Karakteristik Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol F % F % Usia < 20 tahun 3 6 1 2 20-25 tahun 12 24 13 26 26-30 tahun 12 24 19 38 31-35 tahun 16 32 8 16 >35 tahun 7 8 9 18 Paritas 1 23 46 19 38 2 20 40 17 34 3 7 14 10 20 >3 0 0 4 8
Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui bahwa umur responden pada kelompok eksperimen sebagian besar usia 31-35 tahun sejumlah 16 orang (32%) dan yang paling sedikit berusia kurang dari 20 tahun sebanyak 3 orang (6%). Usia responden pada kelompok kontrol sebagian besar berusia 26-30 tahun sebanyak 19 orang (38%) dan yang paling sedikit berusia kurang dari 20 tahun sebanyak 1 orang (2%). Usia responden pada kelompok eksperimen maupun kontrol sebagian besar berusia dewasa muda (20-30 tahun).
Usia antara 20-30 tahun merupakan usia yang tepat dan baik untuk menjalankan fungsi reproduksi sehat. Mayoritas
respon-JKK Vol. 2 No. 1 Juni 2014 (SAY)
den memilih usia reproduksi agar aman dan sehat dalam menjalankan fungsi reproduksi, artinya memilih usia tersebut agar memiliki resiko mengalami komplikasi persalinan yang rendah. Perkembangan kognitif usia dewasa muda dan menengah menunjukkan peningkatan pola berfikir secara rasional, tetapi seseorang yang mengalami keterba-tasan dalam fasilitas dan sumber pendukung menyebabkan responden mengalami keter-batasan dalam mengoptimalkan perkem-bangannya (Bobak, 2000). Semakin cukup umur maka tingkat kematangan dan keku-atan seseorang akan lebih mkeku-atang dalam berpikir dan bekerja.
Dalam kurun waktu reproduksi sehat dikenal usia aman untuk kehamilan, persa-linan, dan menyusui adalah 20-35 tahun, oleh sebab itu, yang sesuai dengan masa reproduksi sangat baik dan sangat mendu-kung dalam pemberian ASI eksklusif. Umur yang kurang dari 20 tahun dianggap masih belum matang secara fisik, mental, dan psikologi dalam menghadapi kehamilan, persalinan, serta pemberian ASI. Umur lebih dari 35 tahun dianggap berbahaya, sebab baik alat reproduksi maupun fisik ibu sudah jauh berkurang dan menurun, selain itu bisa terjadi risiko bawaan pada bayinya dan juga dapat meningkatkan kesulitan pada kehamilan, persalinan dan nifas (Bobak, 2005).
Umur ibu sangat menentukan kese-hatan maternal karena berkaitan dengan kondisi kehamilan, persalinan, dan nifas, serta cara mengasuh termasuk menyusui bayinya. Ibu yang berumur kurang dari 20 tahun masih belum matang dan belum siap secara jasmani dan sosial dalam menghadapi kehamilan, persalinan, serta dalam mengasuh bayi setelah dilahirkan. Sedangkan ibu yang berumur 20-35 tahun disebut usia “masa dewasa” dan disebut juga masa reproduksi, dimana pada masa ini diharapkan orang telah mampu untuk memecahkan
masalah-masalah yang dihadapi dengan tenang secara emosional, terutama dalam mengha-dapi kehamilan, persalinan, nifas, dan merawat bayinya (Wheller, 2004).
Sebagian besar paritas responden pada kelompok eksperimen adalah primi-para sebanyak 23 orang (46%) dan yang paling sedikit adalah melahirkan anak ke-3 yaitu 7 orang (14%). Sebagian besar paritas responden pada kelompok kontrol adalah primipara yaitu sejumlah 19 orang (38%) dan yang paling sedikit adalah melahirkan anak lebih dari tiga orang (anak ke-4) yaitu sejumlah empat responden. Sebagian besar responden pada kelompok kontrol adalah melahirkan anak yang pertama (38%).
Paritas responden pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sebagian besar adalah paritas pertama (melahirkan yang pertama kali). Pada ibu yang memiliki paritas rendah secara anatomi alveolus yang ada dalam payudara masih maksimal dalam memproduksi ASI apabila hormon oksitosin dirangsang pengeluarannya. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Budiarti (2009) yang menyampaikan bahwa ibu dengan paritas rendah berkaitan dengan motivasi ibu untuk mencari sumber informasi tentang bagaimana agar ASI dapat seawal mungkin keluar sehingga sang ibu akan dapat menyusui bayinya pada waktu seawal mungkin pula.
Pengalaman yang diperoleh ibu dapat memperluas pengetahuan seseorang dalam menyusui bayinya. Selain faktor tersebut juga dipengaruhi oleh dukungan keluarga pada saat menyusui, karena pada saat bayinya lahir bagi seorang ibu akan merasa memiliki kewajiban untuk segera menyusui bayinya. Hal ini juga didukung oleh faktor yang lain yaitu kondisi ibu yang tenang, dan penuh kasih sayang kepada bayinya pada saat menyusu juga akan mempengaruhi produksi ASI yang keluar.
51
Sarwinanti, Terapi Pijat Oksitosin Meningkatkan Produksi...
Tabel 2 menunjukkan bahwa produksi ASI yang baik pada kelompok eksperimen sebagian besar responden berusia 31-35 tahun (22%) dan paritas pertama (38%). Produksi ASI cukup sebagian besar pada responden berusia 31-35 tahun (6%) dan paritas pertama (8%). Produksi ASI kurang sebagian besar pada responden berusia 31-35 tahun (4%) dan paritas pertama (6%).
Produksi ASI baik pada kelompok kontrol sebagian besar pada responden berusia 26-30 tahun (12%) dan paritas kedua (10%). Produksi ASI cukup sebagian besar pada responden berusia 26-30 tahun (20%) dan paritas kedua (18%). Produksi ASI kurang sebagian besar pada responden berusia 26-30 tahun (8%) dan paritas per-tama (14%). Produksi ASI pada kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol sebagian besar dewasa muda (20-30 tahun) didapatkan produksi ASI-nya baik. Hal ini dapat disebabkan karena pada usia repro-duksi sehat hormon-hormon masih aktif ter-masuk hormon oksitosin yang dapat mem-pengaruhi produksi ASI.
Hal ini sesuai dengan pendapat dari Novita (2011) yang menyampaikan bahwa usia reproduksi seorang perempuan hor-mon-hormonnya masih aktif sehingga akan
mempengaruhi hormon oksitosin dan akan berakibat pada pengeluaran ASI. Pada usia dewasa muda secara psikologis cenderung lebih siap karena pada usia tersebut memiliki keinginan yang kuat untuk segera menyusui bayinya (Bobak, 2005). Pada ibu yang ti-dak siap untuk menyusui atau dalam kondisi cemas dan stress akan menghambat let down refleks dalam mengeluarkan ASI. Hal ini terjadi karena adanya pelepasan epineprin yang menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah alveolus, sehingga oksitosin akan terhambat untuk mencapai target organ yaitu mioepitelium (Roesli, 2005), akibatnya akan menyebabkan aliran ASI tidak maksimal sehingga akan menyebabkan bendungan ASI dan ASI tidak keluar.
Tabel 3 menunjukkan bahwa produksi ASI pada kelompok eksperimen sebagian besar baik yaitu sebanyak 36 responden (72%), sedangkan pada kelompok kontrol produksi ASI sebagian besar cukup yaitu sebanyak 13 responden (26%). Sebagian besar responden kelompok eksperimen me-miliki produksi ASI baik, hal ini dapat dise-babkan karena pada kelompok eksperimen mayoritas responden berada pada paritas pertama. Produksi ASI pada kelompok kontrol sebagian besar adalah cukup. Hal Tabel 2. Produksi ASI berdasarkan Usia dan Paritas Responden
Karakteristik
Kelompok Eksperimen (n=50) Kelompok Kontrol (n=50)
Baik Cukup Kurang Baik Cukup Kurang
F % F % F % F % F % F % Usia < 20 tahun 3 6 0 0 0 0 0 0 0 0 1 2 20-25 tahun 10 20 2 4 1 2 5 10 4 8 4 8 26- 30 tahun 9 18 2 4 1 2 6 12 10 20 4 8 31- 35 tahun 11 22 3 6 2 4 1 2 6 12 1 2 > 35 tahun 7 14 0 0 0 0 2 6 4 8 2 4 Paritas 1 19 38 4 8 3 6 5 10 8 16 1 14 2 13 26 3 6 1 2 5 10 9 18 4 8 3 6 12 0 0 1 2 2 4 5 10 2 4 >3 0 0 0 0 0 0 1 2 2 4 0 0
ini dapat disebabkan karena pada kelompok kontrol mayoritas responden berada pada paritas kedua.
Hal ini sesuai dengan pendapat dari Roesli (2005) yang menyampaikan bahwa paritas akan mempengaruhi keaktifan dari hormon-hormon termasuk hormon oksitosin yang akan mempengaruhi produksi ASI. Pada paritas yang tinggi secara anatomi kelenjar alveolus yang ada dalam payudara sudah tidak maksimal dalam memprouduksi ASI, sehingga meskipun dilakukan perang-sangan pada area tulang belakang selama dua kali sehari akan sedikit berpengaruh untuk keluarnya oksitosin dibandingkan dengan ibu yang memiliki paritas rendah. Pada ibu dengan paritas tinggi oksitosin akan tetap terproduksi namun tidak sebanyak pada ibu dengan paritas rendah. Hal ini akan menyebabkan pada ibu dengan paritas ren-dah cenderung produksi ASI yang dikeluar-kan lebih baik dibandingdikeluar-kan dengan ibu yang memiliki paritas tinggi(Suherni, 2008).
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Produk-si ASI pada Ibu Post Partum yang Mendapatkan Terapi Pi-jat Oksitosin dan yang Tidak mendapatkan Terapi Pijat Oksitosin
Produksi ASI Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol F % F % Baik 36 72 13 26 Cukup 8 16 24 48 Kurang 6 12 13 26 Jumlah 50 100 50 100
Hasil uji statistik independent t-test
didapatkan nilai p value <0,05 ( p-value=0,000) artinya terdapat pengaruh yang signifikan produksi ASI antara kelompok yang diberikan terapi pijat
oksitosin dengan yang tidak diberikan terapi pijat oksitosin. Hal ini menunjukkan bahwa terapi pijat oksitosin yang dilakukan pada ibu post partum akan mempengaruhi produksi ASI, sehingga pada ibu post partum perlu dilakukan pijat oksitosin setelah ibu melahirkan pada hari pertama.
Tabel 4. Rata-rata Produksi ASI pada Ibu Post Partum yang Men-dapatkan Terapi Pijat Oksi-tosin dan yang Tidak Men-dapatkan Terapi Pijat Oksi-tosin Produksi ASI Kelompok Perbedaan Eksperimen Kontrol Mean 2,66 2,00 0,66 SD 0,66 0,72 0,06
Hal ini sesuai dengan pendapat Roesli (2005) yang menyatakan bahwa pada ibu post partum dengan dilakukan pijat di area punggung selama 10-20 menit akan meningkatkan produksi ASI sehingga akan mempercepat proses menyusui pada bayinya. Hal ini juga didukung oleh Novita (2011) yang menyampaikan bahwa dengan adanya pijat oksitosin akan dapat merang-sang hormon oksitosin yang dapat memacu dan mempengaruhi produksi ASI.
Roesli (2005) menyampaikan bahwa produksi ASI dipengaruhi oleh beberapa faktor baik yang secara langsung maupun tidak langsung seperti perilaku pada saat menyusui, psikologis ibu dan kondisi bayi akan mempengaruhi psikologis ibu. Pijatan yang dilakukan di area tulang belakang di daerah punggung selama dua kali dalam sehari akan menyebabkan ibu merasa rileks, nyaman dan secara psikologis menyebabkan ibu tenang. Hal ini akan menyebabkan sema-kin banyak oksitosin yang tersekresi, sehing-ga akan mempensehing-garuhi kelenjar alveolus payudara untuk memproduksi ASI.
53
Sarwinanti, Terapi Pijat Oksitosin Meningkatkan Produksi...
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
Produksi ASI pada kelompok ekspe-rimen sebagian besar adalah baik yaitu 36 responden (72%), sedangkan pada kelom-pok kontrol sebagian besar adalah cukup yaitu 24 responden (48%). Ada pengaruh yang signifikan terhadap produksi ASI antara kelompok yang mendapatkan terapi pijat oksitosin dengan kelompok yang tidak mendapatkan terapi pijat oksitosin (p value=0,000).
Saran
Saran kepada ibu post partum adalah melakukan terapi pijat oksitosin di rumah sakit agar dapat meningkatkan produksi ASI. Saran kepada pihak Manajemen Ru-mah Sakit agar menyusun standar opera-sional prosedur tentang terapi pijat oksitosin. Saran kepada para peneliti selanjutnya agar dilakukan penelitian lanjutan tentang faktor lain yang dapat mempengaruhi produksi ASI.
DAFTAR RUJUKAN
Bobak, Lowdermilk, & Perry. 2000.
Maternal & Women Health Care 7 th edition. Mosby: Philadelphia. Bobak. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Edisi ke-4. EGC: Jakarta.
Budiarti, Tri. 2009. Efektivitas Pemberian Paket “Sukses ASI” terhadap Produksi ASI Ibu Menyusui di Depok Jawa Barat. Tesis tidak diterbitkan. Depok: Program Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Kepera-watan Universitas Indonesia. Dahlan, Sopiyudin. 2010.
Langkah-Langkah Membuat Proposal Penelitian Bidang Kedokteran dan Kesehatan. Sagung Seto: Jakarta.
Novita, Regina. 2011. Keperawatan Maternitas. Ghalia Indonesia: Bogor.
Pemerintah RI. Peraturan Pemerintah No 33 tahun 2012 tentang Pembe-rian ASI Eksklusif, (online), (http:/ /www.depkes.go.id), diakses 10 Mei 2013.
Roesli, Utami. 2005. Mengenal ASI Ekslusif. Trubus Agriwidya: Jakarta.
Suherni, Hesty, Rahmawati. 2008. Pera-watan Masa Nifas. Fitramaya: Yogyakarta.
Pemerintah RI. 2009. Undang-Undang Kesehatan No 36 tahun 2009, (online), (http://www.depkes.go.id), diakses 10 Mei 2013.
Wheller, Linda. 2004. Perawatan Pranatal dan Pascapartum. EGC: Jakarta.
IBU POST PARTUM