2 TINJAUAN PUSTAKA
4 HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Geografi dan Kependudukan di Dua Desa Penelitian
Kecamatan Sungai Bahar merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Indonesia. Kecamatan Sungai Bahar terdiri dari 11 desa binaan transmigrasi yang memiliki luas wilayah mencapai 26 655 Ha dengan batas-batas wilayah yaitu, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Batanghari dan Kecamatan Bahar Selatan, sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Bahar Utara dan Kecamatan Mestong, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Mestong dan Provinsi Sumatera Selatan, sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Bahar Utara dan Kabupaten Batanghari. Berdasarkan data di Kecamatan Sungai Bahar pada bulan Desember tahun 2013 penduduk di Kecamatan Sungai Bahar berjumlah 26 019 jiwa. Terdapat 13 753 jiwa penduduk laki-laki dan 12 266 penduduk perempuan (Tabel 2).
Lokasi penelitian dipilih secara purposive yaitu dengan mengambil dua desa di Kecamatan Sungai Bahar yaitu Desa Suka Makmur dan Desa Marga Mulya. Lokasi pertama adalah Desa Suka Makmur dengan luas wilayah 806 Ha. Desa ini berjarak 4 Km dari ibu kota kecamatan. Desa ini telah mengalami pemekaran dengan Desa Mekar Sari Makmur. Desa ini tergolong desa yang datar dengan jumlah curah hujan mencapai 1 000 -1 500 mm/tahun dan 22- 27 ºC per
harinya. Wilayah Desa Suka Makmur berbatasan dengan wilayah lain yaitu, sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Bahar Utara, sebelah timur berbatasan dengan Desa Marga Mulya, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Rantau Harapan dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Bahar Utara. Tabel 2 Jumlah data persentase penduduk dua desa penelitian menurut mata
pencaharian tahun 2013
No Pekerjaan Desa Suka Makmur Desa Marga Mulya
Jumlah % Jumlah %
1 Petani 300 34.9 660 61.3
2 Buruh tani 102 11.9 203 18.9
3 Pengrajin industri 4 0.5 5 0.5
4 TNI dan POLRI 7 0.8 12 1.1
5 PNS 41 4.8 27 2.5 6 Pegawai swasta 75 8.7 12 1.1 7 Pengusaha 4 0.5 9 0.8 8 Pedagang 145 16.9 18 1.7 9 Peternak 11 1.3 15 1.4 10 Pensiunan TNI/PNS/ dan POLRI 3 0.3 13 1.2 11 Lain lain 167 19.4 102 9.5 Jumlah 859 100.0 1 076 100 .0
Sumber: Profil Desa Suka Makmur dan Desa Marga Mulya tahun 2013
Desa Suka Makmur dibagi menjadi 12 Rukun Tetangga (RT) dan 2 dusun. Sebagian besar desa di dominasi oleh lahan perkebunan kelapa sawit baik lahan sawit di kebun yang dimiliki masyarakat maupun lahan pekarangan. Di desa ini juga merupakan pusat perdaganggan, berupa pasar yang ada di Kecamatan Sungai Bahar. Jumlah kepala keluarga di desa ini pada tahun 2014 yaitu 776 orang kepala keluarga yang meliputi 1 206 orang laki-laki dan 1 312 orang perempuan. Jumlah petani pemilik tanah 300 orang dan terdapat juga petani penggarap 250 orang serta buruh tani 75 orang.
Mayoritas penduduk di desa ini memeluk agama Islam. Terdapat berbagai sarana di Desa Suka Makmur yang dibagun untuk menunjang peningkatan taraf hidup masyarakatnya. Sarana tersebut antara lain berupa sarana perekonomian, sarana peribadatan, sarana kesehatan, sarana pendidikan, serta sarana sosial lainnya. Pada sarana perekonomian Desa Suka Makmur memiliki 7 buah koperasi yang terdiri dari 1 buah Koperasi Unit Desa (KUD) dan 5 buah koperasi simpan pinjam, bahkan di desa ini terdapat 13 bank baik milik negara maupun swasta. Sarana dan prasarana cukup memadai baik sarana perekonomian, pendidikan dan kesehatan. Desa Marga Mulya berdekatan dengan Desa Suka Makmur sehingga untuk sarana perekonomian seperti bank, pasar dan lain sebagainya mudah untuk dijangkau.
Lokasi penelitian kedua Desa Marga Mulya, secara topografi berupa dataran dengan curah hujan 1 000 -1 500 mm/tahun. Luas wilayah mencapai 1 807 Ha yang terdiri dari lahan kebun dan lahan pekarangan. Wilayah Desa Marga Mulya berbatasan dengan wilayah lain yaitu, sebelah utara berbatasan dengan Desa Markanding dan Desa Mitra Manunggal, sebelah timur berbatasan dengan
Desa Nyogan dan Desa Markanding, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Suka Makmur dan sebelah barat berbatasan dengan Desa Mitra Manunggal.
Jumlah penduduk sebanyak 1 127 kepala keluarga dengan 4 298 orang penduduk laki-laki dan 2 283 penduduk perempuan. Penduduk di Desa Marga Mulya mayoritas memeluk agama Islam dengan sarana peribadatan berupa masjid 2 unit, mushola 24 unit, gereja 1 unit. Sarana pendidikan terdiri dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) 1 unit, TK 3 unit, SD 2 unit, madrasah ibtidaiyah negeri 1 unit, madrasah tsanawiyah 1 unit SMA 1 unit. Sarana kesehatan berupa PUSKESMAS pembantu 1 unit dan posyandu 4 unit. Jumlah petani mencapai 660 orang dan terdapat 203 orang buruh tani, pengrajin industri 5 orang, pegawai wiraswasta 12 orang, TNI dan POLRI 12 orang, pedagang 18 orang, PNS 27 orang, pensiunan 13 orang, peternak 15 orang.
Perkembangan Peremajaan Kelapa Sawit di Kecamatan Sungai Bahar
Peremajaan kelapa sawit merupakan sebuah inovasi baru karena peremajaan berupa gagasan baru atau praktek-praktek baru yang digunakan petani dalam mempertahankan keberlangsungan usahatani kelapa sawitnya dan merupakan salah satu program yang dicanangkan pemerintah dalam upaya revitalisasi tanaman perkebunan. Peremajaan kelapa sawit di Indonesia baru pertama kali dilakukan dalam satu fase pertumbuhan kelapa sawit sejak kelapa sawit ditanam dalam jumlah besar di negara ini. Hal ini merupakan pengalaman baru bagi petani, pemerintah dan swasta dalam upaya mempertahankan produksi, produktivitas dan pendapatannya.
Beberapa perusahaan besar baik milik swasta dan pemerintah seperti di Medan, Aceh dan Jambi telah melakukan peremajaan kelapa sawit. Untuk perkebunan rakyat, khususnya di Provinsi Jambi peremajaan kelapa sawit pertama kali dilakukan sehingga muncul berbagai usulan metode atau sistem peremajaan kelapa sawit yang direkomendasikan oleh pihak swasta dan pemerintah, namun sistem yang banyak digunakan oleh petani disesuaikan dengan kemampuannya dan keterbatasan yang dimilikinya yaitu sistem underplanting atau tebang pilih, sehingga petani masih dapat memperoleh penghasilan namun tetap dapat melakukan peremajaan kelapa sawit miliknya.
Berdasarkan data statistik tahun 2012 Kecamatan Sungai Bahar merupakan kecamatan yang memiliki luasan lahan perkebunan sawit terbanyak dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan lainnya di Kabupaten Muaro Jambi yaitu seluas 30 719 Ha dengan jumlah petani sebanyak 13 311 KK petani. Berdasarkan data tersebut terlihat jelas bahwa potensi perkebunan kelapa sawit rakyat di Kecamatan Sungai Bahar sangat besar. Masyarakat mayoritas memiliki kebun pribadi dan pekarangan yang saat ini pada umumnya telah ditanami dengan tanaman kelapa sawit.
Kecamatan Sungai Bahar tepatnya di Desa Suka Makmur, Desa Marga Mulya dan Desa Mekar Sari Makmur yang merupakan desa pemekaran dari Desa Suka Makmur pada tahun 2011 telah melaksanakan peremajaan kelapa sawit. Peremajaan yang dilaksanakan merupakan program pemerintah sebagai kebun percontohan yang ditujukan agar petani yang ada di Kecamatan Sungai Bahar secara keseluruhan dapat mencontoh sistem peremajaan yang dianjurkan oleh
pemerintah. Pemerintah juga mengharapkan petani yang lahan kelapa sawitnya telah mencapai usia tidak produktif agar meremajakan kebun kelapa sawitnya sehingga petani dapat terus memperoleh penghasilan dan dapat menghidupi keluarganya.
Pelaksanaan tahap awal peremajaan di tahun 2011 tersebut melibatkan 15 orang petani dengan luas lahan mencapai 30 Ha. Petani yang dipilih merupakan petani yang mau dan bersedia agar kebun kelapa sawitnya dijadikan percontohan dan seluruh kegiatan didanai oleh pemerintah dengan bantuan PTPN VI sebagai penyedia bibit dan membantu proses pelaksanaan secara teknis. Tahun 2012 petani di Desa Mekar Sari Makmur juga mendapatkan bantuan pelaksanaan peremajaan seluas 30 Ha yang dimiliki oleh 15 orang petani. Bantuan hibah dana pelaksanaan peremajaan diperoleh dari Bank Indonesia. Proses pelaksanaan peremajaan dengan metode tumpang sari dinilai sukses karena petani merasa puas dengan bantuan yang diberikan, petani juga tidak kehilangan mata pencahariannya dikarenakan selama kelapa sawit tidak menghasilkan petani menggunakan lahan kebunnya ditanami tanaman kedelai dan hasil panen kedelai dengan pola tumpang sari tersebut sangat menguntungkan. Petani juga mengusahakan tanaman lain berupa tanaman palawija dan berbagai tanaman buah seperti tanaman semangka dan lain sebagainya.
Keberhasilan petani yang dijadikan kebun percontohan diharapkan dapat memberikan contoh bagi petani lainnya yang akan melaksanakan peremajaan kebun kelapa sawitnya. Dengan berjalannya waktu petani diharapkan bisa melihat secara langsung proses peremajaan yang berjalan dan melihat hasil yang diperoleh, sehingga terjadi difusi inovasi di antara sesama petani yang ada di Kecamatan Sungai Bahar tersebut.
Sistem Peremajaan Kelapa Sawit yang Diterapkan Petani (1) Sistem peremajaan tumpang sari
Sistem peremajaan tumpang sari (intercropping) merupakan sistem yang dianjurkan oleh pemerintah Provinsi Jambi dan dianggap paling sesuai untuk diterapkan pada saat kelapa sawit telah memasuki masa tidak produktif/ siap untuk diremajakan. Sistem peremajaan ini dimulai pada tahun 2011 melalui program kerjasama BUMN (Badan Usaha Milik Negara), Dinas Perkebunan Provinsi Jambi dan PTPN VI. Proses kerjasama diresmikan oleh Mentri BUMN Republik Indonesia. Petani yang melakukan sistem peremajaan ini berada pada satu areal dan petani sudah setuju untuk melakukan peremajaan dengan bantuan dana yang diberikan.
Pada aspek teknis proses peremajaan dibantu oleh pihak PTPN VI seperti penyediaan alat berat, penyediaan bibit unggul, pemancangan dan teknik-teknik pengolahan lahan lainnya. Penyuluhan juga intensif dilakukan karena peremajaan dinilai sebagai inovasi baru yang harus dipahami oleh petani agar petani mampu menerapkannya dengan baik. Pada tahun 2011 sebanyak 30 Ha atau 15 orang petani yang bersedia mengikuti peremajaan. Pada tahun 2012 petani mendapatkan bantuan dana hibah dari pemerintah sehingga dapat meremajakan tanaman kelapa sawit seluas 40 Ha atau 20 orang petani.
Teknik peremajaan tumpang sari (intercropping) dilakukan dengan menumbang total seluruh tanaman tua menggunakan alat berat dan menanam
tanaman sela (tanaman semusim) di antara barisan tanaman kelapa sawit belum menghasilkan. Terdapat beberapa langkah dalam melakukan sistem peremajaan tumpang sari yaitu:
(1) Perencanaan penanaman kelapa sawit.
(2) Penumbangan kelapa sawit tua, pemancangan dan pengolahan lahan. (3) Penyediaan bibit unggul.
(4) Penanaman tanaman sela berupa kacang kedelai, jagung, kacang tanah dan tanaman semusim lainnya.
(5) Pembersihan gulma.
(6) Pemeliharaan tanaman sela.
(7) Perawatan tanaman baru setelah tanaman sela tidak ditanam lagi.
Keunggulan sistem ini adalah cocok untuk perkebunan rakyat karena pendapatan petani dari penjualan TBS (Tandan Buah Segar) kelapa sawit diganti dengan produksi tanaman sela. Tanaman kelapa sawit baru bebas dari etiolasi dan dapat tumbuh dengan normal. Residu pemupukan dari tanaman sela diharapkan dapat membantu pencukupan unsur hara yang dibutuhkan tanaman baru. Kekurangannya adalah dibutuhkan modal tambahan untuk tanaman sela dengan pengelolaan yang lebih intensif. Letak kebun yang jauh dari pemukiman sehingga menyulitkan petani untuk merawat tanaman sela secara intensif. Akses ke pasar yang jauh juga menyulitkan dalam proses penjualan hasil produksi tanaman sela. Menurut ketua demplot peremajaan di desa Marga Mulya menjelaskan bahwa:
“...semua anggota demplot telah menanam tanaman kedelai untuk tanaman sela sesuai dengan yang dianjurkan oleh pihak dinas, tetapi pada saat pemasaran mengalami kendala karena pada saat panen tidak ada penampung kedelai dan tidak ada kerja sama dan pemasaran yang disediakan. Sebagian dari petani memanen kedelainya padahal belum matang sepenuhnya dan menjual dengan harga Rp. 2000 per ikat untuk kedelai rebus. Setelah tahap awal tumpang sari tersebut, petani mulai menanam tanaman lain seperti terong, kacang, jagung dan berbagai tanaman lainnya, hasil panen dapat langsung dijual ke pasar”
(2) Peremajaan sistem sisip
Peremajaan sistem sisip merupakan suatu teknik peremajaan yang dianggap petani dapat mempertahankan pendapatannya. Berbagai kendala yang dihadapi petani membuat petani dengan sendirinya memiliki inisiatif melakukan peremajaan dengan sistem sisip. Sistem ini bentuk penerapan peremajaan dengan cara tetap melakukan penanaman tanaman baru dan tidak menumbang tanaman lama. Menjelang tanaman kelapa sawit yang baru berkembang, petani masih bisa mendapatkan hasil produksi kelapa sawit untuk mencukupi kehidupan keluargannya sehari-hari tanpa harus repot mengurus tanaman sela dan melakukan penumbangan dengan menggunakan alat berat yang membutuhkan biaya besar.
Penumbangan yang dilakukan dengan skala kecil (2 Ha) dianggap tidak efektif dari segi biaya. Pemusnahan kelapa sawit tua dilakukan dengan cara penyuntikan/infus. Penyuntikan dilakukan dengan mengebor atau melukai terlebih dahulu tanaman tua sedalam 10 cm lalu memasukkan cairan yang terdiri dari campuran pestisida sistemik (round up dan gliposat). Dalam jangka waktu 1 bulan tanaman kelapa sawit akan layu dan perlahan mati. Alasan utama petani mau
melakukan penyuntikan adalah ketika batang kelapa sawit telah tinggi dan petani kesulitan untuk mengambil hasil produksinya, selanjutnya terjadi apabila tanaman muda sudah mulai berkembang dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menunggu proses pemanenan.
Kelebihan dari sistem peremajaan ini adalah petani tidak kehilangan mata pencahariannya, petani dapat merawat kelapa sawit seperti biasa dan tidak perlu repot merawat tanaman sela. Kekurangannya adalah pemusnahan kelapa sawit tua dengan cara penyuntikan memungkinkan jamur dan hama berkembang dengan baik karena kondisi kelapa sawit tua yang membusuk dan rentan terhadap penyakit Gonaderma, sehingga memperbesar resiko tanaman baru terkontaminasi jamur dan serangan hama. Kesulitan pada proses pemanenan adalah karena terhalang oleh tanaman baru yang di tanam pada sela tanaman lama dan memungkinkan kerusakan pada batang dan daun yang tertimpa buah kelapa sawit dari tanaman lama. Tanaman baru akan mengalami etiolasi karena kekurangan cahaya matahari sehingga menyebabkan pertumbuhan terhambat. Pemulihan kondisi tanaman yang mengalami etiolasi membutuhkan waktu yang cukup lama sampai tenaman pulih dan normal kembali. Menurut keterangan camat Sungai Bahar:
“...petani yang melakukan peremajaan dengan sistem sisip
sebenarnya tidak mengetahui bahwa terdampat dampak negatif yang berkelanjutan dari penggunaan bibit yang tidak bersertifikat, bagi petani yan penting ada buahnnya. Petani juga tidak tau kalau bekas runtuhan tanaman tua yang berada di lahan petani tidak dibersihkan, tapi dibiarkan menjadi kompos, padahal rentan terhadap penyakit. Kalaupun ada petani yang sudah mengetahui hal tersebut, maka petani tidak akan ambil pusing, karena hanya itu yang bisa mereka lakukan untuk mempertahankan penghasilannya dan tetap melakukan
peremajaan..”
Deskripsi Karakteristik Petani
Karakteristik petani dalam penelitian ini terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi (umur, tingkat pendidikan, jumlah anggota keluarga, luas lahan dan motivasi berusahatani) sedangkan faktor eksternal meliputi (tingkat ketersediaan sarana produksi, frekuensi kegiatan penyuluhan, tingkat akses informasi dan dampak perkebunan besar). Karakteristik petani pada dasarnya merupakan sifat yang dimiliki oleh seseorang petani, biasanya diperlihatkan melalui sikap, cara berpikir dan juga cara bertindak dan berinteraksi dalam lingkungannya. Karakteristik petani bersifat individual yaitu berbeda dari satu orang ke orang yang lain. Menurut Siagian (2008) karakteristik individu dapat diartikan sebagai kondisi individu yang dapat dilihat dari umur, jenis kelamin, status perkawinan, jumlah tanggungan dan masa kerja. Hasil analisis faktor eksternal dan internal dibagi menjadi 3 kategori yaitu: rendah, sedang dan tinggi.
Faktor Internal Petani
Jumlah dan persentase berdasarkan faktor internal petani yang melakukan peremajaan kelapa sawit terdiri dari umur, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, luas lahan dan motivasi. Dalam penelitian ini disajikan pada Tabel 3. Tabel 3 Jumlah dan persentase petani di Sungai Bahar berdasarkan karakteristik
internal petani No Sub Variabel Kategori Jumlah (orang) Persen (%)
1 Umur Dewasa Muda (29- 44 tahun)
Dewasa tengah (45-59 tahun) Tua (> 60 tahun) 11 54 18 13.25 65.06 21.69 2 Tingkat pendidikan
Rendah (tidak sekolah dan SD) Sedang (SMP)
Tinggi (SMA dan PT)
32 22 29 38.55 26.51 34.94 3 Jumlah tanggungan keluarga Kecil 0-2 Sedang 3- 4 Besar >4 58 20 5 69.88 24.10 6.02
4 Luas lahan Kecil 2-4.6
Sedang 4.7-7.2 Besar > 7.3 66 5 12 79.52 6.02 14.46 5 Motivasi Rendah (8-11) Sedang (11.1-15) Tinggi (15.1-19) 8 46 29 9.64 55.42 34.94 Keterangan n = 83 (1) Umur
Umur dalam penelitian ini adalah usia petani sejak petani dilahirkan sampai penelitian berlangsung. Menurut BPS tahun 2001 umur produktif tenaga kerja adalah antara 15 sampai 64 tahun. Sebagian besar petani di desa penelitian berada di usia produktif. Petani berumur antara 29-75 tahun dan usia tersebut tergolong produktif. Dari segi kesehatan dan kemampuan bekerja petani dengan usia produktif mempunyai kemampuan bekerja dan beraktifitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang sudah tidak produktif. Hanya sebagian kecil saja petani yang berada pada usia dengan kategori muda dan tua.
Pada umumnya kebun kelapa sawit yang dimiliki dikelola oleh anak-anaknya, namun ada juga petani yang memperkerjakan pekerja untuk melakukan seluruh aktifitas usahatani baik dalam proses perawatan, pemanenan dan peremajaan yang dilaksanakan. Hasil penelitian Malta (2008) menyebutkan bahwa dalam proses adopsi inovasi petani yang berada pada usia produktif lebih cepat tanggap dibandingkan dengan yang berumur tua. Pada umur tua telah terjadi penurunan kondisi fisik, lambat dalam proses pengambilan keputusan serta penuh pertimbangan dan kehati-hatian.
Sebagian besar petani (86.75 persen) yang melakukan peremajaan berusia di atas 45 tahun. Hal ini dikarenakan lokasi penelitian merupakan eks transmigrasi dan pada umumnya petani merupakan pendatang yang didatangkan dari Pulau Jawa pada tahun 1989, sebagai salah satu syarat mengikuti transmigrasi adalah sudah memiliki istri pada tahun tersebut, hal ini menandakan bahwa saat
mengikuti program trasmigrasi petani berada pada usia produktif. Petani yang berusia muda biasanya merupakan anak dari petani pertama yang mengikuti program transmigrasi dan kemudian setelah orang tuanya meninggal, anak dari petani tersebut mengambil alih merawat kebun milik ayahnya. Selain itu juga terdapat pendatang-pendatang dari luar yang membeli kebun yang dimiliki oleh petani eks tansmigran. Sedikitnya jumlah petani dengan usia muda dalam melaksanakan usahatani kelapa sawit dikhawatirkan mempengaruhi keberlanjutan sektor perkebunan, anak muda sudah tidak tertarik dengan pengembangan usahatani di bidang perkebunan dan lebih berminat mencari pekerjaan lain di kota.
(2) Tingkat Pendidikan
Pada umumnya petani memiliki tingkat pendidikan rendah, dikarenakan dulunya pada saat petani berada di kampung halamannya petani terkendala oleh faktor ekonomi dan akses untuk bersekolah yang jauh dari rumah, selain itu juga rendahnya kesadaran orang tua untuk menyekolahkan anaknya pada jenjang pendidikan tinggi. Kurang dari 50 persen petani hanya menyelesaikan pendidikannya di bangku sekolah dasar dan ada juga yang tidak pernah mengenyam pendidikan di sekolah formal, namun sebagian besar petani bisa menulis dan membaca serta berbahasa Indonesia. Petani yang berpendidikan rendah pada umumnya adalah petani pada usia tua sementara itu petani dewasa muda dan dewasa tengah pada umumnya mengenyam pendidikan minimal SMP, SMA bahkan perguruan tinggi. Meskipun demikian, petani memiliki kesadaran pendidikan yang tinggi, terbukti dari banyaknya anak-anak petani yang melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi pada saat ini. Terdapat 61.45 persen petani dengan kategori pendidikan sedang dan tinggi. Petani pada lokasi penelitian memiliki tingkat pendidikan mulai dari yang tidak pernah mengikuti pendidikan formal sampai perguruan tinggi.
Menurut Siagian (2008), salah satu cara untuk mengubah potensi seseorang menjadi kemampuan nyata yaitu melalui pendidikan dan pelatihan. Hasil penelitian Manoppo (2009) menyatakan bahwa tingkat pendidikan juga menentukan kemampuan seseorang dalam mencerna informasi yang diberikan berhubungan dengan kualitas kerja dalam melakukan usahatani, wanita tani yang berpendidikan tinggi lebih bisa membudidayakan kakao ke arah agribisnis, bukan sekedar pemenuhan kebutuhan keluarga saja. Selanjutnya hasil penelitian Yulianti (2012) menyatakan bahwa pendidikan berpengaruh terhadap kehadiran dalam mengikuti kegiatan dan keaktifan masyarakat. Oleh sebab itu idealnya pendidikan formal pada petani sangatlah penting karena akan mempengaruhi perilakunya, baik dari segi pola pikir, bertindak serta kemampuan menerapkan inovasi baru berupa perubahan perilaku. Pendidikan yang diperoleh sangatlah penting untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan sehingga dapat berguna dalam kehidupan.
(3) Jumlah Tanggungan Keluarga
Besarnya jumlah tanggungan keluarga menuntut besarnya pengeluaran, selain itu keberadaan anggota keluarga yang tidak bekerja menambah beban keluarga. Apabila petani memiliki pengeluaran yang tinggi sementara penghasilan rendah maka dapat mempengaruhi kesejahteraannya. Hal ini membuat kemungkinan menyisihkan penghasilan untuk tabungan masa depan keluarga
semakin kecil. Berdasarkan jumlah petani yang melaksanakan peremajaan sebagian besar petani memiliki jumlah tanggungan keluarga dalam kategori rendah (69.88 persen) yaitu tidak memiliki tanggungan sampai memiliki 2 tanggungan, istri dan satu orang anak. Pada umumnya petani telah mengikuti program Keluarga Berencana (KB) dan anak yang dimiliki telah menikah dan tidak menjadi tanggungan bagi keluarga petani. Hanya sedikit petani yang memiliki anggota keluarga dalam kategori banyak yaitu 6.02 persen.
Hasil penelitian Handayani (2008) menyatakan bahwa jumlah anggota keluarga yang telah menikah namun masih tinggal satu atap dengan orang tuanya dan menjadi tanggungan keluarganya dapat mempengaruhi kesejahteraan keluarga. Menurut Sutiyah (1990) apabila petani memiliki tanggungan keluarga yang relatif banyak maka semangat bekerja akan semakin tinggi. Petani yang memiliki lahan yang luas biasanya memperkerjakan orang lain untuk melakukan perawatan, pemanenan dan lain sebagainya, petani hanya datang sewaktu-waktu untuk mengecek pekerjaan yang dilakukan oleh pekerjanya, sehingga petani tidak terkendala dengan kecilnya jumlah keluarga yang dimiliki dalam mengelola kebun sawitnya.
(4) Luas Lahan
Luas lahan yang dimiliki petani bervariasi namun lebih dari sebagian besar petani (79,52 persen) masih memiliki lahan dengan luas lahan sesuai jatah yang diberikan pemerintah yaitu 2 hektar untuk kebun, 0.25 hektar untuk pekarangan dan 0.75 Ha untuk lahan tanaman pangan. Walaupun demikian terdapat 20,48 persen petani yang telah mengembangkan usahatani kelapa sawitnya sehingga memiliki kebun dengan luas 5 hektar sampai 60 hektar dengan membeli kebun milik sesama petani eks transmigran atau di daerah lain. Petani telah menggarap semua lahan yang dimiliki menjadi kebun kelapa sawit. Petani hanya menyisakan areal pekarangan halaman rumah dan sedikit pekarangan belakang rumah, ada