BAB II LANDASAN TEORI
3. Bagi Hasil
a. Pengertian Bagi Hasil
Bagi hasil menurut terminologi asing (Bahasa Inggris) dikenal dengan profit sharing. Profit dalam kamus ekonomi diartikan pembagian laba. Secara istilah profit sharing diartikan sebagai distribusi beberapa bagian laba pada pegawai perusahaan.45
Menurut Syafii Antonio, bagi hasil adalah suatu system pengolahan dana dalam perekonomian Islam yakni pembagian hasil usaha antara pemilik modal (shahibul mal) dan pengelola (mudharib). Secara umum prinsip bagi hasil dalam perbankan syariah dapat dilakukan dalam empat akad utama, yaitu al-musyarakah, al-mudharabah, al-muzara’ah dan al-musaqah. Tetapi prinsip yang paling banyak dipakai adalah musyarakah dan al-mudharabah, sedangkan al-muzaraah dan al-musaqah dipergunakan khusus untuk plantation financing atau pembiayaan pertanian oleh beberapa bank Islam.46
Bagi hasil didefinisikan sebagai suatu system yang meliputi pembagian bagi hasil usaha antara pemodal dan pengelola dana pembagian hasil usaha. Misalnya, antara bank syariah dengan penyimpan dana serta antara bank syariah dengan nasabah penerima dana.47
Bagi hasil adalah pembagian atas hasil usaha yang telah dilakukan oleh pihak-pihak yang melakukan perjanjian yaitu pihak nasabah dan pihak bank syariah. Dalam hal ini terdapat dua pihak yang melakukan perjanjian usaha, maka hasil atas usaha yang dilakukan oleh kedua pihak atau salah satu pihak, akan dibagi sesuai dengan porsi masing-masing pihak yang melakukan akad perjanjian. Pembagian usaha dalam perbankan syariah ditetapkan dengan menggunakan nisbah. Nisbah yaitu persentase yang
45 Muhammad, Teknik Perhitungan Bagi Hasil di Bank Syariah, (Yogyakarta, Un Press, 2001), Hlm.3.
46 Syafii Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktek, (Jakarta: Gema Insani, 2001), Hlm.90.
47 Ahmad Ifham, Ini Lho Bank Syariah! Memahami Bank Syariah dengan Mudah, (Jakarta, Gramedia, 2015), Hlm.45.
43
disetujui oleh kedua pihak dalam menentukan bagi hasil atas usaha yang dikerjasamakan.48
b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Bagi Hasil
1) Investment Rate
Merupakan presentase dana yang diinvestasikan kembali oleh bank syariah ke dalam pembiayaan maupun penyaluran dana lainnya. Kebijakan ini diambil karena adanya ketentuan dari Bank Indonesia, bahwa sejumlah persentase tertentu atas dana yang dihimpun dari masyarakat, tidak boleh diinvestasikan akan tetapi harus ditempatkan dalam giro wajib minimum untuk menjaga likuiditas bank syariah. Giro wajib minimum (GWM) merupakan dana yang wajib dicadangkan oleh setiap bank untuk mendukung likuiditas bank.
Misalnya, giro wajib minimum sebesar 8%, maka total dana yang dapat diinvestasikan oleh bank syariah maksimum sebesar 92%. Hal ini akan memengaruhi terhadap bagi hasil yang diterima oleh nasabah investor.
2) Total Dana Investasi
Total dana investasi yang diterima oleh bank syariah akan memengaruhi bagi hasil yang diterima oleh nasabah investor. Total dana yang berasal dari investasi mudharabah dapat dihitung dengan menggunakan saldo minimal bulanan atau saldo harian. Saldo minimal bulanan merupakan saldo minimal yang pernah mengendap dalam satu bulan. Saldo minimal akan digunakan sebagai dasar perhitungan bagi hasil. saldo harian merupakan saldo rata-rata pengendapan yang dihitung secara harian, kemudian nominal saldo harian digunakan sebagai dasar perhitungan nisbah bagi hasil.
3) Jenis Dana
Investasi mudharabah dalam penghimpunan dana, dapat ditawarkan dalam beberapa jenis yaitu: tabungan mudharabah,
48
44
deposito mudharabah dan sertifikat investasi mudharabah antarbank syariah (SIMA). Setiap jenis dana investasi memiliki karakteristik yang berbeda-beda sehingga akan berpengaruh pada besarnya hasil.49 4) Nisbah
Nisbah merupakan persebtase tertentu yang diebutkan dalam akad kerja sama usaha (mudharabah dan musyarakah) yang telah disepakati antara bank dan nasabah investor. Karakteristik nisbah akan berbeda-beda dilihat dari beberapa segi antara lain:
a) Persentase nisbah antarbank syariah akan berbeda, hal ini tergantung pada kebijakan masing-masing bank syariah.
b) Persentase nisbah akan berbeda sesuai dengan jenis dana yang dihimpun. Misalnya, nisbah antara tabungan dengan deposito akan berbeda.
c) Jangka waktu investasi mudharabah akan berpengaruh pada besarnya persentase nisbah bagi hasil. Misalnya, nisbah untuk deposito berjangka dengan jangka waktu satu bulan akan berbeda dengan deposito berjangka dengan jangka waktu tiga bulan dan seterusnya.
5) Metode Perhitungan Bagi Hasil
Bagi hasil akan berbeda tergantung pada dasar perhitungan bagi hasil, yaitu bagi hasil yang dihitung dengan menggunakan konsep revenue sharing dan bagi hasil dengan menggunakan profit/loss sharing. Bagi hasil yang menggunakan revenue sharing, dihitung dari pendapatan kotor sebelum dikurangi dengan biaya. Bagi hasil dengan profit/loss sharing dihitung berdasarkan persentase nisbah dikalikan dengan laba usaha sebelum pajak.
a) Bagi Hasil dengan Menggunakan Revenue Sharing
Dasar perhitungan bagi hasil yang menggunakan revenue sharing adalah perhitungan bagi hasil yang didasarkan atas
49
45
penjualan dan/atau pendapatan kotor atas usaha sebelum dikurangi dengan biaya. Bagi hasil dalam revenue sharing dihitung dengan mengendalikan ni sbah yang telah disetujui dengan pendapatan bruto.50
Contoh berikut untuk mempermudah penjelasan.
Nisbah yang telah ditetapkan adalah 10% untuk bank dan 90% untuk nasabah. Dalam hal bank sebagai mudharib dan nasabah sebagai shahibul maal, bila bank syariah memperoleh pendapatan Rp 10.000.000,- maka bagi hasil yang diterima oleh bank adalah Rp 10% x Rp 10.000.000,- = Rp 1.000.000,- dan bagi hasil yang diterima oleh nasabah sebesar Rp 9.000.000,-.
Pada umumnya bagi hasil terhadap investasi dana dari masyarakat menggunakan revenue sharing.
b) Bagi Hasil dengan Menggunakan Profit/ Loss Sharing
Dasar perhitungan bagi hasil dengan menggunakan profit/loss sharing merupakan bagi hasil yang dihitung dari laba/ rugi usaha. Kedua pihak, bank syariah maupun nasabah akan memperoleh keuntungan atas hasil usaha mudharib dan ikut menanggung kerugian bila usahanya mengalami kerugian.
Dalam contoh tersebut, misalnya total biaya Rp 9.000.000,- maka: (1) Bagi hasil yang diterima oleh nasabah adalah Rp 900.000,- (90% x
(Rp 10.000.000,- - Rp 9.000.000,-))
(2) Bagi hasil untuk bank syariah sebesar Rp 100.000,- (10% x (Rp 10.000.000,- - Rp 9.000.000,-))
6) Kebijakan Akuntansi
Kebijakan akuntansi akan berpengaruh pada besarnya bagi hasil. Beberapa kebijakan akuntansi yang akan memengaruhi bagi hasil antara lain penyusutan. Penyusutan akan berpengaruh pada laba usaha bank. Bila bagi hasil menggunakan metode profit/loss sharing, maka penyusutan akan berpengaruh pada bagi hasil, akan tetapi bila
50
46
menggunakan revenue sharing, maka penyusutan tidak memengaruhi bagi hasil.
c. Indikator Bagi Hasil
Indikator bagi hasil terdapat tiga macam yaitu:51 1) Kejelasan Besarnya Bagi Hasil
Penentuan nisbah bagi hasil harus ditentukan dan disetujui pada awal perjanjian dengan pedoman pada kemungkinan untung atau rugi. 2) Manfaat dari Bagi Hasil
Nasabah akan mendapatkan manfaat dari bagi hasil yang diterima. Bagi hasil akan memberikan manfaat berupa investasi halal sehingga yang melakukan transaksi di bank syariah akan mendapatkan kenyamanan dengan system bagi hasil yang diberikan. Hal ini dikarenakan system bagi hasil merupakan system pembagian keuntungan yang menjauhi riba.
3) Bagi Hasil yang Kompetitif
Besarnya bagi hasil dihitung berdasarkan keuntungan yang diperoleh, keadilan dalam pembagian keuntungan merupakan salah satu prinsip dalam menghitung bagi hasil sehingga nasabah merasa nyaman dengan system bagi hasil.
4. Layanan Mobile Banking