Umur pertama kali bertelur burung puyuh pada penelitian ini yaitu umur empat minggu sebanyak dua ekor. Setelah itu kedua ekor burung puyuh tersebut istirahat bertelur. Hal ini kemungkinan dikarenakan adanya stress saat dalam perjalanan dari peternakan ke kandang penelitian. Burung puyuh mulai bertelur lagi saat berumur lima minggu yaitu saat perlakuan diberikan atau ketika burung puyuh sudah dimasukkan ke dalam kandang koloni sesuai dengan perbandingan jantan dan betina. Umur pertama kali bertelur perlakuan 1:2 yaitu pada umur 33 hari terjadi pada perlakuan 1:2 kelompok ke-4 sebanyak satu butir; perlakuan 1:4 yaitu pada umur 33 hari terjadi pada perlakuan 1:4 kelompok ke-2 dan ke-3 masing-masing sebanyak satu butir; perlakuan 1:6 yaitu pada umur 33 hari terjadi pada perlakuan 1:6 kelompok ke-1 dan ke-4 masing-masing sebanyak satu butir; perlakuan 2:4 yaitu pada umur 33 hari terjadi pada perlakuan 2:4 kelompok ke-3 sebanyak dua butir; perlakuan 2:8 yaitu pada umur 33 hari terjadi pada perlakuan 2:8 kelompok ke-1 , ke- 3 dan ke-4 masing-masing sebanyak satu butir, dua butir, dan dua butir; pada perlakuan pada perlakuan 2:12 yaitu pada umur 33 hari terjadi pada perlakuan 2:12 kelompok ke-1 , ke-2 dan ke-4 masing-masing sebanyak satu butir, satu butir, dan tiga butir. Rata-rata umur pertama bertelur pada penelitian ini umur lima minggu.
Umur pertama bertelur pada penelitian sesuai dengan pendapat Woodard et al. (1973) bahwa burung puyuh mulai bertelur umur lima minggu. Menurut Nugroho dan Mayun (1986), Trollope (1992) dan Mufti (1997) burung puyuh mulai bertelur pada umur enam minggu dan menurut hasil penelitian Hakim (1983) dan Hasan et al.
(2003) umur pertama kali bertelur pada burung puyuh rata-rata adalah tujuh minggu. Umur induk bertelur pertama kali pada umur lima minggu dalam penelitian ini kemungkinan dikarenakan beberapa faktor seperti pemberian lama penyinaran yaitu selama 17 jam setiap hari dengan menggunakan lampu sebesar 75 watt sebanyak dua buah dan diletakkan ditengah-tengah ruangan yang berukuran 5,62 x 2,45 m. Menurut Nugroho dan Mayun (1986), faktor cahaya atau lama penyinaran akan merangsang pertumbuhan dan akan mempercepat mulai bertelur. Supaya burung puyuh cepat mencapai dewasa kelamin, dapat diberi cahaya atau penyinaran selama 20 jam setiap hari. Selain faktor cahaya atau penyinaran, tingkat protein
dalam pakan juga mempengaruhi awal bertelur bahwa organ reproduksi tumbuh lebih cepat jika diberikan pakan yang mengandung protein sebesar 20%. Kandungan protein dalam pakan penelitian ini adalah sebesar 22% -23%.
Berat Telur
Berdasarkan hasil analisis ragam, pengaruh perlakuan dan kelompok terhadap berat telur adalah tidak nyata. Hal ini menunjukkan bahwa perbandingan jantan dan betina dengan kisaran 1:2, 1:4, 1:6, 2:4, 2:8 dan 2:12 tidak mempengaruhi berat telur yang dihasilkan, karena berat telur merupakan sifat yang diwariskan oleh induk atau genetik (Ensminger, 1992). Menurut Noor (2000) nilai heritabilitas dari berat telur adalah 0,60 yang berarti berat telur mempunyai sifat yang diwariskan oleh induk yang tinggi, sedangkan menurut Etches (1996) berat telur mempunyai nilai heritabilitas yang tinggi sekitar 0,45-0,85. Nilai rataan, simpangan baku dan koefesien keragaman berat telur hasil penelitian disajikan dalam Tabel 2.
Tabel 2. Nilai Rataan, Simpangan Baku dan Koefisien Keragaman (KK) Berat Telur per Butir.
Berat telur per butir pada perbandingan jantan dan betina
Minggu 1:2 1:4 1:6 2:4 2:8 2:12 ---(g)--- 5 9,40±0,00 9,52±1,33 9,07±0,40 8,95±0,07 9,43±0,38 9,06±0,18 6 9,32±0,60 9,99±0,28 10,0±0,20 9,84±0,52 10,10±0,39 9,67±0,22 7 10,59±0,32 10,61±0,09 10,8±0,35 10,75±0,05 10,75±0,40 10,36±0,13 8 10,70±0,31 10,91±0,08 10,81±0,13 10,61±0,29 10,74±0,92 10,74±0,92 9 10,46±0,33 10,85±0,33 10,79±0,13 11,19±0,44 12,04±1,74 10,57±0,15 10 10,91±0,05 11,20±0,27 11,25±0,14 11,19±0,44 11,57±0,31 11,11±0,23 11 10,97±0,39 11,09±0,31 11,19±0,27 10,65±0,45 11,59±0,32 11,10±0,31 12 10,90±0,17 11,30±0,07 11,10±0,17 11,03±0,29 11,59±0,28 11,00±0,09 13 10,37±0,51 10,66±0,13 10,56±0,22 10,64±0,45 11,47±0,28 10,59±0,10 14 11,13±0,28 11,24±0,58 11,10±0,08 11,41±0,45 10,83±0,08 10,90±0,22 15 10,09±0,30 10,53±0,47 10,53±0,28 10,61±0,60 10,53±0,25 10,18±0,13 Rataan 10,44±0,30 10,72±0,36 10,63±0,22 10,63±0,37 10,97±0,49 10,48±0,24 KK (%) 2,8 3,3 2,1 3,5 4,5 2,0
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan berat telur untuk masing-masing taraf perlakuan 1:2, 1:4, 1:6, 2:4, 2:8 dan 2:12 adalah 10,44; 10,72; 10,63; 10.63; 10,97 dan 10,48 g. Rataan berat telur yang besar dalam penelitian ini kemungkinan
dikarenakan induk yang diamati sedang dalam masa periode pertama produksi, yaitu umur 5-15 minggu. Untuk lebih jelasnya rataan berat telur pada penelitian ini disajikan pada Gambar 4.
Keterangan: (perbandingan ♂dan ♀) Gambar 4. Rataan Berat Telur Burung puyuh Umur 5- 15 Minggu Burung puyuh pada saat awal produksi bertelur masih tumbuh, sehingga organ reproduksinya belum optimal dan terlihat juga pada periode ini kulit telur masih putih dan lunak. Berat telur diawal produksi bertelur pada umur 5 minggu penelitian ini relatif kecil antara 9,40; 9,52; 9,07; 8,95; 9,43; 9,06 g untuk masing- masing taraf perlakuan 1:2, 1:4, 1:6, 2:4, 2:8 dan 2:12 karena energi yang dikonsumsi digunakan untuk pertumbuhan burung puyuh. Hal ini senada dengan pendapat Nugroho dan Mayun (1986), pada masa produksi selama empat minggu, berat telur burung puyuh sekitar 8,9 g atau berat telurnya kecil. Rataan berat telur burung puyuh minggu ke-6 lebih besar dibandingkan saat minggu ke-5 pada masing-masing taraf perlakuan 1:2, 1:4, 1:6, 2:4, 2:8 dan 2:12 yaitu 9,32; 9,99; 10,0; 9,84; 10,10; 9,67 g. Moritsu et al. (1997) menyatakan bahwa berat telur standar burung puyuh adalah
8 9 10 11 12 13 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Umur (Minggu) B e ra t te lu r (g ) 1:2 1:4 1:6 2:4 2:8 2:12
10 g. Pada penelitian ini burung puyuh pada taraf perlakuan 1:4; 1:6; 2:4; 2:8; 2:12 mulai umur 6 minggu sudah mencapai ukuran berat telur standar dan taraf perlakuan 1:2 mencapai ukuran standar mulai umur 7 minggu. Mulai umur 7 minggu sampai akhir penelitian ini burung puyuh memiliki berat telur yang baik untuk ditetaskan. Berat telur pada umur 7 minggu sampai dengan 15 minggu yaitu 10 g sampai 12 g.
Nilai rataan koefisien keragaman berat telur pada penelitian ini berkisar 2,0%-4,5% antar perlakuan. Urutan nilai koefisien keragaman dari yang tertinggi sampai yang terendah adalah 4,5%; 3,5%; 3,3%; 2,8%; 2,1%; 2,0% untuk masing- masing taraf perlakuan 2:8; 2:4; 1:4; 1:2; 1;6 dan 2:12. Nilai koefisien keragaman yang terendah menandakan bahwa taraf perlakuan 2:12 tersebut paling seragam. Berat telur yang seragam antar individu dalam satu kelompok tentunya memudahkan dalam manajemen produksi telur tetas dan pemasaran day old quail.
Berat Badan
Rataan pertambahan berat badan burung puyuh jantan selama penelitian 11 minggu disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Nilai Rataan, Simpangan Baku dan Koefisien Keragaman (KK) Berat Badan per ekor Burung Puyuh Jantan
Berat badan jantan pada perbandingan jantan dan betina
Minggu 1:2 1:4 1:6 2:4 2:8 2:12 Rataan ---(g)--- 5 115,0±10,61 135,0±10,33 130,0±12,79 123,8±11,24 125,0±9,99 118,8±14,38 124,58±11,56 6 125,0±5,35 140,0±9,81 127,5±10,83 123,8±10,14 125,0±12,18 120,0±14,14 126,88±10,41 7 140,0±10,61 137,5±10,14 135,0±11,79 133,8±13,89 133,8±9,79 128,8±14,07 134,79±11,72 8 130,0±15,53 130,0±9,29 132,5±13,67 128,8±12,04 125,0±10,88 126,3±14,36 128,75±12,63 9 137,5±18,32 135,0±10,63 142,5±14,14 126,3±13,52 133,8±13,53 122,5±14,56 132,92±9,58 10 127,5±12,82 132,5±8,85 135,0±12,04 132,5±10,31 128,8±14,35 126,3±12,31 130,42±11,78 11 130,0±6,41 127,5±9,64 132,5±11,35 126,3±10,65 131,3±13,01 127,5±13,98 129,17±10,84 12 125,0±7,07 127,5±11,55 127,5±11,03 127,5±13,40 130,0±9,84 131,3±14,77 128,13±11,28 13 137,5±11,95 137,5±11,53 132,5±12,63 133,8±14,96 123,8±9,61 137,5±13,04 133,75±12,29 14 130,0±13,89 135,0±9,81 130,0±11,33 122,5±20,66 125,0±11,77 132,5±12,15 129,17±13,27 15 130,0±16,90 132,5±12,23 135,0±14,57 130,0±12,50 126,3±11,72 118,8±12,67 128,33±12,98 Rataan 129,8±11,80 133,6±10,35 132,7±12,38 128,1±13,03 128,0±11,52 126,4±13,68 129,72±12,13 KK(%) 9,09 7,75 9,33 10,17 9,00 10,82 9,35
Hafez dan Dyer (1969) menyatakan bahwa pertambahan berat badan burung puyuh dapat diartikan sebagai pertambahan berat badan setiap minggu dan kecepatan
ini akan berkembang sejak menetas sampai dengan umur dewasa, setelah itu kecepatan pertumbuhan akan menurun. Berdasarkan hasil analisis ragam, pengaruh perlakuan dan kelompok terhadap berat badan burung puyuh jantan adalah tidak nyata. Hal ini menunjukkan bahwa perbandingan jantan dan betina dengan kisaran 1:2, 1:4, 1:6, 2:4, 2:8 dan 2:12 tidak mempengaruhi berat badan yang dihasilkan, karena tidak terjadi persaingan, perkelahian dan kegaduhan yang tinggi antar burung puyuh jantan dalam satu koloni yang dapat mengganggu aktivitas makan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan untuk masing-masing taraf perlakuan 1:2, 1:4, 1:6, 2:4, 2:8 dan 2:12 adalah 129,8; 133,6; 132,7; 128,1; 128,0; 126,4 g. Berat badan puyuh jantan pada penelitian ini berkisar antara 126,4-133,6 g. Pada minggu ke-5 pemeliharan burung puyuh menghasilkan rataan berat badan burung puyuh jantan 124,58 g. Rataan berat badan burung puyuh jantan pada minggu ke-6 126,88 g. Berat badan burung puyuh jantan umur 5-15 minggu dapat dilihat pada Gambar 5.
Keterangan: (perbandingan ♂dan ♀) Gambar 5. Rataan Berat Badan Burung Puyuh Jantan Umur 5-15 Minggu
Pada minggu ke-5 dan minggu ke-6 rataan berat badan burung puyuh mengalami peningkatan disebabkan burung puyuh masih masa pertumbuhan dan mulai dewasa kelamin. Berat badan burung puyuh pada minggu ke-7 sampai minggu ke-15 sudah mengalami dewasa tubuh yang memiliki rataan berkisar 128,13-134,79 g. Burung puyuh jantan sudah tidak mengalami pertumbuhan berat badan lagi.
110 120 130 140 150 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Umur (Minggu) B e ra t bada n ( g) 1:2 1:4 1:6 2:4 2:8 2:12
Berbeda dengan jenis unggas yang lain, burung puyuh betina lebih cepat per- tambahan berat badannya dibandingkan dengan jantan. Perbedaan ini mulai tampak pada puyuh yang berumur 7 minggu. Rataan pertambahan berat badan burung puyuh betina selama penelitian 11 minggu disajikan pada Tabel 4. Berdasarkan hasil analisis ragam, pengaruh perlakuan dan kelompok terhadap berat badan burung puyuh betina adalah tidak nyata. Hal ini menunjukkan bahwa perbandingan jantan dan betina dengan kisaran 1:2, 1:4, 1:6, 2:4, 2:8 dan 2:12 tidak mempengaruhi berat badan yang dihasilkan.
Tabel 4. Nilai Rataan, Simpangan Baku dan Koefisien Keragaman (KK) Berat Badan per Ekor Burung Puyuh Betina.
Berat badan betina pada perbandingan jantan dan betina
Minggu 1:2 1:4 1:6 2:4 2:8 2:12 Rataan ---(g)--- 5 110,0±10,00 125,0±17,32 153,8±11,55 110,6±11,88 119,7±10,69 113,8±14,58 115,89±12,67 6 126,3±5,77 128,1±14,14 130,4±9,57 123,1±13,02 130,0±9,26 122,1±7,56 126,67±9,89 7 141,3±0,00 146,9±9,57 144,6±10,00 150,6±15,06 145,9±7,44 142,5±14,58 141,03±9,44 8 142,5±8,16 139,4±8,16 142,9±9,57 143,8±3,54 139,1±7,56 139,8±9,16 141,23±7,69 9 132,5±17,08 150,6±12,91 147,9±9,57 136,9±14,08 149,1±14,08 135,8±14,88 142,14±13,77 10 142,5±9,57 148,8±5,00 151,7±5,57 144,4±7,07 144,4±8,35 138,8±11,88 145,07±7,91 11 138,8±8,16 145,6±9,57 143,8±5,00 147,5±7,44 147,2±3,54 140,4±8,86 143,87±7,10 12 142,5±5,77 140,0±9,57 142,1±5,00 149,4±4,63 142,5±7,56 147,7±8,35 144,03±7,21 13 150,0±9,57 144,4±5,00 145,2±9,57 153,1±9,16 144,7±5,18 153,4±4,63 148,45±7,19 14 137,5±14,14 141,9±23,80 139,8±8,16 140,0±13,97 141,7±9,26 138,4±4,63 139,88±12,33 15 135,0±17,08 131,9±22,20 138,9±5,77 143,1±13,97 137,2±15,98 127,0±11,26 135,52±14,38 Rataan 136,3±9,57 140,2±12,48 143,7±6,34 140,2±12,71 140,1±8.98 136,3±10,03 138,53±10,02 KK (%) 7,02 8,90 4,41 9,07 6,41 7,36 7,23
Pada periode awal bertelur yaitu minggu ke-5 burung puyuh betina memiliki berat badan berkisar 110,0-153,8 g dengan rataan 115,86 g dan pada minggu ke-6 memiliki berat badan berkisar 122,1-130,4 g dengan rataan 126,67 g. Hasil penelitian pada minggu ke-6 ini sesuai dengan penelitian Kuswahyuni (1983) bahwa berat badan burung puyuh betina pada umur enam minggu berkisar 121,89-138,24 g dengan rataan 130,02 g. Pada minggu ke-5 dan minggu ke-6 kebutuhan energi pada burung puyuh betina lebih banyak digunakan untuk pertumbuhan daripada menghasilkan telur.
Burung puyuh betina terus mengalami peningkatan berat badan sampai minggu ke-7 berkisar 141,3-150,6 g dengan rataan 141,03 g. Rataan burung puyuh betina dari minggu ke-7 sampai akhir penelitian minggu ke-15 tidak berbeda nyata. Kebutuhan energi pada burung puyuh betina pada minggu ke-7 sampai minggu ke-15 digunakan untuk menghasilkan produksi telur dan burung puyuh betina sudah tidak mengalami pertumbuhan. Hasil penelitian pada minggu ke-15 diperoleh berat badan berkisar 127,0-143,7 g dengan rataan 135,53 g. Hal ini sesuai dengan penelitian
Keterangan : (perbandingan ♂dan ♀) Gambar 6. Rataan Berat Badan Burung Puyuh Betina Umur 5-15 Minggu Kuswahyuni (1983) mendapatkan rataan berat badan puyuh betina pada umur 100 hari sebesar 134,84 g. Berat badan burung puyuh betina umur 5-15 minggu dapat dilihat pada Gambar 6.
Produksi Telur
Tata laksana pemeliharaan selama periode pertumbuhan sangat menentukan kemampuan burung puyuh untuk dapat berproduksi secara optimal selama periode bertelur. Produksi telur dihitung berdasarkan hen day production selama 11 minggu pertama bertelur. 80 90 100 110 120 130 140 150 160 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Umur (Minggu) Be ra t ba da n (g ) 1:2 1:4 1:6 2:4 2:8 2:12
Berdasarkan hasil analisis ragam, pengaruh perlakuan dan kelompok terhadap produksi telur adalah tidak nyata. Hal ini menunjukkan bahwa perbandingan jantan dan betina dengan kisaran 1:2, 1:4, 1:6, 2:4, 2:8 dan 2:12 tidak mempengaruhi produksi telur yang dihasilkan, karena produksi telur merupakan sifat yang diwariskan oleh induk (Ensminger, 1992). Menurut Mufti (1997) produksi telur dipengaruhi oleh cahaya dan kandungan protein pakan. Rataan, simpangan baku dan koefisien keragaman produksi telur hasil penelitian disajikan dalam Tabel 5.
Tabel 5. Nilai Rataan, Simpangan Baku dan Koefisien Keragaman (KK) Produksi Telur Hen Day
Produksi telur hen day pada perbandingan jantan dan betina
Minggu 1:2 1:4 1:6 2:4 2:8 2:12 Rataan ---(%)--- 5 7,10±0,00 5,90±2,02 7,65±4,01 5,35±2,47 6,50±2,47 2,70±2,70 5,88±1,75 6 35,70±14,83 38,10±5,68 38,60±9,28 10,70±5,09 30,80±9,70 27,90±6,91 27,27±8,58 7 97,93±17,19 67,98±14,01 56,10±18,38 77,88±6,01 60,28±4,69 54,38±5,42 69,09±10,95 8 84,43±33,31 79,48±7,38 63,70±7,09 82,18±16,74 86,58±9,71 74,15±4,59 78,41±13,13 9 82,83±13,80 80,38±9,43 75,95±15,39 72,03±3,93 79,90±8,13 82,13±3,20 78,87±8,98 10 76,80±14,76 86,60±16,06 77,98±12,51 75,00±7,70 90,63±7,73 83,33±9,86 81,72±11,44 11 70,05±30,86 86,15±7,75 84,70±10,77 89,43±13,10 82,08±6,60 85,13±8,13 82,92±12,87 12 89,13±15,92 86,60±7,31 72,63±12,53 99,88±29,31 70,08±8,05 81,83±7,81 83,52±13,49 13 87,78±15,25 83,03±20,92 68,45±10,56 52,00±13,47 67,85±6,18 70,83±7,14 71,65±12,25 14 95,83±17,53 75,88±9,82 71,43±8,49 78,73±16,96 82,58±8,32 79,23±3,15 80,61±10,71 15 94,65±12,17 72,30±8,92 75,00±8,12 68,75±27,29 63,85±2,26 72,33±3,54 74,48±10,38 Rataan 77,19±16,87 69,10±9,94 62,93±10,65 64,81±12,92 65,56±6,73 64,90±5,60 67,42±10,45 KK 23,02 14,07 16,92 19,38 10,27 8,27 15,49
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan produksi telur hen day untuk masing-masing taraf perlakuan 1:2, 1:4, 1:6, 2:4, 2:8 dan 2:12 adalah 77,19; 69,10; 62,93; 64,81; 65,56; 64,90%. Produksi telur hen day pada penelitian ini berkisar antara 62,93%- 77,19% tidak berbeda jauh dengan pernyataan Sastroamidjojo (1967) yaitu berkisar antara 70%-79% dan Yuwanta (1983) yaitu 74%.
Pada minggu ke-5 pemeliharan burung puyuh menghasilkan produksi telur hen day yang masih rendah dengan rataan produksi telur hen day yang beragam antara 7,10; 5,90; 7,65; 5,35; 6,50; 2,70% untuk masing-masing taraf perlakuan 1:2, 1:4, 1:6, 2:4, 2:8 dan 2:12. Produksi telur hen day pada minggu ke-6 masih rendah berkisar 10,70-38,10% dikarenakan burung puyuh baru mencapai dewasa kelamin dan masih dalam tahap awal berproduksi telur. Pada minggu ke-7 sampai minggu ke-
15 penelitian ini burung puyuh menghasilkan produksi telur lebih dari 50% dan sudah stabil karena burung puyuh sudah dewasa kelamin.
Produksi telur hen day burung puyuh umur 5-15 minggu dapat dilihat pada Gambar 7. Tiwari dan Panda (1978) melaporkan bahwa pada umur 5 minggu burung puyuh akan mencapai produksi 67%, hal ini berbeda dengan hasil penelitian ini yang memperoleh produksi telur antara 2,70%-7,65%. Produksi telur hen day pada minggu ke-5 masih rendah karena burung puyuh baru dewasa kelamin dan masih berada dalam tahap awal berproduksi telur.
Kebutuhan energi pada awal produksi bertelur lebih banyak digunakan untuk pertumbuhan burung puyuh daripada menghasilkan telur. Minggu ke-8 pemeliharaan burung puyuh menghasilkan produksi telur hen day 60%-80%.
Keterangan: (perbandingan ♂dan ♀) Gambar 7. Rataan Produksi Telur Hen day Burung puyuh Umur 5-15 Minggu
Puncak produksi masing-masing perlakuan tidak terjadi secara bersamaan. Puncak produksi telur pada perbandingan 1:2 sudah terjadi pada minggu ke-7 yaitu 97,93%, dan puncak produksi telur pada perlakuan 1:2 lebih persisten sampai akhir penelitian walaupun pada minggu ke-10 dan minggu ke-11 mengalami penurunan produksi telur. Pada perbandingan 1:4 puncak produksi telur terjadi pada minggu ke-
0 20 40 60 80 100 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Umur(Minggu) H e n da y ( % ) 1:2 1:4 1:6 2:4 2:8 2:12
10 yaitu 86,60% bertahan sampai minggu ke-13. Puncak produksi telur pada perbandingan 1:6 terjadi pada minggu ke-11 yaitu 84,70% dan pada minggu selanjutnya mengalami penurunan produksi telur sampai akhir penelitian. Pada perbandingan 2:4 puncak produksi telur terjadi pada minggu ke-12 yaitu 99,88% kemudian pada minggu ke-13 mengalami penurunan produksi mencapai setengahnya yaitu 52,00%. Puncak produksi telur pada perbandingan 2:8 terjadi pada minggu ke- 10 yaitu 90,63%, dan pada perbandingan 2:12 terjadi pada minggu ke-11 yaitu 85,13%
Rataan puncak produksi telur hen day secara umum pada penelitian ini terjadi selama 3 minggu yaitu pada minggu ke-10, minggu ke-11, minggu ke-12 dengan rata-rata total 81,72; 82,92; 83,52%. Setelah minggu ke-13 produksi telur hen day
mengalami penurunan produksi yang tidak siginifikan. Burung puyuh pada penelitian ini masih muda dan produktif bertelur. Tidak tampak adanya persaingan antar jantan pada koloni besar maupun koloni kecil. Penggunaan 2 jantan pada taraf perlakuan 2:4, 2:8, 2:12 tidak menimbulkan persaingan atau perebutan pakan sehingga betina tetap dapat mengkonsumsi pakan untuk memenuhi kebutuhannya dan menghasilkan produksi telur yang tidak berbeda nyata dengan penggunaan 1 pejantan pada taraf perlakuan 1:2, 1:4, 1:6.
Nilai rataan koefisien keragaman berat telur pada penelitian ini tidak berbeda antar perlakuan. Urutan nilai koefisien keragaman dari yang tertinggi sampai yang terendah adalah 8,27; 10,27; 14,07; 16,92; 19,38; 23,02 untuk masing-masing taraf perlakuan 2:12; 2:8; 1:4; 1:6; 2:4 dan :12. Nilai koefisien keragaman yang terendah menandakan bahwa taraf perlakuan 2:12 paling seragam dapat digunakan untuk manajemen produksi komersial.
Indeks Telur
Indeks telur digunakan untuk mengetahui bentuk telur yang baik yang berguna sebagai syarat telur tetas. Telur tetas memiliki bentuk yang oval. Indeks telur yang seragam juga memudahkan penanganan pemasaran telur, agar mudah dalam memasukkan ke dalam kemasan.
Berdasarkan hasil analisis ragam yang dilakukan, bahwa pengaruh perlakuan dan kelompok terhadap persentase indeks telur tidak nyata. Hal ini dapat dilihat
bahwa burung puyuh pada perbandingan antara jantan dan betina dengan kisaran 1:2, 1:4, 1:6, 2:4, 2:8 dan 2:12 memiliki indeks telur tidak nyata. Nilai rataan koefisien keragaman indeks telur pada penelitian ini tidak berbeda antar perlakuan. Urutan nilai koefisien keragaman dari yang tertinggi sampai yang terendah adalah 1,49; 1,44; 1,30; 1,14; 0,97; 0,89 untuk masing-masing taraf perlakuan 1:2; 1:6; 2:8; 1:4; 2:4 dan 2:12. Nilai koefisien keragaman yang terendah menandakan bahwa taraf perlakuan 2:12 tersebut paling seragam sehingga berat telur pada taraf perlakuan tersebut baik sebagai telur tetas maupun konsumsi. Indeks telur yang seragam memudahkan dalam penanganan saat penetasan atau pemasaran. Pada taraf perlakuan 2:12 indeks telur lebih seragam dibanding dengan perlakuan lain sehingga memiliki pengelolaan untuk telur tetas maupun telur konsumsi. Rataan, simpangan baku dan koefesien keragaman indeks telur hasil penelitian disajikan dalam Tabel 6.
Tabel 6. Nilai Rataan, Simpangan Baku dan Koefisien Keragaman (KK) Indeks Telur
Indeks telur pada perbandingan jantan dan betina
Minggu 1:2 1:4 1:6 2:4 2:8 2:12 ---(%)--- 5 83,33±0,00 82,34±1,97 82,97±1,75 80,64±0,71 82,07±1,67 80,25±1,54 6 79,79±3,05 80,22±1,65 81,08±0,69 80,12±0,73 79,22±0,47 81,11±1,20 7 79,79±0,71 80,30±0,60 80,09±0,97 79,51±0,24 80,06±0,56 79,89±0,93 8 79,96±0,43 81,57±0,42 81,51±0,20 81,24±0,34 81,84±0,16 80,98±0,40 9 79,70±1,51 79,25±1,43 79,61±0,71 79,26±0,54 79,83±0,46 79,14±0,43 10 79,46±1,14 79,71±1,18 79,82±0,58 79,24±0,50 79,71±1,07 80,20±0,40 11 80,34±0,89 80,61±1,39 79,29±0,46 80,37±0,15 79,24±0,25 79,77±0,49 12 81,16±1,41 80,16±1,65 78,97±1,55 79,67±0,83 79,78±0,97 80,36±0,31 13 81,30±0,79 81,69±0,55 81,20±0,83 81,22±0,47 81,22±0,47 80,88±0,22 14 81,24±0,97 80,70±1,45 81,07±0,71 80,87±0,45 80,87±0,45 80,97±0,45 15 82,04±0,90 81,18±1,82 80,70±1,33 81,09±0,80 81,09±0,80 81,61±0,56 Rataan 80,74±1,20 80,70±0,92 80,57±1,16 80,29±0,78 80,48±1,05 80,47±0,72 KK 1,49 1,14 1,44 0,97 1,30 0,89
Indeks telur pada penelitian ini tidak berbeda dengan hasil penelitian Woodard et al. (1973) berkisar 70-79%. Rataan indeks telur pada penelitian untuk masing- masing taraf perlakuan 1:2, 1:4, 1:6, 2:4, 2:8 dan 2:12 adalah 80,74; 80,70; 80,57; 80,78; 80;48; 80,47%. Untuk lebih jelasnya rataan indeks telur pada penelitian ini disajikan pada Gambar 8.
Bentuk telur burung puyuh pada penelitian ini normal dan memenuhi syarat sebagai telur tetas. Burung puyuh yang dipelihara walaupun ditujukan untuk produksi namun dapat dijadikan telur tetas karena bentuk dan beratnya memenuhi syarat telur tetas dan jika dibuahi oleh sperma jantan. Hal ini ditunjukkan dengan hasil rataan fertilitas yang tinggi yaitu 92,37; 96,14; 92,16; 95,20; 97,11; 91,79% untuk masing-masing taraf perlakuan 1:2, 1:4, 1:6, 2:4, 2:8, 2:12 dan daya tetas yang tinggi pula yaitu 93,02; 91,49; 86,25; 93,27; 93,85; 90,95% untuk masing-masing taraf perlakuan 1:2, 1:4, 1:6, 2:4, 2:8, 2:12 pada hasil penelitian Permana (2005) pada burung puyuh penelitian yang sama. Indeks telur mulai minggu 5 sampai minggu 15 dapat dilihat pada Gambar 8.
Keterangan: (perbandingan ♂dan ♀) Gambar 8. Rataan Indeks Telur Burung puyuh Umur 5-15 Minggu Indeks telur pada awal penelitian berkisar 80,25% sampai 83,33%. Pada akhir penelitian yaitu minggu ke-15 indeks telur masih berkisar diantara 80,70% sampai 82,04%. Bentuk telur burung puyuh memiliki indeks telur yang normal, dan memiliki bentuk telur yang khas karena bentuk telur merupakan sifat yang diwariskan. Menurut Noor (2000) nilai heritabilitas dari berat telur adalah 0,60 yang berarti berat telur mempunyai sifat yang diwariskan oleh induk yang tinggi,
78 79 80 81 82 83 84 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Umur (Minggu) Inde k s t e lu r ( % ) 1:2 1:4 1:6 2:4 2:8 2:12
selanjutnya menurut Etches (1996) berat telur mempunyai nilai heritabilitas yang tinggi sekitar 0,45 sampai dengan 0,85.
Konsumsi Pakan
Konsumsi pakan burung puyuh adalah jumlah ransum yang dikonsumsi oleh burung puyuh. Tingkat konsumsi pakan dipengaruhi oleh tingkat energi dan palabilitas pakan. Tabel 7 menunjukkan rataan konsumsi pakan burung puyuh setiap minggu selama 11 minggu.
Tabel 7. Nilai Rataan, Simpangan Baku, dan Koefisien Keragaman (KK) Konsumsi Pakan
Konsumsi pakan pada perbandingan jantan dan betina
Minggu 1:2 1:4 1:6 2:4 2:8 2:12 ---(g/ekor/minggu)--- 5 174,78±0,36 174,62±0,27 174,55±0,27 174,34±0,40 174,80±0,16 174,93±0,07 6 172,90±2,57 169,87±3,92 168,81±4,76 165,13±12,34 172,76±2,20 171,16±2,54 7 174,63±0,42 172,85±1,27 169,29±5,25 170,29±4,59 172,68±2,83 174,00±0,8 8 174,83±0,19 174,04±0,89 172,98±1,62 169,87±8,25 173,67±0,54 174,47±0,37 9 173,75±1,39 171,84±3,29 170,17±4,73 166,19±9,36 173,75±0,88 173,16±2,87 10 172,90±2,57 169,87±3,92 168,81±4,76 165,13±12,34 168,96±7,56 171,16±2,54 11 174,22±0,88 173,88±1,14 170,58±2,26 172,76±3,00 173,88±0,61 172,04±3,21 12 174,55±0,42 167,44±6,12 166,95±4,46 168,53±5,72 166,93±7,81 171,29±2,12 13 175,00±0,00 174,70±0,20 174,61±0,32 167,82±8,36 174,80±0,20 172,97±3,91 14 173,94±1,28 171,72±1,60 166,53±7,36 170,28±4,04 173,42±1,86 173,93±2,82 15 173,15±0,93 169,98±3,50 163,91±2,43 167,47±4,99 170,25±4,99 174,10±0,46 Rataan 174,06±1,00 171,89±2,37 169,74±3,47 168,89±6,67 172,35±2,69 172,93±1,98 KK 0,6 1,4 2,0 3,9 1,6 1,1
Berdasarkan hasil analisis ragam yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa pengaruh perlakuan dan kelompok tidak nyata terhadap konsumsi pakan. Hal ini berarti bahwa perbandingan antara jantan dan betina dengan kisaran 1 :2, 1:4, 1:6, 2:4, 2:8 dan 2:12 tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap konsumsi pakan burung puyuh. Penggunaan 2 pejantan dalam satu kandang koloni tidak menimbulkan persaingan sesama pejantan maupun dengan betina, sehingga perbandingan antara jantan dan betina tidak mempengaruhi konsumsi pakan. Tingkah laku perkelahian atau sifat dominan dalam tingkat sosial tidak terjadi sehingga masing-masing burung puyuh merasa nyaman karena mempunyai kesem- patan untuk mengkonsumsi pakan.
Rataan konsumsi pakan burung puyuh per ekor per minggu selama 11 ming- gu penelitian berkisar antara 174,06 g untuk perbandingan 1:2; 171,89 g untuk perbandingan 1:4; 169,74 g untuk perbandingan 1:6; 168,89 g untuk perbandingan 2:4; 172,35 g untuk perbandingan 2:8; 172,93 g untuk perbandingan 2:12. Untuk lebih jelasnya rataan konsumsi pakan pada penelitian ini disajikan pada Gambar 9.
Keterangan: (perbandingan ♂dan ♀) Gambar 9. Rataan Konsumsi Pakan Burung Puyuh Umur 5-15 Minggu
Konsumsi pakan seimbang yang memiliki zat nutrisi yang berkualitas dan kuantitas yang cukup untuk kesehatan, pertumbuhan dan produksi. Tujuan burung puyuh mengkonsumsi pakan yaitu untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat makanan lainnya, sehingga apabila kebetuhan energi terpenuhi maka burung puyuh akan berhenti makan.
Urutan nilai koefisien keragaman dari yang tertinggi sampai yang terendah adalah 3,9; 2,0; 1,6; 1,3; 1,1; 0,6 untuk masing-masing taraf perlakuan 2:4; 1:6; 2:8; 1:4; 2:12 dan 1:2. Nilai koefisien keragaman 2 perlakuan yang terendah menandakan bahwa taraf perlakuan 1:2 dan 2:12 paling seragam dapat digunakan untuk manajemen produksi komersial. Pakan burung puyuh pada penelitian ini tidak banyak yang tumpah karena di atas tempat pakan diberi jeruji kawat dan diganjal dengan batu untuk mengurangi pakan yang terbuang karena sifat burung puyuh yang
162 164 166 168 170 172 174 176 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Umur (Minggu) K o ns u m si pak an (g) 1:2 1:4 1:6 2:4 2:8 2:12
suka mengkais-kais pakan. Waktu pemberian pakan sehari dua kali yaitu pada pagi dan sore hari dapat menghindari pakan bercampur dengan kotoran burung puyuh.
Konversi Pakan
Konversi pakan adalah jumlah ransum yang dikonsumsi dibanding dengan produksi telur yang dihasilkan. Faktor yang mempengaruhi kualitas ransum, teknik pemberian, bentuk dan konsumsi ransum (Amrulloh, 2003). Berdasarkan hasil analisis ragam, pengaruh perlakuan dan kelompok terhadap konversi pakan tidak nyata. Hal ini menunjukkan bahwa perbandingan jantan dan betina dengan kisaran 1:2, 1:4, 1:6, 2:4, 2:8 dan 2:12 tidak mempengaruhi konversi pakan. Adapun rataan dan simpangan baku konversi pakan disajikan dalam Tabel 8.
Tabel 8. Nilai Rataan, Simpangan Baku dan Koefisien Keragaman Konversi Pakan per Ekor Per Minggu
Konversi pakan per ekor per minggu pada perbandingan jantan dan betina yang berbeda
Minggu 1:2 1:4 1:6 2:4 2:8 2:12 ---(%)--- 5 37,23±0,00 44,41±19,60 35,89±20,20 52,02±26,98 40,73±18,45 102,17±58,29 6 7,42±1,81 6,37±1,01 6,25±1,09 22,41±7,62 7,94±1,97 9,06±2,05 7 3,28±0,79 3,72±0,44 5,21±1,43 3,18±0,49 3,83±0,32 4,44±0,49 8 2,55±0,48 2,88±0,26 3,63±0,42 2,86±0,49 2,52±0,24 3,08±0,34 9 4,50±2,33 2,86±0,44 2,53±0,45 3,24±0,38 2,64±0,44 2,80±0,13 10 3,04±0,65 2,60±0,50 2,83±0,46 2,82±0,16 2,32±0,31 2,56±0,24 11 3,52±1,47 2,71±0,24 3,02±0,46 2,92±0,40 2,85±0,17 2,57±0,37 12 2,96±0,43 2,54±0,28 2,99±0,43 2,15±0,85 2,52±0,26 2,66±0,37 13 2,91±0,42 3,28±0,16 3,49±0,52 3,24±0,61 3,25±0,33 3,25±0,29 14 2,50±0,55 2,61±0,33 3,01±0,48 2,98±0,89 2,54±0,29 2,86±0,14 15 2,62±0,30 3,22±0,32 2,79±0,37 3,88±1,83 3,49±0,32 3,39±0,18 Rataan 6,59±0,84 7,02±2,14 6,51±2,39 9,25±3,70 6,78±2,10 12,62±5,71 KK 12,72 30,35 36,74 40,04 30,93 45,28
Pada minggu ke-5 penelitian diperoleh konversi pakan yang sangat tinggi karena burung puyuh yang bertelur masih sedikit. Nilai konversi pakan pada minggu ke-5 dan ke-6 yang tinggi diduga disebabkan oleh tidak semua burung puyuh mengkonsumsi pakan untuk produksi telur, melainkan masih ada sebagian burung puyuh yang baru mengalami proses pembesaran dan pemasakan kuning telur dalam
minggu ke-15 sudah diperoleh konversi pakan yang stabil berkisar antara 2,15-5,21 karena produksi telur sudah tinggi yaitu berkisar 54,38-99,88%.
Rataan konversi pakan untuk masing-masing taraf perlakuan 1:2, 1:4, 1:6, 2:4, 2:8 dan 2:12 adalah 6,59; 7,02; 6,51; 9,25; 6,78 dan 12,62%. Nilai rataan konversi pada penelitian ini lebih tinggi daripada rataan konversi ransum hasil penelitian Mufti (1997) yaitu 2,90 dengan kisaran 2,72-3,35% dengan perlakuan yang berbeda yaitu dampak fotoregulasi dan tingkat pemberian protein ransum 18% dan 24%. Nilai rataan konversi pakan pada penelitian ini tidak nyata maka konversi pakan yang paling efisien adalah imbangan penggunaan yang banyak yaitu perbandingan jantan dan betina 2:12.
Urutan nilai koefisien keragaman dari yang terendah sampai yang tertinggi adalah 12,72; 30,53; 30,39; 36,74; 40,04; 45,28% untuk masing-masing taraf perlakuan 1:2; 1:4; 2:4; 1:4; 1:6 dan 2:12. Koefisien keragaman konversi pakan pada penelitian ini semuanya cukup tinggi yaitu lebih 20%, hanya perlakuan 1:2 yaitu 12% namun tidak efisien dalam penggunaan kandang.
Mortalitas
Jumlah burung puyuh yang mati selama penelitian 2 ekor burung puyuh betina (1,11%) dari 180 ekor burung puyuh yang digunakan selama penelitian. Burung puyuh mati pada minggu ke 13 untuk perbandingan 1:6 ulangan ke 3 dan minggu ke 14 untuk perbandingan 2:8 ulangan ke 4. Burung puyuh yang mati disebabkan oleh berak kapur. Hal ini diduga penyakit (Pullorum) dengan tanda-tanda kotoran berwarna putih, nafsu makan hilang, sesak nafas, bulu-bulu mengerut, dan sayap bergerak lemah. Serta diduga telur dan induknya tidak dilakukan test reaktor
Pullorum. Penyakit berak kapur (Pullorum) oleh kuman Salmonella pullorum dan merupakan penyakit yang mudah menular. Penularannya bisa melalui telur dari induk penderita Pullorum, peralatan yang tercemar, makanan dan minuman yang tercemar kuman.
Mortalitas pada penelitian ini lebih rendah dibandingkan hasil penelitian