• Tidak ada hasil yang ditemukan

Awal kegiatan persuteraan di Sumedang diketahui pada tahun 1947-an. Masyarakat yang memperkenalkan pertama kali adalah masyarakat Garut yang sudah mengenal sutera alam sejak lama. Daerah yang dijadikan kegiatan sentra persuteraan alam di Sumedang adalah Cimalaka, Wado, Situraja, dan Darmaraja karena wilayah tersebut sangat dekat dengan Kabupaten Garut dan mudah dijangkau. Masyarakat Garut memiliki banyak kesamaan kebudayaan dengan masyarakat Sumedang, sehingga ada keinginan petani sutera Garut untuk mengenalkan usaha budidaya penanaman murbei dan ulat sutera.

Pada tahun 1987 persuteraan alam mulai diperkenalkan dan dikembangkan lagi di wilayah Tanjung Sari, Jatinangor, dan Rancakalong, karena adanya peran dari tokoh-tokoh dan penyuluh dari luar Sumedang yang peduli terhadap persuteraan alam. Mereka beranggapan bahwa pengembangan usaha persuteraan alam perlu ditingkatkan karena potensi alam dan sebagian masyarakatnya adalah petani. Kurangnya perhatian dari pemerintah daerah dan juga lemahnya daya saing dengan komoditi pertanian lainnya seperti padi, jagung dan tanaman palawija, mengakibatkan kegiatan persuteraan sempat terhenti pada akhir tahun 1989.

Awal dimulainya kembali usaha persuteraan alam Rancakalong adalah Tahun 1991, dan juga terbentuknya organisasi yang menaungi persuteraan alam di Kecamatan Rancakalong dengan nama Kelompok Sutera Mandiri di Desa Sukasirnarasa, yang di Ketuai oleh Bapak Maman. Jumlah anggota kelompok sutera mandiri berjumlah 60 orang. Tahun 1995 petani sutera Rancakalong memenangkan perlombaan karya seni kerajinan tangan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Sumedang dalam rangka memeriahkan hari jadi kota Sumedang, dengan hasil karyanya yaitu benang sutera.

Tahun 2000 petani sutera Rancakalong bekerjasama dengan perusahaan persuteraan alam yang berada di Majalaya dalam menjual hasil kokon dan hasil pemintalan benang sutera. Tahun 2001 petani sutera mendapatkan bimbingan dan materi mengenai persuteraan alam dari para penyuluh yang berasal dari Samba Project bekerjasama dengan Persuteraan Majalaya dan Universitas Bandung Raya. Materi penyuluhan yang diberikan adalah pemeliharaan murbei, pemeliharaan ulat

sutera, pemintalan benang dan prospek usaha yang di hasilkan oleh produk pertanian ini, sehingga lahirlah keinginan para petani untuk mengembangkan usaha persuteraan di Rancakalong. Tahun 2003 total lahan yang dimiliki oleh petani sutera sebanyak ± 4 Ha untuk budidaya tanaman murbei dan ulat sutera.

Kegiatan Usaha Persuteraan Alam Kecamatan Rancakalong

Kegiatan usaha persuteraan alam yang dilakukan petani Rancakalong meliputi kegiatan budidaya tanaman murbei dan ulat sutera serta pemintalan benang. Kegiatan usaha budidaya merupakan kegiatan pemeliharaan tanaman murbei sebagai pakan ulat, serta pemeliharaan ulat kecil dan ulat besar (instar I s/d V) sampai menghasilkan kokon, kemudian ditampung hasil produksi kokon petani untuk diproses menjadi benang sutera.

Sesuai hasil data yang didapat dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Sumedang (2005), usaha persuteraan alam Rancakalong berada pada ketinggian 540 - 1.035 meter di atas permukaan laut. Dengan kemiringan antara 150 – 350 datar landai, bergelombang dan berbukit, keasaman (pH) 5,6 – 7,0, suhu udara terendah 20 o C dan tertinggi 28 oC pada musim kering. Rata – rata hujan dalam 10 tahun (1994 – 2004) 2.307 mm/tahun, dengan jumlah hari hujan 165 hari/tahun. Sedangkan rata – rata curah hujan tahun 2004 tercatat 2.264 mm. Kondisi alam yang dimiliki wilayah Kecamatan Rancakalong sesuai untuk mengembangkan usaha persuteraan alam.

Kelompok Tani

Kelompok Sutera Mandiri merupakan kelompok tani yang bergerak dalam usaha persuteraan alam yang ada di Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang yang merupakan kegiatan usaha bersama. Kelompok ini resmi berdiri pada tahun 1991 dengan jumlah anggota kelompok sebanyak 60 orang, dengan ketua yang pertama adalah Bapak Maman.

Pada saat ini jumlah anggota yang aktif pada Kelompok Sutera Mandiri sebanyak 42 orang dari 60 orang dengan ketua kelompok tetap Bapak Maman

.

Struktur organisasi masih sangat sederhana, hanya ada ketua kelompok, bagian penanganan produksi dan penanganan pemasaran. Selain itu, ada deskripsi tugas yang rangkap pada masing-masing bagian, sehingga dapat dikategorikan sebagai kelemahan bagi petani Rancakalong.

Setiap masalah yang terjadi diselesaikan secara musyawarah dan keputusan yang diambil berdasarkan kesepakatan bersama. Sistem yang ada pada kelompok tani sutera adalah sistem kekeluargaan, karena kegiatan usaha maupun resiko yang terjadi ditanggung bersama.

Pada kelompok tani sutera mandiri sistem pembagian kerja dilakukan bersama-sama oleh semua anggota tani sutera dengan tugas-tugas yang telah disepakati dalam kelompok. Adapun tugas-tugas dalam kegiatan usaha seperti budidaya murbei (menanam, pemberian pupuk, menyirami murbei, perawatan, dan pemanenan), budidaya ulat sutera (membeli bibit, pemberian pakan, merawat pada setiap instar, memanen, dan menyeleksi kokon), kegiatan pemintalan (pemasakan kokon, pencaharian ujung serat (filamen), reeling, re-reeling, winding, doubling, dan twisting), dan pemasaran.

Kegiatan Budidaya Murbei

Pertumbuhan tanaman murbei sangat dipengaruhi oleh keadaan temperatur dan keadaan tanah. Tanaman murbei di daerah tropis tidak mengalami istirahat, akan tetapi terlihat perbedaan pertumbuhannya pada saat musim hujan dan musim kemarau yang disebabkan faktor persediaan air tanah. Tanaman murbei akan tumbuh dengan baik pada tanah latosol dengan struktur tanah lempung berpasir dan dengan kandungan unsur hara yang cukup.

Lahan yang dipakai oleh kelompok tani sutera sebagai budidaya tanaman murbei dan pemeliharaan ulat sutera adalah empat Ha yang berada di dua desa yaitu; empat Ha di Desa Legog Bitung dan empat Ha di Desa Sukasirnarasa. Jenis lahan yang ada merupakan lahan tadah hujan karena tanahnya mengandalkan musim penghujan.

Bibit murbei Rancakalong didapat dari Cimalaka dan Wado, jenis tanaman murbei yang ditanam seperti Morus cathayana, M multicaulis, dan M nigra. Lokasi tanaman murbei tidak jauh jaraknya dengan tempat pemeliharaan ulat sutera sekitar 50 meter, sehingga jarak tersebut memudahkan pengambilan dan pemberian pakan untuk ulat sutera. Cara penanaman murbei dapat dilakukan dengan pemotongan pada bagian tanaman (secara vegetatif) dan ini merupakan cara yang dilakukan petani sutera Rancakalong.

Cara pemeliharaan tanaman murbei meliputi penyiangan, pendangiran, pemangkasan, dan pemupukan. Petani sutera mengolah lahan atau tanah dengan

menggunakan cara cemplongan, yaitu membuat lubang tanaman yang mana tanah diolah pada bagian yang ingin ditanami saja. Kedalaman lubang tanah dibuat 30 sampai dengan 40 cm dan lebar 30 cm, lalu tanah dicampur dengan pupuk kandang untuk memberikan kesuburan bagi tanaman murbei.

Hama penyakit tidak lepas dari setiap pemeliharaan tanaman-tanaman pertanian. Petani Rancakalong mengeluhkan kegagalan panen yang disebabkan hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman murbei. Jenis-jenis hama yang sering menyerang tanaman murbei adalah hama pucuk (Glyphodes pulverulentalis) dan kutu daun (mealy bug). Penyakit yang menyerang tanaman murbei adalah penyakit tepung, penyakit bintik daun, dan penyakit bercak daun. Keadaan seperti ini merupakan kelemahan bagi kegiatan budidaya murbei.

Kegiatan Budidaya Ulat Sutera.

Bibit ulat sutera didapat dari Koperasi Persuteraan (KOPPUS) Sabilulungan III berisi ± 25.000 telur/box, dengan harga satu box telur Rp.35.000/box. Hasil kokon yang diharapkan rata-rata 40 kg/box. Produksi Kokon Petani Sutera Rancakalong tahun 2005 terlihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Produksi Kokon Petani Sutera Rancakalong dalam Tiga Periode pada Tahun 2005 Kelompok Tani (Desa) Jumlah Petani (orang) Luas Tanaman (Ha) Pemeliharaan (box) Produksi Kokon (kg) Rata-rata produksi Kokon (kg/box) Sukasirnarasa Legog Bitung 22 20 2 2 8 6 280 139 35,00 23,11

Dari hasil pengamatan yang didapat, rata-rata produksi kokon pada jangka waktu tiga periode dalam satu tahun di Desa Sukasirnarasa adalah 35 kg/box dan Legog Bitung adalah 23,11 kg/box, sedangkan jumlah rata-rata produksi dari kedua desa adalah 29,05 kg/box, ini berarti petani belum bisa memenuhi harapannya. Faktor-faktor yang menyebabkan hal tersebut yaitu keadaan pakan ulat sutera di lapangan dan gangguan hama penyakit baik pada tanaman murbei sebagai pakan maupun ulat yang dapat mempengaruhi kuantitas kokon rendah. Kondisi seperti ini merupakan kelemahan pada kegiatan produksi kokon.

Luas ruang pemeliharaan ulat yang dimiliki petani sutera Rancakalong sesuai untuk pemeliharaan ulat sutera yaitu 25 m2 dengan kapasitas sekitar 25.000

ekor/boks. Dalam satu bangunan kandang tersebut terdapat beberapa ruas kandang atau tempat pemeliharaan yang berbeda-beda antara ulat besar dengan ulat kecil. Pada ulat besar pembagian ruangan khusus antara tempat pakan dengan tempat pemeliharaan ulat, agar mudah dan teratur dalam memeliharanya. Ukuran tempat pemeliharaan untuk ulat kecil adalah instar I dengan luas pemeliharaan ± 0,5 m2, instar II luas pemeliharaan 0,5 m2, dan instar III dengan luas 1 m2. Sedangkan tempat untuk ulat besar adalah instar IV dengan luas 2 m2 dan instar V dengan luas tempat 5 m2 tersusun keatas.

Sesuai pengamatan petani melakukan pengaturan suhu atau kelembaban ruangan agar ulat merasa nyaman dan terhindar dari stres dan sakit. Selain itu, sirkulasi cahaya dan aliran udara dilakukan penstabilan dengan baik agar kondisi ruangan ulat menjadi sehat.

Sterilisasi atau desinfeksi secara menyeluruh dan intensif terhadap ruang pemeliharaan dan peralatan dilakukan sebelum bibit ulat masuk ruang pemeliharaan untuk mencegah serangan bibit penyakit seperti virus, bakteri dan cendawan. Desinfeksi dilakukan dengan cara penyemprotan atau mencelupkan peralatan dalam larutan kaporit, kapur tembok (tohor), paraformaldehid (formalin tablet), asam benzoate, dan air.

Bila petani akan melakukan penanganan langsung terhadap ulat sutera, sterilisasi dilakukan pada saat memasuki ruang pemeliharaan atau kandang, agar ulat tidak terkontaminasi langsung bibit penyakit yang bisa mengganggu pertumbuhan dan kesehatan ulat. Strerilisasi yang dilakukan petani yaitu mencuci tangan menggunakan sabun hingga bersih dan penyemprotan pada bagian kaki dengan larutan yang sama dengan sterilisasi pada peralatan dan ruang pemeliharaan.

Dari hasil pengamatan di lapangan, petani memiliki cara perlakuan dan pemeliharaan ulat kecil dan ulat besar yang berbeda. Pemeliharaan dan perlakuan ulat kecil dan ulat besar sebagai berikut :

1. Pemeliharaan Ulat Kecil

Ulat kecil mempunyai daya tahan yang lemah terhadap serangan penyakit, sehingga dalam melaksanakan pemeliharaannya harus dilakukan dengan baik dan menjaga kebersihan. Tempat pemeliharaan harus dibersihkan dari sampah sisa-sisa pakan dan kotoran ulat, untuk menghindari penyakit.

Selama tiga tahap instar pakan harus rutin dan banyak diberikan kepada ulat sesuai dengan porsi pada setiap instar agar pertumbuhan dan kualitas kokon yang dihasilkan bagus. Pengambilan daun murbei untuk pakan ulat kecil pada umur pangkas 25 – 30 hari, waktu pengambilan pagi hari atau sore hari dengan menggunakan gunting stek atau ani-ani. Sebelum pakan diberikan untuk ulat, terlebih dahulu daun murbei di iris sampai halus, setelah itu daun hasil irisan ditaburkan secara merata pada tempat pemeliharaan ulat kecil, agar ulat kecil mudah memakan helaian irisan daun. Ukuran baku dari irisan daun antara 0,5-1 cm untuk instar I, untuk instar II 1,5 – 2 cm, dan 3 – 4 cm untuk instar III.

Secara ideal pemberian pakan 4 kali sehari, yaitu pukul 07.00, siang pukul 11.00, sore pukul 15.00, dan malam pukul 20.00 (Atmosoedarjo et al., 2000). Dari hasil pengamatan di lapangan, rata-rata petani Rancakalong memberikan pakan pada pagi hari pukul 08.00 dan pukul 10.00, dimulai kembali sore hari pukul 17.00 dan malam pukul 20.00.

Pada saat ulat sudah memasuki tahap pergantian kulit, kelembaban nisbi ruangan perlu sedikit diturunkan. Tempat pemeliharaan perlu sedikit ditaburi sekam atau kapur tohor untuk mengeringkan tempat pemeliharaan. Penaburan 5 % kaporit ke seluruh tempat pemeliharaan perlu dilakukan sebagai sterilisasi. Obat desinfekstan digunakan pada tempat pemeliharaan ±10 menit sebanyak 1 gram untuk instar I, 2 gram untuk instar II dan 3 gram untuk instar III.

Ulat kecil akan mengalami tidur dan berganti kulit saat berganti instar. Ketika 95 % dari ulat sudah tidur maka pemberian pakan harus dihentikan dan dilakukan pengapuran. Bila sebagian ulat berganti kulit atau bangun dilakukan desinfeksi dengan menggunakan papsol atau campuran antara kaporit dan kapur. Agar penaburan merata maka dipergunakan ayakan.

Ulat kecil sangat mudah sekali terserang hama dan penyakit, tidak sedikit ulat yang mati akibat gangguan hama penyakit. Hama yang kadang menyerang ulat kecil pada usaha persuteraan alam Rancakalong adalah semut, kadal dan tikus. Sedangkan penyakit yang pernah menyerang ulat sutera adalah penyakit Grasserie (NPV). Hama dan penyakit pada ulat sutera merupakan kelemahan bagi kegiatan budidaya, karena petani belum bisa mengatasinya.

2. Pemeliharaan Ulat Besar

Pemeliharaan ulat besar dilakukan dengan melihat banyaknya pemeliharaan yang disesuaikan dengan ketersediaan pakan murbei di kebun. Dari hasil wawancara didapat bahwa jumlah pakan yang diberikan untuk ulat sutera pada instar IV dan V 15 – 30 kg dalam satu hari dan total pemberian pakan selama instar IV dan V adalah 337,5 kg. Pemberian daun untuk ulat besar tidak dirajang atau diiris, tetapi diberikan dalam keadaan utuh, bahkan dengan ranting dan cabang. Menurut Atmosoedarjo et al. (2000), total pemberian pakan selama instar IV dan V secara ideal adalah 1.245 kg. Terlihat bahwa petani masih kurang memperhatikan ketersediaan pakan untuk ulat besar yang bisa mempengaruhi kualitas dan kuantitas kokon.

Tempat pemeliharaan perlu diatur untuk memudahkan pemeliharaan, maupun perlakuan pada waktu ganti kulit. Luas tempat pemeliharaan dan jumlah pemberian pakan selama instar V sangat berpengaruh kepada pertumbuhan ulat. Luas tempat pemeliharaan 0,05 m2 s/d 0,1 m2 untuk 130 ulat selama masa rakus makan dalam instar V.

Ulat pada instar V sudah siap mengokon dengan ciri-ciri adalah: (1) nafsu makan berkurang sampai berhenti makan; (2) tubuhnya terlihat bening dan transparan; (3) ulat cenderung menepi atau naik ke tempat yang lebih tinggi untuk mencari sudut; dan (4) dari mulutnya keluar serat sutera.

Alat yang digunakan untuk pengokonan adalah seriframe. Apabila ulat pada instar V mulai menunjukkan ciri-ciri akan mengokon, maka ulat yang sudah siap mengokon dipindahkan ke tempat pengokonan. Apabila ulat yang siap mengokon jumlahnya sedikit, maka ulat diambil satu persatu dan di tempatkan pada seriframe agar memberi kesempatan pada ulat lain yang belum siap mengokon untuk tetap makan. Jika sebagian besar ulat akan mengokon, maka seriframe diletakkan di atas tempat pemeliharaan ulat. Banyaknya ulat yang dipindahkan ke tempat pengokonan harus diatur karena satu seriframe hanya dapat menampung 260-300 ulat.

Dari hasil pengamatan ada tiga cara perlakuan ulat besar telah menjadi kokon diantaranya sebagai berikut:

a) Pemanenan Kokon

Pemanenan kokon dilakukan setelah ulat mengokon 5-6 hari dengan cara memungut kokon di seriframe dan membersihkannya dari kotoran yang menempel. Kokon diselimuti oleh serabut sutera, dibersihkan dengan melakukan flossing pada kokon. Pembersihan kokon (flossing) oleh petani dilakukan dengan cara manual yaitu dengan tangan.

b) Seleksi Kokon

Dari hasil pengamatan didapatkan adanya seleksi kokon yang merupakan pemisahan antara kokon baik dengan kokon cacat. Kokon yang baik adalah kokon tunggal yang bersih, tidak cacat dan dapat dipintal. Kokon cacat adalah kokon yang tidak dapat dipintal seperti kokon double, kokon berujung tipis, kokon yang bentuknya tidak beraturan/aneh dan kokon yang menempel di alat pengokonan. Kokon yang menempel tersebut dipisah-pisahkan, yang nantinya akan dipintal sesuai dengan jenis kokon dan akan didapatkan mutu benang sutera sesuai dengan peralatan dan mutu kokon. Kokon yang cacat dipisahkan sebagai kokon limbah dari kokon yang bagus, agar memiliki harga jual. Petani memanfaatkan kokon limbah atau cacat sebagai olahan sampingan yang bisa menguntungkan, walau dengan harga lebih rendah dari kokon yang bagus. Kokon cacat biasanya diolah menjadi benang dengan kualitas rendah, bahkan jika kokon cacat total petani memanfaatkan pupa atau isi kokon sebagai obat untuk penambah stamina.

c) Pengeringan Kokon

Pengeringan kokon adalah perlakuan kokon untuk mematikan pupa, agar kokon tersebut dapat disimpan dalam waktu yang relatif lama. Secara alami kokon akan keluar kupu-kupunya setelah 14 hari sejak mengokon atau satu minggu sejak ulat berubah menjadi pupa. Kokon yang dikeringkan dengan sinar matahari (mati pupa) dapat disimpan sampai 1 minggu. Apabila waktu penyimpanannya terlalu lama akan menimbulkan bau busuk yang berasal dari bau pupa dan biasanya berjamur.

Kegiatan Pemintalan Benang Sutera

Pemintalan adalah suatu kegiatan memproses kokon segar maupun kokon kering sebagai bahan baku dengan alat pemintalan, sehingga kokon tersebut menghasilkan

benang sutera. Kapasitas produksi pintal petani yaitu 20 – 35 kg/box kokon untuk menghasilkan 3 kg sampai dengan 6 kg benang sutera.

Kegiatan pemintalan dikerjakan langsung oleh anggota kelompok tani sutera. Alat pintal yang digunakan petani sutera Rancakalong adalah alat pintal tradisional dan semi mekanis. Alat pemintalan tradisional menggunakan kaki atau tangan manusia sebagai sumber tenaga untuk memintal. Alat mesin pintal yang biasa digunakan di pabrik pemintalan benang (mesin semi mekanis) menggunakan dinamo dan listrik sebagai sumber tenaga, sehingga mutu benangnya relatif lebih baik dan lebih cepat dalam memintal.

Proses produksi pemintalan benang petani sutera Rancakalong dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Pemasakan Kokon

Kokon dimasak (direbus) dengan tujuan untuk melepaskan filamen kokon, yang direkatkan oleh serisin, dengan jalan memasak kokon dengan air panas, atau uap panas, sehingga kulit kokon mengembang, menjadi lunak dan memungkinkan filamen sutera diurai dan digulung pada reel tanpa menjadi kusut atau putus.

b. Pencaharian Ujung Serat (Filamen)

Pencaharian ujung serat dilakukan setelah perebusan kokon, selanjutnya dimasukkan ke dalam bak pencari ujung serat yang telah diisi air. Cara yang dilakukan cukup sederhana yaitu dengan menarik serat-serat sutera pada kokon yang telah direbus dengan kedua tangan. Kokon yang ujung seratnya belum dapat ditarik dimasukkan kembali ke dalam bak perebus kokon.

c. Reeling

Proses reeling yang dilakukan petani sutera Rancakalong merupakan proses pembuatan benang sutera dengan menyatukan beberapa filamen kokon untuk dipintal menjadi benang sutera ke dalam mesin reeling. Setelah kokon direbus dan ujung seratnya dapat ditarik maka kokon didistribusikan ke mesin reeling

d. Re-reeling

Proses re-reeling merupakan proses pemindahan benang sutera yang sudah dipintal dari haspel dengan diameter yang lebih kecil ke haspel yang lebih besar. Proses re-reeling menghasilkan benang sutera single (raw silk). Benang sutera yang dihasilkan oleh petani sutera Rancakalong memiliki ketebalan yang berbeda-beda,

hal ini dinyatakan dalam satuan denier. Ukuran benang sutera yang dihasilkan oleh petani sutera Rancakalong adalah 28 – 40 denier.

e. Winding

Winding merupakan proses menggulung kembali benang sutera dari untaiannya ke bobbin (mesin kelos besar).

f. Doubling

Doubling merupakan proses perangkapan benang dari bobbin ke bobbin yang lain menjadi dua rangkap benang atau lebih dengan tujuan agar benang yang dihasilkan lebih tebal dan tidak mudah putus.

g. Twisting

Twisting merupakan proses penggintiran benang dari bobbin yang kemudian diteruskan ke silinder pada mesin twisting. Proses twisting akan meningkatkan kualitas benang yang dihasilkan karena terdiri dari beberapa helai benang yang digintir, sehingga benang akan lebih kuat dan tidak mudah putus.

Analisis Lingkungan Internal dan Eksternal Usaha Persuteraan Alam

Identifikasi Faktor Internal

Analisis faktor internal bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi kecenderungan-kecenderungan serta kejadian yang berada di dalam kontrol usaha pengembangan persuteraan alam. Analisis difokuskan pada penentuan faktor-faktor kunci yang menjadi kekuatan dan kelemahan bagi pengembangan usaha persuteraan alam di Kecamatan Rancakalong. Untuk menentukan strategi–strategi menggunakan kekuatan dan mengurangi kelemahan, maka ada beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya :

Sumberdaya Manusia

Sumberdaya manusia merupakan fondasi utama dalam mengembangkan setiap bidang usaha terutama usaha pengembangan persuteraan alam. Karakteristik umum petani ulat sutera atau kokon pada kawasan pengembangan usaha dapat di lihat dari segi umur, lama berusaha, tingkat pendidikan, pendapatan per-bulan dan pekerjaan pokok dari setiap pelaku usaha.

Umur. Umur petani sutera di Kecamatan Rancakalong berkisar antara 14 sampai dengan 68 tahun. Sebagian besar petani berada dalam kelompok usia produktif (15-55 tahun), yaitu antara 15 sampai dengan 36 tahun (69,05%). Pada usia yang produktif ini, petani memiliki kondisi fisik dan kemampuan berpikir yang baik sehingga masih memungkinkan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan dalam mengembangkan usaha persuteraan alam.

Pekerjaan utama. Banyak petani sutera memiliki pekerjaan utama yang lain dan sebagai penghasilan sampingan, mereka tertarik untuk mencoba mengembangkan usaha persuteraan alam, karena komoditi pertanian ini memiliki harga tinggi. Semua petani sutera memiliki pekerjaan tetap dan sebagian besar bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil sebanyak 33,3 %.

Tabel 4. Karakteristik Individu Petani Sutera di Kecamatan Rancakalong Karakteristik Individu Petani Sutera Jumlah (orang) Persentase (%) Umur (tahun) • 15-36 • 37-50 • 51-68 Pekerjaan • Petani • Peternak • Karyawan swasta • Pensiunan PNS • PNS Pendidikan • Tamatan SD • Tamatan SMP • Tamatan SMU • Tamatan PT Pengalaman Usaha • 1-5 tahun • 6-15 tahun • 16-20 tahun

Pendapatan petani (per-bulan) • Rp.200.000 – 850.000 • Rp.900.000 – 2.300.000 29 9 4 13 6 4 5 14 7 13 20 2 24 15 3 37 5 69,05 21,43 9,52 31,0 14,3 9,5 11,9 33,3 16,67 30,95 47,62 4,76 57,0 36,0 7,0 88,1 11,9 Sumber : Data Primer diolah (2006)

Tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan petani berpengaruh terhadap manajemen usaha dan kemampuan petani dalam mengadopsi informasi dan teknologi baru. Petani berpendidikan sampai SMP dan SMU masing-masing sebanyak 30,95 % dan 47,62 % bahkan ada juga petani yang merupakan lulusan dari perguruan tinggi (4,76 %). Tingkat pendidikan yang tinggi ini memudahkan petani dalam menyerap informasi dan teknologi baru untuk meningkatkan usahanya.

Pengalaman usaha. Beberapa Petani sutera alam di Kecamatan Rancakalong ada yang memiliki pengalaman bertani cukup lama, yaitu berkisar 16-20 tahun (7,0%), karena ada petani sutera yang memulai usahanya pada tahun 1987. Pengalaman yang cukup lama dalam bertani sutera memberikan pengetahuan dan keterampilan bagi petani untuk mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi. Ada sebagian besar petani merupakan petani pemula yang baru memulai usahanya 1 – 5 tahun (57,0 %).

Dokumen terkait