C. Prosedur Pelaksanaan Penelitian
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Persentase Mortalitas Akibat Serangan Jamur dan Bakteri
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan pada lokasi pemeliharaan di Desa Pising mulai instar I sampai V diperoleh data dalam bentuk grafik persentase mortalitas. Perhitungan persentase mortalitas dapat dilihat pada Lampiran 1 dan Gambar 1.
Keterangan : Aspergillus sp, Beauveria bassiana, Bacillus sp.
Gambar 1. Persentase Mortalitas Akibat Serangan Bakteri dan Jamur Pada Lokasi Pemeliharaan Di Desa Pising, Kecamatan Donri-Donri, Kabupaten Soppeng.
1.04 1.94 1.52 0.81 10.89
12.42
7.99
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
Instar III Instar IV Instar V
23
Pada Gambar 1 di atas menunjukkan bahwa pada instar I – II tidak terlihat adanya serangan penyakit, sedangkan pada instar III, IV dan V menunjukkan adanya serangan bakteri Bacillus sp dimana pada instar III memiliki persentase mortalitas 10.89 %, instar IV persentase mortalitas 12.42 %, dan instar V persentase mortalitas 7.99 %. Sedangkan pada instar IV dan V masing-masing terdapat serangan jamur Aspergillus sp yang memiliki persentase mortalitas pada instar IV persentase mortalitas 1.04 %, instar V memiliki persentase mortalitas 1.52 %, dan Beauveria bassiana memiliki persentase mortalitas pada instar IV 1.94 %, instar V persentase mortalitas 0.81 %.
Berdasarkan Gambar 1 menunjukkan hasil bahwa serangan jamur dan bakteri yang terjadi pada lokasi pemeliharaan di Desa Pising masih dalam keadaan yang normal karena ulat yang sehat jauh lebih banyak, dan grafik persentase mortalitas akibat serangan penyakit bakteri dan jamur tidak mengikuti tahap pertumbuhan umur pada ulat sutera karena dapat terlihat serangan yang terjadi tidak beraturan dan berbeda pada tiap instarnya. Serangan yang terjadi pada ulat sutera lebih jelas terlihat pada saat instar IV karena tahap ini ulat sudah bisa diamati pergerakan yang normal dan tidak normal.
24
Keterangan : Aspergillus sp, Beauveria bassiana, Bacillus sp.
Gambar 2. Rata-Rata Persentase Mortalitas Akibat Serangan Bakteri dan Jamur Pada Lokasi Pemeliharaan Ulat Sutera Di Desa Pising, Kecamatan Donri-Donri, Kabupaten Soppeng.
Berdasarkan Gambar 2 memperlihatkan bahwa rata-rata persentase mortalitas akibat serangan penyakit jamur dan bakteri pada Lokasi Pemeliharaan yaitu Aspergillus sp 0.51 %, Beauveria bassiana 0.55 %, dan Bacillus sp 6.26 %.
Persentase mortalitas terlihat bahwa serangan bakteri Bacillus sp memiliki persentase yang paling tinggi diantara serangan jamur Aspergillus sp dan Beauveria bassiana.
Pada data mortalitas yang berada diLampiran 1 menunjukkan kematian yang terjadi pada fase ulat kecil sangat tinggi karena pengontrolan tempat pemeliharaan dan makanan yang tidak teratur. Tempat pemeliharaan yang digunakan tidak terlalu luas sehingga ulat terlihat menumpuk dan kotoran susah untuk dibersihkan, bahkan ulat yang sakit, mati dan membusuk terkadang tidak terlihat. Maka dari itu data yang
0.51 0.55
6.26
0 1 2 3 4 5 6 7
Jenis Penyakit Pada Tempat Pemeliharaan di Desa Pising
25
terlihat pada Lampiran 1 menunjukkan kematian sangat tinggi di fase ulat kecil (instar I, II, dan III), sedangkan difase ulat besar (instar IV dan V) kematian tidak begitu tinggi.
Rak pemeliharaan di fase ulat kecil (instar I, II, III) dan fase ulat besar (IV dan V) yang berada dipetani sangat meprihatinkan, rak yang digunakan untuk ulat kecil sampai ulat besar disamakan para petani sehingga kotoran ulat dan sisa makanan susah untuk dibersihkan, disinilah awal penyakit menyerang para ulat sutera yang berada ditempat-tempat pemeliharaan. Rak yang digunakan berukuran 2m sampai 4m x 1,5m untuk ulat kecil dan ulat besar. Menurut Perum Perhutani Soppeng (2013), luas tempat pemeliharaan untuk ulat kecil sesuai standar yaitu 2 m2/box telur, sedangkan untuk ulat besar dibutuhkan tempat pemeliharaan yang berukuran 1,5m sampai 2m x 15 m. Tempat pemeliharaan yang ada dimasyarakat tidak memperhatikan standar yang dikeluarkan oleh perum perhutani sehingga sulit menghasilkan ulat sutera yang sehat dan mengokon dengan baik.
Menurut Ryu (2000), luasan tempat pemeliharaan pada tahap ulat kecil harus selalu diperlebar dan diusahakan ulat dapat terlihat jarak yang jarang, dimana luasan tempat ulat sutera ini membuat pemberian makan daun murbei lebih afisien. Selain itu tenaga yang digunakan untuk pemeliharaan ulat kecil lebih sedikit dan harus berbeda yang mengambil daun dan memberi makan. Sedangkan fase ulat besar memerlukan tempat yang lebih luas serta tenaga manusia yang lebih banyak dan jam kerja yang lebih banyak pula. Manusia juga bisa menjadi faktor penularan penyakit, tergantung dari kondisi orang yang masuk ke ruangan tempat pemeliharaan yang kadang tidak memperhatikan kebersihan. Menurut Kartasubrata, dkk (2000), usaha
26
pemeliharaan ulat sutera sebaiknya melibatkan sedikit orang saja untuk mencegah media penyebaran bagi penyakit yang masuk.
Secara umum serangan bakteri dan jamur yang mengakibatkan kematian paling tinggi pada tempat pemeliharaan rata-rata ditemukan pada tahapan instar I sampai V, sesuai dengan pernyataan Tajima (1978), bahwa seranga penyakit bakteri dan jamur akan menurun dengan bertambahnya umur ulat. Perhitungan mortalitas penyakit bakteri dan jamur pada ketiga tempat pemeliharaan tersebut dapat dilihat pada Lampiran 1.
Menurut Balai Persuteraan Alam (1995), pemberian pakan dilakukan 3 sampai 4 kali sehari pada pagi, siang, sore dan malam hari. Akan tetapi yang terjadi dilapangan para kelompok tani hanya memberikan pakan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore hari saja, karena usaha ini dianggap usaha sampingan dan juga disibukkan oleh usaha pertanian dan usaha dagang para kelompok tani serta ketersediaan pakan makanan yang tidak begitu banyak sehingga diatur dan disesuaikan saja.
Pemberian pakan untuk ulat sutera harus dilakukan dengan teliti agar tetap bersih dan harus sesuai dengan umur ulat sutera. Pakan yang diberikan dengan dosis yang tidak sesuai akan menimbulkan ketidaknyamanan pada ulat sutera, sehingga dapat membuat ulat mencret. Jenis daun yang diberikan sebagai pakan ulat sutera adalah daun murbei (Morus spp), dimana untuk instar I, II dan III diberikan pakan murbei yang jenisnya Morus Australis karena jenis ini memiliki kandungan gizi yang tinggi dan daunnya lembut tidak banyak memiliki duri-duri kecil. Sedangkan untuk instar IV dan V diberikan murbei yang jenisnya Morus Multicaulis yang memiliki daun tebal dan besar, difase ulat besar memilki nafsu makan yang sangat tinggi bahkan rakus, sehingga murbei jenis M. Multicaulis dapat membuat ulat cepat
27
kenyang. Pemberian pakan yang dilakukan pada lokasi pemeliharaan tidak sesuai dengan kriteria atau kondisi ulat yang dapat mengakibatkan ulat terhilat kecil atau kurus. Keadaan umum lokasi pemeliharaan dapat dilihat pada Lampiran 2.
Disamping pemberian pakan yang harus teratur, masih banyak hal yang mesti diperhatikan agar ulat tetap sehat dan terlindungi dari serangan serangga atau hewan lainnya, salah satunya adalah pemberian kapur dan kaporit yang bertujuan untuk mmenghilangkan bau, menjaga kelembaban tubuh ulat serta menjaga kenyamanan ulat selama tidur. Pemberian kaporit dan kapur pada lokasi pemeliharaan dilakukan pada saat sebagian besar ulat tidur, dengan perbandingan 5 : 95 untuk instar I, II dan III, sedangkan untuk instar IV dan V pemberian kaporit dan kapur perbandingannya 10 : 90. Jenis ulat sutera yang dipelihara pada lokasi pemeliharaan tersebut berasal dari bibit ulat sutera F1 yang disalurkan oleh Kesatuan Pengusahaan Sutera Alam (KPSA) Perum Perhutani Soppeng Sulawesi Selatan melalui bagian produksi telur dan benang yang berada di Sudu Kabupaten Enrekang.
Secara umum kondisi suhu dan kelembaban pada lokasi pemeliharaan dan pengambilan sampel yaitu pada pagi hari berkisar antara 26 hingga 29oC, pada siang hari 30 hingga 32oC dan pada sore hari berkisar antara 25 hingga 27oC, sedangkan kelembaban udara pada pagi hari berkisar antara 75 hingga 78 %, pada siang hari 50 hingga 70 %, dan sore hari berkisar antara 60 hingga 75 %. Kondisi iklim di Kabupaten Soppeng ini terbilang cukup baik untuk pertumbuhan ulat sutera, seperti halnya yang dikemukakan oleh Ryu (2000) bahwa, ulat sutera dapat berkembang dengan baik pada daerah yang memiliki suhu maksimum 30oC, suhu optimum 24oC dan minimum 18oC, dengan kelembaban maksimum 85 %, kelembaban optimum 75
%, dan kelembaban minimum 60 %.
28
B. Hasil Identifikasi Bakteri
Berdasarkan hasil identifikasi diperoleh bakteri yang terdapat pada sampel ulat sutera yang bergejala. Hasil identifikasi pada beberapa ulat sutera yang bergejala didapat jenis bakteri yaitu Bacillus sp.
Bacillus sp merupakan bakteri yang tumbuh pada kondisi aerob dan anaerob yang sporanya tahan terhadap panas. Bacillus sp mempunyai sifat mampu tumbuh pada suhu lebih dari 50 oC dan suhu kurang dari 5 oC, mampu tumbuh pada konsentrasi garam tinggi, mampu menghasilkan spora dan mempunyai daya serangan tinggi dibandingkan mikroba lainnya. Bacillus sp adalah salah satu genus bakteri yang berbentuk batang dan memiliki koloni yang berwarna putih dan berbentuk bulat, sebagian bersifat motil atau mampu bergerak karena adanya flagel dan pada kondisi ekstrim dapat membentuk endospora (struktur istirahat). Bakteri ini dapat menekan cendawan atau bakteri patogen dengan antibiosis, bakteri tersebut juga memproduksi antibiotik yaitu bacylisin, fengymycin dan anterimin yang dapat menghambat pertumbuhan patogen (Buchanan, dkk., 1974).
(a) (b) (c)
Gambar 3 : (a) Ulat Sutera Terserang Penyakit, (b) Koloni Bakteri Bacillus sp pada Media NA, (c) Pengamatan Mikroskopis (100 kali) (Anonymous, 2011).
29
Kondisi ulat sangat hitam dan membusuk mengeluarkan cairan yang berlendir.
Pada umumnya ulat sutera yang terserang akan menimbulkan ciri-ciri yang sama yaitu pada Gambar (a). Keadaan ulat yang lembek sangat susah untuk dilakukan identifikasi karena jika tertusuk dengan keras akan mengeluarkan cairan yang sangat bau dan menyengat. Bacillus sp dapat membunuh dan menghancurkan bagian pada tubuh ulat jika dibiarkan.
Cairan berlendir yang merupakan bakteri Bacillus sp digoreskan pada media NA sehingga dapat dilihat perkembangan koloninya. Pada media NA terlihat pertumbuhan koloni bakteri Bacillus sp yang lurus dan rapih serta tidak mengeluarkan bau yang menyengat.
Menurut Buchanan, dkk. (1974), bakteri Bacillus sp termasuk dalam Kelas Schizomycetes, Ordo Eubacteriales dan Family Bacillaceae. Hasil dari identifikasi pada tahap ujireaksi gram reaksinya negatif karena tidak berlendir maka perlu dilakukan pengujian lanjutan yaitu uji pembentukan endospora hasilnya menunjukan reaksi positif berarti termasuk dalam golongan bacillus.
C. Hasil Identifikasi Jamur
Berdasarkan hasil identifikasi diperoleh jamur yang terdapat pada sampel ulat sutera yang bergejala. Hasil identifikasi beberapa ulat sutera yang bergejala didapat dua jenis jamur yaitu Aspergillus sp dan Beauveria bassiana.
1. Aspergillus sp.
Hasil identifikasi jamur Aspergillus sp merupakan penyakit ulat sutera yang ditemukan pada tiga lokasi pemeliharaan di Desa Pising. Jamur Aspergillus sp ini menyerang larva instar I sampai V, akan tetapi gejala yang ditimbulkan dapat terlihat
30
pada instar III, IV, dan V, dimana jamur ini berupa miselium yang sangat halus berwarna kehijau - hijauan seperti noda lumut pada ulat sutera.
(a) (b) (c)
(d)
Gambar 4 : (a) Ulat Sutera Terserang Penyakit, (b) Miselium Aspergillus sp Pada Ulat Sutera (c) Pertumbuhan Miselium Aspergillus sp pada media PDA, (d) Pengamatan Mikroskopis (100 kali).
Sampel bergejala menunjukkan bentuk tubuh ulat yang sangat busuk dan bengkak serta warna hitam kecoklat-coklatan. Miselium yang terlihat warna hijau pada tubuh ulat sutera adalah miselium Aspergillus sp. Miselium yang diambil pada ulat sutera ditumbuhkan hingga murni lalu dapat diamati dibawah mikroskop agar dapat terlihat bentuk batang dan spora jamur Aspergillus sp.
Aspergillus sp yang ditumbuhkan pada media PDA menunjukkan ciri-ciri dan warna yang sama pada ulat sutera. Miselium Aspergillus sp sangat halus dan jika disentuh akan layu, miselium yang telah layu akan berlendir pada permukaan media PDA dan mengeluarkan bau yang busuk. Miselium yang tumbuh akan terlihat murni jika pertumbuhannya steril dan tidak terkontaminasi serta media PDA tidak menunjukkan adanya perubahan warna. Miselium Aspergillus sp dimedia PDA harus
31
segera diidentifikasi dengan mengambil sampel miselium untuk dilihat pada mikroskop, pengambilan sampel miselium hanya dilakukan maksimal 3 kali karena pengambilan yang berulangkali akan membuat sampel pada media terkontaminasi.
Menurut Lacey, dkk. (1997), jenis jamur Aspergillus sp termasuk dalam Divisi Eumycota, Kelas Deuteromycotina dan Family Moniliaceae. Menurut Fisher, dkk. (1998), Aspergillus sp memiliki ciri-ciri yaitu koloni berwarna hijau kekuning-kuningan, hifa bersepta, konidiofor tegak dan panjang, berbentuk bebas dan puncak konidiofor nampak menggembung yang disebut vesikel, vesikel ini nampak bulat dan besar.
Menurut Steinhaus (1963), Samsijah dan Kusumaputra (1974), pada awal infeksi ulat sutera menunjukkan gejala tidak mau makan, gerakannya lemah dan larva bergerak tidak menentu. Di lokasi pemeliharaan ulat sutera ditemukan jamur Aspergillus sp yang diduga bersumber dari lingkungan yang lembab dan tempat pemeliharaan yang terbuat dari bambu, serta kotoran dan sisa makanan yang tidak segera dibersihkan.
2. Beauveria bassiana.
Berdasarkan hasil identifikasi jamur Beauveria bassiana merupakan penyebab penyakit ulat sutera yang ditemukan pada tiga lokasi pemeliharaan di Desa Pising.
Jamur Beauveria bassiana menyerang ke dalam tubuh ulat melalui ruas-ruas, di dalam tubuh ulat Beauveria bassiana berkembang hingga ulat mengalami kematian akibat infeksi oleh jamur. Pada fase serangan tidak terlihat adanya gejala yang muncul pada luar tubuh ulat, gejala akan muncul saat larva ulat telah mati, kulit nampak berminyak, larva yang mati akan mengeras dan tumbuh hifa berwarna putih yang menutupi permukaan tubuh ulat (Tazima, 1978).
32
(a) (b) (c)
Gambar 5 : (a) Ulat Sutera Terserang Penyakit, (b) Pertumbuhan Miselium Beauveria bassiana pada Media PDA, (c) Pengamatan Mikroskopis (100 kali).
Ulat sutera yang terserang jamur Beauveria bassiana terlihat putih dan kaku bahkan dapat kering jika dibiarkan. Ulat sutera terlihat bersih karena tertutupi oleh miselium Beauveria bassiana yang berwarna putih. Miselium Beauveria bassiana sangat halus dan bersekar-sekat dan jika disentuh akan layu. Pada media PDA miselium terlihat mengapung dan membentuk lingkaran-lingkaran yang tidak beraturan. Pertumbuhan harus sempurna agar didapatkan foto batang dan sporanya.
Menurut Sastrahidayat, dkk. (1990), jenis jamur Beauveria bassiana termasuk dalam Divisi Eumycota, Kelas Deuteromycetes dan Family Moniliaceae. Secara makroskopis jamur Beauveria bassiana nampak berwarna putih seperti tepung dan pertumbuhannya sangat lambat. Menurut Rianto dan Santoso (1991), jamur Beauveria bassiana merupakan salah satu jamur yang bersifat entomopatogenik, yaitu jamur yang menginfeksi dengan tiga jalan langsung dengan melalui kulit, pernafasan dan luka pada ulat. Miselia jamur tumbuh agak lambat tetapi mampung bersaing dalam hal tempat atau media tumbuh. Jamur Beauveria bassiana dapat bertahan lebih lama dibandingkan jamur yang lain. Miselia jamur bersekat dan berwarna putih, jamur Beauveria bassiana nampak menunjukkan warna putih pada luar tubuh ulat sehingga dikenal dengan jamur putih (Normayanti, 2003).
33
Jenis jamur ini hanya menyerang serangga, waktu kematian serangga yang terserang bervariasi antara 2 hari – 2 minggu setelah terinfeksi (Steinhaus, 1963) selanjutnya menurut Riyanto dan Santoso (1991), secara umum miselia bersekat berwarna putih seperti kapas, tumbuh berkoloni dan tidak teratur. Spora atau konidia termasuk blastospora yaitu dibentuk melalui pertunasan sel somatik pada ujung hifa atau konidiofornya. Dimana bentuk konidiofornya fertil, bercabang dan zig-zag.
34
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN