• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tabel 1. Persentase mortalitas (%) S.litura pada berbagai konsentrasi pada hari 1-7 hari setelah aplikasi (hsa)

Konsentrasi hsa 1 2 3 4 5 6 7 K0 0 0 0,00 c 0,00 d 0,00 c 0,00 d 0,00 d K1 0 0 2,22 b 14,44 c 27,78 b 32,22 c 41,11 c K2 0 0 5,56 ab 17,78 bc 31,11 b 43,33 b 51,11 b K3 0 0 7,78 a 27,78 a 45,56 a 53,33 a 54,44 ab K4 0 0 5,56 ab 24,44 ab 46,67 a 54,44 a 57,78 a Keterangan: Angka-angka yang diikuti notasi yang sama pada kelompok kolom yang sama

menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut Duncan Multiple Range Test. hsi: hari setelah aplikasi.

K0: kontrol, K1: 10 g/l, K2: 15 g/l, K3: 20 g/l, K4:25 g/l

Dari tabel 1 dapat dilihat pada perlakuan konsentrasi berbeda nyata terhadap mortalitas hama S. litura. Mortalitas tertinggi ditemukan pada konsentrasi B. bassiana 25gr/l sebesar 57,78%. Sedangkan pada perlakuan kontrol tidak ada yang mati hingga hari ketujuh. Hal ini menunjukkan pemanfaatan jamur B. bassiana dengan konsentrasi yang semakin tinggi menyebabkan semakin banyak konidia yang menempel pada inang sasaran maka akan semakin cepat menginfeksi hama S. litura dan penetrasi ke tubuh hama tersebut semakin cepat yang mengakibatkan mortalitas hama juga meningkat. Hal ini didukung dengan pernyataan Indrayani et al. (2013) yang menyatakan bahwa

mortalitas larva Helicoperva armigera pada perlakuan konsentrasi B. bassiana meningkat sejalan dengan peningkatan konsentrasi konidia.

Dari tabel 1 diketahui bahwa larva mulai mati pada hari ketiga. Hal ini terjadi karena jamur membutuhkan waktu mulai dari konidia jamur berkecambah hingga miselium berkembang di tubuh larva. Deciyanto dan Indrayani (2009) menyatakan bahwa perkecambahan konidia jamur terjadi dalam 1-2 hari kemudian dan

menumbuhkan miselianya di dalam tubuh inang. Serangga yang terinfeksi biasanya akan berhenti makan sehingga menyebabkan imunitasnya menurun, 3-5 hari kemudian mati dengan ditandai adanya pertumbuhan konidia pada integumen

Dari hasil pengamatan diketahui bahwa larva yang diaplikasi B. bassiana dapat mencapai mortalitas 57,78% pada perlakuan 25gr/l B. bassiana, sedangkan pada

perlakuan kontrol mortalitas 0% . Hal ini menunjukkan bahwa jamur B. bassiana efektif dalam mengendalikan hama S. litura. Hal ini disebabkan karena jamur entomopatogen dapat membunuh hama S. litura dengan merusak saluran pencernaan serangga sehingga serangga malas makan. Mahr (2003) menyatakan bahwa B. bassiana juga menghasilkan toksin seperti beauverisin, beauverolit, isorolit, dan asam oksalat yang menyebabkan terjadinya kenaikan pH, penggumpalan, dan terhentinya peredearan darah serta merusak saluran pencernaan , otot, sistem syaraf, dan pernafasan yang akhirnya meyebabkan kematian.

Tabel 2. Persentase mortalitas (%) S. litura pada berbagai instar Instar larva hsa 1 2 3 4 5 6 7 I1 0 0 8,00 a 24,00 a 36,67 a 42,00 a 48,00 a I2 0 0 2,67 b 15,33 b 29,33 b 37,33 ab 40,00 b I3 0 0 2,00 b 11,33 c 24,67 c 32,00 b 34,67 c Keterangan: Angka-angka yang diikuti notasi yang sama pada kelompok kolom yang sama

menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut Duncan Multiple Range Test. hsi: hari setelah aplikasi.

I1: larva instar 2,I2: larva instar 3, I2: larva instar 4

Pada tabel 2 diketahui bahwa instar larva terinfeksi tertinggi pada instar 2 yang mencapai 48% dan terendah yaitu instar 4 mencapai 34,67%. Hal ini terjadi karena lapisan kutikula larva instar 2 lebih tipis dibandingkan dengan larva instar 3 dan 4. Jamur masuk ke tubuh larva melalui kutikula dan menepel di integumen larva. Hal ini didukung dengan pernyataan Deciyanto dan Indrayani (2009) bahwa jamur masuk ke tubuh serangga melalui kutikula dimana konidia jamur menempel pada integumen S. litura lalu memproduksi beauvericin yang mengakibatkan gangguan pada fungsi hemolimfa dan inti sel.

Dari hasil pengamatan diketahui bahwa mortalitas pada instar 2 lebih tinggi dibandingkan instar yang lain, hingga mencapai 48%. Hal ini terjadi karena

metabolisme tubuh larva instar 2 lebih rentan dan lemah sehingga penetrasi jamur di dalam tubuh larva lebih efektif sehingga enzim kitinase, lipase dan proteinase yang mampu menguraikan komponen penyusun kutikula dan melemahkan tubuh larva hingga

menyebabkan kematian. Hal ini didukung oleh pernyataan Mahr (2003) menyatakan bahwa B. bassiana dapat mengeluarkan hifa yang menghasilkan beurerisin, beuveroloit, bassialit, isorolit dan asam oksalat yang dapat menyebabkan kenaikan pH,

penggumpalan serta terhentinya peredaran darah serta merusak saluran pencernaan, otot, system syaraf, dan pernapasan yang pada akhirnya menyebabkan kematian.

Dari rataan tabel 1 diatas dapat dilihat pada perlakuan instar larva dan kombinasi antara instar larva dan konsentrasi jamur tidak berbeda nyata terhadap mortalitas hama S. litura. Dalam hal ini jamur B. bassiana menyerang hama S. litura pada semua stadia. Hal ini menunjukkan jamur B. bassiana efektif mengendalikan hama S. litura pada semua stadia hama. Mahr (2003), Beauveria bassiana menghasilkan racun (toksin) yang dapat mengakibatkan paralis secara agresif pada larva dan imago serangga.

Keefektifan jamur B. bassiana dalam menginfeksi serangga hama dipengaruhi banyak faktor diantaranya ialah faktor kelembapan lingkungan dan suhu. Jamur memerlukan kelembapan yang tinggi untuk melakukan perkecambahan konidia dan sporulasi pada permukaan tubuh serangga. Selama penelitian berlangsung kelembapan lingkungan sekitar sekian dan suhu sekitar sekian. Herlinda dkk (2008), Suhu rata-rata 25,91 oC dan kelembaban nisbi udara relatif 84,42% di ruangan penelitian mendukung kehidupan jamur B. bassiana dan Metarhizium sp. Kedua faktor ini sangat penting dalam mempengaruhi kemampuan spora berkecambah dan menginfeksi nimfa S. furcifera.

Gejala Kematian S.litura

a b

Gambar 7. Gejala kematian larva S. litura (a= larva mati b=tubuh larva mengeras, c=spora jamur mulai tampak pada bangkai larva, d=tubuh larva dipenuhi miselium

jamur)

Sumber : foto langsung

Hama S.litura yang terinfeksi jamur B. bassiana pada awalnya hama malas bergerak (gerakannya lamban) untuk pindah tempat makan dan pada akhirnya tidak dapat bergerak. Setelah itu tubuh S.litura akan memumifikasi dan ditumbuhi miselium-miselium jamur berwarna putih yang menyelimuti tubuh S. litura. Hal ini sesuai dengan peryataan Wahyuni (2002), ciri khas serangga hama mati terinfeksi cendawan B.

bassiana tampak hifa atau spora berwarna putih yang tumbuh dipermukaan kulit / kutikula.

B. bassiana masuk ke tubuh serangga melalui kulit diantara ruas-ruas tubuh. B. bassiana mengeluarkan toksin yang menyebabkan terhentinya peredaran darah dan merusak organel sel larva. Hal ini didukung dengan pernyataan Wahyuni (2002), toksin yang dihasilkan B. bassiana diantaranya beauverizin yang dapat menghancurkan lapisan lemak dan meningkatkan permeabilitas sel yang dapat menghancurkan ion spesifik sehingga dapat menyebabkan terjadinya transport ion yang abnormal kemudian merusak fungsi sel atau organel sel larva.

Hasil pengamatan intensitas serangan S. litura mulai dari 1 Hsi hingga 7 Hsi. Hasil analisa sidik ragam menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata antara

perlakuan konsentrasi, instar larva, dan kombinasi antar perlakuan.

Gambar 8. Intensitas serangan S. litura Sumber : foto langsung

Dari tabel 2 dapat dilihat intensitas serangan hama S. litura dari satu hari setelah introduksi hingga tujuh hari setelah introduksi sebesar 25%. Hal ini menunjukkan hama

S. litura dalam jumlah sedikit (dua ekor per daun) tidak menyebabkan kerusakan yang berarti. Pernyataan ini didukung dengan pernyataan Tenrirawe dan Talanca (2008), larva yang masih kecil merusak daun dan menyerang secara serentak berkelompok dengan meninggalkan sisa-sisa bagian atas epidermis daun, transparan dan tinggal tulang-tulang daun saja.

Perlakuan Blok Total Rataan 1 2 3 K0I1 25 25 25 75,00 25,00 K0I2 25 25 25 75,00 25,00 K0I3 0 0 0 0,00 0,00 K1I1 25 25 25 75,00 25,00 K1I2 25 25 25 75,00 25,00 K1I3 0 0 0 0,00 0,00 K2I1 25 25 25 75,00 25,00 K2I2 25 25 25 75,00 25,00 K2I3 0 0 0 0,00 0,00 K3I1 25 25 25 75,00 25,00 K3I2 25 25 25 75,00 25,00 K3I3 0 0 0 0,00 0,00 K4I1 25 25 25 75,00 25,00 K4I2 25 25 25 75,00 25,00 K4I3 0 0 0 0,00 0,00 Total 250,00 250,00 250,00 750,00 Rataan 16,67 16,67 16,67 16,67

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

1. Rataan mortalitas tertinggi terdapat pada perlakuan K4 (25 gr B. bassiana + 1 liter air ) yaitu 66,67%, sedangkan rataan mortalitas terendah terdapat pada perlakuan K0 (kontrol) yaitu 0%.

2. Faktor Instar stadia larva dan kombinasi kedua faktor tidak berpengaruh nyata terhadap mortalitas larva.

3. Adapun gejala kematia larva S. litura yang terinfeksi jamur entomopatogen yaitu malas bergerak dan malas makan, hingga akhirnya larva mati. Setelah larva mati akan tumbuh miselium jamur B. bassiana yang berwarna putih.

4. Intensitas serangan yang diakibatkan oleh 10 larva yang diintroduksi pada tanaman kelapa sawit dikategorikan ringan, karena serangan mencapai kurang dari 25%.

Saran

Perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai uji efektivitas jamur entomopatogen Beauveria bassiana untuk mengendalikan Spodoptera litura yang menyerang tanaman kelapa sawit.

DAFTAR PUSTAKA

Allorerung D, M Syakir, Z Poeloengan, Syafaruddin dan W Rumini. 2010. Budidaya Kelapa Sawit. Aska Media, Bogor.

Cardona, E. V., C. S. Ligat., dan M. P. Subang. 2007. Life History Of Common Cutworm, Spodoptera Litura Fabricius (Noctuidae ; Lepidoptera) In Benguet. Progress Report. BSU Research In- House Review

Deciyanto, S dan I. Indriyani. 2009. Jamur Entomopatogen Beauveria bassiana : Potensi dan Prospeknya dalam Pengendalian Hama Tungau. Vol. 8 No. 2 / Desember 2008:65 - 73

Departemen Pertanian (Deptan). 2010. Pengendalian Ulat Grayak. Diunduh dari http://www.Deptan.go.id. (12 November 2014)

Dinata, A. 2006. Insektisida Yang Ramah Lingkungan. Diakses dari :

http:// www.Pikiran-rakyat.com/cetak/044/15/cakrawala/penelitian. Tanggal 24 maret 2009

Dirjen Perkebunan. 2013. Kelapa Sawit. Pusat data dan informasi Pertanian, Jakarta. Djamilah, Nadrawati, dan M. Rosi. 2010. Isolasi Steinernema Dari Tanah Pertanaman

Jagung Di Bengkulu Bagian Selatan Dan Patogenesitasnya Terhadap Spodoptera litura F. Jurusan Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu.

Erwin, 2000. Hama dan Penyakit Tembakau Deli. Balai Penelitian Tembakau Deli PTPN II (Persero), Medan. Halm 1-2.

Gandjar, Indrawati, Wellyzar Sjamsuridzal dan Ariyanti Oetari, 2006. Mikologi Dasar dan Terapan. Yayasan Obor Indonesia Jakarta.

Herlinda S, Hartono dan C Irsan. 2008.

Kiswanto JH, Purwanta dan B Wijayanto. 2008. Teknologi Budidaya Kelapa Sawit. Balai Besar Pengkajian Dan Pengembangan Teknologi pertanian, Bogor. Mahr S. 2003. The Entomopathogen Beauveria bassiana. University of Winconsin,

Madison. Diakses dari http://www.entomology.wisc.edu/mbcn/kyf410.html. Marwoto dan Suharsono. 2008. Strategi dan Komponen Teknologi Pengendalian Ulat

Grayak (spodoptera litura) Pada Tanaman Kedelai. Balai Penelitian Tanaman Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian. Jurnal Litbang Pertanian 27(4) 2008.

Diunduh dari http://www.Deptan.go.id/Publikasi/pdf. (12 November 2014).

Prayogo, Y. dan Suharsono. 2005. Optimalisasi Pengendalian Hama Penghisap Polong Kedelai (Riptortus linearis) dengan Cendawan Entomopatogen Verticillium lecanii. Jur. Litbang Pertanian 24 (4) : 123-130.

Prayogo, Y.W.Tengkano, dan Marwoto. 2005. Prospek Cendawan Entomopatogen Metarhizium anisopliae Pada Kedelai. Balai Penelitian Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian. Jurnal Litbang Pertanian 24(1) 2005. Diunduh dari http://www.Deptan.go.id/publikasi.pdf

(12 November 2014).

Sutopo. D, dan Indriyani. IGAA., 2007. Status, Teknologi, dan Prospek B.Bassiana Untuk Pengendalian Serangga Hama. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang.

Suryadi, Y. dan T. S. Kadir. 2007. Pengamatan Infeksi Jamur Patogen Serangga Metarhizium anisopliae (Metsch. Sorokin) pada Wereng Coklat.

Berita Biologi 8(6) : 501-507.

Tenrirawe, A & Pabbage, M. S. 2007. Pengendalian penggerek batang jagung (Ostrinia

Furnacalis G) dengan ekstrak daun sirsak (Annona muricata L)”. Proseding

seminar ilmiah & pertemuan tahunan PEI & PFI XVIII komda sul-sel, 2007. Thungrabeab, M. and S. Tongma. 2007. Effect of entomopathogenic fungi, Beauveria

bassiana (Balsamo) and Metarhizium anisopliae (Metsch) on non target insects. KMITL Sci. Tech. J. 7 (S1): 8-12.

Townsend & Hueberger. 1948. In Uenterstenhofer, G. 1976. The Basic Principle of Crop Protection Fields Trials. Pflanzenshut z-Nachrichten Bayer AG. Leverkusen.

Uenterstenhofer, G. 1963. Veterinary Parasitology. Department of Veterinary Parasitology. Faculty of Veterinary Medicine, The University of Glasgow. Scotland. Longman Scientific & Technical. Churchill Livingstone Inc. New York.

Wahyudi, P. 2002. Uji patogenitas kapang entomopatogen Beauveria bassiana Vuill. Terhadap ulat grayak (Spodoptera litura). Biosfera 19:1-5

Dokumen terkait