ini, sukun lokal didefenisikan sukun yang sudah ada dan tumbuh selama puluhan tahun yang lalu. Perkembangan tanaman sukun pada masing-masing desa penelitian berbeda-beda ini menunjukan bahwa minat masyarakat sebagian besar masih kurang dalam pembudidayaan tanaman sukun meskipun tanaman ini banyak ditemukan pada lokasi-lokasi penelitian

Anwar Syadat Siregar : Inventarisasi Tanaman Sukun (Arthocarpus communis) Pada Berbagai Ketinggian Di Sumatera Utara, 2010.

jumlah tanaman sukun yang ada tidak sebanding dengan jumlah masyarakat petani. Untuk morfologi sukun lokal daun nya kurang rimbun dibandingkan dengan sukun introduksi. Sukun ini memiliki tinggi rata-rata 15 - 18 meter sehingga terlihat lebih tinggi dibanding pohon lain disekitarnya. Diameter batang mencapai 50–70 cm. Jumlah bunga/ buah per - tandan 2-5 dengan rata–rata bunga/ buah per - tandan adalah 4. Buah berukuran kecil berwarna hijau cerah agak kekuningan bila sudah tua, berat rata–rata buah 0,6-1 kg. Bentuk buah lonjong dengan proposi panjang dan lebar 4 : 3.

Pertumbuhan tanaman sukun telah dapat produksi buah pada umur > 5 tahun tanpa mengenal sistem penurunan buah yang ada. Pada umumnya untuk tanaman sukun yang memiliki umur > 20 tahun akan mengakibatkan kesulitan dalam proses pemanenan buah sukun. Ini terjadi akibat semakin sulitnya dalam pemetikan buah sukun tanaman sukun yang telah berumur memiki pertumbuhan batang yang cukup tinggi dan diameter batang yang besar sehingga dapat menyulitkan pemanen dalam pemetikan buah dan semakin sulit untuk dapat memanjat pohon sukun yang akan dilakukan pemanenan. Proses pemanenan pada tanaman sukun tidak membutuhkan waktu yang cukup lama apabila kondisi pohon tidak terlalu tinggi dan mudah untuk dijangkau. Buah sukun terdapat pada pangkal daun sehingga dalam proses pemanenan harus menggunakan alat bantu berupa tangga, dan pengait untuk mendapatkan buah sukun.

Tanaman sukun pada pengamatan dapat tumbuh pada ketinggian 800-1100 mdpl. Hal ini sesuai dengan pendapat (Hendalastuti dan Rojidin, 2006) bahwa tanaman sukun dapat tumbuh dengan baik dengan ketinggian lebih dari 350-1400 mdpl dengan produktivitas yang cukup tinggi dengan suhu 120 C - 330 C

Anwar Syadat Siregar : Inventarisasi Tanaman Sukun (Arthocarpus communis) Pada Berbagai Ketinggian Di Sumatera Utara, 2010.

dengan tofografi beragam, dataran, berbukit, dan bergelombang dengan kelerengan lebih dari 16 %.

Penyebaran sukun yang disajikan dalam bentuk peta berdasarkan daerah penyebaran. Pertumbuhan sukun serta penyebarannya terdapat pada berbagai ketinggian yang ada. Tanaman sukun menyebar luas pertumbuhannya sesuai dengan lokasi yang dipilih secara acak berdasarkan ketinggian.

Hasil yang diperoleh berdasarkan pengamatan di lapangan bahwa ketinggian tidak mempengaruhi pertumbuhan sukun. Hal ini sesuai dengan pengamatan perbandingan pertumbuhan tanaman sukun mulai dari 0 – 1100 mdpl, pada ketinggian antara 0 – 200 mdpl pertumbuhan tanaman sukun lokal sangat baik. Sedangkan pada ketinggian tempat tumbuh antara 800 – 1100 mdpl tidak memiliki perbedaan pertumbuhan baik dari segi produktivitas maupun kualitas buah sukun. Sukun adalah tanaman yang terus-menerus menghasilkan buah dalam jumlah yang cukup banyak dengan waktu yang cukup singkat dan hasil buah yang diperoleh dapat dipergunakan atau dapat dikonsumsi langsung digoreng maupun disayur.

Untuk jumlah pertumbuhan tanaman sukun lokal sangat berbeda-beda untuk masing-masing kawasan desa. Karena masih banyak masyrakat yang ada pada lokasi penelitian belum banyak mengetahui manfaat dan jenis tanaman sukun yang ada dan sistem perbanyakan yang dipergunakan sangat sederhana dengan memindahkan anakan sukun yang ada tanpa melihat faktor hidup tanaman sukun sangat kecil, dan informasi mengenai tanaman sukun bagi masyarakat petani masih sangat kurang.

Anwar Syadat Siregar : Inventarisasi Tanaman Sukun (Arthocarpus communis) Pada Berbagai Ketinggian Di Sumatera Utara, 2010.

Menurut Eko (2003), bahwa tanaman sukun mampu beradaptasi dengan lingkungan dan dapat tumbuh dengan subur di daerah yang memiliki ketinggian tempat antara 0 – 100 mdpl. Hal ini tidak sesuai dengan hasil pengamatan yang dilakukan pada penelitian ini, tananaman sukun dapat tumbuh dan berkembang dengan subur pada daerah yang memiliki ketinggian tempat antara 0 – 1100 mdpl. Perbedaan antara tanaman sukun dengan ketingggian 0 dengan ketingggian 1100 tidak memiliki perbedaan, dari segi buah, daun, batang, serta bentuk dan ukuran.

Pertumbuhan sukun tidak dipengaruhi oleh ketinggian, sesuai dengan hasil yang diperoleh berdasarkan penelitian yang dilakukan Hendalastuti danRojidin (2005). Bahwa pertumbuhan sukun dengan suhu 120 C - 330 C dengan ketinggian 350 – 1400 mdpl tanaman dapat tumbuh dengan baik. Perbandingan antara suhu dan ketinggian tempat tumbuh tanaman sukun sangat perlu di perhatikan, karena pada hasil penelitian yang dilakukan ketinggian > 1100 tanaman sukun ditemukan pada lokasi yang ditentukan secara acak menurut penyebaran sukun yang ada untuk daerah penelitian berdasarkan ketinggian tempat tanaman sukun.

Teknik Silvikultur Sukun Lokal

Hasil pengamatan dan analisa kuisioner pada masyarakat menggunakan teknik silvikur yang sangat sederhana yaitu dengan memindahkan anakan sukun yang akan ditanam dapat dilihat pada hasil analisa kuisioner pada tabel 4.

Tabel 4. Persentase Budidaya Tanaman Sukun Yang Dipilih Responden

No Budidaya yang dipilih Jumlah Responden Kategori Persentase

(%) 1 2 3 4 Stek akar Stek pucuk Pemindahan Cangkok 2 1 95 1 Sangat Rendah Sangat Rendah Sangat Baik Sangat Rendah 2,02 1,01 95,95 1,01 Total 99 99,99

Anwar Syadat Siregar : Inventarisasi Tanaman Sukun (Arthocarpus communis) Pada Berbagai Ketinggian Di Sumatera Utara, 2010.

Budidaya yang paling banyak digunakan masyarakat adalah dengan pemindahan anakan sukun jumlah responden 99 orang dengan persentase 95,95 % ,jumlah stek akar 2 orang dengan persentase 2,02 %, dan stek pucuk 1 orang dengan persentase 1,01 % serta cangkok 1 orang dengan persentase 1,01 %. Ini menunjukan bahwa masyarakat masih banyak yang belum mengetahui budidaya yang tepat untuk dipegunakan.

Masyarakat pada daerah penelitian sebagian telah mengetahui manfaat secara umum dan jenis tanaman sukun khususnya masyarakat pendatang, karena dari hasil pengamatan di kawasan desa penelitian hampir keseluruhan tanaman sukun berada pada sekitar pekarangan rumah/ tanah masyarakat pendatang umum nya. Untuk penduduk asli yang berada pada lokasi penelitian tidak banyak yang mengetahui tanaman sukun, karena bagi penduduk tersebut tanaman sukun kurang diminati dan manfaat dari tanaman sukun berupa buah, daun, kayu, kurang sesuai dengan jenis yang diminati pada umumnya.

Pada dasarnya tanaman sukun pada lokasi penelitian merupakan tanaman yang terdapat pada pekarangan dan bukan tanaman yang khusus dikembangkan dan dibudidayakan secara intensif. Ini menunjukan masyarakat sekitar pada masing-masing kawasan desan penelitian masih banyak yang belum mengetahui tanaman sukun serta manfaat dan proses pemanenan yang tepat untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas sukun. Tetapi pada lokasi tertentu sangat diminati seperti pada Desa Manik Maraja hampir keseluruhan masyarakat memiliki tanaman sukun. Dengan alasan bahwa jenis tanaman sukun sangat mudah untuk dipelihara dan dapat menambah penghasilan serta pengolahan yang mudah apabila ingin dimanfaatkan sebagai bahan makan yang bersifat cepat saji.

Anwar Syadat Siregar : Inventarisasi Tanaman Sukun (Arthocarpus communis) Pada Berbagai Ketinggian Di Sumatera Utara, 2010.

Tanaman sukun merupakan tanaman yang sangat mudah untuk tumbuh dengan suhu yang sesuai dan tidak dipengaruhi oleh ketinggian tempat tumbuh. Sukun adalah tanaman yang memiliki musim, sama dengan tanaman buah-buah jenis lainnya. Sukun merupakan jenis tanaman yang memliki peranan penting, dimana hampir seluruh bagian yang ada pada sukun dapat dimanfaatkan seperti buah, daun, batang kayu, serta getah terdapat pada tanaman sukun. Secara menyeluruh masyarakat belum mengetahui cara pemanfaatan yang tepat pada tanamansukun melainkan hanya buah, daun, yang bersifat sangat sederhana.

Sukun lokal tumbuh di tempat umum atau di lahan masyarakat. Tahun penanaman tidak diketahui secara jelas, umumnya pemilik pohon sukun merupakan pemilik turunan dari generasi sebelumnya, untuk kawasan Desa Bahapal dengan tinggi tanaman sukun mencapai 16 meter. Kelompok sukun lokal tumbuh dengan baik di bantaran sungai dan bercampur dengan beragam jenis pohon lainya pada suatu bentangan kebun petani dan sebagian besar barada pada halaman rumah atau pada pekarangan sekitar rumah petani pada lokasi penelitian.

Teknik perbanyakan yang dilakukan oleh petani sangat sederhana, anakan yang tumbuh disekitar digali kemudian dipindahkan kedalam lubang tanam. Daya hidup sukun dengan perbanyakan ini sangat rendah meskipun teknik pembibitan yang dilakukan jarang berhasil, tetapi petani tidak melakukan teknik pembibitan lainya (stek akar atau stek pucuk) karena teknik perbanyakan tersebut tidak dikua sai. Sistem pengelolaan tanaman sukun bersifat sederhana pada lokasi penelitian pertumbuhan tanaman sukun cukup baik, karena setiap tanaman sukun yang ditemukan telah memiliki produktivitas buah yang cukup.

Anwar Syadat Siregar : Inventarisasi Tanaman Sukun (Arthocarpus communis) Pada Berbagai Ketinggian Di Sumatera Utara, 2010.

Kendala Yang Menghambat Pertumbuhan Sukun lokal

Hama dan penyakit merupakan suatu kendala pada tanaman sukun. Hasil yang diperoleh berdasarkan pengamatan dan analisa kuisioner bahwa pertumbuhan tanaman sukun akan terganggu apabila terserang hama dan penyakit pada tanaman. Penurunan produktivitas buah sukun dan resiko kematian pada tanaman sangat tinggi dan serangan hama dan penyakit pada tanaman sukun merusak pertumbuhan dan tidak tergantung terhadap umur tanaman yang ada. Tabel 5. Persentase Kendala Yang Menghambat Pertumbuhan Sukun Dengan Responden

No Kendala Pertumbuhan

Sukun

Jumlah Responden Kategori Persentase

(%) 1 2 3 4 Kesuburan tanah Ketinggian Iklim

Hama dan penyakit

10 4 15 70 Sangat Rendah Sangat Rendah Sangat Rendah Baik 10,10 4,04 15,15 70,70 Total 99 99,99

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa kendala yang dapat mengganggu pertumbuhan sukun adalah hama dengan jumlah responden 70 orang dan persentase 70,70 %. Kesuburan tanah jumlah responden 10 orang dengan persentasi 10,10 %. Iklim 15 orang responden dengan persentase 15,15 % serta ketinggian 4 orang responden dengan persentase 4,04 %.

Serangan Hama dan Penyakit Pada Sukun

Dilihat dari segi ketahanan terhadap serangan hama, sukun lokal memiliki ketahanan yang lebih tinggi dengan jenis lain. Meskipun sukun lokal telah memiliki umur yang lebih tua namun hanya serangan penyakit yang bersifat sementara dan pohon terekgradasi karena umur (pelapukan). Tindakan yang dilakukan oleh petani untuk meminimalisir agar serangan hama dan penyakit tidak menyebar cukup sederhana yaitu dengan cara memangkas bagian batang yang

Anwar Syadat Siregar : Inventarisasi Tanaman Sukun (Arthocarpus communis) Pada Berbagai Ketinggian Di Sumatera Utara, 2010.

terserang dan penyemprotan dengan insektisida. Tetapi tidak terdapat pada setiap desa kawasan penelitian perlakuan pengendalian hama dan penyakit.

Serangan hama disajikan pada Gambar 2 di bawah ini pada daerah dataran tinggi dengan ketinggian 860 mdpl pada Desa Manik Maraja, Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun. Terdapat tanaman sukun yang terserang hama penggerek yang dapat mengurangi produktivitas sukun yang dapat menyebabkan layu pada bagian pucuk batang serta dapat menyebabkan pembusukan pada tangkai batang dan buah yang terdapat pada tangkai akan gugur atau jatuh sebelum dilakukan proses pemanenan buah sukun. Hama penggerek ini dapat mematikan pohon. Oleh karena itu, bila ada serangan harus cepat diberantas. Penyakit yang mengancam tanaman sukun adalah mati pucuk, busuk buah lunak, dan busuk tangkai buah.

Anwar Syadat Siregar : Inventarisasi Tanaman Sukun (Arthocarpus communis) Pada Berbagai Ketinggian Di Sumatera Utara, 2010.

Kendala dalam pertumbuhan sukun adalah serangan hama seperti pada Gambar 2, pada batang terdapat lobang akibat serangan hama penggerek batang (borer) yang dapat menurunkan produktivitas buah sukun. Dampak dari serangan mengakibatkan layu pada ujung dahan serta dapat melapukan batang yang terserang sehingga mengakibatkan berkurangnya produktivitas buah sukun. Buah dari batang yang terserang oleh hama penggerek dapat jatuh sendiri akibat tahan atau tangkai pada buah mengalami pembusukan.

Penanggulangan oleh para petani dari serangan hama penggerek sangat sederhana yaitu dengan pemangkasan cabang yang telah terserang. Sebagian masyarakat petani yang membiarkan tanamanan sukun terserang hama penggerek, karena petani berpendapat bahwa tanaman sukun mampu untuk bertahan dan merupakan hal yag sangat biasa terjadi pada tanaman sukun. Walaupun proses meminimalisir serangan hama sangat sederhana.

Bagian batang merupakan bagian yang sangat mudah untuk terserang oleh hama penggerek yang dapat merusak bagian batang yang menyebabkan layu pada bagian pucuk sehingga mengganggu proses perkembangan buah sukun. Pada bagian yang terserang akan terdapat lobang dibagian batang tanaman sukun, hal ini dapat menyebabkan pembusukan dan kematian pada tanaman yang terserang oleh hama penggerek tanaman sukun. Hama yang biasa menyerang tanaman sukun adalah penggerek batang (Xyleberus sp.) bukan merupakan suatu ancaman yang sangat serius karena dalam penanggulangan yang ada hanya bersifat sederhana yang dipergunakan oleh masyarakat petanai pada lokasi penelitian dan hal ini dapat mengurangi kerusakan pada batang yang terserang oleh hama penggerek yang sangat sering ditemukan pada batang tanaman sukun yang ada.

Anwar Syadat Siregar : Inventarisasi Tanaman Sukun (Arthocarpus communis) Pada Berbagai Ketinggian Di Sumatera Utara, 2010.

Produkvtivitas Tanaman Sukun

Tanaman sukun memiliki produktivitas yang cukup tinggi, buah sukun tidak mengalami kekosongan pembuahan pada tanaman, hanya musim panen terbesar dapat terjadi dua kali dalam setahun dengan perbandingan semakin tua tanaman sukun maka akan menghasilkan buah yang lebih banyak. Hal ini sesuai dengan hasil yang diperoleh pada Tabel 6 sebagai berikut:

Tabel 6. Persentase Produktivitas Buah Sukun pada Responden

No Jumlah Buah/Pohon Jumlah

Responden Kategori Persentase (%) 1 2 3 4 100 buah 200 buah 300 buah 400 buah 20 29 10 40 Sangat Rendah Rendah Sangat Rendah Rendah 20,20 29,29 10,10 40,40 Total 99 99,99

Sukun lokal mampu berbuah sebanyak 200 – 400 buah/ pohon. Panen raya terjadi 2 kali dalam setahun, harga sukun lokal ditingkat petani adalah Rp 1500/ buah sehingga dengan produksi sebanyak itu, petani mampu menerima pendapatan Rp 150.000 – Rp 300.000/ 1 kali panen. Sukun lokal cenderung berbuah sepanjang tahun namun panen raya biasanya pada bulan Agustus – September dan Februari – Maret. Tetapi pada panen raya untuk masing-masing daerah berbeda ini tergantung tahun dan bulan penanaman yang dilakukan oleh para petani sukun dan sukun bukan merupakan tanaman musiman bagi masyarakat yang ada pada proses pembuahan pada tanaman sukun.

Sebagian besar petani yang memiliki pohon sukun memanfaatkan produksi buahnya untuk dikonsumsi sendiri. Sukun yang beredar dipasaran biasanya sukun jenis lokal karena hanya sukun jenis ini yang mampu barproduksi banyak dan tahan busuk. Untuk sukun yang biasanya dijual, pemanenanan dilakukan oleh pembeli sendiri yang datang ketempat pemilik pohon sukun. Biaya pemanenan

Anwar Syadat Siregar : Inventarisasi Tanaman Sukun (Arthocarpus communis) Pada Berbagai Ketinggian Di Sumatera Utara, 2010.

(pemanjatan dan lain-lain) menjadi tanggungan pembeli. Pemanenan dilakukan secara sederhana yaitu dengan cara pemanjatan. Untuk buah yang sulit dijangkau untuk dipetik biasanya menggunakan bantuan pengait (galah). Buah yang dipetik langsung dijatuhkan ketanah, jarang sekali buah yang dipetik ditampung dengan jaring / net untuk mencegah kerusakan akibat benturan pada saat pemanenan ini dasajikan pada Gambar 3 pemanenan buah sukun tanpa menggunakan jaring/ net.

Gambar 3. Buah Dipanen Tanpa Manggunakan Jaring/ Net.

Proses pemanenan tanaman sukun yang sangat sederhana dapat menyebabkan kerusakan pada buah sukun akibat benturan-benturan saat proses pemanenan. Luka akibat benturan akan terlihat pada bagian buah dengan warna yang berbeda dengan warna kecoklat kehitaman dan agak lembut dibagian benturan. Tapi hal ini tidak begitu mempengaruhi ketahanan dan keawetan buan sukun lokal terhadap terjadinya pembusukan akibat benturan. Hal ini yang menyebabkan diminati jenis sukun lokal dari jenis lain. Tetapi untuk memperoleh

Anwar Syadat Siregar : Inventarisasi Tanaman Sukun (Arthocarpus communis) Pada Berbagai Ketinggian Di Sumatera Utara, 2010.

hasil yang lebih baik harus menggunakan perlakuan yang layakdalam proses pemanenan yang dipergunakan.

Buah sukun lokal tidak memiliki biji pada buah sama dengan jenis lainya. Hal ini sangat bebeda dengan jenis tanaman buah-buahan lainnya terdapat biji pada buah, seperti tanaman kluwi merupakan tanaman yang hampir sama dengan sukun baik dari segi daun, dan batang. Perbedaan antara tanaman sukun dan kluwi hanya terdapat pada bentuk buah, serta pada tanaman kluwi memilki biji yang terdapat pada buah dan bentuk buah berduri kuning tajam, sedangkan pada tanaman sukun tidak memiki biji pada buah dan bentuk buah memiliki duri tumpul serta warna buah hijau, perbedaan ini sangat nyata terlihat hanya pada bagian buah.

Proses berbuah pada tanaman sukun jenis lokal pada bulan Agustus-September dan bulan Februari-Maret. Pada satu tahun tanaman sukun memiliki dua kali musim panen raya atau panen buah yang melimpah, ini terjadi pada bulan Januari - Maret. Buah dapat dipanen setelah tua benar. Tandanya, tonjolan kulit buah mulai merata dan buah berwarna kuning kusam. Buah sukun apabila dibungkus sejak kecil menunjukan warna menarik dan bersih. Buah dipotong pada tangkainya dengan galah yang ujungnya diberi pisau. Getah yang keluar dari tangkai buah dapat dihentikan dengan mencelupkan kedalam air. Bila buah dapat dihasilakan dengan baik dalam pemanenan tidak langsung menjatuhkan buah yang telah dipanen ketanah karena hal ini dapat mengakibatkan kerusakan pada buah yang akan dijual dipasar dan buah yang pemanenan jatuh ketanah mudah terserang oleh busuk sehingga apabila dimanfaatkan akan terasa pahit. Bagi para petani merupakan masukan yang berarti karena pada pemanenan sukun pembeli

Anwar Syadat Siregar : Inventarisasi Tanaman Sukun (Arthocarpus communis) Pada Berbagai Ketinggian Di Sumatera Utara, 2010.

yang langsung datang kepemilik pohon sukun dan taransaksi yang dilakukan dengan perhitungan jumlah buah dengan harga yang telah disepakati.

Tanaman sukun lokal dapat berproduksi buah pada tanaman umur 5 tahun secara terus-menerus tanpa mengenal umur pohon. Setelah umur buah 3 bulan telah dapat untuk di manfaatkan atau telah dapat untuk dipanen secara menyeluruh. Pada lokasi penelitian umur pohon > 5 tahun dimana pada lokasi ini keseluruhan tanaman sukun telah menghasilkan buah yang baik, pada kawasan Desa tertentu seperti Dolok Maraja, Bahsulung tanaman rata-rata telah berumur > 33 tahun, dengan ketinggian hampir 33 meter berdasarkan pengamatan dilokasi penelitian. Berdasarkan pada pengamatan dan hasil wawancara bahwa tanaman sukun pada lokasi penelitian perbandingan umur yang sudah tua tidak dapat mengurangi produktivitas buah sukun. Karena semakin tua tanaman yang ada maka prouktivitas yang dihasilkan akan semakin tinggi. Kendala pada penamanenan sukun yang telah berumur tua akan mengalami kesulitan untuk memetik buah dengan kondisi tangkai buah akan semakin sulit untuk dijangkau dengan ketinggian batang dan cabang tanaman sukun.

Manfaat Buah Sukun

Sukun merupakan tanaman yang seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan berupa buah, daun, batang, pada lokasi penelitian masyarakat telah mengenal berbagai pemanfaatan yang ada akan tetapi masih sangat terfokus pada pemanfaatan buah saja, ini sesuai dengan hasil pengamatan dan analisa kuisioner dilapangan dapat dilihat dan disajikan pada Tabel 7.

Anwar Syadat Siregar : Inventarisasi Tanaman Sukun (Arthocarpus communis) Pada Berbagai Ketinggian Di Sumatera Utara, 2010.

Tabel 7. Persentase Manfaat Buah Sukun Menurut Responden

No Manfaat Buah Sukun Jumlah responden Kategori Persentase (%)

1 2 3 4 Bahan makanan Obat-obatan Kayu Naungan 80 9 5 5 Baik Sangat Rendah Sangat Rendah Sangat Rendah 80,80 9,09 5,05 5,05 Total 99 99,99

Pada data yang disajikan pada tabel di atas menunjukan bahwa pemanfaatan buah sukun sebagai bahan makanan dengan jumlah 80 responden

Dokumen terkait