D. Tahapan Penelitian
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Keadaan Umum
DAS Cidanau secara geografis terletak pada 105° 57’ 00” - 106° 22’ 00” Bujur Timur dan 5° 21’ 00” - 6° 21’ 00” Lintang Selatan, dibatasi oleh sebelah utara Gunung Tukung Gede dan Gunung Saragian, sebelah timur Gunung Pule dan Gunung Karang, sebelah selatan Gunung Aseupan dan Gunung Condong, dan sebelah barat dibatasi oleh Selat Sunda. Secara administratif terletak di Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang. Di Kabupaten Serang meliputi lima kecamatan yaitu Kecamatan Padarincang, Ciomas, Mancak, Pabuaran dan Cinangka. Kabupaten Pandeglang di Kecamatan Mandalawangi.
Gambar 5. Gunung Karang batas DAS Cidanau sebelah timur
Luas DAS Cidanau sekitar 22620 Ha dan secara garis besar DAS Cidanau terbagi atas kawasan lahan datar (rawa danau dan persawahan) seluas 8821 Ha dan Sub-DAS yang aliran airnya bermuara ke kawasan lahan datar mempunyai ketinggian sekitar 100 m dpl. Untuk mengetahui lebih jelas penggunaan lahan dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Penggunaan lahan di DAS Cidanau
Lahan Luas (ha) %
Sawah 6786 30 Semak 6107 27 Kebun Campuran 3619 16 Rawa 2035 9 Ladang 2035 9 Hutan 1583 7 Pemukiman 455 2 Total 22620 100 Sumber : FKDC
Sedangkan untuk kelerengan di DAS Cidanau dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Kelas kemiringan lahan DAS Cidanau
No. Kelas Kemiringan Kemiringan lahan Luas (ha) %
1 Datar 0 - 8 (%) 8903,232 39,36 2 Landai 8 - 15 (%) 3429,192 15,16 3 Agak curam 15 - 25 (%) 4340,778 19,19 4 Curam 25 - 40 (%) 3309,306 14,63 5 Sangat curam > 40 (%) 2637,492 11,66 Jumlah 22620,000 100,00 Sumber : FKDC
Gambar 6. Persentase topografi wilayah DAS Cidanau
2. Sub-DAS Cidanau
Di DAS Cidanau terdapat 21 Sub DAS yang semuanya berhilir di Rawa Danau kemudian airnya mengalir melalui Sungai Cidanau ke laut. Pada umumnya sungai-sungai tersebut mengalirkan air walaupun pada
Sangat Curam 11,66% Curam 14,63% Agak Curam 19,19% Datar 39,36% Landai 15,16%
musim kemarau panjang. Pada Lampiran 11 dapat dilihat karakteristik hidrologi sungai hasil pengukuran sesaat pada bulan Oktober 2002 dan keberadaannya dalam wilayah administratif di setiap kecamatan. Pada Lampiran 11 dapat dilihat kemampuan sungai dalam mengalirkan air berdasarkan hasil perhitungan sesaat.
Daerah Aliran Sungai adalah suatu daerah atau wilayah tangkapan air yang dibatasi oleh punggung gunung dan menampung, meyimpan air hujan yang jatuh diatasnya serta mengalirkan melalui sebuah saluran pelepas (outlet). Konsepsi DAS ini memudahkan dalam analisis data yang berkaitan dengan ekosistem. Mengingat sungai yang merupakan satu – satunya saluran pelepas bagi air di dalam DAS Cidanau, maka daerah ini disebut Daerah Aliran Sungai Cidanau.
DAS Cidanau merupakan salah satu DAS penting di wilayah Propinsi Banten. Sungai Cidanau merupakan sungai utama DAS Cidanau yang menampung aliran air dari sekitar 21 sungai besar dan kecil, yang berhulu di kawasan seluas 22620 Ha (catchment area) dan bermuara di Selat Sunda. Kuantitas sumberdaya air ini dapat diperkirakan dari jumlah curah hujan yang jatuh kemudian dikaitkan dengan luas daerah tangkapannya. Jumlah curah hujan dapat diketahui dari hasil data curah hujan di wilayah DAS Cidanau, yaitu dapat dijumpai di stasiun Padarincang, Ciomas, Pabuaran, dan Mancak. Dari hasil data aktual stasiun klimatologi Serang didapat hujan rata–rata tahunan sebesar 2650 mm. Luas daerah tangkapan adalah 22620 Ha atau 22620x104m2, dengan demikian kuantitas sumberdaya air hujan tahunan di DAS Cidanau adalah 599,43x106m3.
Aliran air Sungai Cidanau ini ditangkap melaui bangunan bendung Cidanau. Bangunan ini terletak 600 meter dari hilir sungai Cidanau dengan panjang 30 meter membendung bagian sungai Cidanau. Debit diatur dengan slice gate yang dioperasikan dari rumah pompa 1, saluran inlet terletak di sebelah kanan sungai, air dialirkan melaui sand trap, by pass dan sum pump. Rawa Danau sebagai bagian dari DAS Cidanau merupakan tempat penampungan air. Hal ini dapat terlihat pada musim kemarau
sungai Cidanau sebagai pelepasan air dari Rawa Danau masih mensisakan debit aliran yang cukup besar yaitu 1,8 m/det.
Di DAS Cidanau sumber air permukaan yang ada berupa air sungai dan air danau. Didalam kawasan DAS Cidanau terdapat sungai dan anak sungai diantaranya yaitu : Sungai Cisalak, Sungai Cikalumpang, Sungai Cisumur, Sungai Cikarasak, Sungai Cibuntu, Sungai Cisoar, Sungai Ciapus, Sungai Cisumur, Sungai Cilahum, Sungai Cisaat, Sungai Ciomas, Sungai Cibarugrug, Sungai Cigalusan dan Sungai Cirakah Gedo.
Hampir sebagian besar dari sungai–sungai yang telah disebutkan diatas bermuara ke Rawa Danau yang secara terus–menerus sepanjang tahun mengalir air dengan debit yang bervariasi tergantung pada musim, sedangkan satu–satunya sungai yang mengalir dari Rawa Danau ke laut adalah Sungai Cidanau yang merupakan catchments area hidrologi dan merupakan buffer. Sungai Cidanau inilah merupakan sumber air utama untuk memenuhi kebutuhan air industri dan masyarakat di wilayah kota Cilegon.
3. Geologi Regional
Fisiografi secara umum terletak pada zona acticlinorium Bogor Barat dengan morfologi perbukitan dengan elevasi antara 20-110 m. Perlapisan tanah atau batuan di daerah ini berupa :
1. Endapan rawa, terdiri dari kerikil, pasir dan lumpur tersebar di daerah Rawa Danau.
2. Endapan koluvial, terdiri dari tallus, detritus dan batu bekas buangan dari batuan vulkanik.
3. Batuan vulkanik tua dari danau terdiri dari andesit yang berkekar atau aliran lava bersifat basalt, breksi vulkanik dan tufa.
4. Tufa Banten bagian atas, tersebar di daerah ini yang dapat diklasifikasikan menjadi 2 bagian yaitu bagian atas yang terdiri dari tufa pumis dan tufa pasiran. Sedangkan pada bagian bawah terdiri dari interkalasi tufa kristalin, tufa lapili dan tufa lempungan.
5. Tufa Banten bagian bawah, terdiri dari breksi tufa, aglomerat, tufa pumis, tufa lapili dan tufa pasiran.
Tabel 4. Penyebaran jenis tanah di DAS Cidanau
No Jenis Tanah Penyebaran Luas (ha) % 1 Aluvial Kelabu Tua Kec. Cinangka 226,2 1,0 2 Regosol Kelabu,
Komplek Grumosol dan Mediteran
Kec. Cinangka 90,48 0,4
3 Regosol Kelabu Kekuningan
Kec. Pabuaran dan Padarincang
1945,32 8,6
4 Latosol Coklat Kec. Ciomas 1967,94 8,7 5 Latosol Coklat
Kemerahan
Kec. Ciomas dan Padarincang 5428,8 24,0 6 Latosol Merah Kekuningan Kec. Cinangka, Mandalawangi dan Padarincang 2623,92 11,6
7 Assosiasi Latosol Coklat dan Latosol Coklat Kekuningan
Kec.Mandalawangi dan Padarincang
3460,86 15,3
8 Assosiasi Latosol Coklat Kemerahan dan Latosol Coklat
Kec. Mancak, Pabuaran dan Cinangka
180,96 0,8
9 Assosiasi Glei Humus dan Alluvial Kelabu
Kec. Padarincang, Pabuaran, Mancak dan Cinangka
6695,52 29,6
Jumlah 22620 100,0
Sumber : FKDC dan RuBRD 2002
4. Polygon Thiessen
Terdapat empat stasiun penakar hujan di DAS Cidanau yang digunakan untuk menghitung jumlah curah hujan rata-rata (mm) tahunan
dengan menggunakan polygon thiessen. Keempat stasiun tersebut terlatak di dalam wilayah DAS Cidanau yang dapat dilihat pada Lampiran 4.
Tabel 5. Perhitungan curah hujan rata-rata DAS Cidanau dengan menggunakan metode Poligon (Thiessen Polygon)
Stasiun Penakar Hujan Curah Hujan (mm) Luas Polygon (ha) Persentase dari Luas total (%) Bobot (Weighted factor) Weighted Curah Hujan (mm) Cinangka 2039,3 4077 18,40 0,184 375,23 Padarincang 2958,1 12676 57,20 0,572 1692,03 Ciomas 2333,17 3590 16,20 0,162 377,97 Pandeglang 3507,3 1817 8,20 0,082 287,59 Total 10837,87 22160 100,0 1,000 2732,82
Curah hujan tahunan rata-rata tahunan dari empat stasiun dengan metode polygon thiessen sebesar 2732,82 mm/tahun, lebih besar sedikit dari data aktual stasiun klimatologi Serang yaitu sebesar 2650 mm/tahun. Dari cara perhitungannya, dapat dikatakan bahwa metode polygon menghasilkan angka curah hujan tahunan rata-rata yang lebih akurat. Teknik polygon cukup memadai guna menentukan curah hujan suatu daerah, namun demikian hasil yang baik ditentukan oleh penempatan alat penakar hujan mampu mewakili daerah pengamatan. Perhitungan curah hujan rata-rata tahunan di DAS Cidanau menggunakan empat alat penakar hujan (4 stasiun) yang letaknya dapat dilihat pada Lampiran 4. Luas total polygon sebesar 22160 ha agak berbeda dengan luas dari literatur karena luas tersebut hasil pengolahan digitasi peta yang mengandalkan ketelitian pengguna software tersebut.
Berdasarkan Tabel 3, terlihat bahwa sebagian besar DAS Cidanau adalah dataran rendah dan tidak terlalu bergunung-gunung sehingga metode polygon thiesen ini dapat digunakan (Shaw, 1985 dalam Asdak, 2004).
5. Penampang Sungai
Analisis penampang sungai dengan menggambarkan panampang memanjang dan melintang sungai. Analisis tersebut digunakan untuk menentukan lokasi yang sesuai untuk pembuatan bendungan kecil dan memperkirakan potensi luas daerah genangannya. Penampang melintang 21 sungai di DAS Cidanau yang debitnya memungkinkan untuk pembuatan bendungan kecil dapat dilihat pada Lampiran 19 sampai Lampiran 26. Penampang melintang sungai-sungai tersebut merupakan penampang melintang rata-rata yang dimaksudkan untuk mendekati lebar penampang sebenarnya, data tersebut diambil pada Juni 2002 yang bersumber dari masterplan Cidanau. Sedangkan untuk karakteristik hidrolikanya dapat dilihat pada Lampiran 6 dan Lampiran 7. Dibawah ini terdapat gambar- gambar contoh kondisi sungai yang ada di DAS Cidanau, foto diambil pada 27 Februari 2006.
Gambar 7. Sungai Cicangkedan
Gambar 9. Sungai Cikalumpang
Gambar 10. Sungai Cisawarna
Pada Lampiran 13 sampai Lampiran 18 disajikan profil memanjang dari ke 21 sungai yang mewakili 21 sungai di Sub DAS Cidanau. Penampang memanjang digunakan untuk mengetahui lokasi yang bisa digunakan untuk tempat pembuatan bendungan kecil. Dipilih tempat-tempat yang cukup landai, mempunyai daerah genangan yang cukup luas namun mempunyai penampang yang sempit agar efisien dalam pembuatan bendungannya dan tidak berada di dekat outlet sungai. Letak yang mungkin untuk dibangunnya bendungan kecil dapat dilihat pada Lampiran 13 sampai Lampiran 18.