Hasil
Produksi dan Upaya Penangkapan Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard)
Pendugaan potensi Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) diolah dengan menggunakan data produksi dan upaya penangkapan yang dilakukan setiap tahunnya dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Produksi sumberdaya Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) tahun 2014 – 2018 dan produksi dari setiap alat tangkap yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Sibolga dapat dilihat pada Gambar 9 dan Gambar 10.
Gambar 9. Produksi Ikan Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) tahun 2014 – 2018 di Pelabuhan Perikanan Nusantara Sibolga
3110,353
Gambar 10. Produksi Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) per alat tangkap tahun 2014 – 2018 di Pelabuhan Perikanan Nusantara Sibolga.
Berdasarkan jumlah produksi kurun waktu 2014 – 2015 , pada tahun 2015 merupakan produksi tertinggi yaitu sebesar 3581,734 ton sedangkan jumlah produksi ikan terendah yaitu pada tahun 2017 dengan total produksi 953 ton.
Berdasarkan produksi per-alat tangkap, pukat cincin mendominasi produksi penangkapan Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) walaupun di tahun 2014 produksi peralat tangkap jaring insang yang tertinggi yaitu sebesar 995,181 ton tetapi 4 tahun berikutnya adalah pukat cincin yang mendominasi yaitu sebesar 1673,392 ton di tahun 2015, 1907,970 ton pada tahun 2016, 766,970 ton di tahun 2017 dan pada tahun 2018 sebesar 1735,940 ton. Sedangkan produksi peralat tangkap yang terendah terjadi pada alat tangkap pancing ulur yaitu pada tahun 2014 berjumlah 167,109 ton, tahun 2015 berjumlah 1,274 ton, di tahun 2016 sebesar 1,760 ton, pada tahun 2017 sebesar 1,700 ton dan pada tahun 2018 produksi alat tangkap pancing ulur sebesar 11,580 ton.
0
Upaya penangkapan (Effort) tiap alat tangkap dalam 5 tahun terakhir (2014 – 2018) di Pelabuhan Perikanan Nusantara Sibolga dapat dilihat pada Gambar 11.
Gambar 11. Effort Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) pada tahun 2014 – 2018 di Pelabuhan Perikanan Nusantara Sibolga.
Setiap alat tangkap selalu mengalami penurunan dan peningkatan jumlah effort setiap tahunnya. Berdasarkan jumlah effort pada 3 jenis alat tangkap, pukat
cincin (purse seine) merupakan alat tangkap yang memiliki effort tertinggi pada tahun 2014 sampai dengan 2018 yaitu pada tahun 2014 sebanyak 1830 trip, tahun 2015 sebanyak 1775 trip, di tahun 2016 sebanyak 1967 trip, tahun 2017 sebanyak 3011 trip dan tahun 2018 sebanyak 4050 trip. Sedangkan effort terendah dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2018 yaitu pada alat tangkap pancing ulur (hand line), yaitu pada tahun 2014 sebanyak 657 trip, pada tahun 2015 sebanyak 764
trip, di tahun 2016 sebanyak 911 trip, pada tahun 2017 sebanyak 1000 trip serta pada tahun 2018 sebanyak 1083 trip.
0
Pendugaan Potensi Lestari/Maximum Sustaibale Yield (MSY), Upaya Penangkapan Optimum/Effort Optimum (Fopt) dan Tangkapan yang diperbolehkan/Total Allowed Catch (TAC)
Pendugaan potensi lestari dengan metode surplus produksi yang terdiri dari model Schaefer dan model Fox. Berdasarkan analisis potensi sumberdaya Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) dengan metode surplus produksi menggunakan formula model Schaefer, regresi linear antara effort dengan CPUE Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) (model Schaefer) pada Gambar 12 diperoleh konstanta (a) sebesar 1,318398049 dan koefisien regresi (b) sebesar -0.000252705. Hasil dugaan potensi lestari (MSY) sumberdaya Ikan Tongkol Krai sebesar 1719,567244 kg/tahun dengan effort optimum 2608,57068 trip/tahun. Berdasarkan analisis regresi nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,7226
Gambar 12. Regresi Linier antara Effort dengan CPUE Ikan Tongkol Krai (Auxis Thazard) (Model Schaefer).
Hubungan antara hasil tangkapan (C) dengan upaya tangkapan (f) sumberdaya Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) ditunjukkan dengan menggunakan model Schaefer dalam persamaan C = 1,318398049 - 0.000252705 f2. Hubungan
CPUE dengan effort dari persamaan regresi linier model Schaefer adalah
0 1000 2000 3000 4000 5000
CPUE
Upaya Penangkapan (Trip)
y = -0.0002x + 1,3184 dengan R2 = 0,7226 artinya setiap peningkatan effort 1 trip maka CPUE akan berkurang sebesar 0.000252705 kg/trip.
Berdasarkan analisis potensi sumberdaya Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) dengan metode surplus produksi menggunakan model Fox, regresi linier
antara effort dengan ln CPUE Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) pada Gambar 13, diperoleh konstanta (a) sebesar 0,49985268 dan koefisien regresi (b) sebesar -0,00040618. Hasil dugaan potensi lestari (MSY) sumberdaya Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) sebesar 2461,985879 ton/tahun dengan effort optimum 1493,049952 trip/tahun. Berdasarkan analisis regresi nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,6064
Gambar 13. Regresi linier antara effort dengan ln CPUE Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) (Model Fox).
Hubungan antara hasil tangkapan (C) dengan upaya penangkapan (f) Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) ditunjukkan dengan menggunakan model Fox dalam persamaan C = f exp 0,49985268 – 0,00040618 f. Hubungan CPUE dengan effort dari persamaan regresi linear model Fox adalah y = y = -0.0004x + 0,4999 dengan R2 = 0,6064 yang artinya setiap peningkatan effort 1 trip maka CPUE
0 2000 4000 6000 8000 10000
LN CPUE
Upaya Penangkapan
akan berkurang sebesar 0.00040618 ton/trip. Pendugaan potensi lestari dengan metode surplus produksi dengan model Schaefer dan model Fox dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Pendugaan Potensi Lestari Dengan Metode Surplus Produksi
Nilai Schaefer Fox Satuan
a 1,318398049 0,49985268
b -0.000252705 -0.00040618
MSY 1719.567244 2461,985879 ton/tahun
F optimum 2608.57068 1493,049952 trip/tahun
R2 0,7226 0,7951
Grafik Maximum Sustainable Yield/MSY dan effort optimum Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) (model schaefer) dapat dilihat pada Gambar 14.
Gambar 14. Maximum Sustainable Yield/MSY dan effort optimum Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) (model Schaefer).
Potensi lestari (Maximum Sustainable Yield/MSY) untuk sumberdaya Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) di Pelabuhan Perikanan Nusantara Sibolga sebesar 1719,567244 ton/tahun, sementara effort optimum (fopt) sebesar 2608,57068 trip/tahun, yang artinya jika effort dilakukan melebihi effort optimum maka akan menurunkan nilai produksi. Jumlah tangkapan yang diperbolehkan adalah sebesar
0
0 1000 2000 3000 4000 5000 6000
produksi (ton)
effort optimum Fopt
2608,57068
1375,654 ton/tahun. Produksi dan effort Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) terhadap nilai MSY dan Effort Optimum dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Produksi dan Effort Optimum Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) Tahun Produksi
2608.570676 1719,567244 1375,654 2015
Pendugaan Tingkat Pemanfaatan/Level of Utilization (TPc) dan Tingkat Pengupayaan/Level of Effort (TPf)
Tingkat pemanfaatan dan pengupayaan sumberdaya Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) di Pelabuhan Perikanan Nusantara Sibolga pada tahun 2014 sebesar 57,87% dengan tingkat pengupayaan 37,42%, sementara pada tahun 2015 tingkat pemanfaatan meningkat menjadi 97,31% dengan tingkat pengupayaan juga meningkat menjadi sebesar 68,04%, hal ini dapat diartikan bahwa pengupayaan masih sangat perlu ditingkatkan.
Pada tahun 2016 Tingkat pemanfaatan meningkat dengan nilai sebesar 110,91% dan tingkat pengupayaan 75,41%, sedangkan tahun 2017 tingkat pemanfaatan kembali menurun yaitu sebesar 44,60% dengan tingkat pengupayaan yaitu 115,43%. Tahun 2018 mengalami peningkatan kembali sebesar 56,35%
yaitu menjadi 100,95% dengan tingkat pengupayaan yang meningkat sebesar 155,26% dapat dilihat pada Gambar 15.
Gambar 15. Tingkat pemanfaatan dan tingkat pengupayaan Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard).
Status Keberlanjutan Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) di Perairan Samudera Hindia Kota Sibolga
Penentuan status keberlanjutan Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) di Perairan Samudera Hindia Kota Sibolga menggunakan analisis RAPFISH dilakukan melalui analisis pendugaan nilai indeks keberlanjutan terhadap kelima dimensi yaitu Dimensi Ekologi, Dimensi Ekonomi, Dimensi Teknologi, Dimensi Sosial, serta Dimensi Kelembagaan. Untuk analisis hasil analisis dari setiap dimensi tersebut diuraikan dibawah ini.
57,87
Dimensi Ekologi
(a)
(b)
Gambar 16. Nilai Indeks Keberlanjutan Multi Dimensional Scalling (MDS) (a) dan Nilai Analisis Monte Carlo (b) Dimensi Ekologi.
Analisis keberlanjutan dimensi ekologi (Gambar 16) berdasarkan hasil pengolahan Multi Dimensional Scalling (MDS) (a) dengan RAPFISH diperoleh bahwa nilai indeks keberlanjutan dari dimensi ekologi adalah 62,26. Hasil analisis Monte Carlo (b) pada dimensi ekologi sebesar 63,08. Nilai analisis MDS dan
analisis Monte Carlo berada diatas 50,00 yang berarti cukup berkelanjutan.
Berdasarkan hasil analisis leverage factor diperoleh atribut yang keberadaannya berpengaruh sensitif terhadap peningkatan atau penurunan status keberlanjutan (Gambar 17). Atribut yang sangat berpengaruh yaitu atribut pengaruh musim terhadap hasil tangkapan ikan tongkol serta atribut hasil tangkapan 5 tahun terakhir.
Bad Good
Gambar 17. Analisis Leverage Dimensi Ekologi
Dimensi Ekonomi
(a)
(b)
Gambar 18. Nilai Indeks Keberlanjutan Multi Dimensional Scaling (MDS) (a) dan Nilai Analisis Monte Carlo (b) Dimensi Ekonomi.
1.18 Ukuran ikan yang tertangkap 10 tahun
terakhir
Perubahan RMS ordinasi jika salah satu atribut dihilangkan
Atribut Krai pada suatu kosistem
Lokasi tempat penangkapan Ikan Tongkol Krai
Hasil analisis keberlanjutan dimensi ekonomi disajikan pada Gambar 18 yang menunjukkan bahwa nilai indeks tingkat keberlanjutan (a) pada dimensi ekonomi sebesar 33,40 (berada di bawah 50,00) yang berarti kurang berkelanjutan, untuk hasil analisis Monte Carlo (b) dimensi ekonomi sebesar 32,72. Nilai dari analisis MDS dan Monte Carlo berada dibawah 50,00 yang berarti kurang berkelanjutan.
Berdasarkan hasil analisis leverage factor diperoleh atribut yang keberadaannya berpengaruh sensitif terhadap status keberlanjutan (Gambar 19). 3 atribut yang berpengaruh sensitif, yaitu sumbangan teknologi sektor perikanan terhadap PDRB, rataan pendapatan relatif nelayan serta lama berdirinya usaha penangkapan.
Gambar 19. Analasis Leverage Dimensi Ekonomi.
10.55
Perubahan RMS ordinasi jika salah satu atribut dihilangkan
Atribut
Harga jual Ikan Tongkol Krai
Dimensi Teknologi
(a)
(b)
Gambar 20. Nilai Indeks Keberlanjutan Multi Dimensional Scalling MDS (a) dan Nilai Analisis Monte Carlo (b) Dimensi Teknologi.
Analisis keberlanjutan dimensi teknologi (Gambar 20) diperoleh bahwa nilai indeks tingkat keberlanjutan (a) sebesar 51,83. Analisis Monte Carlo (b) menghasilkan nilai sebesar 50,90. Nilai dari kedua analisis tersebut berada di atas 50,00 berarti cukup keberlanjutan.
Hasil analisis leverage factor dimensi teknologi menunjukkan bahwa atribut yang keberadaannya berpengaruh sensitif terhadap peningkatan atau penurunan status keberlanjutan perikanan Tongkol Krai di Kota Sibolga adalah atribut kapasitas pelabuhan perikanan dan perkembangan armada penangkapan.
Bad Good
Gambar 21. Analisis Leverage Dimensi Teknologi
Dimensi Sosial
(a)
(b)
Gambar 22. Nilai Indeks Keberlanjutan MDS (a) dan Nilai Analisis Monte Carlo (b) Dimensi Sosial.
perubahan RMS ordinasi jika salah satu atribut dihilangkan
Atribut
Hasil analisis keberlanjutan dimensi sosial (Gambar 22), diperoleh bahwa nilai indeks tingkat keberlanjutan pada dimensi sosial sebesar 38,88 dan untuk nilai analisis Monte Carlo adalah sebesar 38,09. Nilai analisis MDS dan analisis Monte Carlo berada dibawah 50,00 yang artinya kurang berkelanjutan.
Hasil analisis leverage factor dimensi sosial diperoleh atribut yang keberadaannya berpengaruh sensitif terhadap peningkatan atau penurunan status keberlanjutan perikanan Tongkol Krai. Atribut yang sangat bepengaruh dalam dimensi sosial adalah keterlibatan dalam pembinaan dan pelatihan, keterlibatan nelayan dalam pembuatan kebijakan serta tipologi (kepemilikan) armada penangkapan.
Gambar 23. Analisis Leverage Dimensi Sosial.
2.64
perubahan RMS ordinasi jika salah satu atribut dihilangkan
Atribut
Dimensi Kelembagaan
(a)
(b)
Gambar 24. Nilai Indeks Keberlanjutan Multi Dimensional Scalling (MDS) (a) dan Nilai Analisis Monte Carlo (b) Dimensi Kelembagaan.
Hasil analisis keberlanjutan dimensi kelembagaan (Gambar 24) diperoleh bahwa nilai indeks tingkat keberlanjutan sebesar 49,08 dan nilai analisis Monte Carlo adalah sebesar 48,22 nilai dari kedua analisis tersebut berada di bawah
50,00 yang berarti status keberlanjutan dimensi kelembagaan berada pada kategori kurang berkelanjutan.
Selanjutnya berdasarkan hasil analisis leverage factor diperoleh atribut yang keberadaannya berpengaruh sensitif terhadap peningkatan atau penurunan status keberlanjutan (Gambar 29). Nilai RMS (Root Means Square) semakin besar maka semakin besar pula peranan atribut tersebut terhadap sensitivitas status keberlanjutan. Hasil analisis leverage factor dari dimensi kelembagaan diperoleh
Bad Good
atribut yang berpengaruh sensitif dalam dimensi kelembagaan adalah ketaatan nelayan terhadap peraturan Pelabuhan Perikanan Nusantara Sibolga serta pelanggaran dalam penangkapan ikan.
Gambar 25. Analisis Leverage Dimensi Kelembagaan.
Analisis Monte Carlo sangat membantu didalam analisis RAPFISH untuk melihat pengaruh kesalahan pembuatan skor pada setiap atribut. Hasil analisis Monte Carlo dari masing – masing dimensi dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Hasil analisis Monte Carlo untuk masing-masing dimensi pengelolaan dengan selang kepercayaan 95%.
Dimensi Hasil MDS Hasil Monte Carlo Perbedaan
Ekologi 62,26 63,08 0,82
perubahan RMS ordinasi jika salah satu atribut dihilangkan
Atribut
Uji Validitas dan Ketepatan (Goodness of Fit)
Ketepatan analisis MDS ditentukan oleh nilai stress. Nilai Stress rendah (kurang dari 25%) menunjukkan ketepatan yang tinggi dan nilai Stress yang tinggi (lebih dari 25%) menunjukkan bahwa atribut yang digunakan dalam menentukan status keberlanjutan Ikan Tongkol Krai di Perairan Samudera Hindia Kota Sibolga kurang tepat. Tabel 6 menunjukkan nilai Stress dan R2 (korelasi kuadrat) masing – masing dimensi.
Tabel 6. Nilai Stress dan R2 (Korelasi Kuadrat) masing – masing Dimensi.
Dimensi Korelasi Kuadrat (R2) Nilai Stress (S)
Ekologi 90,08% 20,54%
Eknomi 89,55% 19,62%
Teknologi 95,74% 16,80%
Sosial 89,83% 20,93%
Kelembagaan 93,03% 19,61%
Tingkat Keberlanjutan Multidmensi Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) di Perairan Samudera Hindia Kota Sibolga.
Nilai status keberlanjutan dari masing-masing dimensi, diposisikan dalam bentuk diagram layang dengan tujuan agar lebih mudah memahami gambaran status keberlanjutan Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) sebagaimana disajikan pada Gambar 26
Gambar 26. Diagram Layang Status Keberlanjutan Sumberdaya Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard).
Pembahasan
Produksi dan Upaya Penangkapan Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard)
Hasil perikanan tangkap Kota Sibolga menunjukkan bahwa produksi Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) selama 5 tahun terakhir (2014-2018) cenderung mengalami perubahan secara fluktuatif. Pada tahun 2015 produksi Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) adalah produksi tertinggi. Hal ini disebabkan karena ketersediaan kelimpahan stok Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) dan juga jumlah penggunaan alat tangkap meningkat serta keanekaragaman alat tangkap yang digunakan untuk menangkap Ikan Tongkol Krai sangat beragam. Pada tahun 2014 dan 2015 alat tangkap Trawl masih dilegalkan untuk beroperasi di perairan Sibolga hal ini menjadi salah satu faktor tingginya produksi Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) di Kota Sibolga.
Sedangkan produksi terendah terjadi pada tahun 2017 yang disebabkan karena pengurangan jumlah alat tangkap dan keanekaragaman alat tangkap yang
rendah. Alasan lain yang menyebabkan produksi Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) menurun dikarenakan kebijakan yang sudah dibuat oleh
Kementerian Kelautan dan Perikanan yang berdampak pada nelayan di Kota Sibolga. Para nelayan banyak yang mengeluh karena kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang melarang Trawl dilegalkan di Kota Sibolga.
Sebelum dilarang, banyak nelayan yang bekerja di kapal Pukat Ikan dan dari segi ekonomi memberikan peruntungan yang besar, tetapi karena sudah dilarang para nelayan banyak yang beralih profesi.
Berdasarkan pengolahan data sumberdaya Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard), produksi Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) tiap alat tangkap
yang paling mendominasi dalam kurun waktu 5 tahun terakhir (2014 – 2018) adalah Pukat Cincin (Purse seine). Hal ini disebabkan karena banyaknya jumlah unit penangkapan pukat cincin dibandingkan alat tangkap lainnya di Kota Sibolga dimana tujuan penangkapan adalah ikan pelagis. Hal ini sesuai dengan Pusat pendidikan Kelautan dan Perikanan (2012) yang menyatakan bahwa pukat cincin atau biasa disebut dengan “Purse Seine“ adalah alat penangkap ikan yang dipergunakan untuk menangkap ikan pelagis yang bergerombol seperti:
Kembung, Lemuru, Layang, Tongkol, Cakalang, dan lain sebagainya.
Faktor lain yang menyebabkan tingginya hasil produksi pada alat tangkap pukat cincin dikarenakan daerah penangkapan ikan. Effendi dkk (2015) menyatakan bahwa daerah penangkapan pukat cincin Kota Sibolga meliputi Perairan Pagai Selatan, Perairan Sipura, Perairan Pulau Baringin, Perairan Pulau Situpai, Perairan Aer Bulih, Perairan Pulau Pinih dan Perairan Pulau Banyak, dimana perairan-perairan tersebut masih dalam perairan Pantai Barat Sumatera.
Produksi Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) terendah berdasarkan alat tangkap yaitu pada alat tangkap pancing ulur. Hal ini disebabkan karena jumlah alat tangkap pancing ulur yang menangkap Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) masih sedikit. Menurut nelayan di Kota Sibolga alat tangkap pancing ulur ini umumnya menangkap ikan demersal dan ikan pelagis kecil. Selain itu jumlah trip penangkapan untuk alat tangkap Pancing Ulur juga tidak banyak, paling lama hanya seminggu. Tetapi beberapa tahun terakhir sudah mulai dikembangkan kapal penangkap ikan yang menggunakan pancing ulur sebagai alat tangkap utama dengan hasil tangkapan ikan pelagis besar.
Upaya penangkapan Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) dalam kurun waktu 5 tahun terakhir (2014 – 2018) dapat dilihat pada Gambar 11. Dari gambar diatas menunjukkan bahwa effort dari tiap alat tangkap cenderung meningkat tiap tahunnya, dengan alat tangkap pukat cincin (purse seine) yang mendominasi effort. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa purse seine merupakan alat tangkap
yang digunakan secara aktif pada siang maupun malam hari oleh nelayan di Kota Sibolga. Selain aktif pada siang dan malam hari Limbong (2017) menyatakan bahwa perikanan pukat cincin merupakan alat tangkap yang banyak digunakan di perairan Sibolga yaitu sebesar 87.30 % selama 6 tahun terakhir dibandingkan dengan alat tangkap lainnnya. Alat tangkap pukat cincin mampu menangkap ikan-ikan pelagis dalam jumlah yang besar, sehingga para nelayan lebih dominan menggunakan alat tangkap pukat cincin dalam meningkatkan upaya yang dilakukan oleh para nelayan yaitu dengan memperbesar ukuran kapal yang digunakan.
Daerah penangkapan ikan juga mempengaruhi upaya penangkapan.
Daerah penangkapan Pukat cincin di Kota Sibolga sangat jauh yaitu meliputi Perairan Aceh, Sumatera Barat dan seluruh daerah yang termasuk kedalam WPPRI 572. Untuk mencapai daerah tersebut membutuhkan waktu yang lama.
Semakin jauh suatu daerah penangkapan maka semakin banyak trip yang digunakan.
Upaya penangkapan Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) di perairan Samudera Hindia Kota Sibolga yang terendah yaitu pada alat tangkap pancing ulur. Hal ini disebabkan karena ukuran kapal yang kecil dan hanya memiliki 3-5 ABK. Menurut keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.
06/MEN/2010 produktivitas kapal penangkapan ikan merupakan tingkat kemampuan memperoleh hasil tangkapan ikan yang ditetapkan dengan mempertimbangkan ukuran kapal, jenis bahan, kekuatan mesin kapal, jenis alat penangkapan ikan yang digunakan, jumlah trip operasi penangkapan pertahun, kemampuan tangkap rata-rata pertrip dan wilayah penangkapan ikan.
Pendugaan Potensi Lestari/Maximum Sustainable Yield (MSY) dan Upaya Penangkapan Optimum/Effort Optimum (Fopt) serta Tangkapan yang diperbolehkan/Total Allowed Catch (TAC)
Pendugaan potensi sumberdaya Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) setelah dianalisis dengan menggunakan model Schaefer dan model Fox, bahwa nilai koefisien determinasi (R²) dengan menggunakan model Schaefer lebih besar atau mendekati angka 1 yaitu 0,7226. Nilai menunjukkan bahwa hubungan keeratan antara produksi dengan effort lebih kuat, dibanding nilai koefisien determinasi model Fox. Model Schaefer lebih mewakili untuk pendugaan potensi sumberdaya Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) di Perairan Samudera Hindia Kota Sibolga.
Sesuai dengan Walpole (1995), menyatakan model yang memiliki nilai koefisien determinasi (R²) lebih besar menunjukkan model tersebut mempunyai hubungan yang lebih dekat dengan model sebenarnya.
MSY adalah sebuah acuan dalam pengelolaan sumberdaya perikanan yang masih memungkinkan untuk di eksploitasi tanpa mengurangi populasi, hal ini bertujuan agar stok sumberdaya perikanan masih dalam tingkat yang aman.
Potensi lestari (MSY) sumberdaya Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) di perairan Samudera Hindia Kota Sibolga dalam kurun waktu 5 tahun terakhir sebesar 1719,527244 kg/tahun. Hal ini sesuai dengan pernyataan Widodo dan Suadi (2006) bahwa MSY adalah hasil tangkapan terbesar yang dapat dihasilkan dari
tahun ke tahun oleh suatu perikanan. Konsep MSY didasarkan atas suatu model yang sangat sederhana dari suatu populasi ikan yang dianggap sebagai unit tunggal. MSY merupakan parameter pengelolaan yang dihasilkan dalam pengkajian sumberdaya perikanan.
Berdasarkan potensi lestari Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) maka diperoleh jumlah tangkapan ikan yang diperbolehkan (Total Allowable Catch/TAC) yaitu sebesar 1375,654 ton/tahun. Ini menunjukkan bahwa
penangkapan Ikan Tongkol Krai sudah melebihi dari jumah yang boleh ditangkap dan penangkapan harus di optimalkan agar sumberdaya Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) tetap lestari. Hal ini sesuai dengan pernyataan Imron (2000) yaitu jumlah tangkapan yang diperbolehkan (Total Allowable Catch / TAC) dapat ditentukan dengan analisis surplus produksi. Besarnya (Total Allowable Catch / TAC) biasanya dihitung berdasarkan nilai MSY suatu sumberdaya perikanan yang perhitungannya didapat dari 80% potensi lestasi maksimum.
Potensi lestari (Maximum Sustainable Yield/MSY) untuk sumberdaya Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) sebesar 1719,567244 ton/tahun, sementara effort optimum (fopt) sebesar 2608,57068 trip/tahun, yang artinya jika effort dilakukan melebihi effort optimum maka akan menurunkan nilai produksi. Pada Gambar 11, menunjukkan bahwa pada tahun 2018 effort sebesar 4050 trip/tahun dengan produksi 1735,940 ton/tahun yang melebihi effort optimum, sehingga produksi lebih kecil dibandingkan dengan tahun 2014 yang memiliki effort sebesar 976 trip/tahun sehingga produksinya juga kecil yakni sebesar 995,181 ton/tahun.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pada tahun 2018, sumberdaya Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) mengalami overfishing karena tingkat upaya
penangkapan (effort) yang melebihi effort optimum sehingga produksi lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2014 (Gambar 9 dan Lampiran 1). Pada tahun 2015 kemungkinan dikarenakan usaha untuk menjaga kelestarian sumberdaya perikanan di Samudera Hindia Kota Sibolga.
Nilai CPUE tertinggi terjadi pada tahun 2014 yaitu sebesar 1,020 ton/trip dengan jumlah hasil tangkapan Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) sebesar 995,181 ton dan upaya penangkapan sebesar 976 trip. Nilai CPUE terendah terjadi pada tahun 2017 yaitu sebesar 0,255 ton/trip dengan jumlah hasil tangkapan Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) sebesar 766,970 ton dan upaya penangkapan sebesar 3011 trip. Fluktuasi nilai CPUE dipengaruhi oleh jumlah effort yang dilakukan oleh nelayan. Semakin tinggi upaya penangkapan, semakin rendah hasil tangkapan yang didapat dan nilai CPUE juga akan berkurang.
Pendugaan Tingkat Pemanfaatan/Level of Utilization (TPc) dan Tingkat Pengupayaan/Level of Effort (TPf)
Tingkat pemanfaatan dan pengupayaan sumberdaya Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) di Pelabuhan Perikanan Nusantara Sibolga dari tahun 2014 – 2018 dapat dilihat pada Gambar 15. Tingkat pemanfaatan dan pengupayaan Ikan Tongkol Krai pada tahun 2014 dan tahun 2015 nilainya belum mencapai 100%
yang berarti pemanfaatan dan pengupayaan Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) masih berada pada tingkat sedang. Pada tahun 2016 nilai tingkat pemanfaatan adalah sebesar 110,91% yang berarti tingkat pemanfaatan Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) pada tahun 2016 sudah mengalami overfishing. Sedangkan tingkat pengupayaan pada tahun 2016 belum mencapai 100%, sehingga tingkat pemanfaatan berlebih atau telah terjadi overfishing yang dapat mengancam
kepunahan sumberdaya Ikan Tongkol Krai. Pemanfaatan sumberdaya ikan yang tidak dapat dikendalikan juga dapat diartikan sebagai penurunan hasil tangkapan.
Pada tahun 2017 tingkat pemanfaatan menurun menjadi 44,60% dengan tingkat pengupayaan yang meningkat menjadi 115,43%, hal ini megartikan bahwa sumberdaya Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) termasuk kedalam kategori sedang. Salah satu faktor yang menyebabkan penurunan tingkat pemanfaatan pada tahun 2017 adalah karena tingginya upaya penangkapan atau trip penangkapan yang dapat membahayakan sumberdaya. Mayu dkk (2018) menyatakan bahwa penambahan upaya dapat berbaya terhadap kepunahan sumberdaya.
Tahun 2018 tingkat pemanfaatan meningkat menjadi sebesar 100,95%
yang berada pada kondisi overfishing dan tingkat pengupayaannya yang juga meningkat menjadi 155,26% yang akan berdampak buruk terhadap kelestarian sumberdaya Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard). Hal ini sesuai dengan Lubis (2013) yang membagi empat tingkatan pemanfaatan sumberdaya ikan yaitu : tingkat rendah (0 – 33,3%) , tingkat sedang (33,3% - 66,6%), tingkat optimum atau padat tangkap (66,6% - 99,9%) dan tingkat berlebih atau overfishing (>
100%).
Berdasarkan hasil perhitungan persentase tingkat pemanfaatan sumberdaya Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) selama 5 tahun terakhir mempunyai nilai rata-rata sebesar 82,33% dan tingkat pengupayaan sebesar 90,31%. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi tingkat pemanfaatan sumberdaya Ikan Tongkol Krai sudah mengalami padat tangkap atau optimum. Sehingga dalam hal ini harus dilakukan pengoptimalan hasil dengan mengurangi upaya penangkapan.
Status Keberlanjutan Sumberdaya Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) di
Status Keberlanjutan Sumberdaya Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) di