Potensi sumberdaya peternakan yang dimiliki Kabupaten Garut diantaranya sumberdaya alam, sumberdaya manusia, modal, teknologi dan kelembagaan yang menunjang peternak. Semua potensi sumberdaya yang dimiliki dimanfaatkan secara optimal, supaya peternakan lebih maju dan bisa bersaing.
Sumberdaya Alam
Sumberdaya alam untuk peternakan meliputi ternak sapi potong, daya dukung hijauan dan lahan, serta iklim. Salah satu indikator yang dapat mengukur perkembangan peternakan sapi potong adalah perkembangan populasi ternak sapi potong. Sapi potong merupakan salah satu sumberdaya penghasil bahan makanan berupa daging yang memiliki nilai ekonomi tinggi, dan penting artinya di dalam kehidupan masyarakat. Seekor atau kelompok ternak sapi bisa menghasilkan berbagai macam bahan penghasil makanan berupa daging, disamping hasil ikutan lainnya seperti pupuk kandang, kulit, tulang, dan lain sebagainya.
Perkembangan populasi ternak sapi potong dapat berarti ternak sapi potong telah sesuai dengan lingkungannya, diterima oleh masyarakat dengan baik dan masyarakat memahami akan manfaat ternak tersebut serta mampu memeliharanya dengan baik. Populasi ternak sapi potong di Kabupaten Garut mengalami perkembangan setiap tahunnya, karena ternak sapi potong cocok untuk dikembangkan di Kabupaten Garut. Perkembangan populasi ternak sapi potong di Kabupaten Garut dari tahun 2002-2006 dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Populasi Ternak Sapi Potong Kabupaten Garut (2002-2006) Tahun Jumlah (ekor) Perkembangan (%)
2002 2003 2004 2005 2006 6.016 6.221 6.345 6.732 7.126 2,05 1,24 3,87 5,53 Rata-rata perkembangan 3,17
Sumber : Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten Garut, 2006
Populasi sapi potong Kabupaten Garut dari tahun 2002 sampai dengan 2006 terus mengalami perkembangan, rata-rata perkembangan sebesar 3,17% dalam kurun waktu lima tahun. Perkembangan paling cepat terjadi pada tahun 2005 ke tahun 2006
yaitu sebesar 5,53%, mengalami perkembangan lambat hanya pada tahun 2003 ke tahun 2004 sebesar 1,24%.
Jumlah populasi sapi potong di Kabupaten Garut mengalami perkembangan pada tahun 2006, populasi ternak didominasi oleh sapi potong jantan dewasa. Jumlah ternak jantan dewasa sebanyak 3.064 ekor (43%) dan jumlah ternak betina dewasa sebanyak 1.781 ekor (25%), sedangkan jumlah sapi potong muda mengalami penurunan menjadi sebanyak 1.212 ekor (17%), tetapi jumlah sapi potong umur anak tetap mengalami peningkatan menjadi sebanyak 1.069 ekor (15%). Selengkapnya populasi sapi potong berdasarkan umur dan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Populasi Sapi Potong Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin di Kabupaten Garut Tahun 2006
Jumlah Kategori Ekor % Dewasa jantan Dewasa betina Muda jantan Muda betina Anak jantan Anak betina 3.064 1.781 713 499 641 428 43 25 10 7 9 6 Jumlah 7.126 100
Sumber : Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten Garut, 2006 (diolah)
Populasi ternak sapi potong betina dewasa, muda dan anak lebih rendah dibandingkan jantan, jumlah kekurangan ternak betina tersebut masih perlu ditambah agar jumlah populasi terus meningkat meskipun tidak ada jaminan semuanya dapat menghasilkan anak.
Penyebaran ternak sapi potong di setiap wilayah kecamatan tidak merata, ada beberapa daerah yang sangat padat, ada yang sedang, tetapi ada yang sangat jarang atau terbatas populasinya. Beberapa faktor yang menyebabkan ketidakmerataan populasi ternak antara lain faktor pertanian dan kepadatan penduduk, iklim serta adat istiadat masyarakat.
Masyarakat yang bermatapencaharian bertani tidak bisa lepas dari usaha ternak sapi, baik untuk keperluan tenaga, pupuk, atau lain sebagainya dalam rangka pengolahan tanah pertanian. Ternak sapi selama ini tergantung pula pada usaha pertanian, karena adanya usaha pertanian yang lebih maju berarti akan menunjang
produksi pakan ternak berupa hijauan, hasil ikutan pertanian berupa biji-bijian atau pakan penguat yang semuanya diperlukan oleh sapi.
Ketersediaan pakan yang mampu mendukung kehidupan dan perkembangbiakan ternak sapi potong sepanjang tahun merupakan modal dasar pengembangan ternak di suatu daerah, karena pemeliharaan ternak ruminansia tidak bisa dipisahkan dari hijauan sebagai pakan ternak. Hijauan merupakan makanan pokok ternak yang harus tersedia, baik itu dari rerumputan, kacang-kacangan atau limbah pertanian lain dalam bentuk segar maupun setelah mengalami proses pengolahan serta pengawetan.
Hijauan makanan ternak yang banyak tersedia di Kabupaten Garut diantaranya rumput gajah, rumput lapang, limbah pertanian (jagung, kacang kedelai, kacang hijau, ubi kayu, ubi jalar) dan lain-lain. Untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak tersebut, biasanya para petani dapat memperolehnya dari lahan pekarangan, pinggir-pinggir jalan desa, lahan usahatani, lahan pangonan, lahan perkebunan atau lahan kehutanan. Berdasarkan hasil perhitungan KPPTR produksi HMT di Kabupaten Garut, jumlah hijauan yang dimiliki sebanyak 1.055.068 ton/thn, dengan produksi rumput sebanyak 382.560,7 ton/thn (Lampiran 7 dan 8) dan produksi jerami sebanyak 672.507,9 ton/thn (Lampiran 5 dan 6)
Usaha peternakan sapi potong tergantung juga dengan iklim yang ada, karena usahatani yang merupakan salah satu sumber hijauan untuk pakan ternak tergantung dari iklim. Iklim di wilayah Kabupaten Garut termasuk iklim tropis, curah hujan yang banyak dan lahan yang subur serta ditunjang dengan banyaknya aliran sungai, sehingga sebagian besar dari luas wilayahnya dipergunakan untuk lahan pertanian. Suhu yang cukup cocok untuk sapi khususnya sapi lokal, yaitu suhu diantara 15 sampai 30 ºC, Kabupaten Garut relatif cocok untuk peternakan sapi potong karena rata-rata suhu yang dimiliki diantara 24 sampai 27 ºC.
Iklim berpengaruh juga terhadap persediaan air di daerah peternakan, karena air sangat diperlukan dalam pertanian dan merupakan salah satu faktor pendukung yang sangat penting untuk kelangsungan hidup. Ketersediaan air yang banyak dan mudah sangat besar potensinya untuk perkembangan di wilayah dekat sumber air tersebut, karena segala aktifitas membutuhkan air. Banyaknya air yang tersedia di Kabupaten Garut relatif dapat mencukupi untuk perkembangan usaha peternakan,
bila dilihat dari banyaknya aliran sungai serta anak sungai yang mengaliri wilayah usaha peternakan.
Sumberdaya Manusia
Sumberdaya manusia adalah faktor penting untuk keberlangsungan usaha pengembangan peternakan sapi potong, karena semua rencana dan keputusan pengembangan peternakan tergantung dari kualitas sumberdaya manusiannya. Umur, pendidikan dan pengalaman beternak mampu mempengaruhi kualitas sumberdaya manusia terhadap pengembangan usahaternak sapi potong.
Penduduk di Kabupaten Garut berdasarkan umur sebagian besar termasuk kelompok umur produktif yaitu sebesar 58,64 %, umur produktif tersebut berkisar diantara 15-59 tahun. Penduduk yang termasuk penduduk tidak produktif berumur <15 tahun sebesar 34,10 % dan penduduk kurang produktif dengan umur >59 tahun sebesar 7,26 %. Penduduk di Kabupaten Garut dengan umur produktif yang lebih besar dapat dijadikan potensi untuk pengembangan ternak. Karakteristik penduduk menurut umur dan jenis kelamin di Kabupaten Garut dapat dilihat pada Tabel 7 dan sebaran penduduk Kabupaten Garut dapat dilihat pada lampiran 2.
Tabel 7. Jumlah Penduduk Menurut Umur dan Jenis kelamin di Kabupaten Garut
Laki-laki Perempuan Jumlah Kelompok
Umur (Tahun) Orang % Orang % Orang % <15 (muda) 15-59 (Sedang) >59 (Tua) 392.335 666.835 79.875 34,10 58,64 7,26 371.094 646.241 82.711 34,10 58,64 7,26 763.429 1.313.076 162.586 34,10 58,64 7,26 Jumlah 1.139.045 100 1.100.046 100 2.239.091 100
Sumber : Garut Dalam Angka, 2005
Berdasarkan hasil penelitian, pada Tabel 8 umur peternak berkisar diantara 28 sampai 63 tahun (Lampiran 3). Sebagian besar peternak berada dalam kelompok usia produktif (15-55 tahun), yaitu sebanyak 50% dengan umur diantara 40 tahun sampai 51 tahun dan 30% berkisar diantara 28 tahun sampai 39 tahun. Kisaran umur ini sangat baik karena pada saat usia produktif peternak memiliki kondisi fisik serta kemampuan berfikir yang baik, sehingga masih memungkinkan bagi peternak untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan dalam memlihara sapi potong.
Tabel 8. Kategori Umur Responden Jumlah Kategori Umur (tahun) (orang) (%) 28 – 39 (muda) 9 30 40 – 51 (sedang) 15 50 52 – 63 (tua) 6 20
Sumber : Peternak (diolah)
Kualitas sumberdaya manusia dapat dilihat dari tingkat pendidikan yang ditempuh, karena berpengaruh terhadap manajemen usaha dan kemampuan peternak dalam mengadopsi informasi dan teknologi baru. Persentase pendidikan yang ditamatkan penduduk Kabupaten Garut dapat dilihat pada Tabel 9, perbandingan persentase pendidikan laki-laki dan perempuan rata-rata hampir sama dari tingkat SD sampai SLTP, namun tingkat SLTA ke atas memiliki perbedaan karena laki-laki lebih banyak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Adapun proporsi yang paling besar rata-rata pada penduduk tingkat SD yaitu diatas 40 % dan tidak tamat SD diatas 30 %, menunjukan bahwa rata-rata penduduk Kabupaten Garut masih berpendidikan rendah. Pendidikan yang rendah akan berpengaruh terhadap kecepatan adopsi peternak terhadap teknologi yang baru dan motivasi untuk mengembangkan peternakan, tetapi dapat diminimalisir dengan mengadakan pelatihan atau penyuluhan yang berkesinambungan. Persentase Pendidikan Penduduk Kabupaten Garut dapat dilihat dalam Tabel 9.
Data pada Tabel 9 selaras dengan hasil penelitian (Tabel 10), mayoritas peternak masih pada tingkat pendidikan rendah. Proporsi yang lebih besar pada tingkat pendidikan tamat SD yaitu sebesar 50 %, hal ini akan menghambat adopsi inovasi terhadap perkembangan teknologi informasi sehingga memerlukan penyuluhan dan pelatihan yang berkesinambungan.
Tabel 9. Persentase Pendidikan Penduduk Kabupaten Garut
Laki-laki Perempuan Kriteria Orang % Orang % Tidak tamat SD Tamat SD/MI/sderajat Tamat SLTP/MTs/Sederajat/Kejuruan Tamat SMU/SMA/sederajat Tamat SMK Diploma I/II Diploma III/ Sarjana 362.900 465.072 145.570 90.782 46.473 10.707 5.354 12.188 31,86 40,83 12,78 7,97 4,08 0,94 0,47 1,07 400.637 465.429 137.616 60.173 24.861 5.280 770 5.280 36,42 42,31 12,51 5,47 2,26 0,48 0,07 0,48 Sumber : BPS Garut, 2005
Proporsi terbesar kedua masih pada tingkat tamat SLTP sebesar 26,66 %, namun peternak ada yang merupakan lulusan dari perguruan tinggi, sehingga dapat membantu peternak lain yang masih berpendidikan rendah untuk menerima informasi terbaru atau mengadopsi teknologi baru untuk memajukan peternakannya.
Tabel 10. Tingkat Pendidikan Responden
Jumlah Tingkat Pendidikan (orang) (%) Tidak tamat SD 2 6,67 Tamat SD 15 50,00 Tamat SLTP 8 26,66 Tamat SMU 2 6,67 Perguruan Tinggi 3 10,00
Sumber : Peternak (diolah)
Faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan peternak dalam usaha peternakannya adalah lama pengalaman peternak dalam menjalankan usahaternaknya, semakin banyak pengalaman beternak akan semakin memudahkan peternak, yaitu dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan proses manajemen usahaternaknya. Sebagian besar usaha pemeliharaan sapi potong dilakukan secara turun-temurun dari orang tua mereka, sehingga peternak sudah mulai mengetahui cara beternak sejak usia dini. Selain pengetahuan dan keterampilan yang didapatkan dari orang tua, teman peternak dan pengalaman beternak, peternak juga mendapatkan tambahan pengetahuan dari penyuluh dinas peternakan setempat.
Hasil penelitian menunjukan pengalaman beternak yang dimiliki cukup lama yaitu sampai 12 tahun, pengalaman yang cukup lama dalam beternak sapi potong memberikan pengetahuan dan keterampilan bagi peternak untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi. Sebagian peternak masih ada yang belum lama atau baru memulai usahaternak sapi potongnya, hal itu menunjukan bahwa usahaternak sapi potong masih menguntungkan untuk diusahakan. Kategori pengalaman peternak dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11 menunjukan pengalaman peternak berkisar diantara 4–12 tahun, umumnya peternak sudah cukup lama beternak sapi potong yaitu sebanyak 12 orang peternak sudah beternak selama 7–9 tahun (40%), dan ada yang sudah mencapai 10– 12 tahun pengalaman beternak sapi potong (30%). Pengalaman yang lama dapat membantu peternak dalam menjalankan usahaternaknya, karena pengalaman yang
lama akan mempermudah proses keputusan dalam hal manajemen usahanya atau lebih terampil, dan mengetahui dengan cepat adanya masalah karena sudah berpengalaman.
Tabel 11. Kategori Pengalaman Responden
Jumlah Peternak Kategori Pengalaman (Tahun) (Orang) (%) 4 - 6 (Baru) 9 30 7 – 9 (Sedang) 12 40 10 – 12 (Lama) 9 30 Teknologi
Ternak sapi potong yang sehat dan memiliki pertumbuhan yang baik, bisa didapatkan melalui pemeliharaan dan perawatan dengan baik. Pemeliharaan dan perawatan akan lebih baik jika menggunakan teknologi yang terbaik, supaya mendapatkan hasil yang maksimal.
Peternakan di Kabupaten Garut umumnya masih menggunakan cara tradisional dilihat dari cara pemeliharaan dan sarananya, seperti perkandangan, peralatan yang digunakan, penanggulangan penyakit, dan cara pemberian pakan serta obat-obatan. Teknologi yang sudah cukup berkembang adalah teknologi dalam bidang perkawinan, peternak sudah menggunakan teknik Inseminasi Buatan untuk perkembangbiakan ternaknya.
Hasil penelitian menunjukan kandang umumnya menggunakan genteng atau asbes dengan lantai semen dan kayu, sedangkan dinding terbuat dari tembok atau kayu. Peternak yang menggunakan atap genteng (86,67%) dan atap asbes (13,33%). Lantai kandang banyak menggunakan semen (83,33%) tetapi ada yang menggunakan semen kemudian ditambah kayu supaya hangat (10%) dan lantai menggunakan kayu (6,67%). Jenis bahan dinding yang digunakan oleh peternak sebagian besar menggunakan tembok (93,33%) dan menggunakan jenis kayu (6,67%).
Kandang sapi potong dibangun tidak jauh dari pemukiman, sekitar 25- 50 m dari rumah peternak bahkan ada yang membangun di sebelah rumah. Bangunan kandang yang tidak jauh dari pemukiman, dibuat sengaja oleh peternak untuk memanfaatkan limbah ternak menjadi biogas dan pupuk untuk lahan pertaniannya.
Masing-masing peternak umumnya sudah mampu membangun penampungan biogas sendiri (90%), teknologi biogas sudah digunakan peternak setelah mendapatkan pelatihan dari Dinas peternakan.
Perlengkapan kandang atau peralatan yang digunakan untuk ternak sapi potong masih sederhana. Perlengkapan yang disediakan terutama adalah tempat pakan dan minum, sedangkan perlengkapan pembersihnya meliputi sekop, sapu lidi, selang air, sikat, ember, dan kereta dorong. Perlengkapan yang lain adalah tali untuk mengikat ternak dan untuk keperluan lain.
Peternakan di Kabupaten Garut umumnya adalah usahaternak penggemukan. Sistem penggemukan yang dilakukan peternak adalah dengan cara dipelihara di dalam kandang terus-menerus dalam periode tertentu. Kebiasaan peternak mengkandangkan ternak sapi potongnya terus-menerus, supaya memudahkan pemeliharaan dan pemberian pakan oleh peternak. Selain itu pengandangan sapi potong terus-menerus dilakukan supaya ternak tidak terlalu banyak beraktifitas berat, ternak diberi pakan dan minum dengan harapan ternak dapat cepat tumbuh dan bobotnya bertambah.
Pakan dan minum diberikan secara teratur dan sesuai kebutuhan, supaya didapatkan nilai ekonomis yang baik dan tidak berlebihan. Pakan yang diberikan adalah hijauan dan jerami serta pakan penguat berupa konsentrat. Sebagian peternak tidak menambahkan pakan lain selain rumput pada ternaknya, namun ada yang menambahkan bahan lain berupa konsentrat atau ampas tahu. Pakan diberikan pada ternak langsung, biasanya dua kali sehari yaitu setiap pagi dan pada sore hari.
Faktor yang dapat menghambat perkembangan peternakan sapi potong salah satunya adalah masalah penyakit yang biasa menyerang pada sapi potong. Peternak menumbuhkan minatnya dalam usaha pencegahan dan pembasmian penyakit-penyakit yang biasa berjangkit didaerahnya, dengan mengkonsultasikannya kepada dinas yang terkait atau langsung ke dokter hewan. Penyakit yang menyerang pada umumnya hanya penyakit kembung dan demam tiga hari sehingga pengobatannya tidak terlalu susah, cukup dengan memberikan obat-obatan tradisional. Obat yang biasa dipakai oleh peternak adalah telur dicampur dengan mentega dan madu atau gula, tetapi jika tidak diketahui penyebabnya maka akan menghubungi dokter hewan.
Modal
Pengembangan usahaternak sapi potong mempunyai beberapa kendala dalam pelaksanaannya, salah satunya adalah masalah permodalan. Peternak kesulitan mencari modal terutama peminjaman kredit terhadap lembaga keuangan yang ada, karena peternak merasa keberatan dengan syarat agunan yang diberikan oleh lembaga keuangan. Permodalan yang digunakan oleh peternak bersumber dari modal sendiri, sistem gaduh atau ada bantuan dari pemerintah. Pada umumnya, peternak menggunakan modal sendiri (66,67%) karena kesulitan memperoleh modal. Permasalahan modal ini dapat menghambat perkembangan usahaternak sapi potong di Kabupaten Garut, karena perternak hanya akan berusahaternak dalam skala kecil saja. Peternak yang tidak mempunyai modal menggunakan cara lain, yaitu mengandalkan kemampuan dan pengalamannya dalam memelihara sapi potong dengan cara sistem gaduh (33,33%). Pembagian hasil dalam sistem gaduh sesuai dengan kesepakatan bersama.
Program pemerintah untuk membantu pengembangan peternakan sapi potong di Kabupaten Garut, dengan cara mengadakan penyebaran ternak di sentra-sentra sapi potong di masing-masing kecamatan, harapannya dengan program ini maka penyebaran ternak semakin luas. Untuk peternak yang menjadi sampel kebetulan belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Terkait dengan modal penyebaran ternak yang dilakukan masih dalam jumlah kecil, saat ini pemerintah sedang mencoba mensosialisasikan kepada peternak dan perusahaan untuk mengadakan kerjasama.
Kelembagaan
Kelembagaan merupakan salah satu faktor yang cukup mendukung pengembangan peternakan, keberadaannya dapat mempermudah pelaksanaan pengembangan ternak sapi potong. Kelembagaan yang baik dapat memberikan pelayanan yang baik dan maksimal terhadap kebutuhan peternak yang ada di lapangan.
Kelembagaan peternakan mencakup kelembagaan di kalangan pemerintah dan kalangan peternak. Kalangan pemerintah, kelembagaan yang berkaitan adalah Dinas Peternakan Kabupaten Garut. Peran yang dimiliki Kelembagaan sangat
penting sekali, karena berawal dari program dan kebijakan yang diambil akan menentukan arah pengembangan peternakan yang inginkan.
Pemerintah menyediakan yang dibutuhkan oleh peternak, bisa berupa fasilitas atau jasa lainnya. Fasilitas yang disediakan pemerintah seperti rumah potong hewan, pasar hewan, pos pelayanan IB, pelayanan kesehatan ternak, jalur trasportasi dan banyak lainnya. Fasilitas kelembagaan ini harus senantiasa dikembangkan dan difungsikan secara optimal. Rumah potong hewan yang tersedia di Kabupaten Garut dengan status dikelola pemerintah berjumlah empat rumah potong, yaitu rumah potong hewan Ciawitali, rumah potong hewan Wanaraja, rumah potong hewan Limbangan dan rumah potong hewan Cikajang, sedangkan rumah potong hewan yang dikelola oleh non pemerintah berjumlah sebelas rumah potong hewan, contoh diantaranya adalah rumah potong hewan Malangbong, rumah potong hewan Leles dan rumah potong hewan Bungbulang. Keberadaan rumah potong hewan berdekatan dengan pasar tradisional dikarenakan produk yang dihasilkan dari sapi potong berupa daging, harus cepat dipasarkan untuk dapat diperjualbelikan. Selain itu, supaya proses pemasaran produk sapi potong dapat dipasarkan secara terjangkau dan diketahui oleh masyarakat.
Produk-produk sapi potong yang akan dipasarkan keluar daerah, dapat menggunakan jalur transportasi yang sudah dibuat oleh pemerintah. Terminal-terminal dan jalan sudah dibuat dengan baik, sehingga dapat mencapai pelosok-pelosok daerah yang dihuni oleh peternak-peternak sapi potong serta dapat memudahkan mencapai daerah di sekitar Kabupaten Garut.
Pelayanan yang dapat mendukung usaha peternak dari pemerintah yaitu dalam bidang kesehatan, dengan dibangun pos pelayanan untuk Inseminasi Buatan dan pos kesehatan hewan. Saat ini pos pelayanan untuk Inseminasi Buatan baru berada di tiga tempat, yaitu kecamatan Cikajang, Caringin dan Selaawi dan untuk pos kesehatan hewan baru berjumlah satu tempat, yaitu di kecamatan Cikajang. Tujuan pelayanan kesehatan hewan itu sendiri adalah mendekatkan pelayanan kesehatan hewan dari pemerintah kepada peternak melalui kegiatan diagnosa penyakit, pengobatan, penanganan masalah reproduksi, penyuluhan kesehatan hewan dan melakukan pemantauan terhadap perkembangan kesehatan peternakan.
Kelembagaan dikalangan peternak yang penting adalah kompok peternak. Kelompok peternak merupakan sarana kelembagaan yang bagus karena dapat memudahkan pemerintah untuk mensosialisaikan programnya, seperti penyuluhan atau penyaluran bantuan. Selain itu kelompok peternak ini dapat memperkuat posisi peternak dalam menjalankan usahanya, misalkan dalam hal tawar menawar harga dengan bandar pengumpul supaya terjadi kebersamaan harga. Saat ini kelompok peternak sapi potong di Kabupaten Garut berjumlah tiga puluh kelompok peternak.
Kelembagaan pemerintah dan peternakan bekerjasama dalam menjalankan program masing-masing, sehingga dapat mempermudah proses pengembangan peternakan. Program pemerintah dapat dijalankan dengan bantuan kelompok ternak, misalkan dengan mengadakan pelatihan, penyuluhan, sosialisasi teknologi baru atau menyampaikan aturan baru dalam proses usaha peternakan. Kelompok ternak sendiri dapat menyampaikan keluhan atau keinginannya kepada pihak pemerintah, melalui perwakilan dari kelompok supaya lebih mudah dan didapatkan hasil yang lebih baik.
Wilayah Basis Pengembangan Ternak Sapi Potong
Wilayah basis pengembangan ternak sapi potong di Kabupaten Garut adalah wilayah kecamatan yang mempunyai tingkat populasi ternak sapi potong relatif lebih banyak dibandingkan kecamatan lainya. Menurut hasil perhitungan Location Quation (LQ), dari 42 kecamatan di Kabupaten Garut hanya ada 8 kecamatan yang termasuk wilayah basis. Delapan wilayah kecamatan tersebut diantaranya Kecamatan Caringin, Bungbulang, Mekarmukti, Cikelet, Pameungpeuk, Cibalong, Cisompet dan Malangbong. Wilayah basis populasi usahaternak di Kabupaten Garut diperlihatkan pada Tabel 12.
Tabel 12. Wilayah Basis dengan Nilai LQ≥1 di Kabupaten Garut
No Kecamatan Nilai LQ 1 2 3 4 5 6 7 8 Pameungpeuk Mekarmukti Malangbong Cibalong Cikelet Caringin Bungbulang Cisompet 16,96 8,57 6,11 5,36 3,27 2,03 1,91 1,30
Tabel 12 menunjukan bahwa Kecamatan Pameungpeuk mempunyai nilai LQ lebih besar dibandingkan wilayah kecamatan lain (16,96), dapat dikatakan bahwa Kecamatan Pameungpeuk mempunyai jumlah populasi ternak sapi potong relatif lebih banyak dibandingkan kecamatan lainnya. Sedangkan kecamatan yang merupakan wilayah non basis dibagi menjadi dua kategori, yaitu kecamatan non basis ada ternak sapi potong dan wilayah non basis tanpa ternak sapi potong.
Hasil perhitungan analisis LQ, didapatkan wilayah kecamatan non basis ada ternak sapi potong berjumlah 16 kecamatan dan wilayah kecamatan non basis tanpa ternak sapi potong berjumlah 18 kecamatan. Selengkapnya wilayah non basis ditunjukan dalam Tabel 13.
Tabel 13. Wilayah non basis dengan Nilai LQ<1 di Kabupaten Garut Wilayah Non Basis Ada Ternak Wilayah Non Basis Tanpa Ternak No
Kecamatan Nilai LQ No Kecamatan Nilai LQ 1 Pamulihan 0,26 17 Cisewu 0,00
2 Pakenjeng 0,23 18 Talegong 0,00 3 Cilawu 0,42 19 Peundeuy 0,00 4 Tarogong Kidul 0,05 20 Singajaya 0,00 5 Tarogong Kaler 0,12 21 Cihurip 0,00 6 Garut Kota 0,34 22 Cikajang 0,00 7 Karangpawitan 0,31 23 Banjarwangi 0,00 8 Wanaraja 0,48 24 Bayongbong 0,00 9 Sucinaraja 0,22 25 Cigedug 0,00 10 Pangatikan 0,21 26 Cisurupan 0,00 11 Sukawening 0,13 27 Sukaresmi 0,00 12 Leles 0,15 28 Semarang 0,00 13 Leuwigoong 0,13 29 Pasirwangi 0,00 14 Cibatu 0,13 30 Karangtengah 0,00 15 Limbangan 0,27 31 Banyuresmi 0,00 16 Selaawi 0,44 32 Kersamanah 0,00 - 33 Cibiuk 0,00 - 34 Kadungora 0,00
Nilai LQ didapatkan melalui perbandingan jumlah populasi ternak sapi potong di wilayah kecamatan yang satu dengan kecamatan lainnya. Pada wilayah non basis ada tenak mempunyai nilai kurang dari 1 karena wilayah non basis ada ternak mempunyai jumlah populasi sapi potong meskipun hanya sedikit, sedangkan jumlah sapi potong di wilayah tanpa ternak tidak mempunyai nilai atau nol karena tidak ada ternak sapi potong sama sekali. Pengelompokan wilayah basis dan wilayah non basis dapat dilihat pada Gambar 2. Selengkapnya perhitungan nilai LQ per kecamatan dapat dilihat pada Lampiran 4.
Keterangan : Wilayah basis = LQ≥1
Wilayah Non Basis ada ternak sapi potong = LQ<1