BAB IV DATA DAN ANALISIS
B. Data
4. Hasil Observasi Implementasi Model Pembelajaran Fisika
Naratif
Selama proses implementasi model pembelajaran Fisika bergaya naratif berlangsung, peneliti juga menjadi tenaga pengajar yang menerapkan model pembelajaran ini pada siswi asrama Samirono. Hasil observasi implementasi model pembelajaran Fisika bergaya naratif yang disajikan pada bagian ini merupakan data yang telah diringkas. Data hasil observasi selengkapnya dapat diamati pada Lampiran 19.
a) Pertemuan I
Pertemuan ini telah dilaksanakan pada tanggal 15 Oktober 2015. Pertemuan ini awalnya direncanakan berlangsung selama 50 menit. Ternyata setelah diimplementasikan, pertemuan pertama molor hingga 53 menit. Peserta didik yang hadir berjumlah 6 orang. Rekapitulasi daftar kehadirannya dapat diamati pada Lampiran 20.
Agenda proses belajar mengajar pada pertemuan ini ialah mempelajari dinamika perubahan konsep geosentris menjadi heliosentris, yang melatarbelakangi lahirnya Hukum Kepler. Dengan mempelajari ini, peserta didik diharapkan memahami latar belakang sejarah perumusan Hukum Kepler dan Hukum Kepler itu sendiri.
Dengan demikian, hasil belajar pertemuan ini yang sesuai dengan IPKD ialah pemahaman peserta didik tentang Hukum Kepler. Pemahaman peserta didik terkait latar belakang sejarah Hukum Kepler merupakan salah satu bagian dari pemahaman tersebut. Selain itu, paham Hukum Kepler berarti juga peserta didik paham tentang konsep yang diatur oleh hukum ini. Pemahaman bahwa ilmu pengetahuan itu tidak statis merupakan hasil belajar tambahan yang diharapkan juga dapat dicapai dalam pembelajaran pertemuan ini.
Untuk mencapai hasil-hasil belajar tersebut, peneliti menyediakan sebuah narasi Fisika. Narasi tersebut berjudul
““Pemenang Sejati (?)””. Supaya isi narasi yang dibaca sesuai dengan agenda pembelajaran, maka peneliti membatasi materi yang perlu dibaca peserta didik. Bagian dari narasi yang dibaca ialah halaman 18 hingga halaman 19 paragraf 2. Setelah itu, dilanjutkan dengan halaman 19 paragraf 3 hingga halaman 20.
Pada bagian selanjutnya, dipaparkan secara lebih detil tentang kesesuaian proses pembelajaran dengan RPP dalam rancangan model pembelajaran, partisipasi peserta didik dalam pembelajaran, kegiatan
inkuiri peserta didik, proses diskusi, dan hambatan-hambatan yang ditemui selama proses berlangsung.
1) Kesesuaian Proses Pembelajaran dengan RPP dalam Rancangan Model Pembelajaran
Kegiatan apersepsi pertemuan ini tidak sesuai dengan RPP yang telah dibuat. Kegiatan apersepsi yang terjadi ialah guru bertanya pada peserta didik: apa itu tata surya dan apa bentuk orbital planet-planet di tata surya kita?
Kegiatan inti pembelajaran dan penutup berjalan sesuai dengan RPP. Kegiatan inti ini dapat diamati pada hasil observasi bagian Kegiatan Inkuiri Siswa. Di akhir pembelajaran, guru meminta peserta didik untuk membuat surat yang ditujukan bagi Kepler. Surat ini dapat diamati pada Lampiran 21.
2) Partisipasi Peserta Didik dalam Pembelajaran
Selama pembelajaran, partisipasi peserta didik teramati bervariasi. Di awal pembelajaran, ketika guru mengajukan pertanyaan apersepsi, ada peserta didik yang mau mengemukakan pendapatnya, mendengarkan, dan ada pula yang sibuk berkutat dengan gawainya (Bdk. Lampiran 19).
Selama membaca, partisipasi peserta didik juga bervariasi. Peserta Didik 1 mengeluh pada guru bahwa ia malas membaca.
Namun, ia tetap membaca narasi “Pemenang Sejati (?)” sambil meletakkan kepalanya di atas tangannya yang terlipat di atas meja. Peserta Didik 4 nampak sesekali menguap, sedangkan Peserta Didik 6 nampak menandai informasi dalam narasi dengan stabilonya. Peserta didik lain membaca narasi dalam hati.
Partisipasi peserta didik meningkat ketika guru mengajukan pertanyaan untuk mendiskusikan kecepatan gerak planet dalam tata surya, sebagaimana diatur oleh Hukum II Kepler. Peserta didik yang sering bermain gawainya nampak tidak melakukan aktivitas ini dan terlibat dalam diskusi. Mereka mengeluarkan pendapatnya masing-masing.
3) Kegiatan Inkuiri Peserta Didik
Berdasarkan observasi, diketahui bahwa pengetahuan awal peserta didik mengenai bentuk orbital planet dalam tata surya bervariasi. Ada yang berpendapat: bentuknya bulat, lonjong, tdak beraturan, bulat lonjong, dan bahkan kotak. Namun, pengetahuan peserta didik terkait pusat tata surya kita seragam, yakni matahari.
Kegiatan inkuiri peserta didik kemudian dilanjutkan dengan membaca narasi “Pemenang Sejati (?)” halaman halaman 18 hingga halaman 19 paragraf 2. Dari narasi ini, guru meminta peserta didik untuk menjawab: siapa ilmuwan penggagas konsep heliosentris, bentuk-bentuk orbital yang diusulkan konsep
geosentris dan heliosentris, mengapa terjadi pergantian konsep dari geosentris menjadi heliosentris, serta apa fakta-fakta pendukungnya?
Peserta didik berhasil menemukan ilmuwan penggas konsep heliosentris beserta bentuk-bentuk orbital yang diusulkan oleh konsep geosentris dan heliosentris. Namun, mereka tidak dapat menggali fakta-fakta apa yang menyebabkan konsep geosentris bergeser menjadi heliosentris.
Peserta didik nampak tidak menemukan penjelasan fenomena gerak retrograde planet Mars dalam narasi Fisika yang dibacanya. Padahal, fenomena ini hendak digunakan untuk membangun pemahaman terkait latar belakang sejarah perkembangan ilmu. Alhasil, peserta didik tidak dapat menjelaskan bahwa ada fenomena alam yang tidak dapat dijelaskan oleh teori lama, sehingga perlu disusun oleh teori baru.
Selama pembelajaran, pengetahuan awal peserta didik yang mengetahui bahwa matahari sebagai pusat tata surya tidak berkembang. Ini karena mereka tidak memperoleh kesempatan untuk mengeksplor penjelasan mengapa para ilmuwan bisa yakin bahwa matahari adalah pusat dari tata surya.
Selanjutnya, kegiatan inkuiri peserta didik beralih untuk memahami bentuk orbital planet di tata surya. Data tentang orbital eccentricity (e) planet yang dibagikan oleh guru ternyata
menunjang kegiatan mereka untuk memahami bentuk orbital planet. Dari data ini, mereka menemukan bukti bahwa nilai e
planet yang lebih dari 0 dan kurang dari 1 ini menunjukkan bahwa orbital planet dalam tata surya berbentuk matahari. Namun, sayangnya, konsep mengenai e planet ini tidak dijelaskan lebih lanjut dalam narasi.
Kegiatan inkuiri siswa untuk memahami kecepatan gerak planet dalam tata surya sedikit terhambat. Meskipun mereka paham bahwa planet menempuh luas juring yang sama dalam selang waktu yang sama, peserta didik sulit untuk memahami kecepatan gerak planet di tali busur yang berbeda-beda.
Hal ini nampak dari pendapat peserta didik: planet bergerak dengan kecepatan lambat ketika berada dekat dengan matahari. Padahal, selanjutnya, ia menyampaikan bahwa kalau luas juringnya besar, maka planet itu bergerak dengan cepat. Nampak, peserta didik ini belum paham bahwa luas juring besar itu ditempuh ketika planet berada dekat dengan matahari.
Peserta didik lain juga bertanya, “Kok kalau lebih dekat dengan matahari kecepatannya lebih cepat, padahal kan ada gaya tarik matahari?” Dalam pemahamannya, nampak bahwa ketika berada dekat dengan matahari, seharusnya gaya tarik matahari bekerja lebih besar, sehingga memperlambat laju planet. Kesulitan ini mungkin karena peserta didik belum mempelajari konsep
Hukum Gravitasi Universal Newton dan kelajuan orbital planet berdasarkan hukum tersebut.
Namun, guru ragu untuk meluruskan miskonsepsi ini dengan konsep apa. Konsep gaya gravitasi dan hubungannya dengan kelajuan orbital planet belum dipelajari. Alhasil, guru menjelaskan bahwa dalam sistem tata surya, yang memberikan gaya gravitasi pada planet ialah matahari, planet lain, bintang lain, atau satelit lain. Di samping itu, waktu pembelajaran sudah menyentuh batas akhirnya. Oleh sebab itu, guru tidak melanjutkan diskusi.
4) Proses Diskusi
Diskusi pada pertemuan ini tidak berjalan mulus. Peran guru yang awalnya direncanakan sebagai fasilitator diskusi, kenyataannya berubah menjadi penceramah bagi peserta didik. Dalam ceramahnya, guru langsung menjelaskan bahwa konsep geosentris tidak dapat menjelaskan fenomena gerak retrograde Planet Mars.
Proses diskusi baru berjalan dengan lebih lancar ketika membahas kecepatan gerak planet di tata surya. Diskusi ini menghasilkan pemahaman bahwa planet bergerak lebih cepat selama menempuh luas juring yang besar dan bergerak lebih lambat selama menempuh luas juring yang kecil.
5) Hambatan-Hambatan yang Ditemui Selama Proses Implementasi
Selama membaca narasi, terdapat gangguan dari penghuni asrama lain yang bukan subjek penelitian. Mereka tampak berbincang dekat pendopo tempat berlangsungnya proses implementasi. Salah seorang dari mereka terdengar membicarakan sebuah video sedih.
Akibatnya, Peserta Didik 1 dan 6 terpecah konsentrasinya. Mereka teramati memperhatikan aktivitas pembicaraan ini, bukan narasi atau berdiskusi dengan temannya.
Selain gangguan dari luar, proses pembelajaran ini juga dihambat oleh ketidakmampuan narasi Fisika dalam menyajikan fakta dan informasi yang digunakan dalam pembelajaran secara lengkap. Akibatnya, peserta didik kesulitan untuk menangkap dinamika proses perkembangan konsep geosentris menjadi heliosentris., Diskusi yang terjadi ternyata hanya meninggalkan konsep tentang pusat dan bentuk orbital planet dalam tata surya, bukan proses bergantinya pusat dan bentuk tersebut sesuai dengan konsep yang saat itu dipandang mapan.
Selain itu, belum dipelajarinya konsep Hukum Gravitasi Universal Newton dan kelajuan orbital planet menyebabkan pemahaman peserta didik terkait Hukum II Kepler tidak terlalu lengkap (Bdk. Kegiatan Inkuri Siswa).
b) Pertemuan II
Pertemuan kedua proses implementasi model pembelajaran ini dilaksanakan pada tanggal 22 Oktober 2015. Subjek penelitian yang menghadiri proses implementasi ini berjumlah 6 orang. Daftar kehadiran subjek penelitian ini dapat diamati pada Lampiran 20.
Kegiatan belajar pada pertemuan ini diagendakan untuk mempelajari Hukum Kepler dengan lebih dalam. Setelah pada pertemuan sebelumnya peserta didik telah mempelajari sejarah dirumuskannya Hukum Kepler, maka pada pertemuan ini guru berencana mengajak peserta didik untuk mencari kesesuaian antara Hukum Kepler dengan Hukum Gravitasi Universal Newton.
Kesesuaian yang akan diperoleh ialah nilai konstanta kesebandingan antara kuadrat periode orbital dengan pangkat tiga jari-jari orbital planet, sebagaimana diatur dalam Hukum III Kepler. Selain itu, guru juga mengagendakan mempelajari penggunaan Hukum III Kepler dalam menentukan periode revolusi planet.
Lamanya proses pembelajaran yang terjadi ialah 106 menit. Padahal, guru merencanakan pembelajaran akan berlangsung selama 50 menit. Alokasi waktu yang disediakan untuk berlatih memecahkan persoalan matematis ialah 10 menit. Padahal, saat proses implementasi berlangsung, waktu yang dibutuhkan kurang lebih 50 menit.
Pada bagian selanjutnya akan dipaparkan mengenai kesesuaian proses pembelajaran dengan RPP dalam rancangan model
pembelajaran, partisipasi peserta didik dalam pembelajaran, kegiatan inkuiri peserta didik, proses diskusi, dan hambatan-hambatan yang ditemui selama proses berlangsung.
1) Kesesuaian Proses Pembelajaran dengan RPP dalam Rancangan Model Pembelajaran
Kegiatan Apersepsi dan Mengamati pada proses pembelajaran pertemuan ini berbeda dengan RPP yang telah dirancang. Proses pembelajaran dimulai dengan deskripsi yang diberikan oleh guru terkait proses belajar pertemuan sebelumnya. Hal ini dilakukan karena ada beberapa peserta didik yang tidak hadir pada pertemuan sebelumnya. Selain itu, guru juga menjelaskan bahwa sudah ada balasan untuk surat yang dibuat oleh peserta didik pada pertemuan sebelumnya. Dari surat balasan ini, diharapkan peserta didik mengenal sosok Johanes Kepler dan gagasan-gagasannya yang akhirnya tertuang dalam Hukum Kepler secara lebih lengkap. Narasi yang merupakan balasan surat ini dapat dibaca pada Lampiran 22.
Selanjutnya, pada bagian orientasi, guru menyampaikan agenda pembelajarannya. Kegiatan ini sesuai dengan RPP. Yang disampaikan guru pada peserta didik ialah bahwa pertemuan kali ini kita akan mempelajari kesesuaian Hukum Kepler dengan Hukum Newton.
Kegiatan Inti pada tahap Mengamati, sebagaimana tercantum dalam RPP yang disusun oleh guru tidak dilaksanakan. Hal ini dikarenakan telah dibahas pada pertemuan sebelumnya. Kegiatan-kegiatan selanjutnya berlangsung sama seperti RPP.
2) Partisipasi Peserta Didik dalam Pembelajaran
Antusiasme peserta didik langsung terlihat ketika guru memberikan sebuah cerita baru pada mereka (Bdk. Lampiran 12). Seluruh peserta didik langsung membolak-balik narasi tersebut.
Salah seorang peserta didik menyeletuk, “Aku suka cerita. Yeit. Em, tapi setelah halaman ketiga, em…” Peserta didik lain mengomentari halaman ketiga ini dengan komentar senada. Rupanya peserta didik menunjukkan eksperis “tidak suka” begitu mereka membuka halaman ketiga tersebut.
Pada awal kegiatan membaca narasi secara lisan dan bergantian, sesuai dengan pilihan peserta didik, Peserta Didik 1 membacanya dengan nada datar, tanpa ekspresi. Sembari temannya membaca lisan, peserta didik lainnya nampak membaca cerita tersebut dalam hati. Namun, tidak dapat diketahui apakah mereka membaca dengan konsentrasi, atau konsentrasinya justru terpecah dengan mendengarkan teman lainnya.
Ketika gilirannya membaca, Peserta Didik 1 nampak membaca narasi dengan nada lesu, tidak bersemangat. Intonasinya datar, tidak ada penekanan-penekanan pada bagian narasi tertentu.
Peserta Didik 1 juga tidak mencatat penjelasan yang diberikan oleh guru tentang simbol kecepatan sudut. Sementara itu, 5 peserta didik lain yang teramati dalam Gambar 10 (Bdk. Lampiran 19) mencatatnya.
Secara umum, ketika membaca narasi secara lisan, peserta didik cenderung untuk menikmati dinamika proses pembacaan ini. Mereka tertawa ketika ada temannya yang tidak tahu bunyi kegiatan yang tertulis dalam narasi, seperti bunyi orang menyeruput teh. Mereka juga turut bersimpati dengan Vonny yang sedih akibat kekerasan hati Papa.
Namun, tidak seluruh peserta didik mengikuti proses eksplorasi perubahan bentuk aljabar dalam narasi dan pemecahan persoalan matematis dengan antusias. Ketika Peserta Didik 2 menuangkan pendapatnya terkait perubahan bentuk persamaan matematis dalam narasi, Peserta Didik 3 dan 5 memperhatikan temannya ini. Namun, Peserta Didik 1 lebih memilih membaca narasi yang dipegangnya, bukan memikirkan perubahan bentuk persamaan matematis ini.
Ketika memecahkan persoalan matematis, Peserta Didik 1 memperhatikan sambil menelungkupkan kepalanya di atas meja.
Sementara itu, Peserta Didik 6 nampak sedang memejamkan mata sambil menelungkupkan kepalanya di atas meja (Bdk. Gambar 12 pada Lampiran 19).
3) Kegiatan Inkuiri Peserta Didik dan Proses Diskusi
Kegiatan inkuiri peserta didik dimulai dengan instruksi guru untuk menghentikan proses membaca lisan ketika mereka telah menyentuh bagian keberhasilan Newton dalam menerapkan persamaan sentripetal untuk gerak benda-benda langit di angkasa. Guru mengetahui bahwa peserta didik yang notabene masih studi di tingkat kelas X SMA belum mempelajari konsep gaya sentripetal. Oleh karenanya, guru memberikan ceramah tentang gaya sentripetal agar peserta didik memiliki pengetahuan awal untuk memahami proses belajar berikutnya.
Minimnya pengetahuan awal peserta didik terkait gerak melingkar beraturan (GMB) sama seperti gaya sentripetal. Peserta didik tidak memahami simbol-simbol besaran fisis yang ditulis oleh guru seperti as dan ω. Hal ini nampak dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Peserta Didik 3 tentang simbol mirip huruf w yang ditulis oleh guru. Guru kemudian menjelaskan bahwa omega adalah kecepatan sudut. Pada waktu yang berbeda, Peserta Didik 5 menanyakan apakah simbol as yang ditulis ini adalah simbol alpha.
Penjabaran ini merupakan bukti bahwa peserta belum memahami konsep GMB dan besaran-besaran fisisnya.
Kegiatan selanjutnya lebih bernuansa matematis, daripada mencermati fenomena-fenomena fisis di balik kesesuaian Hukum Kepler dengan Hukum Gravitasi Universal Newton. Guru mengajak peserta didik untuk mencermati perubahan-perubahan bentuk aljabar yang ada dalam narasi (Bdk. Lampiran 19). Sama halnya dengan narasi Fisika yang diberikan, guru tidak mengajak peserta didik untuk mencermati fenomena fisis apa yang mendasari Newton untuk mencari kesesuaian Hukum Gravitasi Universalnya dengan Hukum Kepler.
Alhasil, ketika sampai pada persamaan matematis akhir, yakni nilai konstanta “k” dalam Hukum III Kepler, salah seorang peserta didik justru bertanya, apa kegunaan rumus Fisika ini. Jawaban yang diberikan guru adalah penerapan konsep ini pada satelit.
Nuansa matematis semakin terlihat ketika guru menyajikan sebuah persoalan matematis yang tercantum pada soal pretest hasil belajar nomor 2. Proses pengerjaan ini dapat diamati secara lebih lengkap pada Lampiran 19.
4) Hambatan-Hambatan yang Ditemui Selama Proses Berlangsung
Proses membaca lisan dan bergantian ternyata memiliki kelemahan yang menghambat proses belajar peserta didik. Kelemahan ini salah satunya ialah memunculkan potensi kesalahan pembacaan simbol operasi matematika, misalnya simbol “/” yang dibaca “atau” bukan “per”. Selain potensi kesalahan pembacaan, selama membaca lisan, peserta didik juga beberapa kali bercanda dengan membaca setiap tanda baca yang tercantum dalam narasi (Bdk. Lampiran 19).
Hambatan lain yang muncul dalam proses ini adalah minimnya pengetahuan awal peserta didik terkait konsep GMB dan gaya sentripetal. Akibatnya, peserta didik kesulitan mengikuti proses perubahan bentuk aljabar yang tercantum dalam narasi.
Gangguan dari luar muncul ketika peserta didik sedang mencatat penjelasan guru. Gangguan itu berupa suara gedubrakan. Semua peserta didik kaget dan mengalihkan perhatiannya. Guru juga sempat menoleh sebentar, lalu melanjutkan penjelasannya. Saat guru melanjutkan penjelasannya, seluruh peserta didik kembali fokus pada narasi dan penjelasan guru.
Namun, salah seorang peserta didik lain, yakni Peserta Didik 1, masih memperhatikan sumber bunyi itu dan tidak memperha-tikan penjelasan guru. Guru juga tidak meminta perhatian dari
peserta didik ini dan tetap melanjutkan penjelasannya. Setelah beberapa saat, akhirnya Peserta Didik 1 kembali memperhatikan.
c) Pertemuan III
Berbeda dengan 2 pertemuan sebelumnya, tidak ada kegiatan membaca atau menulis pada pertemuan ketiga yang diselenggarakan tanggal 29 Oktober 2015 ini. Meskipun pertemuan ini masih bagian dari model pembelajaran Fisika bergaya naratif, tidak adanya dua kegiatan itu telah dipertimbangkan oleh peneliti.
Tidak adanya narasi Fisika yang dapat membantu peserta didik untuk belajar menerapkan konsep Hukum Kepler, baik dalam persoalan eksperimental ataupun matematis merupakan alasannya. Lagipula, peneliti tidak menemukan bentuk eksperimen yang pas untuk konsep ini, sekalipun dengan eksperimen virtual. Karena tidak bisa dilakukan dalam persoalan eksperimental, maka peneliti mengajak peserta didik belajar menerapkan konsep Hukum Kepler dalam persoalan matematis.
Dengan dihadiri oleh 3 orang peserta didik (Peserta Didik 1, Peserta Didik 3, dan Peserta Didik 5), pertemuan ini dilaksanakan dengan agenda belajar seperti yang telah direncanakan. Pada pertemuan ini terjadi penyusutan jumlah subjek penelitian. Tidak ada jawaban memuaskan yang diperoleh ketika peneliti menanyakan
alasan ketidakhadiran ini pada peserta didik yang hadir. Peserta Didik 3, misalnya, hanya menjawab tidak tahu.
Pada bagian selanjutnya akan dipaparkan mengenai kesesuaian proses pembelajaran dengan RPP dalam rancangan model pembelajaran, partisipasi peserta didik dalam pembelajaran, kegiatan inkuiri peserta didik, proses diskusi, dan hambatan-hambatan yang ditemui selama proses berlangsung.
1) Kesesuaian Proses Pembelajaran dengan RPP dalam Rancangan Model Pembelajaran
Kegiatan awal pembelajaran terjadi tidak sesuai dengan RPP. Pada kegiatan Apersepsi, misalnya, guru tidak menyinggung Hukum Kepler, melainkan bertanya konsep-konsep apa yang telah dipelajari di kelas X. Maksud dari pertanyaan ini ialah guru hendak menggali pengetahuan awal peserta didik. Setelah mengetahuinya, guru hendak menggunakan pengetahuan awal peserta didik tentang besaran vektor sebagai jembatan untuk menerapkan Hukum III Kepler pada persoalan matematis. Bukannya memperdalam atau memperkuat pemahaman peserta didik, jembatan ini sempat membelokkan arah kegiatan pembelajaran (Bdk. Lampiran 19).
Setelah itu, pembelajaran baru berlangsung sesuai dengan skenario dalam RPP. Guru menjelaskan persamaan Hukum III Kepler, yakni , dapat berubah menjadi .
Proses pembelajaran sempat melenceng dari rencana karena ada beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh peserta didik, seperti jumlah tata surya, mana yang lebih besar tata surya atau galaksi, apa sih pekerjaan astronom, dan bedanya astronom dan astronot. Hal ini dapat diamati secara lebih lengkap pada Lampiran 19.
Namun, proses pembelajaran yang terjadi selanjutnya sesuai dengan RPP yang tercantum dalam Lampiran 13. Peserta didik bersama dengan guru mencoba untuk memecahkan persoalan matematis tentang penerapan Hukum III Kepler.
2) Partisipasi Peserta Didik dalam Pembelajaran
Ketika berdiskusi tentang perubahan bentuk aljabar dalam persamaan Hukum III Kepler, nampak Peserta Didik 1 aktif merespons pertanyaan guru. Namun, respons yang diberikan tidak dipikirkan terlebih dahulu. Salah satu contohnya ialah ketika guru bertanya: apabila jarak suatu planet atau benda satu dan dua bertambah, apa akibatnya terhadap gaya gravitasi; Peserta Didik 1 langsung menyeletuk “makin”. Ia tidak melanjutkan jawabannya. Peserta Didik 1 justru bertanya apabila jaraknya bertambah, planetnya makin misah atau makin deket?
Sementara itu, peserta didik lain (Peserta Didik 3) bertanya untuk mengonfirmasi penjelasan simbol-simbol besaran yang
diberikan oleh guru, seperti apa itu simbol M dan R. Peserta didik mengkonfirmasi apakah simbol M itu menyatakan massa, dan R menyatakan resultan. Nampak bahwa peserta didik yang tengah mempelajari vektor, mengasosiasikan simbol R sebagai resultan vektor.
Secara umum, pada pertemuan ini, peneliti menduga ada perbedaan kualitas pertanyaan dan respons yang diberikan oleh peserta didik. Peserta Didik 1 cenderung spontan dalam menjawab pertanyaan guru maupun mengemu-kakan pendapatnya. Namun, usulan-usulan yang dilontarkannya, karena spontan, seringkali tidak menjawab pertanyaan guru. Bahkan, ia mengulang apa yang telah guru jawab.
Peserta Didik 5 sering bertanya untuk memperoleh penjelasan simbol-simbol besaran yang disampaikan guru. Pada pertemuan ini, Peserta Didik 3 bertanya tidak sesering kedua temannya, tapi pertanyaannya sering kali justru menghidupkan diskusi. Berkat pertanyaannya yang terakhir, guru bisa menarik benang merah diskusi soal makna konstanta dalam hukum Fisika.
3) Kegiatan Inkuiri Peserta Didik dan Proses Diskusi
Kompetensi berupa penerapan konsep Hukum III Kepler pada persoalan matematis pada pertemuan sebelumnya rupa-rupanya belum dikuasai oleh peserta didik. Ini nampak dari gejala
kebingungan yang dialami oleh Peserta Didik 1. Peserta didik ini
bertanya “Kok bisa?”, ketika guru menjelaskan perubahan
persamaan Hukum III Kepler.
Diskusi kemudian berlanjut dengan penelusuran syarat perubahan bentuk aljabar tersebut. Namun, peserta didik tidak paham bahwa syaratnya ialah planet atau benda langit yang