Kandungan Zat Makanan Ransum Penelitian
Ransum yang digunakan dalam penelitian ini adalah ransum yang telah diformulasikan sesuai dengan kebutuhan kelinci pada masa reproduksi. Perbedaan ransum antar perlakuan terletak pada komposisi bahan-bahan makanan yang digunakan yaitu rumput lapang (RL), daun lamtoro (DL), daun ubi jalar (DUJ), bungkil kelapa (BKP), dan bungkil inti sawit (BIS). Ransum perlakuan R1 merupakan ransum kontrol dalam penelitian ini. Hal ini dikarenakan bahan-bahan makanan yang terkandung dalam ransum R1 seperti rumput lapang dan bungkil kelapa merupakan bahan makanan konvensional yang umum digunakan sebagai pakan kelinci. Hasil analisa proksimat ransum perlakuan yang digunakan pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Kandungan Zat Makanan dalam Ransum Perlakuan1)
Zat Makanan Perlakuan
R1 R2 R3 R4 R5 BK (%) 88,72 88,31 88,86 88,78 87,43 Abu (%BK) 10,79 10,25 7,99 9,10 9,66 BO (%BK) 89,21 89,75 92,01 90,90 90,34 PK (%BK) 21,49 20,73 21,93 21,10 22,88 SK (%BK) 15,18 15,99 14,25 16,33 11,74 LK (%BK) 4,95 4,05 5,68 3,98 4,95 Beta-N (%BK) 47,62 48,98 50,15 49,49 50,77 TDN2) (%BK) 73,06 71,75 76,84 72,03 77,75 TDN/PK 3,41 : 1 3,46 : 1 3,50 : 1 3,41 : 1 3,40 : 1
Keterangan: R1= Ransum komplit mengandung 30% RL + 5% BKP (Ransum kontrol), R2= Ransum komplit mengandung 20% RL + 10% DL+ 5%BKP, R3 = Ransum komplit mengandung 20% RL + 10% DUJ + 5% BKP, R4 = Ransum komplit mengandung 20% RL + 10% DL + 5% BIS, R5= Ransum komplit mengandung 20% RL + 10% DUJ + 5% BIS, BS = Bahan Segar; BK= Bahan Kering; BO= Bahan Organik; PK= Protein Kasar; SK= Serat Kasar; LK=Lemak Kasar; TDN =Total Digestible Nutrient, 1) Hasil Analisa Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (2009). 2) TDN diestimasi berdasarkan rumus TDN = 25,6 + 0,53 PK + 1,7 LK – 0,474 SK +0,732 BETN (Sutardi, 2003 dalam Noviana, 2004).
Ransum penelitian yang digunakan mempunyai kadar bahan kering (BK) yang bervariasi dengan kisaran yang tidak nyata (87,43-88,86%), dalam arti ransum R2, R3, R4 dan R5 tidak begitu berbeda dengan ransum kontrol (R1). Variasi kandungan BK ransum perlakuan bergantung pada jumlah bahan pakan dalam ransum dan kandungan bahan kering dalam bahan pakan tersebut. Jumlah bahan pakan yang digunakan (DL, DUJ, BKP dan BIS) memiliki persentase yang tidak berbeda antar perlakuan dan hal ini diduga menjadi penyebab perbedaan kadar BK yang tidak nyata.
Penurunan kandungan abu diiringi oleh terjadinya peningkatan persentase bahan organik (BO). Kadar abu pada ransum R2 hingga R5 terlihat menurun dengan adanya peningkatan kadar BO dibanding ransum kontrol. Kadar abu terendah terdapat pada ransum R3 (Tabel 7). Rendahnya kandungan abu atau tingginya kadar BO dari ransum R3 diduga akibat proses pencampuran daun ubi jalar dan bungkil kelapa dengan bahan pakan lainnya yang kurang homogen.
Protein kasar (PK) antar ransum perlakuan tidak berbeda nyata dengan kisaran antara 20,73 hingga 22,88%. Nilai ini sedikit lebih tinggi dari kebutuhan kelinci yang direkomendasikan Cheeke (1987) sebesar 18%. Perlakuan R5 merupakan ransum yang memilki nilai PK terbesar. Artinya, pemakaian bungkil inti sawit yang dikombinasikan dengan daun ubi jalar dapat meningkatkan energi dan protein ransum. Penggunaan daun lamtoro dalam ransum (R2 dan R4) terlihat menurunkan kandungan PK ransum terhadap ransum kontrol sebesar 0,76 dan 0,39%. Penurunan ini diduga disebabkan oleh proses pengeringan dari daun lamtoro dalam waktu yang lama, yaitu pada saat daun lamtoro dijemur dalam kondisi kering matahari sebelum digiling dan dicampur bersama bahan pakan lain.
Pemakaian bungkil inti sawit dengan daun ubi jalar memiliki kandungan serat kasar (SK) ransum yang sangat rendah senilai 11,74% (Tabel 7), namun telah sesuai dengan kebutuhan induk kelinci masa reproduksi yakni 12-14% (Cheeke, 1987). Penggunaan daun lamtoro yang dikombinasikan dengan bungkil kelapa maupun bungkil inti sawit dalam ransum mampu meningkatkan kadar SK, meskipun tidak nyata terhadap ransum kontrol.
Tabel 7 memperlihatkan bahwa kandungan lemak kasar (LK) ransum perlakuan yang berkisar antara 3-5% telah sesuai dengan kebutuhan lemak kasar induk kelinci masa reproduksi (Cheeke, 1987). Ransum perlakuan R3 memiliki kandungan LK yang tinggi sebesar 5,68%, meskipun kisarannya tidak begitu nyata dibandingkan dengan ransum kontrol dan ransum perlakuan lainnya. Kandungan LK pada ransum R3 yang tinggi disebabkan oleh tingginya kandungan BK ransum. Bahan ekstrak tanpa nitrogen (Beta-N) masing-masing ransum perlakuan adalah R1 = 47,62, R2 = 48,98, R3 = 50,15, R4 = 49,49 dan R5 = 50,77%. Nilai-nilai tersebut tidak berbeda nyata, namun terjadi sedikit peningkatan dibanding dengan ransum kontrol (R1).
Penelitian ini menggunakan Total Digestible Energy (TDN) sebagai ukuran energi ransum. Pada Tabel 7 terlihat bahwa penggunaan daun lamtoro dalam ransum (R2 dan R4) sedikit menurunkan kadar TDN terhadap ransum kontrol. Rendahnya TDN pada kedua ransum ini diakibatkan kedua ransum mengandung kadar PK dan LK yang rendah dan SK yang tinggi dibandingkan ransum lainnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sutardi (1980) bahwa nilai TDN dapat diestimasi dari kandungan PK, SK, LK, dan Beta-N. Ransum yang mengandung bungkil inti sawit dan daun ubi jalar merupakan ransum dengan kandungan TDN tertinggi sebesar 77,75%.
Seluruh ransum perlakuan dalam penelitian ini memiliki imbangan TDN terhadap PK yang hampir sama. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 7 dimana kisaran TDN/ PK ransum antara 3,40 hingga 3,50. Keadaan ini mengindikasikan bahwa seluruh ransum yang digunakan adalah ransum yang isoenergy dan isoprotein. Artinya, jumlah kandungan nutrien yang dibutuhkan ternak yaitu energi dan protein antar ransum tidak berbeda sehingga ransum diharapkan dapat dikonsumsi pada tingkatan yang sama dengan baik oleh ternak.
Konsumsi Ransum
Konsumsi diperhitungkan sebagai jumlah ransum yang dimakan oleh ternak untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan untuk reproduksi ternak tersebut (Parakkasi, 1999). Konsumsi ransum pada ternak kelinci dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain bobot hidup, palatabilitas, dan bentuk fisik ransum (Cheeke, 1987). Konsumsi ransum induk kelinci yang diperoleh selama periode kebuntingan dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Rataan Konsumsi Ransum Induk Harian selama Kebuntingan Peubah Perlakuan R1 R2 R3 R4 R5 Konsumsi ---g/ekor/hari--- BS 105,30±17,66 96,51±10,33 96,85±19,61 114,20±10,72 100,28±16,05 BK 93,42±15,67 85,23±9,12 86,06±17,43 101,39±9,52 87,68±14,03 Abu 10,08±1,69 8,73±0,93 6,88±1,39 9,23±0,87 8,47±1,36 BO 83,35±13,98 76,49±8,19 79,19±16,04 92,16±8,65 79,20±12,68 PK 20,04±3,36 17,67±1,89 18,88±3,82 21,39±2,01 20,06±3,21 SK 14,18±2,38 13,63±1,46 12,26±2,48 16,56±1,55 10,29±1,65 LK 4,63±0,78 3,46±0,37 4,89±0,99 4,03±0,38 4,34±0,69 Beta-N 44,49±7,46 41,74±4,47 43,16±8,74 50,18±4,71 44,52±7,12 TDN 68,26±11,45 61,15±6,54 66,13±13,39 73,03±6,86 68,17±10,91 Imbangan TDN/PK 3,41:1 3,46:1 3,50:1 3,41:1 3,40:1
Keterangan: R1= Ransum komplit mengandung 30% RL+ 5% BKP, R2= Ransum komplit mengandung 20% RL + 10% DL + 5% BKP, R3= Ransum komplit mengandung 20% RL + 10% DUJ + 5% BKP, R4 = Ransum komplit mengandung 20% RL + 10% DL + 5% BIS, R5= Ransum komplit mengandung 20% RL + 10% DUJ + 5% BIS, BS = Bahan Segar; BK= Bahan Kering; BO= Bahan Organik; PK= Protein Kasar; SK= Serat Kasar; LK=Lemak Kasar; TDN =Total Digestible Nutrient.
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pada setiap perlakuan memberikan pengaruh yang tidak signifikan terhadap konsumsi induk kelinci secara keseluruhan. Hal ini menunjukkan bahwa setiap perlakuan ransum komplit memiliki tingkat palatibilitas yang relatif sama. Tingkat palatabilitas ransum dapat diindikasikan dari bau pakan itu sendiri (Pond et al., 1995). Setiap ransum beraroma harum yang diduga berasal dari hijauan yang digunakan. Artinya, pellet yang mengandung rumput lapang, daun lamtoro dan daun ubi jalar baik dikonsumsi oleh induk kelinci pada masa kebuntingan.
Nilai rataan konsumsi bahan segar (BS) induk selama masa kebuntingan berkisar antara 96,51-114,20 g/ekor/hari (Tabel 8). Nilai rataan tersebut lebih tinggi dibanding dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sari (2009), dengan menggunakan bangsa kelinci dan periode beranak yang sama, namun perlakuan pakan yang berbeda, yaitu berkisar antara 84,14-104,22 g/ekor/hari.
Penggunaan 10% daun lamtoro maupun daun ubi jalar tidak mengubah secara nyata nilai konsumsi bahan kering (BK), namun penggantian 5% bungkil kelapa oleh bungkil inti sawit sedikit memperbaiki tingkat konsumsi BK. Konsumsi BK dari masing-masing perlakuan adalah 93,42±15,67, 85,23±9,12, 86,06±17,43, 101,39±9,52 dan 87,68±14,03 g/ekor/hari. Berdasarkan data konsumsi BK dan bobot induk kelinci, dapat diketahui bahwa persentase konsumsi bahan kering terhadap bobot badan berkisar antara 4-5%. Nilai ini lebih rendah daripada rekomendasi Templeton (1968), bahwa kebutuhan BK ransum untuk induk betina dewasa sebesar 5,8-6,7% dari bobot badan.
Rataan konsumsi bahan organik (BO) pada peneitian ini memiliki nilai yang hampir sama antar perlakuan. Hal ini dipengaruhi oleh konsumsi BK dan kandungan BO dari setiap ransum perlakuan. Kandungan BO pada masing-masing ransum perlakuan ditentukan pula oleh kandungan BK ransum. Hal ini dapat diartikan bahwa setiap ransum memiliki kualitas ransum yang tidak berbeda antar perlakuan. Parakkasi (1999) menyatakan bahwa konsumsi ransum dipengaruhi oleh kualitas ransum selain kebutuhan energi ternak.
Konsumsi protein kasar (PK) pada penelitian ini memiliki rataan yang berkisar antara 17,67-21,39 g/ekor/hari. Ransum perlakuan yang mengandung 10% daun lamtoro maupun daun ubi jalar (R2 dan R3) menyebabkan penurunan konsumsi PK induk karena ransum tersebut juga memiliki kandungan PK yang menurun dibandingkan dengan ransum kontrol. Faktor antinutrisi yang terdapat dalam daun lamtoro seperti tanin dan mimosin diduga mempengaruhi penurunan konsumsi. Mtenga dan Laswai (1994) telah meneliti bahwa kandungan tanin dan mimosin yang terdapat dalam daun lamtoro menurunkan konsumsi induk harian induk kelinci.
Tingkat konsumsi serat kasar (SK) mengalami penurunan pada kelinci yang diberi ransum mengandung 10% daun lamtoro (R2), namun dengan penggunaan bungkil inti sawit (R4) dapat meningkatkan konsumsi SK. Perubahan ini diduga disebabkan oleh kandungan SK pada ransum perlakuan (Tabel 7), dimana kandungan SK tertinggi terdapat pada ransum perlakuan R4. Kandungan SK dari bungkil inti sawit yang cukup tinggi merupakan faktor tingginya kandungan SK ransum. Bungkil inti sawit dapat dikonsumsi dengan baik oleh ternak kelinci pada level pemberian 7,5% dari total ransum (Adeniji, 2002).
Nilai konsumsi lemak kasar (LK) relatif sama antar perlakuan. Penambahan 10% daun ubi jalar dan 5% bungkil kelapa (R3) menyebabkan sedikit peningkatan dibanding ransum kontrol (R1). Hal ini diduga kandungan LK pada ransum R3 yang tinggi dibanding ransum kontrol dan ransum perlakuan lainnya (Tabel 7). Konsumsi LK untuk ransum yang mengandung 10% daun lamtoro dan 5% bungkil kelapa (R2) mengalami sedikit penurunan sebesar 1,17 g/ekor/hari dari R1. Demikian pula halnya dengan ransum R4 dan R5 yang mengalami penurunan dengan nilai rataan konsumsi sebesar 4,03 dan 4,34 g/ekor/hari.
Berdasarkan Tabel 8 dapat dilihat bahwa ransum R2 dan R3 mengalami penurunan konsumsi dibanding ransum kontrol. Penggunaan 10% daun ubi jalar dengan 5% bungkil inti sawit pada ransum perlakuan R5 memiliki nilai rataan konsumsi TDN yang tidak berbeda nyata dengan ransum R1 (kontrol). Ransum perlakuan R4 yang mengandung 10% daun lamtoro dan 5% bungkil inti sawit menyebabkan konsumsi TDN sedikit meningkat dibanding dengan ransum kontrol dan ransum perlakuan lainnya. Peningkatan ini disebabkan oleh konsumsi BK pada R4 yang juga mengalami peningkatan walaupun tidak signifikan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya pola konsumsi harian antar perlakuan, walaupun nilai rataan konsumsi yang didapatkan tidak berbeda nyata. Penambahan daun lamtoro sebanyak 10% dengan kandungan 5% bungkil kelapa (R2) terlihat menurunkan konsumsi induk secara keseluruhan bila dibandingkan dengan ransum kontrol. Hal serupa terjadi pada ransum mengandung daun ubi jalar yang dikombinasikan dengan bungkil kelapa (R3) dimana ransum tersebut juga mengalami penurunan konsumsi induk. Penurunan konsumsi induk pada R3 diduga karena ransum perlakuan R3 memiliki kandungan energi (TDN) yang cukup tinggi sebesar 76,84%. Menurut Cheeke (1987), konsumsi ransum akan meningkat apabila kandungan energi ransum rendah, demikian pula sebaliknya apabila kandungan energi ransum tinggi maka konsumsi ransum akan menurun. Penggantian bungkil kelapa oleh bungkil inti sawit sebagai sumber protein pada taraf 5% memberikan respon yang lebih baik terhadap tingkat konsumsi. Hal ini berarti penggunaan bungkil inti sawit yang dikombinasikan dengan daun lamtoro maupun daun ubi jalar dapat memperbaiki tingkat konsumsi induk kelinci.
Gambar 7a memperlihatkan bahwa konsumsi bahan kering induk kelinci untuk semua perlakuan cenderung menurun, khususnya pada minggu ke-4 yang merupakan minggu terakhir kebuntingan. Perlakuan R1 dan R5 memperlihatkan tren yang konsisten menurun dari minggu pertama hingga minggu keempat. Fluktuasi konsumsi induk selama empat minggu kebuntingan terlihat pada perlakuan R2, R3, dan R4 dimana pada minggu kedua terjadi penurunan konsumsi dan meningkat kembali pada minggu ketiga. Penurunan konsumsi diduga karena terjadi pembesaran volume rongga fetus yang membuat laju alir pakan dalam sistem pencernaan terhambat sehingga jumlah pakan yang dikonsumsi semakin sedikit. Hal ini sesuai dengan pernyataan McDonnald et al. (2002) bahwa ternak mengalami penurunan tingkat konsumsi pada minggu akhir kebuntingan yang disebabkan adanya pertumbuhan fetus dalam rongga janin.
Bobot Badan Induk selama Kebuntingan
Hasil penelitian mengenai rataan bobot badan induk kelinci harian yang diperoleh selama masa kebuntingan selengkapnya disajikan pada Tabel 9. Data yang dapat diketahui terkait dengan bobot badan induk antara lain bobot awal, bobot akhir kebuntingan, PBB selama kebuntingan dan bobot pasca beranak.
Bobot awal merupakan bobot badan induk kelinci yang ditimbang sesaat sebelum dikawinkan. Rataan bobot awal induk dalam penelitian ini berkisar antara 1955,33-2203,33 g/ekor. Hasil analisa statistik menunjukkan bahwa perlakuan pakan memberikan pengaruh tidak nyata terhadap bobot awal induk kelinci. Hal ini dapat diartikan bahwa induk yang digunakan dalam penelitian ini sudah mencapai bobot dewasa tubuh dan masa dewasa kelamin yang sudah terlewati. Kelinci betina yang digunakan dalam penelitian ini telah mencapai dewasa kelamin, dimana dewasa kelamin pada kelinci bangsa medium terjadi pada umur 5-6 bulan (Herman, 2000).
Tabel 9. Rataan Bobot Badan Induk selama Kebuntingan. Peubah Perlakuan R1 R2 R3 R4 R5 Bobot awal (g/ekor) 2203,33± 352,33 2010,00± 181,84 2185,33± 235,10 2099,00± 62,22 1955,33± 230,67 Bobot akhir kebuntingan (g/ekor) 2601,33± 234,86 2371,67± 196,30 2594,00± 165,73 2406,00± 212,13 2382,33± 109,30 PBB selama kebuntingan (g/ekor/hari) 14,2±5,75 12,92±1,22 14,60±2,89 10,96±5,35 15,25±6,08 Bobot pasca beranak (g/ekor) 2199,67± 208,45 2066,33± 171,54 2231,33± 110,39 2065,50± 57,28 2145,00± 120,50
Pertambahan bobot badan adalah suatu cara untuk mengukur laju pertumbuhan seekor ternak. Dalam penelitian ini, pertambahan bobot badan adalah tolak ukur dari perkembangan organ reproduksi induk dan pertumbuhan fetus yang ada di dalam tubuh induk. Nilai pertambahan bobot badan diperoleh dari selisih nilai bobot akhir kebuntingan dengan bobot awal induk. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa setiap perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap pertambahan bobot badan induk kelinci selama penelitian. Artinya, semua perlakuan ransum relatif baik digunakan oleh induk kelinci tanpa mengganggu perkembangan organ reproduksi dan pertumbuhan fetus di dalam janin induk.
Pertambahan bobot badan dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas ransum yang dikonsumsi (Templeton, 1968). Kualitas ransum dapat dilihat dari kandungan zat makanan yang terdapat di dalamnya. Kandungan energi dan protein harus mendapat perhatian dalam mencukupi kebutuhan zat makanan untuk mencapai pertambahan bobot badan yang lebih besar. Ransum yang mengandung ubi jalar (R3 dan R5) cenderung memiliki nilai pertambahan bobot badan yang lebih baik dibanding ransum lainnya yang dikarenakan kandungan protein dan energi yang terdapat dalam R3 dan R5 lebih tinggi dibanding perlakuan lainnya.
Ransum yang mengandung daun lamtoro dengan bungkil inti sawit (R4) dan ransum yang mengandung daun lamtoro dengan bungkil kelapa (R2) memperlihatkan kecenderungan nilai pertambahan bobot badan yang rendah. Penelitian yang telah dilakukan oleh Onwudike (1995) telah membuktikan bahwa
ransum yang mengandung daun lamtoro mengurangi nilai pertambahan bobot badan kelinci.
Berdasarkan Gambar 7b dapat dilihat bahwa setiap perlakuan memberikan tren positif yang diawali sesaat sebelum dikawinkan (minggu ke-0) sampai dengan minggu terakhir sebelum melahirkan (minggu ke-4). Artinya, bobot induk kelinci terlihat konsisten naik setiap minggunya tanpa membedakan perlakuan. Hal ini disebabkan oleh adanya fetus yang mengalami perkembangan di dalam tubuh induk. Bobot badan induk mengalami penurunan pasca melahirkan. Pengukuran bobot induk kelinci pasca melahirkan bertujuan untuk mengetahui seberapa besar bobot induk yang hilang dan sebagai pendekatan untuk mengetahui jumlah dan bobot anak yang lahir. Penurunan bobot badan induk selain karena dikurangi dengan kalkulasi bobot anak yang dilahirkan, juga karena tubuh induk harus memproduksi susu (Sari, 2009).
Efisiensi Penggunaan Ransum
Efisiensi penggunaan ransum (EPR) merupakan rasio nilai pertambahan bobot badan dengan jumlah ransum yang dikonsumsi oleh ternak. Nilai rataan efisiensi ransum dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Rataan Efisiensi Penggunaan Ransum Induk selama Kebuntingan
Peubah Perlakuan R1 R2 R3 R4 R5 Konsumsi BK (g/ekor/hari) 93,42±15,67 85,23±9,12 86,06±17,43 101,39±9,52 87,68±14,03 PBB selama kebuntingan (g/ekor/hari) 14,2±5,75 12,92±1,22 14,60±2,89 10,96±5,35 15,25±6,08 Efisiensi Penggunaan Ransum (%) 0,15±0,07 0,15±0,01 0,17±0,00 0,11±0,04 0,17±0,04
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa EPR tidak dipengaruhi secara nyata oleh kelima jenis ransum. Hal ini dapat diartikan bahwa ransum yang mengandung bungkil inti sawit dapat dimanfaatkan oleh tubuh induk kelinci sama efisien dengan ransum yang tidak mengandung bungkil inti sawit.
Tabel 10 menunjukkan bahwa perlakuan R3 dan R5 memiliki kecenderungan EPR yang lebih baik dibanding perlakuan lainnya. Kedua perlakuan ransum tersebut memiliki kandungan energi yang lebih tinggi (Tabel 7), sehingga EPR yang dihasilkan juga lebih baik. Hal ini sesuai dengan pernyataan Cheeke (1987) bahwa kandungan energi ransum mempengaruhi efisiensi penggunaan ransum yakni dengan semakin tinggi kandungan energi dalam ransum akan menurunkan konversi ransum dan meningkatkan efisiensi ransum.
Gambar 7c menunjukkan grafik EPR per minggu. Perlakuan R1, R2 dan R3 memperlihatkan pola yang sama, dimana pada minggu kedua mengalami penurunan dan meningkat kembali hingga minggu keempat. Hal yang berbeda ditunjukkan pada perlakuan R4 yang sedikit mengalami penurunan pada minggu ketiga dan perlakuan R5 yang menurun dari awal hingga minggu ketiga. Persamaan dari seluruh ransum perlakuan adalah terjadi peningkatan pada minggu keempat. Artinya, induk kelinci mampu menggunakan ransum secara efisien pada minggu terakhir kebuntingan.
EPR dalam penelitian ini menggambarkan seberapa optimal bobot badan yang dihasilkan dari jumlah ransum yang digunakan oleh induk kelinci. Pada minggu terakhir kebuntingan dapat dijelaskan bahwa setiap ransum mampu menghasilkan bobot badan yang cukup optimal, meskipun terjadi penurunan konsumsi bahan kering. Hal ini dapat diartikan bahwa ransum pada penelitian ini efisien dalam hal pemenuhan kebutuhan induk kelinci pada periode reproduksi, khususnya pada minggu terakhir kebuntingan sebelum induk kelinci beranak.
Data berupa grafik tentang penampilan produksi induk yang meliputi konsumsi bahan kering, bobot badan induk dan efisiensi penggunaan ransum setiap minggunya, dapat dilihat pada Gambar 7.
a
b
c
Gambar 7. Grafik Penampilan Produksi Induk selama Masa Kebuntingan, a: Grafik Konsumsi Bahan Kering Induk; b: Grafik Bobot Induk; c: Grafik EPR.
Penampilan Reproduksi Induk Kelinci
Frekuensi Kawin, Persentase Kebuntingan dan Lama Kebuntingan
Keberhasilan perkawinan kelinci dapat dilihat ketika pejantan dalam posisi merebah ke samping setelah menaiki kelinci betina. Frekuensi satu kali kawin dalam penelitian ini terhitung ketika pejantan telah menaiki betina sebanyak tiga kali dan terjadi kebuntingan. Betina dapat menerima pejantan untuk proses fertilisasi ketika vulva berwarna merah cemerlang dan terlihat basah di seluruh permukaan sampai ke ujung (Ensminger, 1991). Tabel 11 menunjukkan frekuensi kawin dan persentase kebuntingan selama penelitian.
Tabel 11. Frekuensi Kawin dan Kebuntingan pada Induk Kelinci
Peubah Perlakuan
R1 R2 R3 R4 R5
n kelinci dikawinkan
(ekor) 3 3 3 3 3
n induk gagal bunting
(ekor) 0 0 0 1 0 n induk bunting (ekor) 3 3 3 2 3 Kebuntingan (%) 100 100 100 66,67 100 Frekuensi kawin (kali) 1 1 1 1,33 1
Kisaran lama bunting
(hari) 27-33 31 31-32 31-33 31-33
Rataan lama bunting
(hari) 30,33±3,06 31,00±0,00 31,33±0,58 32,00±1,41 32,33±1,16
Frekuensi satu kali kawin kemudian berhasil bunting pada induk kelinci sebanyak 80% tanpa membedakan perlakuan. Seekor induk kelinci pada perlakuan R4 tidak terjadi kebuntingan, kemudian dikawinkan kembali dan terhitung dua kali kawin atau sebanyak 6,67% dari total induk dalam penelitian ini. Induk kelinci tersebut kemudian tidak berhasil bunting pada perkawinan kedua. Hal ini dapat diartikan bahwa induk kelinci tersebut belum siap untuk dikawinkan.
Persentase kebuntingan merupakan rasio antara jumlah induk kelinci yang bunting dengan jumlah kelinci yang dikawinkan. Persentase kebuntingan dianalisa secara deskriptif. Tabel 11 memperlihatkan bahwa induk kelinci yang diberi ransum mengandung bungkil inti sawit maupun tidak, memberikan persentase kebuntingan
yang hampir sempurna. Artinya, kandungan nutrien dari kelima ransum perlakuan memberikan respon yang sama terhadap tingkat kesuburan dari induk kelinci. Induk kelinci yang diberi ransum mengandung daun lamtoro dan bungkil inti sawit (R4) memiliki persentase yang rendah dibanding perlakuan lainnya. Hal ini dikarenakan seekor induk kelinci pada perlakuan tersebut tidak mengalami kebuntingan (abortus). Abortus dapat terjadi ketika bobot badan ternak meningkat pada minggu terakhir kebuntingan. (Rommers et al., 2002)
Lama kebuntingan dihitung sejak kelinci dikawinkan hingga melahirkan. Lama bunting pada kelinci diperkirakan antara 29-35 hari dengan rata-rata 31 hari (Herman, 2000). Lama kebuntingan dipengaruhi oleh pakan yang dikonsumsi oleh ternak kelinci (Gillespie, 2004). Hasil pengamatan lama kebuntingan dapat dilihat pada Tabel 11. Hasil analisis statistik menunjukkan lama kebuntingan antar perlakuan tidak signifikan. Artinya, ransum yang mengandung bungkil inti sawit memberikan retensi fetus dalam janin induk yang tidak berbeda dengan ransum yang tidak mengandung bungkil inti sawit. Lama bunting dari penelitian ini berkisar 27 sampai 33 hari dengan rata-rata mencapai 31,40±0,80 hari. Hasil tersebut sedikit tidak sesuai dengan pernyataan (Herman, 2000) bahwa lama bunting berkisar antara 29-33 hari.
Umur dan bobot induk saat dikawinkan sudah mencapai level optimum sehingga kebuntingan berlangsung normal. Rata-rata bobot badan sebelum kelinci dikawinkan adalah 2,087 ± 0,220 kg dengan umur berkisar 5-6 bulan. Hal ini sudah sesuai dengan pernyataan Ensminger (1991) bahwa kelinci dapat dikawinkan setelah mencapai dewasa kelamin yaitu pada umur 5-6 bulan.
Litter Size, Litter Weight dan Bobot Lahir Anak
Litter size, litter weight dan bobot lahir anak merupakan parameter yang diukur untuk menilai penampilan reproduksi induk. Tabel 12 menyajikan informasi nilai rataan litter size, litter weight dan bobot lahir anak berdasarkan perlakuan ransum.
Tabel 12. Rataan Litter Size, Litter Weight dan Bobot Lahir Anak Peubah Perlakuan R1 R2 R3 R4 R5 Kisaran litter size (ekor/induk) 5-7 4-7 6-8 3-8 4-6 Rataan litter size (ekor/induk) 6,00±1,00 5,67±1,53 7,00±1,00 5,50±3,54 5,33±1,15 Rataan litter weight (g/induk) 267,33± 31,90 255,33± 76,03 285,67± 21,39 260,50± 103,94 245,00± 37,32 Rataan bobot lahir (g/induk) 44,94±4,88 45,03±3,74 41,61±8,49 52,04±14,55 46,44±3,54 n induk bunting 3 3 3 2 3
Kualitas pakan yang baik akan menghasilkan litter size yang tinggi, dengan meningkatnya pelepasan sel telur yang matang saat ovulasi. Hal ini didukung oleh pernyataan Sanford (1979) bahwa jumlah anak sekelahiran dipengaruhi oleh banyaknya sel telur yang diovulasikan dan dibuahi oleh spermatozoa serta berkembang normal sampai dilahirkan. Oleh karena itu, pakan yang baik akan meningkatkan jumlah anak yang dilahirkan.
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan ransum tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap litter size. Hal ini dapat disebabkan beberapa faktor antara lain penggunaan tipe bangsa induk yang sejenis, umur induk saat dikawinkan dan kondisi lingkungan kandang. Litter size pada penelitian ini berkisar antara 3-8 ekor dengan rata-rata 5,90±1,64 tanpa membedakan perlakuan. Hasil pengamatan nilai litter size pada penelitian ini berbeda dengan pernyataan