hutan, dengan demikian inventarisasi hutan merupakan dasar bagi perencana an manajemen hutan (Loetsch dan Haller, 1973).
Siahaya (1984), Inventarisasi hutan biasanya dipandang sebagai penaksiran massa kayu (timber estimate). Dalam hal ini suatu inventarisasi hutan adalah kegiatan atau usaha untuk melukiskan secara kuantitas dan kualitas pohon-pohon hutan (standing trees) atau tegakan dalam arti keseluruhan dan sifat-sifat yang menumbuhkan tegakan tersebut.
Husch (1971), mengemukakan bahwa inventarisasi hutan yang lengkap harus mencakup uraian areal berhutan dan pemilikannya, taksira massa kayu tegakan, taksiran riap dan etat. Untuk maksud specifik inventarisasi hutan dapat lebih dititik beratkan pada satu diantara masalah tersebut untuk keperluan manajemen hutan atas dasar prinsip kelestarian hasil keseluruhan harus tercakup.
Adapun tujuan inventarisasi hutan adalah untuk mendapatkan data tentang areal yang berhutan, massa tegakan serta komposisinya (Anonim, 1976).
Pengertian lain tentang inventarisasi hutan dikemukakan oleh Soediono (1976), sebagai suatu penerapan metode ilmiah dalam memperoleh data mengenai kekayaan hutan guna bahan dasar dalam perencanaan hutan.
Dalam melaksanakan inventarisasi mengenai keadaan hutan terutama keadaan tegakan sesuai dengan tujuan yang diinginkan, tidak mungkin dengan
menginvetarisasi seluruh tegakan yang ada karena memerlukan waktu, tenaga dan biaya yang besar. Oleh karena itu sebagai alternatif lain didalam penarikan contoh atau sampling (Hitam, 1977)..
Lebih lanjut dikatakan dengan menggunakan metode statistik yang sesuai penarikan contoh merupakan metode pengambilan data yang efisien dengan biaya murah, waktunya singkat, ketelitian tinggi dari data yang dikumpulkan dan dapat dipercaya dalam penaksiran populasi.
B. Pertumbuhan dan Perkembangan Tegakan
Pengertian pertumbuhan pohon adalah suatu perkembangan yang menunjukkan pertambahan dan suatu sistem organ hidup yang terdapat didalam pohon selama hidupnya (Anonim, 1993).
Menurut Baker (1950), yang dimaksud dengan pertumbuhan pohon adalah pertambahan tumbuh membesar dan terbentuknya jaringan-jaringan baru. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa pertumbuhan pohon meliputi pertumbuhan bawah dan pertumbuhan atas.
Dalam bidang kehutanan, pertumbuhan pohon sangatlah penting untuk dipelajari sebagai suatu pedoman atau cara untuk mengetahui pertambahan riap, sehingga dapat diketahui hasil tegakan (volume). Riap merupakan pertambahan tumbuh pohon dalam jangka waktu tertentu, dimana pertumbuhan dan riap ini merupakan dua istilah yang dikenal dari sudut pandang Autekologi (ekologi suatu jenis pohon).
Pertumbuhan dan perkembangan dari masing- masing pohon atau tegakan berbeda, seperti tinggi dan diameter dan bidang dasar tidak sama dalam pertumbuhan pohon (Soekotjo, 1976).
Menurut Dipodiningrat (1985) kerapatan tegakan memperlambat pertumbuhan diameter, tetapi dapat merangsang pertumbuhan tinggi. Hal ini disebabkan karena pohon mengkonsentrasikan energi untuk tajuknya.
1. Pertumbuhan Tinggi
Yang dimaksud dengan tinggi adalah jarak terpendek antara satu titik dengan titik proyeksinya pada bidang horizontal atau bidang datar. Sedangkan yang dimaksud dengan panjang adalah jarak yang menghubungkan antara dua titik yang diukur menurut atau tidak menurut garis lurus (Endang, 1990 ).
Kerapatan tegakan akan memberikan pengaruh yang nyata, terhadap pertumbuhan tertinggi dan pertumbuhan dapat dipercepat dengan menyediakan ruang tumbuh yang lebih luas. Untuk mempelajari pertumbuhan tinggi tegakan, diperlukan rataan tinggi. Dengan bertambahnya nilai rataan ini bukan mewakili suatu jumlah yang tetap, melainkan mewakili populasi yang terus berkurang jumlahnya.
Loetsch, et all Dan Haller (1973) menyatakan dalam inventore hutan biasanya dikenal beberapa macam tinggi pohon yaitu :
a. Tinggi Total, yaitu tinggi dari pangkal pohon di permukaan tanah sampai puncak pohon
b. Tinggi bebas cabang atau permukaan tajuk yaitu tinggi pohon dari pangkal batang dipermukaan tanah sampai batang pertama yang memberntuk tajuk
c. Tinggi batang komersial adalah tinggi batang yang pada saat itu laku di jual dalam perdagangan
Beberapa alat ukur tinggi pohon menurut Pariadi (1979) di bedakan atas dua golongan yaitu :
a. Alat yang memerlukan pengukuran jarak antara lain abney level, forest service hysometer, fausmen, weise, spigel relascope biterlinch dan lain-lain.
b. Alat yang tidak memerlukan jarak yang antara lain christen hypsometer, walking stick dan lain- lain.
Kemudian menjelaskan tentang kesalahan-kesalahan pengukuran tinggi pohon berdasarkan penyebabnya yang dibedakan :
a. Kesalahan alat
b. Kesalahan tenaga pengukur
c. Kesalahan keadaan pohon (obyek) yang diukur
d. Kesalahan faktor hujan, angin, topografi yang sulit dicapai dan sebagainya.
2. Pertumbuhan Diameter
Diameter pohon pada dasarnya adalah merupakan panjang garis lurus antara dua titik pada busur lingkaran yang melalui titik pusat limgkaran tersebut (Suharlan dan Soedio no, 1973).
Pariadi (1979) mendefinisikan diameter pohon adalah lebar pangkal batang pohon yang ditarik dari jarak dua titik tengah lingkaran yang pada umumnya mengecil kebagian ujung.
Perkembangan diameter tegakan dapat dipengaruhi oleh kerapatan pohon, oleh karena diameter ini dipengaruhi pula dengan ruang tumbuh yang ada. Dengan bertambahnya ruang tumbuh dari suatu tegakan, maka tiap diameter dari tegakan akan bertambah besar sampai mencapai pemanfaatan ruang tumbuh yang maksimal (Arwini, 1990)
Menurut Pariadi (1979) beberapa standar yang digunakan untuk pengukuran diameter tanaman yaitu :
a. Bagi tanaman berdiri, diameter diukur pada ketinggian 130 cm di atas permukaan tanah (diameter setinggi dada atau diameter of breast height = dbh).
b. Bagi tanaman berdiri yang berbanir, diameter diukur pada pada ketinggian 20 cm di atas benir.
c. Bagi tanaman yang berdiri yang bercabang adalah sebagai berikut :
1) Ketinggian cabang di atas 130 cm, diukur pada ketingian 130 cm daripermukaan tanah.
2) Ketinggian cabang kurang dari 130 cm diukur pada ketinggian 100 cm dari cabang dan dianggap dua pohon.
3) Ketinggian cabang tepat/sama 130 cm, diukur ke bawah dari cabang + 10 cm.
4) Untuk tanaman berdiri pada tanah miring, diameter diukur pada ketinggian 130 cm dari bagian tanah miring yang atas.
5) Bagi tanaman menggembung pada ketinggian 130 cm, diukur pada ketinggian 1- 20 cm di atas bagian tepi yang menggembung.
6) Untuk tanaman miring, diameter diukur pada ketinggian 130 cm searah miring tanaman.
Selanjutnya menerangkan alasan-alasan tentang cara pengukuran diameter setinggi 130 cm yaitu :
a. Bagi para rimbawan ketinggian tersebut merupakan ketinggian yang mudah dicapai.
b. Biasanya pada ketingiaan tersebut tidak terdapat ketidakrataan batang dan pada kebanyakan pohon daerah beriklim sedang, pengaruh banir sudah berkurang.
Anonim (1993) menjelaskan tentang pengukuran diameter untuk pohon-pohon bercabang dan sama besar diameternya serta pohon yang condong adalah seperti pada gambar dibawah ini.
Gambar 1. Bentuk bentuk Percabangan Dalam Kegiatan Inventarisasi
Keterangan :
a = Percabangan tepat pada ketinggian dada, dihitung sebagai satu pohon dan diameter diukur dibawah percabangan.
b = Percabangan diatas 130 cm, dihitung sebagai satu pohon
c = Percabangan dibawah 130 cm, dihitung sebagai dua pohon dan diameter diukur dua-duanya
d = Pohon condong, diameter diukur 130 cm diatas tanah.
Pariadi (1979) menjelaskan bahwa kesalahan-kesalahan dalam pengukuran diameter dapat dibedakan oleh :
a. Pembacaan skala yang kurang seksama. b. Posisi alat yang tidak benar.
Diameter merupakan salah satu parameter pohon yang mempunyai arti penting dalam pengumpulan data tetang potensi hutan untuk keperluan pengelolaan, karena keretbatasan alat yang tersedia, sering kali pengukuran
a b c
keliling (K) lebih banyak dilakukan, setelah itu sikonfirmasikan kediameter (D) dengan menggunakan rumus yang berlaku untuk lingkaran, yaitu D=K/?
Pengukuran diameter adalah mengukur garis antara dua titik paa lingkaran yang melalui titik pusat lingkaran tersebut.
Gambar 2. Pengukuran diameter
Pegukur diameter yang lazim dilakukan adalah diameter setinggi dada (Diameter of breast heigh = dbh), karena :
a. Merupakan bagian yang paling gampang di nilai dan diukur.
b. Diameter setinggi dada merupakan elemen pengukuran yang paling penting dan merupakan dasar untuk banyak perhitungan lain.
c. Sebagai dasar penentuan distribusi diameter batang yang merupakan hasil inventarisasi yang paling diperlukan.
Dalam mengukur diameter, umumnya diukur pada garis setinggi dada atau megukur diameter secara langsung yaitu phiband,dengan cara melingkarkan alat pada keliling pohon yang berbanir yang dimaksud banir disini adalah pembesaran bagian 130 cm diatas permukaan tanah untuk pohon yang tidak berbanir.
Sedangkan untuk bawah batang dekat permukaan tanah yang disebabkan oleh adanya akar tunjang, akar papan atau pembengkakan.
Alat ukur yang dapat pohon.
C. Tinjauan Umum Meranti Merah (Shorea leprosulla)
Di Kalimantan, shorea adalah genus yang mempunyai jenis sangat berlimpah. Banyaknya jenis pada famili Dipterocarpaceae adalah 267 jenis dimana genus Sorea mempunyai 127 jenis (Symington, 1974).
Symington (1974) membagi genus meranti menjadi empat group utama yaitu gorup balau, group meranti putih, group meranti kuning dan group meranti merah. Di Indonesia tiga group penting yang komersil adalah group meranti putih, meranti kuning dan meranti merah.
Meranti merah adalah nama yang umum di Sumatra dan Kalimantan untuk shorea leprosula, jenis ini termasuk Dipterocarpaceae. Meranti merah berupa pohon yang dapat mencapai tinggi 70 meter dan diameter 110 cm dengan tajuk tipis dan lebar, berbentuk payung dan berwarna merah pucat. Batangnya tinggi, tegak dan lurus berbanir, berwarna coklat keabu-abuan, sering mengeluarkan damar dan bila kering berwarna kuning. Daunnya tunggal berbentuk bulat telur sampai jorong, berwarna kuning coklat pada permukaan bawah yang berubah merah pucat bila kering.
Anonim (1980) mengemukakan ciri-cri umum meranti merah adalah sebagai berikut :
Morfologi Tanaman Meranti Merah a. Habitus
Tinggi pohon mencapai 70 meter, batang bebas cabang 30 meter, diameter mencapai 100 cm atau lebih. Tinggi banir 3,5 meter, tebal 20 cm. Memiliki tajuk tipis dan lebar berbentuk payung berwarna merah tembaga pucat.
b. Batang
Tebal kulit luar kira-kira 5 mm, berwarna abu-abu atau coklat sedikit beralur bagian dalam mengelupas agal besar-besar dan tebal. Kulit hidup mencapai 20 mm, penampangnya berwarna coklat muda sampai kemerah- merahan, kayu teras berwarna coklat muda sampai kemerah- meraha n peralihan dari gubal keteras secara berangsur-angsur, damar berwarna putih kekuningan.
c. Daun
Rata-rata hampir meyerupai segi empat memanjang atau bulat telur terbalik memanjang pangkal dan membulat, ujung runcing, asal panjang rata-rata 3-13 cm, lebar 3-5 cm, permukaan bawah suram, terdapat kumpulan bulu-bulu binatang yang meyerupai jahitan pada tulang daun primer dan sekunder. d. Buah
Buah berbentuk bulat telur, ujung agak lancip berbulu halus berwarna pucat, panjang 1-1,5 cm diameter kira-kira 1 cm, sayapnya lebar 1-1,5 cm, mempunyai urat 7-8,2 sayapnya pendek berbentuk garis, lancip, panjang 2-3,5 cm.
e. Bunga
Bunga majemuk tersusun mulai dari kecil, pendek berwarna kuning. Mulai berbunga pada bulan Agustus sampai Oktober.
f. Biji
Banyaknya biji per kilogram tergantung jenisnya. Untuk jenis Shorea acuminata mempunyai jumlah sampai 560 butir per kilonya, sedangkan Shorea macroptera mempunyai jumlah sampai 55 butir per kilonya.
Penyebaran dan Tempat Tumbuh
Terdapat di Sumatra, Kalimantan, Thailand, Serawak, Brunei dan Sabah. meranti dominan berada di daerah beriklim tropis basah sampai dengan ketinggian 750 m dpl, di Kalimantan dan Sumatera banyak tersebar di hutan Dipterocarpaceae tanah rendah dan berbukit, biasanya meranti tumbuh pada tanah rendah dan berpasir ahkan di tanah rawa atau gambut. Dalam membudayakan banyak dilakukan dengan cara biji, semai dan anakan, meranti berbunga pada bulan November sampai dengan Februari dan berbuah pada bulan Desember sampai dengan Februari setiap 4 – 5 tahun sekali.
Kegunaannya
Kayu dari jenis ini dipergunakan untuk kayu lapis merupakan kegunaan yang utama. Disamping itu juga digunakan sebagai bahan bangunan, mebel, hingga bahan baku pulp ( bubur kertas ). Untuk keperluan bangunan seperti balok, galar, kaso, pintu dan jendela, kayu meranti termasuk mudah dikerjakan sampai halus. Sedangkan damarnya untuk menambah menjadi bahan penerangan (lampu).
a. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan
Soekotjo (1979), menyatakan bahwa tempat tumbuh hanya berbeda dengan alam vegetasi yang dihasilkan, namun berbeda juga dalam faktor iklim, tanah dan faktor lainnya. Semua faktor ini menyebabkan perbedaan-perbedaan di dalam vegetasi yang tumbuh pada bermacam- macam tempat tumbuh.
Tumbuhan untuk dapat tumbuh secara optimal memerlukan hal- hal yang menunjang, menurut Danaatmadja (1989), hal yang menunjang tersebut yaitu: a. Faktor genetik (internal)
Faktor genetik ini adalah gen atau sifat bawaan yang diturunkan dari induknya seperti kecepatan tumbuh, bentuk tajuk, banyaknya cabang dan lain-lain, di sini termaksud juga kematangan biji atau buah, sebagai sifat bawaan hal ini bersifat internal.
b. Faktor lingkungan (eksternal) Tumbuhan-tumbuhan tumbuh teratur di bawah pengaruh lingkungan hidup
yang terutama ditentukan oleh faktor iklim, tempat tumbuh dan bentuk serta letak lapangan (relief).
Menurut Abidin (1984) yang dikutip Susanti (1996), faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan antara lain :
1. Air, adalah faktor penting yang sangat diperlukan dalam tumbuhan, kehadiran air di sini sangat penting untuk aktifitas enzim serta penguraiannya, traslokasi serta kebutuhan lainnya.
2. Udara juga merupakan faktor luar yang penting untuk pernafasan atau transpirasi pada pertumbuhan organ-
3. Tempat tumbuh
Soetrisno (1996), menyatakan tempat tumbuh berpengaruh pada kehidupan tumbuh tumbuhan. Faktor- faktor tersebut yaitu :
a. Faktor klimatis
Cahaya matahari, kelembaban dan temperatur merupakan elemen-elemen dari faktor klimatis. Cahaya sangat berperan dalam menentukan pertumbuhan suatu tumbuhan demikian pula dengan kelembaban serta temperatur. Faktor klimatis ini sangat menentukan iklim suatu daerah yang berperan penting dalam pertumbuhan terutama proses metabolisme yang terjadi pada tumbuhan.
b. Faktor fisiografis
Menggambarkan bentuk permukaan tanah dan sejarah bentuk biologinya (ketinggian tempat, kelerengan dan aspek konfigurasi bumi). Faktor-faktor ini sangatlah menentukan pertumbuhan suatu tanaman. c. Faktor edafis
Faktor edafis menggambarkan sifat fisik tanah, kimia tanah dan biologi tanah. Tanah merupakan campuran yang heterogen dan beragam dari partikel mineral anorganik, hasil rombakan bahwa organik dan berbagai jenis mikro organisme, bersama-sama dengan udara dan air yang di dalamnya terlarut berbagai garam- garam anorganik dan senyawa anorganik. Tanah juga merupakan tempat tumbuh dan tumbuhan itu sendiri untuk berkembang biak.
d. Faktor biotis
Manusia, hewan dan tumbuhan (lingkungan biotik) merupakan elemen-elemen yang berpengaruh terhadap pertumbuhan. Kegiatan penebangan, pembakaran hutan serta aktifitas lainnya seperti pengelolaan tanah, pencemaran udara dan air, yang merupakan aspek-aspek biotik yang berpengaruh terhadap penyerbukan, penyebaran biji dan buah juga persaingan antara parasit dan simbiosis dengan tumbuhan lainnya. Hal ini akan berpengaruh terhadap pertumbuhan.
E. Hubungan Tinggi dan Diameter
Diameter dan panjang pohon atau tanaman seumur dan sejenis dapat dijelaskan dengan menggunakan metode regresi (Anonim, 1992 ) yaitu dengan menghitung atau mengetahui nilai persamaan regresi, sehingga dapat diketahui besarnya korelasi antara variabel independen terhadap variabel dependen. Sedangkan pertunbuhan seumur dan murni dipengaruhi oleh tahap umur, kualitas tempat tumbuh, jenis, kerapatan dalam arti luas bidang dasar dalam jumlah pohon, dan satuan-satuan yang menyatakan pertumbuhan. Karena faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan biasanya saling tergantung prinsip-prinsip pertumbuhan, harus dikembangkan dengan mengamati interaksi faktor- faktor.
F. Regresi dan Korelasi.
Definisi regresi menurut Anonim (1992) adalah mempelajari hubungan yang ada diantara variabel-variabel sehingga dari hubungan yang diperoleh kita dapat menaksir variabel yang satu apabila harga variabel yang lainnya deketahui.
Bentuk umum dari persamaan regresi dengan meggunakan metode Least Square adalah sebagai berikut :
Y = a + b X Dimana :
Y = Variabel terkait ( Dependen Variabel ) X = Variabel bebas ( Independen Variabel ) a = bilangan konstan
b = koefisien regresi
Untuk menghitng koefisien-koefisien a dan b, dapat menggunakan rumus : b =
? ?
? ? ?
? ? 2 2 ) ( ) ( ) ) ( ) ( X X n Y X XY n a = n X b n X?
?
? dimana : n = Jumlah Variabel G . KorelasiKorelasi berarti cara untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara dua variabel atau lebih (Anonim, 1992).
Jika terdapat hubungan diantara variabelnya, maka perubahan yangterjadi pada salah satu variabel yang lainnya, disamping itu dengan analisa korelasi dapatlah diketahui apakah hubungan yang tejadi antara variabel- variabel tersebut adalah suatu kebetulan atau memang hububungan benar-benar (Anonim, 1992)
Menurut Anonim (1992) ada beberapa cara untuk menunjukan korelasi (hubungan) antara dua variabel, salah satu diantaranya dengan menghitung
koefisien korelasi, damana koefisian korelasi tersebut tidak hanya menunjukan apakah hubungan (korelasi) antara dua variabel tetepi juga seberapa erat korelasinya.
Menurut anonim (1992) koefisien korelasi dapat di hitung dengan menggunakan rumus : r =
? ?
?? ? ??
??
? 2 2 2 2 ) ( ( ) ( ( . Y Y n X X n Y X XY n dimana : r = koefisien korelasi X= Variabel bebas Y= Variabel terikatPada prinsipnya nilai r bervariasi dari -1 melalui 0 hingga +1, dengan kriteria sebagai berikut:
a. bila r = 0 atau mendekati 0, maka hubungan antara kedua variabel sangatlah lemah atau tidak terdapat hubungan sama seakli
b. bila r = +1 mendekati 1 maka korelasi antara dua variabel dikatakan positif dan sangat kuat sekali.
c. Bila r = -1 atau mendekati -1 maka korelasi antara dua variabel dikatakan negatif dan sangat kuat sekali
Tanda + dan – pada koefisien korelasi sebenarnya memiliki arti khas, yaitu bila r positif maka korelasi antara dua vriabel bersifat searah dimana kenaikan atau penurunan nilai- nilai X terjadi bersama-sama dengan kenaikan atau
penurunan nilai- ilai Y, dan sebaliknya bila r negatif berarti kenaikan nilai- nilai X terjadi bersama-sama dengan penurunan nilai- nilai Y (Anonim, 1992).
III. METODE PENELITIAN
A. Waktu dan lokasi penelitian
Lokasi kegiatan pengamatan ini di laksanakan di Balai Penelitian Teknologi Pembenihan, kacamatan Samboja. Waktu pelaksanaan dilakukan selama 2 (dua) bulan meliputi persiapan alat dan bahan, perijinan, pengambilan data dan penulisan laporan ilmiah.
B. Alat dan Bahan 1. Alat
Alat yang digunakan dalam pengamatan ini adalah : a. Clinometer, untuk mengukur tinggi pohon. b. Phiband, untuk megukur diameter pohon .
c. Alat tulis menulis, untuk mencatat hasil penelitian. d. Kamera,untuk dokumentasi di lapangan.
2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanaman meranti merah (Shorea leprosulla) yang di tanam tahun 1994.
C. Prosedur kerja
a Orientasi lapangan dilakukan untuk mengetahui kondisi tempat penelitian agar memudahkan dalam mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan tersebut.
b. Penyelesaian administrasi dilakukan untuk permohonan ijin melaksanakan penelitian.
c. Persiapan Alat.
Menyiapkan semua alat-alat yang akan dilakukan pada pengamatan Phiband, Meteran, Clinometer, tongkat, Alat tulis menulis dan lain-lain.
d. Pengambilan data.
- Menentukan pohon yang akan diamati/diukur.
- Mengukur diameter pohon setinggi dada yaitu pengukuran diameter yang dilakukan pada ketinggian 130 cm dari permukaan tanah.
- Pengukuran tinggi yang dilakukan adalah tinggi total, yaitu tinggi puncak pohon. Pengukuran tinggi digunakan alat clinometer dengan dibantu dengan tongkat dengan ketinggian 4 meter.
- Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposif
1. Pengolahan Data
Pengolahan data diameter dan tinggi rata-rata dengan mengunakan rumus : 1. Rata-rata Hitung:
X= n x
?
Keterangan X : Rata-rata (diameter/tinggi) ? : Jumlah dari X (diameter/tinggi) n : Jumlah Pohon2. Standard Deviation (simpamg Baku)
Standar deviation (Simpang Baku) merupakan suatu nilai untuk mengetahui penyimpangan nilai- nilai individu terhadap rata-rata diameter dan tinggi tanaman. Dapat dihitung dengan mengunakan rumus sebagai berikut : Sd= 1 2 ) ( 2 ? ?
? ?
n n x x KeteranganSd : Standar Deviation (simpang baku) ? : Jumlah Nilai Individu
? X2 :Jumlah kuadrat Individu n : Jumlah Pohon
3. Coefficient of Variation (koefisien Variasi)
Mengingat ukuran dispresi absolut mudah menimbulkan kekaburan, maka sering digunakan ukuran dispersi relatif. Diantara berbagai macam ukuran dispresi relatif yang terkenal ialah yang bernama koefisien Variasi (Coefficient of Variation), yaitu presentasi standar
deviation terhadap nilai rata-rata X (diameter/tinggi) dan klasifikasi dari koefisien variasi ialah sebagai berikut:
Rumus :
C.V= X 100%
x Sd
Keterangan :
C.V = Coefficient Of Variation (koefisien Variasi) Sd = Standard Deviation (simpang Baku)
x = Rata-rata
C.V = 0 – 10% (dikatakan kecil/seragam) C.V = 10 – 20% (dikatakan besar)
C.V = > 30% (dikatakan sangat besar)
4. Menghitung Hubungan Diameter dengan Tinggi
Tinggi pohon kemudian dihubungkan dengan peubah bebas untuk membentuk persamaan. Dalam penelitian ini persamaan tinggi yang digunakan di pilih adalah persamaan tinggi:
Y = a + b X atau
H = b0 + b1 D di mana :
H = tinggi pohon taksiran D = diameter setinggi dada b0, b1 = konstanta regresi
untuk persamaan tinggi diatas diolah dalam bentuk regresi linier. Konstanta dari regresi (b0, b1) untuk persamaan-persamaan volume di atas diperoleh dengan rumusan : b1 =
? ?
? ? ?
? ? 2 2 ) ( ) ( ) ) ( ) ( X X n Y X XY n bo = n X b n X?
?
? bo = Y – b1. XUntuk mengetahui apakah peubah bebas x mempengaruhi peubah terikat y maka digunakan analisis sid ik ragam dengan menggunakan uji F seperti pada Tabel 1.
Tabel 1. Analisis Sidik Ragam Sumber Keragaman Derajat Bebas Jumlah Kuadrat Kuadrat Rataan Fhitung Regresi Galat K (n-k-1) JKR JKG KRR KRG KRR/KRG T o t a l (n-1) JKT di mana :
k = jumlah peubah bebas
n = jumlah seluruh pasangan data JKR = Jumlah kuadrat regresi JKG = jumlah kuadrat regresi
Kriteria pengujian :
? Jika Fhitung > Ftabel berarti ada peranan x terhadap y pada taraf signifikansi 5% dan 1 %
? Jika Fhitung < Ftabel berarti tidak ada peranan x terhadap y.
Anonim (1992), menerangkan bahwa nilai koefisien determinasi (R2) dapat digunakan sebagai salah satu kriteria untuk menentukan persamaan yang tepat. Besarnya nilai koefisien determinasi dihitung berdasarkan rumus sebagai berikut : r =
? ?
?? ? ??
??
? 2 2 2 2 ) ( ( ) ( ( . Y Y n X X n Y X XY nIV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Pengukuran dilakukan terhadap dimensi pohon meliputi diameter setinggi dada (1,30 m) dan tinggi. Pengukuran tinggi yang dilakukan adalah tinggi total, yaitu tinggi puncak pohon. Pengukuran tinggi digunakan alat clinometer dengan dibantu dengan tongkat dengan ketinggian 4 meter. Pengukuran tersebut dapat dilihat pada lampiran 1.
Tabulasi hasil pengukuran diameter dan tinggi pohon jenis Meranti Merah (shorea leprosulla) pada Areal Balai Penelitian Teknologi Pembenihan Samboja diperoleh seperti pada tabel 2.
Tabel 2. Tabulasi Hasil Pengukuran Diameter dan Tinggi Tanaman Meranti Merah (shorea leprosula)
Diameter T i n g g i ( Meter) (cm) 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Jumlah 15 1 1 2 17 1 2 1 5 4 2 15 19 1 3 2 6 21 1 1 2 2 1 1 8 23 1 2 3 25 1 3 4 27 1 1 Jumlah 1 2 3 8 6 6 4 4 5 39
Untuk lebih jelasnya penyebaran data hasil pengukuran diameter dan tinggi tanaman meranti merah dituangkan dalam gambar diagram pencar seperti terlihat pada Gambar 3. berikut ini:
0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00