• Tidak ada hasil yang ditemukan

TANAH PASIR PANTAI ABSTRAK

HASIL DAN PEMBAHASAN

Jenis spesies cendawan mikoriza arbuskula (CMA) indigenus asal kawasan pantai Samas Kabupaten Bantul Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tidak terdapat perbedaan berdasarkan pengamatan pada jarak 0– 600 m dari garis pantai. Namun demikian terdapat perbedaan jumlah spora pada setiap tempat yang berbeda jarak dari garis pantai. Keberadaan spesies CMA dan jumlah spora pada berbagai jarak dari garis pantai dijelaskan pada Tabel 1.

Tabel 1 dan Gambar 2 menjelaskan bahwa kawasan pantai Samas pada tegakan

Tridax procumbens terdapat 3 macam CMA yang terdiri dari Glomus Sp-1, Glomus

Sp-2 dan Gigaspora Sp. Kepadatan spora Glomus Sp-1 pada berbagai jarak dari garis pantai berturut-turut 18.84% (pada jarak 0-200m), 30.11% (pada jarak 200-400m) dan 40.91% (pada jarak 400-600m). Kepadatan spora Glomus Sp-2 berturut-turut 26.09% (pada jarak 0-200m), 45.16% (pada jarak 200-400m) dan 41.82% (pada jarak 400-600 m). Kepadatan Gigaspora Sp menempati urutan terkecil dibanding kedua macam Glomus Sp., yakni berturut-turut 14.49% (pada jarak 0-200m), 8.60% (pada jarak 200-400m) serta 7.27% (pada jarak 400-600m).

Jika dicermati berdasarkan ukuran di antara kedua jenis yang diduga Glomus

Sp. terdapat perbedaan, yakni Glomus Sp-1 berukuran lebih kecil dibanding Glomus Sp-2. Jenis yang diduga Gigaspora Sp, selain berukuran besar juga mempunyai ciri khusus yakni dijumpai adanya bulbus (Gambar 3).

Tabel 1. Jenis CMA dan jumlah spora pada berbagai jarak dari garis pantai di tanah pasir pantai Kawasan Pantai Samas Kabupaten Bantul DIY Jumlah spora pada berbagai jarak dari garis pantai Jenis 0-200 m 200-400 m 400-600 m

Unit spora/50 g tanah

Glomus Sp-1 6.50 c 14.00 b 22.50 a

Glomus Sp-2 9.00 b 21.00 a 23.00 a

Gigaspora Sp 5.00 c 4.00 c 4.00 c Kapang (spora pecah) 4.00 b 7.50 c 5.50 c Keterangan : Angka rerata pada masing-masing baris yang diikuti huruf sama

menunjukkan tidak ada perbedaan menurut Uji Tukey taraf 5%

Jika dibandingkan berdasarkan jumlah spora ternyata pada jarak 400-600 m dari garis pantai Glomus Sp-2 menempati jumlah terbanyak diikuti Glomus Sp-1 dan

Gigaspora Sp. (Tabel 1.). Semakin dekat dengan pantai, kepadatan spora untuk masing-masing jenis CMA relatif semakin berkurang dan spora yang pecah (kapang) semakin meningkat. Hal tersebut diduga dipengaruhi

Gambar 2. Kepadatan spora pada berbagai jarak dari garis pantai 0 10 20 30 40 50 0-200 m 200-400 m 400-600 m Jarak dari garis pantai

Kepadatan spora (%) Glomus Sp-1

Glomus Sp-2 Gigaspora Sp-2

Gigaspora Sp. Glomus Sp-1 Glomus Sp-2

Gambar 3. Spora cendawan mikoriza arbuskula asal tanah pasir pantai

oleh kandungan garam (DHL = daya hantar listrik) di udara dekat permukaan tanah. Udara dekat permukaan tanah dapat mempengaruhi spora CMA yang bersifat aerobik dan ada kecenderungan hidup di lapisan atas tanah.

Pengamatan terhadap kandungan garam di udara dekat permukaan tanah terbukti bahwa semakin jauh jarak dari pantai akan semakin berkurang (Tabel 2). Pada jarak 0-200 m dari garis pantai, DHL udara mencapai 19.15 mmhos (siang) dan 4.00 mmhos (malam). Jarak 200-400 m, nilai DHL sebesar 4.90 mmhos (siang) dan 1.30 mmhos (malam). Pada jarak 400-600 m nilai DHL sebesar 2.90 mmhos (siang) dan 1.60 mmhos (malam). Tampak pada jarak 0-200 m dan 200-400 m nilai DHL berada di atas 4.00 mmhos, dengan demikian sudah dijumpai pengaruh salinitas terhadap kehidupan CMA. Teknik pengukuran kandungan garam di udara dijelaskan pada Lampiran 3. Nilai DHL > 4 mmhos atau setara dengan 40 mM Na Cl per liter telah menyebabkan cekaman. Sebagai pembanding, DHL air laut berkisar antara 44-55 mmhos (Marschner, 1986). Ditegaskan oleh Sieverding (1991) bahwa untuk kelangsungan hidup CMA sangat bergantung pada keberadaan udara (aerobik), oleh karenanya masuk akal jika keberadaan udara di permukaan tanah yang mengandung garam akan menekan kehidupan CMA. Pengaruh udara permukaan tanah tersebut menjadi besar oleh karena tanah sasaran percobaan mempunyai nilai porositas relatif tinggi disebabkan oleh kandungan pasir yang tinggi (Tabel Lampiran 6).

Tabel 2. Daya hantar listrik (DHL) udara permukaan tanah pada berbagai jarak dari garis pantai

Jarak dari Pantai Siang Malam 0 - 200 m 200 - 400 m 400 - 600 m --- mmhos --- - 19.15 4.00 4.90 1.30 2.90 1.60

Kandungan garam di udara dekat permukaan tanah dapat menurunkan kuantitas spora, oleh karena garam dapat memicu terjadinya plasmolisis yang mengakibatkan pecahnya spora. Terbukti pada hasil pengamatan spora di lokasi sasaran penelitian pada jarak 400-600 m , 200-400 m dan 0-200 m menunjukkan jumlah spora pecah (kapang) semakin meningkat berturut-turut sebesar 10.00%, 16.13% dan 40.58%. Keadaan tersebut menggambarkan bahwa penurunan kuantitas spora CMA dipengaruhi oleh peningkatan kandungan garam udara dekat permukaan tanah. Sejalan dengan pendapat Ragupathy dan Mahadevan (1991) yang mengungkapkan bahwa penurunan salinitas menyebabkan peningkatan kepadatan spora CMA.

Jika dicermati antara Glomus Sp-1 dan Glomus Sp-2 tampak adanya perbedaan kepadatan spora pada setiap tempat dengan jarak yang sama dari garis pantai. Jika dibandingkan, pada jarak 400-600 meter dengan jarak 200-400 meter dari garis pantai untuk Glomus Sp-1 terjadi penurunan jumlah spora (turun sebesar 37.78%), namun untuk jumlah spora Glomus Sp-2 tidak berbeda jauh antara dua tempat tersebut (turun 8.69%). Kondisi tersebut diduga ada hubungannya dengan pola sporulasi yang berbeda antara keduanya. Pada Glomus

Glomus Sp-1 (sporulasi di luar akar)

Glomus Sp-2 (sporulasi di dalam akar) SPORA HIFA AKAR AKAR HIFA SPORA

Gambar 4. Sporulasi cendawan mikoriza arbuskula spesies Glomus Sp-1 dan Glomus Sp-2

di tanah pasir pantai

Sp-2 dijumpai banyak spora yang berada di dalam akar sedangkan pada Glomus Sp-1 spora selalu dijumpai di luar akar (Gambar 4).

Kondisi lingkungan, khususnya perbedaan kandungan garam di udara dan komposisi vegetasi berpengaruh terhadap propagul infektif CMA yang digambarkan dengan nilai MPN (Most Probable Number). Tampak pada Tabel 3, bahwa semakin dekat dengan pantai menyebabkan semakin menurunnya nilai MPN. Namun demikian kondisi pada lahan rentang jarak 400-600 m dari garis pantai, nilai MPN lebih rendah daripada rentang jarak 200-400 m. Keadaan tersebut terjadi diduga dipengaruhi oleh beberapa sebab di antaranya adalah : (1) keberadaan vegetasi tanaman budidaya telah mendesak kehidupan Tridax procumbens (tanaman uji yang merupakan tanaman asli lokasi daerah sasaran

Tabel 3. Nilai MPN (Most Probable Number) CMA indigenus kawasan Pantai Samas Kabupaten Bantul DIY pada berbagai jarak dari garis pantai

Jarak dari garis pantai

Nilai MPN (unit propagul/50g tanah)

0 - 200 m 200 - 400 m 400 - 600 m 582.50 b 1446.24 a 473.91 b

Keterangan : Angka rerata yang diikuti huruf sama menunjukkan tidak ada beda menurut Uji Tukey taraf 5%

penelitian) dan (2) keberadaan tanaman budidaya di rentang jarak 400-600 m sudah dominan, sehingga proses budidaya maksimal di lokasi tersebut menyebabkan menurunnya CMA. Keadaan tersebut sesuai pendapat Kurle dan Pfleger (1994) yang menyatakan

bahwa jumlah spora dan tingkat kolonisasi CMA akan cenderung menurun oleh karena manajemen budidaya secara maksimal (manajemen konvensional dengan input produksi relatif tinggi). Diungkapkan bahwa penerapan manajemen konvensional dengan input produksi tinggi pada budidaya tanaman menyebabkan penurunan jumlah spora sebesar 40.07% dibanding dengan input produksi minimum. Lebih lanjut dinyatakannya bahwa kecenderungan manajemen budidaya tanaman secara konvensional yang selalu menetapkan penggunaan pupuk kimia dan pestisida menjadi salah satu penyebab menurunnya jumlah spora dan tingkat kolonisasi CMA.

SIMPULAN

Simpulan yang dapat dikemukakan berdasarkan fakta hasil analisis dan uraian sebelumnya adalah sebagai berikut :

1. Cendawan mikoriza arbuskula (CMA) di tanah pasir pantai didominansi oleh

Glomus Sp.

2. Dijumpai ciri khusus sporulasi CMA di dalam akar inang yang diduga merupakan fenomena CMA bertahan hidup di tanah pasir pantai.

3. Pada kisaran jarak 0-600 m dari garis pantai, jumlah propagul infektif CMA di tanah pasir pantai semakin menurun oleh sebab kedekatan jarak dengan garis pantai dan meningkatnya intensitas tanaman budidaya.

4. Jumlah propagul infektif pada kisaran jarak 0-600 m dari garis pantai berturut- turut sebesar 582.50 unit/50g tanah (pada jarak 0-200 m), 1446.24 unit/50g tanah (pada jarak 200-400 m) dan 473.91unit/50g tanah (pada jarak 400- 600 m).

SELEKSI BEBERAPA VARIETAS BAWANG MERAH

Dokumen terkait