BAB IV HASIL TEMUAN DAN ANALISIS
A. Evaluasi Dampak (Impact)
3. Hasil Jangka Panjang dari Program Kawasan Rumah
memiliki target jangka panjang dalam menjalankan program. Ibu Siti Nurul sebagai ketua program KRPL dalam wawancaranya memaparkan target yang pernah dicapai selama satu tahun dalam binaan BPTP pada April 2013 adalah menekan kebutuhan makanan harian belanja sayuran dari Rp 200.000 sampai Rp 800.000 perbulan, namun pencapaian tersebut hanya berlangsung enam bulan pertama sejak penerapan program, penjelasannya sebagai berikut:
“BPPT dan BPTP sejak April 2013 kita diberikan binaan, pelatihan,
bantuan-bantuan, penyuluhan selama 1 tahun lebih…”
“...materi tentu banyak pengetahuan yang kita dapatkan ya tentang pelatihan membuat benih dari cabe, tomat, jahe, mengikuti acara BPTP studi banding ke Bogor lalu terakhir kita diberikan pelatihan oleh BPTP
lewat ASTRA tentang “Pelatihan Teknologi Pertanian Perkotaan (Urban Farming)” pada November 2015.”
“...meningkatkan gizi balita kita dimana sayuran organik itu dapat menujang gizi keluarga.”
“…lalu menghemat anggaran belanja tadinya membeli sayur kangkung sehari Rp. 5000 jadi ga belanja karena panen…
“Menekan kebutuhan makanan harian belanja sayuran dari Rp 200.000 sampai Rp 800.000 perbulan pernah tercapai tapi banyak kendala hanya bertahan selama 6 bulan diawal.. klo pun pernah menghemat uang belanja itu paling sedikit saja masih ada bahan-bahan baku dapur lainnya
96
yang kita beli di pasar saja…misalnya yang belanja sehari Rp 50.000 bisa
menyisihkan Rp 10.000 untuk tabungan.”97
Untuk menganalisis target jangka panjang tersebut telah tercapai atau tidak, peneliti akan membandingkan dan menganalisis target apa saja yang telah tercapai oleh program KRPL dalam kurun waktu satu tahun penerapan dengan temuan di lapangan.
Ibu Wirda Zulfikar dalam wawancaranya memaparkan bahwasannya dalam kurun waktu satu tahun hingga sekarang dalam penerapan program KRPL manfaat yang telah dicapai sebagai berikut:
“Baru sekedar cukup untuk kebutuhan masak di dapur ga beli di pasar lumayan bisa ngehemat uang belanja apalagi klo harga bumbu masakan
naik tuh cabe, bawang putih..”98
Selain ingin mencapai penempatan sumber daya manusia yang tepat dan berpotensi, program KRPL ingin memperluas jaringan kerja sama dengan lembaga sosial maupun konvensial untuk keberlanjutan dari program itu sendiri.
Selain Ibu siti nurul yang menjelaskan bahwa Program KRPL telah menjalin kerja sama dengan BPTP dan BPPT jawa Barat bersama ASTRA pada November 2015 lalu menghadiri acara undangan dari DISPERA. Ibu Isa Fitri dalam wawancaranya memaparkan bahwa sampai saat ini dalam kurun waktu tiga tahun, program KRPL mulai menjalin kerjasama dengan beberapa instansi. Berikut pemaparannya:
“…relasi dengan komunitas lain juga meluas”99
Untuk dapat menganalisis dan menilai apakah jangka panjang program KRPL ini telah tercapai atau tidak, maka peneliti akan membandingkan hasil
97
Wawancara pribadi dengan Ibu Siti Nurul pada 22 Agustus 2016. 98
Wawancara pribadi dengan Ibu Hj. Wirda Zulfikar, pada 26 Agustus 2016. 99
wawancara dari pengurus dan anggota program. Jika target jangka panjang dari program KRPL ini adalah memberikan informasi dan pengetahuan mengenai kontribusi pengembangan KRPL selama tiga tahun berjalannya program.
Ibu Lucia telah mengikuti program KRPL selama tiga tahun dan mendapatkan manfaat tentang pengetahuan dan menghemat anggaran belanja dapur. Seperti yang ia paparkan dalam wawancara berikut:
“Sudah dari 2013 itu awal mula dari pembinaan dari BPPT dan BPTP Lembang.” 100
Begitu pula yang telah dilakukan oleh ibu Wirda Zulfikar, ia telah mengikuti program KRPL selama tiga tahun dan pengetahuan akan KRPL bertambah dan menghemat anggaran belanja. Seperti wawancaranya sebagai berikut:
“Sama seperti ibu-ibu yang lain saya ikut dari pertama datang pak
budiman dari BPPT dan BPTP memberikan pembinaan…”.101
Berikut tabel pengurus dan anggota KRPL yang menjadi subjek penelitian: Tabel 7.
Pengurus dan anggota KRPL yang menjadi subjek penelitian
No Nama Jabatan Lama Menjadi Anggota KRPL Manfaat yang dirasakan 1. Bapak Sukowitono Ketua Program Rumah Kompos dan ketua RW 11 Pekayon Menambah pengetahuan, aktif dalam lingkungan, KRPL memberikan peran dalam pemilahan sampah.
2. Ibu Rustinah Hasan Ketua YGPL Menambah pengetahuan, Mengkonsumsi makanan sehat dan organik, mempererat tali silaturahmi antar anggota.
100
Wawancara pribadi dengan Ibu Lucia, pada 26 Agustus 2016. 101
3. Ibu Siti
Nurul Ketua KRPL Tiga tahun
Menambah pengetahuan, Mengkonsumsi makanan sehat dan organik, menghemat anggaran belanja, Menumbuhkan kerjasama dan daya ketertarikan,
meningkatkan gizi.
4. Ibu Lucia Humas dan
anggota KRPL Tiga tahun
Menambah pengetahuan, Mengkonsumsi makanan sehat dan organik, menghemat anggaran belanja dapur, perubahan gaya hidup, perubahan perilaku, membangun kebersamaan dan keakraban dengan anggota lainnya. 5. Ibu Hj. Wirda Zulfikar
Anggota KRPL Tiga tahun
Menambah pengetahuan, Mengkonsumsi makanan sehat dan organik, menghemat anggaran belanja dapur,saling bertegur sapa antar anggota, menumbuhkan rasa percaya diri, memberikan nilai estetika.
6. Ibu Isa Fitri Anggota KRPL Tiga tahun
Menambah pengetahuan, Mengkonsumsi makanan sehat dan organik, menghemat anggaran belanja dapur, hubungan antar anggota semakin erat, terciptanya kepedulian kepada anggota dan lingkungan.
7. Ibu Yuni
Kahar Anggota KRPL Tiga tahun
Menambah pengetahuan, Mengkonsumsi makanan sehat dan organik, menghemat anggaran
belanja dapur,
menumbuhkan kebiasaan sehat.
Jika melihat tabel diatas, maka terlihat bahwasannya dalam mencapai target jangka panjangnya, hingga saat ini program KRPL memang memberikan dampak positif, namun belum mengalami pencapaian yang signifikan. Hal ini dapat dilihat dari aspek ekonomi yang sebelumnya anggota KWT Harmoni harus membeli makanan jenis sayur-sayuran, buah-buahan dan bumbu dapur lainnya. Akan tetapi setelah menjadi KWT Harmoni kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dari lahan pekarangannya sendiri biarpun tidak dalam jumlah yang banyak. Jadi KRPL sedikit banyak telah memberikan dampak terhadap pengeluaran konsumsi kebutuhan pangan rumah tangga dan terhadap penghematan anggaran konsumsi rumah tangga.
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Bedasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai Evaluasi Dampak Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) dalam upaya pemberdayaan masyarakat oleh Yayasan Gerakan Peduli Lingkungan (YGPL) Pekayon di Pondok Pekayon Indah-Pekayon Jaya Bekasi dengan rumusan masalah: Bagaimana evaluasi dampak dari program Kawasan Rumah Pangan Lestari dalam upaya pemberdayaan masarakat yang dilakukan oleh Yayasan Gerakan Peduli Lingkungan (YGPL) Pekayon di Pondok Pekayon Indah-Pekayon Jaya Bekasi? Dapat disimpulkan sebagai berikut:
Pelaksanaan program KRPL yang dilakukan pada Kelompok Wanita Tani (KWT) Harmoni melalui pembinaan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat sejak April 2013 sampai 2014 dan penyuluhan dari Dinas Perekonomian Rakyat (DISPERA) kota Bekasi pada 2015 dengan model vertikultur menggunakan pot dan polybag mampu memiliki dampak positif dalam penerapannya. Dampak positif tersebut meliputi tiga aspek yaitu: Aspek sosial, aspek ekononomi dan aspek ekologi. Masing-masing aspek memiliki manfaat dan hasil dari penerapan program pada KWT Harmoni.
Dampak positif pada aspek sosial dapat disimpulkan bahwa Program KRPL berupaya memberdayakan KWT Harmoni dengan
bertambahnya pengetahuan seputar urban farming sebagai sarana belajar dan rekreasi yang dapat digunakan untuk berkumpul serta melakukan kegiatan sosial positif lainnya sehingga meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik melalui kegiatan program dengan memilih sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya seperti tujuan dari pemberdayaan.
Dampak positif pada aspek ekonominya yaitu melalui lahan pekarangannya beberapa anggota dapat memenuhi kebutuhan dapur seperti sayuran, toga, buah-buahan untuk dikonsumsi sendiri dan bersama keluarga karena faktor yang membedakan keberhasilan setiap anggota KWT Harmoni adalah perbedaan usaha ketekunan maupun kerajinan anggota dalam merawat pekarangannya dan turut menghemat BBM. Program KRPL Pekayon belum pada kategori menghemat anggaran belanja dalam jumlah besar, sedikitnya dapat menghemat pengeluaran belanja sayuran dari penghematan itu bisa digunakan membeli kebutuhan lainny lalu program ini belum bisa dijadikan sebagai sumber penghasilan pendapatan anggota, namun yang terpenting adanya pengembangan dalam meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik melalui aktivitas ini.
Selanjutnya, dampak positif dari aspek ekologi sebagai sarana pendidikan yang dapat dimanfaatkan untuk tempat bermain maupun arena belajar anak-anak usia dini (tingkat Taman Kanak/Playgroup) sebagai media pengenalan lingkungan hidup. Lingkungan pun akan terasa sejuk, asri, sampah dapat diolah menjadi barang-barang yang lebih bermanfaat, penghilang kejenuhan, pemberi keindahan, mengurangi pencemaran lingkungan dari penghijauan yang dilakukan. Tidak hanya memberikan
manfaat pada lingkungan, dengan menanam sendiri makanan dapat terbebas dari zat-zat kimia, menumbuhkan kebiasaan sehat dari makanan organik tersebut.
Bedasarkan hasil analisis dan temuan dilapangan, dapat dikatakan bahwa program KRPL pada KWT Harmoni yang dilaksanakan BPTP dan DISPERA dapat mengembangkan potensi anggota KWT Harmoni agar mampu meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik melalui kegiatan KRPL yang memberikan banyak manfaat bagi mereka.
B. Saran
Bedasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa untuk memaksimalkan dampak dari Program KRPL pada KWT Harmoni, peneliti menyarankan sebagai berikut:
1. Untuk periode waktu yang akan datang masih diperlukan adanya suatu pembinaan-pembinaan yang lebih intensif. Agar program KRPL dapat terus berlanjut dan tidak sepenuhnya bergantung pada dana pemberian dinas-dinas yang terkait program KRPL ini.
2. Diharapkan pada KWT Harmoni yang belum aktif dan memaksimalkan pekarangannya, dapat memanfaatkan lahan pekarangannya untuk berkembang diusahatani.
3. Diharapkan pada kegiatan produksi kompos dapat memaksimalkan penjualannya agar dapat berorientasi ke pasar.
DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Adi, Isbandi Rukminto. Pemberdayaan Pengembangan Masyarakat dan Intervensi Komunitas, Jakarta: FEUI, 2001.
Adi, Isbandi Rukminto. Pemikiran-pemikiran dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial, Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI, 2002.
Afri, San. Panduan Pemberdayaan Lembaga Masyarakat Desa hutan (LMDH), Jakarta: Harapan Prima, 2008.
Arikunto, Suharismi. Penilaian Program Pendidikan, Jakarta: PT. Bina Aksara, 1998.
Ashari, Sumeru. Hortikultura Aspek Budidaya, Jakarta: UI-Press, 1995.
Baeshowi, Bachrum Achmad. Pertanian Terpadu dan Argribisnis, Ciputat: Intelektifa Pustaka, 2004.
Gunawan, Imam. Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik, Jakarta: Bumi Aksara, 2013.
Hafsah, Mohamad Jafar. Penyuluhan Pertanian Di Era Otonomi daerah, Jakarta: PT. Pustaka Sinar Harapan, 2009
Hidayati, Nurul. Metode Penelitian Dakwah: Dengan Pendekatan Kualitatif, Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2006.
Idrus, Muhamad. Metode Penelitian Ilmu Sosial Pendekatan Kualitatif dan Kuantitaitf, Yogyakarta: Erlangga, 2009.
Mardikanto, Totok. Dan Soebiato, Poerwoko. Pemberdayaan Masyarakat (Dalam Perspektif Kebijakan Publik),Bandung: ALFABETA cv, 2013.
Moleong, Lexy. J. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Rosdakarya, 2000.
Nasdian, Fredinan Tonny. Pengembangan Masyarakat, Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia: 2014.
Nurmala Tati, dkk. Pengantar Ilmu Pertanian, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012. Sanusi, Benny. Sukses bertanam sayuran di lahan sempit, Jakarta: Argo Media
Pustaka, 2011.
Sasono, Herfin dan Riawan, Nofiandi. Mudah Membuahkan 38 Tabulampot Paling Populer, Jakarta Selatan: PT Argo Media Pustaka, 2014.
Srinivisan,Viji. Metode Evaluasi Partisipatoris, dalam Walter Fernandes dan Rejesh Tandon (Editor), Risset Partisipatoris-Riset Pembebasan, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993.
Suharto, Edi. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat, Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial & Pekerjaan Sosial, Bandung: PT. Refika Aditama, 2005.
Suratmo, Gunawan. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2007.
Sutarminingsih, Lilies. Vertikultur Pola Bertanam secara Vertikal, Yogyakarta: Kasinus Anggota IKAPI, 2003.
Tambunan, Tulus. Pembangunan Pertanian dan Ketahanan Pangan, Jakarta: UI- Press, 2010.
Tim Peneliti Agriflo. Urban Farming Bertani Kreatif Sayur, Hias & Buah, Jakarta: Agriflo Penebar Swadaya Grup, 2016.
Tim Penyusun. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1995. Widyawati, Nugraheni. Cara Mudah Bertanam 29 Jenis Sayur Dalam
Pot,Yogyakarta: Lily Publisher, 2015.
Wignjopranoto, Janti. Raharjo, Selamet dan Kuncoro, T. A. Rumah Organik Memanfaatkan setiap sudut rumah untuk bertanam secara organik, Jakarta: PT Agro Media Pustaka, 2015.
Zulkarnain. Dasar-dasar hortikultura, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009.
KAMUS
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: 2001.
SKRIPSI
Siti Fatimatus Zahro. Kontribusi Kawasan Rumah Pangan Lestari dalam Mendukung Kesejahteraan Masyarakat: Studi kasus Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Skripsi S1 Fakultas Ekonomi dan Manajement, Institut Pertanian Bogor, 2012.
Zudika DM Manullang. Evaluasi Dampak Program Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas) dalam pemberdayaan masyarakat, Skripsi S1 FISIP, Universitas Sumatera Utara, 2014.
Firdaus Harahap. Keberhasilan Program Urban Farming Di Kota Surabaya, Skripsi S1 Fakultas Pertanian, Universitas Pembangunan Nasional (VETERAN) Surabaya, 2014. Artikel di akses pada 2 Mei 2015 dari http://eprints.upnjatim.ac.id
JURNAL
Sriharini. Pondok Pesantren dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam vol 1, FDK UIN Yogyakarta September, 2003.
RozaYulida. Kontribusi Usahatani Lahan Pekarangan terhadap Ekonomi Rumah Tangga Petani Di Kecamatan Kerinci Kabupaten Pelalawan,Vol 3, No. 2 (Riau: Indonesian Journal Of Argicultular Economics (IJAE), Jurusan Agribisnis Faperta Universitas Riau, Pekan baru. Desember 2012.
Ashari, Saptanadan Tri Bastuti Purwantini. Potensi dan prospek pemanfaatan lahan pekarangan untuk ketahan pangan, Forum Penelitian Agro Ekonomi, V. 30, No. 1, Juli 2012.
Novi Puspitasari, Heien Puspitawati, Tin herawati. Peran Gender, Kontribusi Ekonomi Permpuan dan Kesejahteraan Keluarga Petani Hortikultura, Vol. 6, No. 1, Bogor: Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia IPB, Januari 2013. Artikel diakses pada 30 maret 2016 dari http://journal.ipb.ac.id
Ana Jauharul Islam, Saleh Soeaidy, Ainul Hayat. Evaluasi dampak mutu pendidikan dasar, Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol. 1, No. 6, Jurusan Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya, Malang. Artikel diakses pada Jumat, 24 Juni 2016 dari http://administrasipublik.studentjournal.ub.ac.
Widianto dkk. Pemodelan dan Simulasi Berbasis Agen untuk Sistem Kegiatan Urban farming Komunitas Bandung Berkebun, Jurnal Online Institut Teknologi Nasional, vol. 01no. 4, Maret 2014. Artikel diakses pada Jumat, 29 April 2016 dari http://id.portalgaruda.org.
WEBSITE
http://www.catatansenja.com/2015/10/arti-dan-makna-quran-surat-al-araf-
ayat.html oleh Mushani Ramdany. Diakses pada Senin, 23 Mei 2016 pukul 16.33 WIB.
http://jakarta.litbang.pertanian.go.id. Diakses pada Rabu, 17 Februari 2016 pukul 08:38 WIB.
http://www.ygplpekayon.com. Diakses pada Rabu, 17 Februari 2016 pukul 08:04 WIB.
WAWANCARA
Wawancara pribadi dengan Ibu Ir. Lala Gozali sebagai Dewan Pembina di Yayasan Gerakan Peduli Lingkungan (YGPL) Pekayon pada 12 April dan 19 Juli 2016.
Wawancara pribadi dengan Bapak Ir. Sukowitono sebagai Ketua RW 11 Pekayon Jaya pada 22 Agustus 2016.
Wawancara pribadi dengan Ibu Siti Nurul sebagai Ketua Progam Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) pada 22 Agustus 2016.
Wawancara pribadi dengan Ibu Lucia sebagai anggota KRPL pada 26 Agustus 2016.
Wawancara pribadi dengan Ibu Hj. Wirda Zulfikar sebagai anggota KRPL pada 26 Agustus 2016.
Wawancara pribadi dengan Ibu Isa Fitri sebagai anggota KRPL pada 26 Agustus 2016.
Wawancara pribadi dengan Yuni Kahar sebagai anggota KRPL pada 26 Agustus 2016.
Wawancara pribadi dengan Ibu Rustinah Hasan sebagai ketua (YGPL) Pekayon pada 27 Agustus 2016.
MEDIA CETAK
Buletin Yayasan Gerakan Peduli Lingkungan (YGPL) Pekayon seri 04 tahun 2008 s/d 2010.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Indonesia telah lama dikenal sebagai Negara agraris yang kaya akan ketersediaan pangan dan rempah yang beraneka ragam. Hal ini disebabkan karena kondisi iklim serta letak geografis yang sangat menunjang. Semua ada di Indonesia, lahan subur untuk pertanian dan perkebunan. Pada umumnya, isi kebun di Indonesia adalah berupa tanaman buah, tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman bumbu masak, tanaman obat-obatan, tanaman penghasil rempah-rempah yang disebut tanaman hortikultura yang dapat tumbuh dan dibudidayakan di Indonesia.1
Semua mahakarya luar biasa ini adalah kekuasaan Allah SWT yang sudah disediakan oleh-Nya untuk keberlangsungan hidup semua makhluk ciptaan-Nya. Maka, Allah melarang siapapun untuk berbuat kerusakan dalam segala bidang. Sebagaimana telah dijelaskan dalam al-Quran Surah al-A’raf ayat 56:
Ĝِم مبيرق ّ تĚحر َěإ ًاعĚطģ ًافĤخ ğĤعداģ اĢحاصإ دعب ضرأا يف اģدسفت اģ )ĜيĞسحĚلا 65
)
“Dan janganlah kamu membuat kerusakandi muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya
1Zulkarnain, “
rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56)2 Dalam kehidupannya manusia memiliki beberapa kebutuhan pokok antara lain: 1) pangan untuk energi, nutirisi dan mineral, 2) papan dan 3) sandang.3 Terlebih pada zaman sekarang dalam pemenuhan gizi dan memiliki pangan yang cukup untuk mempertahankan kehidupan masyarakat yang sehat dan produktif. Tak heran jika semakin banyak orang berusaha hidup dengan prinsip back to nature. Masyarakat mulai memperhatikan dengan apa dan dari mana bahan pangan yang mereka konsumsi. Bagi mereka yang tinggal di perkotaan, hiruk-pikuk kehidupan dan mobilitas yang tinggi melahirkan ketergantungan terhadap pembagian fungsi sosial.4
Namun saat ini Indonesia memasuki masa dimana permintaan akan kebutuhan pangan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk yang tidak seimbang dengan penyediaan pangan. Tidak hanya pangan, kebutuhan lainnyapun dibawah kecukupan.5 Badan Pusat Statistik (BPS) menghitung laju pertumbuhan penduduk tahun 2005-2010 diperkirakan akan mencapai 1,3%, 2011-2015 sebesar 1,18% dan 2025-2030 sebesar 0,83%.6 Hal ini sudah terjadi diperkotaan lalu menyebabkan lahan pertanian beralih fungsi menjadi bangunan dan pemukiman padat untuk mendukung kehidupan masyarakat.
2
http://www.catatansenja.com/2015/10/arti-dan-makna-quran-surat-al-araf-ayat.html oleh Mushanif Ramdany artikel diakses pada Senin, 23 Mei 2016 pada pukul 16.33
3
Tati Nurmala, dkk, “Pengantar Ilmu Pertanian”, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012), cet- 1, h. 8.
4 Benny Sanusi, “
Sukses bertanam sayuran di lahan sempit”, (Jakarta: Argo Media Pustaka, 2011), cet-3, h. 2.
5
Sumeru Ashari, “Hortikultura Aspek Budidaya”, ( Jakarta: UI-Press, 1995), Edisi revisi cet-1, h. 3.
6 Tulus Tambunan, “Pembangunan Pertanian dan Ketahanan Pangan”
, (Jakarta: UI- Press, 2010), h. 85.
Dan hal ini mengharuskan lingkungan perkotaan menyiapkan ruang dan berbagai fungsi sosial lainnya. Sementara, semua fasilitas sangat membutuhkan lahan yang akhirnya akan terus mendesak eksistensi lahan pertanian subur disekitarnya.7 Dengan kondisi pertanian saat ini, ketahanan pangan mungkin sulit untuk dicapai. Pertanian harus berubah seiring dengan kemajuan teknologi untuk masa depan yang lebih baik. Melalui Urban Farming (berkebun di kota) dapat menjadi salah satu cara potensi dalam menyikapi terbatasnya lahan di perkotaan besar.8 Dengan memanfaatkan lahan sempit atau pekarangan kosong disekitar rumah yang kebanyakan dibiarkan dan tidak terawat, dapat diubah menjadi lahan produktif yang dapat menghasilkan income dengan cara menanami lahan sempit tersebut.
Dalam penjelasan skripsi Siti Fatimatu Zahro menyatakan komitmen kementrian pertanian 2011 untuk melibatkan rumah tangga dalam mewujudkan kemandirian pangan, diversifikasi pangan berbasis sumberdaya lokal, dan konservasi tanaman untuk masa depan dengan budaya menanam di pekarangan. Dengan itu, agar mampu menjaga keberlanjutan pemanfaatan pekarangan, maka perlu dilakukan pembaruan rancangan pemanfaatan pekarangan dengan memperhatikan berbagai program yang telah berjalan seperti Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) dan Gerakan Perempuan Optimalisasi Pekarangan (GPOP). Pemerintah melakukan perpaduan program tersebut agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung
7
Lilies Sutarminingsih, “Vertikultur Pola Bertanam secara Vertikal”, (Yogyakarta: Kasinus Anggota IKAPI, 2003),h. 13.
8
Tim Peneliti Agriflo, “Urban Farming Bertani Kreatif Sayur, Hias & Buah”, (Jakarta : Agriflo Penebar Swadaya Grup, 2016), h. 35.
oleh masyarakat, maka terciptalah Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL).9
Kementerian Pertanian bersama Badan Litbang Pertanian di Indonesia, melaksanakan suatu program percontohan (model) dan wahana pembelajaran bagi kelompok masyarakat di pedesaan maupun perkotaan. Langkah yang dilakukan oleh pemerintah yaitu melalui rintisan awal yang dinamakan Model KRPL (M-KRPL) kemudian secara kreatif dan kritis dikembangkan menjadi konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL).10 RPL adalah rumah penduduk yang mengusahakan lahan pekarangan secara intensif untuk dimanfaatkan dengan berbagai sumberdaya lokal secara bijaksana yang menjamin kesinambungan penyediaan bahan pangan berskala rumah tangga yang berkualitas dan beragam serta untuk pemenuhan kebutuhan harian masyarakat .11 Selain itu program ini juga bertujuan untuk pemberdayaan masyarakat terutama kaum ibu rumah tangga yang dapat membantu menambah pendapatan rumah tangga.
Program ini adalah solusi kaum perempuan untuk ikut memikirkan pembangunan pertanian di Indonesia termasuk kaum ibu-ibu tani di perkotaan. Peran ini akan menciptakan keuntungan ganda karena disatu sisi kaum perempuan dapat memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga dan ikut membantu meringankan beban keluarganya serta menambahkan pendapatan
9
Siti Fatimatus Zahro “Kontribusi Kawasan Rumah Pangan Lestari dalam Mendukung Kesejahteraan Masyarakat: Studi kasus Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten
Pacitan, Jawa Timur” (Skripsi S1 Fakultas Ekonomi dan Manajement, Institut Pertanian Bogor, 2012), h. 5.
10
http://jakarta.litbang.pertanian.go.id Artikel diakses pada Rabu, 17 Februari 2016 pada pukul 08:38 wib.
11
http://www.ygplpekayon.comArtikel diakses pada Rabu, 17 Februari 2016 pada pukul 08:04 wib.
keluarga sedangkan disisi lain ikut membangun pembangunan pertanian di daerahnya.12
Karena Perempuan secara langsung maupun tidak langsung ikut terlibat dan bertanggung jawab dalam mengelola kegiatan usaha yang berhubungan dengan peningkatan kesejahteraan keluarga.Wiryono (1994) menjelaskan bahwa keikutsertaan perempuan dalam mencari nafkah pendukung akan membawa dampak positif yaitu adanya peningkatan terhadap struktur sosial dalam keluarga.13
Salah satu kawasan yang mengembangkan program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) secara swadaya ada di Kawasan Perumahan Pondok Pekayon Indah (PPI)-Pekayon Jaya. Sebagian besar masyarakatnya belum melakukan optimalisasi pekarangan dan pengembangan pertanian. KRPL di PPI ini menjadi salah satu unit pengembangan di bawah Yayasan Gerakan Peduli Lingkungan (YGPL) Pekayon. Salah satu tujuan didirikan KRPL adalah memberikan informasi mengenai kontribusi pengembangan KRPL dalam mendukung kesejahteraan masyarakat sehingga mampu mewujudkan kemandirian masyarakat. Tujuan lain dari KRPL ini adalah mendukung pemenuhan kebutuhan rumah tangga, membuat konsumsi pangan warga lebih beragam sehingga asupan gizi berimbang dan mengestimasi biaya pengeluaran