• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Potensi Lahan Kritis (PLK)

METODOLOGI PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Potensi Lahan Kritis (PLK)

Departemen Kehutanan (1985) mendefinisikan lahan kritis sebagai lahan yang sudah tidak dapat berfungsi sebagai media pengatur tata air dan unsur produksi pertanian yang baik, dicirikan oleh keadaan penutupan vegetasi kurang dari 25 persen, atau ditandai dengan adanya gejala erosi lembar (sheet erosion), dan erosi parit (gully erosion).

Berdasarkan peta pada Lampiran 21, kekritisan lahan dibagi pada beberapa tingkatan, yaitu : sangat kritis, kritis, agak kritis, potensial kritis, tidak kritis dan bandar udara. Luas kekritisan Sub DAS Deli disajikan pada Tabel 28. Potensi lahan kritis pada suatu daerah merupakann persentase perbandingan luas lahan kritis dengan luas total lahan tersebut.

Tabel 28. Tingkat Kekritisan Lahan Sub DAS Deli

Lahan Kritis Luas(Ha) Persentase(%)

Bandar udara 146,016 Ha 2,23

Potensial kritis 1.999,038 Ha 30,66

Agak kritis 4.376,946 Ha 67,11

Total 6522 Ha 100

Sumber : BPDAS Sei Wampu – Ular, 2016.

Perhitungan luas dilakukan dengan menggunakan planimeter, untuk mengetahui luas masing – masing kategori. Tingkat kekritisan pada sub DAS Deli dibagi atas 3 kategori, yaitu : potensial kritis sebesar 1.999,038 Ha (30,66%), agak kritis sebesar 4.376,946 Ha (67,11%), dan terdapat lahan yang digunakan sebagai bandar udara sebesar 146,016 Ha (2,23%). Lahan potensial kritis merupakan lahan yang berpotensi menjadi kritis apabila lahan tersebut tidak dilakukan pengelolaan yang baik. Lahan agak kritis merupakan lahan yang telah kritis yang disebabkan oleh pengelolaan yang kurang baik, akan tetapi lahan seperti ini dapat

ditanggulangi dengan perlakuan konservasi yang baik, sehingga dapat mengurangi kekritisan lahan.

Persentase Penutupan Vegetasi (PPV)

Persentasi penutupan vegetasi diperoleh dari perbandingan antara luas vegetasi permanen dengan luas total DAS/Sub DAS sesuai Tabel 4. Berdasarkan Peraturan Kementrian Kehutanan No.61 tahun 2014, menyatakan bahwa vegetasi permanen yang dianalisis adalah tanaman tahunan, yang berupa hutan, semak belukar, dan kebun.

Berdasarkan peta pada Lampiran 22,penutupan lahan terbagi atas : belukar rawa, perkebunan, hutan mangrove sekunder, pertanian lahan kering, sawah, pemukiman, tegalan, hutan lahan kering sekunder, tambak, pertanian lahan keering bercampur semak, tanah terbuka/instalasi prasarana. Luas penutupan lahan/vegetasi pada Sub DAS Deli disajikan pada Tabel 29.

Tabel 29. Luas Penutupan Lahan/Vegetasi Sub DAS Deli

Penutupan Lahan Luas (Ha) Persentase (%)

Belukar rawa 193,67 Ha 2,96

Perkebunan 24,338 Ha 0,37

Hutan mangrove 249,04 Ha 3,83

Sawah 207,53 Ha 3,16

Pertanian lahan kering 1.573,50 Ha 24,12

Pemukiman 4.273,922 Ha 65,53

Total 6522 Ha 100

Sumber : BPDAS Sei Wampu - Ular, 2016.

Persentasi vegetasi permanen pada sub DAS Deli yang diperoleh luas total vegetasi tahunan yaitu : luas perkebunan sebesar 24,338 Ha (0,37%), luas semak belukar sebesar 193,67 Ha (2,96%), dan luas hutan mangrove sebesar 249,04 Ha (3,83%). Dari perhitungan perbandingan luas vegetasi permanen dengan luas sub DAS, maka diperoleh nilai persentase penutupan vegetasi ada sub DAS Deli yaitu : 7,16% , yang dikategorikan sangat buruk.

Indeks Erosi

Perhitungan indeks erosi aktual pada sub DAS Deli dilakukan dengan metode USLE, dengan menentukan nilai erosivitas hujan, erodibilitas tanah, faktor topografi, faktor vegetasi dan konservasi pada lahan tersebut. Dari penelitian yang dilakukan maka diperoleh indeks erosi pada sub DAS Deli sebesar 1,656, yang dikategorikan dalam kelastinggi. Perolehan indeks erosi ini merupakan jumlah dari indeks erosi yang terjadi pada lahan vegetasi jagung, lahan kosong pemukiman, dan hutan mangrove. Dari data yang diperoleh maka lahan sub DAS Deli ini perlu dilakukan konservasi menjaga kelestarian lingkungan sub DAS Deli, serta dibutuhkan pengelolaan yang baik untuk mencegah terjadinya erosi yang berlebihan.

a. Sifat Fisik Tanah Vegetasi Jagung, Lahan Kosong Pemukiman, Hutan Mangrove

Tabel 30. Sifat Fisik tanah lahan pertanian jagung, lahan kosong pemukiman, Tanah Hutan Mangrove

Parameter Satuan Nilai

Jagung Lahan Kosong Hutan Mangrove

Permeabilitas cm/jam 3,704 6,952 0,481

Porositas % 54,29 46,59 52,96

Dari Tabel 29 menunjukkan pertanian lahan kering, hutan mangrove dan areal pemukiman merupakan penutupan lahan yang paling dominan di Sub DAS Deli. Tanah lahan jagung dari lahan pertanian kering di kecamatan Delitua, lahan

kosong dari areal pemukiman di kecamatan Medan Marelan, dan tanah dari hutan mangrove di kecamatan Medan Labuhan, tanah tersebut digunakan sebagai sampel yang diteliti untuk mengetahui besarnya nilai erosi pada Sub DAS Deli .

Berdasarkan Tabel 30 menunjukkan bahwa pada lahan bervegetasi mangrove memiliki tekstur liat dan lahan kosong memiliki tekstur lempung berpasir sedangkan pada lahan bervegetasi jagung memiliki tekstur pasir berlempung sesuai dengan segitiga USDA pada Lampiran 7.Tanah pada lahan bervegetasi jagung memiliki fraksi pasir yang paling tinggi dibandingkan tanah pada lahan kosong dan pada hutan mangrove. Tanah pada hutan manggrove memiliki fraksi liat paling tinggi sehingga memiliki kemampuan menahan air yang tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Haridjaja et.al(2013) yang menyatakan bahwa tekstur tanah sangat mempengaruhi kemampuan tanah dalam memegang air. Tanah bertekstur liat memiliki kemampuan yang lebih besar dalam menahan air.

Lahan hutan mangrovememiliki kandungan bahan organik yang paling tinggi dibandingkan pada lahan kosongdan bervegetasi jagung, yaitu sebesar 6,08

% dan kandungan bahan organik terendah pada lahan kosong pemukiman, yaiutu sebesar 3,34 %( perhitungan pada Lampiran 6). Hal ini disebabkan karena tanaman hutan mangrove mengikat unsur hara dengan baik, sedangkan pada lahan kosong sangat kurang sumber bahan organik, dan pada lahan bervegetasi jagung efek perlakuan pembersihan tanah berulang untuk peanaman kembali, menyebabkan bahan organik menjadi berkurang.

Kerapatan massa tanah Sub DAS Deli yang tertinggi adalah pada tanah lahan kosong di pemukiman sebesar 1,39 g/cm3 sedangkan yang terendah ada pada lahan bervegetasi jagung , sebesar 1,06 g/cm3

Nilai kerapatan partikel (particle density) pada lahan kosong memiliki nilai paling besar yaitu 2,58 g/cm

(Perhitungan lampiran 5). Hal ini disebabkan karena tanah pada lahan kosong

tidak terdapat vegetasi yang menyebabkan tanah memiliki ruang pori yang kecil kerapatan antar agregat tanah yang tinggi, dan unsur hara yang rendah. Hal ini sesuai dengan literatur Hakim,dkk (1986) kerapatan massa tanah erat hubungannya dengan penetrasi akar produksi tanaman. Jika terjadi pemadatan tanah maka air dan udara sulit disimpan dan ketersediaannya terbatas dalam tanah menyebabkan terhambatnya pernafasan akar dan penyerapan air dan memiliki unsur hara yang rendah karena memiliki aktivitas mikroorganisme yang rendah.

3 dan paling rendah yaitu pada lahan hutan mangrove sebesar 2,31 g/cm3

Nilai porositas pada tanah lahan kosong memiliki nilai yang paling rendah dibandingkan dengan vegetasi jagung dan hutan mangrove, yaitu sebesar 46,59%.

Hal ini disebabkan karena tanah yang tidak bervegetasi memiliki porositas yang rendah ,dan nilai bahan organikpada lahan kosong lebih rendah dibandingkan bervegetasi jagung dan hutan mangrove(perhitungan pada Lampiran 5). Hal ini

(perhitungan pada Lampiran 5). Nilai kerapatan partikel berbanding terbalik dengan kandungan bahan organik pada tanah, semakin kecil bahan organik maka nilai kerpatan partikelnya semakin besar, dan sebaliknya.Hal ini sesuai dengan Hakim, dkk (1986) yang menyatakan bahwa, perbedaan kerapatan partikel disebabkan karena adanya variasi yang besar didalam kandungan bahan organik dan unsur hara yang menigisi ruang pori tanah.

sesuai dengan pernyataan Susanto (1994) yang menyatakan bahwa adanya bahan organik dalam tanah akan memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah seperti meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang dapat melepas asam organik yang tersedia dalam tanah, meningkatkan total ruang pori tanah, menurunkan kepadatan tanah yang dapat menyebabkan kemampuan mengikat air dalam tanah tinggi.

Permeabilitas pada tanah lahan tidak bervegetasi memiliki nilai permeabilitas yang paling tinggi daripada bervegetasi jagung dan mangrove, yaitu sebesar 6,95 cm/jam yang dikategorikan sedang (perhitungan pada Lampiran 8).

Hal ini disebabkan karena pada lahan tidak bervegetasi (kosong) memiliki kandungan liat yang rendah dan tingkat kandungan bahan organik yang rendah, yang menyebabkan tanah pada lahan kosong lebih tidak dapat mengikat air dengan baik sehingga tanah akan lebih mudah untuk tererosi. Hal ini sesuai dengan Susanto (2014) yang menyatakan bahwa adanya bahan organik dalam tanah dapat meningkatkan kemampuan tanah dalam mengikat air, dan unsur hara pada tanah.

Struktur tanah dari hasil pengujian di lapangan diperoleh dengan melihat agregat – agregat pada bongkahan tanah dan disesuaikan nilai harkat struktur tanah tersebut. Struktur tanah pada lahan bervegetasi jagung memiliki struktur tanah granular halus. Untuk lahan kosong memiliki struktur tanah yang gumpal dan tanah mangrove memiliki struktur tanah gumpalan pejal. Penentuan harkat struktur tanah disesuaikan pada Tabel 8.

b. Prediksi Erosi yang Terjadi (A)

Hasil perhitungan erosi dengan menggunakan persamaan USLE, untuk mengetahui besarnya erosi aktual pada disajikan pada Tabel 32.

Tabel 31. Nilai Erosi pada Lahan Bervegetasi Jagung, Lahan Kosong, dan Hutan Mangrove

Nilai erosivitas berdasarkan curah hujan 10 tahun terakhir adalah 598,93cm/tahun. Nilai erosivitas berdasarkan curah hujan 10 tahun didapat berdasarkan data curah hujan harian maksimum dan data hari hujan 10 tahun terakhir dari stasiun BMKG Sampali (perhitungan pada Lampiran 4). Menurut Sudiane (2012) indekserosivitas hujan adalah suatu nilai yang menunjukkan pengaruh hujan dengan besaran tertentu terhadap erosi yang terjadi pada suatu kawasan. Semakin tinggi nilai erosivitas hujan maka erosi yang terjadi dalam kawasan semakin besar. Indeks erosivitas hujan dihitung berdasarkan besarnya curah hujan bulanan yang terjadi pada kawasan yang ditinjau.

Dari Tabel 31menunjukkan tanah pada lahan kosong memiliki nilai erodibilitas tanah yang paling besar yaitu 0,66 termasuk dalam kategori sangat tinggi (perhitungan pada Lampiran 9 ). Nilai erodibilitas tanah bervegetasi jagung dikategorikan tinggi dan hutan mangrove dikategorikan rendah dengan nilai erodibilitas 0,47 dan 0,15 (sesuai pada Tabel 10). Tanah dengan nilai erodibilitas yang tinggi akan mudah tererosi. Setiap jenis memiliki kepekaan yang

berbeda-beda terhadap erosi. Menurut Wischmeier dan Mannering (1969) menyatakan bahwa erodibilitas alami tanah merupakan sifat kompleks yang tergantung pada laju infiltrasi tanah dan kapasitas tanah untuk bertahan terhadap penghancuran agregat serta pengangkutan oleh hujan dan aliran permukaan.Salah satu faktor yang mempengaruhi besarnya laju erosi antara lain adalah faktor vegetasi.

Dari hasil pengamatan yang dilakukan, vegetasi mangrove yang mempunyai kemiringan tertinggi, yaitu : 1,067 % dan panjang lereng 29,998 m memiliki nilai LS sebesar 0,266, sedangkan Pada titik pengamatan lahan kosong dan vegetasi jagung yang memiliki panjang lereng yang sama yaitu 29,999 m, memiliki persentase kemiringan sebesar 0,20 % dan 0,36 % dan juga nilai LS sebesar 0,131 dan 0,150 (perhitungan pada Lampiran 10). Dari keadaan tersebut terlihat bahwa kemiringan lereng berpengaruh dalam terjadinya erosi . Hal ini sesuai dengan pernyataan Utomo (1989) yang menyatakan bahwa kemiringan lereng berpengaruh dalam pergerakan air serta kemampuan memecahkan dan membawa partikel-partikel tanah akan bertambah dengan bertambahnya sudut ketajaman lereng.

Dari hasil pengamatan di lapangan dan perhitungan terhadap jenis tanaman dan pengelolaannya serta tindakan konservasi tanah sekarang. Nilai C dan P pada setiap lahan bervariasi sesuai dengan jenis vegetasi dan perlakuan konservasi yang dilakukan di lapangan. didapat nilai C dan P seperti tercantum pada Tabel 15. Lahan vegetasi jagung (C=0,637 ; P= 1,0), lahan kosong (C=1,0 ; P=1,0) dan hutan mangrove (C=0,001 ; P=1,0) .Nilai C dan P terdapat pada Tabel 12 dan Tabel 13.

Berdasarkan nilai faktor CP, maka dapat diprediksikan bahwa daerah dengan pola penggunaan lahan hutan mangrove akan menunjukkan laju erosi tanah terkecil. Hal ini sesuai dengan pernyataan Arsyad (1989) yang menyatakan bahwa dengan adanya vegetasi penutup tanah yang baik, seperti rumput yang tebal dan hutan yang lebat dapat menghilangkan pengaruh topografi terhadap erosi, sehingga erosi yang terjadi kecil.

Urutan besarnya nilai prediksi erosi dimulai dari yang terbesar adalah pada titik pengamatan lahan kosong di kecamatan Medan Marelan sebesar 51,336 ton/ha/tahun dan terkecil pada lahan hutan mangrove di kecamatan Medan Labuhan 0,023 ton/ha/tahun (perhitungan pada Lampiran 11). Laju prediksi erosi terendah terdapat pada lahan bervegetasi mangrove, hal ini disebabkan pada lahan mangrove tanah memiliki kemampuan meloloskan air yang dikategorikan sangat lambat dan, kemampuan mengikat unsur hara tanah yang sangat kuat, dan dengan vegetasi penutup hutan yang lebat akan menyebabkan tanah pada lahan mangrove sulit tererosi, meskipun kemiringan lereng yang tertinggi. Mangrove juga memiliki perakaran yang kuat untuk menahan terjadinya erosi. Sedangkan laju erosi tertinggi terdapat pada lahan kosong tanpa pengolahan, hal ini disebabkan karna tanah tidak memiliki vegetasi yang berfungsi untuk menahan hantaman energi jatuhnya hujan, sehinngga tanah dapat tererosi secara langsung.

c. Erosi yang Dapat Ditoleransi (T) pada Lahan Bervegetasi Jagung, Lahan Kosong, dan Hutan Mangrove

Adapun besarnya nilai laju erosi pada tanah jagung, lahan kosong dan hutan mangrove yang dapat ditoleransikan (T) pada Tabel 32.

Tabel 32. Nilai T pada Tanah Lahan Jagung, Lahan Kosong Pemukiman, dan Hutan Mangrove

Berdasarkan hasil perhitungan indeks bahaya erosi dan Tabel 31 .Besarnya nilai laju erosi sub DAS Deli yang dapat ditoleransikan (T) pada lahan pertanian jagung adalah sebesar 21,20 ton/ha.tahun pada lahan kosong sebesar 13,86 ton/ha.tahun dan pada hutan mangrove sebesar 12,01 ton/ha.tahun (perhitungan pada Lampiran 12).

d. Tingkat Bahaya Erosi Sub DAS Deli

Besarnya tingkat bahaya erosi pada lahan tanaman bervegetasi jagung, lahan kosong dan hutan mangrove pada sub DAS Deli disajikan pada Tabel 33.

Tabel 33. Tingkat Bahaya Erosi Sub DAS Deli Vegetasi Erosi Aktual

(A)

Lahan Kosong 51,336 13,86 3,702 Sangat tinggi

Hutan Mangrove 0,023 12,01 0,001 Sangat rendah

Total (rata-rata) 78,159 47,07 1,656 Tinggi

Dengan diketahui nilai tingkat bahaya erosi pada suatu lahan maka dapat diketahui pula sebesar apa tingkatan erosi yang terjadi pada lahan tersebut.

Tujuannya agar dapat menentukan tindakan lanjutan untuk lahan tersebut supaya masih dapat dikelola dan memiliki produktivitas yang tinggi.

Besarnya tingkat bahaya erosi dengan menggunakan pendugaan erosi menggunakan metode USLE pada sub DAS Deli berdasarkan curah hujan 10 tahun pada lahan bervegetasi jagung sebesar 1,264, pada lahan kosong adalah 3,702 dan pada hutan mangrove 0,001, maka dapat disimpulkan bahwa kategori tingkat bahaya erosi pada lahan bervegetasi jagung termasuk ke dalam kategori kelas sedang. Sedangkan untuk lahan kosong termasuk ke dalam kategori sangat tinggi dan hutan mangrove ke dalam kategori sangat rendah. Sehingga nilai indeks erosi pada Sub DAS Deli dapat dikategorikan sangat rendah dengan nilai sebesar 1,656(perhitungan pada Lampiran 13). Semakin rapat tanaman maka semakin kecil energi hujan yang sampai kepermukaan tanah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Arsyad (1989) besarnya pengaruh energi hujan dipengaruhi oleh kerapatan tajuk dan tinggi dari permukaan tanah. Semakin rendah dan semakin rapat tajuk semakin kecil energi kinetik hujan yang sampai pada permukaan tanah.

Pada lahan kosong dibutuhkan tindakan konservasi untuk mencegah erosi yang terjadi semakin meningkat, karena dapat menghasilkan kerusakan tanah yang berat.

Aspek kelestarian lingkungan yang kedua adalah tata air DAS yang terdiri atas muatan sedimen, banjir, koefisien rezim aliran, koefisien aliran tahunan dan indeks penggunaan air.

Muatan Sedimen

Muatan sedimen terbentuk dimulai dari pengaruh pukulan tetesan hujan pada tanah sehingga memecah agregat tanah menjadi butir - butir tanah yang terlepas. Air hujan yang menjadi aliran permukaan akan mengikis dan mengangkut butir – butir tanah tersebut menjadi sebuah aliran, berperan dalam proses transportasi muatan sedimen.

Besarnya muatan sedimen pada sub DAS Deli disajikan pada Tabel 35.

Tabel 34. Muatan Sedimen Lahan Sekitaran Sub DAS Deli Vegetasi Erosi Aktual (A)

(ton/ha/thn)

Rasio penghantar sedimen (%)

Muatan sedimen (ton/ha/thn)

Jagung 26,800 15 4,020

Lahan kosong 51,336 15 7,700

Hutan mangrove 0,023 15 0,003

Rata-Rata 8,889 15 3,907

Pada hasil pengujian, maka dapat diperolehnilai sedimentasi terbesar terjadi pada lahan kosong dengan nilai 7,700ton/ha/thn, sedangkan sedimentasi terkecil terjadi pada hutan mangrove, dengan nilai 0,003 ton/ha/thn. Muatan sedimen yang terjadi pada sub DAS Deli yaitu sebesar 3,907ton/ha.tahun( perhitungan pada Lampiran 16), nilai muatan sedimentasi ini dikategorikan sangat rendah.

Sedimentasi merupakan hasil dari terjadinya erosi, dimana material tanah berupa lumpur terkikis oleh aliran sungai dan akan terendap. Erosi yang terjadi berbanding lurus dengan muatan sedimen yang terjadi, maka dari itu semakin tinggi terjadinya erosi maka semakin tinggi muatan sedimen pada DAS/Sub DAS tersebut.

Banjir

Banjir merupakan kondisi dimana debit aliran air sungai dalam jumlah yang tinggi, yang disebabkan oleh hujan yang turun terus menerus, sehingga air tersebut tidak dapat ditampung oleh alur sungai yang ada, maka air melimpah keluar dan menggenangi daerah sekitarnya (Kodatie,dkk, 2006).

Kondisi banjir yang terjadi di sub DAS Deli di sajikan pada Tabel 35.

Tabel 35. Frekuensi Banjir di Sub DAS Deli

No Waktu Banjir Daerah Banjir

1 12 September 2013 Kec. Medan Amplas

2 07 Oktober 2013 Kec. Medan Labuhan

3. 28 Oktober 2013 Kec. Medan Kota, Kec.Medan Maimun, Kec. Medan Polonia

4 30 November 2015 Kec. Medan Maimun

5 08 Februari 2016 Kec. Medan Maimun, Kec. Medan Johor

6 23 Februari 2017 Kec. Medan Maimun

7 05 Maret 2017 Kec. Medan Johor

8 25 Juni 2017 Kec. Medan Maimun

Sumber : BPBD Kota Medan, 2017

Berdasarkan Tabel 35 kejadian banjir dibeberapa daerah banjir terjadi lebih dari 1 kali dalam setahun dapat, diasumsikan bahwa frerkuensi banjir di Sub DAS Deli terjadi lebih dari 1 kali dalam setahun dan dikategorikan sangat tinggi.

Dari peninjauan langsung di lapangan, kurangnya daerah resapan air disekitaran aliran sungai merupakan penyebab utama terjadinya banjir. Sehingga pada saat intensitas hujan yang tinggi, debit air akan mudah meluap dari biasanya sehingga dapat menyebabkan banjir.

Indeks Penggunaan Air (IPA)

Nilai penggunaan air dapat diperoleh dengan perbandingan jumlah debit air sungai selama setahun dengan banyaknya jumlah penduduk sekitaran DAS/Sub DAS. Sub DAS Deli melintasi 13 kecamatan, dengan total jumlah

penduduk 1.507.573 jiwa. Jumlah penduduk pada tiap – tiap kecamatan disajikan pada Tabel 36.

Tabel 36. Jumlah Penduduk Tiap-Tiap Kecamatan Sub DAS Deli

Kecamatan Jumlah penduduk (jiwa)

Kec. Medan Kota 93.165

Kec. Medan Denai 168.821

Kec. Medan Barat 92.732

Kec. Medan Deli 179.438

Kec. Medan Amplas 136.935

Kec. Medan Johor 148.775

Kec. Medan Marelan 160.540

Kec. Medan Labuhan 129.146

Kec. Medan Maimun 55.485

Kec. Medan Polonia 61.752

Kec. Medan Timur 126.705

Kec. Medan Delitua 93.441

Kec. Medan Patumbak 60.638

Total 1.507.573

Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Medan dan Deli Serdang, 2017 Dari data perhitungan pada Lampiran 18, debit aliran pada sub DAS Deli pertahun diperoleh dari rata – rata jumlah debit yang mengaliri sub DAS Deli selama 9 tahun, yaitu : 452.147.400 m3/tahun. Indeks penggunaan air sub DAS Deli diperoleh sebesar 299,91 m3

Koefisien Regim Aliran (KRA)

/tahun.jiwa, oleh karena itu indeks penggunaan air sub DAS Deli dapat dikategorikan sangat jelek (perhitungan pada Lampiran 18).

Nilai koefisien regim aliran merupakan perbandingan antara debit maksimum dan debit minimum, sesuai perhitungan pada Tabel 18. Debit merupakan bagian air larian yang berlangsung agak cepat (Asdak, 1995).

Dari Tabel 37 diketahui nilai rerata Qmaks selama 9 tahun sebesar 28,584 m3/s dan nilai rerata Qmin selama 9 tahun sebesar 9,080 m3/s, maka diperoleh

nilai rerata koefisien regim aliran selama 9 tahun antara tahun 2008 sampai dengan 2016 diketahui sebesar 3,146 (perhitungan pada Lampiran 14).

Secara detail hasil perhitungan nilai KRA dapat dilihat pada Tabel37 Tabel 37. Data Koefisien Regim Aliran Sub DAS Deli

No Tahun Qmaks (m3/s) Qmin(m3 Qmaks

Sumber : Balai Wilayah Sungai Sumatera Utara, 2016

Nilai KRA pada sub DAS Deli dikategorikan sangat rendah, hal ini menunjukkan bahwa kisaran nilai limpasan pada musim penghujan sangat kecil pada aliran sungai.

Koefisien Aliran Tahunan (KAT)

Koefisien aliran tahunan merupakan persentase curah hujan yang menjadi aliran langsung (direct runoff). Nilai koefisien aliran tahunan diperoleh dari perbandingan antara debit aliran tahunan dengan tebal hujan tahunan.

Nilai koefisien aliran tahunan yang terjadi di sub DAS Deli disajikan pada Tabel 38.

Tabel 38. Nilai Koefisien Aliran Tahunan pada Sub DAS Deli

qtahunan(m3/hari) Ptahunan (m3/hari) Koefisien Aliran Tahunan

116.880,342 273.924

Sumber : Balai Wilayah Sungai Sumatera Utara, 2016

Pada sub DAS Deli diperoleh data nilai koefisien aliran tahunan sebesar 0,426 (perhitungan pada Lampiran 15) yang berarti 42 % dari curah hujan yang jatuh menjadi air limpasan langsung (direct run off).

Dari hasil perhitungan yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa nilai limpasan langsung (directrun off) yang terjadi pada aliran Sub DAS Deli dikategorikan tinggi hal ini disebabkan oleh adanya aliran air yang melebihi nilai debit rata – rata oleh karena curah hujan yang tinggi dan dikarenakan daerah sekitaran Sub DAS Deli merupakan lahan pemukiman yang menyebabkan air hujan yang jatuh langsung menjadi air limpasan langsung, sehingga curah hujan yang berlebih menjadi tidak dapat ditampung dan dialirkan sehingga menjadi air limpasan langsung (direct run off).

Aspek lingkungan yang ke tiga adalah pemanfaatan ruang wilayah yang terbagi atas kawasan lindung dan kawasan budidaya, pada dasarnya merupakan bentuk intervensi yang dilakukan agar interaksi manusia dan makhluk hidup lainnya dengan lingkungannya dapat berjalan dengan seimbang untuk tercapainya kesejahteraan hidup serta kelestarian lingkungan dan keberlanjutan pembangunan.

Kawasan Lindung (KL)

Berdasarkan Peraturan Kementrian Kehutanan No. 61 tahun 2014 mendefinisikan wilayah yang termasuk kawasan lindung adalah hutan lindung, dan hutan konservasi ( cagar alam, suaka margasatwa, taman buru, tahura, taman wisata alam, dan taman nasional ) dan kawasan lindung lainnya.

Berdasarkan peta pada Lampiran 22 penutupan lahan/vegetasi kawasan lindung terbagi atas : sempadan, dan hutan mangrove sekunder. Luas penutupan lahan/vegetasi kawasan linndung pada Sub DAS Deli disajikan pada Tabel 39.

Tabel 39. Luas liputan Vegetasi Kawasan Lindung Sub DAS Deli

Perhitungan luas kawasan lindung diperoleh dari perhitungan dari peta menggunakan planimeter. Nilai kawasan lindung sub DAS Deli sebesar 30,48 % yang dikategorikan sedang (perhitungan pada Lampiran 19). Hal ini diperoleh dari perbandingan antara liputan vegetasi sekitar kawasan lindung dengan luas total

Perhitungan luas kawasan lindung diperoleh dari perhitungan dari peta menggunakan planimeter. Nilai kawasan lindung sub DAS Deli sebesar 30,48 % yang dikategorikan sedang (perhitungan pada Lampiran 19). Hal ini diperoleh dari perbandingan antara liputan vegetasi sekitar kawasan lindung dengan luas total

Dokumen terkait