• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang (Halaman 38-55)

Oij = frekuensi teramati pada sel baris ke-I dan kolom ke-j Eij = frekuensi harapan pada sel baris ke-I dan kolom ke-j Dengan kriteria uji

Db = (B-1) (K-1) α = 0,05

Jika p value ≤ α maka Ho ditolak = bermakna

Jika p value > α maka Ho diterima = tidak bermakna

(Notoatmojo, 2002).

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Gambaran Umum Sekolah Dasar Plus Nurul Aulia (SDPNA)

Sekolah Dasar Plus Nurul Aulia yang beralamat di jalan Sukarasa No. 8 Citeureup Cimahi Utara ini, berdiri pada tahun 2003 di bawah naungan Yayasan Nurul Aulia. SD Plus Nurul Aulia didirikan atas dasar keinginan untuk membuat sebuah sekolah Islami yang

berkualitas tinggi. Pendiri yayasan adalah Bapak H. Aga Sumarga, sedangkan ketua yayasan dipimpin oleh Ibu Hj. Noermaliah A.

Sumarga. Generasi yang berilmu tinggi dan berakhlak mulia serta menjunjung tinggi nama baik Islam merupakan cita-cita pendiri dan ketua yayasan ini.

SD Plus Nurul Aulia berupaya mengutamakan Program Peduli Lingkungan pada semua siswa-siswi serta semua civitas sekolah.

Program kebersihan dimulai dari membuang sampah pada tempat sampah yang unik agar siswa-siswi nya lebih termotivasi dalam menjaga kebersihan, hingga ruangan kelas yang selalu dibersihkan oleh siswa yang bertugas piket.

Kegiatan belajar dimulai setiap pukul 07.00 selama 5 hari dari Senin hingga Jumat. Untuk kelas 1 dan 2 pulang pukul 14.00 WIB dengan istirahat 1 x mulai pukul 10.25 selama 30 menit sedangkan kelas 3 sampai dengan kelas 6 pulang pukul 14.30 WIB dengan 2 x istirahat, yaitu istirahat pagi pukul 09.45 dan istirahat makan siang pukul 11.30 WIB – 12.30 WIB.

Jumlah siswa Sekolah Dasar Plus Nurul Aulia kelas 4 dan 5 berjumlah 117 orang, sedangkan siswa yang mengikuti makan siang di kantin berjumlah 62 orang. Jumlah tenaga pengajar dan staff tata usaha berjumlah 33 orang dengan jenjang pendidikan SMA sebanyak 1 orang dan S1 sebanyak 32 orang.

Fasilitas yang ada di Sekolah Dasar Plus Nurul Aulia terbilang sangat lengkap, diantaranya kantor, perpustakaan, ruang belajar, lapangan olahraga, lapangan outbond, kantin, laboratorium, toilet, mushola, ruang ekstrakurikuler.

40

5.2 Gambaran Umum Penyelenggaraan Makanan Di Sekolah Dasar Plus Nurul Aulia.

Penyelenggaraan makan siang di SD Plus Nurul Aulia dilaksanakan oleh pihak kedua (outsourcing), pihak sekolah hanya memfasilitasi tempat yaitu kantin. SD Plus Nurul Aulia memiliki dua kantin. Kantin pertama biasa disebut Kantin “Annisa” melayani makan siang untuk kelas 1,2,3,dan 6 yang sifatnya wajib. Kantin kedua disebut Kantin “Outbond” bersifat tidak wajib dan hanya melayani makan siang bagi siswa kelas 4 dan 5 yang ikut makan saja. Letak kantin “Outbond” berdekatan dengan lapangan outbond di belakang sekolah.

Kantin “Outbond” yang berdiri sejak tahun 2007 memiliki ketenagaan sebanyak 5 orang terdiri dari 1 orang kepala katering dan 4 orang pegawai yang bertugas belanja bahan makanan, mengolah makanan, distribusi hidangan hingga sanitasi alat dan ruangan. Dalam penyelenggaraannya tidak terdapat seorang ahli gizi, begitu juga dengan kepala katering dan pegawainya tidak mempunyai latar belakang pendidikan di bidang gizi. Kelengkapan dapur dan alat hidang sudah cukup baik. Hal ini terlihat dari alat hidangnya yaitu berupa plato. Kebersihan dapur pun sangat baik dan sudah tertata rapih setiap alat yang akan digunakan.

Biaya makan siang yaitu sebesar Rp 6.500,00/hari. Siswa kelas 4 dan 5 yang terdaftar ikut makan sejumlah 62 orang, tetapi pihak kantin selalu menyediakan 65 porsi/hari karena ada beberapa siswa yang ikut makan mendadak dan bayarnya pun mendadak di kantin.

Secara formal pembayaran biaya makan siang dilakukan sebulan sekali. Waktu penyelenggaraan makan siang di Kantin “Outbond”

dimulai pukul 11.30 – 12.30 WIB.

Siklus menu yang digunakan adalah siklus menu 10 hari dan masih mengikuti siklus menu dari Kantin “Annisa” yang pemiliknya merupakan adik kandung dari pemilik kantin “Outbond”. Pola menu di kantin “Outbond” sering berubah-ubah, dan tidak pernah terdapat pola menu yang lengkap karena menu terkadang disesuaikan dengan permintaan siswa agar tidak bosan. Pola menu yang baik dan lengkap terdiri dari makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur dan buah.

Pada kenyataannya, pola menu di Kantin “Outbond” hanya terdiri dari makanan pokok, lauk hewani dan sayur, sedangkan lauk nabati dan buah jarang sekali dihidangkan. Hal ini terlihat dari menu yang terpilih pada saat penelitian yaitu menu pada tanggal 5 April 2011 (nasi, telur balado, soto Bandung) dan menu 7 April 2011 (nasi, ayam goreng, tempe goreng, sayur asem). Kantin “Outbond” tidak memiliki standar makanan dan standar bumbu yang tertulis, hanya sesuai pengalaman saja dan terkadang porsi tiap hidangan terlampau jauh berbeda.

Menu pada tanggal 7 April 2011 sudah sesuai dengan menu yang tertulis. Sedangkan menu pada tanggal 5 April 2011 sedikit berbeda dengan menu, yaitu pada hidangan lauk hewani, yang tertulis di menu adalah Telur Balado tetapi yang disajikan adalah Telur Ceplok Balado. Perbedaan bentuk telur yang disajikan bertujuan agar menu lebih bervariasi sehingga siswa tidak bosan dan diharapkan menambah nafsu makan.

Pembelian bahan makanan segar dilakukan setiap hari dengan cara langsung karena tidak mengalami proses penyimpanan tetapi langsung dilakukan proses persiapan dan pengolahan. Pembelian bahan makanan kering dan bumbu biasanya dilakukan di awal bulan dan terkadang dalam waktu-waktu tertentu.

Persiapan dan pengolahan bahan makanan dilakukan oleh orang yang sama, dimulai dari pukul 04.00 di rumah kepala katering yang tidak jauh dari sekolah. Proses pengolahan lauk hewani, nabati dan sayur dilakukan lebih siang sekitar pukul 09.00 dengan tujuan hidangan masih dalam keadaan hangat saat didistribusikan karena tidak tersedia alat penghangat hidangan.

Proses pendistribusian dilakukan sekitar pukul 11.00. Sistem distribusi dilakukan secara desentralisasi, yaitu hidangan didistribusikan ke kantin di bagian pantry untuk dilakukan pemorsian hidangan ke dalam plato. Plato yang telah berisi makanan kemudian dijajarkan dengan rapih di atas meja makan dan ditutupi dengan palstik bening yang besar agar terhindar dari kontaminasi bakteri dan debu.

Berdasarkan wawancara, kepala katering sering observasi langsung saat penyelenggaraan makan dilakukan dengan tujuan menjalin komunikasi dengan siswa sekaligus melakukan evaluasi secara lisan terhadap hidangan yang disajikan. Beberapa siswa terkadang memberikan ide mengenai menu yang akan dihidangkan.

Untuk evaluasi mengenai biaya makan siang, pihak kantin sering mengadakan pertemuan dengan para orang tua siswa sekaligus mengevaluasi kualitas hidangan serta pelayanan yang diberikan.

5.3 Karakteristik Sampel

Pada penelitian ini sampel adalah siswa kelas 4 dan 5 SDPNA yang mendapat makan siang, sampel yang diambil sebanyak 39 siswa dari keseluruhan sebanyak 62 siswa. Dari hasil penelitian, diperoleh data karakteristik siswa yang dapat dilihat pada tabel 5.1.

TABEL 5.1

DISTRIBUSI FREKUENSI SAMPEL

BERDASARKAN JENIS KELAMIN SISWA KELAS 4 DAN 5 SD PLUS NURUL AULIA CIMAHI TAHUN 2011

Jenis Kelamin n %

Laki-laki 27 69,2

Perempuan 12 30,8

Total 39 100,0

Berdasarkan tabel diatas dari 39 sampel diperoleh data jumlah sampel dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 27 orang siswa (69,2%). Jumlah sampel laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan jumlah sampel perempuan dikarenakan siswa di SD Plus Nurul Aulia didominasi oleh siswa laki-laki yang berjumlah 202 orang, sedangkan siswa perempuan hanya berjumlah 155 orang.

TABEL 5.2

DISTRIBUSI FREKUENSI SAMPEL

BERDASARKAN KELOMPOK USIA SISWA KELAS 4 DAN 5 SD PLUS NURUL AULIA CIMAHI TAHUN 2011

Usia n %

< 10 Tahun 9 23,1

≥ 10 Tahun 30 76,9

Total 39 100,0

Berdasarkan tabel diatas dari 39 sampel diperoleh data jumlah sampel dengan kelompok usia ≥ 10 tahun sebanyak 30 orang (76,9%). Sedangkan jumlah sampel dengan kelompok usia < 10 tahun sebanyak 9 orang ( 23,1%). Pengelompokkan usia dilakukan untuk memudahkan dalam perhitungan kecukupan zat gizi berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) 2005.

TABEL 5.3

DISTRIBUSI FREKUENSI SAMPEL

BERDASARKAN KELAS SD PLUS NURUL AULIA CIMAHI TAHUN 2011

Kelas n %

Kelas 4 20 51,3

Kelas 5 19 48,7

Total 39 100,0

Berdasarkan tabel diatas dari 39 sampel diperoleh data jumlah sampel dari siswa kelas 4 sebanyak 20 orang (51,3%). Sedangkan jumlah sampel dari kelas 5 sebanyak 19 orang (48,7%). Jumlah sampel yang hampir sama dari masing-masing kelas disebabkan karena jumlah siswa dari kelas 4 dan 5 yang mengikuti makan di kantin sebanyak 62 orang yang terdiri dari kelas 4 sebanyak 31 orang dan kelas 5 sebanyak 31 orang.

5.4 Asupan Energi dari Makan Siang

Asupan energi yang dikonsumsi dari makan siang yang diselenggarakan di SDPNA dikumpulkan selama 2 hari tidak berturut-turut. Distribusi frekuensi asupan energi dapat diihat pada tabel 5.4.

TABEL 5.4

DISTRIBUSI FREKUENSI SAMPEL

BERDASARKAN ASUPAN ENERGI SISWA KELAS 4 DAN 5 SD PLUS NURUL AULIA CIMAHI TAHUN 2011

Kategori Asupan Energi

n %

Kurang 18 46,2

Baik 21 53,8

Total 39 100,0

Dari tabel diatas, dari 39 sampel dapat dilihat bahwa asupan energi baik sebanyak 21 sampel (53,8%) dan dikategorikan kurang sebanyak 18 sampel (46,2%). Asupan energi terendah yaitu sebesar 153,95 kkal (49,1% dari rata-rata ketersediaan energi 313,25 kkal).

Sedangkan asupan energi tertinggi yaitu sebesar 264,55 kkal (84,5%

dari rata-rata ketersediaan energi 313,25 kkal). Jika dibandingkan dengan AKG, asupan energi tertinggi hanya 45,8% dari 577,5 kkal.

Hal ini berarti asupan energi pada sampel tidak dapat memenuhi kecukupan energi pada makan siang.

Masukan makanan yang baik akan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan yang baik. Usia anak-anak yang khususnya pada usia sekolah dasar sangat rawan terhadap kekurangan zat-zat gizi terutama dari konsumsi makan yang kurang baik. Makanan yang mereka konsumsi harus mengandung cukup gizi dan zat-zat yang penting lainnya (Pergizi Pangan Indonesia, 1996).

Asupan energi dan zat gizi yang baik akan membentuk anak memiliki kebiasaan makan yang baik dan berpartisipasi dalam aktivitas olahraga secara teratur guna mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal, berat badan normal, menikmati makanan, dan menurunkan risiko menderita penyakit kronis dan mampu berpikir serta berpastisipasi penuh dalam proses belajar (Muhilal, 2006).

Dari hasil wawancara, hampir seluruh siswa melakukan sarapan pagi sebelum berangkat sekolah, seperti nasi lengkap dengan lauk pauk, nasi goreng, nasi kuning, mi, susu, gorengan, dan lain-lain. Selain sarapan pagi, siswa pun jajan di kantin pada saat jam

istirahat pagi sekitar pukul 10.00, dengan bentuk jajanan seperti lumpia, gorengan, makanan dan minuman ringan lainnya.

Hal ini mempengaruhi asupan makan siang siswa sehingga terdapat beberapa siswa yang tidak menghabiskan hidangan yang disajikan, bahkan ada yang tidak memakan hidangan sama sekali.

Sebanyak 6 sampel (15,3%) tidak mengonsumsi lobak dan tetelan daging sapi pada soto Bandung, 4 sampel (10,2%) tidak mengonsumsi telur balado, 1 sampel (2,5%) tidak mengonsumsi ayam goreng, dan 12 sampel (30,7%) tidak mengonsumsi tempe goreng.

5.5 Asupan Protein dari Makan Siang

Asupan protein yang dikonsumsi dari makan siang yang diselenggarakan di SDPNA dikumpulkan selama 2 hari tidak berturut-turut. Distribusi frekuensi asupan energi dapat diihat pada tabel 5.5.

TABEL 5.5

DISTRIBUSI FREKUENSI SAMPEL

BERDASARKAN ASUPAN PROTEIN SISWA KELAS 4 DAN 5 SD PLUS NURUL AULIA CIMAHI TAHUN 2011

Kategori Asupan Protein

n %

Kurang 21 53,8

Baik 18 46,2

Total 39 100,0

Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa dari 39 sampel sebanyak 18 sampel (46,2%) asupan proteinnya baik dan 21 sampel (53,8%) memiliki asupan protein kurang. Asupan protein terendah yaitu sebesar 6,85 gram (59,6% dari rata-rata ketersediaan protein 11,5 gram). Sedangkan asupan protein tertinggi yaitu sebesar 13,7 gram (119,1% dari rata-rata ketersediaan protein 11,5 gram). Jika dibandingkan dengan AKG, asupan protein tertinggi hanya 96,2% dari 14,25 gram. Hal ini berarti asupan protein pada sampel tidak dapat memenuhi kecukupan protein pada makan siang.

Perlu diperhatikan bahwa selain energi, protein juga penting untuk pertumbuhan. Protein adalah bagian dari semua sel hidup dan merupakan bagian terbesar tubuh sesudah air. Protein mempunyai fungsi khas yang tak dapat digantikan oleh zat gizi lain, yaitu membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh (Almatsier, 2004).

Asupan energi makanan yang kurang, belum tentu asupan proteinnya pun kurang. Namun jika asupan protein yang dikonsumsi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan berarti makanan yang dikonsumsi tidak cukup memberikan energi (Almatsier, 2005).

Dari hasil wawancara, hampir seluruh siswa melakukan sarapan pagi sebelum berangkat sekolah, seperti nasi lengkap dengan lauk pauk, nasi goreng, nasi kuning, mi, susu, gorengan, dan lain-lain. Selain sarapan pagi, siswa pun jajan di kantin pada saat jam istirahat pagi sekitar pukul 10.00, dengan bentuk jajanan seperti lumpia, gorengan, makanan dan minuman ringan lainnya.

Hal ini mempengaruhi asupan makan siang siswa sehingga terdapat beberapa siswa yang tidak menghabiskan hidangan yang disajikan, bahkan ada yang tidak memakan hidangan sama sekali.

Sebanyak 6 sampel (15,3%) tidak mengonsumsi lobak dan tetelan daging sapi pada soto Bandung, 4 sampel (10,2%) tidak mengonsumsi telur balado, 1 sampel (2,5%) tidak mengonsumsi ayam goreng, dan 12 sampel (30,7%) tidak mengonsumsi tempe goreng.

5.6 Kecukupan Gizi berdasarkan AKG, Ketersediaan Zat Gizi, dan Rata-rata Asupan dari Makan Siang

Kecukupan gizi makan siang didapat dari 30 % AKG tahun 2005. Rata-rata asupan dan ketersediaan zat gizi dari menu yang disajikan didapat selama 2 hari tidak berturut-turut, dapat diihat pada tabel 5.6.

TABEL 5.6

KECUKUPAN GIZI, KETERSEDIAAN ZAT GIZI, DAN RATA-RATA ASUPAN MAKAN SIANG PADA SISWA KELAS 4 DAN 5

DI SD PLUS NURUL AULIA CIMAHI TAHUN 2011

Pada tabel diatas dapat dilihat rata-rata asupan energi sebesar 212,17 kkal (67,73%) dibandingkan dengan ketersediaan zat gizi.

Rata-rata asupan protein sebesar 10,17 gr (88,43%) dibandingkan dengan rata-rata ketersediaan zat gizi protein. Sedangkan jika dibandingkan dengan AKG, rata-rata ketersediaan energi hanya 54,2% dan rata-rata asupan energi hanya 36,7%. Rata-rata Asupan Zat Gizi Kecukupan

30 % AKG

Rata-rata ketersediaan

Rata-rata Asupan Asupan Energi 577,5 kkal 313,25 kkal 212,17 kkal

Asupan Protein 14,25 gr 11,5 gr 10,17 gr

ketersediaan protein hanya 80,7% dan rata-rata asupan protein hanya 71,4%.

Rata-rata asupan yang kurang dari AKG dan tidak mencapai 100% dari rata-rata ketersediaan zat gizi bisa disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya karena kondisi siswa masih dalam keadaan kenyang saat jam makan siang. Hal ini menyebabkan menurunnya nafsu makan siswa yang berakibat pada asupan energi dan protein yang kurang saat makan siang.

Tolak ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan mean, tidak menggunakan AKG. Jika menggunakan AKG, maka data yang dihasilkan homogen karena rata-rata ketersediaan zat gizi makan siangnya pun tidak mencukupi dari kecukupan zat gizi makan siang sebesar 30% AKG. Penggunaan mean membuat data menjadi variatif dan bisa dikategorikan menjadi baik dan kurang saat proses pengolahan data. Namun tolak ukur yang baik untuk kecukupan gizi pada realitanya harus berdasarkan AKG.

5.7 Biaya Bahan Makanan yang Dikonsumsi

Biaya merupakan pengorbanan yang diukur dalam satuan uang untuk mencapai tujuan tertentu untuk memperoleh / memproduksi barang / jasa tertentu. Biaya bahan makanan merupakan salah satu biaya yang dikeluarkan oleh konsumen untuk mendapatkan kualitas makanan yang baik, baik gizinya atau pun penampilan dan sanitasinya. Untuk itulah diperlukan rancangan anggaran yang tepat sesuai dengan kecukupan gizi konsumen. Jika harga yang ditawarkan sesuai, maka konsumen pun akan mendapatkan kepuasan dari pelayanan yang diberikan (Depkes, 1991).

TABEL 5.7

DISTRIBUSI FREKUENSI SAMPEL BERDASARKAN

BIAYA BAHAN MAKANAN YANG DIKONSUMSI SISWA KELAS 4 DAN 5 DI SD PLUS NURUL AULIA CIMAHI TAHUN 2011

Kategori N %

Baik 17 43,6

Kurang 22 56,4

Total 39 100

Berdasarkan tabel diatas, biaya bahan makanan yang dikonsumsi, dari 39 sampel, 22 sampel (56,4%) termasuk kedalam kategori kurang. Sedangkan yang termasuk dalam kategori baik sebanyak 17 sampel (43,6%).

Biaya bahan makanan awal rata-rata per hari adalah Rp 2742,00. Biaya didapat dari hasil perhitungan perkiraan biaya belanja yang dikeluarkan untuk membeli bahan makanan dan bumbu yang digunakan dalam 1 porsi, untuk membuat menu pada saat 2 hari penelitian dan kemudian dirata-ratakan.

Menurut teori, biaya bahan makanan minimal sebesar 40%

(Mukrie, 1990) dari biaya makan siang adalah sebesar Rp 2600,00.

Jika dibandingkan dengan biaya bahan makanan awal rata-rata per hari Rp 2742,00, maka biaya bahan makanan yang dikeluarkan oleh pihak katering sudah baik. Namun jika dibandingkan dengan biaya bahan makanan awal pada hari ke 1, yaitu Rp 2009,00, termasuk kurang baik karena persentasenya kurang dari 40%. Hal ini dikarenakan adanya pengurangan besar porsi dari setiap hidangan dengan alasan agar hidangan tidak mubajir karena sebelumnya terjadi banyak sisa pada makan siang. Sedangkan biaya bahan makanan awal pada hari ke 2, yaitu Rp 3474,00, sudah termasuk baik.

Rata-rata biaya makanan yang dikonsumsi Rp 1833,62 (66,9%) dari harga biaya bahan makanan awal rata-rata perhari yaitu Rp 2742,00 (44,2% dari harga makan siang Rp 6500,00). Biaya bahan makanan minimal yang dikonsumsi yaitu Rp 1174,00 (42,8% dari biaya bahan makanan awal rata-rata per hari Rp. 2742,00), sedangkan biaya bahan makanan terbesar yang dikonsumsi sebesar Rp 2302,00 (84,1% dari biaya bahan makanan awal rata-rata per hari Rp. 2742,00).

Biaya bahan makanan terbesar yang dikonsumsi tidak mencapai 100% dari biaya bahan makanan awal rata-rata per hari menandakan sampel sebagai konsumen, mengalami kerugian dari uang yang mereka keluarkan untuk membayar 1x makan siang. Hal ini berdampak pada ketersediaan zat gizi yang tidak dapat mencukupi kebutuhan konsumen. Menurut perhitungan teori, biaya bahan makanan sebesar Rp 2600,00 dari biaya makan siang Rp 6500,00 sudah dapat mencukupi kebutuhan zat gizi sesuai AKG, yaitu energi 577,5 kkal dan protein 14,25 g. Namun pada kenyataannya, dari biaya bahan makanan awal rata-rata per hari sebesar Rp 2742,00 hanya memiliki rata-rata ketersediaan zat gizi yang kurang dari AKG, yaitu energi 313,25 kkal dan protein 11,5 g.

5.8 Hubungan antara Biaya Bahan Makanan yang Dikonsumsi dengan Asupan Energi

Biaya bahan makanan yang sesuai dengan fasilitas yang diberikan, salah satunya zat gizi, merupakan tujuan dari suatu penyelenggaraan makanan institusi yang baik. Semakin besar biaya bahan makanan dari hidangan yang disajikan, seharusnya semakin tinggi juga kandungan zat gizi yang bermanfaat bagi konsumen (Mukrie, 1990).

TABEL 5.8

HUBUNGAN ANTARA BIAYA BAHAN MAKANAN YANG DIKONSUMSI DENGAN ASUPAN ENERGI SISWA KELAS 4 DAN 5

DI SD PLUS NURUL AULIA CIMAHI TAHUN 2011 Biaya

Berdasarkan tabel diatas, dari 39 sampel, sebanyak 16 sampel (72,7%) termasuk kedalam kategori biaya bahan makanan yang dikonsumsi kurang dengan kategori asupan energi kurang, sedangkan untuk kategori biaya bahan makanan yang dikonsumsi kurang dengan asupan energi baik sebanyak 6 sampel (27,3%). Sedangkan yang termasuk kedalam kategori biaya bahan makanan yang dikonsumsi baik tetapi asupan energi kurang sebanyak 2 sampel (11,8%), sedangkan biaya bahan makanan yang dikonsumsi baik dengan asupan energi baik sebanyak 15 sampel (88,2%).

Dari hasil uji statistik dengan menggunakan Uji Chi Square didapat bahwa nilai p= 0,001 < α (0,05) dengan tingkat kepercayaan 95%. Hal ini menunjukan adanya hubungan antara biaya bahan makanan yang dikonsumsi dengan asupan energi.

Adanya hubungan dari hasil uji yang dilakukan sesuai dengan tujuan dari diadakannya penyelenggaraan makanan institusi, yaitu memberikan biaya hidangan yang sesuai dengan fasilitas yang diberikan. Banyaknya makanan yang dikonsumsi dari hidangan yang disajikan menimbulkan besarnya pula biaya bahan makanan yang dikonsumsi dan asupan energi. Kandungan energi dari bahan makanan yang mencukupi kebutuhan konsumen merupakan hal yang

mutlak harus dipenuhi oleh penyelenggara makanan karena konsumen telah mengeluarkan biaya untuk membeli makanan dengan harapan mendapatkan kepuasan dan memenuhi kebutuhan energinya (Mukrie, 1990).

Namun pada kenyataannya jumlah makan siang yang dikonsumsi sebagian besar tergolong kurang baik sehingga mengakibatkan biaya yang telah dikeluarkan untuk membeli hidangan tersebut tidak sesuai dengan apa yang didapatkan, dari segi kepuasan atau pun kecukupan zat gizi. Hal ini tentu saja tidak sesuai dengan tujuan dari diadakannya penyelenggaraan makanan institusi di sekolah.

5.9 Hubungan antara Biaya Bahan Makanan yang Dikonsumsi dengan Asupan Protein

Salah satu zat gizi penting yang dibutuhkan dalam usia sekolah dasar adalah protein. Penyelenggaraan makan di institusi sekolah bertujuan untuk dapat mencukupi kebutuhan zat gizi siswa. Asupan protein yang mencukupi kebutuhan akan menguntungkan siswa dan pihak sekolah karena akan menghasilkan siswa yang berprestasi (Mukrie, 1990).

TABEL 5.9

HUBUNGAN ANTARA BIAYA BAHAN MAKANAN YANG DIKONSUMSI DENGAN ASUPAN PROTEIN SISWA KELAS 4 DAN 5

DI SD PLUS NURUL AULIA CIMAHI TAHUN 2011

Biaya

Berdasarkan tabel diatas, dari 39 sampel, sebanyak 19 sampel (86,4%) termasuk kedalam kategori biaya bahan makanan yang dikonsumsi kurang dengan kategori asupan protein kurang, sedangkan untuk kategori biaya bahan makanan yang dikonsumsi kurang dengan asupan protein baik sebanyak 3 sampel (13,6%).

Sedangkan yang termasuk kedalam kategori biaya bahan makanan yang dikonsumsi baik tetapi asupan protein kurang sebanyak 2 sampel (11,8%), sedangkan biaya bahan makanan yang dikonsumsi baik dengan asupan protein baik sebanyak 15 sampel (88,2%).

Dari hasil uji statistik dengan menggunakan Uji Chi Square didapat bahwa nilai p= 0,000 < α (0,05) dengan tingkat kepercayaan 95%, hal ini menunjukan adanya hubungan antara biaya bahan makanan yang dikonsumsi dengan asupan protein.

Protein yang merupakan salah satu zat gizi penting bagi pertumbuhan usia sekolah dasar diharapkan dapat terpenuhi lewat hidangan yang disajikan oleh penyelenggara makanan institusi di sekolah. Biaya bahan makanan dengan jenis protein tinggi terbilang cukup mahal diantara bahan makanan lainnya, sehingga terkadang harga hidangan menjadi mahal. Menu yang bervariasi dan bergizi dalam penyelenggaraan makanan di sekolah diharapkan dapat meningkatkan jumlah makanan yang dikonsumsi oleh siswa, sehingga terjadi keseimbangan antara biaya yang dikeluarkan dengan asupan protein yang dapat memenuhi kebutuhan tubuh (Mukrie, 1990).

BAB VI

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang (Halaman 38-55)

Dokumen terkait