BAB 4 : TINJAUAN PEKERJAAN MAHASISWA
4.4. Hasil Pekerjaan
Pada pelaksanaan kegiatan Kerja Praktek ini, analisis difokuskan pada resiko atau potensi bahaya yang mungkin dapat terjadi pada area produksi SIR 20 serta faktor-faktor penyebabnya.
4.4.1. Sistem Kesehatan dan Keselamatan Kerja PTPN VII a. Alat Pelindung Diri
Keselamatan karyawan perlu diperhatikan, untuk itu perlu adanya perlindungan terhadap faktor bahaya yang menyebabkan kecelakaan kerja. Adapun sistem keselamatan kerja di PTPN VII telah menyediakan:
1. Ear Plug (sumbat telinga)
Berfungsi melindungi tenaga kerja dari paparan kebisingan yang melebihi ambang batas. Ear plug ini diberikan kepada operator yang bekerja pada
mesin Macerator, Creeper, dan Finisher. Selain operator mesin-mesin tersebut , ear plug ini juga berlaku bagi karyawan yang berhubungan langsung dengan area tersebut.
2. Safety Shoes (sepatu boot)
Safety Shoes diberikan kepada seluruh karyawan. Safety shoes ini dijadikan standar keamanan untuk seluruh karyawan yang ingin masuk pada area produksi SIR 20.
3. Anti Polution Masker
Anti Polution Masker diberikan kepada semua karyawan yang berada di area produksi, termasuk staff office yang berhubungan langsung dengan area produksi. Fungsinya untuk menghindari paparan polusi dari hasil emisi mesin produksi dan polusi bau dari bahan baku karet
4. Ear Muff
Ear muff diberikan kepada operator mesin Shreeder, fungsinya sama dengan ear plug, hanya saja pada mesin shreeder ini kebisingan yang dihasilkan tinggi sehingga peredaman yang dibutuhkan lebih tinggi.
5. Sarung Tangan
Sarung tangan yang disediakan merupakan sarung tangan yang tahan terhadap api. Sarung tangan ini diberikan kepada karyawan yang bekerja di gudang yang bertugas melapisi bal-bal karet yang sudah dipress dan ditumpuk, sarung tangan pada proses pelapisan ini penting karena, plastik yang digunakan untuk melapisi harus dipanaskan menggunakan api menyala yang berasal dari tabung. Sarung tangan ini diberikan pada pekerja yang bekerja di bagian maintenance (bengkel).
6. Tameng Muka dan Kacamata las
Kacamata las berfungsi melindungi mata pekerja dari sinar las. Kacamata ini diperuntukkan bagi pekerja di bagian maintenance. Sedangkan tameng muka sering digunakan pada proses penggerindaan di bagian maintenance .
PTPN VII memberikan APD kepada karyawan sesuai dengan jenis pekerjaan yang terkoordinir di setiap departemen. Tetapi karena beberapa faktor kenyataan di lapangan bahwa penggunaan APD belum terlaksana dengan baik.
b. Pengaman Mesin
Pada mesin produksi terdapat pengaman mesin yaitu emergency stop. Emergency stop ini berfungsi untuk menghentikan mesin secara tiba-tiba ketika terjadi suatu kejadian kecelakaan kerja, atau keadaan darurat lainnya.
c. Rambu Tanda Bahaya dan Poster K3
Rambu tanda bahaya mengenai peringatan bahaya api, benda mudah terbakar, bahan kimia, dan poster himbauan tentang keselamatan kerja telah terpasang pada beberapa titik sesuai areanya. Beberapa titik telah terpasang poster K3 karena untuk memberikan peringatan kepada pekerja agar menghargai keselamatan dan kesehatan mereka dengan menggunakan alat pelindung diri dan tidak melakukan tindakan tidak aman.
Gambar 4.2 Himbauan alat Gambar 4.3 Peringatan pelindung diri (APD)
Gambar 4.6 Rambu Peringatan Gambar 4.7 Rambu Peringatan
d. Sistem Pemadam Kebakaran
Fasilitas pemadam kebakaran pada PTPN VII Tulungbuyut ini sesuai denganketentuan Permenakertrans No.Per. 04 / MEN / 1980 tentang syarat – syarat tentang pemasangan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Telah sesuai dengan kondisi dan kelengkapan bagian dari hydrant seperti nozzle, box, selang valve dan lain-lain. Serta di masing-masing lokasi hydrant terdapat panduan cara penggunaannya. Kemudian di setiap bangunan dan kantor sudah terdapat peta tata letak alat pemadam api. Untuk APAR yang ada di PTPN VII Tulungbuyut ini ada 70 buah dan hydrant tersebar pada 9 titik di lingkungan pabrik
Gambar 4.8 APAR Gambar4.9 Hydrant Gambar 4.10 Peta APAR
e. Pelayanan Kesehatan Kerja
PTPN VII menyediakan fasilitas kesehatan bagi karyawan berupa puskesmas yang terletak tidak jauh dari pabrik. Fungsi dari adanya puskesmas ini yaitu untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada pekerja yang mengalami kecelakaan kerja ringan, melayani pemeriksaan tenaga kerja dan obat-obatan bagi pekerja yang sakit. Pelayanan kesehatan kepada tenaga kerja diberikan selama jam kerja. Untuk tenaga medis yang ada yaitu seorang mantri/perawat. Dan juga seluruh pekerja mendapatkan jaminan kesehatan BPJS. PTPN VII juga menyediakan P3K pada beberapa titik guna membantu menangani keadaan-keadaan darurat akibat kecelakaan kerja. Kemudian untuk pelaporan penyakit akibat kerja yang dialami tenaga kerja di PTPN VII dapat dilihat dari keluhan-keluhan pekerja saat berobat
ke puskesmas macam-macam penyakit akibat kerja yang sering dialami diantaranya yaitu : ISPA, diare, magh dan telinga berdenging.
Gambar 4.11 Puskesmas
f. Sanitasi
Sanitasi adalah kebersihan semua tempat untuk menciptakan kesehatan bagi lingkungan dan bagi tenaga kerja itu sendiri. Sanitasi yang menjadi perhatian di PTPN VII ini yaitu kebersihan lingkungan kerja baik di dalam maupun di luar ruang produksi dibersihkan dan dipel. Selain kebersihan di area produksi kebersihan got juga diperhatikan agar tidak mengganggu aliran air. Serta juga adanya pengontrolan dalam pembuangan sampah sehingga sangat membantu kelancaran proses produksi.
4.4.2. Hasil Pengamatan di lapangan mengenai potensi bahaya yang mungkin terjadi
a. Slab Cutter dan Sizer (pencacahan)
Slab Cutter berfungsi untuk memotong/mencacah bahan baku karet menjadi bagian-bagian lebih kecil dan memisahkan kotoran yang terikut dalam bahan baku, dan menyeragamkan ukuran bahan baku (bokar). Pada pengamatan yang dilakukan di stasiun kerja proses pencacahan bahan baku karet yaitu pada proses pencacahan, didapatkan beberapa potensi bahaya yang dapat mengganggu kinerja pekerja, yaitu bau yang menyengat akibat dari tumpukan bahan baku karet yang berasal dari pihak ketiga, bau yang dihasilkan berasal dari bau karet itu sendiri dan juga ditambah lagi dengan bau yang diakibatkan karena adanya beberapa bahan baku karet dari pihak ketiga yang pada saat penyimpanannya diletakkan di dalam parit, sehingga bau bahan baku karet tersebut bercampur dengan bau parit sehingga menyebabkan potensi bahaya yang tergolong dalam Bilogical Hazard, bahaya ini muncul karena berdasarkan apa yang diperoleh di
lapangan, operator yang bekerja pada mesin sizer ini tidak menggunakan masker. Pada stasiun ini juga ditemui faktor resiko kebisingan namun masih pada ambang batas toleransi kebisingan yang dapat diterima oleh pendengran, bahaya ini digolongkan kedalam golongan bahaya Physical Hazard namun kondisi ini dapat menyebabkan masalah pendengaran yaitu Temporary Hearing Loss, masalah ini disebabkan paparan kebisingan dalam jangka waktu singkat, pendengaran akan kembali saat menjauh dari kebisingan.
b. Hammer Mill (pencuci karet)
Hammer Mill berfungsi untuk memecahkan potongan-potongan karet dari slab cutter/sizer menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan juga membersihkan kotoran yang ada dalam remahan karet. dan membersihkan kotoran-kotoran. Pada pengamatan yang dilakukan di stasiun kerja berikutnya yaitu pada mesin Hammer Mill (pencuci karet), didapatkan beberapa potensi bahaya yang dapat mengganggu kinerja pekerja, yaitu getaran yang cukup kuat dirasakan ketika kita berada di atas mesin Hammer Mill ini, jenis getaran yang dirasakan masuk pada jenis Whole Body Vibration (WBV), jika keadaan ini dibiarkan dalam jangka panjang maka dapat menimbulkan beberapa efek seperti nyeri punggung, gangguan peredaran darah, bahkan kerusakan permanen pada tulang belakang. Potensi bahaya lain yaitu kebisingan, kebisingan yang dirasakan pada saat berada di area operasi mesin Hammer Mill ini juga dirasa cukup mengganggu, karena memiliki tingkat kebisingan hingga 87,34 dB, berada di atas nilai ambang batas pendengaran dan dapat berakibat pada masalah pendengaran Temporary Hearing Loss. Resiko bahaya ini muncul karena berdasarkan pengamatan di lapangan operator yang bekerja pada stasiun kerja ini tidak menggunakan alat pelindung pendengaran. Kedua resiko bahaya ini masuk dalam golongan bahaya Physical Hazard. Kemudian potensi bahaya lain yang di dapatkan yaitu bahaya terpleset bagi pekerja, hal ini disebabkan karena pada stasiun ini merupakan stasiun basah yang berakibat pada licinnya area produksi di stasiun kerja Hammer Mill ini.
c. Penggilingan (Macerator, Creeper, Finisher)
Stasiun kerja penggilingan berfungsi untuk menghasilkan lembaran crepe. Pada pengamatan yang dilakukan di area proses penggilingan ini ditemukan beberapa potensi bahaya, yang menonjol yaitu kebisingan, kebisingan yang dihasilkan pada mesin ini cukup besar mencapai 87,34 dB sehingga dapat beresiko pada masalah
gangguan pendengaran Temporary Hearing Loss, namun jika keadaan ini tetap dilakukan secara terus menerus dalam jangka panjang maka dapat berakibat pada kerusakan pendengaran permanen atau yang biasa disebut Permanent Hearing Loss. Resiko bahaya ini muncul karena berdasarkan pengamatan di lapangan operator yang bekerja pada stasiun kerja ini tidak menggunakan alat pelindung pendengaran. Kemudian pada area kerja penggilingan ini bahaya yang muncul yaitu resiko kecelakaan kerja yang disebabkan akibat tangan pekerja yang masuk pada mesin penggiling.
d. Pre drying (penjemuran)
Pre drying merupakan ruangan/kamar untuk tempat penjemuran lembaran crepe. Pada pengamatan yang dilakukan di area kerja Pre drying terdapat beberapa potensi bahaya yang muncul diantaranya yaitu, potensi bahaya yang timbul akibat dari rapuhnya kayu-kayu penjemuran yang terdapat pada area Pre Drying ini, potensi bahaya ini muncul ketika pekerja melakukan proses penjemuran karet yang sudah melalui proses penggilingan, pada proses penjemuran pekerja harus memindahkan gulungan karet yang beratnya 200 kg – 300 kg dengan menggunakan Hand Carts dan harus melewati barisan kayu penjemur yang kondisinya ada beberapa yang sudah rapuh, keadaan ini menimbulkan resiko pekerja terjatuh dari ketinggian ketika melakukan pekerjaan ini . Bahaya ini termasuk dalam golongan bahaya yang disebabkan oleh kondisi yang tidak aman (Unsafe Condition). Potensi bahaya lain yang muncul pada stasiun kerja ini yaitu pada saat proses pengangkatan karet yang sudah kering, pada saat karet di tarik akan muncul kebulan menyerupai asap yang di akibatkan dari jamur yang rontok ketika karet ditarik.
e. Shreder
Shreder merupakan mesin yang digunakan untuk melakukan pencacahan lembaran creeper. Pada pengamatan yang dilakukan pada stasiun kerja Shreder ini didapatkan potensi bahaya yang mencolok yaitu kebisingan. Kebisingan yang dihasilkan oleh mesin ini sangat kuat yaitu hingga 89,23 dB melampaui nilai ambang batas pendengaran, sehingga memiliki resiko bahaya yang berakibat pada terjadinya gangguan pendengaran mulai dari Temporary Hearing Loss hingga Permanent Hearing loss. Resiko bahaya ini terjadi ketika pekerja (bukan operator shreder) yang bertugas mengangkut atau memindahkan karet dari pre dryer menuju ke mesin shreder, resiko bahaya muncul karena pekerja yang
memindahkan karet tidak menggunakan alat pelindung pendengaran sehingga sangat berpotensi terkena resiko bahaya yang telah disebutkan sebelumnya.
f. Alat Angkat-angkut
Bahaya lain yang timbul yaitu resiko terjadinya kecelakaan akibat tertabrak fork lift yang bergerak memindahkan bal-bal karet dari packaging departement menuju gudang.
Tabel 4.1 Tabel hasil pengukuran kebisingan pada tiap stasiun kerja
No Stasiun Kerja Hasil Pengukuran dB (A)
Waktu Pemaparan
(Jam)
NAB
1 Slab Cutter dan Sizer 84,26 dB 7 jam 85 2 Hammer Mill (pencuci karet) 87,34 dB 7 jam 85 3 Macerator, Creeper, Finisher (Penggilingan) 86,72 dB 7 jam 85 4 Shreder 89,23 dB 7 jam 85
4.4.3. Dampak / penyakit yang ditimbulkan oleh potensi bahaya di lapangan. a. Dampak Paparan Kebisingan
Kebisingan adalah suara yang tidak dikehendaki yang bersifat mengganggu. Kebisingan yang tinggi akan berpengaruh pada lingkungan sekitar .Pengaruh utama kebisingan pada kesehatan adalah terjadinya kerusakan pada indra pendengaran berup yang dapat menyebabkan ketulian progresif. Hal ini sudah nampak dari beberapa keluhan pekerja yang berobat ke puskesmas mengenai telinga berdenging. Tidak hanya berpengaruh pada pendengaran tetapi juga dapat menyebabkan gangguan psikologis berupa rasa tidak nyaman dan kurang konsentrasi, serta berdampak pada gangguan fisiologis berupa peningkatan tekanan darah (± 10 mmHg) dan juga tekanan jantung.
Getaran dapat menimbulkan gangguan pada jaringan secara mekanik dan gangguan rangsangan reseptor saraf di dalam jaringan. Untuk getaran yang terjadi di stasiun kerja Hammer Mill termasuk dalam golongan WBV (Whole Body Vibration) yang akan menyebabkan dampak yaitu kerusakan struktural pada tulang subkondral dan endplate, dan kelelahan otot yang berdampak pada menurunya tingkat stabilitas tulang belakang. Hal ini juga sudah tampak dari beberapa keluhan pekerja ke puskesmas mengenai adanya nyeri di beberapa bagian tulang.
c. Dampak Kondisi Lantai Licin
Lantai licin dapat berpotensi bahaya pada terjadinya kecelakaan kerja berupa terpleset dan terjatuh. Hal ini juga dapat berdampak pada cideranya pekerja jika terjatuh atau terpleset pada posisi yang berbahaya.
d. Dampak Terjatuh dari Ketinggian
Potensi bahaya terjatuh dari ketinggian terjadi pada proses penjemuran di pre drying yang dapat menyebabkan resiko pekerja terjatuh dari ketinggian. Ini dapat menimbulkan bahaya resiko cidera yang cukup parah jika terjatuh dari ketinggian, resiko tersebut dapat berupa patah tulang, cacat permanen, bahkan kematian
e. Dampak Tertabrak Alat Angkat-Angkut (forklift)
Pergerakan forklift di area produksi tepatnya dari packaging departement menuju ke gudang juga memiliki potensi bahaya, potensi bahaya yang mungkin muncul yaitu tertabraknya pekerja oleh forklift ketika sedang berada di area tersebut. Kejadian ini dapat menyebabkan resiko terjadinya cidera pada pekerja.
4.4.4. Pengendalian Bahaya
Untuk pengendalian bahaya di PTPN VII ini, instruksi kerja mengenai pengendalian bahaya sebenarnya sudah tersusun dengan baik dan terperinci di dalam dokumen SMTN 7, dokumen ini merupakan dokumen mengenai Sistem Manajemen Terpadu yang diterapkan di seluruh PTPN VII. Dokumen ini mencakup semua hal dari pedoman prosedur terpadu, manajemen pemasaran, manajemen pengolahan, manajemen produksi tanaman, manajemen logistik, manajemen lingkungan, manajemen K3 dan tata kelola sistem manajemen terpadu. Dalam dokumen SMTN 7 ini seluruh instruksi kerja dan alur-alur serta tahapan yang harus dijalankan perusahaan sudah tersusun dengan baik dan terperinci, termasuk
tentang instruksi mengenai K3, seperti himbauan mengenai penggunaan APD, tanggap darurat kebakaran, tanggap darurat bencana alam, dan segala hal tentang kesehatan dan keselamatan kerja serta alur-alur proses dan tahapan yang perlu dilakukan ketika hal-hal tersebut terjadi. Namun karena beberapa faktor instruksi kerja yang terdapat di dalam dokumen SMTN 7 ini belum dapat terlaksana sepenuhnya.
Mengacu pada dokumen SMTN 7, untuk potensi bahaya yang dapat mengakibatkan tenaga kerja mengalami kecelakaan kerja di area produksi. PTPN VII menghi mbau seluruh pekerjanya untuk menggunakan alat pelindung diri untuk mengurangi resiko kecelakaan. Hal ini sesuai Undang-Undang No. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja. PTPN VII juga melakukan pemberian alat pelindung diri kepada seluruh karyawan di pengolahan, seperti Ear plug di bagian penggilingan, ear muff dibagian mesin shreder, anti polution masker pada seluruh pekerja yang bersinggungan langsung dengan area produksi, serta safety shoes sebagai standar keamanan paling dasar untuk masuk ke area produksi. Namun karna faktor sumber daya manusia dan beberapa faktor lain penggunaan APD di lapangan belum sesuai dengan Standar Operasional Produksi yang ada.
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan dan Saran
Untuk mengatasi permasalahan kebisingan harus diawali dengan mengatasi sumbernya terlebih dahulu yaitu dengan melakukan pemeliharaan dan perawatan terhadap mesin-mesin secara teratur dengan pemberian pelumas atau oli. kemudian perlu dilakukan sosialisasi kepada seluruh pekerja tentang pentingnya penggunaan Alat Pelindung Diri serta fungsinya bagi kesehatan dan keselamatan kerja. Perlu juga dilakukan pengawasan ketat tentang penggunaan APD. Karena seperti yang kita ketahui bahwa kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah satu faktor pendukung dalam produktivitas produksi di perusahaan. Terutama penggunaan ear plug bagi para pekerja yang bekerja di area sekitar mesin shreeder dan mesin penggilingan (macerator, creeper, Finisher), karena pada area ini memiliki tingkat kebisingan yang cukup tinggi dan melewati ambang batas normal pendengaran. Dan perlu adanya tambahan rambu mengenai himbauan penggunaan APD yang diperlukan sesuai dengan potensi bahaya di area kerja masing-masing.
Untuk permasalahan potensi bahaya akibat getaran juga perlu dilakukan pemeliharaan terhadap mesin secara rutin sehingga sumber getaran dapat di minimumkan. Serta memberi himbauan kepada pekerja di area hammer mill untuk tidak terlalu lama berada di atas jembatan mesin Hammer mill, untuk mengurangi resiko dampak bahaya jangka panjang akibat getaran
Untuk permasalahan potensi bahaya pada pre drying yaitu jatuh dari ketinggian akibat kayu penjemur yang biasa dilewati oleh pekerja saat melakukan proses penjemuran, harus di lakukan pengawasan secara intensif mengenai kelayakan kemampuan kayu dalam menahan beban yang dibawa pekerja yang mencapai 200 – 300 kg, dan dilakukan penggantian kayu apabila kayu tersebut sudah dianggap tidak layak dan membahayakan.
Untuk permasalahan potensi bahaya tertabrak forklift dalam dilakukan dengan memasang bel atau sirine pada forklift sehingga operator forklift dapat memberi tanda ketika forklift akan melintas, serta juga memasang rambu pemberitahuan bahwa area tersebut sering dilalui forklift. Dan bila memungkinkan disediakan jalur khusus pejalan kaki dan kendaraan, memisahkan pintu masuk dan keluar antara pejalan kaki dengan forklift.