Pembahasan pada bab ini berisi hasil penelitian yang dilakukan di Perpustakaan Universitas Medan Area dengan cara observasi dan wawancara dengan pustakawan yang terlibat secara langsung pada kegiatan kemas ulang informasi. Hasil penelitian ini berupa penjelasan mengenai produk kemas ulang informasi yang berada di bidang: pengembangan koleksi, promosi dan kerjasama, dan TI perpustakaan. Selain itu akan dipaparkan juga langkah-langkah dalam mengemas informasi, manfaat yang dirasakan perpustakaan, kendala dalam mengemas ulang informasi, bentuk hasil penyajian kemas ulang informasi, dan pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan kemas ulang informasi di Universitas Medan Area. Berikut ini akan diuraikan hasil wawancara.
4.1 Produk Kemas Ulang Informasi
Sebelum menghasilkan sebuah produk kemas ulang informasi, hendaknya menentukan sebuah konten dengan cara menganalisis kebutuhan pengguna.
Dengan adanya produk kemas ulang informasi di Perpustakaan Universitas Medan Area maka memberikan banyak keuntungan baik untuk pustakawan maupun pengguna salah satunya informasi menjadi lebih mudah dipahami sehingga kebutuhan informasi terpenuhi. Di Perpustakaan Universitas Medan Area terdapat beberapa produk kemas ulang informasi yang dapat ditemui pada 3 bagian bidang yaitu pengembangan koleksi informan satu (I¹), promosi dan
kerjasama (I²), TI perpustakaan (I³) yang akan dijelaskan oleh informan sebagai berikut:
I¹: produk kemas ulang informasi disini ada yang elektronik dan tercetak.
Misalnya ada jurnal di download atau dilanggan elektronik nya kemudian dimasukkan ke dalam cd selanjutnya di burning setelah itu dikasih cover nya kemudian kami layankan ke pengguna. Kemudian koran, koran yang dilanggan dan terdapat berita tentang perpustakaan UMA kemudian di klipping disatukan pertahun. Kemudian skripsi, perpustakaan tidak menerima lagi skripsi tercetak sehingga skripsi akan dibentuk elektroniknya dengan diedit terlebih dahulu sesuai aturan bakunya kemudian dientry atau di upload ke dalam repository.
Penjelasan dari informan dua (I²):
I²: pada bagian promosi dan kerjasama produk kemas ulang informasinya yaitu berupa artikel dan koran yang setelah dikemas ulang di bagian pengembangan koleksi selanjutnya akan di promosikan atau di publish.
Kemudian kami juga membuat (create) brosur atau produk yang harus dipromosikan.
Penjelasan dari informan tiga (I³):
I³: cara pengemasan informasi dari knowledge yang diciptakan oleh mahasiswa yaitu skripsi atau berupa tugas akhir skripsi dan juga tesis itu dikemas ulang menjadi dalam bentuk file digital, dikelola, dimanagement, dan dipublikasikan melalui website repository. Untuk produk yang di publikasikan di website yaitu informasi yang kita terima hanya sumber dari pustakawan,pustakawan melakukan pemikaran dan ide-ide atau opini-opini dituangkan ke dalam tulisan di edit dan diperbaiki tulisannya sesuai dengan format baku bahasa Indonesia yg baik kemudian di publikasikan ke web.
Dari keterangan ketiga informan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwasannya masing-masing bidang menghasilkan produk kemas ulang informasi yang berbeda. Pada informan satu (I¹) yaitu pustakawan dibidang pengembangan
pengguna, koran yang dilanggan perpustakaan juga memuat berita mengenai perpustakaan akan dikumpulkan dan di kemas agar dapat dinikmati oleh pengguna. Selanjutnya keterangan dari informan dua (I²) yang merupakan pustakawan di bidang promosi dan kerjasama menghasilkan produk kemas ulang informasi berupa brosur atau produk yang memang harus di buat terlebih dahulu dan kemudian di promosikan. Terakhir, keterangan dari informan tiga (I³) yang merupakan pustakawan di bidang Teknologi Informasi (TI) perpustakaan menghasilkan produk kemas ulang informasi berupa skripsi elektronik yang sebelumnya dikemas ulang dari bentuk tercetak ke bentuk elektronik yang kemudian akan dimasukkan ke dalam web repository.
Berikut ini beberapa gambar dari produk kemas ualang informasi:
Gambar 1.Jurnal yang dilanggan
Gambar 2.Skripsi
Gambar 4.Koran 4.2 Langkah-Langkah Kemas Ulang Informasi
Untuk melakukan kegiatan kemas ulang informasi maka terdapat proses atau langkah-langkah yang menjadi prosedur pada perpustakaan UMA sebagai berikut:
I¹: langkah-langkah untuk kemas ulang informasi seperti yang sudah dijelaskan tadi. Contohnya pada jurnal yang dilanggan perpustakaan akan di download kemudian dimasukkan ke dalam cd selanjutnya di burning setelah itu dikasih cover nya kemudian dilayankan ke pengguna.
Ada juga koran, koran akan dikumpulkan dan di klipping disatukan pertahun kemudian di sajikan pada pengguna. Kemudian skripsi, setelah dieditdalam bentuk soft copy kemudian diedit sesuai aturan bakunya kemudian dientry atau di upload ke dalam repository yang siap dipakai oleh pengguna.
Gambar 5. Alat pencarian skripsi Penjelasan dari informan dua (I²):
I²: pada bagian promosi dan kerjasama lebih mengarah pada mempromosikan hasil kemas ulang informasi yang telah dilakukan pada bagian pengembangan koleksi dan TI perpustakaan, jadi tidak ada langkah-langkah khusus dalam mengemas ulang informasi .
Penjelasan dari informan tiga (I³):
I³: tata cara dalam bidang TI adalah tata cara pengelolaan repository dari awal penerimaan informasi sampai pengemasan informasi dan sampai ke publikasi.
Gambar 7. Website perpustakaan UMA
Dari keterangan ketiga informan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwasannya masing-masing bidang mempunyai langkah-langkah yang berbeda dalam melakukan kemas ulang informasi. Pada informan satu (I¹) yaitu dalam mengkemas ulang informasi melakukan langkah seperti pada jurnal yang dilanggan, jurnal harus di download dan dimasukkan ke cd terlebih dahulu kemudian di burning setelah itu dikasih cover dan dilayankan . Selanjutnya keterangan dari informan dua (I²) yaitu dalam mengkemas ulang informasi melakukan langkah yang tidak khusus karena pada bagian promosi dan kerjasama hanya menunggu hasil kemas ulang yang dilakukan bidang pengembangan koleksi kemudian bersinergi dengan bidang TI perpustakaan dalam kemas ulang informasi. Terakhir, keterangan dari informan tiga (I³) yaitu dalam mengkemas ulang informasi melakukan langkah seperti langkah awal sampai langkah akhir
dari pengelolaan repository kemudian dari awal penerimaan informasi selanjutnya sampai pada pengemasan informasi dan terakhir yaitu publikasi.
4.3 Manfaat Kemas Ulang Informasi
Dengan adanya kemas ulang informasi yang di lakukan oleh perpustakaan agar perpustakaan memiliki bahan pustaka yang up to date sesuai dengan kebutuhan pengguna. Karena perpustakaan dituntut harus mampu memberikan informasi yang dibutuhkan oleh pengguna dan mampu menyediakan berbagai sumber konten dan informasi tanpa batasan. Karena itulah yang menjadi tanggung jawab pustakawan untuk dapat melakukan kemas ulang sebab yang dimiliki perpustakaan bukan hanya sebatas buku melainkan mencakup segala informasi yang dapat membantu pengguna dalam dalam memenuhi kebutuhan informasinya.
Seperti penjelasan informan satu (I¹) sebagai berikut:
I¹: manfaat yang didapatkan yaitu penggunaan meningkat, meningkatnya penggunaan layanan yang diberikan perpustakaan berdampak kepada kinerja seperti akreditasi perpustakaan, program studi, universitas kita dapat kemudian dapat mengukur hasil dari kemas ulang informasi tersebut. Untuk skripsi dan juga tesis kunjungan nya nomor satu paling banyak di UMA maksudnya dalam hal kunjungan website perpustakaan terkhusus dalam bidang repository.
Penjelasan dari informan dua (I²):
I²: yang dirasakan pengguuna yaitu mereka dapat informasi yang lebih mudah, lebih dekat karena konsen nya kami sekarang kearah digital, harapan kami makin banyak kemas ulang yg di digital maka konten nya lebih banyak tersampaikan karena kalau sudah digital bisa dipakai oleh semua .
Penjelasan dari informan tiga (I³):
I³: yang jelasnya manfaat yaitu pengguna sudah ada pengetahuan nya karna sudah adanya alat untuk melihat informasi seperti dari website.
Dengan mempermudah pemustaka sehingga mempermudah pustakawan karena pertanyaan dari mahasiswa menjadi lebih sedikit dan pengetahuan nya sudah semakin banyak.
Dari keterangan ketiga informan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwasannya dalam melakukan kemas ulang informasi memiliki manfaat yang bukan dirasakan oleh satu bidang saja tapi masing-masing bidang mempunyai manfaat yang dirasakan berbeda . Pada informan satu (I¹) merasakan manfaat dalam hal penggunaan yang semakin meningkat berdampak kepada kinerja dan akreditasi universitas, perpustakaan, program studi dan juga kunjungan website terkhusus repository semakin meningkat. Selanjutnya keterangan dari informan dua (I²) merasakan manfaat para pengguna mendapatkan informasi yang lebih mudah dan lebih dekat karena konten nya lebih dapat tersampaikan kepada para pengguna. Terakhir, keterangan dari informan tiga (I³) merasakan manfaat yaitu
para pengguna yang pengetahuannya semakin menjadi lebih luas sehingga mereka menjadi tidak banyak bertanya kembali dan mempermudah pustakawan.
4.4 Kendala Dalam Mengemas Ulang Informasi
Kemas ulang informasi yang dilakukan pada bahan pustaka di perpustakaan tentu tidak semudah yang dibayangkan dilihat dari hasil pengemasan tersebut. Banyak kendala yang tentunya dihadapi oleh pustakawan dalam melakukan kemas ulang informasi tersebut, Tentu hal tersebut sangat dirasakan oleh pihak Perpustakaan Universitas Medan Area , Seperti penjelasan informan satu (I¹) sebagai berikut:
I¹:kendala yang kami hadapi seperti pada jurnal yaitu anggaran, kemudian sdm kami masih kurang kalau sarana dan prasarana kami sudah memadai
Penjelasan dari informan dua (I²):
I²:kendala di kami pada kemas ulang itu sebenarnya tidak ada karena kami hanya bertugas mendorong alias menshare hasil kemas ulang yang sudah dipaparkan dari bidang pengembangan koleksi
Penjelasan dari informan tiga (I³):
I³:jelas dalam kendala nya di waktu karena waktu pengemasan ulang informasi itu tidak sebentar dan tidak bisa dilakukan secara terus menerus secara mandiri, juga sdm yang masih kurang dalam melakukan
pengemasan informasi yang banyak dalam tiap hari idak bisa sendiri karena harus ada manjemen waktu yang baik dan benar.
Dari keterangan ketiga informan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwasannya dalam melakukan kemas ulang informasi ada kendala yang dirasakan oleh pustakawan. Kendala dalam kemas ulang informasi yaitu berupa seperti pada jurnal anggarannya kurang juga sumber daya manusia yang belum mumpuni dan juga dalam masalah waktu pengemasan ulang informasi yang tidak sebentar juga tidak bisa dilakukan secara terus menerus karena harus adanya manajemen waktu yang baik dan benar.
4.5 Bentuk Hasil Penyajian Kemas Ulang Informasi
Bentuk kemas ulang informasi yang dilayankan oleh perpustakaan mempunyai bentuk penyajian yang dilayankan untuk pengguna , Bentuk penyajian yang dilakukan oleh perpustakaan seperti penjelsan informan satu (I¹) sebagai berikut:
I¹:yang paling sering digunakan yaitu jurnal dan hasil penelitian seperti skripsi dan tesis kalau koran masih jarang,kenapa jurnal diminati karena mahasiswa penelitian mencari jurnal untuk tambahan referensi mereka terutama untuk mahasiswa pasca sarjana.
Penjelasan dari informan dua (I²):
I²: untuk hasil penyajian kemas ulang saya cuma mengerjakan create yang sudah ada terutama dari pengembangan koleksi kemudian berkordinasi
dan bersinergi dengan bidang TI dalam penyebaran berita ke web unuk disajikan lebih terperinci.
Penjelasan dari informan tiga (I³):
I³: di bagian TI biasanya yang paling sering digunakan informasi dengan konten repository, yang kedua informasi yang ada di media sosial, dan yang ketiga adalah informasi yang tersedia diwebsite.
Tidak dapat dipungkiri bahwa beragam macam bentuk penyajian hasil kemas ulang informasi yang ada di perpustakaan khususnya perpustakaan Universitas Medan Area. Dapat dilihat pada keterangan ketiga informan tersebut bahwa masing-masing bidang mempunyai bentuk penyajian yang berbeda khususnya yang paling sering digunakan oleh pengguna. Pada informan satu (I¹) informasi yang paling sering digunakan ialah jurnal dan hasil laporan penelitian seperti skripsi dan tesis. Ini dikarenakan jurnal dan laporan penelitian dijadikan bahan referensi oleh pengguna mahasiswa sarjana dan mahasiswa pascasarjana.
Berbeda dari keterangan informan satu, di informan dua (I²) tidak ada secara spesifik bentuk penyajian kemas ulang informasi yang paling sering digunakan, karena tugas dari informan dua hanya menerima hasil dari informan satu dan informan tiga kemudian dilakukan publikasi atau promosi. Terakhir, keterangan dari informan tiga (I³) memaparkan informasi yang sering digunakan oleh pengguna ialah informasi atau konten yang terkandung di dalam repository, informasi yang tersedia di media sosial perpustakaan, dan informasi yang tersedia
4.6 Pihak-Pihak yang Terlibat Dalam Kegiatan Kemas Ulang Informasi
Dalam melakukan kemas ulang informasi tentu tidaklah mudah, karena dalam pengemasan informasi melibatkan banyak pihak yang berkontribusi dan berkordinasi dalam penyelesaian kemas ulang informasi tersebut, karena pihak-pihak tersebut yang tentunya harus mampu dan bertanggung jawab untuk melakukan pengemasan informasi tersebut seperti pustakawan yang bekerja sesuai bidangnya masing-masing dan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Dalam pengemasan informasi di Universitas Medan Area 3 pustakawan di bidang pengembangan koleksi (I¹),bidang promosi dan kerjasama (I²),bidang TI perpustakaan (I³) sangat berperan penting dalam proses kemas ulang informasi, sehingga 3 pustakawan tersebut harus bersinergi dan berkordinasi dalam pengemasan ulang informasi tersebut.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN