HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Uji Antimikroba Ekstrak Metanol Daun P. guajava daging-buah putih terhadap Bakteri Patogen Uji
Hasil pengujian ekstrak metanol daun P. guajava daging-buah putih terhadap pertumbuhan bakteri patogen uji E. coli, S. aureus, S. dysenteriae, B. subtilis, S.
marcescens menunjukkan adanya aktivitas penghambatan pertumbuhan. Besarnya penghambatan pertumbuhan bakteri dilihat dan diukur dari zona hambat (daerah jernih) yang terbentuk di sekeliling cakram yang mengandung ekstrak daun. Hasil uji pengaruh ekstrak metanol daun P. guajava daging-buah putih terhadap bakteri uji terhadap zona hambat dapat dilihat dari Tabel 4.1 di bawah ini:
Tabel 4.1 Diameter Zona Hambat (mm) Ekstrak Metanol Daun P. guajava daging-buah putih
Kadar Diameter Zona Hambat (mm) Ekstrak
(%) E. coli S. aureus S. dysenteriae B. subtilis S. marcescens
0 5,00a 5,00a 5,00a 5,00a 5,00a 15 5,83ab 6,86b 9,20b 7,67b 6,47b 30 6,43b 7,16b 10,40b 8,80c 6,43c 45 6,96c 8,96c 10,36c 10,36c 9,33c 60 9,60c 12,53d 14,40d 12,23d 9,43e
Keterangan: Notasi berbeda pada kolom dan baris yang sama berbeda sangat nyata pada taraf 5% (huruf kecil) menurut Duncan New Multiple Range Test (DNMRT).
Dari Tabel 4.1 dapat dilihat bahwa aktivitas penghambatan pertumbuhan terbesar terdapat pada S. dysenteriae dan S. aureus dengan besar zona hambat masing-masing 14,40 mm dan 12,53 mm, namun pada B. subtilis, E. coli dan S. marcescens masih rendah yaitu masing-masing 12,23; 9,60;dan 9,43 mm. Dapat dilihat juga melalui sidik ragam diameter zona hambat (mm) atau uji Duncan New Multiple Range Test (DNMRT) bahwa parameter yang digunakan yaitu besarnya konsentrasi ekstrak dan jenis bakteri menunjukkan hasil yang berbeda sangat nyata (Lampiran F. Halaman 37). Penghambatan pertumbuhan bakteri yang berbeda pada ekstrak metanol daun P. guajava berdaging-buah putih kemungkinan disebabkan oleh sifat sensitivitas dari bakteri B. subtilis dan S. dysenteriae sehingga lebih mudah dihambat pertumbuhannya. Ekstrak metanol daun P. guajava berdaging-buah putih memiliki kemampuan dalam menghambat pertumbuhan bakteri mungkin dikarenakan keberadaan senyawa kimia yang terkandung pada ekstrak
lainnya. Menurut Indariani (2006) pada pengujian menggunakan metode Tiobarbiturik (TBA), ekstrak etanol dari daun P. guajava putih lokal dapat menghambat oksidasi lipid sampai 94,19% terhadap kontrol yang tidak diberi antioksidan. Ini berarti daun biji jambu terbukti memiliki kemampuan antioksidan. Hasil uji fitokimia ekstrak daun jambu biji menunjukkan senyawa yang terdapat dalam ekstrak adalah tanin, fenol, flavonoid, kuinon, dan steroid. Rahmatan (1998), menyatakan bahwa senyawa kimia tumbuhan berpengaruh menghambat pertumbuhan mikroorganisme melalui beberapa mekanisme, seperti tanin yang bersifat sebagai anti bakteri dan anti fungi; melalui mekanisme menghambat kerja enzim selulase, pektinase, xilanase, peroksidase, laktase dan glikoltransferase sehingga aktivitas metabolisme mikroorganisme terhambat dan menyebabkan kematian sel. Kandungan antimikroba yang terdapat pada ekstrak ethanol daun jambu biji pada konsentrasi 50% dapat menghambat pertumbuhan dari bakteri E. coli dan S. aureus (Helena, 2001).
Besarnya daya hambat ekstrak metanol daun P.guajava daging-buah putih terhadap bakteri uji dapat diketahui dari pengukuran diameter zona hambat pertumbuhan yang terbentuk di sekeliling cakram berupa wilayah jernih yang tidak ditumbuhi oleh koloni bakteri uji. E. coli dan S. marcescens tidak dapat dihambat pertumbuhannya oleh ekstrak metanol daun P. guajava daging-buah putih yang dilihat dari tidak adanya zona hambat yang terbentuk di sekeliling cakram seperti pada Gambar 4.1.1, mungkin karena E. coli dan S. marcescens mengembangkan suatu mekanisme pertahanan terhadap zat antimikroba yang terdapat pada ekstrak, seperti pembentukan enzim atau mungkin karena adanya sifat resisten dari bakteri yang mempengaruhi sehingga menyebabkan tidak efektifnya senyawa antimikroba yang terdapat di dalam ekstrak. Kasim et al (2005)
bahwa faktor sensitivitas bakteri uji terhadap
senyawa anti bakteri dalam ekstrak tumbuhan
juga mempengaruhi lebar atau sempitnya diameter
zona hambat. Konsentrasi senyawa anti bakteri dan
konsentrasi bakteri yang diuji juga memegang
peranan dalam variasi diameter zona hambat. Apabila konsentrasi bakteri uji pada media tinggi, maka
diperlukan senyawa antibakteri dengan konsentrasi yang tinggi pula. Jika konsentrasi antara keduanya tidak
sebanding, maka dapat terbentuk zona bening yang lebar, sempit, bahkan tidak ada sama sekali.
Gambar 4.1.1 15% 30% 45% 60% 1 45% 60% 15% 30% 2 45% 60% 15% 30% 15% 30% 15% 30% 15% 30%
Hasil uji aktivitas ekstrak metanol daun P. guajava daging-buah putih dalam menghambat pertumbuhan bakteri patogen (1. E. coli, 2. S. aureus, 3. S. dysenteriae, 4. B. subtilis, 5. S. marcescens).
4.2 Uji Antimikroba Ekstrak Metanol Daun P. guajava daging-buah Merah Terhadap Bakteri Uji
Ekstrak metanol daun P. guajava daging-buah merah dapat menghambat pertumbuhan bakteri S. dysenteriae, B. subtilis dan S. marcescens masing-masing 14,70; 14,47 dan 11,83 mm sedangkan pada E. coli dan S. aureus menunjukkan adanya penghambatan yang kecil dengan zona hambat masing-masing 9,81 dan 7,87 mm. Data pengamatan zona hambat dari ekstrak metanol daun P. guajava dapat dilihat pada dan dari hasil Analysis of Variance menunjukkan bahwa ekstrak metanol daun P. guajava memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan bakteri uji. Data pengamatan pengaruh ekstrak metanol daun P. guajava daging-buah merah terhadap diameter zona hambat bakteri dapat dilihat dari Tabel 4.2 berikut:
Tabel 4.2 Diameter Zona hambat (mm) Ekstrak Metanol Daun P. guajava daging-buah merah
Kadar Diameter Zona Hambat (mm) Ekstrak
(%) E. coli S. aureus S. dysenteriae B. subtilis S. marcescens
0 5,00a 5,00a 5,00a 5,00a 5,00a 15 5,13ab 6,03abc 9,13fghi 8,40efghi 7,53ghij 30 9,97efghi 6,63ijf 10,80cdef 8,10bcd 6,93jk 45 8,31ki 8,83defgh 12,23m 13,00hij 7,33cdefg 60 9,81m 11,83mj 14,70def 14,47def 7,87cde
Keterangan: Notasi berbeda pada kolom dan baris yang sama berbeda sangat nyata pada taraf 5% (huruf kecil) menurut Duncan New Multiple Range Test (DNMRT).
Dari Tabel 4.2 dapat dilihat bahwa hasil pengujian ekstrak metanol daun P. guajava daging-buah merah, hambatan terbesar terdapat pada B. subtilis, S. dysenteriae, dan S. aureus sedangkan pada E. coli dan S. marcescens masih menunjukkan hambatan
yang kecil. Pengaruh konsentrasi dai ekstrak metanol daun P. guajava daging-buah merah juga mempengaruhi besarnya zona hambat yang terbentuk. Melalui uji Duncan Multiple Range Test (DNMRT) juga sangat menunjukkan hasil yang signifikan yaitu parameter yang digunakan yaitu besarnya konsentrasi ekstrak dan jenis bakteri juga sangat berbeda sangat nyata (Lampiran H. Halaman 39). Penelitian Lutterodt (1999) bahwa ekstrak etanol daun P. guajava dapat menghambat pertumbuhan S. aureus, S. dysenteriae dan Salmonella typhi. Adanya aktivitas antimikroba ekstrak metanol daun P. guajava daging-buah merah dapat dilihat dari zona hambat (daerah jernih) di sekitar cakram yang terlihat pada Gambar 4.2.1. Terbentuknya daerah bening di sekitar kertas cakram menunjukkan terjadinya penghambatan pertumbuhan koloni bakteri akibat pengaruh senyawa bioaktif yang terdapat pada ekstrak (Nursal et al, 2006). Berdasarkan hasil-hasil penelitian sebelumnya diketahui bahwa senyawa fenol, terpenoid dan flavonoid merupakan senyawa produk metabolisme sekunder tumbuhan yang aktif menghambat pertumbuhan bakteri. Senyawa triterpenoid yang terdapat pada ekstrak daun Premna schimperi dapat menghambat pertumbuhan koloni bakteri Staphylococcus aureus dan Bacillus subtilis pada konsentrasi 20-25μg/ml (Habtemariam et al (1990) dalam Nursal et al, 2006). Terjadinya penghambatan terhadap pertumbuhan koloni bakteri diduga disebabkan karena kerusakan yang terjadi pada komponen struktural membran sel bakteri. Senyawa golongan terpenoid dapat berikatan dengan protein dan lipid yang terdapat pada membran sel dan bahkan dapat menimbulkan lisis pada sel (Nursal et al, 2006). 45% 60% 45% 60% 15% 30% 15% 30% 15% 30% 15% 30% 15% 30% 3 4 5 1 2
Gambar 4.2.1 Hasil uji aktivitas ekstrak metanol daun P. guajava daging-buah merah dalam menghambat pertumbuhan bakteri patogen (1. E. coli, 2. S. aureus, 3. S. dysenteriae, 4. B. subtilis, 5. S. marcescens).
Dari Tabel 4.1 dan Tabel 4.2 dapat dilihat hasil yang menunjukkan pengujian ekstrak metanol daun P. guajava daging-buah merah lebih memiliki efektivitas yang tinggi dibandingkan dengan daging-buah putih (Gambar 4.3). Pada konsentrasi 60% masing-masing ekstrak metanol daun P. guajava memiliki hasil yang berbeda pada S. dysenteriae yaitu daging-buah merah 14,70 mm dan daging-buah putih yaitu 14,40 mm, begitu juga dengan konsentrasi yang lainnya pada bakteri yang sama juga. Efektifnya suatu ekstrak tumbuhan sebagai antimikroba disebabkan oleh senyawa aktif yang terdapat pada tumbuhan tersebut (Rochman, 2008). Dimana pada tumbuhan selain menghasilkan metabolit primer juga menghasilkan metabolit sekunder seperti: alkaloid, flavonoid, terpenoid, fenolat, saponin dan sebaginya. Alkaloid yang berasal dari tanaman memiliki sifat antimikroba, mekanisme kerja antimikroba dari alkaloid dihubungkan dengan kemampuan alkaloid untuk berikatan dengan DNA. Fenolat bersifat toksik terhadap mikroba, mekanisme yang dianggap bertanggungjawab terhadap toksisitas fenol pada mikroorganisme meliputi inhibisi enzim penting dari mikroorganisme dan perusakan senyawa protein dari mikroorganisme. Flavonoid akan merusak dinding sel bakteri karena sifatnya yang lipofilik. Sedangkan saponin yang bersifat surfaktan yang merupakan bahan aktif permukaan akan menyerang batas lapis sel bakteri melalui pembentukan ikatan senyawa polar saponin dengan lipoprotein dinding sel dan gugus nonpolar saponin dengan lemak dinding sel bakteri. Sehingga terjadi gangguan semipermeabilitas membaran sitoplasma yang akan mengakibatkan terjadinya gangguan fungsi sel, diikuti dengan pecahnya sel dan kematian sel mikroba (Schlege & Schmidt, 1994).
Pada Gambar 4.3 dapat dilihat juga bahwa pemberian konsentrasi yang tepat juga mempengaruhi ekstrak dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Perbandingan diameter zona hambat yang dihasilkan oleh ekstrak metanol daun P. guajava berbanding lurus dengan penambahan konsentrasi ekstrak metanol daun (Lutterodt, 1999). Menurut Cappucino & Sherman (1996) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya zona hambat adalah kemampuan difusi bahan antimikroba ke dalam media dan interaksinya dengan mikroba yang diuji, jumlah mikroba yang diinokulasikan, kecepatan tumbuh mikroba yang diujikan, dan tingkat sensitifitas mikroba terhadap bahan antimikroba yang bersangkutan.
Pengaruh ekstrak metanol daun P. guajava daging-buah putih dan daging-buah merah terhadap diameter zona hambat pertumbuhan bakteri uji lebih menunjukkan zona yang lebih besar dibanding dengan pengaruh antibiotik kloramfenikol dan penisilin dilihat dari Gambar 4.3 di bawah ini:
4.3 Pengaruh Ekstrak Metanol Daun P. guajava buah putih dan daging-buah merah serta pengaruh antibiotik penisilin dan kloramfenikol sebagai pembanding terhadap diameter zona hambat pertumbuhan bakteri patogen (a. E. coli, b. S. aureus, c. S. dysenteriae, d. B. subtilis dan e. S. marcescens).
0 2 4 6 8 10 12 14 0 15 30 45 60 Penis ilin Klo ram fenik ol Konsentrasi Ekstrak (%) D iame te r Zon a H amb at (mm)
(b) (c) 0 2 4 6 8 10 12 14 0 15 30 45 60 Penis ilin Klo ram fenik ol Konsentrasi Ekstrak (%) D iame te r Zon a H amb at (mm)
Daging-buah putih Daging-buah merah
0 2 4 6 8 10 12 14 16 0 15 30 45 60 Penis ilin Klo ram fenik ol Konsentrasi Ekstrak (%) D iame te r Zon a H amb at (mm)
(d)
(e)
Kerusakan yang ditimbulkan komponen antimikroba dapat bersifat mikrosidal (kerusakan tetap) atau mikrostatik (kerusakan sementara yang dapat kembali). Suatu komponen akan bersifat mikrosidal atau mikrostatik tergantung pada konsentrasi dan kultur yang digunakan. Mekanisme penghambatan mikroorganisme oleh senyawa antimikroba dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: gangguan pada senyawa penyusun dinding sel, peningkatan permeabilitas membran sel yang dapat menyebabkan kehilangan komponen penyusun sel, menginaktivasi enzim, dan destruksi atau kerusakan fungsi material genetik (Ardiansyah, 2007).
0 2 4 6 8 10 12 14 16 0 15 30 45 60 Penis ilin Klo ram fenik ol Konsentrasi Ekstrak (%) D iame te r Zon a H amb at (mm)
Daging-buah putih Daging-buah merah
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0 15 30 45 60 Penis ilin Klo ram fenik ol Konsentrasi Ekstrak (%) D iame te r Zon a H amb at (mm)
Antibiotik kloramfenikol dan penisilin yang bersifat spektrum luas digunakan sebagai pembanding memiliki aktivitas penghambatan yang masih rendah. Antibiotik penisilin pada E. coli, S. aureus, S. dysenteriae, B. subtilis dan S. marcescens masing-masing adalah 12,51; 11,20; 13,50; 11,60; dan 9,45 mm masih dikatakan resisten (dapat dilihat pada Lampiran I. Halaman 40). Begitu juga dengan antibiotik kloramfenikol E. coli, S. aureus, S. dysenteriae, B. subtilis dan S. marcescens masing-masing adalah 11,23; 6,40; 12,70; 13,10 dan 7,18 mm masih dikatakan resisten (Lampiran I. Halaman 40). Pada Allegato (2001), bahwa zona hambat yang dihasilkan oleh antibiotik penisilin dengan besar ≤ 12 m m dan antibiotik kloramfenikol ≤ 15 mm terhadap pertumbuhan bakteri Enterobacteriaceae bersifat resisten. Penghambatan pertumbuhan yang rendah disebabkan mungkin karena sifat resisten bakteri terhadap antibiotik penisilin dan kloramfenikol. Menurut Suyono (1997), pengujian yang telah dilakukan terhadap lima jenis bakteri Enterobacter terhadap beberapa antibiotik menunjukkan sensitifitas suatu bakteri dapat bersifat resisten, intermediet, dan sensitif terhadap jenis antibiotika tertentu. Menurut Dwiprahasto (2005), materi genetik mampu membuat bakteri menjadi resisten terhadap antibiotik tertentu melalui tiga mekanisme utama berikut: produksi enzim yang menginaktivasi atau merusak antibiotika; mengubah tempat target yang menjadi sasaran antibiotik; dan mencegah akses ke tempat target.
Pada pengujian aktivitas antibakteri, potensi ekstrak tumbuhan sebagai anti bakteri sebanding dengan diameter zona hambat yang dihasilkan (Kasim et al, 2005). Hal ini terutama disebabkan adanya variasi difusi ekstrak tumbuhan, ketebalan medium agar yang tidak seragam, waktu inkubasi, sensitivitas bakteri uji terhadap senyawa anti bakteri dalam ekstrak, serta konsentrasi senyawa anti bakteri dalam ekstrak dan konsentrasi bakteri uji. Variasi difusi ekstrak tumbuhan disebabkan oleh komposisi serat kertas cakram yang heterogen, sehingga diameter zona hambat yang terbentuk, yang merupakan penampakan aktivitas anti bakteri juga tidak merata. Ketebalan medium agar yang tidak seragam merupakan faktor yang sulit dihindari, karena pada saat penuangan media agar ke setiap cawan Petri tidak persis sama banyaknya, sehingga ketebalannya berbeda. Diameter zona hambat merupakan fungsi dari ketebalan lempeng agar, maka variasi
ketebalan lempeng agar juga mempengaruhi diameter zona hambat. Adanya beberapa faktor ini, maka diameter zona hambat yang diperoleh akan bervariasi.
BAB 5
5.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa:
a. Ekstrak metanol daun P. guajava daging-buah merah lebih efektif menghambat E. coli, S. aureus, S. dysenteriae, B. subtilis, S. marcescens dibanding ekstrak metanol daun P. guajava daging-buah putih.
b. Efektivitas penghambatan ekstrak metanol daun P. guajava daging-buah merah lebih tinggi (14,70 mm) dibanding daging-buah putih (14,40 mm) pada konsentrasi 60% pada S. dysenteriae.
c. Kedua ekstrak metanol daun P. guajava tersebut memiliki aktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan antibiotik kloramfenikol dan penisilin dalam penghambatan bakteri uji.
5.2 Saran
Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut untuk pengujian beberapa jenis bakteri patogen lainnya penyebab penyakit pada manusia dengan menggunakan metode yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Adnyana, K., Elin Yulinah, Joseph I. Sigit., Neng Fisheri K., Muhamad Insanu. 2004. Efek Ekstrak Daun Jambu Biji Daging Buah Putih dan Jambu Biji Daging Buah Merah Sebagai Antidiare.Acta Pharmaceutia Indonesia 29(1): 19-27.
Ajfand, 2006. Antioxidant power of phytochemicals from Psidium guajava leaf. African journal of food agriculture nutrition and development 6(2): 1-2.
Ajizah, A. 2004. Sensitivitas Salmonella typhimurium Terhadap Ekstrak Daun Psidium guajava. L. Bioscientiae 1(1): 31-38.
_________; Thiahana; Mirhanuddin. 2007. Potensi Ekstrak Kayu Ulin (Eusideroxylon zwageri T et B) Dalam menghambat Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus Secara Invitro. Bioscientiae 4(1): 37-42.
Allegato, 2005. Zone Diameter Interpretative Standars Enterobacteriaceae (Antibiotic set for Gram Negatif Bacteria), Medium: Mueller Hilton Agar. National Comittee for Clinical and Laboratory Standars 5(4): 2.
Ardiansyah, 2007. Antimikroba Dari Tumbuhan Bagian Kedua. Artikel Berita Iptek.
Ashari, S. 2004. Biologi Reproduksi Tanaman Buah-buahan Komersial. Edisi I. Cetakan I. Malang: Bayumedia Publishing.
Benson, L. 1957. Plant Classification. D. C. Boston: Heath and Company.
Cappucino & Sherman, 1996. Microbiology: A laboratory Manual. 4th Ed. Addition-Wesley Publishing Company.
Djauhariya, E dan Hernani. 2004. Gulma Berkhasiat Obat. Cetakan I. Jakarta: Penebar Swadaya.
Dwiprahasto, I. 2005. Kebijakan Untuk Meminimalkan Resiko Terjadinya Resistensi Bakteri di Unit Perawatan Intensif Rumah Sakit. JMPK 8(4): 177-181.
Dzulkarnain, B, Sundari D chozin A. 1996. Tanaman Obat Bersifat Antibakteri di Indonesia. Cermin Dunia Kedokteran. 110:35-48.
Feliatra, 2002. Sebaran Bakteri Escherichia coli di Perairan Muara Sungai Bantan Tengah Bengkalis Riau. Laboratorium Mikrobiologi Laut, Faperika. Unri.
Gislene, G, F; Nascimento; Locatelli, J; Freitas, C, P; Silvia, G, L. 2000. Antibacterial activity of Plant Extract and Phytochemicals on Antibiotic-Resistant Bacteria. Brazillian Journal of Microbiology 31(4):1-14.
Hasbullah, 2001. Minyak Atsiri Jahe. Padang: Teknologi dan Industri Sumatera Barat.
Indariani, S. 2006. Daun Jambu Biji Berkhasiat Sebagai Antioksidan. Berita. Bogor Agricultural University.
Harianto, 2004. Penyuluhan Penggunaan Oralit Untuk Menanggulangi Diare di Masyarakat. Majalah Kefarmasian 1(1): 27-33.
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Jilid III. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya.
Jawetz, E., Melnick, J. & Adelberg, E. 2001. Mikrobiologi Kedokteran. Buku 1. Terjemahan Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Jakarta: Penerbit Salemba Medika.
Kartasapoetra, G. 1988. Budidaya Tanaman Berkhasiat Obat. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.
________________ 1992. Budidaya Tanaman Berkhasiat Obat. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.
Kasim, E; Yulinery, R, H; Triana, E; Napitupulu, R, N, R. 2005. Daya Anti Stapylococcus aureus dari Fermentasi beberapa Jenis Tumbuhan Obat. Jurnal Biologi indonesia 3(9): 397-404.
Katno, S. Pramono. 2005. Tingkat Manfaat Dan Keamanan Tanaman Obat Dan Obat Tradisional. Balai Penelitian Tanaman Obat Tawamangu, Fakultas Farmasi, UGM.
Koes, I. 2006. Mikrobiologi. Menguak Dunia Mikroorganisme. Jilid 1. Cetakan 1. Bandung: Yrama Widya. hal.57.
Kumalaningsih, S. 2006. Antioksidan Alami Penangkal Radikal Bebas Sumber Manfaat, Cara Penyediaan Dan Pengolahan. Cetakan I. Surabaya: Penerbit Trubus Agrisarana.
Lusia, O. 2006. Pemanfaatan Obat Tradisional Dengan Pertimbangan Manfaat dan Keamanannya. Majalah Ilmu Kefarmasian 3(1):1-7.
Lutterodt, G, D; Ismail, A; Basheer, R, H; Baharudin, M, H. 1999. Antimicrobial Effect of Psidium guajava Extract As One Mechanism of Its Antidiarrheal Action. Malaysian journal of Medical Science 6(2):17-20.
Maryanti, Y. 2005. Isolasi Senyawa Flavonoid dari Daun Jati Emas Tectona grandis dengan Metode Fermentasi. Gunadarma Library.
Masduki, I. 1996. Efek Antibakteri Ekstrak Biji Pinang (Areca catechu) Terhadap S. aureus dan E. coli. Cermin Dunia Kedokteran 109: 21-24.
Mumpuni, M. 2004. Inventarisasi Tumbuhan Obat di Kawasan Hutan Tangkahan Taman Nasional Gunung Leuser Kabupaten Langkat. Skripsi Mahasiswa Biologi FMIPA USU. Medan.
Mursito, B. 2002. Ramuan Tradisional Untuk Pengobatan Jantung. Jakarta: Penebar Swadaya.
Naini, A. 2006. Konsentrasi Minimal Ekstrak Daun Jambu Biji Terhadap Daya Hambat Pertumbuhan Candida albicans. Bagian Prostodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember-Indonesia.
Noviana, 2004. Isolasi dan Uji Kepekaan Isolat Klinis ORSA Dan Non ORSA Terhadap Vankomisisn Dan Antibiotik Lainnya. Jurnal Mikrobiologi Indonesia 9(2): 51-54.
Nursal; Wulandari, S; Juwita, S, W. 2006. Bioaktifitas Ekstrak Jahe (Zingiber officinale Roxb) Dalam Menghambat Pertumbuhan Koloni Bakteri Escherichia coli dan Bacillus subtilis. Jurnal Biogenesis 2(2): 64-66.
Pelczar & Chan. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI-Press. ______________ 1988. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI-Press.
Pudjarwoto, T., Simanjuntak, C, H; Nur Indah P. 1992. Daya Antimikroba Obat Tradisional Diare Terhadap Beberapa Jenis Bakteri Enteropatogen. Cermin Kedokteran 76(1): 45-47.
_________, T. 2002. Penelitian Pola Resistensi Bakteri Enteropatogen (Penyebab Diare) Terhadap antibiotik. Center For Research and Development of DiseaseControl,NIHRD.http://digilib.litbang.depkes.go.id/go.php?id=JKPKBPP K_gdl_res2002_pudjarwoto_424_antibiotic. [20 Februari 2008].
Qiant, H & Venant. 2004. Antioxidant power of phytochemicals from Psidium guajava leaf. Journal of Zhejiang University SCIENCE 5(6): 676-683.
Rahmatan, H. 1998. Pengaruh Ekstrak Kulit Kayu Rhizopora mucronata Lamk. Terhadap Hambatan Pertumbuhan Bakteri Patogen Udang Windu Vibrio parahaemolyticus Fujino dan Aeromonas sobria (Chester) Stanier. Tesis Magister. Program Studi Biologi Program Pascasarjana, Institut Teknologi Bandung.
Ratna, S, H; Sutadi; Suhandi; Latifah, K, Darusman dan Adijuwana, H. 1994. Pengaruh Ekstrak Sejumlah Tanaman Obat Tropis Terhadap Pertumbuhan Beberapa Kapang Patogen Tanaman. Jurnal Mikrobiologi Indonesia 2(3): 21-23.
Robinson, T. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Edisi Keenam. Penerbit ITB. Bandung.
___________ 1998. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Penerbit ITB. Bandung
Rochman, N. Senyawa Antimikroba dari Tanaman. Http://www. Kompas.com/kesehatan/htm. [20 Februari 2008].
Sastrosupadi, A. 2002. Rancangan Percobaan Praktis Bidang Pertanian. Edisi Revisi. Yogyakarta: Kanisius.
Schlegel, H, G. & Schmidt, K. 1994. Mikrobiologi Umum. Alih Bahasa: Baskoro T. Penyunting: Wattimena J.R. Edisi 6. Yogyakarta: UGM-Press.
Suyono, J. 1997. Pengujian Sensitifitas Bakteri Terhadap Antibiotik. Research Report from IJPTUNCEN.
Viera, 2001. Microbicidal Effect of Medicinal Plant Extract (Psidium guajava L. and Carica papaya L.) upon Bacteria Isolated from Fish Muscle and Known to Induce Diarrhea in Children. Revista do Instituto de Medicina Tropical de Sao Paulo 43(3): 145-148.
Volk, W, A. & Wheeler. 1988. Mikrobiologi Dasar. Jilid I. Edisi kelima. Diterjemahkan oleh Markham. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Winarno, M; Sundari, D. 1996. Pemanfaatan Tumbuhan Sebagai Obat Diare di Indonesia. Cermin Dunia Kedokteran. 109:25-32.
World Health Organization. 1982. Bacteriological Examination in: Examination of Water Pollution Control. New York: Academic Press.
Yuharmen, Yum Heryanti, Nurbalatif. 2002. Uji Aktifitas Antimikroba Minyak Atsiri dan Ekstrak Metanol Lengkuas (Alpinia galanga). Jurnal Natur 4(2): 1-7.
Yuliani, S., Laba Udarno dan Eni Hayani. 2003. Kadar Tanin Dan Quersetin Tiga Tipe Daun Jambu Biji (Psidium guajava). Buletin TRO 4(1): 17-24.
LAMPIRAN
Lampiran A. Alur Kerja Ekstraksi Daun Tumbuhan Sampel Daun Tumbuhan
dicuci dikeringanginkan dipotong-potong dihaluskan Serbuk ditimbang
dimasukkan ke dalam botol steril dimaserasi selama + 3 hari dengan pelarut metanol dan
diaduk
Maserat
disaring diulang 5 kali
Filtrat Residu
dirotavapor pada suhu 400C
Ekstrak Kental
dibuat konsentrasi 60, 45, 30, dan 15% dilarutkan dalam DMSO
Larutan Ekstrak
dipipet sebanyak 10µl
diteteskan pada cakram kosong dibiarkan + 1jam
Cakram yang mengandung ekstrak
Lampiran B. Alur Kerja Pembuatan Suspensi Bakteri Uji dan Pembuatan Media Uji
a. Pembuatan Suspensi Bakteri Uji
Biakan Uji
diambil sebanyak 1-2 ose dimasukkan ke dalam tabung berisi NaCl fisiologis 0,9%
dihomogenkan dengan vortex dibandingkan kekeruhan dengan McFarland 0,5 standar yang
setara dengan 108 CFU/ml
Suspensi Biakan
b. Pembuatan Media Uji
Media MHA dan PDA
dituang ke dalam cawan petri steril
dibiarkan memadat
diusapkan suspensi biakan dengan kapas lidi steril
Media Uji
Lampiran C. Pengujian Ekstrak Tumbuhan
Media Uji
diletakkan cakram yang mengandung ekstrak tumbuhan uji
diletakkan cakram pembanding dinkubasi pada suhu 370C selama 24 jam
diamati dan diukur zona bening di sekitar cakram
Lampiran D. Cara Kerja Pembuatan Larutan NaCl Fisiologis 0,9% dan Suspensi McFarland 0,5
a. Pembuatan Larutan NaCl Fisiologis 0,9%
Sebanyak 9 gr NaCl ditimbang lalu dilarutkan dalam 1 liter akuades steril. Selanjutnya larutan dihomogenkan dan ditutup dengan kapas dan aluminium foil dan disterilkan dengan autoklaf pada suhu 1210C tekanan 2 bar selama 15 menit.
b. Pembuatan Suspensi McFarland 0,5
Sebanyak 0,5 ml larutan barium klorida 0,048 M (BaCl2 2H2O 1,175 %) dicampurkan dengan 9,5 ml larutan asam sulfat 0,18 M (H2SO4 1% b/v) dalam labu takar dan dihomogenkan. Suspensi ini digunakan sebagai larutan standar pembanding kekeruhan suspensi bakteri uji.
Lampiran E. Data Pengamatan Diameter Zona hambat (mm) Ekstrak Metanol Daun P. guajava daging-buah putih
Data Pengamatan Diameter Zona hambat Ekstrak Metanol Daun P. guajava daging-buah putih
Perlakuan Ulangan Total Rataan
1 2 3 K1S1 5,00 5,00 5,00 15,00 5,00 K1S2 5,00 5,00 5,00 15,00 5,00 K1S3 5,00 5,00 5,00 15,00 5,00 K1S4 5,00 5,00 5,00 15,00 5,00 K1S5 5,00 5,00 5,00 15,00 5,00 K2S1 6,10 5,60 5,80 17,50 5,83 K2S2 7,30 6,20 7,10 20,60 6,87 K2S3 9,10 11,40 7,10 27,60 9,20 K2S4 10,20 6,20 6,60 23,00 7,67 K2S5 7,00 6,10 6,30 19,40 6,47 K3S1 6,90 5,70 6,70 19,30 6,43 K3S2 6,10 7,20 8,20 21,50 7,17 K3S3 11,90 11,10 8,20 31,20 10,40 K3S4 10,60 8,10 7,70 26,40 8,80 K3S5 6,70 6,00 6,60 19,30 6,43 K4S1 8,30 6,40 6,20 20,90 6,97 K4S2 6,70 10,10 10,10 26,90 8,97 K4S3 11,10 10,10 9,90 31,10 10,37 K4S4 10,40 10,00 10,70 31,10 10,37 K4S5 10,30 8,40 9,30 28,00 9,33 K5S1 10,10 8,70 10,00 28,80 9,60 K5S2 10,80 15,40 11,40 37,60 12,53 K5S3 15,10 14,00 14,10 43,20 14,40 K5S4 12,00 12,10 12,60 36,70 12,23
Lampiran F. Tabel Data Dwikasta Diameter Zona Hambat (mm) dan Daftar Sidik Ragam Ekstrak Metanol Daun P. guajava daging-buah Putih.
Dwikasta Diameter Zona hambat (mm) ) Ekstrak Metanol Daun P. guajava daging-buah putih K.S S1 S2 S3 S4 S5 Total K1 15,00 15,00 15,00 15,00 15,00 75,00 K2 17,50 20,60 27,60 23,00 19,40 108,10 K3 19,30 21,50 31,20 26,40 19,30 117,70 K4 20,90 26,90 31,10 31,10 28,00 138,00 K5 28,80 37,60 43,20 36,70 28,30 174,60 Total 101,50 121,60 148,10 132,20 110,00
Daftar Sidik Ragam Diameter Zona hambat (mm) Ekstrak Metanol Daun P. guajava daging-buah putih
SK DB JK KT FH FT 5% FT 1% Perlakuan 24 495,35 20,63 34,96** 1,74 2,18 K 4 362,74 90,60 153,55** 2,56 3,72 S 4 89,82 22,45 38,05** 2,56 3,72 K x S 16 42,79 2,67 4,52** 1,85 2,3 Galat 50 29,67 0,59 Total 74 1019,37 16,54
Keterangan: tn: Tidak berbeda nyata *: Berbeda nyata